cover
Contact Name
Muhammad Syafar
Contact Email
m.syafar@uinbanten.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
alqolam.journal@uinbanten.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota serang,
Banten
INDONESIA
ALQALAM
ISSN : 14103222     EISSN : 2620598X     DOI : -
ALQALAM (e-ISSN: 2620-598X; p-ISSN: 1410-3222) is a journal published by the Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-INDONESIA. ALQALAM is an academic journal published twice a year (every six months). ALQALAM had been accreditated by Ministry of Education and Culture No. 80/DIKTI/Kep./2012, 13 Desember 2012. This journal focuses on specific themes of Islamic Studies.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue " Vol 21 No 101 (2004): May - August 2004" : 7 Documents clear
KELUARGA SEBAGAI PUSAT PEMBINAAN AGAMA DAN MORAL ANAK Asyhari, M.
ALQALAM Vol 21 No 101 (2004): May - August 2004
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (987.39 KB) | DOI: 10.32678/alqalam.v21i101.1626

Abstract

Manusia adalah  makhluk   sosial yang  sejak  awal  kehidupannya  sudah memerlukan pertolongan orang lain. Pada awal kehidupannya mansuia adalah makhluk yang lemah, sekiranya setelah lahir tidak ada yang merawat hampir dipastikan akan mati. Demikianlah selanjutnya dalam perkembangannya mauusia saling bergantung kepada yang lain. Dengan berkeluarga dan bermsyarakat, manusia dapat belajar mengembangkan kemampuan dirinya sehingga ia mampu menciptakan berbagai peralatan yang akan mempernudah kehidupannya. Tetapi manusia berbeda dengan hewan, kehidupan bermsyarakat perlu nilai-nilai dan nonna-nonna sesuai agama agar dalam berinteraksi tidak terjadi benturan -benturan. Nilai-nilai dan norna-norna sesuai agama itu akan lebih ditanam jika sejak dini diajarkan dalam keluarga dengan bimbingan orang tua. Sayangnya lidak sedikit orang tua yang kurang menyadari atau kurang mampu melakukan tugasnya ilu. Uraian ·berikut ini mencoba mengurai problema tersebut.
TENAGA KERJA WANITA DAN PENGARUHNYA TERHADAP KELUARGA SEJAHTERA Mursidah, Ida
ALQALAM Vol 21 No 101 (2004): May - August 2004
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (586.405 KB) | DOI: 10.32678/alqalam.v21i101.1625

Abstract

Sebagai agama yang memerintahkan umatnya untuk beramal saleh, Islam sangat mengapresiasi kerja dan produktivitas. Perintah untuk bekerja ini diberlakukan terhadap muslim laki-laki maupun perempuan. Seorang muslim yang baik, laki-laki ataupun perempuan, adalah muslim yang mengisi _kehidupan sehari­ harinya dengan aktivitas-aktivitas positif dan produktif yang dapat memberikan manfaat bagi dirinya sendiri, keluargnya ataupun masyarakatnya.Produktivitas yang dihasilkan akan berimbas pada tingkat kesejahteraan keluarganya sebagai konsekwensi logis dati nilai kerja yang dilakukan. Selain mengandung implikasi positif, hubungan antara kerja dengan kesejahteraan keluarganya juga menyimpan persoalan tersendiri terutama bagi kalangan tenaga kerja wanita yang sudah berkeluarga. Mereka biasanya berada dalam posisi dilematis karena harus memilih salah satu di antara kerja dan keluarganya. Bekerja, secara ekonomis dapat meningkatkan kesejahteraan keluarganya, namun di sisi lain, bekerja juga bisa berakibat pada kurang optimalnya fungsi dan tanggung jawab yang diperankan seorang  wanita  dalam keluarganya,  baik  sebagai ibu  dari  anak-anaknya  ataupuu sebagai istri dari suaminya.
KHULU’ DAN EMANSIPASI WANITA Abdullah, Ru'fah
ALQALAM Vol 21 No 101 (2004): May - August 2004
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1071.499 KB) | DOI: 10.32678/alqalam.v21i101.1623

Abstract

Kedudukan wanita dalam Islam tidak seperti diduga oleh sementara orang. Ajaran  Islam  pada  hakikahrya  memberikan  perhatian yang  sangat besar  serta kedudukan terhormat kepada kaum wanita. Namun dalam masalah-masalah tertentu, memang harus diakui bahwa Islam memberikan batasan khusus, seperti Imam dalam shalat adalah harus dipegang oleh kaum lelaki. Kemudian wanita memang mempumyai fitrah untuk menjadi seorang ibu, melahirkan, haid dan menyusi.Salah satu persamaan hak wanita dalam Islam adalah, bahwa kaum wanita (istri) boleh untuk mengajukan perceraian dengan cara Khulu' (menebus) dengan barang (harta)yang pernah diberikan oleh suaminya, apabila diduga keras suaminya berlaku dzalim dan atau melakukan perzinahan, pemabuk dan pemadat. Atau sekurang-kurangnya si istri merasa tidak enak karena akan melanggar perintah Allah, (karena tidak taat lagi kepada suami) yang mempunyai prilaku yang menyimpang.Hak Khulu' ini bila dikaitkan dengan persamaan (emansipasi) sangat erat kaitannya, sebab seorang wanita berhak untuk menentukan nasibnya tanpa dihantui perasaan takut dan bahkan seorang hakim di Pengadilan harus memberikan bantuan yang maksimal terhadap wanita yang didzalimi oleh suami. Disyari’atkannya Khulu' juga memberikan jaminan kepada wanita agar kaum pria tidak seenaknya dalam memperlakukan istrinya. Dengan demikian Islam sangat menjunjung tinggi hakat dan martabat wanita. Kata Kunci: Ajaran Islam, Khulu', Emansipasi Wanita
PENGARUH KONDISI SOSIO-KULTURAL TERHADAP KONSEP GENDER Zaini, Ahmad
ALQALAM Vol 21 No 101 (2004): May - August 2004
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (930.996 KB) | DOI: 10.32678/alqalam.v21i101.1622

Abstract

Pada umumnya sebttah konsep Jahirsebagai reaksi atas realitas sosia/ atat1 sebagai antitesa terhadap konsep yang telah ada sebelumnya. Dari pernyataan di atas maka amat dipahami mengapa masalah masalah gender menjadi perbincangan yang tak  pemah  berhenti pada  satu  kesimpulan.   Selain ·.bahwa gender· berkaitan dengan peran-peran yang dijalankan perempuan dan laki-laki dalam wilayah sosio­ kulural, juga berkaitan eral dengan sejauhmana peran-peran dalam pola sosial itu, memberi rasa keadilan bagi masing-masing pihak (laki-laki dan perempuan).Wacana gender tumbuh sebagai reaksi atas ketidakadilan terhadap perempuan.   lstilah  ''adil" itu  sendiri  ditafsirkan  secara  berbeda-beda oleh  setiap ideologi, sehingg jadilah konsep gender sebagai sebuah intetpretasi ideologis. Berpangkal dari rasa ketidakadilan atas realitas sosial dalam sistem masyarakat ini pula dapat dipahami mengapa gender (dalam tataran konsep maupun praktek) lebih sering berbicara masalah "kesetaraan" dibanding ''perbedaan" yang dapat saling melengkapi.
KONTROVERSI ULAMA SEPUTAR KEDUDUKAN AL-ZIYADAH AL-NASHSH DAN DAMPAKNYA TERHADAP FIQH Kharlie, Ahmad Tholabi
ALQALAM Vol 21 No 101 (2004): May - August 2004
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1334.774 KB) | DOI: 10.32678/alqalam.v21i101.1628

Abstract

Dalam lingkup kajian hukum Islam, fenomena perbedaan pendapat (ikhtilaf) di kalangan para ulama adalah lumrah terjadi, baik di kalangan ulama fikih (fuqaha') maupun ulama usu! jikih (ushulqyin). Disinyaalisasi, perbedaan­ perbedaan pendapat di ka!angan ulama itu tidak dipicu oleh salu atau dua latar belakang an sich. Salah salu hal yang memicu munculnya perbedaan pendapat dalam bidangjikih, misalnya, adalah persoalan perbedaan pemahaman (usul fikih) tentang konsep al-Ziyadah 'ala al-Nashsh.Kontroversi ulama dalam kaidah ini sangat berpengaruh terhadap pemikiran di bidang fikih. Ini dapat diamati dari  keragaman pemikiran fikih para ulama yang  dilatarbelakangi  dari  kaidah  tersebut.           Istilah al-Ziyadah ‘Ala al-Nashsh dalam kqjian disiplin ilmu usul ftkih agaknya, menurut hemat penulis, bukan termasuk terminologi yang mandiri dan sentral. Karena, dalam kitab-kitab usul fikih induk sekalipun, istilah tersebul tidak pemah menempati posisi pembahasan yang mandiri, komprehensif, dan integral. Namun, secara sederhana al-ziyadah 'ala al-nashsh berarti penambahan atas suatu teks (nash) yang berimplikasi secara hukum. Penambahan tersebut dapat bempa keterkaitan secara substansial (mustaqill), maupun berbeda secara diametral (ghayr al-mustaqill). Penambahan ini dilakukan oleh para ulama berdasarkan indikasi­ indikasi yang mereka tangkap dari berbagai teks.Secara umum penulis menemukan kenyataan bahwa tampaknya telah terjadi kontroversi yang 'telanjang' di kalangan ulama mengenai kedudukan al­ ziyadah 'ala al-nashsh, apakah berfungsi sebagai sebagai naskh atau berada dalam fungsi-fungsi lainnya. Dan, kontroversi ini, harus diakui, telah berimbas dan berpengaruh kuat terhadap hasil ijtihad mereka,yakni dalam wilayah fikih (furu’).
FIQH MUHAMMAD RASYID RIDLA Iman, Fauzul
ALQALAM Vol 21 No 101 (2004): May - August 2004
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1694.459 KB) | DOI: 10.32678/alqalam.v21i101.1627

Abstract

Perbedaan pendapat dalam fiqh adalah suatu yang tidak terhindarkan. Karena itu pula fiqh kerap diidentikkan dengan perbedaan pendapat. Di antara persoalan yang sejak dulu senantiasa diperdebatkan dalam pemikiran fiqh adalah masalah Ahl a-Kitab dan Khilafah. Dalam masalah Ahl al-Kitab, perbedaan tidak hanya di seputar persoalan siapa saja yang masuk golongan ahl al-kitab tersebut, melainkan juga pada masalah definisi dan perkembangan makna ahl al­ kitab itu sendiri. Perbedaan pendapat pada masalah-masalah tadi berimplikasi pada perdebatan yang lebih keras dalam persoalan status pernikahan seorang muslim dengan ahl al-kitab. Sementara itu, dalam masalah Khilafah, perdebatan juga muncul dalam hal keharusan mendirikan institusi pemerintahan Islam yang mengurusi masalah-masalah agama dan dunia umat Islam.Sebagai salah seorang pemikir terkemuka di dunia Islam, Muhammad Rasyid Ridla memiliki pandangannya tersendiri dalam kedua masalah di atas. Dalam masalah ahl al-kitab, model pemikiran liberal Ridla nampak dalam ijtihadnya mengenai ahli kitab. Baginya, golongan ahl al-kitab tidak hanya meliputi kelompok Yahudi dan Nasrani, melainkan juga umat beragama lainnya seperti Hindu, Budha, dan Konghucu. Namun demikian, pemikiranya yang liberal itu tidak tampak pada pemikiran tentang khilafat. Baginya, umat Islam perlu membangun kembali khilafah Islamiyah sebagaimana yang pernah terjadi pada masa khulafa al-rasyidin.
KESETARAAN GENDER DI BANTEN DALAM PANDANGAN KIYAI DAN JAWARA Zohriah, Anis
ALQALAM Vol 21 No 101 (2004): May - August 2004
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1244.995 KB) | DOI: 10.32678/alqalam.v21i101.1629

Abstract

Terdapat dua entitas dari masyarakat Banten yang cukup terkenal, yakni kiyai dan jawara. Keduanya memiliki pengaruh yang melewati batas-batas geografis berkat kharisma yang dimilikinya. Pengaruh kharisma tersebut terbentuk sudah cukup lama, yakni semenjak pemerintahan kolonial Belanda berhasil menganeksasi Kesultanan Banten.Dalam masyarakat seperti Banten yang mengalami penetrasi Islam sangat mendalam sehingga menjadi basis bagi identitas kelompok, kedudukan dan peran sosial kiyai, sebagai tokoh agama, menjadi sangat penting. Kiyai menjadi kelompok elit sosial yang selain memiliki peranan tradisionalnya sebagai guru ngaji dan kitab di pesantren, guru tarekat, guru ilmu ''hikmah" dan mubaligh, juga berperan dalam transformasi sosial politik di Banten sehingga sosok penting yang banyak mempengaruhi pembentukan kebudayaan dan sejarah perjalanan masyarakat ini.Demikian pula jawara, ia kini dikenal sebagai identitas dari lembaga adat Banten. Kemampuannya dalam memanipulasi kekuatan supernatural (magi) dan keunggulan dalam hal flsik telah membuatnya menjadi sosok yang ditakuti sekaligus dikagumi, sehingga terkadang muncul menjadi tokoh yang kharismatik dan heroik. Peranannya juga tidak hanya terbatas kepada guru persilatan, ilmu kesaktian atau "tentara wakaf", tetapi juga sebagai pemimpin sebuah pergerakan sosial. Bahkan untuk saat ini, para jawara memiliki peran penting dalam sosial politik masyarakat Banten.Mengenai pandangan kedua kelompok masyarakat terhadap kesetaraan gender masih sangat lemah. Hal ini disebabkan oleh rendahnya tingkat sensitivitas gender mereka dalam menafsirkan kitab suci. Hal tersebut berimplikasi pada rendahnya kesataraan gender dalam pembagian tugas di rumah tangga dan toleransi terhadap keterlibatan perempuaan dalam sektor publik. Sehingga hal tersebut juga memiliki pengaruh tentang masih kecilnya keterlibatan perempuan di Banten dalam sektor-sektor publik. Sebab ada hambatan kultural yang menghalangi mereka untuk  terlibat dalam ranah publik

Page 1 of 1 | Total Record : 7


Filter by Year

2004 2004


Filter By Issues
All Issue Vol 36 No 1 (2019): Januari - Juni 2019 Vol 35 No 2 (2018): July - December 2018 Vol 35 No 1 (2018): January - June 2018 Vol 34 No 1 (2017): January - June 2017 Vol 34 No 2 (2017): July - December 2017 Vol 34 No 1 (2017): January - June 2017 Vol 33 No 2 (2016): July - December 2016 Vol 33 No 1 (2016): January - June 2016 Vol 32 No 2 (2015): July - December 2015 Vol 32 No 1 (2015): January - June 2015 Vol 31 No 2 (2014): July - December 2014 Vol 31 No 1 (2014): January - June 2014 Vol 30 No 3 (2013): September - December 2013 Vol 30 No 2 (2013): May - August 2013 Vol 30 No 1 (2013): January - April 2013 Vol 29 No 3 (2012): September - December 2012 Vol 29 No 2 (2012): May - August 2012 Vol 29 No 1 (2012): January - April 2012 Vol 28 No 3 (2011): September-December 2011 Vol 28 No 2 (2011): May - August 2011 Vol 28 No 1 (2011): January - April 2011 Vol 27 No 3 (2010): September - December 2010 Vol 27 No 2 (2010): May - August 2010 Vol 27 No 1 (2010): January - April 2010 Vol 26 No 3 (2009): September - December 2009 Vol 26 No 2 (2009): May - August 2009 Vol 26 No 1 (2009): January - April 2009 Vol 25 No 3 (2008): September - December 2008 Vol 25 No 2 (2008): May - August 2008 Vol 25 No 1 (2008): January - April 2008 Vol 24 No 3 (2007): September - December 2007 Vol 24 No 2 (2007): May - August 2007 Vol 24 No 1 (2007): January - April 2007 Vol 23 No 3 (2006): September - Desember 2006 Vol 23 No 2 (2006): May - August 2006 Vol 23 No 1 (2006): January - April 2006 Vol 22 No 3 (2005): September - December 2005 Vol 22 No 2 (2005): May - August 2005 Vol 22 No 1 (2005): January - April 2005 Vol 21 No 102 (2004): September - December 2004 Vol 21 No 101 (2004): May - August 2004 Vol 21 No 100 (2004): January - April 2004 Vol 20 No 98-99 (2003): July - December 2003 Vol 20 No 97 (2003): April - June 2003 Vol 20 No 96 (2003): January - March 2003 Vol 19 No 95 (2002): October - December 2002 Vol 19 No 94 (2002): July - September 2002 Vol 19 No 93 (2002): April - June 2002 Vol 19 No 92 (2002): January - March 2002 Vol 18 No 90-91 (2001): July - December 2001 Vol 18 No 88-89 (2001): January - June 2001 Vol 17 No 87 (2000): Oktober - December 2000 Vol 17 No 86 (2000): July - September 2000 Vol 17 No 85 (2000): April - June 2000 Vol 14 No 74 (1998): September - October 1998 Vol 13 No 72 (1998): May - June 1998 Vol 13 No 68 (1997): November - Desember 1997 Vol 13 No 67 (1997): September - Oktober 1997 Vol 13 No 66 (1997): Juli - Agustus 1997 Vol 11 No 63 (1997): Maret - April 1997 Vol 11 No 62 (1996): September - Oktober 1996 Vol 11 No 59 (1996): Maret - April 1996 Vol 11 No 58 (1996): Januari - Februari 1996 Vol 10 No 56 (1995): September - October 1995 Vol 10 No 55 (1995): July - August 1995 Vol 10 No 54 (1995): May - June 1995 Vol 10 No 53 (1995): March - April 1995 Vol 10 No 52 (1995): January - February 1995 Vol 10 No 51 (1994): November - Desember 1994 Vol 10 No 51 (1994): November - December 1994 Vol 10 No 50 (1994): September - October 1994 Vol 4 No 15 (1988): September - October 1988 More Issue