Dialektika Masyarakat: Jurnal Sosiologi
Dialektika Masyarakat : Jurnal Sosiologiadalah peer-review jurnal yang diterbitkan secara periodik (Mei dan November) secara cetak dan online oleh Laboratorium Sosiologi Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Sebelas Maret (UNS). Jurnal ini lahir berdasarkan surat keputusan Kepala Program Studi Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Sebelas Maret Surakarta Nomor: 209/UN27.05.6.3/PB/2017 tertanggal 21 April 2017.
Articles
13
Articles
ORKHESTRA JALANAN DI KOTA TENTANG MENJADI PENGAMEN, ORGANISASI SOSIAL DAN EKSISTENSI DALAM KEHIDUPAN KOTA

Kartono, Drajat Tri

Dialektika Masyarakat: Jurnal Sosiologi Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Penelitian ini mengkaji tentang fenomena kehidupan pengamen jalanan di Surakarta. Melalui pendekatan Sosiologi Musik, Fenomena ini dilihat bukan sebagai kegiatan pekerja musik individual namun lebih dilihat sebagai kolektivitas. Orchestra jalanan kegiatan bekerja dan melakukan ekspresi musik secara kolektif dalam pertunjukkan orchestra. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui alasan sesorang mengambil peran dan identitas sebagai pengamen, upaya pengamen mengorganisir diri dan manfaat dari organisasinya serta, hubungan pengamen dengan pemerintah kota dalam mempertahanakan eksistensinya di kota. Metode penelitian ini adalah kualitatif dengan strategi pendekatan fenomenologi. Teknik penetapan informan secara snowball, penelitian telah mewawancari pengamen, pengelola organisasi pengamen, lembaga swadaya masyarakat yang mendampingi pengamen dan juga aparatur pemerintah. Studi ini bersifat eksploratif yang berusaha melakukan diskripsi terhadap kehidupan pengamen di perkotaan secara keseluruhan dari keberadaannya secara individu, kelompok dan anggota masyarakat kota. Hasil penelitian ini menunjukan representasi pengamen di Surakarta merupakan rangkaian panjang dari perubahan struktur perekonomian: keterbatasan serapan dunia kerja, sempitnya lapangan kerja juga kebijkanan Pemutusan Hubungan Kerja. Pengamen memaknai diri mereka sebagai sebuah konsekuensi keterbatasan dunia kerja. Organisasi pengamen memainkan peran penting dalam perlindungan pengamen di Surakarta. Daya tahan (eksistensi) pengamen untuk tetap tampil dijalanan sebagian besar tidak ditentukan oleh selera masyarakat namun karena keberanian pengamen untuk terus mengamen ditengah suasana kota yang tidak mendukung.

TINJAUAN TEORITIS TENTANG IMPLEMENTASI TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN

Sudarsana, Sudarsana

Dialektika Masyarakat: Jurnal Sosiologi Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Kegiatan bisnis perusahaan secara langsung maupun tidak langsung akan berdampak bagi lingkungan dan masyarakat sekitar. Untuk mengoptimalkan dampak positif serta meminimalkan dampak negatif maka perusahaan berkomitmen untuk mengembangkan etika dan praktik bisnis yang berkelanjutan guna meningkatkan kualitas ekonomi, sosial dan lingkungan melalui kegiatan Tanggung jawab Sosial Perusahaan/TSP (Corporate Social Responsibility/CSR). Artikel ini memaparkan perkembangan pola kontribusi perusahaan dalam masyarakat yang bersifat tradisional hingga lahirnya konsep TSP yang dianggap paling bermanfaat bagi masyarakat. Peneliti sebelumnya memaparkan beberapa kategori pelaksanaan TSP dilihat dari motivasinya seperti: Hu, dkk (2013) membaginya dalam tiga kategori yaitu altruism, strategic choice, dan greenwashing dan Zaim, dkk (2004) dalam tiga kategori yaitu karikatif, filantropis, dan kewargaan. Pelaksanaan TSP di Indonesia berpijak pada beberapa peraturan perundang-undangan seperti Undang-undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas mewajibkan pelaksanaan kegiatan TSP hanya bagi perusahaan yang menjalankan usahanya yang berkaitan dengan sumberdaya alam. Meski begitu, Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal dan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup secara implisit mewajibkan perusahaan yang bergerak dibidang lain untuk tetap menciptakan hubungan yang serasi, seimbang, dan sesuai dengan lingkungan, nilai, norma, dan budaya masyarakat setempat. Kreitner (2009) membagi strategi pelaksanaan TSP menjadi empat, yaitu: Strategi Reaktif, Strategi Defensif, Strategi Akomodatif, Strategi Proaktif. Pemilihan strategi ini secara tidak langsung mencerminkan komitmen perusahaan dalam menyelenggarakan TSP sehingga pihak-pihak terkait seperti masyarakat dan pemerintah dapat memberikan reward and punishment

TINDAKAN SOSIAL PENGUSAHA KERAJINAN LOGAM DALAM MEMPERTAHANKAN KEBERLANGSUNGAN USAHA (Studi Kasus di Sentra Industri Kerajinan Logam Desa Tumang)

Ghufronudin, Ghufronudin

Dialektika Masyarakat: Jurnal Sosiologi Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Perdagangan bebas yang memungkinkan adanya persaingan industri dagang yang berat bisa mengancam keberlangsungan industri kerajinan logam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui permasalahan internal dan eksternal yang dihadapi pengusaha dalam menjaga kelangsungan usaha serta strategi yang dilakukan pengusaha dalam menjaga kelangsungan usaha. Penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus ini dilaksanakan di Sentra Industri Kerajinan Logam Desa Tumang dengan informan yang dipilih dengan purposive sampling. Teknik pengumpulan data dengan observasi, wawancara mendalam dan dokumentasi. Validitas data dengan triangulasi sumber, kemudian dianalisis dengan model interaktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persoalan internal yang dihadapi pengusaha kerajinan logam dalam menjaga kelangsungan usaha meliputi persoalan manajemen sumber daya manusia, jaringan usaha dan persoalan iklim persaingan usaha di antara pengusaha kerajinan logam. Persoalan eksternal meliputi persoalan memperoleh peluang dan memperbesar pangsa pasar, mengakses sumber permodalan serta kurang terpadunya pembinaan pemerintah. Tindakan sosial yang dilakukan pengusaha dalam mempertahankan keberlangsungan usaha meliputi tindakan rasioanal instrumental, tindakan rasional berorientasi nilai, tindakan tradisional dan tindakan afektif.

ANALISIS PENGARUH KREDIT USAHA RAKYAT TERHADAP SUSTAINABILITY PROFIT DENGAN LOKASI USAHA SEBAGAI VARIABEL MODERATING PADA UMKM DI KABUPATEN NGAWI

Sudrajat, Muhamad Agus, Sulistiyowati, Liliek Nur

Dialektika Masyarakat: Jurnal Sosiologi Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk membuktikan secara empiris bahwa Kredit Usaha Rakyat (KUR) berpengaruh terhadap sustainability profit dan untuk membuktikan secara empiris lokasi usaha dalam memoderasi antara kredit usaha rakyat terhadap sustainability profit pada UMKM di Kabupaten Ngawi. KUR merupakan kredit atau pembiayaan kepada UMKM dalam bentuk pemberian modal kerja dan investasi yang didukung fasilitas penjaminan untuk usaha produktif. Diharapkan dengan pemberian KUR dari PT.Bank Rakyat Indonesia, Tbk Cabang Ngawi, UMKM dapat mempersiapkan diri agar mampu bersaing baik secara keunggulan komparatif maupun keunggulan kompetitif untuk bersaing dalam perdagangan bebas dengan melakukan proses produksi dengan produktif dan efisien, menghasilkan produk yang sesuai dengan frekuensi pasar global dengan standar kualitas. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh UMKM yang terdaftar di Dinas Koperasi, UMKM dan Perindustrian Kabupaten Ngawi. Sampel dipilih sebanyak 53 responden dengan menggunakan metode purposive random sampling pada Industri Unggulan Tempe dan Keripik Tempe di Desa Karang Tengah Prandon (Dusun Cabean, Dusun Prandon dan Dusun Sadang) Kabupaten Ngawi. Model yang dikembangkan dalam penelitian ini adalah field research. Metode analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif, uji asumsi klasik (uji normalitas, uji multikolonieritas, uji heteroskedastisitas dan uji autokorelasi). Sedangkan untuk pengujian hipotesis menggunakan uji t dan koefisien determinasi (R²) dengan perhitungan statistik regresi linier berganda.yaitu: SP = α + β1 KUR + β2 LU + β3 KUR*LU+ e. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, KUR berpengaruh signifikan terhadap sustainability profit, sedangkan lokasi usaha tidak dapat memoderasi hubungan antara KUR terhadap sustainability profit pada UMKM Industri Unggulan yang ada di Kabupaten Ngawi.

UPAYA MEMBANGUN KEMITRAAN DALAM PENGELOLAAN SUNGAI YANG BERWAWASAN LINGKUNGAN

Zunariyah, Siti

Dialektika Masyarakat: Jurnal Sosiologi Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Pengelolaan sungai yang terdiri atas konservasi sungai, pengembangan sungai dan pengendalian daya rusak sungai dilakukan dengan melibatkan instansi teknis, swasta maupun masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan sungai. Salah satu pendekatan yang dapat ditempuh adalah dengan menjalin kemitraan diantara pihak yang berkepentingan dan memastikan pengelolaan sungai yang berwawasan lingkungan. Penelitian ini menggunakan studi eksplorasi pada tahun pertama. Teknik observasi, wawancara mendalam (indepth interview) dan Focus Group Discussion (FGD) dikembangkan dengan mengeksplorasi strategi pengelolaan sungai yang berbasis kemitraan dan berwawasan lingkungan. Adapun untuk kebutuhan penelitian ini maka akan dipilih Kota Surakarta sebagai sebagai lokasi studi dengan pertimbangan bahwa kota ini memiliki 4 sungai utama dan melintasi  43 kelurahan dari 55 kelurahan yang ada. Kondisi sungai di Kota Surakarta terus mengalami degradasi yang disebabkan oleh cara pandang masyarakat yang menempatkan sungai sebagai halaman belakang sekaligus tempat untuk membuang sampah maupun limbah rumah tangga maupun industri. Oleh karena itu berbagai upaya dilakukan melalui serangkaian kebijakan dan program pemerintah untuk mengurangi persoalan terkait dengan sungai. Peran serta masyarakat juga dilakukan dengan berbagai inisiatif maupun program yang dibentuk oleh pemerintah yang berasal dari beberapa kementrian atau Dinas. Kemitraan yang terbangun terlihat antara Dinas dengan komunitas peduli sungai yang menjadi bentukannya. Inisiatif dan gagasan program masih bersumber dari pemerintah, sementara komunitas atau warga berfungsi sebagai pelaksana program. Upaya mendorong kemitraan dalam pengelolaan sungai perlu terus dilakukan dan dikawal agar kepentingan masing-masing pihak baik pemerintah atau masyarakat dapat terkoordinasi dan terkoneksi dengan baik.

MENGHIDUPI TOLERANSI, MEMBANGUN KEBERSAMAAN

Soemanto, RB.

Dialektika Masyarakat: Jurnal Sosiologi Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Toleransi bagian etika sosial yang melandasi sikap dan perbuatan yang tenang di atas   kebaikan dan kebenaran dalam interaksi sosial bersama. Etika sosial menghidupkan sikap dan perilaku toleran, menghidupi   serta mengagungkan kebaikan dan kebenaran di   masyarakat. Pengendalian sebagai pemikiran dan tindakan yang dilandasi nilai etika menurut norma/kaidah sosial dan hukum yang berlaku, sehingga memanifestasikan pencapaian kepentingan bersama. Penelitian kualitatif ini menggunakan metode studi pustaka pada literatur buku, jurnal dan data pendukung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tindakan individu di masyarakat seperti memilih jenis pendidikan dan   pekerjaan, mengerjakan sesuatu, bekerjasama, bergotong royong, hidup berkeluarga, juga tindakan memilih dan pemberian dukungan dalam Pemilihan Umum (Pemilu) atau ‘Pesta demokrasi’ adalah keputusan seseorang dan sekelompok orang sesuai dengan keinginannya yang dilakukan secara etis dan moral serta keyakinan baik dan benar;   dengan mempertimbangkan   kepentingan individu maupun bersama. Perbedaan pilihan adalah harga dari kebaikan dan kebenaran relatif yang dikeyakini. Pilihan sebagai   hak dan kewajiban sosial dan hukum seseorang yang dihormati dan diakui.   Pemilihan umum   di Indonesia terindikasi fenomena perebutan kekuasaan melalui partai politik yang sarat dengan praktik ‘money politic’ atau politik uang; proses jual-beli suara pemilih. Para pembeli suara melakukannya untuk pemenangan kontestasi politik itu. Transaksi pilihan seperti itu merendahkan hak orang, rakyat dan martabat kedaulatan rakyat. Pembeli suara menyadari “money politic” untuk memenangkan   perebutan kekuasaan. Mereka   bagian dari unsur anggota, kader dan pengurus partai politik yang sesungguhnya sebagai pelaku pendidikan politik rakyat (warga negara), namun tindakan itu   mencederai nilai dan proses demokratisasi. Kontradiksi status dan peranan dari para stakeholder demokratisasi menunjukkan perilaku politik menyimpang terhadap   pembangunan demokrasi dan kehidupan berbangsa.

MENJADI MISIONARIS: SOSIALISASI-KOMITMEN AGAMA ELDER DAN SISTER MORMON-GEREJA YESUS KRISTUS

Bawono, Harry, Wilujeng, Panggio Restu, Ikramatoun, Siti

Dialektika Masyarakat: Jurnal Sosiologi Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Penelitian ini menggunakan sudut pandang Sosiologi agama untuk melihat sosialisasi agama membentuk komitmen religius pada anggota Gereja Yesus Kristus dari Orang-orang Suci Zaman Akhir (OSZA) sehingga memilih dan bertahan menjadi misionaris penuh waktu. Misionaris di gereja ini diplih karena mengalami peningkatan jumlah misionaris yang begitu besar selama dua tahun terakhir. Penelitian dilakukan di Gereja Yesus Kristus OSZA, Tebet, Jakarta Selatan pada bulan Nopember-Desember 2013. Penelitian kualitatif ini menggunakan paradigma sosiologi interpretif dengan teknik pengumpulan data memalui depth interview dan jenis penelitian studi kasus. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah beberapa teori Sosiologi agama yaitu Doxa (Pierre Bordieu), Sosialisasi agama dan  Komitmen agama (Darren E.Sherkat). Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa prinsip dasar dari kegiatan misionari dalam Gereja Yesus Kristus OSZA adalah setiap anggota memiliki tanggungjawab untuk menyebarkan Injil. Walaupun menjadi misionari harus meninggalkan kesenangan duniawi namun dorongan oleh orang tua dan patrner sesama misi selalu menguatkan sehingga membuat para misionaris tetap bertahan dan terus melakukan sosialisasi agama. Sosialisasi agama, melalui saluran-saluran yang diinstitusionalkan bagian dari kerangka pengajaran Gereja, menjadi instrumen untuk mentransfer nilai-nilai “menjadi misionaris”, sehingga membentuk komitmen “menjadi misionaris” kepada para anggota yang dirasa sudah memenuhi syarat sebagai misionaris penuh waktu. Sosialisasi yang dilakukan oleh misionari ini berupa penyebaran kabar baik supaya pihak lain mengenal Injil dan memberikan pengetahuan kepada para anggota tentang pekerjaan misi yang sangat terhormat.Kata Kunci: Misionaris, Sosialisasi, Komitmen

STRATEGI KELANGSUNGAN USAHA TANI PADI ORGANIK DI DUSUN JEGLONGAN, KECAMATAN SAYEGAN, KABUPATEN SLEMAN

Humsona, Rahesli, Yuliani, Sri, Zunariyah, Siti

Dialektika Masyarakat: Jurnal Sosiologi Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Problem pangan baik yang menyangkut produksi atau ketersediaan maupun akses terhadap pangan hingga saat ini belum teratasi. Permasalahan utama dalam mewujudkan ketahanan pangan di Indonesia terkait dengan fakta pertumbuhan permintaan pangan yang lebih cepat dari pertumbuhan penyediaannya. Meningkatnya permintaan pangan merupakan resultante dari peningkatan jumlah penduduk, pertumbuhan ekonomi, peningkatan daya beli masyarakat dan perubahan selera. Upaya yang dilakukan untuk mewujudkan ketahanan pangan menjadi pekerjaan yang tidaklah mudah dan menjadi PR Pemerintah Indonesia. Di dalam banyak penelitian, persoalan produksi pangan terkait dengan menyempitnya lahan pertanian, mahalnya proses produksi, dan panjangnya jalur distribusi. Salah satu strategi yang digunakan oleh para petani untuk mempertahankan usaha pertaniannya adalah dengan melakukan usaha tani padi organik yang diselenggarakan oleh petani yang terlibat dalam kelompok tani. Pertanian organik memerlukan bibit yang khusus, lokal dan bukan hasil rekayasa genetik yang tidak selalu tersedia. Di samping itu ada problem lain dalam proses produksi dan pertanian yang dihadapi petani dengan sistem organik.  Pasca Orde Baru, gerakan pertanian organik tumbuh dan berkembang pesat. Banyak faktor yang berkontribusi terhadap perkembangan ini, di samping soal kesadaran akan bahaya pertanian kimia bagi keberlanjutan kehidupan. Penelitian ini mengkaji faktor-faktor penghambat produksi, faktor-faktor penghambat pemasaran, strategi kelangsungan usaha tani padi organik menggunakan pendekatan fenomenologis yang berusaha memahami arti peristiwa dan kaitan-kaitannya terhadap orang-orang dalam situasi tertentu.

GIRLS PUNK : GERAKAN PERLAWANAN SUBKULTUR DI BAWAH DOMINASI MASKULINITAS PUNK

Wilujeng, Panggio Restu

Dialektika Masyarakat: Jurnal Sosiologi Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Saat ini, sudah banyak gerakan-gerakan Girls Punk dengan identitas perempuan yang pada awalnya berupaya mendobrak dominasi budaya “feminim”, bekembang menjadi gerakan yang juga memiliki pengaruh terhadap perkembangan Punk itu sendiri. Gerakan Punk perempuan ini berusaha melawan  norma budaya “feminim” perempuan yang dominan dengan jalan masuk ke kelompok Punk yang identik dengan laki-laki. Dalam beberapa kajian, pengikut Punk perempuan mengalami opresi dari dominasi Punk laki-laki yang kasar penuh dengan kekerasan, kontrol, dan dominasi (superordinat) sehingga Punk Girls dalam posisi sub ordinat. Bentuk perlawanan yang dilakukan oleh Girls Punk dengan menggunakan musik. Teori yang digunakan dalam studi ini adalah subculture.  Studi ini menggunakan Studi Pustaka dengan melakukan analisis konten. Dalam studi ini menghasilkan analisis kritis bahwa Subculture tidak selalu mengenai ideologi perlawanan, tetapi juga konstruksi dan kontestasi identitas yang muncul di tengah budaya dominan. Kemunculan Punk Perempuan membawa bentuk baru dalam subculture Punk tersebut.  Punk Girls menjadi bentuk subculture yang berada di dalam Subculture Boys Punk yang lebih dominan. Kendati demikian, ideologi utama yang dibawa oleh Punk Girls berbeda dengan ideologi Boys Punk. Jika Boys Punk cenderung  meletakkan ideologi mereka pada anti kapitalisme, Punk Girls justru memiliki ideologi counter culture terhadap norma dan budaya feminitas baik gerakan Punk Girls yang ada di Barat maupun Punk Girls di Indonesia.Kata Kunci : Subculture, Girls Punk, dominasi budaya, musik

REVITALISASI GOTONG ROYONG: PENGUAT PERSAUDARAAN MASYARAKAT MUSLIM DI PEDESAAN

., Muryanti

Dialektika Masyarakat: Jurnal Sosiologi Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Gotong royong merupakan salah satu akar peradaban yang dimiliki oleh bangsa Indonesia dan menjadi landasan kehidupan berbangsa dan bernegara. Keragaman yang dimiliki oleh bangsa Indonesia melahirkan budaya majemuk yang memiliki nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, maka diperlukan adanya ikatan yang kuat agar bangsa Indonesia tetap menjadikan budaya leluhur sebagai pedoman yang dilestarikan bukan hanya dalam waktu yang temporer meskipun dengan segala bentuk ancaman yang sedang atau akan datang baik dari faktor internal maupun eksternal. Nilai tersebut sudah selayaknya tetap menjadi pondasi kehidupan dalam hidup bermasyarakat dan bernegara. Walaupun harus kita akui, bahwa kondisi sosial, ekonomi dan politik masyarakat Indonesia saat ini, sangat rentan untuk melunturkan nilai-nilai tersebut. Globalisasi, kemiskinan dan situasi politik yang tidak menentu disebut-sebut sebagai faktor utama yang menyebabkannya. Sehingga perlu melihat lebih dalam pentingnya nilai-nilai yang telah dibangun sejak lama agar dengan tidak mudah hilang begitu saja seiring perkembangan jaman. Hal lain yang masih menjadi persoalan saat ini adalah keharusan nilai-nilai luhur yang sudah ada perlu untuk menyesuaikan dengan segala kondisi bangsa saat ini atau sebaliknya. Tulisan ini hendak mengkaji pentingnya nilai kebersamaan dalam masyarakat yang menjelma menjadi gotong royong ini melandasi kehidupan bangsa Indonesia, sudah seharusnya revitalisasi gotong royong ini harus kita upayakan secara terus menerus dalam konteks kekinian. Kata Kunci: gotong royong, persaudaraan, pondasi dan revitalisasi