Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni
ISSN : -     EISSN : -
Articles
36
Articles
KOREOGRAFI KUAU DALAM PERSPEKTIF ALAM FAUNA

Riswani, Riswani, Saputra, Mugi Ari

Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 13, No 2 (2017): Garak Jo Garik
Publisher : Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1010.961 KB)

Abstract

Kuau adalah nama burung yang oleh masyarakat Jambi dianggap sakral sementara di Kalimantan burung Kuau dianggap Agung. Untuk menggarap konsep, pengkarya menghasilkan dua karakter yang berbeda dari kedua wilayah dan makna filosofsis burung kuau dengan menggunakan properti sayap yang berbentuk setengah lingkaran seperti kipas. Ekslporasi gerak terkait dengan pengembangan dari tingkah laku burung Kuau yang divisualisasikan dengan karakter pengkarya. Metode yang digunakan dalam pelahiran karya ini diantaranya, observasi, pengolahan data, studi pustaka, pemilihan pendukung karya, eksplorasi, penataan gerak, improvisasi, dan evaluasi. Dalam karya ini terdiri dari tiga bagian, bagian pertama menggambarkan bagaimana karakter burung kuau yang berada di Jambi yang dianggap oleh masyarakat bahwa burung kuau adalah burung yang sakral, bagian kedua menggambarkan burung kuau yang berada di Kalimantan yaitu yang berkarakter lebih atraktif dan bersifat agung oleh masyarakat suku Dayak, dan bagian ketiga menggambarkan interpretasi pengkarya terhadap filosofi Burung Kuau. Kuau is the name of a bird that is considered sacred by the people of Jambi whilein Borneo the Kuau bird is considered as supreme (grand). To work on the concept, the creator produces two different characters from the two regions and the philosophical meaning of the kuau bird by using wing properties that aresemicircular like a fan. Exploration of motion is related to the development of thebehavior of the Kuau bird which is visualized by character of the creator. Themethods used in the delivery of this work include observation, data processing, literature study, selection of supporting works, exploration, structuring motion,improvisation, and evaluation. This work consists of three parts, the first pardescribes how the character of the kuau birds in Jambi, which is considered bythe community that the bird is a sacred, the second part depicts the kuau bird iBorneo, which has more attractive and noble by Dayak tribes, and the third partdescribes the about an interpretation of the philosophy of the Kuau bird from creators perspective.

ETIKA DAN ESTETIKA PERTUNJUKAN MUSIK TRADISIONAL BIOLA DI KABUPATEN PESISIR SELATAN

Darmansyah, Darmansyah

Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 13, No 2 (2017): Garak Jo Garik
Publisher : Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1104.721 KB)

Abstract

Biola adalah sejenis alat musik tradisional yang secara umum dikenal denganistilah rabab di Sumatera Barat. Dalam pertunjukannya dikenal dengan istilahbarabab, namun di Kabupaten Pesisir Selkatan pertunjukannya dikenal denganbabiola. Materi utama dalam pertunjukan adalah penyampaian teks kaba (cerita). Salah satu repertoar lagunya yang terkenal berjudul Ratok Sikambang. Ratok Sikambang diyakini sebagai lagu tradisional tertua di daerah Pesisir Selatan yang memiliki karakteristik melodi dan teks berupa imitasi bentuk isak tangis ratapan sebagai representasi suasana sedih kebatinan yang dialami tokoh legenda Sikambang. Legenda ini terwujud pula dalam bentuk tari yang diberi nama tari Sikambang. Pertunjukan biola ini memiliki etika dan estetika yang yang sampai saat sekarang tetap dipedomani dan menjadi identitas masyarakatnya. Penelitian ini adalah penelitian kualitatafi dengan pendekatan organologis dan karakteristik musik yang didukung oleh teknik observasi dan wawancara terhadap pemusik biola (Tukang Biola) yang profesional. Violin is a type of traditional musical instrument which is generally known as rabab in West Sumatra. In it's performances generally it is known as barabab, but in the Pesisir Selatan District the performances is known as babiola. The main material in the performances is the delivery of the kaba text (story). One of it's famous song repertoires is Ratok Sikambang. Ratok Sikambang is believed to be the oldest traditional song in the Pesisir Selatan area that has melodic characteristics and text in the form of imitation consisting lamentable sobs as a representation of the sad atmosphere that experienced by the characters in Sikambang legend. This legend was also manifested in the form of a dance, that called Sikambang dance. This violin performances has ethics and aesthetics which up to now are still guided and become the identity of its people. This research are using qualitative research with an organological approach and musical characteristics, also supported by observation and interview techniques to a professional violin (Tukang Biola) musicians.

KOREOGRAFI TONGGAK RASO BERBASIS SILEK

Sukri, Ali

Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 13, No 2 (2017): Garak Jo Garik
Publisher : Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1174.32 KB)

Abstract

“TONGGAK RASO”, secara visual pada dasarnya merupakan konsep garapan untuk menghadirkan gerak dalam diri penari yang didasari pada kesadaran ruang dan waktu. Ruang dalam tubuh akan diolah secara maksimal, meskipun pada akhirnya ruang yang diolah juga menentukan waktu itu sendiri. Ruang fisik dipilih untuk mendukung ruang imajinatif yang akan dihadirkan. Budaya silek yaitu; silek tuo, silek kumango dan silek luambek untuk mengaktualisaikan ide dan gagasan melekat didalam koreografi Tonggak Raso. Elemen yang terkait dengan garapan menggunakan kaca timbal balik yang diberi bingkai sekaligus menjadi properti dalam garapan. Metode yang digunakan dalam pelahiran karya ini diantaranya, observasi, pengolahan data, studi pustaka, pemilihan pendukung karya, eksplorasi, penataan gerak, improvisasi, dan evaluasi. Koreografi ini memiliki tiga bagian, bagian pertama menggambarkan musyawarah untuk mencapai satu tujuan. Bagian kedua menggambarkan kekuatan untuk bertahan, dan bagian ketiga bagaimana penari mampu berkolaborasi untuk bertahan dengan memadukan gerak tradisi berbasis silek dan gerak-gerak tari modern.“TONGGAK RASO”, visually is a basic concept of cultivation to present the motion in the dancer based on the awareness of space and time. The space in the body will be processed optimally, although in the end the treated space also determines the time itself. Physical space is chosen to support the imaginative space that will be presented. Silek culture namely as; silek tuo, silek kumango and silek ulu ambek are used to actualize ideas inherent in Tonggak Raso choreography. The elements associated with this work is a reciprocal glass which is used and then framed, as a property in this artwork. The methods used in the delivery of this work include observation, data processing, literature study, selection of supporting works, exploration, structuring motion, improvisation, and evaluation. This choreography has three parts, the first part describes a discussion to achieve goal. The second part describes the strength to defend, and the third part is about collaborating, to survive, by combining traditional movements based on silek and the motion of modern dance.

TARI PIRIANG LANSIA DI KOTA PARIAMAN PROVINSI SUMATERA BARAT

Syofia, Ninon, Yuliana, Putri

Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 13, No 2 (2017): Garak Jo Garik
Publisher : Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (849.877 KB)

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk membahas keberadaan tari Piriang Lansia dalam fenomena sosial masyarakat Pauh Kurai Taji Kota Pariaman Provinsi Sumatera Barat sebagai penelitian kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif analitis. Teori atau pendapat yang digunakan adalah teori bentuk dan teori fungi oleh Soedarsono dan Y.Sumandiyo Hadi. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa Tari Piriang Lansia merupakan sebuah tari tradisional yang yang selalu ditarikan oleh ibu-ibu lanjut usia (lansia). Tari ini dipertunjukkan sebagai hiburan dalam berbagai acara, seperti alek nagari dan helat perkawinan dan berfungsi untuk menjalin hubungan silaturrahmi dan kebersamaan antar masyarakat. This paper aims to discuss the existence of the elderly Piriang dance in the social phenomena of the Pauh Kurai Taji community in Pariaman City, West Sumatra Province as a qualitative study using descriptive analytical methods. The theory or opinion used is form theory and function theory by Soedarsono and Y.Sumandiyo Hadi. The results showed that the Elderly Piriang Dance is a traditional dance which is always danced by elderly woman (lansia). This dance is shown as entertainment in various events, such as alek nagari and marriage, it is serves to establish relationships and togetherness between the people. This dance is shown as entertainment in various events, such as alek nagari and marriage, it is serves to establish relationships and togetherness between the people.

TARI GALOMBANG DALAM KONTEKS SOSIAL MASYARAKAT KOTO KACIAK DI KABUPATEN 50 KOTA

Yarlis, Yarlis, Nurfadhilah, Syifa

Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 13, No 2 (2017): Garak Jo Garik
Publisher : Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (852.301 KB)

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk membahas tari Galombang pada masyarakat Koto Kociak Nagari VII Koto Talago Kecamatan Guguak Kabupaten Lima Puluh Kota. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode deskriptif analitis. Dalam hal ini peneliti mendeskripsikan apa yang diperoleh di lapangan kemudian dianalisis sesuai dengan permasalahan yang berhubungan dengan fenomena sosial dalam kehidupam masyarakat pemiliki tari Galombang. Teori yang digunakan adalah teori bentuk oleh Nanik Sri Prihatini dan teori fungsi. Teori tersebut digunakan untuk menjawab permasalahan yang telah dirumuskan. Tari Galombang tetap eksis sampai saat sekarang dan aktif di tengah kehidupan masyarakat Koto Kociak yang berfungsi untuk upacara pesta perkawinan, upacara pengangkatan pengulu, dan upacara penyabutan tamu. Tari Galombang pada masyarakat di atas disajikan khusus oleh ibu ibu lansia, hal ini merupakan suatu fenomena yang perlu dibahas.This article aims to discuss Galombang dance of the Koto Kociak Nagari VII Koto Talago, Guguak District, Lima Puluh Kota Regency communities. This research is qualitative research with descriptive analytical method. In this case, researcher described what was obtained in the field and then analyzed it according to the problems related to social phenomena in the lives of the Galombang dance owner (communities). The theory used are the form theory by Nanik Sri Prihatini and function theory. The theory is used to answer the problems that have been formulated. Galombang dance still exists until now and active in the midst of the life of the Koto Kociak community. Which has a functions for wedding party ceremonies, the appointment ceremony for the penghulu, and also for the guest welcoming ceremony. Galombang dance on the community above is specifically presented by elderly woman, this is a phenomenon that needs to be discussed. 

MUSIK TARI KURENAH UWAIK UWAIK

MK, Asri

Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 13, No 2 (2017): Garak Jo Garik
Publisher : Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1083.947 KB)

Abstract

Paket Musik Tari Kurenah Uwaik-uwaik fungsional sebagai peringatan dan bahan renungan jika diusia senja terkadang tingkah laku dan pola hidup kembali seperti anak-anak, minta diperhatikan, dimanja dan terkadang sangat sensitif. Musik tari Kurenah Uwaik Uwaik terinspirasi dari tingkah laku nenek-nenek dalam kesibukan sehari-hari yang penuh dengan keunikan dan kelucuan yangmenggelitik lagi mengasyikkan. Istilah Uwaik-uwaik berasal dari sebutan untukpara ibu-ibu lanjut usia (lansia) di sekitar Danau Maninjau. Eksistensi kehidupansosial para Uwaik-uwaik ini cukup dinamis yang menyimbolkan sifat “tua-tuakeladi-makin tua makin menjadi” dan gambaran itulah yang sering terjadi dikehidupan lansia. Hasil karya Musik Iringan dari Tari Kurenah Uwaik-uwaikmerefleksikan memori terhadap dunia nenek-nenek yang termasuk fenomenal dimata para cucunya yang harus dihadapi dengan penuh kesabaran. The Kurenah Uwaik-uwaik dance and music package are functionally as awarning and reflection material, when human are aged, the behavior and lifepatterns are quite same as children. They ask for attention, they are spoiled, and sometimes very sensitive. Kurenah Uwaik Uwaik's dance and music is inspired by grandmother's behavior in daily routines, which is full of uniqueness and humor that intriguing and exciting. Uwaik-uwaik is a term that comes and used for elderly mothers (grandmother) around Lake Maninjau. The existence of the Uwaik-uwaik social life is quite dynamic which symbolizes the nature of thisphrase "tua-tua keladi-makin tua makin menjadi" and it is often happens in thelives of the elders. The work of Kurenah Uwaik-uwaik dance and music, reflectsthe memory about the world of grandmothers, which is phenomenal in the eyes of their grandchildren who must faced them with patience.

TARI KURENAH BERBASIS PERILAKU ANAK

Hardi, Hardi

Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 13, No 2 (2017): Garak Jo Garik
Publisher : Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (965.441 KB)

Abstract

Tulisan ini merupakan hasil karya tari inovatif yang bersumber dari gerak-geraksilat dan gerak keseharian perilaku anak.. Perwujudan karya tari tidak terlepasdaya imajinatif pengkarya sebagai masyarakat akademis dalam memahamifenomena sosial dalam kehidupan masyarakat terutama fenomena perilaku anak. Proses kreatif dalam pembentukan karya tari merupakan interpretasi darifenomena sosial budaya perilaku anak dalam bersosialisasi antar sesama. Dengan dasar ini karya tari yang bertemakan sosial diberi judul : Kurenah dengan landasan koreografi. Hasil karya disajikan dalam rangka Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) se kota Bukittinggi April 2017.This paper is a result of innovative dance work that comes from the motion ofmartial arts and the daily motion of children's behavior. The realization of danceworks is inseparable from the imaginative power of the creator as an academicsociety in understanding social phenomena in people's lives, especially thephenomenon of child behavior. The creative process in forming dance works is an interpretation of socio-cultural phenomena about children's behavior insocializing among others. On this basis a social theme dance is titled: Kurenahwith the basis of choreography. The work is presented in the framework of theNational Student Art Competition Festival (FLS2N) throughout the city ofBukittinggi in April 2017. 

EKSPRESI RUANG BALAIRUNG SARI

Putri, Popi Trisna

Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 13, No 1 (2017): Garak Jo Garik
Publisher : Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (369.002 KB)

Abstract

Ide garapan ini berangkat dari fenomena Balairung Sari  dilihat berdasarkan fungsinya. Zaman dahulu Balairung Sari merupakan tempat yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai adat yang ada di Minangkabau, dan berfungsi sebagai tempat musyawarah dalam membicarakan berbagai hal yang berkaitan dengan adat di Minangkabau. Seiring perkembangan zaman pada saat sekarang Balairung Sari tidak lagi difungsikan sebagaimana mestinya, jangankan untuk mengadakan musyawarah bahkan sebagaian masyarakatpun ada yang tidak mengetahui keberadaanya sama sekali. Penggarapan karya ini akan merekonstruksi kembali peristiwa aktifitas masyarakat dalam musyawarah yang dulu selalu dilaksanakan di Balairung Sari, guna untuk mengingatkan kembali kepada  masyarakat tentang fungsi Balairung Sari sesungguhnya. The idea of this work are from Balariung Sari phenomenon seen from the based of its function. In the past Balairung Sari is a place that highly upholds the values of adat that exist in Minangkabau, and serves as a place of deliberation in discussing about various matters relating to customs in Minangkabau. Along with its development, at present time Balairung Sari are no longer functioned properly as it was, even some of the society does not even know its existence at all. The cultivation of this work will reconstruct the events of society activity in deliberations that always held in Balairung Sari, in order to remind the community about the function of Balairung Sari.

BAILAU :RATAPAN KEMATIAN DI KAMPAI TABU KARAMBIA KOTA SOLOK SUMATERA BARAT DALAM PERSPEKTIF ISLAM

Atika, Desti

Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 13, No 1 (2017): Garak Jo Garik
Publisher : Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (306.333 KB)

Abstract

Tujuan artikel ini untuk memberi pesan bahwa meratapi mayat secara berlebihan haramkan oleh agama Islam. Bailau merupakan ritual menangisi mayat yang dilakukan oleh masyarakat Kota Solok sebagai sarana bagi pihak keluarga untuk mengenang jasat almarhumah yang dilakukan ketika seorang anak laki-laki meninggal dirantau yang jasadnya tidak bisa dikebumikan di kamapung halaman. Namun konteks meratapi mayat tersebut dilakukan secara berlebihan oleh keluarga dan masyarakat yang ditinggalkan, hal ini bertolak belakang dengan ajaran Islam dalam HR Muslim yang mengatakan  “Duahal yang ada pada manusia dan keduanya menyebabkan mereka kafir adalah mengingkari keturunan dan meratapi kematian”.Konsep yang lahir diatas merupakan sebuah bentuk penciptaan karya tari yang dituangkan dalam sebuah tulisan, dalam hal ini penulis membentuk suatu garap tari dengan mewujudkan sebuah karya tari berbentuk kontemporer dengan tujuan memberikan pesan dan apresiasi kepada masyarakat. Konsep garap mencakup : judul, tema, tipe,  gerak, penari, rias busana, seting dan property, musik iringan, tempat pertunjukan. Sedangkan metode garap yang dilakukan adalah: ekplorasi, improvisasi, pembentukan, evaluasi. The purpose of this article is to give the message that lamenting the corpse is excessively forbidden by Islam. Bailau is a ritual to mourn the corpses performed by the people in Solok City as a means for the family to commemorate the deceaseds body when a boy died in rantau whose body can not be buried in the hometown. But the context of bemoaning the corpse is over-done by the abandoned families and other communities, this is in contrast  to Islamic teachings, Muslim HR saying "Two things that exist in humans and both cause them to disbelieve are denying the offspring and mourn the death". The concept that was born from above topics is a form of dance creation that is poured in a writing, in this case the writer formed a dance work by realizing a contemporary dance work with the aim of giving a message and appreciation to the community. The concept works include: title, theme, type, motion, dancer, dressing, setting and property, music accompaniment, the venue. While the method is: exploration, improvisation, formation, evaluation

TARI SAGA BERBASIS SILAT SEBAGAI KARYA TARI INOVATIF

Hardi, Hardi

Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 13, No 1 (2017): Garak Jo Garik
Publisher : Garak Jo Garik : Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (395.985 KB)

Abstract

Tulisan ini merupakan hasil karya tari inovatif yang bersumber dari gerak-gerak  silat. Perwujudan karya tari  tidak terlepas dari faktor internal  sebagai dosen penampu mata kuliah silat dan faktor eksternal sebagai masyarakat akademis dalam memahami fenomena sosial dalam kehidupan masyarakat sekitar tempat tinggal pengkarya, yaitu Bukittinggi. Proses kreatif dalam pembentukan karya tari merupakan interpretasi dari fenomena sosial budaya masyarakat Minangkabau dan realisasi perilaku sosial masyarakat bersangkutan yaitu Tali Tigo Sapilin. Dengan dasar ini karya tari  yang bertemakan  kepahlawanan diberi judul : Tari Saga” berbasis silat dalam bentuk karya inovatif. Hasil karya disajikan dalam rangka Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) se kota Bukittinngi yang memperoleh peringkat 2 antar SLTA bulan Maret 2016. This paper is the result of innovative dance work that comes from silat motion. The manifestation of the work of dance is inseparable from internal factors as a lecturer of silat subjects and external factors as an academic society in understanding social phenomena in the life of the society around the writer residence, Bukittinggi. The creative process in formation of the dance is an interpretation from social phenomena in Minangkabau society and the realization of social behavior of the people, which is Tali Tigo Sapilin. Based on this, dance work that themed as an heroic dance are entitled: Dance Saga "based on silat in the form of innovative works. The work is presented in the National Student Art Competition Festival (FLS2N) on whole Bukittinngi city level, which is ranked 2nd among the entire high school in March 2016