cover
Contact Name
Muhammad Syafar
Contact Email
m.syafar@uinbanten.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
alqolam.journal@uinbanten.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota serang,
Banten
INDONESIA
ALQALAM
ISSN : 14103222     EISSN : 2620598X     DOI : -
ALQALAM (e-ISSN: 2620-598X; p-ISSN: 1410-3222) is a journal published by the Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-INDONESIA. ALQALAM is an academic journal published twice a year (every six months). ALQALAM had been accreditated by Ministry of Education and Culture No. 80/DIKTI/Kep./2012, 13 Desember 2012. This journal focuses on specific themes of Islamic Studies.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue " Vol 19 No 92 (2002): January - March 2002" : 8 Documents clear
PENDIDIKAN PESANTREN TRADISI DAN MODERNISASI KOSWARA, H.S.
ALQALAM Vol 19 No 92 (2002): January - March 2002
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (960.502 KB) | DOI: 10.32678/alqalam.v19i92.1443

Abstract

Peranan pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tertua dalam penyebaran Islam dan pemantapan ketaatan masyarakat dalam melaksanakan syari'at Islam. Lembaga-lembaga pesantren di Jawa dan Madura berperan dalam penyebaran ajaran Islam dan pembentukan watak keislaman bagi masyarakat sampai ke pelosok pedesaan. Dari lembaga-lembaga pesantren itulah asal-usul sejumlah manuskrip tentang pengajaran Islam walaupun keadaannya sangat terbatas.Di balik peran positif lembaga pendidikan pesantren, lembaga pendidikan ini banyak dikecam karena dianggap sebagai sistem pendidikan statis yang terbelenggu oleh pemikiran-pemikiran ulama abad pertengahan.Begitu pula sumber-sumber pelajaran terbatas kitab-kitab salaf. Dengan berbagai kelemahn umat Islam di seluruh dunia maka terjadilah perubahan sistem pesantren, terutama setelah Indonesia merdeka, maka terjadilah modernisasi pesantren.
KONDISI KEWANITAAN DALAM KONTEKS ISLAM ARKOUN, MOHAMMED
ALQALAM Vol 19 No 92 (2002): January - March 2002
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1007.996 KB) | DOI: 10.32678/alqalam.v19i92.1439

Abstract

Dalam konteks di mana kekerasan struktural bertengger di dalam mentalitas selama beberapa abad taklid buta yang jauh dari segala krtik, kaum wanita yang tidak tahan terhadap segala bentuk dominasi, sesekali memperlihatkan sejauh mana mereka menjadi "hamba di hamba" di dalam kemodernan yang diimpikan.Sesungguhnyaa, terdapat cukup banyak literatur yang lebih-kurang membahas secam kritis tentang status wanita di dalam Qur’an, hukum dan tradisi muslim. Kita akan melihat pendekatan ini lebih cocok dengan tujuan-tujuan apologetik, ideologis dan militan ketimbang kebutuhan untuk menjelaskan persoalan yang membingungkan ini. Dengan memperhatikan aneka ragam konteks sosial politis, budaya dan hirtoris di mana Islam berada sebagai faktor di antara berbagai faktor lain, tetapi sama sekali tidak eksklusif, kita terpaksa memperluas analisa kepada beberapa data sosiologis dan antropologis.Kita akan menguji satu problematika historis dan antropologis tentang kaum wanita dalam rangka menggeser berbagai diskusi polemis, sikap militan, pengulangan setia untuk mendekontruksi mentalitas yang senantiasa menguasai wacana kewanitaan.Para pembaca, terutama para pembaca wanita, yang hidup dalam lingkungan Islami akan dapat menilai sedemikian rupa ketepatan beberapa fakta yang diberikan untuk suatu pendekatan antropologis, dan bukan saja pendekatan keislaman yang sempit, tentang persoalan wanita.Artikel ini merupakan jawaban terhadap desakan atas penulis untuk mengupas secara tuntas problema tentang emansipasi kaum wanita dalam konteks Islam. Dengan pendekatan antropologis dan historis dalam lima tataran (antropologis, semiologis, sosiologis, politis, historis) penulis berkesimpulan bahwa jalan menuju emansipasi yang optimal bagi kondisi kaum wanita dalam konteks Islam masih panjang dan berat.
نشأة النحو العربي Mughni, H. Subhan
ALQALAM Vol 19 No 92 (2002): January - March 2002
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (500.009 KB) | DOI: 10.32678/alqalam.v19i92.1021

Abstract

Setelah bangsa Arab melakukan penaklukan ke berbagai wilayah di sekitarnya, banyak di antara para penduduk daerah tersebut yang masuk Islam. Sebagai konsekuwensinya, mereka pun mempelajari bahasa Arab guna memahami ajaran Islam yang terkandung dalam al-Qur'an. Seiring dengan itu, percampuran antara bangsa Arab dan non-Arab (ajam) telah mengakibatkan terjadinya pencemaran (lahn) dan ketidak fasihan dalam berbahasa Arab. Sesuatu yang dapat merusak kemurnian bahasa Arab. Didorong untuk memelihara kemumian Bahasa al-Qur'an inilah kehadiran nahwu (gramatika bahsa Arab) sebagai sebuah disiplin ilmu menjadi penting.Dipelopori oleh para ulama di daerah Basrah (lrak). Ilmu nahwu tumbuh menjadi sebuah disiplin ilmu yang mandiri dan berkembang menjadi sebuah aliran nahwu terkenal yang biasa disebut dengan madzhab Basrah. Pada perkembangan berikutnya muncul berbagai aliran lain yang memiliki karakteristik tersendiri dan metode yang berbeda dengan Madzhab Basrah, seperti aliran Kufah, aliran Baghdad, alirn Mesir dan aliran Kordoba. Namun, dari sekian aliran tersebut hanya madzhab Kufah-lah yang dapat dikatakan setara dengan madzhab Basrah. Sehingga wacana gramatika bahasa Arab sempat diramaikan oleh perdebatan panajang antara para cendekiawan nahwu dari kedua aliran tersebut.Tulisan ini mencoba melacak motif-motif munculnya dan sejarah berkembangnya ilmu nahwu sebagai sebuah disiplin tersendiri.Kata Kunci: Nahwu, Lahn, Madzhab, Basrah, Kufah.
TANGGUNGJAWAB ILMUWAN MUSLIM DALAM MASYARAKAT Baihaqi, Wazin
ALQALAM Vol 19 No 92 (2002): January - March 2002
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1039.743 KB) | DOI: 10.32678/alqalam.v19i92.1445

Abstract

Tidak semua pengetahuan memenuhi kaidah-kaidah ilmiah. Pengetahuan ilmiah memiliki kriteria tertentu seperti pengetahuan (knowledge), tersusun secara sistematis, menggunakan pemikiran dan dapat dikontrol secara kritis oleh orang lain (obyektif). Dalam kerangka filsaf ilmu, sebuah pengetahuan dapat disebut pengetahuan ilmiah (science) apabila memenuhi aspek-aspek ontologis, epistemologis dan aksiologis. Karena itu seorang ilmuwan adalah orang yang mampu menyelami dunia pengetahuan ilmiah dengan mengikuti kaidah-kaidah keilmuan yang telah ditetapkan, terutama dalam menggali dan memperoleh data. Jelas sekali bahwa pengetahuan ilmiah mengandalkan kekuatan logika dan hanya membatasi diri pada gejala-gejala konkrit yang dapat diindera oleh manusia.Seorang ilmuwan tidak hanya menunjukan sebuah kemampuan berfikir logis dan argumentatif, tetapi ia memiliki sebuah pandangan tentang bagaimana ilmu tersebut digunakan. Beberapa ilmuwan memilih sikap netral dan menyerahkan penggunaan ilmu pengetahuan sesuai keinginan dan kebutuhan masyarakat. Kelompok ilmuwan lain memilih untuk memiliki sikap formal dengan memperhitungkan kegunaan ilmu pengetahuan tersebut dengan nilai-nilai kemanusiaan, mempertimbangkan kelestarian alam dal memiliki pertimbangan kelestariannya. Ilmuwan memiliki tanggung jawab terhadap profesinya untuk senantiasa prefesional dan loyal terhadap asas-asas profesi seperti kejujuran, obyektif, kritis dan rasional. Selain itu ilmuwan memiliki tanggung jawab sosial terhadap masyarakat untuk senantiasa tertarik dengan permasalahan masyarakat dan dengan kemampuannya membangun masyarakat tersebut. Untuk itu perlu dibina komunikasi yang baik antara ilmuwan dan masyarakat.Dalam pembahasan ini dirumuskan pula bagaimana idealnya ilmuwan muslim itu. Terdapat istilah ulil albab dan rausyanfikr untuk menunjukkan mentalitas ilmuwan muslim ideal Dijelaskan pula dalam tulisan ini bagaiman Al­Quran justru menuntun manusia pada cara-cara benalar untuk mencapai kebenaran dan menyandingkannya dengan keimanan, sehingga untuk ilmuwan muslim tidaklah mungkin memisahkan antara ilmu dan iman. Karena itu ilmuwan muslim tidak semata-mata mengakui kebenaran yang dihasilkan dari fakta-fakta obyektif yang dapat diuji kritis tetapi juga memiliki keterikatan terhadap nilai-nilai agama. Sehingga dalam mengamalkan ilmunya, ilmuwan muslim mempertimbangkan apakah pemanfaatan ilmu tersebut sesuai dengan etika Islam ?
LEMBAGA "AL-KHIAR" DALAM BISNIS ISLAM Syafuri, B.
ALQALAM Vol 19 No 92 (2002): January - March 2002
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (695.36 KB) | DOI: 10.32678/alqalam.v19i92.1444

Abstract

Perbuatan hukum misalnya jual beli bukanlah suatu perbuatan hukum yang sudah final pada saat terjadi suatu "akad" atau ''perjanjian" dianggap kesepakatan awal sesuai dengan asas konsesualisme menurut hukum perdata barat, akan tetapi dalam hukum Islam, akad atau perjanjian akan menjadikan syarat penyerahan atau "levering" sebagai suatu patokan telah selesainya perbuatan hukum jual-beli. Dalam hukum bisnis Islam bisa saja "penyerahan barang yang dibeli" sudah dilakukan pada saat akad ditutup atau ditanda tangani. Akan tetapi masing-masing pihak baik pembeli atau penjual tetap mempunyai opsi (pilihan) untuk membatalkan atau melangsungkan perbuatan hukum jual beli.
TA'WIL AL-QURAN DAN USUL FIQH DALAM PERSPEKTIF ULAMA TAFSIR Anwar, H. Saeful
ALQALAM Vol 19 No 92 (2002): January - March 2002
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1755.354 KB) | DOI: 10.32678/alqalam.v19i92.1013

Abstract

Al-Qur’an diturunkan untuk difahami, diamalkan dan didakwahkan. Sebagian ayatnya cukup terang, tetapi sebagian lagi masih memerlukan penjelasan, baik  dengan tafsir,yakni penjelasan makna lapaz dari nash al-Quran, hadist atau ra’yu sesuai arti lahir (yang rajih), maupun dengan ta'wil, yakni memalingkan lafaz kepada makna katanya (marjuh) karena alasan tertentu. Dari sudut bentuknya, ta'wil identik dengan tafsir kecuali dalam beberapa hal, sedang pembahasan paling mendasar antara keduanya adalah bahwa tapsir pada dasarnya kembali kepada riwayat dan makna pertama, sedang ta'wil kembali kepada dirayah dan makna kedua.Sikap ulama terhadap ta'wil secara umum terlihat dari pandangan mereka tentang otoritas dan kaidah-kaidah tafsir secama umum, tafsir bi al-ra’yi kajian khusus tentang kaidah-kaidah kehahasaan dan kajian khusus tentang ta'wil ayat-ayat mutasyabihat. Para ulama yang mempunyai akidah yang sahih, ilmu yang dalam, akhlak yang mulia dan mengamalkan ilmunya, pada umumnya mengakui dan memberlakukan ta'wil pada tempat yang semestinya sesuai prinsip-prinsip dan ruh al-Quran dan al-Sunnah serta kaidah-kaidah kebahasaan, tidak menolak sama sekali dan tidak membahasnya tanpa batas. Tetapi ulama salaf pada umumnya lebih sedikit memakai ta'wil ketimbang ulama khalaf Ada dua bahaya besar yang dapat mengaburkan ajaran al-Qur’an dan al-Sunnah, yaitu riwayat maudlui dan doif serta sehagian israiliyat yang berkaitan dengan tafsir bi al-ma'tsur dan ta’wil fasid yang berkaitan dengan tafsir bi al-ra’yi. Baik pada zaman dahulu maupun pada zaman kontemporer, ta'wil fasid banyak bermunculan karena berbagai faktor.Kata Kunci: Ta’wil, Tafsir, Ushul Fiqh, Ulama Tafsir
MUHAMMAD RASYID RIDHA: SEJARAH DAN PEMIKIRANNYA Iman, Fauzul
ALQALAM Vol 19 No 92 (2002): January - March 2002
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1646.466 KB) | DOI: 10.32678/alqalam.v19i92.1014

Abstract

Abad ke-19 yang merupakan abad kebangkitan industri di dunia Barat telah memunculkan respon baru terutama bagi dunia pemikiran Islam. Respon itu muncul sebagai reaksi intelektual atas kematian panjang umat Islam dari kejayaan masa silam yang telah tercapai. Kejayaan silam bagi umat Islam boleh dicatat telah merekam dinamika historis yang sangat spektakuler, bahkan pernah menjadi buaian nostalgia yang tidak menguntungkan umat.Munculnya abad kebangkitan industri seolah-olah menjadi pukulan berat bagi umat Islam untuk menggugah kesadaran umat dari kemunduran. Kondisi umat Islam saat ini memang sangat kontras dengan kemajuan yang dicapai Barat dalam abad kebangkitan Islam. Umat Islam di zaman ini tidak lagi jaya seperti dulu.Dahulu umat Islammenggunakan akal atau nalarnya yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadis untuk menggugah kemajuan. Tapi kini terjerat di alam ketumpulan akal dengan mencintai tahayul, khurafat dan membenci kemajuan. Sementara yang paling kritis dialami umat Islam adalah belum menghilangnya situasi pembenaran terhadap adanya klaim ijtihad tertutup.Dalam situasi inilah, lahir para pembaharu yang menggugah pentingnya merumuskan kembali pemikiran keagamaan yang sejalan dengan perkembangan zaman. Dengan kata lain, ijtihad harus dibuka kembali sebagai satu-satunya metode yang dapat mengentaskan kebekuan umat berhadapan dengan dinamika dan komplekitas perubahan zaman.Rasyird Ridha adalah salah satu pembahau/pemikir Islam yang sangat tangguh dan gigih mendengungkan kembali peran ijtihad. Ia dalam tulisannya menyoroti pentingnya akal diperankan untuk membuktikan keunggulan syari'ah Islam di atas hukum Barat. Menurut Rasyid Ridha, umat Islam dengan akalnya tidak boleh taklid (terikat) membabi-buta pada pikiran orang lain, tetapi juga harus toleran (terbuka) menggali dan mnyerapi pemikiran orang lain tanpa melakukan liberalisasi. Dengan pengaruh umat Islam akan mampu mengejar kemajuan, seperti yang dialami dahulu.Kata Kunci : Rarsid Ridha, Metode Pemikiran, Qur'an, hadits.
NUR MUHAMMAD DALAM TRADISI SUFISME Sahabudin, H.
ALQALAM Vol 19 No 92 (2002): January - March 2002
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (508.326 KB) | DOI: 10.32678/alqalam.v19i92.1017

Abstract

Nur Muhammad merupakan salah satu ajaran dalam tradisi sufisme yang dikembangkan pada mulanya oleh al-Hallaj; Ibn Arabi, al Jilli, al-Burhanpuri dan akhirnya al-Nabhani. Menurut Hallaj Nur Muhammad memiliki dua hakikat: 'qadimah' sebagai 'nur al-azali' yang menjadi sumber ilmu dan irfan serta sebagai titik tolak munculnya para nabi dan aulia Allah dan 'haditsah' merupakan eksistensi sebagai ibn Abdullah yang menjadi Nabi dan Rasul. Selanjutnya al­Nabhani juga berpendapat senada. Baginya Nur Muhamad bersumber dari Allah dan oleh karenanyaa ia bersifat 'qadim' sedangkan Nur Muhammad adalah sumber segala makhluk dan oleh karenanya bersifat 'huduts'. Melalui huduts inilah Nur Muhammad bisa bersentuhan langsung dengan makhluk. la juga menjadi penghubung antara Allah dengan hamba-Nya. Selanjutnya, hamba bisa berdialog langsung dengan TuhanNya melalui shalat. Shalat adalah identik dengan bacaan dan dialog antara hamba denganTuhanNya melalui rukun kauli, fi'li dan qalbi. Untuk bisa mengungkap esensi bacaan dan dialog tersebut hanya mungkin bisa diperoleh melalui Nur. Nur tersebut berasal dari Nur Muhammad. Dengan demikian ada persamaan antara Nur Muhammad dengan fungsi shalat, yakni penghubung hamba dengan Allah SWT.Kata Kunci: Syekh Yusuf al-Nabhani, Nur Muhammad, Tasawuf, Wasithah.

Page 1 of 1 | Total Record : 8


Filter by Year

2002 2002


Filter By Issues
All Issue Vol 35 No 2 (2018): July - December 2018 Vol 35 No 1 (2018): January - June 2018 Vol 34 No 2 (2017): July - December 2017 Vol 34 No 1 (2017): January - June 2017 Vol 33 No 2 (2016): July - December 2016 Vol 33 No 1 (2016): January - June 2016 Vol 32 No 2 (2015): July - December 2015 Vol 32 No 1 (2015): January - June 2015 Vol 31 No 2 (2014): July - December 2014 Vol 31 No 1 (2014): January - June 2014 Vol 30 No 3 (2013): September - December 2013 Vol 30 No 2 (2013): May - August 2013 Vol 30 No 1 (2013): January - April 2013 Vol 29 No 3 (2012): September - December 2012 Vol 29 No 2 (2012): May - August 2012 Vol 29 No 1 (2012): January - April 2012 Vol 28 No 3 (2011): September-December 2011 Vol 28 No 2 (2011): May - August 2011 Vol 28 No 1 (2011): January - April 2011 Vol 27 No 3 (2010): September - December 2010 Vol 27 No 2 (2010): May - August 2010 Vol 27 No 1 (2010): January - April 2010 Vol 26 No 3 (2009): September - December 2009 Vol 26 No 2 (2009): May - August 2009 Vol 26 No 1 (2009): January - April 2009 Vol 25 No 3 (2008): September - December 2008 Vol 25 No 2 (2008): May - August 2008 Vol 25 No 1 (2008): January - April 2008 Vol 24 No 3 (2007): September - December 2007 Vol 24 No 2 (2007): May - August 2007 Vol 24 No 1 (2007): January - April 2007 Vol 23 No 3 (2006): September - Desember 2006 Vol 23 No 2 (2006): May - August 2006 Vol 23 No 1 (2006): January - April 2006 Vol 22 No 3 (2005): September - December 2005 Vol 22 No 2 (2005): May - August 2005 Vol 22 No 1 (2005): January - April 2005 Vol 21 No 102 (2004): September - December 2004 Vol 21 No 101 (2004): May - August 2004 Vol 21 No 100 (2004): January - April 2004 Vol 20 No 98-99 (2003): July - December 2003 Vol 20 No 97 (2003): April - June 2003 Vol 20 No 96 (2003): January - March 2003 Vol 19 No 95 (2002): October - December 2002 Vol 19 No 94 (2002): July - September 2002 Vol 19 No 93 (2002): April - June 2002 Vol 19 No 92 (2002): January - March 2002 Vol 18 No 90-91 (2001): July - December 2001 Vol 18 No 88-89 (2001): January - June 2001 Vol 17 No 87 (2000): Oktober - December 2000 Vol 17 No 86 (2000): July - September 2000 Vol 17 No 85 (2000): April - June 2000 Vol 14 No 74 (1998): September - October 1998 Vol 13 No 72 (1998): May - June 1998 Vol 13 No 68 (1997): November - Desember 1997 Vol 13 No 67 (1997): September - Oktober 1997 Vol 13 No 66 (1997): Juli - Agustus 1997 Vol 11 No 63 (1997): Maret - April 1997 Vol 11 No 62 (1996): September - Oktober 1996 Vol 11 No 59 (1996): Maret - April 1996 Vol 11 No 58 (1996): Januari - Februari 1996 Vol 10 No 56 (1995): September - October 1995 Vol 10 No 55 (1995): July - August 1995 Vol 10 No 54 (1995): May - June 1995 Vol 10 No 53 (1995): March - April 1995 Vol 10 No 52 (1995): January - February 1995 Vol 10 No 51 (1994): November - Desember 1994 Vol 10 No 51 (1994): November - December 1994 Vol 10 No 50 (1994): September - October 1994 Vol 4 No 15 (1988): September - October 1988 More Issue