cover
Filter by Year
Media Akuakultur
Media Akuakultur as source of information in the form of the results of research and scientific review (review) in the field of applied aquaculture including genetics and reproduction, biotechnology, nutrition and feed, fish health and the environment, and land resources in aquaculture.
Articles
274
Articles
PERTUMBUHAN BENIH IKAN BAUNG (Hemibagrus nemurus) HASIL DOMESTIKASI PADA LOKASI DENGAN KETINGGIAN BERBEDA

Subagja, Jojo, Prakoso, Vitas Atmadi, Arifin, Otong Zenal, Suparyanto, Yanto, Suhud, Endang Haris

Media Akuakultur Vol 13, No 2 (2018): (December, 2018)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Ikan baung (Hemibagrus nemurus) merupakan salah satu ikan asli yang terdapat di Indonesia. Ikan ini memiliki harga lebih tinggi dibandingkan beberapa jenis ikan lainnya yang telah populer di kalangan konsumen. Saat ini, ikan ini sedang pada program domestikasi dimana informasi mengenai lokasi yang sesuai untuk pemeliharaan ikan baung belum banyak dipelajari. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pertumbuhan benih ikan baung pada dua lokasi pemeliharaan dengan ketinggian yang berbeda. Penelitian dilakukan pada lokasi dengan ketinggian rendah (< 200 m dpl) di daerah Cijengkol dan lokasi dengan ketinggian sedang (200-400 m dpl) di daerah Maleber, Jawa Barat. Benih ikan baung hasil domestikasi (bobot: 21,62 ± 0,57 g) ditebar pada tiga buah jaring masing-masing berukuran 2 m x 2 m x 1 m dengan padat tebar 15 ekor/m3 di kolam berukuran 40 m x 20 m yang terletak pada masing-masing lokasi pengujian. Ikan diberi makan dengan pakan komersial (30% protein) sebanyak 5% biomassa per hari dengan frekuensi pemberian pakan dua kali sehari selama 180 hari masa pemeliharaan. Kualitas air yang diamati meliputi suhu, oksigen terlarut, dan pH. Parameter yang diukur yaitu pertambahan panjang, pertambahan bobot, laju pertumbuhan spesifik, rata-rata pertumbuhan harian, pertambahan biomassa, rasio konversi pakan, dan sintasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa benih ikan baung yang dipelihara pada ketinggian < 200 m dpl menunjukkan pertambahan bobot dan biomassa yang lebih baik (30,93 ± 2,29 g dan 7,44 ± 0,79 kg) dibandingkan jika dipelihara pada ketinggian 200-400 m dpl (22,32 ± 1,26 g dan 5,97 ± 0,65 kg) (P<0,05). Rasio konversi pakan pada ikan baung yang dipelihara pada dataran rendah lebih rendah (2,37) dibandingkan jika dipelihara pada dataran sedang (2,68). Suhu air pada ketinggian < 200 m dpl lebih tinggi dibandingkan pada ketinggian 200-400 m dpl (P<0,05). Benih ikan baung tumbuh lebih optimal jika dipelihara di daerah dataran rendah, karena pada daerah tersebut memiliki suhu lebih tinggi yang dapat memengaruhi laju pertumbuhan.Asian redtail catfish (Hemibagrus nemurus) is one of Indonesia’s native fish species. This species has a higher commercial value compared to some other fish species already popular among consumers. The fish is currently under a domestication program which information regarding the suitable rearing location has yet to be established. This research was aimed to study the growth of Asian redtail catfish fingerlings reared in two different-altitude locations. The evaluate was conducted at low-altitude location (< 200 m above sea level) in Cijengkol area and mid-altitude location (200-400 m above sea level) in Maleber area, West Java. In each location, the fingerlings of domesticated Asian redtail catfish (weight: 21.62 ± 0.57 g) were stocked in three net cages sized 2 m x 2 m x 1 m in a pond (40 m x 20 m) with a stocking density of 15 fish/m3 per net cage. The fingerlings were fed with commercial feed (30% protein) of 5% fish biomass per day with feeding frequency twice a day for the period of 180 days. The water quality parameters observed were temperature, dissolved oxygen, and pH. The measured experimental parameters were length gain, weight gain, specific growth rate, average daily growth, biomass gain, feed conversion ratio, and survival rate. The results showed that the fish reared at <200 m above sea level had better weight and biomass gains (30.93 ± 2.29 g and 7.44 ± 0.79 kg) than that of the fish reared at 200-400 m above sea level (22.32 ± 1.26 g and 5.97 ± 0.65 kg) (P<0.05). The feed conversion ratio of fingerlings reared at the low-altitude location was lower (2.37) than those of the mid-altitude location (2.68).The water temperature at < 200 m above sea level was significantly higher than that of 200-400 m above sea level (P<0.05). The growth of Asian redtail catfish fingerlings is more optimal in lowland areas due to higher water temperature accelerating the fish growth rate.

IDENTIFIKASI POTENSI KESESUAIAN PERAIRAN UNTUK BUDIDAYA RUMPUT LAUT DI TELUK MULUT SERIBU, ROTE NDAO, NUSA TENGGARA TIMUR

Andayani, Ariani, Pamungkas, Amin

Media Akuakultur Vol 13, No 2 (2018): (December, 2018)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Rumput laut merupakan salah satu komoditas unggulan sektor perikanan. Salah satu sentra budidaya rumput laut yang akan dikembangkan adalah Kabupaten Rote Ndao, yang memiliki ketersediaan perairan potensial untuk pengembangan budidaya rumput laut. Kajian kesesuaian perairan untuk budidaya rumput laut perlu dilakukan untuk keberlanjutan budidaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji karakteristik dan kesesuain perairan untuk pengembangan budidaya rumput laut di Teluk Mulut Seribu, Rote Ndao. Pengambilan data kualitas perairan dilakukan dengan pengukuran langsung dan mengambil sampel untuk dianalisis di laboratorium. Distribusi spasial kualitas perairan di area kajian diinterpolasi menggunakan metode IDW dengan perangkat lunak ArcGIS. Ada 4 parameter yang diperhitungkan dalam analisis spasial, yaitu: kedalaman, kecepatan arus, kecerahan dan alur layar, yang ditumpangsusun tanpa pembobotan untuk mendapatkan peta kesesuaian. Sementara itu beberapa parameter lainnya tidak masuk dalam analisis spasial karena kisaran nilainya sudah sesuai untuk budidaya rumput laut. Hasil penelitian menunjukan bahwa kesesuaian lahan untuk budidaya rumput laut di perairan Mulut Seribu mencapai 56% atau 497,68 hektar dari 879,18 hektar area kajian. Area yang sesuai untuk budidaya rumput laut tersebut memiliki potensi panen hingga 50 ton per siklus.Seaweed is one of the leading commodities in fisheries sector. In Rote Ndao regency, plans to develop seaweed aquaculture centers have been advised considering the regency’s potential coastline areas for seaweed farms. However, a site suitability study is needed to determine if the area is suitable for seaweed aquaculture to ensure its long term sustainability. This study was aimed to examine the characteristics and suitability of Teluk Mulut Seribu waters in Rote Ndao for seaweed cultivation. Data collection on water quality parameters was done via in-situ measurement and samples were collected to be analysed ex-situ in the laboratory. The full extent of spatial distributions of water quality parameters was determined using IDW interpolation tool available in ArcGIS. The four parameters used in the spatial analysis, namely: depth, current velocity, brightness, and sea transportation line were overlaid using non-weighted arithmetic mean operation to create a final composite of suitability map. The other measured parameters were not included in the spatial analysis because the value ranges were considered suitable for seaweed cultivation. The results showed that 56% or 497.68 ha from 879.18 ha of seascape in Teluk Mulut Seribu are suitable for seaweed farming.This study recommends that these suitable areas can be used for seaweed aquaculture with a predicted harvest potential up to 50 ton per culture cycle.

SALMON GONADOTROPIN RELEASING HORMONE ANALOGUE STIMULASI PEMATANGAN SPERMATOFOR UDANG WINDU (Penaeus monodon) APKIRAN TANPA ABLASI

Trismawanti, Ike, Nawang, Agus, Laining, Asda

Media Akuakultur Vol 13, No 2 (2018): (December, 2018)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Penggunaan induk pada pembenihan udang windu pada dasarnya hanya untuk periode yang singkat dan selanjutnya induk udang windu diapkir baik betina maupun jantan. Tujuan penelitian ini untuk mengevaluasi efek injeksi hormon kombinasi salmon gonadotrophin releasing hormone analogue (sGnRH-a) dan domperidone terhadap karakteristik spermatofor induk udang windu, Penaeus monodon yang telah diapkir dari unit pembenihan tanpa ablasi tangkai mata. Dua tahap penelitian dilakukan pada udang windu jantan yang diapkir dari unit pembenihan. Tahap pertama terdiri atas dua dosis 0,1 (OV-1) dan 0,2 (OV-2) mL/kg bobot udang dan ablasi mata (AB) sebagai kontrol. Pada tahap ke-2, dosis yang diaplikasikan adalah dosis terbaik dari tahap ke-1 (OV-3) dan ablasi sebagai kontrol (AB). Induk jantan apkir ditebar masing-masing dengan kepadatan 14 ekor untuk tahap ke-1 dan 12 ekor pada tahap kedua. Injeksi dilakukan tiga kali dengan interval satu minggu untuk kedua percobaan tersebut. Seminggu setelah suntikan terakhir, induk jantan diberi kejutan listrik untuk mengeluarkan spermatofornya. Pada percobaan pertama, jumlah induk jantan yang mengeluarkan spermatofor pada maturasi dan rematurasi pertama lebih banyak ditemukan pada perlakuan OV-2 daripada OV-1 dan AB. Induk jantan pada perlakuan OV-3 pada tahap ke-2 menghasilkan lebih banyak spermatofor (58,3%) dibandingkan dengan AB (50%). Hubungan antara bobot badan dan bobot spermatofor untuk total data pada tahap ke-1 sifatnya linier dengan nilai r= 0,74 sedangkan hubungan antara bobot spermatofor dan jumlah spermatozoa sifatnya tidak linier dengan nilai r= 0.14. Induk apkiran jantan udang windu masih dapat memproduksi spermatofor melalui stimulasi injeksi hormon sGnRH-a pada dosis 0,2 mL/kg bobot udang relatif lebih banyak dibandingkan ablasi.Broodstocks in black tiger hatcheries are commonly used for only a short period of time. Both female and male broodstocks are discarded due to reduced spawning frequencies. This recent study was an effort to explore whether discarded broodstocks could be re-maturated without eyestalk ablation. For the research purpose, a two-stage experiment was conducted on discarded male tiger shrimps to evaluate the effect of sGnRH-a injection on the shrimp reproductive performances. In the first stage, the experiment consisted of injection treatment of different doses of sGnRH-a at 0.1 (OV-1) and 0.2 (OV-2) mL/kg and eyestalk ablation (AB) as a control. For the second stage, the treatment consisted of injection of sGnRH-a optimum dose obtained from the first trial (0.2 mL/kg shrimp (OV-3) and ablation as the control (AB). The treated male stocks were then randomly placed in concrete tanks with a density of 14 males/tank for the first stage and 12 males for the second stage. The injections were carried-out three times with an interval of one week for both stages. A week after the last injection, males were electrically shocked to release their spermatophores. In the first stage, the number of males releasing spermatophores at maturation and first re-maturation was higher in OV-2 treatment than that of OV-1 and AB treatments. In the second trial, the number of males in OV-3 treatment released more spermatophore (58.3%) compared to AB which was 50%. The body and spermatophore weights correlation of the discarded tiger shrimp in the first trial followed a positive linear with an r-value of 0.74. However, the spermatophore weight and the sperm cell number was not positively correlated with an r-value of 0.14. The discarded male tiger shrimps produced a relatively higher spermatophore when induced with sGnRHa at a dose of 0.2 mL/kg than those of shrimp treated with ablation.

KELAYAKAN PENGGUNAAN PROBIOTIK RICA KEMASAN SERBUK UNTUK PEMELIHARAAN PASCA LARVA UDANG WINDU Penaeus monodon DALAM BAK TERKONTROL

Tampangallo, Bunga Rante, Trismawanti, Ike, Muliani, Muliani

Media Akuakultur Vol 13, No 2 (2018): (December, 2018)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Probiotik RICA kemasan cair telah diaplikasikan pada pemeliharaan udang windu P. monodon maupun vaname Litopenaeus vannamei. Namun, probiotik kemasan cair dirasa banyak mengalami kendala dalam hal pengiriman. Alternatif bentuk kemasan yang saat ini sedang dikaji adalah bentuk kemasan serbuk. Penelitian ini bertujuan mengetahui viabilitas probiotik RICA setelah dikemas dalam bentuk serbuk, waktu penyimpanan, serta pengaruhnya terhadap sintasan dan pertumbuhan benih udang windu yang dipelihara dalam bak terkontrol. Penelitian dilakukan dalam dua tahap, yakni penepungan probiotik, pengamatan populasi probiotik, dan aplikasinya pada pemeliharaan udang windu. Wadah pemeliharaan udang windu menggunakan bak fiber volume 500 liter. Udang uji yang digunakan adalah udang windu PL-12 dengan kepadatan 200 ekor per bak. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap empat perlakuan tiga ulangan. Perlakuan menggunakan probiotik serbuk RICA-4 (A), (B) probiotik RICA-5, (C), probiotik RICA-1, dan (D) tanpa probiotik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa populasi probiotik RICA setelah diserbukkan berkisar 107 sel/mL. Sintasan, bobot, dan panjang udang windu setelah dipelihara selama 48 hari dengan menggunakan probiotik RICA serbuk belum memberikan hasil yang signifikan (P>0,05), namun pemberian probiotik RICA telah meningkatkan total hemolim udang windu secara signifikan (P<0,05) dibanding kontrol. Pada aplikasi probiotik ini terjadi pertumbuhan lumut dalam bak pemeliharaan akibat penggunaan tepung kanji sebagai filler.RICA probiotics have been tested in multiple farms of black tiger shrimp P. monodon and whiteleg shrimp Litopenaeus vannamei with some promising results. However, the probiotics’ distribution in the form of liquid faces some limitations due to transportation regulations involving liquid-based substances. A powder form might be an easy and secure alternatively for the distribution of the probiotics via airplane. The purpose of the study was to observe the viability of RICA probiotics after powdering and storage as well as their influences on the survival and growth rates of black tiger shrimp reared in controlled tanks. The study was conducted in three stages which were the powdering of the probiotic, observation of the probiotics’ bacteria population, and its application in shrimp rearing. The research was designed in a completely randomized design where 200 shrimps aged PL-12 reared in each tank and applied with three different powder probiotics namely (A) RICA-4, (B) RICA-5, and (C) RICA-1 as the treatments, and (D) without adding probiotic as a control. The result showed that the probiotic population after powdering ranged around 107 cells/mL. The survival rate, body length, and weight of shrimps after 48 days of rearing showed insignificant results (P>0.05) among the treatment. However, RICA-1 had an increase in the total of hemocytes of the shrimps (P<0.05) compared to control. The emergence of moss in the containers became a constraint during the experiment.

Front Matter

suprapti, suprapti

Media Akuakultur Vol 13, No 2 (2018): (December, 2018)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

PREVALENSI INFEKSI VIRAL NERVOUS NECROSIS (VNN) DAN IRIDOVIRUS PADA HATCHERI DAN BUDIDAYA IKAN LAUT

Sembiring, Sari Budi Moria, Wibawa, Gigih Setia, Mahardika, Ketut, Widiastuti, Zeny, Haryanti, Haryanti

Media Akuakultur Vol 13, No 2 (2018): (December, 2018)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Piscine nodavirus sebagai penyebab penyakit VNN (Viral Nervous Necrosis) dan iridovirus merupakan jenis virus yang dikenal menjadi penyebab utama kematian ikan laut yang dibudidayakan. Virus ini mampu menginfeksi ikan dari ukuran benih sampai ukuran konsumsi dan dalam waktu dua minggu, kematian mencapai 80% sampai 100%. Pada pembenihan larva dan benih ikan dalam skala rumah tangga ataupun hatcheri lengkap di sepanjang pantai di wilayah Bali Utara sering mengalami infeksi VNN dan iridovirus Namun, informasi terjadinya infeksi belum didata dengan baik. Tujuan penelitian ini untuk memperoleh data dan informasi mengenai peta infeksi atau serangan virus pada pembudidaya/pembenihan ikan sepanjang tahun 2017 di Bali Utara. Sampling dilakukan pada bulan Februari, Mei, Agustus, dan Oktober. Di samping melakukan sampling, juga dilakukan input data dari hasil analisis sampel di laboratorium bioteknologi yang diperoleh dari pemilik hatcheri/pembudidaya ikan. Analisis VNN menggunakan metode IQPlus sedangkan analisis iridovirus dengan metode PCR konvensional dengan primer spesifik. Parameter yang diamati adalah prevalensi VNN dan iridovirus dari setiap hatcheri dan keramba jaring apung. Sebagai data penunjang pengukuran parameter kualitas air berupa suhu, salinitas, amoniak, dan nitrit yang dilakukan pada saat pengambilan sampel benih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat infeksi VNN di hatcheri Bali utara terjadi di bulan September sebesar 33,3% dan iridovirus pada bulan Agustus mencapai 18,61%. Sedangkan tingkat prevalensi VNN tertinggi di KJA terjadi pada bulan Oktober mencapai 83,4% dan puncak infeksi iridovirus terjadi di bulan Februari dengan nilai prevalensi sebesar 50,0%.VNN and iridovirus are viral diseases causing the highest mortality in mariculture. These viruses are able to infect eggs, larvae, juveniles and even marketable size fish. They can cause 80% to 100% mortality in just two weeks. Larvae or fingerlings in small or big scale hatcheries in Northern Bali were frequently infected by VNN or Iridovirus. Unfortunately, information about the local disease outbreaks was not well documented. The aim of this research was to collect data and information about the infection of these viruses in hatcheries and floating net cage mariculture in Northern Bali during 2017. Sampling was conducted in February, May, August, and October, 2017. In addition to the primary data from the field activities, disease infection secondary dataset from the fish farmers who analyzed their infected fish in our laboratory were also used. The identification of VNN infection was performed following IQPlus method while Iridovirus was tested using the conventional PCR method with specific primers. The parameters observed were the VNN and Iridovirus prevalence in each hatchery and floating net cage. Water quality parameters were measured in situ such as temperature, salinity, ammonia, and nitrite. The results showed that infection of VNN in hatcheries at Northern Bali, the highest infection was found in September as high as 33.3% and Iridovirus in August at 18.61%. While in Floating Net Cage the highest infection for VNN was found in October with value of 83.4% and Iridovirus was found in February with value of 50.0%.  

Back Matter

suprapti, suprapti

Media Akuakultur Vol 13, No 2 (2018): (December, 2018)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

PERBANYAKAN TANAMAN HIAS AIR Bacopa australis SECARA IN VITRO PADA BERBAGAI FORMULASI HORMON MEDIA PERTUMBUHAN

Yunita, Rossa, Lestari, Endang Gati, Mastur, Mastur, Nugraha, Media Fitri Isma

Media Akuakultur Vol 13, No 2 (2018): (December, 2018)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Suksesnya pembentukan indukan (mother plant) tanaman hias air Bacopa australis pada penelitian sebelumnya, mendorong perbanyakan tanaman dengan menggunakan teknik kultur in vitro secara massal untuk menghasilkan bibit Bacopa australis dalam jumlah yang banyak dan relatif lebih cepat. Tujuan penelitian adalah mendapatkan formulasi media yang tepat untuk induksi tunas, multiplikasi tunas, dan induksi perakaran yang cepat secara in vitro dari Bacopa australis. Penelitian ini terdiri atas tiga tahapan kegiatan, yaitu induksi tunas, multiplikasi tunas, dan induksi akar. Hasil penelitian menunjukkan formulasi media yang terbaik induksi tunas Bacopa australis secara in vitro adalah MS + BA 0,3 mg/L. Formulasi media yang optimal untuk multiplikasi tunas adalah MS + BA 0,5 mg/L + Thidiazuron 0,1 mg/L dan induksi perakaran adalah MS + IBA 0,5 mg/L.The successful establishment of mother plant Bacopa australis in the previously related research opens an opportunity to produce relatively fast and in large quantities Bacopa australis seeds using in vitro mass culture techniques. The objective of the study was to determine suitable formulated media for shoot induction, shoot multiplication, and root induction of Bacopa australis. This study consisted of three research stages, namely shoot induction, shoot multiplication, and root induction. The results showed that the best formulated media for in vitro Bacopa australis shoot induction was MS + BA 0.3 mg/L. The optimal formulated media for shoot multiplication was MS + BA 0.5 mg/L + Thidiazuron 0.1 mg/L and for root induction was MS + IBA 0.5 mg/L.

IDENTIFIKASI MUSIM PRODUKTIF RUMPUT LAUT Eucheuma striatum DI PERAIRAN GORONTALO UTARA

Ratnawati, Pustika, Pong-Masak, Petrus Rani

Media Akuakultur Vol 13, No 1 (2018): (Juni, 2018)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Minimnya informasi di tingkat pembudidaya mengenai waktu tanam yang produktif sesuai spesifikasi lokasi dan perubahan musim membuat produktivitas lahan dikelola kurang optimal. Identifikasi terkait dengan musim optimal dalam pemanfaatan lahan secara produktif sebagai bagian dari manajemen budidaya perlu dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan musim produktif rumput laut Euchuema striatum di wilayah perairan Teluk Langge, Gorontalo Utara. Penelitian dilakukan pada bulan Januari-Desember 2015 di Desa Langge, Kabupaten Gorontalo Utara. Unit percobaan disusun dengan rancangan acak kelompok pada tiga zona lokasi budidaya sebagai perlakuan, dengan tiga kali ulangan. Zona-1 berdekatan dengan daratan (jarak: 100-200 m), zona-2 dengan estimasi jarak 500-600 m, dan zona-3 di bagian ujung teluk dengan jarak 1.000-1.500 m dari daratan utama. Indikator utama yang diamati adalah pertumbuhan, penyakit, dan kualitas perairan. Rumput laut Eucheuma striatum yang dibudidaya dengan metode longline dengan bobot awal tanam 50 g/rumpun dan panjang tali ris 35 m. Pada setiap bentangan diberi penanda/label sebanyak 10 titik dan dilakukan pengamatan setiap interval waktu 45 hari. Hasil pengamatan selama tujuh siklus budidaya menunjukkan bahwa musim produktif rumput laut E. striatum di perairan Teluk Langge terjadi pada bulan Juni hingga September. Pertumbuhan rumput laut terbaik pada kawasan budidaya adalah yang dekat dengan daratan.Limited information available to seaweed farmers regarding the optimum planting time at a certain location and adaptation to seasonal changes contributed to low seaweed productivity. Therefore, an accurate planting calendar to optimize the use of productive coastal areas is vitally needed as part of the sustainable management of seaweed cultivation. The purpose of this study was to identify the productive season for Euchuema striatum in the Langge Bay water, North Gorontalo. The study was conducted from January to December 2015 in the Langge Village, North Gorontalo Regency. The experiment units consisted of three farming zone treatments with three replicates arranged in a block randomized design. Each farming zone was situated perpendicular to and at a certain distance from the shoreline (zone-1 = 100-200 m, zone-2 = 500-600 m, and zone-3= 1,000-1,500 m). The main variables measured were growth, disease occurrence, and water quality. Eucheuma striatum seeds were cultivated using a long-line method which the length of the main ropes used was 35 m and the initial seed weight was 50 g. Along each of the main rope, 10 seeds were marked, labelled and observed at every culture cycle (45 days) and lasted for 7 cycles. The results of observation suggested that the productive season for E. striatum is from June to November. The best area for an optimum seaweed growth in the study region is on the area close to the shoreline (zone-1).

aplikasi protein sel tunggal dan “spent grains” dalam FORMULASI PAKAN untuk pemeliharaan kerapu hibrid (Epinephelus fuscoguttatus x Epinephelus polypekadion)

Andriyanto, Wawan, Giri, Nyoman Adiasmara, Marzuqi, Muhammad

Media Akuakultur Vol 13, No 1 (2018): (Juni, 2018)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Sumber protein alternatif berupa protein sel tunggal (PST) dari sisa produksi bumbu penyedap dan “spent grains” dari sisa produksi minuman bir memiliki kandungan protein yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan dosis terbaik dari penggunaan dua sumber bahan tersebut terhadap pertumbuhan dan sintasan ikan kerapu hibrid (kerapu cantik). Empat pakan uji diformulasikan dengan menambahkan kombinasi tepung spent grains dan PST untuk menggantikan protein dari tepung ikan sebesar (A) 0%, (B) 30%, (C) 40%, dan (D) 50%. Uji pakan dilakukan di keramba jaring apung menggunakan 12 jaring berukuran 2 m x 2 m x 2 m. Bobot awal ikan kerapu cantik yang digunakan adalah 63 ± 0,6 g dan ditebar dengan kepadatan 253 ekor/jaring. Pakan uji diberikan dua kali sehari secara satiasi. Data yang diamati adalah pertumbuhan (bobot dan panjang), sintasan, dan konversi pakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pakan A (0%) menghasilkan berat akhir sebesar 299,6 ± 27,0 g lebih baik dan berbeda nyata (P<0,05) dari perlakuan C (40%) dan D (50%), namun tidak berbeda nyata (P>0,05) dengan perlakuan pakan B (30%), yaitu 287,4 ± 5,3 g. Hasil ini menunjukkan bahwa substitusi protein tepung ikan dengan campuran protein dari PST dan spent grains pada pakan pembesaran kerapu hibrid dapat dilakukan sampai level 30%.Single cell protein left-over from seasoning factory and spent grains from brewery waste are potential as high protein sources for animal feed. This study was aimed to obtain an optimal supplementation dose of the two ingredients in relation to the growth and survival rate of hybrid grouper (Cantik grouper). Four test feeds were formulated by mixing different combinations of single cell protein and spent grains to replace fishmeal protein content in the feed at 0%, 30%, 40%, and 50%. The feeding trials were conducted at a floating net cage consisted of 12 netpens sized 2 m x 2 m x 2 m. The initial mean weight of hybrid grouper was 63 ± 0.6 g. The fish were stocked at a density of 253 fish/netpen. Feed treatments were given at satiation two times a day. Parameters of growth (final body weight and length), survival rate, and feed conversion were observed. The results showed that fish in treatment A (0%) gained the final body weight of 299.6 ± 27.01 g which was significantly different (P<0.05) with that of treatment C and D, but not significantly different with fish in treatment B (30%), with the mean weight gain of 287.4 ± 5,3 g. Fish in treatment B (30%) showed better growth response and survival rate than that of treatment C (40%) and D (50%). The result also indicated that fish fed with treatment B feed (30%) had not different a mean final body weight with the control feed. This study suggested that a combination of single cell protein and spent grains to substitute fish meal in grow-out feed for hybrid grouper could be applied up to 30%.