cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota padang panjang,
Sumatera barat
INDONESIA
Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni
ISSN : 19074859     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
GARAK JO GARIK: JURNAL PENGKAJIAN DAN PENCIPTAAN SENI diterbitkan oleh Program Studi Seni Tari ISI Padangpanjang di bawah koordinasi Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPMPP) ISI Padangpanjang. Jurnal ini terbit dua kali dalam setahun pada bulan Januari-Juni dan Juli- Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 36 Documents
ARTI NILAI DALAM SENI Akromullah, Hamdan
Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 9, No 1 (2013): Garak Jo Garik
Publisher : Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (79.868 KB)

Abstract

Nilai merupakan suatu topik yang tidak habis-habisnya dan selalu relevan untuk diperbincangkan. Begitu juga halnya kaitan nilai dengan seni. Dilihat dalam perjalanan sejarah filsafat, sudah banyak sumbangan pemikiran para filsuf yang berkaitan dengan nilai, dan ini juga menandakan bahwa nilai adalah topik yang tidak pernah-pernah habisnya untuk diperbincangkan.Adanya jurang pemisah antara subjek di satu sisi dengan objek di sisi yang lain merupakan titik awal bagi munculnya perdebatan yang berkaitan dengan nilai. Subjektivisme sebagai aliran yang mewakili subjek sebagai titik tolak dalam nilai, menegaskan bahwa nilai-nilai, seperti kebaikan, kebenaran, keindahan, tidak ada dalam real objektif, melainkan merupakan perasaan-perasaan, sikap-sikap pribadi, dan merupakan penafsiran atas kenyataan. Di lain pihak objektivisme, sebagai aliran yang mendukung objek sebagai titik tolak dalam nilai, menegaskan bahwa nilai-nilai, kebaikan, kebenaran, keindahan, ada dalam dunia nyata dan dapat ditemukan sebagai entitas-entitas, kualitaskualitas, atau hubungan nyata dalam bentuk yang sama sebagaimana dapat ditemukan objek-objek, kualitas-kualitas, atau hubunganhubungan. Selanjutnya pendukung teori objektivisme juga menegaskan bahwa nilai-nilai adalah objektif dalam arti bahwa nilai-nilai itu dapat didukung oleh argumentasi cermat dan rasional konsisten sebagai yang terbaik dalam situasi itu.
DOMINASI INSTRUMEN DJEMBE PADA MUSIK TRADISIONAL MINANGKABAU FEBRIAN, RAYHAN REDHA
Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 12, No 2 (2016): Garak Jo Garik
Publisher : Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (441.733 KB)

Abstract

Djembe merupakan instrumen perkusi yang berasal dari Kerajaan Mali, Afrika. Djembe menjadi satu di antara sekian banyak alat musik perkusi ritmik yang populer di masa kini. Satu yang unik dari djembe adalah pola ritme-nya yang konstan, tabuhannya yang tajam, melengking, dan enerjik. Instrumen ini menjadi yang paling populer dalam proses kekaryaan masa kini, baik itu karya tari, musik, dan teater. Akan tetapi popularitas djembe saat ini sudah mulai menutupi peranan instrumen tradisional Minangkabau, baik itu dalam penggarapan komposisi musik, musik tari, dan berbagai kesenian tradisional Minangkabau lainnya. Bahkan para pelaku seni lebih memilih untuk menggunakan djembe sebagai instrumen perkusi utama dalam setiap kegiatan bermusiknya. Djembe is a percussion instrument from the Kingdom of Mali, Africa. Djembe is one of the most popular rhythmic percussion instruments of today. The unique one of djembe is his constant rhythmic pattern, his sharp sound, shrill, and energetic.One of the foreign culture that enters Indonesia in music is djembe. This instrument became the most popular in art work process, like dance, music, and theater. However, the popularity of djembe has begun to cover the role of traditional instruments from Minangkabau culture, both in the cultivation of musical composition, dances music, and various other traditional Minangkabau art. Even the artists prefer to using djembe as the main percussion instrument in every musical activity.
PERUBAHAN TARI LEGONG KERATON KE TARI LEGONG KERATON KREASI DI KOTA DENPASAR Riyanti, Eva
Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 12, No 1 (2016): Garak Jo Garik
Publisher : Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1020.397 KB)

Abstract

Tulisan yang berjudul “Perubahan Tari Legong Keraton ke Legong Keraton Kreasi” Di Kota Denpasar, merupakan hasil penelitian yang bertujuan untuk mengetahui dan memahami perubahan pertunjukan Tari Legong Keraton ke Tari Legong Keraton Kreasi. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dari data kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif analitis. Untuk memahami perubahan maka digunakan teori perubahan, teori estetika dan teori dekontruksi. Hasil yang diperoleh menyimpulkan bahwa, pertama Tari Legong Keraton kreasi merupakan bentuk dari kreativitas seniman atau koreografer yang ingin mencari bentuk-bentuk baru dari tari Legong Keraton tradisi. Tari Legong Keraton Kreasi terdiri dari struktur yang saling terkait membentuk susunan secara sistematis. Kedua, ada dua macam faktor yang mempengaruhi perubahan Tari Legong Keraton Kreasi yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Namun demikian tetap mempertahankan pakempakem yang telah mengkristal, walaupun sudah terjadi perubahan dan inovasi oleh seniman dan koreografer dalam berkarya. The title of this writing is “The Transformation of Legong Keraton Dance into Creation Legong Keraton Dance in Denpasar City.” It is research result that aims at knowing and understanding the performance transformation of Legong Keraton dance into creation Legong Keraton dance. This research is qualitative research that uses qualitative data. These data were analyzed by using analytic-descriptive method. The transformation was understood by using transformation theory, aesthetic theory, and deconstruction theory. Result acquired concludes that first, creation Legong Keraton dance is the form of artist’s creativity or choreographer who wants to find new forms of tradition Legong Keraton dance. Creation Legong Keraton dance consists of structures that are related one and another and form systematic arrangement; second, there are two factors that affect the transformation of creation Legong Keraton dance namely internal and external factors. However, this dance still maintains crystallized basic movements notwithstanding transformation and innovation created by artists and choreographers in their works.
EKSISTENSI TARI RAMO-RAMO TABANG DUO PADAMASYARAKAT LUNDANG SUNGAI PAGU KABUPATEN SOLOK SELATAN PROVINSI SUMATERA BARAT Murni, Nirwana; Sari, Refi Yulina
Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 12, No 1 (2016): Garak Jo Garik
Publisher : Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (951.881 KB)

Abstract

Tari Ramo-ramo Tabang Duo merupakan salah satu tari tradisional yang masih eksis sampai saat ini pada masyarakat sungai Pagu Solok Selatan. Tujuan dari tulisan ini untuk mengetahui eksistensi tari Ramo-ramo Tabang Duo dalam kehidupan masyarakat yang sarat dengan perubahan. Tulisan ini merupakan hasil penelitian dengan menggunakan metode penelitian deskriptif analitis. Fakta lapangan menjelaskan bahwa tari Ramo-ramo Tabang Duo terinspirasi dari kehidupan masyarakatnya dalam melakukan aktifitas seharihari. Tari ini dinamakan tari Ramo-ramo Tabang Duo, karena gerakannya memiliki kemiripan dengan aktivitas ramo-ramo tabang yang mencari makan dari pagi sampai sore hari. Tari ini ditarikan oleh enam orang penari laki-laki, pola lantainya adalah garis lurus dan saling berhadapan. Kostum yang digunakan dalam pertunjukan ini adalah baju gadang, sarawa galembong, dan destar. Ramo-ramo Tabang Duo dance is one of traditional dances that still exists until nowadays in the society of Sungai Pagu, South Solok. The objective of this writing is to know the existence of Ramo-ramo Tabang Duo dance in people’s life that is full of changings. This writing is research result achieved by using the research method of analytic-descriptive. Field fact shows that Ramo-ramo Tabang Duo dance is inspired from the people’s life of Sungai Pagu in doing daily activities. This dance is named as Ramo-ramo Tabang Duo dance because its movements are similar to the activity of flying butterfly that seeks food from morning until late afternoon. This dance is danced by six male dancers, its floor patterns are straight line and face-to-face. Costumes used in this performance are Gadang shirt, sarawa galembong, and destar.
EKSPRESI RUANG BALAIRUNG SARI Putri, Popi Trisna
Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 13, No 1 (2017): Garak Jo Garik
Publisher : Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (369.002 KB)

Abstract

Ide garapan ini berangkat dari fenomena Balairung Sari  dilihat berdasarkan fungsinya. Zaman dahulu Balairung Sari merupakan tempat yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai adat yang ada di Minangkabau, dan berfungsi sebagai tempat musyawarah dalam membicarakan berbagai hal yang berkaitan dengan adat di Minangkabau. Seiring perkembangan zaman pada saat sekarang Balairung Sari tidak lagi difungsikan sebagaimana mestinya, jangankan untuk mengadakan musyawarah bahkan sebagaian masyarakatpun ada yang tidak mengetahui keberadaanya sama sekali. Penggarapan karya ini akan merekonstruksi kembali peristiwa aktifitas masyarakat dalam musyawarah yang dulu selalu dilaksanakan di Balairung Sari, guna untuk mengingatkan kembali kepada  masyarakat tentang fungsi Balairung Sari sesungguhnya. The idea of this work are from Balariung Sari phenomenon seen from the based of its function. In the past Balairung Sari is a place that highly upholds the values of adat that exist in Minangkabau, and serves as a place of deliberation in discussing about various matters relating to customs in Minangkabau. Along with its development, at present time Balairung Sari are no longer functioned properly as it was, even some of the society does not even know its existence at all. The cultivation of this work will reconstruct the events of society activity in deliberations that always held in Balairung Sari, in order to remind the community about the function of Balairung Sari.
RANDAI SEBAGAI TEATER RAKYAT MINANGKABAU: ALTERNATIF PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN Zulkifli, Zulkifli
Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 9, No 1 (2013): Garak Jo Garik
Publisher : Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (95.731 KB)

Abstract

Randai adalah teater tradisional rakyat Minangkabau yang tumbuh, hidup dan berkembang di lingkungan masyarakat di NagariNagari dalam wilayah Minangkabau. Sebagai teater rakyat randai hidup dari rakyat untuk rakyat.Para pakar randai telah menyepakati bahwa randai yang berbentuk taeter rakyat Minangkabau mempunyai unsur pokok yaitu ; cerita, dialog dan akting, gurindam, galombangan. Keempat unsur pokok tersebut boleh dikembangkan, tetapi tidak boleh ditiadakan. Salah satu saja diantara unsur pokok tersebut ditiadakan, maka akan lahir kesenian yang tak dapat dikatakan kesenian randai lagi.Pengembangan cerita randai dapat dilakukan dengan cara menyusun atau mengarap cerita baru. Agar tetap mengakar pada budaya Minangkabau, maka hendaklah cerita baru tersebut mengandung nilainilai kehidupan masyarakat Minangkabau. Baik nilai-nilai kehidupan masyarakat Minangkabau pada masa silam maupun nilai-nilai masyarakat masa kini.
MAKNA TARI LEGONG KERATON KREASI PADA MASYARAKAT BADUNG DI KOTA DENPASAR Riyanti, Eva
Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 12, No 2 (2016): Garak Jo Garik
Publisher : Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (395.556 KB)

Abstract

Artikel ini adalah  hasil analisis tentang “Makna  Tari Legong Keraton Kreasi Pada Masyarakat Badung Di Kota Denpasar”,  merupakan  hasil penelitian  yang bertujuan untuk mengetahui dan memahami Makna Tari Legong Keraton Kreasi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif analitis. Dalam  memahami  makna maka  digunakan teori  estetika dan  teori dekontruksi. Hasil yang diperoleh menyimpulkan bahwa, pertama Bagaimana makna  Tari Legong Keraton kreasi Pada Masyarakat Badung  yang  merupakan bentuk dari inovasi seniman atau  koreografer  yang  ingin  mengetahui  makna dari tari Legong Keraton Kreasi. Makna Tari Legong Keraton Kreasi terdiri dari makna estetika, yang saling terkait antara yang satu dengan yang lainnya. Kedua, ada makna estetika dalam Tari Legong  Keraton Kreasi pada masyarakat Badung  yaitu  makna gerak , makna musik iringan, makna Tata Rias busana, dan makna simbolik yang terjadi pada Tari Legong Keraton Kreasi. Tetapi masih tetap mempertahankan nilai-nilai tradisi yang sudah ada, walaupun sudah banyak karya-karya  inovasi oleh seniman dan koreografer This article is the result of an analysis about "The Meaning of Legong Keraton Creation Dance on Badung Society in Denpasar City", is a result of research that aims to know and understand about The Meaning of Legong Keraton Creation Dance. The method used in this research is a qualitative research method that contained descriptive analytical. To understanding about meaning are used the theory of aesthetics and deconstruction theory. The results that obtained concluded, first How is the meaning of Legong Keraton Creation Dance On Badung Society which is a form of innovation artist or choreographer who want to know the meaning of Legong Keraton Creation Dance. The meaning of Legong Keraton Creation Dance consists of aesthetics meaning, which are interconnected between the one with another. Second, there is an aesthetic meaning in Legong Keraton Creation dance in Badung society that is the meaning of motion, the meaning of musical accompaniment, the meaning of dress fashion, and symbolic meaning that happened in Legong Keraton Creation dance. But it still retains the values of existing traditions, despite theres so many innovations by an artists and other choreographers.
ANIMISME DALAM KESENIAN SALUANG SIROMPAK Putra, Ricky Warman
Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 12, No 2 (2016): Garak Jo Garik
Publisher : Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (261.679 KB)

Abstract

Kesenian Saluang Sirompak yang terdapat di Kabupaten Lima Puluh Kota, Kecamatan Taeh, Nagari Taeh Baruah. Kesenian Saluang Sirompak ini sudah ada sejak nenek moyang kita dan diturunkan sampai generasi sekarang yaitu generasi ke tiga.Kesenian Saluang Sirompak ini berfungsi untuk  mengguna-gunai orang yang akan dituju dengan perantara roh-roh yang diberinama Simambang Hitam, Simambang Putiah, Simambang Sirah, Simambang Tungga, Simambang Barantai yang dipercayanya menghuni ke lima lobang Saluang Sirompak tersebut.Prosesi ritual Saluang Sirompak ini hampir semua berhubungan dengan makhluk halus seperti mantra, gasiang tangkurak, bulu perindu, kemenyan, benang picono, beras kunyit,  daun pisang dan telor bebek, semua sesajen ini di peruntukan sebagai syarat roh-roh tersebut.Kesenian Saluang Sirompak ini salah satu kesenian animisme yang berada di Minangkabau, walaupun di Minangkabau dominan agama Islam tetapi kesenian tradisi yang menganut paham animisme masih bertahan dan berkembang di Minangkabau salah satunya kesenian Saluang SirompakSaluang Sirompak art located in Lima Puluh Kota District, Taeh Subdistrict, Nagari Taeh Baruah. Saluang Sirompak art has existed since our ancestors and passed down to the present generation of the third generation.Art Saluang Sirompak serves to use the people who will be addressed by an intermediary of spirits named Simambang Hitam, Simambang Putiah, Simambang Sirah, Simambang Tungga, SimambangBarantai which is believed to inhabit the five holes Saluang Sirompak.Saluang Sirompak ritual procession is almost all associated with spirits such as spells, tangkurak gasiang, feather perindu, incense, picono yarn, turmeric rice, banana leaves and duck eggs, all these offerings in the designation as a condition of the spirits.Art Saluang Sirompak is one of the animist art that is in Minangkabau, although in Minangkabau dominant Islam but art traditions that adhere to animism still survive and develop in Minangkabau one of the art of Saluang Sirompak
TARI SKIN DI DESA PERENTAK, KECAMATAN PANGKALAN JAMBU, KABUPATEN MERANGIN, PROVINSI JAMBI Maizarti, Maizarti
Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 12, No 1 (2016): Garak Jo Garik
Publisher : Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (916.258 KB)

Abstract

Tulisan ini merupakan hasil penelitian untuk mendeskripsikan tari Skin secara teks dengan makna yang tersirat dari setiap gerakan. Dalam hal ini Tari Skin di desa Perentak Kecamatan Pangkalan Jambu, menggunakan data kualitatif, dengan metode deskriptif yang kemudian dianalitis menggunakan teori bentuk. Berdasarkan data lapangan, menyatakan bahwa Tari Skin merupakan salah satu tari tradisional yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat Desa Perentak Kecamatan Pangkalan Jambu Kabupaten Merangin Provinsi Jambi. Hasil penelitian dan pembahasannya menunjukkan bahwa Tari Skin dilihat dari teksnya merupakan perpaduan antara gerak Minangkabau dan gerakan Melayu, dengan menggunakan properti berupa dua buah pisau. This writing is research result that aims at describing Skin dance textually with implied meanings in every movement. In the research of Skin dance in Perentak village, Pangkalan Jambu sub-district, it’s used qualitative data and descriptive method. The data were then analyzed by using the theory of form. Based on field data, it’s stated that Skin dance is one of traditional dances that lives and develops in the society of Perentak village, Pangkalan Jambu sub-district, Merangin regency, Jambi province. Research result and its discussion show that Skin dance, if it’s viewed from its text, is the fusion of Minangkabau movements and Malay movements by using the property of two knives.  
BAILAU :RATAPAN KEMATIAN DI KAMPAI TABU KARAMBIA KOTA SOLOK SUMATERA BARAT DALAM PERSPEKTIF ISLAM Atika, Desti
Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 13, No 1 (2017): Garak Jo Garik
Publisher : Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (306.333 KB)

Abstract

Tujuan artikel ini untuk memberi pesan bahwa meratapi mayat secara berlebihan haramkan oleh agama Islam. Bailau merupakan ritual menangisi mayat yang dilakukan oleh masyarakat Kota Solok sebagai sarana bagi pihak keluarga untuk mengenang jasat almarhumah yang dilakukan ketika seorang anak laki-laki meninggal dirantau yang jasadnya tidak bisa dikebumikan di kamapung halaman. Namun konteks meratapi mayat tersebut dilakukan secara berlebihan oleh keluarga dan masyarakat yang ditinggalkan, hal ini bertolak belakang dengan ajaran Islam dalam HR Muslim yang mengatakan  “Duahal yang ada pada manusia dan keduanya menyebabkan mereka kafir adalah mengingkari keturunan dan meratapi kematian”.Konsep yang lahir diatas merupakan sebuah bentuk penciptaan karya tari yang dituangkan dalam sebuah tulisan, dalam hal ini penulis membentuk suatu garap tari dengan mewujudkan sebuah karya tari berbentuk kontemporer dengan tujuan memberikan pesan dan apresiasi kepada masyarakat. Konsep garap mencakup : judul, tema, tipe,  gerak, penari, rias busana, seting dan property, musik iringan, tempat pertunjukan. Sedangkan metode garap yang dilakukan adalah: ekplorasi, improvisasi, pembentukan, evaluasi. The purpose of this article is to give the message that lamenting the corpse is excessively forbidden by Islam. Bailau is a ritual to mourn the corpses performed by the people in Solok City as a means for the family to commemorate the deceaseds body when a boy died in rantau whose body can not be buried in the hometown. But the context of bemoaning the corpse is over-done by the abandoned families and other communities, this is in contrast  to Islamic teachings, Muslim HR saying "Two things that exist in humans and both cause them to disbelieve are denying the offspring and mourn the death". The concept that was born from above topics is a form of dance creation that is poured in a writing, in this case the writer formed a dance work by realizing a contemporary dance work with the aim of giving a message and appreciation to the community. The concept works include: title, theme, type, motion, dancer, dressing, setting and property, music accompaniment, the venue. While the method is: exploration, improvisation, formation, evaluation

Page 1 of 4 | Total Record : 36