cover
Contact Name
Muhammad Syafar
Contact Email
m.syafar@uinbanten.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
alqolam.journal@uinbanten.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota serang,
Banten
INDONESIA
ALQALAM
ISSN : 14103222     EISSN : 2620598X     DOI : -
ALQALAM (e-ISSN: 2620-598X; p-ISSN: 1410-3222) is a journal published by the Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-INDONESIA. ALQALAM is an academic journal published twice a year (every six months). ALQALAM had been accreditated by Ministry of Education and Culture No. 80/DIKTI/Kep./2012, 13 Desember 2012. This journal focuses on specific themes of Islamic Studies.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue " Vol 22 No 1 (2005): January - April 2005" : 8 Documents clear
LITERATUR FIKIH Mubarok, Jaih
ALQALAM Vol 22 No 1 (2005): January - April 2005
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (520.048 KB) | DOI: 10.32678/alqalam.v22i1.1440

Abstract

Sejarah pelestarian dan perkembangan pengetahuan dan keilmuan manusia dilakukan dengan dua cara yaitu dihafal dan ditulis. Hafalan melahirkan tradisi lisan seperti pada cerita rakyat, sedangkan tulisan melahirkan pula tradisi cetak dan penerbitan. Proses penulisan dan pelestarian sebuah karya sangat penting disebabkan dua hal, yaitu: pertama, banyaknya orang yang masih berpegang pada tradisi lisan; dan kedua, tradisi tulis dapat dilahirkan tanpa hubungan secara fisik antara guru dan muridnya. Kata Kunci: fiqih, hukum Islam, sejarah, literatur
ERA NIAGA DI NUSANTARA PADA MASA KERAJAAN ISLAM +1500-1700 M Pribadi, Yanwar
ALQALAM Vol 22 No 1 (2005): January - April 2005
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (748.146 KB) | DOI: 10.32678/alqalam.v22i1.1448

Abstract

Aktivitas perdagangan di Nusantara pada abad ke-16 dan 17 telah berkembang menjadi perdagangan internasional. Penelitian dengan metode sejarah terhadap beberapa sumber memberikan penjelasan bahwa sistem emprium telah menimbulkan kapitalisme Asia yang peranannya tidak kalah penting dibandingkan kapitalisme Eropa. Namun, dalam perkembangannya kapitalisme Asia kurang mendapat dukungan dari sistem politik di Asia. Sistem politik di Asia ketika itu tidak memberi jaminan bagi keselamatan dan hak milik pribadi. Faktor lainnya yang tidak kalah merugikan pada dunia perdagangan swasta ini adalah tidak adanya hak individual yang jelas, serta perlindungan hukum, dari pihak kerajaan. Zaman keemasan kerajaan-kerajaan lslam Nusantara di bidang perdagangan semakin berkurang, terutama setelah munculnya kekuatan dagang dari Eropa.
PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN DAULAH UMAYAH II Syafuri, B.
ALQALAM Vol 22 No 1 (2005): January - April 2005
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (651.992 KB) | DOI: 10.32678/alqalam.v22i1.1438

Abstract

Sejarah Islam di Spanyol khususnya Daulah Umayah II bisa dibagi menjadi lima periode. Periode pertama tahun 756-912 M. dipimpin oleh Khalifah Abdurrahman I, periode kedua tahun 912-1013 M. dipimpin oleh Khalifah Hisyam, periode ketiga tahun 1013-1086 M. dipimpin oleh Khalifah Hakam I, periode keempat tahun 1086-1248 M. dipimpin oleh Khalifah Abdurrahman II, dan periode kelima tahun 1248-1492 M. dipimpin oleh Khalifah Muhammad I. Kebijakan-kebijakan Khalifah Hakam II yaitu mengadakan upacara­upacara keagamaan dengan secara ketat dan melaksanakan ajaran-ajaran sunnah di seluruh wilayah kekuasaan Daulah Umayah II, Pembangunan Rumah Sakit Umum, Sarana Pemukiman, Sumber daya alam, Sarana transportasi, menjaga ketentraman dan toleransi. Peristiwa peperangan pun terjadi pada masa Khalifah Hakam II dengan kejadian orang-orang Kristen mulai bangkit untuk melakukan gerakan-gerakan perlawanan terhadap kekuasaan Daulah Umayah II. Tetapi kemajuan Daulah Umayah II pada masa Khalifah Hakam II terkenal pula kerena pengembangan ilmu dan kebudayaannya, mencintai kesusasteraan dan ilmu pengetahuan serta membiarkan kemewahan hatinya kepada para cendekiawan. Kata Kunci: Daulah Umayah, Khalifah, Sejarah Islam.
FATWA POLITIK NAHDLATUL ULAMA Kharlie, Ahmad Tholabi
ALQALAM Vol 22 No 1 (2005): January - April 2005
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (844.046 KB) | DOI: 10.32678/alqalam.v22i1.1447

Abstract

Konstelasi politik Nasional terasa menghangat pada dekade 1950-an ketika muncul sebuah terminnlogi fiqih siyasah yang cukup kontroversial, yakni Waliy al-Amr Dharuriy bi al-Syawkah yang lebih kurang berarti ''pejabat tertinggi negara untuk sementara, dengan kekuasaan efektif Terminologi ini mulai muncual dan menjadi bahan pembicaraan publik pada saat Konfrensi Alim Ulama (3-6 Maret 1954)yang diprakarsai Nahdlatul Ulama (NU) dan Departemen Agama Republik Indonesia.Pada intinya, fatwa ini berisi dukungan terhadap Presiden Soekarno yang mendapal gugatan dari kelompok '1slam Radikal" terutama menyangkut keabsahan (kegitimasi) kepemimpinannya dilihat dari persfektif potik keagamaan (Islam). Tak pelak, fatwa ini menuai kritik politis-pejoratif dan pandangan­pandangan miring serta menuding NU sebagai kelompok oportunis. Mereka menganggap NU telah mencampuradukkan dan 'menjual' agama demi kepentingan politik kelompoknya.Secara sosiologis, fenomena ini menarik diamati. Sebab, disinyalisasi akan dapat ditemukan berbagai kenyataan kemasyarakatan_yang dimungkinkan menjadi latar sehinnga memicu munculnya fatwa (politik keagamaan) ini, dengan menampik (sejenak) tudingan yang menyebut adanya indikasi politis kalangan NU. Maka dari titik inilah, tulisan ini berangkat.
PENGARUH ISLAM TERHADAP KEKUASAAN POLITIK DI INDONESIA Baihaqi, Wazin
ALQALAM Vol 22 No 1 (2005): January - April 2005
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (805.531 KB) | DOI: 10.32678/alqalam.v22i1.1437

Abstract

Ada tiga fase perkembangan Islam yang dijelaskan dalam tulisan ini. Pertama tetang masuknya Islam ke Indonesia. Pada fase ini Islam sebagai sebuah ide baru di Nusantara mendapatkan tempatnya tidak hanya sebagai agama yang kemudian dianut oleh penduduk asli, tetapi juga mengubah lembaga politik yang semula berbentuk kerajaan bercorak Hindu menjadi bentuk kerajaan yang bercorak Islam. Fase kedua tentang bagaimana Islam bereaksi terhadap kolonialisme yang masuk ke Indonesia. Perlawanan terhadap kolonialisme dilakukan oleh kelompok Islam selama 3,5 abad. Gerakan perlawanan yang semula bersifat sporadis kemudian berkembang menjadi gerakan politik yang lebih modern karena bangkitnya kesadaran dari kelompok terpelajar Islam yang disebut dengan urban Islam (Islam perkotaan). Di tengah kebijakan-kebijakan pemerintah Hindia Belanda yang menghambat perkembangan dan pelaksanaan syari'at Islam, kelompok Islam bersikap defensif (bertahan) dan bahkan terus berkembang higga Islam tetap sebagai agama mayoritas penduduk Indonesia. Fase ketiga tentang bagaimana kelompok Islam bersikap pro aktif terhadap persiapan pembentukan negara pasca kemerdekaan. Para tokoh nasionalis islami berusaha untuk menetapkan Islam sebagai asas kehidupan bernegara dan berbangsa setelah pada akhirnya harus berkompromi dengan heterogintas masyarakat Indonesia. Kata Kunci: Islam, Indonesia, politik, sejarah
PERILAKU KONSUMEN DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN Supriadi, Asep
ALQALAM Vol 22 No 1 (2005): January - April 2005
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (754.036 KB) | DOI: 10.32678/alqalam.v22i1.1441

Abstract

Studi ini mentpakan kajian tentang perilaku konsumen dalam pengambilan keputusan permintaan dan konsumsi yang dapat dilihat dari dua sudut pandang yaitu dilihat berdasarkan perilaku umum yang berlandaskan cirri-ciri pengambilan keputusan konsumen menurut teori ekonomi modern dan budaya masyarakat yang terus berkembang yang mengutamakan kepuasan dalam memilih, meminta dan mengkonsumsinya. Dilain pihan studi ini berlandaskan pula pada pandangan Islam dimana perilaku konsumen di dalam memilih dan mengkonsumsi barang atau jasa dilandasi atau dipengaruhi oleh semangat Islam yang didasari oleh norma-norma Islam yaitu Al-Quran dan Hadist Rosullulah SAW. Berdasarkan sudut pandang ekonomi modern bahwa secara umum perilaku konsumen dalam melakukan pemilihan dan permintaan suatu barang atau jasa dipengaruhi oieh faktor internal dan eksternal yang dapat berupa kebudayaan, kelas sosial, organisasi, kelompok sosial, referensi, keluarga dan media. Yang semuanya tercipta untuk mendorong konsumen mengambil keputusaan melakukan pemilihan, permintaan dan atau pembelian dengan tujuan kepuasan semata. Sedangkan berdasarkan sudut pandang Islam mengenai pola perilaku konsumen dalam mengkonsumsi barang atau jasa dilandasi oleh aliran-aliran yang berlaku dalam Islam, mulai dari barang yang boleh dikonsumsi sampai pada tatatertib jual beli serta pengaruh sosial dan individu dalam berkonsumsi. Kata Knnci: Perilaku, Konsumen, Keputusan, Islam.
SISTEM EKONOMI KAPITALIS, SOSIAL DAN ISLAM Masykuroh, Nihayatul
ALQALAM Vol 22 No 1 (2005): January - April 2005
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (801.029 KB) | DOI: 10.32678/alqalam.v22i1.1446

Abstract

Sampai tahun 50-an, dunia hanya dipengaruhi oleh pertentangan idiologi antara Kapitalisme di satu pihak dan komunisme di pihak lain. Kedua kubu, dengan pertentangan mati-matian berpangkal pada satu falsafah hidup yang dinamakan materialisme (falsafah kebendaan). Seolah-olah manusia melupakan bahwa di balik materi yang diperjuangkannya, masih ada kekuatan gaibyang harus diyakini dan ditakuti yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Islam membawa falsafah tentang harta dunia yang menguasai sebagian faham manusia di dunia, yaitu falsafah ketuhanan. Falsafah ini berbeda sekali dari paham universalisme dari gereja pada abad pertengahan yang lalu dan juga faham idealisme yang bisa diartikan orang. Salah satu sumbangan terbesar Islam kepada umat manusia adalah prinsip keadilan dan pelaksanaannya dalam setiap aspek kehidupan manusia, dimana setiap anggota masyarakat didorong untuk memperbaiki kehidupan material masyarakat, disamping berusaha untuk memperbaiki kehidupan rohani dan mengingatkan setiap benda di dunia untuk diambil manfaatnya, tetapi secara bersamaan ·Islam mendidik mereka bertanggung jawab, bukan saja kepada istri dan keluarganya, tetapi juga terhadap saudara-saudaranya, yang miskin dan melarat, negara dan akhirnya seluruh makhluk. seluruh aspek kehidupan, walaupun prinsip keadilan ini menyentuh setiap individu, namun yang paling penting adalah akibat yang ditimbulkannya terhadap kehidupan sosial persoalan keadilan ini akan lebih jelas lagi bila ia dikaitkan dengan aspek ekonomi. Ketiga aspek dimaksud yaitu: aspek kepemilikan, aspek konsumsi dan aspek distribusi pendapatan. Dari ketiga aspek ini, nanti dapat terlihat persamaan maupun perbedaan pandangan dari ketiga sistem ekonomi dalam memandang ketiga aspek kehidupan di bidang ekonomi. Kata Kunci : Sistem Ekonomi Kapitalis, Sistem Ekonomi Sosialis, Sistem ekonomi Islam, Falsafah Matenalisme.
PROBLEMATIKA HUKUM HIBAH DAN WAKAF Syafe'i, Zakaria
ALQALAM Vol 22 No 1 (2005): January - April 2005
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (839.41 KB) | DOI: 10.32678/alqalam.v22i1.1442

Abstract

Hibah adalah bentuk pemindahan hak milik kepada orang lain, ketika ia masih hidup tanpa mengharap imbalan, sedangkan wakaf adalah pemindahan hak milik yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan umum. Pada keduanya memiliki nilai positif sebagai bagian dari taqarrub dan ibadah kepada Allah, di sisi lain sebagai wujud dari rasa solidaritas, sikap kepedulian dan tanggungjawab sosial dalam rangka pemberdayaan kesejahteraan masyarakat, pelayanan kesehatan, peningkatan kualitas sumber daya manusia dan eksistensi agama islam. Namun demikian, faktor integritas pribadi yang lemah, kekosongan spiritual dan nafsu keserakahan manusia, tidak jarang terjadi pemberian hibah atau wakaf menjadi problem, karena ada di antara manusia yang menarik kembali hibah atau wakafnya baik dilakukan oleh yang menghibahkan atau yang mewakafkan atau oleh pihak keluarganya. Dalam kasus hibah, tidak dibenarkan harta yang telah dihibahkan ditarik kembali, kecuali hibah dari orang tua kepada anak-anaknya. Sebab akan menjadi sumber konflik dalam keluarga, bila hibah tersebut diberikan tanpa mencerminkan adanya rasa keadilan. Oleh karena itu, hibah tersebut bisa ditarik kembali atau sama sekali dibatalkan. Untuk mencapai rasa keadilan di antara anak-anak itu, hibah harus diberikan secara merata dan tidak ada unsur membeda­bedakan atau dilakukan secara proporsional, di mana anak yang sudah diberi fasilitas lebih oleh orang tuanya tidak diberikan bagian yang sepadan dengan anak yang belum pernah mendapatkan fasilitas apa pun, sehingga ia diberikan harta yang berlebih dari lainnya. Adapun persoalan harta yang diwakafkan, maka bagi yang mewakafkan dengan dalih apa pun tidak bisa untuk menarik kembali wakafnya baik dilakukan oleh waqif maupun keluarganya. Alasan yang membolehkan menarik kembali harta wakaf itu landasan hukumnya lemah dan tidak patut dijadikan dasar hukum. Ketentuan harta wakaf harus benda tidak bergerak lantaran manfaatnya abadi dan terus menerus, maka untuk zaman modern sekarang ini perlu dipertimbangkan bahwa apapun benda yang diwakafkan itu dapat diterima dan yang terpenting benda tersebut dapat dimanfaatkan dan hasilnya berguna bagi kepentingan umum. Adapun menjual atau menukar benda harta wakaf itu, meski secara yuridis tidak diperkenankan, maka hukum itu dapat berubah menjadi boleh sepanjang kemaslahatan mengehendaki demikian, asalkan penggantian dan penukarannya tidak menghilangkan substansi dari manfaat yang akan diperoleh dari wakaf tersebut. Kata Kunci: Hibah, Wakal, Hukum Islam.

Page 1 of 1 | Total Record : 8


Filter by Year

2005 2005


Filter By Issues
All Issue Vol 35 No 2 (2018): July - December 2018 Vol 35 No 1 (2018): January - June 2018 Vol 34 No 2 (2017): July - December 2017 Vol 34 No 1 (2017): January - June 2017 Vol 33 No 2 (2016): July - December 2016 Vol 33 No 1 (2016): January - June 2016 Vol 32 No 2 (2015): July - December 2015 Vol 32 No 1 (2015): January - June 2015 Vol 31 No 2 (2014): July - December 2014 Vol 31 No 1 (2014): January - June 2014 Vol 30 No 3 (2013): September - December 2013 Vol 30 No 2 (2013): May - August 2013 Vol 30 No 1 (2013): January - April 2013 Vol 29 No 3 (2012): September - December 2012 Vol 29 No 2 (2012): May - August 2012 Vol 29 No 1 (2012): January - April 2012 Vol 28 No 3 (2011): September-December 2011 Vol 28 No 2 (2011): May - August 2011 Vol 28 No 1 (2011): January - April 2011 Vol 27 No 3 (2010): September - December 2010 Vol 27 No 2 (2010): May - August 2010 Vol 27 No 1 (2010): January - April 2010 Vol 26 No 3 (2009): September - December 2009 Vol 26 No 2 (2009): May - August 2009 Vol 26 No 1 (2009): January - April 2009 Vol 25 No 3 (2008): September - December 2008 Vol 25 No 2 (2008): May - August 2008 Vol 25 No 1 (2008): January - April 2008 Vol 24 No 3 (2007): September - December 2007 Vol 24 No 2 (2007): May - August 2007 Vol 24 No 1 (2007): January - April 2007 Vol 23 No 3 (2006): September - Desember 2006 Vol 23 No 2 (2006): May - August 2006 Vol 23 No 1 (2006): January - April 2006 Vol 22 No 3 (2005): September - December 2005 Vol 22 No 2 (2005): May - August 2005 Vol 22 No 1 (2005): January - April 2005 Vol 21 No 102 (2004): September - December 2004 Vol 21 No 101 (2004): May - August 2004 Vol 21 No 100 (2004): January - April 2004 Vol 20 No 98-99 (2003): July - December 2003 Vol 20 No 97 (2003): April - June 2003 Vol 20 No 96 (2003): January - March 2003 Vol 19 No 95 (2002): October - December 2002 Vol 19 No 94 (2002): July - September 2002 Vol 19 No 93 (2002): April - June 2002 Vol 19 No 92 (2002): January - March 2002 Vol 18 No 90-91 (2001): July - December 2001 Vol 18 No 88-89 (2001): January - June 2001 Vol 17 No 87 (2000): Oktober - December 2000 Vol 17 No 86 (2000): July - September 2000 Vol 17 No 85 (2000): April - June 2000 Vol 14 No 74 (1998): September - October 1998 Vol 13 No 72 (1998): May - June 1998 Vol 13 No 68 (1997): November - Desember 1997 Vol 13 No 67 (1997): September - Oktober 1997 Vol 13 No 66 (1997): Juli - Agustus 1997 Vol 11 No 63 (1997): Maret - April 1997 Vol 11 No 62 (1996): September - Oktober 1996 Vol 11 No 59 (1996): Maret - April 1996 Vol 11 No 58 (1996): Januari - Februari 1996 Vol 10 No 56 (1995): September - October 1995 Vol 10 No 55 (1995): July - August 1995 Vol 10 No 54 (1995): May - June 1995 Vol 10 No 53 (1995): March - April 1995 Vol 10 No 52 (1995): January - February 1995 Vol 10 No 51 (1994): November - Desember 1994 Vol 10 No 51 (1994): November - December 1994 Vol 10 No 50 (1994): September - October 1994 Vol 4 No 15 (1988): September - October 1988 More Issue