cover
Contact Name
Muhammad Syafar
Contact Email
m.syafar@uinbanten.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
alqolam.journal@uinbanten.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota serang,
Banten
INDONESIA
ALQALAM
ISSN : 14103222     EISSN : 2620598X     DOI : -
ALQALAM (e-ISSN: 2620-598X; p-ISSN: 1410-3222) is a journal published by the Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-INDONESIA. ALQALAM is an academic journal published twice a year (every six months). ALQALAM had been accreditated by Ministry of Education and Culture No. 80/DIKTI/Kep./2012, 13 Desember 2012. This journal focuses on specific themes of Islamic Studies.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue " Vol 21 No 102 (2004): September - December 2004" : 7 Documents clear
نشأة علم الصرف Uyuni, Yuyun Rohmatul
ALQALAM Vol 21 No 102 (2004): September - December 2004
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1464.637 KB) | DOI: 10.32678/alqalam.v21i102.1652

Abstract

Sejak penyebaran agama Islam, perkembangan studi bahasa Arab dan linguistik Arab dimulai pada abad ke-7 Masehi dengan tumpuan pada kajian kitab suci Al Qur'an. Kitab suci Al Qur'an merupakan konsep dasar pengembangan bahasa Arab yang fasih dan murni tanpa dicampuri lahn, dialek­dialek non Arab, sehingga mendapat perhatian para linguis untuk mencoba melacaknya. Mengapa studi bahasa linguistik Arab berlangsung dalam terminologi bahasa Arab AI-Qur'an ? kemurnian bahasa Arab sebagai motif yang menjadi pendorong bagi ahli bahasa Arab untuk melahirkan suatu disiplin ilmu sharf yang menggeluti bidang leksikografi. Dipelopori oleh Mu'adz bin Muslim AI-Hira' sebagai pencetus pertama untuk melahirkan suatu disiplin ilmu sharf yang mempelajari bidang leksikografi bahasa Arab, melalui infleksi, deklinisi, derivasi leksikat atau kata. Infleksi dan verbum bahasa Arab berdasarkan sistem tiga bunyi konsonan sebagai akar. Umpamanya /ا, ر, ق/'membaca" menjadi /قرا/ ''ia telah membaca" dan /قراءة/ "bacaan" dan sebagainya. Puncak tata bahasa Arab terjadi pada akhir abad ke 8 atau awal abad 2 hijriyah yang terpusat di Basrah. Para linguis Arab di Basrah mendapat julukan kelompok aliran Basrah yang meletakan dasar yang kokoh akan kereguleran dan sistematisasi dari bahasa Arab sebagai alat tutur yang logis tentang fenomena dunia. Mereka sudah pasti mendapat pengaruh konsep analogi dari zaman Yunani. Disamping itu, ada pula satu kelompok linguistik Arab di Kuffah yang memberikan perhatian kepada keanekaragaman bahasa. Beberapa kelompok linguis Arab di Kuffah berkonsep anomah. Tulisan ini mencoba melirik tenang alasan-alasan timbulnya ilmu sharf sebagai disiplin ilmu tersendiri.
PROSPEK PENGAJARAN BAHASA ARAB DI INDONESIA Ismail, Achmad Satori
ALQALAM Vol 21 No 102 (2004): September - December 2004
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (629.26 KB) | DOI: 10.32678/alqalam.v21i102.1642

Abstract

Adalah suatu kenyataan yang belum terbantahkan bahwa Indonesia merupakan negara berpenduduk Muslim terbesar diseluruh dunia. Sementara itu, bahasa utama Islam terutama dalam doktrin dan ritual adalah bahasa Arab. Dengan demikian prospek pengajaran bahasa Arab di Indonesia nampaknya sangatlah besar dan menjanjikan sekaligus menantang. Di lain pihak, pendekatan dan metode pengajaran bahasa pada umumnya juga berkembang dan bermunculan dengan sangat cepat sehingga pada titik tertentu membingungkan para pemakainya untuk menetukan pilihan. Hal tersebut juga berlaku bagi para pengajar bahasa Arab. Namun demikian, di antara sekian banyak pendekatan dan metode tersebut, nampaknya pendekatan komunikatif merupakan pendekatan yang paling sesuai, setidaknya ia merupakan metode yang dalam dua dasawarsa terakhir ini sangat dianjurkan pemakaiannya dalam pengajaran bahasa asing di Indonesia. Pendekatan komunikatif ini, terutama dalam pengajaran bahasa Arab, nampaknya baru bisa diterapkan apabila peserta didik sudah memiliki dasar-dasar bahasa Arab dan mampu menggunakannya dalam muhadatsah yaumiyah. Tingkatan kemampuan seperti itu setidaknya baru dimiliki oleh peserta didik di tingkat perguruan tinggi seperti mahasiswa jurusan bahasa Arab, di Fakultas Adab dan Tarbiyah.
PENGEMBANGAN BERFIKIR DALAM PENULISAN KARYA ILMIAH Djuhana, Ade
ALQALAM Vol 21 No 102 (2004): September - December 2004
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (990.453 KB) | DOI: 10.32678/alqalam.v21i102.1641

Abstract

Salah-satu cara untuk mengukur sejauhmana kemampuan ''pengajar''menguasai bidang ilmu yang dipelajarinya ialah mewajibkan menyusun suatu karya tulis ilmiah dilihat dari jenjang pendidikan tinggi yang diterapkan, karya tulis ilmiah yang dibuat tentu mempunyai istilah yang berbeda pula. Perbedaan sebutan karya tulis ilmiah itu tidak hanya untuk menunjukkan tingkat atau jenjang pendidikan, tetapi juga menuntut adanya perbedaan kualifikasi atau bobot tulisannya. Sementara ini ada kesan bahwa perbedaan tingkat karya ilmiah itu seolah-olah didasarkan pada jumlah halaman tulisannya. Tidak heran kalau ada upaya agar karya tulis kelihatan tebal, maka diperbanyak penyajian tulisan pada hal-hal yang memungkinkan. Penyajian materi dalam pustaka dianggap tidak terlalu sulit karena bersumber dari bacaan. Akibatnya, terjadilah penyajian materi dalam pustaka yang tidak proporsional lagi, yaitu jumlah halamannya jauh lebih besar dari isinya. Sehingga ada kesan kekurang mengertian tentang apa yang dimaksud dengan informasi kepustakaan dalam suatu karya.Membuat karya ilmiah bagi "pengajar" merupakan suatu kewajiban yang harus dilaksanakan, hal ini berkaitan dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Dan sebagai konsekwensi, terdapat hak yaitu predikat jabatan akademis bagi adequasi kretiria. Bila ditelusuri dengan seksama, seseorang yang banyak menulis karya ilmiah, sudah barang tentu akan banyak membaca buku-buku, namun tidak sebaliknya bahwa mereka yang rajin membaca buku. Perlu disadari sepenuhnya bahwa kepandaian, kayanya gagasan, luasnya wawasan, ketepatan prediksi, sensitifnya berfikir seseorang tanpa penuangan di dalam suatu karya ilmiah, maka akan susah dipegang dan cenderung tidak dapat diliterasikan. de Facto bahwa pikiran dan ucapan saja sangat mudah berubah seketika, tetapi karya ilmiah lain halnya karena merupakan produk yang berkali-kali dikaji. Dan yang membahayakan adalah munculnya: "argumentum ad ignorantium dan argumentum ad verecundium".
KONSEP ILMU DENGAN PARADIGMA TAUHID AM, Kartina
ALQALAM Vol 21 No 102 (2004): September - December 2004
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (998.625 KB) | DOI: 10.32678/alqalam.v21i102.1640

Abstract

Sains (ilmu) pada zaman modern sangat dihargai, namun sejumlah penulis berpendapat lain, ada yang memandang sains sebagai proses dehumanisasi yang mengandung unsur perlakuan tidak layak pada manusia, masyarakat. Pada dasarnya konsep ilmu berdasarkan moral dengan paradigma tauhid memerlukan kesadaran bahwa segala bentuk ilmu berasal dari dan diarahkan untuk Allah. Secara filosofis dapat mempererat relasi konsep fitrah kemanusiaan, wahyu ilahi, dan sunnatullah (hukum Allah yang berlaku pada alam raya) secara terpadu. Rekonstruksi ilmu dalam paradigma tauhid sering disebut dengan kerja ''lslamisasi ilmu" atau "pengkajian ilmu dalam perspektif Islam 'yang metodologinya berdasarkan tauhid (keesaan Allah, kesatuan kebenaran, pengetahuan, kehidupan, dan umat). Sebagai pandangan dunia, tauhid meliputi prinsip-prinsip: 1) Dualitas, meliputi dua kategori umum, yaitu Tuhan (pencipta) dan bukan Tuhan (ciptaan); 2) Ideasionalitas, bahwa manusia mempunyai kemampuan berfikir; dan 3) Teleologis, bertujuan terencana, atau didasarkan pada maksud-maksud tertentu sang pencipta. Dari paradigma tauhid tersebut dapat dibangun basis ontologis, epistemologis, dan etis ilmu berdasarkan Islam.
TEORI KEPEMIMPINAN Syarifudin, Encep
ALQALAM Vol 21 No 102 (2004): September - December 2004
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1060.163 KB) | DOI: 10.32678/alqalam.v21i102.1644

Abstract

Dalam tulisan ini mengkaji beberapa paparan penting dari berbagai definisi dan teori yang berkenaan dengan kepemimpinan. Kepemimpinan adalah proses untuk mempengaruhi orang lain baik di dalam organisasi maupun diluar organisasi untuk mencapai tujuan yang diinginkan dalam suatu situasi dan kondisi tertentu. Hal ini sering melibatkan berbagai kekuasaan seperti ancaman, penghargaan, otoritas maupun bujukan.Dari aspek teoretis dapat ditemukan beberapa kategori teori kepemimpinan yaitu kepemimpinan sifat, perilaku dan situasional.Teori kepemimpinan sifat berusaha mengidentifikasikan karakteristik khas baik fisik, mental dan kepribadian yang diasosiasikan dengan keberhasilan kepemimpinan. Mengandalkan pada penelitian yang menghubungkan berbagai sifat dengan kriteria sukses tertentu.Teori kepemimpinan perilaku mengeksplorasi pemikiran bahwa bagaimana seseorang berperilaku menentukan keefektifan kepemimpinan seseorang. Daripada berusaha menemukan sifat-sifat, mereka meneliti pengaruhnya pada prestasi dan kepuasan dari pengikut-pengikutnya.Teori kepemimpinan kemungkinan atau situasional adalah suatu pendekatan terhadap kepemimpinan yang memahami perilakunya, sifat-sifat bawahannya, dan situasi sebelum mengunakan suatu gaya kepemimpinan tertentu.Pendekatan terbaru dalam kepemimpinan yaitu teori atribusi kepemimpinan, kepemimpinan karismatik, kepemimpinan transaksional dan kepemimpinan transfarmasional.
HAKEKAT ILMU DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT ILMU ISLAMI Anwar, Saeful
ALQALAM Vol 21 No 102 (2004): September - December 2004
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1920.446 KB) | DOI: 10.32678/alqalam.v21i102.1639

Abstract

Meski teori-teori ilmu (pengetahuan) para pemikir muslim abad pertengahan pada umumnya tercecer dalam berbagai kitab dan subyek dan mereka tidak menamainya dengan “teori ilmu (pengetahuan)”, 'filsafat ilmu" atau lainnya sebagai sebuah disiplin ilmu yang berdiri sendiri, tetapi teori-teori dan konsep­konsep mereka tentang ilmu secara keseluruhan membentuk sebuah Filsafat Ilmu Islami yang sistematik, solid dan komprehensif mencakup aspek hakekat ilmu, ontologi, epistemologi dan aksiologinya. Meski mereka berbeda redaksi dalam mendefinisikan hakekat ilmu, tetapi kesamaan dalam postulat being qua being membuat mereka sepakat bahwa ilmu secara mutlak berada dalam diri (akal) subyek yang harus pasti dan sesuai dengan realitas obyek berdasarkan metode ilmiah tertentu, dan bahwa obyek ilmu mencakup semua yang diketahui (ma'lum) baik ada dari sudut fakta dan nilai praksisnya, maupun tiada dari sudut ketiadaannya. Kumpulan ilmu yang dituangkan dalam bahasa lisan atau tulisan, disusun secara sistematik dan diklasifikasikan ke dalam bidang-bidang menurut persyaratan tertentu disebut fann, sina 'ah dan ilmu dalam arti disiplin.
KONSEP DASAR PENERJEMAHAN Ma'mur, Ilzamudin
ALQALAM Vol 21 No 102 (2004): September - December 2004
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1464.382 KB) | DOI: 10.32678/alqalam.v21i102.1643

Abstract

Penerjemahan secara teori dan praktek sudah mulai dibahas paling tidak sejak satu abad sebelum masehi, yakni pada masa Cicero, dan pada zaman sekarang perdebatan di seputar arti penting antara teori dan praktek penerjemahan pun masih mewarnai literatur tentang penerjemahan. Hal ini mengindikasikan bahwa mengkaji masalah penerjemahan, walaupun pengakuamnya secara akademis merupakan fenomena baru-baru ini saja, masih tetap menarik. Tulisan ini tidak bermasud memasuki belantara perdebatan antara mereka yang pro dan mereka yang kontra mengenai hubungan teori dan praktek penerjemahan, melainkan lebih mengambil jalan tengah bahwa antara teori dan praktek saling melengkapi. Pengetahuan yang baik mengenai teori penerjemahan diharapkan akan menghasilkan produk terjemahan yang baik. Demikian pula, pengalaman penerjemahan yang cermat dan baik tidak menutup kemungkinan akan bisa menghasilkan teori penerjemahan baru, atau paling tidak melengkapi teori yang ada sehingga semakin meramaikan hazanah teori penerjemahan pada umumnya. Alih­alih membahas praktek penerjemahan, tulisan ini akan membatasi diri pada pembahasan tataran teori penerjemahan yang dikemukakan para-pakar penerjemahan mutakhir, mulai dari Nida hingga Newmark mengenai hakikat penerjemahan, syarat penerjemah, jenis terjemahan, metode, proses dan prosedur penerjemahan, dan evaluasi menerjemahan.

Page 1 of 1 | Total Record : 7


Filter by Year

2004 2004


Filter By Issues
All Issue Vol 36 No 1 (2019): Januari - Juni 2019 Vol 35 No 2 (2018): July - December 2018 Vol 35 No 1 (2018): January - June 2018 Vol 34 No 1 (2017): January - June 2017 Vol 34 No 2 (2017): July - December 2017 Vol 34 No 1 (2017): January - June 2017 Vol 33 No 2 (2016): July - December 2016 Vol 33 No 1 (2016): January - June 2016 Vol 32 No 2 (2015): July - December 2015 Vol 32 No 1 (2015): January - June 2015 Vol 31 No 2 (2014): July - December 2014 Vol 31 No 1 (2014): January - June 2014 Vol 30 No 3 (2013): September - December 2013 Vol 30 No 2 (2013): May - August 2013 Vol 30 No 1 (2013): January - April 2013 Vol 29 No 3 (2012): September - December 2012 Vol 29 No 2 (2012): May - August 2012 Vol 29 No 1 (2012): January - April 2012 Vol 28 No 3 (2011): September-December 2011 Vol 28 No 2 (2011): May - August 2011 Vol 28 No 1 (2011): January - April 2011 Vol 27 No 3 (2010): September - December 2010 Vol 27 No 2 (2010): May - August 2010 Vol 27 No 1 (2010): January - April 2010 Vol 26 No 3 (2009): September - December 2009 Vol 26 No 2 (2009): May - August 2009 Vol 26 No 1 (2009): January - April 2009 Vol 25 No 3 (2008): September - December 2008 Vol 25 No 2 (2008): May - August 2008 Vol 25 No 1 (2008): January - April 2008 Vol 24 No 3 (2007): September - December 2007 Vol 24 No 2 (2007): May - August 2007 Vol 24 No 1 (2007): January - April 2007 Vol 23 No 3 (2006): September - Desember 2006 Vol 23 No 2 (2006): May - August 2006 Vol 23 No 1 (2006): January - April 2006 Vol 22 No 3 (2005): September - December 2005 Vol 22 No 2 (2005): May - August 2005 Vol 22 No 1 (2005): January - April 2005 Vol 21 No 102 (2004): September - December 2004 Vol 21 No 101 (2004): May - August 2004 Vol 21 No 100 (2004): January - April 2004 Vol 20 No 98-99 (2003): July - December 2003 Vol 20 No 97 (2003): April - June 2003 Vol 20 No 96 (2003): January - March 2003 Vol 19 No 95 (2002): October - December 2002 Vol 19 No 94 (2002): July - September 2002 Vol 19 No 93 (2002): April - June 2002 Vol 19 No 92 (2002): January - March 2002 Vol 18 No 90-91 (2001): July - December 2001 Vol 18 No 88-89 (2001): January - June 2001 Vol 17 No 87 (2000): Oktober - December 2000 Vol 17 No 86 (2000): July - September 2000 Vol 17 No 85 (2000): April - June 2000 Vol 14 No 74 (1998): September - October 1998 Vol 13 No 72 (1998): May - June 1998 Vol 13 No 68 (1997): November - Desember 1997 Vol 13 No 67 (1997): September - Oktober 1997 Vol 13 No 66 (1997): Juli - Agustus 1997 Vol 11 No 63 (1997): Maret - April 1997 Vol 11 No 62 (1996): September - Oktober 1996 Vol 11 No 59 (1996): Maret - April 1996 Vol 11 No 58 (1996): Januari - Februari 1996 Vol 10 No 56 (1995): September - October 1995 Vol 10 No 55 (1995): July - August 1995 Vol 10 No 54 (1995): May - June 1995 Vol 10 No 53 (1995): March - April 1995 Vol 10 No 52 (1995): January - February 1995 Vol 10 No 51 (1994): November - Desember 1994 Vol 10 No 51 (1994): November - December 1994 Vol 10 No 50 (1994): September - October 1994 Vol 4 No 15 (1988): September - October 1988 More Issue