cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Nun : Jurnal Studi Alquran dan Tafsir di Nusantara
ISSN : 25023896     EISSN : 25812254     DOI : -
Core Subject : Social,
Arjuna Subject : -
Articles 45 Documents
Tafsir Alternatif Non- Homofobik AL-Razi Terhadap Ayat-Ayat ‘Terkait’ Sejarah Homoseksualitas Dalam Alquran Lutfillah, Muhammad Dluha
Nun : Jurnal Studi Alquran dan Tafsir di Nusantara Vol 2, No 2 (2016)
Publisher : Asosiasi Ilmu Alqur'an dan Tafsir se-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32495/nun.v2i2.61

Abstract

Artikel ini hanya ingin membawa satu dari dua tafsir al-Razi terhadap al-A’raf (7):80 dan al-‘Ankabut (29):28—dua ayat Alquran yang dipahami berbicara tentang homoseksualitas, ke permukaan dan mengelaborasi kekuatan argumennya dari sisi linguistik dan sastra. Tafsir ini kemudian saya sebut tafsiralternatif al-Razi terhadap isu tersebut. Tafsir ini memungkinkan adanya homoseksualitas di era-era sebelum masa hidup Nabi Luth. Dengan kata lain, tafsir ini tidak berusaha menolak (kemungkinan) homoseksualitas di masa awal sejarah, dan oleh karenanya, eksistensi historis homoseksualitas. Karakter tafsir semacam inilah yang membuat saya menyebutnya tafsir nonhomofobik terhadap ayat-ayat (yang dianggap berbicara tentang) sejarah homoseksualitas. Tujuan kedua artikel ini adalah menguji kekuatan argumen tafsir alternatif non-homofobik ini dari sisi linguistik dan sastra—yang terakhir ini terbatas pada aspek sastra kisah dalam Alquran, mengingat dua ayat tersebut adalah bagian dari kisah. Elaborasi ini memusatkan diri pada tiga kata yang sama-sama ada dalam dua ayat tersebut; sabaqa (mendahului),bi (dengan—makna asal), fahisyah (yang buruk). Dari sisi linguistik, penggunaan kata sabaqa yang menggunakan bi sebagai penghubungnya dengan objek berupa kata sifat jarang sekali (untuk tidak mengatakan tidak pernah) dilakukan oleh masyarakat pengguna Bahasa Arab. Oleh karena itu, pemaknaannya tidak bisa disamakan, atau dengan kata lain, harus ditakwilkan. Hasil takwilfrasa ini menyamakan makna bi (yang asalnya bermakna dengan)dengan fi (yang bermakna dalam)—penggunaan umum dalam masyarakat pengguna Bahasa Arab. Pemaknaan utuhnya tidak mengarah pada “mengawali” seperti umumnya makna sabaqa, tapi “melebihi”. Dari sisi sastra, Alquran kelihatan ingin seolaholah mencela homoseksualitas dengan memutus akar historisnya dengan sejarah manusia, mengatakannya tidak setua sejarah manusia. Karena hanya seolah-olah, Alquran tidak melakukanitu. Ia ingin mengatakan bahwa perilaku homoseksualitas yang dilakukan oleh kaum Nabi Luth sudah keterlaluan, dan oleh karenanya harus dihentikan. Konsekuensi logisnya, Alquran tidak mengatakan sebelum kaum Nabi Luth tidak ada homoseksualitas, dan oleh karenanya kemungkinan akan hal itu masih ada. Selain itu juga dimungkinkan ada perilaku homoseksualitas yang tidak keterlaluan, dan karenanya tidak dilarang (untuk tidak langsung mengatakan diperbolehkan).
TULANG SULBI DALAM TINJAUAN TAFSIR DAN OSTEOLOGI Dewi, Nirwana; Nur, Afrizal
Nun : Jurnal Studi Alquran dan Tafsir di Nusantara Vol 4, No 2 (2018)
Publisher : Asosiasi Ilmu Alqur'an dan Tafsir se-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32495/nun.v4i2.68

Abstract

Tulang sulbi mempunyai keistimewaan dan keajaiban, yaitu tentang kebenaran tulang sulbi yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an (yakhruju min bain ash-Sulbi wa at-Tharā’ib), Al-Qur’an Surat. Ath-Thariq [86]:7, dan hadits Nabi Muhammad SAW 1400 tahun silam, serta penelitian yang telah dilakukan oleh para ilmuwan tentang fakta tulang sulbi tersebut. Dilihat dari sisi anatomi tubuh manusia, ash-Shulbi wa at-Tarā’ib (tulang punggung dan tulang dada) ini mencakup tulang belakang yang terdiri dari 7 tulang belakang leher, 12 tulang dada, 5 tulang lumbar, 5 tulang ekor, dan 5 tulang pinggul. As-Solb (tulang sulbi) dimulai dari pundak.Tulang sulbi adalah: tulang belakang dada + tulang lumbar + pangkal punggung, setara: 12+5+5= 22 tulang belakang. Adapun at-Tarā’ib bukan merupakan tulang rusuk dada sebagaimana diketahui pada umumnya, melainkan pengkhususan, 4 tulang rusuk dari bagian kanan dada, 4 tulang rusuk dari bagian kiri dada yang mengikuti tulang selangka ditempat pemakaian kalung. Kemudian yang paling menarik adalah, tulang sulbi mempunyai keistimewaan dan keajaiban, yaitu tentang kebenaran tulang sulbi yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an dan yang telah disabdakan Nabi Muhammad SAW di dalam hadits, serta penelitian-penelitian yang telah dilakukan oleh para ilmuwan tentang fakta tulang sulbi tersebut.
Indonesia Modern Sebagai Konteks Penafsiran: Telaah Metodologi Penafsiran Alquran Nurcholish Madjid (1939-2005) Tasrif, Muh
Nun : Jurnal Studi Alquran dan Tafsir di Nusantara Vol 2, No 2 (2016)
Publisher : Asosiasi Ilmu Alqur'an dan Tafsir se-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32495/nun.v2i2.60

Abstract

Nurcholish Madjid (1939—2005) merupakan seorang pemikir neo-modernis Muslim terkemuka dan berpengaruh di Indonesia. Dalam membangun pemikirannya, ia menekankan perlunya kembali kepada Alquran dan hadis sebagai metodologinya. Namun demikian, pemikirannya sering menimbulkan kontroversidi kalangan umat Islam Indonesia. Untuk itulah, pemikiran Nurcholish yang didasarkan kepada ayat-ayat Alquran —patut diduga—menyiratkan metodologi penafsiran yang berbeda dengan para pemikir lainnya. Dalam artikel ini, penulis berupaya merekonstruksi struktur metodologi penafsiran Alquran Nurcholish, posisinya dalam keilmuan tafsir, dan manfaatnya bagi pengembangan tafsir di Indonesia. Dalam kajian ini, penulis menemukan bahwa struktur bangun metodologi penafsiran Alquran Nurcholish bersifat eklektik: memanfaatkan pendekatan tekstual yang sudah mapan dalam metodologi penafsiran kaum  Sunni dan pendekatan kontekstual yang digagas oleh banyak pemikir pembaruan pada era modern.
STRUKTUR CINCIN DALAM AL-QUR’AN (Perspektif Orientalis - Nicolai Sinai) Tilawati, Anis
Nun : Jurnal Studi Alquran dan Tafsir di Nusantara Vol 4, No 2 (2018)
Publisher : Asosiasi Ilmu Alqur'an dan Tafsir se-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32495/nun.v4i2.67

Abstract

Sejak al-Qur’an diturunkan hingga dewasa ini, kajian tentang susunan bahasa al-Qur’an masih terus menjadi bahan diskusi yang menarik. Salah satu hasil diskusi tersebut adalah dari kalangan ilmuwan modern yang belakangan menemukan sebuah struktur al-Qur’an dengan sebutan ring structure. Struktur ini dipopulerkan oleh Raymond Farrin dan Michel Cuypers melalui karya mereka yang kemudian direview oleh seorang orientalis bernama Nicolai Sinai. Ring Structure atau struktur cincin di sini merupakan sebuah struktur al-Qur’an yang dibangun atas susunan koherensi ayat dan surah yang membentuk lingkaran dengan inti di tengahnya sebagaimana bentuk cincin. Sinai melakukan kritik atas teori struktur cincin al-Qur’an yang ditawarkan Farrin dan Cuypers melalui sebuah artikel review. Penulis dalam hal ini mencoba menganalisa pemikiran Sinai dalam kritiknya tersebut, dengan kata lain penulis menggunakan metode explanatory analysis dalam tulisan ini. Hasil temuannya adalah bahwa Nicolai Sinai menganggap struktur cincin al-Qur’an yang mereka tawarkan terlalu berlebihan karena ia menemukan beberapakali Cuypers ataupun Farrin kehilangan dalam analisanya. Tidak hanya sebatas mengkritik, tetapi kemudian Sinai menawarkan sebuah struktur al-Qur’an yang menurutnya lebih sesuai dibandingkan dengan ring structure. Sinai juga mencoba mengaplikasikan struktur al-Qur’an tersebut pada beberapa ayat dan surah dalam al-Qur’an, salah satunya pada surah An-Najm.
Tafsir Sosial Media di Indonesia Lukman, Fadhli
Nun : Jurnal Studi Alquran dan Tafsir di Nusantara Vol 2, No 2 (2016)
Publisher : Asosiasi Ilmu Alqur'an dan Tafsir se-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32495/nun.v2i2.59

Abstract

The history of contemporary exegesis sees the integration between the Quran and exegesis and social media. A statistic shows the low reading rates of Indonesians while the reading activity is dominated by social media. It leads to an assumption that the social media exegesis is the one people read nowadays. This paper takes this phenomena into account within two main concerns: (1) how is the different ways people use their social media account for the Quran related content, and (2) how is the notion of the social media exegesis as a contemporary exegesis? The article ends to the conclusion that there are at least three different shapes of the social media exegesis: textual, contextual, and tafsīr `ilmī. It marks the rise of semantic function of the Quran among the people and the shift of authority of exegesis. There are three causes for it: the platform of social media, the availability of the Quran translation, and the paradigm of al-rujū` ilā al-qur`ān wa al-sunnah.
Mitologi Naskh Intra Quranic (Studi Atas Q.S. Al-Baqarah Ayat 106 Aplikasi Teori Semiologi Roland Barthes) Iman, Fuji Nur
Nun : Jurnal Studi Alquran dan Tafsir di Nusantara Vol 4, No 2 (2018)
Publisher : Asosiasi Ilmu Alqur'an dan Tafsir se-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32495/nun.v4i2.66

Abstract

Tulisan ini mencoba mengurai polemik tentang naskh dalam Alquran atau naskh intra Quranic. Dengan mengikuti cara baca yang ditawarkan Roland Barthes yakni melalui pembacaan atas sistem linguistik dan mitologi dapat dikatakan bahwa pada tataran sistem linguistik penanda atas term naskh adalah pembatalan dengan menandai adanya mansukh dan menjadi tanda akan adanya sesuatu yang baru yang lebih baik. Sementara pada tataran sistem mitologi dengan tanda pada sistem linguistik sebabgai penanda menandai tidak adanya ayat yang bertentang antara satu dengan yang lain dalam Alquran. Dalam pada itu term naskh pada tataran sistem mitologi menjadi tanda bahwa Alquran adalah kitab shalih li kulli zaman wa makan. Adapun sebagai tipe wicaranya dengan meniscayakan bahwa terdapat relasi antara wahyu konteks sosio-historis masyarakat arab pada saat itu.
Studi Tafsir Nusantara: Kajian Kitab Tafsir AG. H. ABD. Muin Yusuf (Tafsere Akorang Ma’basa Ugi) (tpeeser akor mbs agui) Awwaliyah, Neny Muthi’atul; Hamid, Idham
Nun : Jurnal Studi Alquran dan Tafsir di Nusantara Vol 4, No 2 (2018)
Publisher : Asosiasi Ilmu Alqur'an dan Tafsir se-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32495/nun.v4i2.71

Abstract

Kitab tafsir (Tafsere Akorang Ma’basa Ugi) merupakan kitab tafsir generasi kedua yang sebelumnya telah dipelopori oleh AG. Daud Ismail dengan kitab tafsirnya al-Munir. Karya ini merupakan kitab tafsir edisi kedua yang mampu melengkapi 30 juz  dengan jumlah 11 jilid. Sedangkan bahasa yang digunakan ketika menafsirkan ayat al-Qur’an adalah huruf aksara Lontara’ Bugis yang merupakan bahasa Ibu dari suku Bugis-Makassar yang terdapat di wilayah Sulawesi Selatan. Umumnya metode yang digunakan dalam tafsir ini menggunakan metode tahlili. Kendati demikian, rasa ijmali juga menghiasi dalam sistematika pembahasan ayat. Pada awalnya, tafsir ini lahir dari proyek Muin Yusuf yang ketika itu menjabat sebagai ketua MUI Selawesi Selatan. Tafsir ini kemudian hadir di tengah-tengah masyarakat Bugis, sebagai alat komunikasi masyarakat awam sehingga mampu memahami kandungan al-Qur’an melalui penafsiran ayat al-Qur’an dengan aksara lontara Bugis sekaligus sebagai cerminan upaya vernakularisasi al-Qur’an dan bahasa Ibu.  
Hermeneutika Pesantren: Eksplorasi atas Pandangan Kyai Pesantren Terhadap Hermeneutika Sebagai Manhaj Tafsir Wahab, Abdul
Nun : Jurnal Studi Alquran dan Tafsir di Nusantara Vol 2, No 2 (2016)
Publisher : Asosiasi Ilmu Alqur'an dan Tafsir se-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32495/nun.v2i2.58

Abstract

Penelitian sederhana ini berawal dari fakta yang menyebutkan bahwa kajian tafsir–apalagi tafsir kontemporer—di dunia pesantren belum sedominan fiqh, tasawuf dan ilmu alat, maka penulis beranggapan bahwa minimnya karya atau penelitian yang berkonsentrasi pada kajian dan respon pesantren terhadap tafsir kontemporer berawal dari sikap spekulasi “kebanyakan orang” yang menganggap bahwa kebanyakan pesantren tidak mengkaji apalagi merespon pemikiran tafsir kontemporer, sehingga penelitian tentang tafsir kontemporer dilingkungan pesantren dinilai sebagai penelitian yang sia-sia. Akan tetapi tidak demikian bagi penulis, karena penulis menemukan tidak sedikit kyai, ustadz atau pimpinan pesantren yang secara intens dalam pengajian tafsir yang mereka lakukan selalu menyinggung dan merespon isu-isu kontemporer. Spekulasi tersebut berlanjut ketika kebanyakan kyai menolak hermeneutika sebagai manhaj tafsir, dibuktikan dengan penolakan para kyai terhadap hermeneutika sebagai salah satu metode istinbāṭ al-ḥukm dalam komisi bahtsul masa’il pada Muktamar NU XXXI di Boyolali, Solo. Akan tetapi dari penelitian ini, didapatkan data bahwa pesantren memiliki potensi yang luar biasa dalam pengembangan tafsir kontemporer termasuk kebijakan para kyainya dalam merespon hermeneutika sebagai manhaj tafsir. Pada intinya adalah kecerdasan dalam memilah, mana konsep hermeneutika yang dapat digunakan dalam penafsiran Alquran dan mana yang tidak dapat digunakan, sehingga persandingan hermeneutika dengan berbegai manhaj tafsir yang telah digagas oleh para ulama Alquran bahkan semakin memperkaya khazanah kajian Alquran di pesantren.
مصحف عبد الله بن مسعود دراسة حول حذف الفاتحة والمعوذتين والقراءات الشاذة المنسوبة لمصحف ابن مسعود Jalil, Abdul
Nun : Jurnal Studi Alquran dan Tafsir di Nusantara Vol 4, No 2 (2018)
Publisher : Asosiasi Ilmu Alqur'an dan Tafsir se-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32495/nun.v4i2.65

Abstract

يعتبر مصحف الصحابي عبد الله بن مسعود من أهم المصاحف القديمة التي ذكرتها المراجع الإسلامية، حيث يظهر وجود اختلافات متعددة بينه وبين المصاحف العثمانية، من أهمها اختلاف ترتيب السور وعدم وجود الفاتحة والمعوذتين، واختلاف في جملة من القراءات. اختلفت آراء العلماء حول هذه القضية، حتى إن  تيودور نولدكه شكك في أن ابن مسعود يعتبر بصحة تلك السور الثلاث الغير موجودة في مصحفه. يحاول هذا البحث باستخدام المنهج التحليلي-المقارن تحليل هذه الآراء حول قضية مصحف ابن مسعود، ويقسمها إلى: المثبتين ما نسب إلى ابن مسعود، والنافين لها، والمأولين. ويرجح البحث بأن ابن مسعود كان يرى بقرآنية السور الثلاث، الفاتحة والمعوذتين.  
KHUSYUK DALAM ALQURAN (KajianTemtatik) Sari, Lia Mega
Nun : Jurnal Studi Alquran dan Tafsir di Nusantara Vol 4, No 2 (2018)
Publisher : Asosiasi Ilmu Alqur'an dan Tafsir se-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32495/nun.v4i2.70

Abstract

Khusyuk merupakan hal dasar yang harus diterapkan dalam menjalankan berbagai hal,terutama dalam salat, begitu juga dalam berbaga iaktifitas sehari-hari. Melihat pentingnya pengetahuan tentang konsep khusyuk,maka tulisan ini akan membahas khusyuk dalam alquran dan para mufasir, serta berbagai cara untuk dapat mencapai kekhusyukan tersebut. Hasil dari pembahasan ini adalah bahwa kata khusyuk dalam Alquran ditemukan sebanyak 17 kali dalam bentuk kata yang berbeda-beda, mayoritas lafal khusyuk ditujukan kepada manusia namun ada juga sebagian ayat yang ditujukan kepada benda-benda yang lain seperti gunung dan bumi. Dari berbagai pengertian dari kata khusyuk secara global arti khusyukmerujuk kepada merendahkan diri,dalam artian bahwa khusyuk adalah merasa bahwa dirinya tunduk dan merendahkan diri ketika berada dihadapan Tuhannya.Khusyuk tempatnya di dalam hati,apabila hati khusyuk maka seluruh anggota tubuh akan khusyuk karena kekhusyukan hatinya. Kekhusyukan seseorang tidak dapat dinilai dari gerakan ataupun prilakunya, karena tempatkhusyuk di hati bukan di gerakan.