cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota padang panjang,
Sumatera barat
INDONESIA
Laga-Laga : Jurnal Seni Pertunjukan
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 45 Documents
KARYA TARI KUASO NAN MANYESO Candra, Riko
Laga-Laga : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 1, No 2 (2017): Laga-Laga : Jurnal Seni Pertunjukan
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (489.686 KB) | DOI: 10.26887/lg.v1i2.259

Abstract

Karya tari yang berjudul “Kuaso Nan Manyeso” ini mengambarkan pemimpin yang melakukan keburukan demi kekusaan sehingga dapat merugikan diri sendiri dan masyarakat. Masyarakat menjadi resah dan sedih mengetahui pemimpinnya melakukan keburukan dan masyarakat pun marah terhadap pemimpin tersebut. Fokus dari karya tari ini adalah prilaku seorang pemimpin yang buruk. Dalam karya tari Kuaso Nan Manyeso memiliki tema heroik dan tipe tari dalam karya tari ini adalah tipe tari dramatik. Penggunaan gerak diambil dari pengembangan gerak silat tuo Minangkabau, Kostum yang digunakan pada karya tari “Kuaso Nan Manyeso” adalah penari memakai baju dan celana berwana hitam yang telah dimodifikasi, setting yang digunakan adalah tiang yang didirikan ditengah panggung, musik tari dalam karya ini menggunakan alat musik tradisional Minangkabau yaitu Gandang Tambua, Gandang Lasi, Gandang Pano, Canang, Saluang, Sampelong , vokal dan musik tekno. This dance work entitled “Kuaso Nan Manyeso” describes about leader that does bad things for power so it prejudices that leader’s own self and people. People become restless and sad because of knowing that their leader do bad things and then people get angry toward that leader. Focus of this dance work is a leader’s poor behaviour. In the dance work “Kuaso Nan Manyeso,” it has heroic theme and this dance type is dramatic dance type. The use of movement is taken from the movement development of Minangkabau silat tuo. Costumes used in the dance work “Kuaso Nan Manyeso” are modified black shirt and trousers worn by dancers. Setting used is pillar set up in the middle of stage. Music of dance in this work comes from Minangkabau traditional music instruments namely Gandang Tambua, Gandang Lasi, Gandang Pano, Canang, Saluang, Sampelong , vocal and techno music. 
Keberadaan Tari Tarik Jalur di Pisang Berebus Kabupaten Kuantan Singingi Provinsi Riau Safitri, Susfiarni
Laga-Laga : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 1, No 2 (2014): Jurnal Fakultas Seni Pertunjukan
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (167.486 KB) | DOI: 10.26887/lg.v1i2.242

Abstract

Tari Tarik Jalur merupakan salah satu kesenian tradisi yang hidup dan berkembang dalam masyarakat Pisang Berebus Kecamatan Gunung Toar Kabupaten Kuantan Singingi Provinsi Riau. Tari tersebut terinspirasi dari proses pembuatan Jalur. Tari tarik Jalur ditampilkan pada acara pembukaan Pacu Jalur dan acara-acara lainnya seperti perpisahan sekolah, yang berfungsi sebagai hiburan. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif bersifat deskriptif analisis yaitu mendeskripsikan keadaan sebenarnya yang ada di lapangan dan menganalisis sesuai dengan bentuk dan fungsi tari Tarik Jalur pada masyarakat Pisang Berebus. Tulisan ini membahas tentang bentuk dan fungsi tari Tarik Jalur yang ditampilkan pada upacara pembukaan Pacu Jalur serta upaya pelestarian tari tersebut yang menjadikan keberadaannya tetap hadir dalam masyarakat pendukungnya. Kata kunci: Tari Tarik Jalur, Bentuk, Fungsi
MAKNA SIMBOLIK BENTUK RAGAM HIAS SARUNG TENUN SUTERA MANDAR DI POLEWALI MANDAR Amri, Amri
Laga-Laga : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 1, No 2 (2017): Laga-Laga : Jurnal Seni Pertunjukan
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (412.846 KB) | DOI: 10.26887/lg.v1i2.254

Abstract

Artikel berjudul Makna Simbolik Bentuk Ragam Hias Sarung Tenun Sutera Mandar di Polewali Mandar bertujuan memahami makna simbolik bentuk ragam hias sarung tenun sutera Mandar di Polewali Mandar. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan sejarah, sosiologi, dan antropologi. Metode pengumpulan data dengan studi pustaka, observasi, dan wawancara. Untuk menjelaskan perkembangan bentuk ragam hias sarung tenun sutera Mandar digunakan teori Safri Sairin dan Pioter Sztompka. Hasil penelitian menunjukkan Bentuk ragam hias pola sulapaq appeq pada sarung tenun sutera Mandar mempunyai banyak makna dalam kehidupan masyarakatnya, di antaranya: 1.Berkaitan dengan simbol isi alam semesta, 2. Nilai-nilai luhur sifat manusia di antaranya sifat jujur, adil, benar, dan konsisten. 3. Konsep pengendalian diri terhadap empat nafsu yang dimiliki oleh manusia yaitu: api, angin, air, dan tanah. Article entitled “Symbolic Meaning of Decoration Form of Mandar Silk Weaving Sarong in Polewali Mandar” aims at understanding symbolic meaning of decoration form of Mandar silk weaving sarong in Polewali Mandar. This research is qualitative research that uses descriptive method with historical, sociological, and anthropological approaches. Methods of data collection are library research, observation and interview. To explain about the development of decoration form of Mandar silk weaving sarong is used theories written by Safri Sairin and Pioter Sztompka. Research result shows that decoration form of sulapaq appeq pattern on Mandar silk weaving sarong has many meanings in its society’s life namely (1) related to the symbol of universe contents; (2) Human’s noble values such as honest, righteous, veritable, and consistent; (3) self-control concept toward four desires possessed by humans namely fire, wind, water, and land. 
LANGKAH NAN LIMO Andrika, Yuhari; Sriyanto, Sriyanto
Laga-Laga : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 1, No 2 (2014): Jurnal Fakultas Seni Pertunjukan
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (145.407 KB) | DOI: 10.26887/lg.v1i2.232

Abstract

Tulisan ini membahas tentang karya komposisi musik yang berjudul “Langkah Nan Limo”. Karya tersebut terinspirasi dari kesenian sijobang yang ada di nagari Payakumbuh, Sumatera Barat, dengan menggunakan pendekatan garap re-interpretasi tradisi. Ide dan landasan garap karya tersebut berpijak dari tiga bait pantun awal melodi vokal dendang sijobang I yang memiliki kesan nada-nada pentatonik. Tulisan ini bertujuan untuk pelahiran bentuk karya musik baru dengan penggarapan interval dari melodi vokal, pola ritme dengan konsep progres dan modulasi. Metode kekaryaan antara lain : persiapan, eksplorasi, sintesis, realisasi dan penyelesaian. Hasil yang didapat dari penggarapan ini adalah sebuah komposisi musik kresi baru yang terdiri dari lima bagian dan dilengkapi dengan dokumentasi berupa rekaman VCD. Kata Kunci: Komposisi musik, Sijobang, dendang sijobang, Reinterpretasi tradisi
BENTUK TARI KIPAS DI DESA PERENTAK KECAMATAN PANGKALAN JAMBU KABUPATEN MERANGIN PROVINSI JAMBI Mulkiah, Putri
Laga-Laga : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 1, No 1 (2017): Laga-Laga : Jurnal Seni Pertunjukan
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (477.09 KB) | DOI: 10.26887/lg.v1i1.249

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Bentuk Tari Kipas di Desa Perentak Kecamatan Pangkalan Jambu Kabupaten Merangin Provinsi Jambi. Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif analisis. Bentuk Tari Kipas dapat dilihat dari elemen-elemen tari tersebut seperti Penari, Gerak Kipas, Musik, Pola Lantai, dan Tempat Pertunjuk. Teori yang digunakan sebagai alat analisis adalah Teori bentuk, Soedarsono, dan Alma M.Hawkins. yaitu memaparkan keadaan dan peristiwa melalui data yang didapat dilapangan mengenai Tari Kipas yang mempunyai makna didalamnya menggambarkan kekompakan petani dalam menggarap persawahan.Tari kipas, memiliki keunikan dan kespesifikan dalam bentuk gerak yang terdapat dari sepuluh ragam gerakan yaitu: limbai, liyuk, lang menari, kipas diri, keleong kipas, kipas menda, sabung kucing, sabung kilat, liyuk duduk, dan liyuk sembah. This research aims at knowing the form of Kipas Dance in Perentak Village, Pangkalan Jambu Sub-district, Merangin District, Jambi Province. Method used in this research is qualitative method that has analytic descriptive characteristic. The form of Kipas dance can be seen from that dance elements such as dancer, kipas (fan) movements, music, floor pattern, and performance place. Theory used as analysis tool is the theory of form by Soedarsono and Alma M. Hawkins namely describing situation and event through data found in field about Kipas dance that has intrinsic meaning about the togetherness of farmers in cultivating their rice fields. Kipas dance has uniqueness and specification in the form of movements found in 10 variants of movements namely limbai, liyuk, lang menari, kipas diri, keleong kipas, kipas menda, sabung kucing, sabung kilat, liyuk duduk, and liyuk sembah.
PERTUNJUKAN SOLO VOKAL DENGAN REPERTOAR LA TRAVIATA, CARO NOME, YA MAULAI, I HAVE NOTHING, DAN MENGAPA Lismayanti, Rini
Laga-Laga : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 1, No 2 (2017): Laga-Laga : Jurnal Seni Pertunjukan
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (400.035 KB) | DOI: 10.26887/lg.v1i2.260

Abstract

Repertoar yang disajikan dalam pertunjukkan diantaranya La Traviata karya Giuseppe Verdi, Caro Nome , karya melayu Ya Maulai, I Have Nothing dan Lagu Mengapa. Pemilihan karya yang akan disajikan dipilih atas dasar perbedaan zaman, dimulai dari zaman romantik, melayu, hingga modern yang menghasilkan perbedaan teknik pada masing-masing karya. Ketelitian, skill, kesabaran, pengalaman sangat berperan penting dalam mewujudkan pertunjukan sesuai yang diharapkan oleh komposer-komposer dari setiap karya-karya yang akan dimainkan. La Traviata merupakan Opera yang bercerita tentang “Cinta”, lebih tepatnya cinta yang tidak direstui. Caro Nome adalah repertoar yang menceritakan tentang seseorang yang jatuh cinta. Ya Maulai repertoar yang berkisah tentang seseorang yang jatuh cinta. I Have Nothing berkisah tentang seseorang yang sangat mencintai sang kekasih dan berharap kekasihnya tidak akan meninggalkannya. Repertoar Mengapa menceritakan tentang seseorang yang meminta kepastian akan hubungan yang sedang dijalaninya. Repertoires presented in performance are La Traviata by Giuseppe Verdi, Caro Nome, Malay composition of Ya Maulai, I Have Nothing and song of Mengapa. Composition selection that will be performed is chosen on the basis of era difference started from romantic, Malay, and modern eras that result on technique difference on each composition. Precision, skill, patience, and experience have important role in materializing a performance that’s in accordance with the hope of each composer whose composition will be played. La Traviata is an opera that narrates about love, precisely an unapproved love. Caro Nome is a repertoire that tells about someone who falls in love. Ya Maulai repertoire that tells a story about someone who falls in love. I Have Nothing tells a story about someone who really loves his/her lover and hopes that his/her lover never leaves him/her. Mengapa repertoire narrates about someone who asks for the certainty of his/her ongoing relationship. 
BENTUK PENYAJIAN TARI ADOK BUKIK JUNJUNG SIRIH DI NAGARI PANINGGAHAN KABUPATEN SOLOK Nursyam, Aan
Laga-Laga : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 1, No 1 (2017): Laga-Laga : Jurnal Seni Pertunjukan
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (349.242 KB) | DOI: 10.26887/lg.v1i1.243

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk membahas dan mendeskripsikan bagaimanakah bentuk pertunjukan dan penyajian dari kesenian tradisional Adok di Nagari Paninggahan Kabupaten Solok.Manfaat penulisan ini sebagai sumbangan pemikiran bagi Institut Seni Indonesia Padangpanjang. Hasil penelitian dan penulisan menunjukan bahwa kesenian tradisional Adok Paninggahan ini dikaji secara bentuk pertunjukan dan penyajian dari unsur-unsur musik, syair dan bentuk komposisinya. Berdasarkan sejarah dan cerita tentang Kesenian Adok ini menceritakan tentang suatu perselisihan, pertengkaran lahir dan bathin yang terjadi diantara dua objek yang disebabkan oleh suatu benda, oleh masyarakat Paninggahan dipanggil dengan sebutan Sijundai dengan cara menghipnotis dan memanipulasi fikiran dan jiwa dari dua objek tersebut sehingga muncul ambisi dan tujuan dari masing – masing objek tersebut. Berdasarkan segi bentuk penyajiannya kesenian tradisional Adok dikaji menurut urutan penyajian, tata panggung, tata lampu, tata busana dan tata suara. Berdasarkan bentuk komposisinya, Adok dikaji menurut ritme, melodi, instrument musik dan syair. Kata kunci: adok, sijundai, ritme, melodi dan syair.This writing aims at discussing and describing how the performance and presentation forms of Adok traditional art in Paninggahan Village, Solok District are. This writing benefit is as an intellectual contribution for Indonesia Art Institute of Padangpanjang. Research result shows that this traditional art of Paninggahan Adok is studied from the performance and presentation forms of musical elements, lyric, and composition. Based on history and story of Adok art, it’s narrated that theres is a dispute, physical and internal quarrel, that happens among two objects cause by a thing that by Paninggahan people is called as Sijundai that hypnotizes and manipulates those two objects’ mind and soul so that each object’s ambition and intention appear. Based on its presentation form, Adok traditional art is studied according to presentation sequence, stage layout, lighting, costume, and sound system. Based on its composition form, Adok is studied according to rhythm, melody, music instrument, and lyric.
DAMPAK PEMBELAJARAN TEKNIK PERMAINAN TALEMPONG PACIK DAN TALEMPONG UNGGAN TERHADAP PENINGKATAN MUSIKALITAS MAHASISWA MK, Asri
Laga-Laga : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 1, No 2 (2017): Laga-Laga : Jurnal Seni Pertunjukan
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (390.443 KB) | DOI: 10.26887/lg.v1i2.255

Abstract

Talempong Pacik sebagai salah satu musik tradisional Minangkabau yang menerapkan teknik interlocking dalam permainan kelompoknya. Konsep dasar interlocking adalah permainan motif-motif ritem dari unit-unit alat musik yang saling isi-mengisi satu sama lain dalam satu kesatuan irama yang berulang-ulang (ostinato). Pada sisi lain, terdapat ensambel Talempong Unggan yang konsep musikal dan teknik permainan melodinya yang khas dengan menggunakan pergerakan kedua tangan secara berkuak (teknik kuak).Kedua jenis musik tradisional talempong di atas telah menjadi mata kuliah praktek di Prodi Karawitan ISI Padangpanjang, dan konsep komposisi musik keduanya termasuk unik dan rumit, terutama bagi daya musikalitas mahasiswa yang kurang baik. Namun demikian, bila mereka bersungguh-sungguh untuk menguasai kedua teknik permainan talempong tersebut, maka akan mampu meningkatkan daya musikalitasnya sehingga berdampak positif terhadap perjuangannya menjadi pemusik profesional. Tulisan ini bertujuan untuk menyatakan tentang fungsionalnya penguasaan teknik permainan Talempong Pacik dan Talempong Unggan terhadap peningkatan muskalitas mahasiswa karawitan. Tulisan ini merupakan formulasi dari pengamatan, wawancara, dan catatan lapangan yang diresepsi dari realita-realita pembelajaran musik tradisional Talempong Pacik dan Talempong Unggan di Prodi Karawitan, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Padangpanjang. Talempong Pacik as one of Minangkabau traditional music that applies interlocking technique in its group play. Interlocking basic concept is the play of rhythm motifs from the units of music instrument that’s mutually complementary in one repeated rhythm unity (ostinato). On the other side, there is Talempong Unggan ensemble that its musical concept and melodious play technique are produced by using both-hand movements of squawk (squawk technique). Those two kinds of traditional music of talempong have become practical subject in Karawitan department of ISI Padangpanjang, and musical composition concept of these two instruments is categorized as unique and complicated, particularly for students’ amateurish musicality. However, if they really try to master the play techniques of those two talempongs, they will be able to improve their musicality and it will give good impact on their struggle to become professional musicians. This writing aims at stating about the function of mastering Talempong Pacik and Talempong Unggan play techniques toward Karawitan students’ musicality improvement. This writing is formulation of observation, interview, and field note receipted from learning realities of traditional music, Talempong Pacik and Talempong Unggan in Karawitan department, Faculty of Performing Arts, ISI Padangpanjang. 
SAYATAN DALAM DISHARMONI HATI Juliano, Toni; Suharti, Suharti; Suharti, Suharti
Laga-Laga : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 1, No 2 (2014): Jurnal Fakultas Seni Pertunjukan
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (76.528 KB) | DOI: 10.26887/lg.v1i2.235

Abstract

Komposisi musik yang berjudul “Sayatan Dalam Disharmoni Hati” merupakan penataan karya musik yang berpijak pada vokabuler-vokabuler musikal yang sudah ada dengan pendekatan garap reinterpretasi tradisi. Tulisan ini bertujuan untuk memberi informasi penemuan bentuk baru tentang keunikan musikal yang terdapat pada Sijobang Tigo Sapilin, dan merealisasikan musiknya menjadi komposisi musik baru, serta memberi informasi kepada generasi muda terutama masyarakat pendukungnya bahwa musik tradisi bisa dikemas ke dalam bentuk komposisi musik baru. Metode penggarapan dilakukan melalui beberapa tahap yaitu menganalisis musikal, merancang dan menyusun materi musikal, latihan, gladiresik dan penyajian. Hasil yang didapat dari penggarapan ini adalah sebuah komposisi musik yang dilengkapi dengan rekaman VCD. Kata Kunci: Sijobang Tigo Sapilin, disharmoni, Reinterpretasi
Kompleksitas Karakter Nat Bartleyt Dalam Pertunjukan DImana Tanda Silang Tertera Karya Eugene Oneill Terjemahan Pandu Birowo Hanif, Abdul
Laga-Laga : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 1, No 1 (2016): Laga-Laga : Jurnal Seni Pertunjukan
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/lg.v1i1.121

Abstract