cover
Contact Name
Muhammad Syafar
Contact Email
m.syafar@uinbanten.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
alqolam.journal@uinbanten.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota serang,
Banten
INDONESIA
ALQALAM
ISSN : 14103222     EISSN : 2620598X     DOI : -
ALQALAM (e-ISSN: 2620-598X; p-ISSN: 1410-3222) is a journal published by the Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-INDONESIA. ALQALAM is an academic journal published twice a year (every six months). ALQALAM had been accreditated by Ministry of Education and Culture No. 80/DIKTI/Kep./2012, 13 Desember 2012. This journal focuses on specific themes of Islamic Studies.
Arjuna Subject : -
Articles 9 Documents
Search results for , issue " Vol 18 No 90-91 (2001): July - December 2001" : 9 Documents clear
HAKIKAT DAN KONTEKS DAKWAH Subandi, Ahmad
ALQALAM Vol 18 No 90-91 (2001): July - December 2001
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2014.572 KB) | DOI: 10.32678/alqalam.v18i90-91.1464

Abstract

Pada dasarnya dakwah adalah kewajiban muslim yang tidak akan pernah terliburkan sepanjang masa. Sejauh hayat di kandung badan, sejauh itu pula kewajiban dakwah melekat pada diri setiap muslim. Sebagai sebuah kewajiban dari Ilahi, maka niscaya acuan-acuan nilai yang mendasarinya juga bersifat ilahiyah. Tulisan ini lebih jauh akan melihat hakikat dakwah dengan merujuk pada acuan­acuan normatif yang diturunkan oleh yang menurunkan kewjiban dakwah itu sendiri. Tentu dikemukakan pula tafsir-tafsir atas teks dimaksud. Lebih jauh tulisan ini juga akan melihat konteks-konteks dakwah -khususnya, konteks dakwah nafsiyah, dakwah fi'ah, dan dakwah fi'liyah dengan mengacu pada petunjuk-petunjuk al-Qur’an maupun khazanah ilmu secara umum, seperti psikologi.Key words: Dakwah, Tabligh, Irsyad, Da'i.
EPISTEMOLOGI AL-GHAZALI GHAZALI, M. BAHRI
ALQALAM Vol 18 No 90-91 (2001): July - December 2001
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1815.739 KB) | DOI: 10.32678/alqalam.v18i90-91.1469

Abstract

Sebagai Hujjatul Islam, al-Ghazali adalah tokoh yang sudah tidak diragukan lagi perannya dalam membangun tradirisi keilmuan di dunia Islam. Kecerdasannya telah membuat kagum orang banyak, bukan saja dari kalangan umat Islam bahkan juga para cendekiawan Barat. Hasil karya ilmiahnya yang begitu banyak dan meliputi berbagai disiplin ilmu adalah bukti betapa produktifnya sang jenius ini.Tulisan ini hendak mengangkat pemikiran al-Ghazali tentang filsafat ilmu dengan ketiga aspeknya: ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Secara ontologis, al­Ghazali tidak menghendaki adanya dikhotomi ilmu. Pemisahan ilmu menjadi ilmu umum dan ilmu agama sejatinya adalah tidak sejalan dengan hakikat ilmu itu sendiri. Bagi al-Ghazali, ilmu secara substansial adalah satu karena memang berasal dari Yang Satu, yaitu Allah swt.Adapun ditinjau dari aspek epistemologis, kebenaran ilmiah, menurut al­Ghazali, bisa diperoleh dengan menggunakan tiga buah instrumen, yaitu panca indra, akal dan hati. Sedangkan pada aspek aksiologis, ilmu harus dikembangkan dengan tujuan bagi kemaslahatan manusia dan alam dengan dilandaskan kepada nilai-nilai teosentris (ibadah).Kata kunci: Al-Ghazali, Epistemology, Ilmu, Filsafat, Tasawuf.
AYAT-AYAT PIDANA DALAM AL-QUR'AN MUSLICH, A. WARDI
ALQALAM Vol 18 No 90-91 (2001): July - December 2001
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1702.298 KB) | DOI: 10.32678/alqalam.v18i90-91.1463

Abstract

Dalam hukum pidana positif, yang menjadi sumber hukum adalah undang­undang, sedangkan dalam hukum Islam, sumbernya adalah al-Qur'an dan-Sunnah Rasul. Al-Qur'an sebagai sumber hukum berisi ayat-ayat yang mengatur berbagai bidang hukum, termasuk bidang pidana. Dari 6.234 ayat al-Qur'an yang diduga berkaitan dengan masalah pidana hanya 90 ayat, atau 1,45%. Di antara 90 ayat pidana tersebut, sebagian berisi prinsip-prinsip hukum, yaitu 26 ayat, sebagian berisi sanksi hukum, yaitu 11 ayat, dan sebagian lagi hanya berisi larangan (tindak pidana), tanpa disertai dengan sanksi hukumnya. Bagian yang terakhir ini, sebagian ada yang hukumannya ditetapkan oleb Rasul, dan sebagian lagi penetapannya sepenuhnya diserahkan kepada Ulil Amri (pemerintah). ltulah sebabnya tindak pidana yang terdapat dalam al-Qur'an itu dapat dikelompokan menjadi tiga bagian (1) Jarimah hudud, yaitu jarimah yang hukumannya secara eksplisit disebutkan dalam Al-Qur'an, (2) Jarimah Syibh al-Hudud, yaitu jarimah yang ketentuanya disebutkan dalam al-Qur'an, tetapi sanksinya ditetapkan oleh Rasul, dan (3) Jarimah ghair al-Hudud yaitu Jarimah yang ketentuan larangannya disebutkan Qur'an maupun Sunnah. Kewenangan untukk menetapkan hukuman dalam jarimah jenis ketiga ini diserahkan kepada UIil Amri.Key words: Ayat Pidana, Jarimah, Hudud, Ta’zir, Qishash.
AGAMA DAN TANTANGAN KEMANUSIAAN KONTEMPORER Hudaeri, Mohamad
ALQALAM Vol 18 No 90-91 (2001): July - December 2001
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2085.352 KB) | DOI: 10.32678/alqalam.v18i90-91.1468

Abstract

Wacana keagamaan kembali menguat ketika masyarakat dunia memasuki milenium ketiga. Kesadaran untuk kembali ke agama ini tidak bisa dilepaskan dari krisis modernitas yang tengah melanda masyarakat. Modernitas disamping mendatangkan kemakmuran material bagi sebagian masyarakat, ternyata juga mengandung berbagai macam paradoks, dehumanisasi dan alienasi.Munculnya berbagai macam penyakit kemanusian ini tidak bisa dilepaskan dari hilangnya ruang spiritual dari kehidupan manusia modern. Akibatnya, modernitas yang selama in diagung-agungkan, telah menyebabkan manusia menjadi kerdil kering dan hampa karena kehilangan makna dan tujuan hidup yang hakiki, yang berada pada ranah paling dalam pada diri manusia,yaitu spiritualitas. Untuk itulah agama kembali dilirik sebagai terapi krisis kemanusiaan.Namun demikian, tidak sedikit orang yang meragukan fungsi positif agama bahwa sebagian dari tindakan kekerasan, eksklusivisme dan berbagai pelanggaran nilai-nilai universal kemanusiaan dilakukan atas nama agama. Jadi bagaimana mungkin agama dapat berperan menjadi solusi krisis ?.Bagi sebagian cendekiawan dan agamawan, tindakan yang melanggar nilai-nilai kemanusiaan yang diatasnamakan agama tersebut disebabkan oleh sesuatu yang kompleks. Salah satunya adalah ketidakmampuan sebagian pemeluk agama dalam memahamii nilai-nilai universal agamanya. Substansi agama telah direduksi oleh pemahaman yang sempit dan kepentingan sesaat.Untuk itulah, saat ini, diperlukan adanya rekonstruksi teologis pada setiap agama agar mampu menghadapi tantangan kemanusiaan kontemporer. Dengan demikian, agama dapat memberikan arah, makna dan tujuan hidup pada manusia, serta tampil secara lebih ramah, sejuk, terbuka dan humanis.Kata-kata Kunci: Krisis Modernitas, Agama Formal, Teologi Universal, Spiritual.
EVALUASI BELAJAR PENDIDIKAN DASAR 9 TAHUN MELALUI MADRASAH DI KABUPATEN PANDEGLANG SUKARDJI, K.
ALQALAM Vol 18 No 90-91 (2001): July - December 2001
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1814.622 KB) | DOI: 10.32678/alqalam.v18i90-91.1462

Abstract

In the Framework to raise the progress of the nation life entirely, the goverment has carried out the nine years - Basic Education Compulsory Programme (Wajar Dikdas) through general school and Islamic school In this programme through the Islamic school among others have been done in model school of Islamic elementery school (MIN) in village of part, Mandalawangi, Pandeglang and the Islamic secondary private scool "Cidangiang" Kota Pandeglang., Pandeglang.The Nine Years - Basic Education Compulsory Programme through Islamic School has been applied on the Islamic School (MI and MTs) by providing service of education to all basic education school age from any economic sosial backgrounds, both living in the countryside and the town around the two schools evironments. Both children coming from the poor and the rich family Have equal chance to obtain service of education from two schools.To support the operational of programme among parents, school and group of society/foster parents (GNOTA) and government have colleted fund to run the education at the school, including the school payment for students by the cooperation in colleting the fund wich have been done by many parts for costing the programme so that in can run smoothly and succesfully.Key words: Evaluation, Compulsory Education, Madrasah, Pandeglang.
HAK ASASI MANUSIA DALAM PEMBANGUNAN EKONOMI FAUZIAH, FARIDATUL
ALQALAM Vol 18 No 90-91 (2001): July - December 2001
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1732.484 KB) | DOI: 10.32678/alqalam.v18i90-91.1467

Abstract

Dampak Era globalisasi terhadap negara berkembang, akan berpengamh pada pembahan struktur masyarakat Indonesia dari masyarakat agraris menuju ke struktur Industrialis. Dampak yang akan ditimbulkan kemudian adalah munculnya kesenjangan domestik serta tidak meratanya hasil pembangunan ekonomi yang dapat mengarah pada terjadinya kerusuhan sosial dan unjuk rasa di mana-mana.Banyak orang yang merasa tidak terlindungi atas hak yang dimiliki,yang semestinya dapat memberikan suatu kebebasan terhadap pelaku ekonomi. Peran pemerintah dalam masalah ini sebenarnya hanya sebagai pemberi fasilitas untuk menjaga apabila ekonomi ingin diberdayakan dan berkembang, maka ia harus mengupayakan adanya suatu kompetisi yang bebas, dimana pemerintah harus memberanikan diri untuk bertindak apabila tata ekonomi mengalami gangguan dari pelaku-pelaku ekonomi.Hak asasi manusia sekarang ini menunjukan adanya suatu perluasan karena di dukung dengan adanya konsep perkembangan suatu ekonomi dan teori hak asasi manusia yang didukung oleh konsep Barat, yang menyatakan bahwa otonomi merupakan suatu kebebasan individu dalam mengahadapi kekuasaan pemerintah dan politik. Dalam hal ini bahwa konsep hak asasi manusia dapat mempengaruhi sikap dan kenyataan luas untuk memiliki akibat yang nyata dan positif dalam program proyek pembangunan di dunia berkembang.Pada akhirnya pembangunan di dunia berkembang yang berorientasi kepada pasar bebas dalam menghadapi era globalisasi menuntut adanya suatu kebijakan untuk terpeliharanya stabilitas yang mendorong pertumbuhan ekonomi dalam waktu yang bersamaan dan dapat melindungi pihak yang lemah dari sisi negatif industrialis melalui pembaharuan hukum.Kata Kunci: HAM, Ekonomi, Globalisasi, Pasar Bebas, Dunia Berkembang.
GENDER DALAM PERSPEKTIF SDM Hudori, M.
ALQALAM Vol 18 No 90-91 (2001): July - December 2001
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2054.366 KB) | DOI: 10.32678/alqalam.v18i90-91.1466

Abstract

Sebagai bagian dari komunitas masyarakatnya, kaum perempuan masih mengalami perlakuan yang kurang adil lni diakibatkan oleh ketimpangan­ketimpangan persepsi yang selama ini berkembang dan tidak memihak kepada kaum perempuan.Ketimpangan persepsi yang berlangsung sejak dahulu tersebut berpengaruh kepada generasi berikutnya sehingga secara kuat tertanam anggapan bahwa perempuan memang tidak memiliki potensi yang layak untuk dikembangkan. Sedikit sekali kesempatan yang diberikan kepada kelompok ini untuk berperan secara luas. Kalaupun mereka diberikan peran tertentu, peran tersebut tidak lebih pada sebatas peran pelengkap dan dominasi peran kaum lelaki.Padahal, secara tegas Islam menyatakan bahwa seorang muslim laki-laki dan seorang muslim perempuan memiliki kedudukan yang sama dihadapan Allah kecuali takwanya. Dalam hal keterlibatan sosial kaum perempuan juga mempunyai peluang yang sama dan tidak ada syart yang menghambat kecuali hal-hal yang sifatnya untuk menjaga kemuliaan mereka sendiri seperti cara berpakaian dan etika bergaul yang harus tetap sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam.Kajian ini dimaksudkan untuk menggali pendapat para ahli tentang perempuan sebagai sumber daya manusia serta upaya pengembangan potensi yang dimilikinya.Kata Kunci: Kesetaraan Gender, SDM, Potensi, Produktifitas.
A BRIEF LOOK INTO ORIENTALISTS’ VIEW ON ISLAM AND THE MUSLIM Ibrohim, Busthomi
ALQALAM Vol 18 No 90-91 (2001): July - December 2001
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1761.797 KB) | DOI: 10.32678/alqalam.v18i90-91.1465

Abstract

Most orientalists are not only convinced that a thorough going adoption of western culture by the Muslim world is inevitable, but many of them are actively participating in the process of westernization to hasten its completion as a speedily as possible.|Paradoxically it seems to some of them, that the more they study Islam, the more fervently the felt compelled to prove that is was malicius and distorted.Based on the statements made by orientalists about Islamic teaching it is clear that they can not refute of Islam. The favourable theme of all their writing is that Islam must be abandoned on the premise that anything, revealed fourteen centuries ago is necessarily irrelevant for the technological civilization of today.Therefore they conclude, that if the Qur’an and Sunnah and the sacred Syariah that derives from these sources can not the be reconciled with the current fashionable philiosophies, then Islam must be false.Key word: Orientalist, Islam, Religion, Civilization.
FAZLUR RAHMAN ACIKGENC, ALPARSLAN
ALQALAM Vol 18 No 90-91 (2001): July - December 2001
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2071.635 KB) | DOI: 10.32678/alqalam.v18i90-91.1470

Abstract

Fazlur Rahman yang telah mengenyam pendidikan tradisional di Asia Selatan dan sekaligus modern di Eropa, pernah mengalami pertentangan yang hebat di dalam dirinya antara prisip dan nilai sistem pendidikan yang pertama dan yang belakangan. Namun pertentangan tersebut pada akhirnya justru melahirkan kekuatan tersendiri dalam diri Rahman. Suatu kekuatan untuk membangun metodologinya yang khas untuk memahami Islam, baca al-Qur'an. Baginya, al-Qur'an adalah 'gudang yang unik bagi jawaban­jawaban terhadap semua jenis persoalan' yang dihadapi Umat Islam. Ia bahkan percaya bahwa semua tradisi memerlukan revitalisasi dan pembahanaan yang konstan. Dalam upaya revitalisasi, reformasi dan revitalisasi tersebut, ia mengingatkan bahwa suatu teori atau doktrin biasa dikatakan Islam sejauh ia mengalir dari ajaran total al-Qur’an dan Sunnah. Gagasan-gagasan mengenai ini semua bias ditangkap dengan jelas dalam karya-karya utamanya seperti Major Themes of the Qur 'an, Islam, Islamic Methodology in History, dan Islam and Modernity: Transformation of Intelektual Tradition. Sedangkan karya Rahman yang lain secara lengkap bisa dilihat pada bagian akhir tulisan ini.Tulisan ini mencoba mengeksplorasi gagasan Rahman, sebagai seorang neo-modemis, yang berkaitan tidak saja sejarah perkembangan dan pembentukan pemikirannya, tetapi juga metodologi yang dibangunnya untuk memahami Islam dan persoalan yang dihadapi umatnya pada masa sekarang ini secara benar dan utuh. Oleh karenanya persoalan teologis yang menjadi minat utamanya adalah persoalan yang mempunyai relevansi kekinian. Menurutnya studi tentang kebangkitan dan pembaharuan dalam Islam menunjukkan bahwa faktor moral bukannya faktor teologis yang menjadi latar depan.Key words: Kebangkitan, Intelektualisme, Aktivisme, Metodologi, dan Sunnah.

Page 1 of 1 | Total Record : 9


Filter by Year

2001 2001


Filter By Issues
All Issue Vol 35 No 2 (2018): July - December 2018 Vol 35 No 1 (2018): January - June 2018 Vol 34 No 2 (2017): July - December 2017 Vol 34 No 1 (2017): January - June 2017 Vol 33 No 2 (2016): July - December 2016 Vol 33 No 1 (2016): January - June 2016 Vol 32 No 2 (2015): July - December 2015 Vol 32 No 1 (2015): January - June 2015 Vol 31 No 2 (2014): July - December 2014 Vol 31 No 1 (2014): January - June 2014 Vol 30 No 3 (2013): September - December 2013 Vol 30 No 2 (2013): May - August 2013 Vol 30 No 1 (2013): January - April 2013 Vol 29 No 3 (2012): September - December 2012 Vol 29 No 2 (2012): May - August 2012 Vol 29 No 1 (2012): January - April 2012 Vol 28 No 3 (2011): September-December 2011 Vol 28 No 2 (2011): May - August 2011 Vol 28 No 1 (2011): January - April 2011 Vol 27 No 3 (2010): September - December 2010 Vol 27 No 2 (2010): May - August 2010 Vol 27 No 1 (2010): January - April 2010 Vol 26 No 3 (2009): September - December 2009 Vol 26 No 2 (2009): May - August 2009 Vol 26 No 1 (2009): January - April 2009 Vol 25 No 3 (2008): September - December 2008 Vol 25 No 2 (2008): May - August 2008 Vol 25 No 1 (2008): January - April 2008 Vol 24 No 3 (2007): September - December 2007 Vol 24 No 2 (2007): May - August 2007 Vol 24 No 1 (2007): January - April 2007 Vol 23 No 3 (2006): September - Desember 2006 Vol 23 No 2 (2006): May - August 2006 Vol 23 No 1 (2006): January - April 2006 Vol 22 No 3 (2005): September - December 2005 Vol 22 No 2 (2005): May - August 2005 Vol 22 No 1 (2005): January - April 2005 Vol 21 No 102 (2004): September - December 2004 Vol 21 No 101 (2004): May - August 2004 Vol 21 No 100 (2004): January - April 2004 Vol 20 No 98-99 (2003): July - December 2003 Vol 20 No 97 (2003): April - June 2003 Vol 20 No 96 (2003): January - March 2003 Vol 19 No 95 (2002): October - December 2002 Vol 19 No 94 (2002): July - September 2002 Vol 19 No 93 (2002): April - June 2002 Vol 19 No 92 (2002): January - March 2002 Vol 18 No 90-91 (2001): July - December 2001 Vol 18 No 88-89 (2001): January - June 2001 Vol 17 No 87 (2000): Oktober - December 2000 Vol 17 No 86 (2000): July - September 2000 Vol 17 No 85 (2000): April - June 2000 Vol 14 No 74 (1998): September - October 1998 Vol 13 No 72 (1998): May - June 1998 Vol 13 No 68 (1997): November - Desember 1997 Vol 13 No 67 (1997): September - Oktober 1997 Vol 13 No 66 (1997): Juli - Agustus 1997 Vol 11 No 63 (1997): Maret - April 1997 Vol 11 No 62 (1996): September - Oktober 1996 Vol 11 No 59 (1996): Maret - April 1996 Vol 11 No 58 (1996): Januari - Februari 1996 Vol 10 No 56 (1995): September - October 1995 Vol 10 No 55 (1995): July - August 1995 Vol 10 No 54 (1995): May - June 1995 Vol 10 No 53 (1995): March - April 1995 Vol 10 No 52 (1995): January - February 1995 Vol 10 No 51 (1994): November - Desember 1994 Vol 10 No 51 (1994): November - December 1994 Vol 10 No 50 (1994): September - October 1994 Vol 4 No 15 (1988): September - October 1988 More Issue