cover
Contact Name
Suprapti
Contact Email
Suprapti
Phone
-
Journal Mail Official
jra.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Riset Akuakultur
ISSN : 19076754     EISSN : 25026534     DOI : -
Jurnal Riset Akuakultur as source of information in the form of the results of research and scientific review (review) in the field of various aquaculture disciplines include genetics and reproduction, biotechnology, nutrition and feed, fish health and the environment, and land resources in aquaculture.
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue " Vol 7, No 2 (2012): (Agustus 2012)" : 12 Documents clear
PEMBERIAN EKSTRAK ENZIM KASAR DARI CAIRAN RUMEN DOMBA PADA TEPUNG BUNGKIL KEDELAI LOKAL DAN PENGARUHNYA TERHADAP PERTUMBUHAN IKAN NILA Kurniasih, Titin; Fitriliyani, Indira; Azwar, Zafril Imran
Jurnal Riset Akuakultur Vol 7, No 2 (2012): (Agustus 2012)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (104.738 KB) | DOI: 10.15578/jra.7.2.2012.247-256

Abstract

Kendala utama yang dihadapi dalam upaya pencarian bahan baku lokal sumber protein alternatif untuk mendapatkan pakan yang ekonomis dan efisien antara lain kualitas bahannya yang tidak sebaik tepung ikan dan tepung bungkil kedelai impor. Enzim protease, amylase, dan selulase bermanfaat untuk meningkatkan kecernaan bahan baku yang mengandung protein kompleks, karbohidrat, dan serat yang tinggi. Cairan rumen ternak domba telah dideteksi banyak mengandung enzim yang dapat membantu meningkatkan kecernaan bahan baku nabati. Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan sumber enzim alamiah yang murah dan tersedia cukup banyak di Indonesia, yaitu cairan rumen domba, untuk menghidrolisis bahan baku tepung bungkil kedelai lokal (TBKL). Penelitian ini terdiri atas dua tahap yaitu in vitro dan in vivo. Penelitian in vitro bertujuan mengevaluasi kadar produk hidrolisis yang dihasilkan setelah TBKL diinkubasi dengan ekstrak enzim kasar dari cairan rumen domba (EEK CRD) dengan dosis 0, 200, 400, 600, dan 800 mL/kg TBKL, dan hasilnya adalah bahwa kadar total gula dan protein terlarut pada TBKL terhidrolisis meningkat apabila konsentrasi EEK CRD bertambah. Penelitian in vivo bertujuan menguji pemakaian TBKL yang telah dihidrolisis dengan dosis yang terpilih (dosis 800 mL EEK CRD/kg TBKL) dalam formulasi pakan ikan nila dengan 5 perlakuan dan 3 ulangan. Ikan uji adalah nila berukuran rata-rata 2,48 ± 0,0183 g per ekor, dan dipelihara di 15 akuarium berukuran 50 cm x 60 cm x 50 cm yang diisi masing-masing 10 ekor selama 40 hari percobaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan TBKL terhidrolisis dalam formulasi pakan menghasilkan peningkatan signifikan (P<0,05) pada parameter efisiensi pakan dibandingkan pakan kontrolnya, tetapi tidak signifikan (P>0,05) untuk parameter laju pertumbuhan, konsumsi pakan, retensi protein, dan retensi lemak. Tidak ada perbedaan signifikan (P>0,05) untuk tingkat sintasan di antara kelima perlakuan. EEK CRD dapat meningkatkan efisiensi pemanfaatan pakan melalui predigestion terhadap nutrien protein kompleks dan karbohidrat dalam suatu bahan.
PENGEMBANGAN BUDIDAYA IKAN LELE DI KAWASAN MINAPOLITAN KABUPATEN BOGOR, JAWA BARAT: ASPEK KESESUAIAN LAHAN, IMPLEMENTASI PRODUKSI, DAN STRATEGI PENGEMBANGAN Radiarta, I Nyoman; Subagja, Jojo; Saputra, Adang; Erlania, Erlania
Jurnal Riset Akuakultur Vol 7, No 2 (2012): (Agustus 2012)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1301.279 KB) | DOI: 10.15578/jra.7.2.2012.307-320

Abstract

Pengembangan kawasan minapolitan harus didukung dengan ketersediaan data dan informasi di antaranya potensi lahan serta dukungan strategi pengembangannya. Kabupaten Bogor telah ditetapkan sebagai satu wilayah pengembangan minapolitan ikan lele. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengembangan budidaya ikan lele di kawasan minapolitan Kabupaten Bogor dengan melihat aspek kesesuaian lahan, implementasi produksi, dan strategi pengembangannya. Survai lapangan telah dilakukan pada bulan Juni 2011. Kesesuaian lahan dianalisis secara spasial dengan mengadopsi 1-3 sistem skor, 1 adalah kurang sesuai, dan 3 adalah sangat sesuai. Dari total potensial lokasi pengembangan sebesar 28.519 ha menunjukkan kategori sangat sesuai dan sesuai ditemukan sebesar 20.854 ha. Lokasi ini tersebar merata di empat kecamatan minapolitan. Dengan memanfaatkan sekitar 20% dari luasan yang ada, produksi ikan lele (pembesaran) per siklusnya sekitar 625.620 ton dengan semi-intensif atau 93.317 ton dengan tradisional. Beberapa strategi pengembangan budidaya ikan lele yang terbagi menjadi tiga segmen perlu diperhatikan guna mendukung kesuksesan program minapolitan ini.
PERAN GEN AIM1 DAN INTENSITAS CAHAYA TERHADAP KARAKTER POLA PIGMEN IKAN BADUT HITAM (Amphiprion percula) Kusumawati, Daniar; Permana, S.; Setiawati, Ketut Maha; Haryanti, Haryanti
Jurnal Riset Akuakultur Vol 7, No 2 (2012): (Agustus 2012)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (203.693 KB) | DOI: 10.15578/jra.7.2.2012.205-219

Abstract

Pola pigmen merupakan faktor utama yang menentukan tingginya kualitas ikan hias. Pada benih-benih F1 populasi budidaya ikan badut hitam (Amphiprion percula) diketahui mengalami degeneratif pola pigmen yang menyimpang dibandingkan dengan populasi di alam. Pola pigmen merupakan salah satu karakter fenotip yang diturunkan di mana ekspresinya bergantung pada interaksi genetik dengan faktor eksternal yaitu lingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji peran gen yaitu Aim1 yang mengontrol sintesis melanin dan kondisi lingkungan dalam menginduksi pola pigmen hitam ikan badut hitam (Amphiprion percula). Analisis gen Aim1 dilakukan dengan menggunakan program speedy PCR dilanjutkan dengan SSCP (single strand confirmation polymorphism) untuk mengidentifikasi variasi genetik dari gen Aim1. Analisis SDS Page dilakukan untuk mengetahui peranan lingkungan terhadap profil protein yang disintesis. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa primer Aim1 memiliki sisi pengenalan pada whole genom ikan badut hitam (Amphiprion percula) pada target sequence 45 bp. Berdasarkan analisis SSCP profil fragmentasi amplicon primer Aim1 pada masing-masing tingkatan pada populasi budidaya homolog dengan populasi alam, sehingga gen Aim1 bukan merupakan gen yang mengontrol fenomena degeneratif pola pigmen ikan badut hitam (Amphiprion percula). Peran lingkungan yaitu cahaya memberikan pengaruh positif dalam menginduksi pola pigmen melalui stimulus pada sistem neuron dan migrasi melanophore.
PENGEMBANGAN TEKNIK DIAGNOSA PENYAKIT EPIZOOTIC ULCERATIVE SYNDROME (EUS) PADA IKAN MELALUI PENDEKATAN GEJALA KLINIS, ISOLASI PATOGEN, HISTOPATOLOGIS Nurdin, Ade; Puspasari, Khumaira; Nurdian, Eka; Asri, Tina Y.; Taukhid, Taukhid
Jurnal Riset Akuakultur Vol 7, No 2 (2012): (Agustus 2012)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (178.305 KB) | DOI: 10.15578/jra.7.2.2012.257-267

Abstract

Epizootic Ulcerative Syndrome (EUS) adalah penyakit pada ikan yang disebabkan oleh infeksi jamur parasitik Aphanomyces invadans. Penelitian ini bertujuan untuk mendiagnosa patogen penyebab penyakit EUS melalui perpaduan 3 (tiga) basis pendekatan, yaitu: (1) gejala klinis, (2), isolasi patogen, dan (3) histopatologis. Sebanyak 30 ekor ikan uji diinfeksi spora jamur A. invadans secara buatan sebanyak 100 spora/ekor ikan melalui penyuntikan secara intra muskular (IM), dan 30 ekor lainnya diinjeksi dengan phosphate buffered saline (PBS) sebagai kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gejala klinis yang muncul adalah timbulnya bercak-bercak merah pada tubuh ikan, selanjutnya berkembang menjadi ulser (ulcer) karena invasi hifa cendawan ke dalam otot/daging ikan. Hasil isolasi jamur dari ulser ditemukan adanya hifa aseptat dengan diameter 7,5-10,0 μm; memproduksi zoospora primer berbentuk cluster achloyd dan zoospora sekunder berbentuk biflagellata. Secara histopatologis ditemukan adanya invasi hifa dan sel granuloma (mycotic dermatitis granulomatosis).
KERAGAAN BENIH IKAN PATIN SIAM (Pangasianodon hypophthalmus) YANG DITEBAR SECARA LANGSUNG DI KOLAM PADA UMUR BERBEDA Ariyanto, Didik; Tahapari, Evi; Sularto, Sularto
Jurnal Riset Akuakultur Vol 7, No 2 (2012): (Agustus 2012)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (110.189 KB) | DOI: 10.15578/jra.7.2.2012.159-170

Abstract

Budidaya ikan patin siam mengalami perkembangan yang cukup pesat sejakkeberhasilan pemijahan buatan pada tahun 1981. Pada pelaksanaannya, pembenihan ikan patin siam dilakukan secara indoor hatchery. Dalam sistem tersebut, dibutuhkan nauplii Artemia sebagai pakan awal larva ikan patin siam yang dilanjutkan dengan pemberian Moina dan Daphnia beku serta cacing darah (Tubifex) sebelum pemberian pakan buatan. Hal ini mengakibatkan adanya ketergantungan usaha pembenihan ikan patin siam terhadap pasokan beberapa jenis pakan alami tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi keragaan ikan patin siam yang ditebar di kolam pendederan pada umur yang berbeda. Sasaran yang akan dicapai adalah menghilangkan ketergantungan pembenihan ikan patin siam terhadap pasokan beberapa jenis pakan larva ikan patin siam dan disubstitusi dengan pakan alami yang ada di kolam. Pada percobaan ini, larva patin siam ditebar pada umur 5, 10, dan 15 hari setelah menetas. Larva ditebar di kolam pendederan seluas 200 m2 dengan kepadatan 100 ekor/m2. Pemeliharaan dilakukan selama 2 bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa benih ikan patin siam yang ditebar di kolam pada umur 5 hari setelah menetas mempunyai laju pertumbuhan spesifik sebesar 11,12% lebih baik daripada benih ikan patin siam yang ditebar pada umur 10 dan 15 hari setelah menetas, yaitu sebesar 8,41% dan 8,65%. Namun demikian, bobot individu (9,81-12,32 g), biomassa panen (118,77-141,91 kg) serta sintasan (54,53%-71,49%) pada akhir percobaan tidak berbeda nyata.
KARAKTERISTIK, KESESUAIAN, DAN PENGELOLAAN LAHAN TAMBAK DI KECAMATAN BULAKAMBA KABUPATEN BREBES PROVINSI JAWA TENGAH Rachmansyah, Rachmansyah; Asaad, Andi Indra Jaya; Mustafa, Akhmad
Jurnal Riset Akuakultur Vol 7, No 2 (2012): (Agustus 2012)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1225.056 KB) | DOI: 10.15578/jra.7.2.2012.321-335

Abstract

Kabupaten Brebes memiliki lahan tambak yang produktivitasnya masih tergolong relatif rendah. Oleh karena itu, dilakukan survai untuk mengetahui karakteristik lahan dalam upaya menentukan kesesuaian dan pengelolaan lahan untuk budidaya tambak dalam upaya peningkatan produktivitas tambak di Kabupaten Brebes. Faktor yang dipertimbangkan dalam mengetahui karakteristik lahan adalah: tanah, topografi, hidrologi, dan iklim. Analisis spasial dalam Sistem Informasi Geografis digunakan untuk penentuan kesesuaian lahan budidaya tambak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peubah kualitas air Sungai Kluwut dan pesisir Kecamatan Bulakamba kurang mendukung sebagai sumber air primer untuk kegiatan budidaya pada musim kemarau. Kualitas tanah tambak secara umum dapat mendukung usaha tambak yang dikelola secara tradisional sampai madya, di mana pada areal tertentu dijumpai adanya potensi kemasaman walaupun dalam jumlah yang rendah. Dari luas tambak yang ada di Kecamatan Bulakamba, yaitu 1.485,3 ha ternyata tidak ada tambak yang tergolong sangat sesuai (kelas S1), 145,7 ha tergolong cukup sesuai (kelas S2) dan 1.339,6 ha tergolong kurang sesuai (kelas S3). Upaya remediasi perlu dilakukan pada areal yang memiliki kandungan SPOS tanah tinggi dan perlu pula dilakukan pemupukan yang mengandung nitrogen seperti urea untuk menstabilkan rasio C:N tanah serta penambahan pupuk kandang untuk memperbaiki struktur tanah yang didominasi oleh fraksi liat. Perlu adanya upaya input teknologi dan infrastruktur untuk aliran massa air tawar dan penentuan pola dan waktu budidaya dengan memperhatikan faktor kunci salinitas.
CIRI KELAMIN SEKUNDER PADA ARWANA SILVER (Sclerophages macrocephalus) VARIETAS PINOH Chumaidi, Chumaidi; Priyadi, Agus; Ginanjar, Rendy; Sugiarti, Linda
Jurnal Riset Akuakultur Vol 7, No 2 (2012): (Agustus 2012)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (129.652 KB) | DOI: 10.15578/jra.7.2.2012.221-229

Abstract

Ikan arwana merupakan spesies monomorfik, yaitu hewan yang secara fisik tidak dapat atau tidak mudah dibedakan antara jantan dan betina. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui ciri kelamin sekunder yang dapat digunakan sebagai pedoman untuk membedakan jenis kelamin arwana pinoh. Ciri kelamin sekunder yang diamati pada arwana pinoh (Sclerophages macrocephalus) meliputi pengamatan deskriptif dan pengukuran morfometris. Pengamatan diskriptif meliputi bentuk sirip-sirip punggung, ekor, anal, perut, dan dada serta permukaan dagu bawah (mandibula). Sedangkan pengukuran morfometris terdiri atas 29 ukuran morfometris. Pembuktian pendapat di masyarakat mengenai ciri-ciri jantan dan betina arwana juga dianalisis antara lain kerampingan badan (rasio tinggi dan panjang baku), untuk membuktikan jantan lebih ramping dari betina. Besaran kepala (rasio tinggi kepala dan panjang kepala), untuk membuktikan kepala jantan lebih besar dari kepala betina. Kegemukan (rasio panjang baku dan bobon badan), untuk membuktikan bobot badan jantan lebih ringan dibanding betina. Panjang sirip dada (rasio panjang sirip dada dengan panjang baku ikan), untuk membuktikan sirip jantan lebih panjang dibanding betina. Hasil penelitian deskriptif menunjukkan bahwa dari pengamatan bentuk-bentuk sirip tidak terlihat adanya perbedaan antara jenis kelamin jantan dan betina dari arwana pinoh. Diketahui adanya perbedaan permukaan dagu bawah di mana tepi dagu jantan arwana pinoh terasa bergerigi, sedangkan yang betina terasa halus. Pengukuran morfometris yang berkaitan dengan kerampingan, besaran kepala, kegemukan dan panjang sirip ikan arwana juga tidak menunjukkan perbedaan yang nyata atau tidak ada perbedaan antara jantan dan betina.
SELEKSI KANDIDAT PROBIOTIK ANTI AEROMONAS HYDROPHILA UNTUK PENGENDALIAN PENYAKIT IKAN AIR TAWAR Lusiastuti, Angela Mariana
Jurnal Riset Akuakultur Vol 7, No 2 (2012): (Agustus 2012)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (404.265 KB) | DOI: 10.15578/jra.7.2.2012.269-277

Abstract

Secara dasar ada tiga model kerja probiotik yaitu menekan populasi mikroba melalui kompetisi dengan memproduksi senyawa anti-mikroba atau melalui kompetisi nutrisi dan tempat pelekatan di dinding usus, mengubah keseimbangan metabolisme mikroba dengan meningkatkan atau menurunkan aktivitas enzim dan menstimulasi imunitas dengan meningkatkan antibodi dan aktivitas makrofag. Tujuan penelitian ini adalah memperoleh mikroba yang berpotensi sebagai kandidat probiotik untuk dapat diaplikasikan di dalam menekan atau menghambat bakteri patogen sebagai langkah pengendalian penyakit pada ikan air tawar. Penelitian ini terdiri atas dua tahap, tahap pertama adalah tahap seleksi yang dimulai dari koleksi dan isolasi bakteri kandidat probiotik dan tahap kedua adalah tahap pengujian bakteri kandidat probiotik secara in vitro menggunakan metode daya hambat dan menguji daya patogenisitas bakteri. Total isolat bakteri yang diperoleh adalah 72 isolat, dan hanya enam isolat terpilih sebagai kandidat probiotik anti Aeromonas hydrophila. Probiotik anti A. hydrophila adalah sebagai berikut: Chromobacterium lividum, Alcaligenes faecalis, Aeromonas caviae, Bacteriodes serpens, Bacillus firmus, Aeromonas caviae = A. hydrophila Sub sp. Anaerogenes.
EFEKTIVITAS TRANSFER DAN EKSPRESI GEN PhGH PADA IKAN PATIN SIAM (Pangasianodon hypophthalmus) Dewi, Raden Roro Sri Pudji Sinarni; Alimuddin, Alimuddin; Sudrajat, Agus Oman; Sumantadinata, Komar
Jurnal Riset Akuakultur Vol 7, No 2 (2012): (Agustus 2012)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.083 KB) | DOI: 10.15578/jra.7.2.2012.171-180

Abstract

Penggunaan konsentrasi DNA yang tinggi dalam elektroporasi sperma meningkatkan pengikatan DNA eksogen pada sperma, dan meningkatkan persentase ikan yang membawa gen asing. Pada penelitian ini, konstruksi gen pCcBA-PhGH yang mengandung promoter β-aktin ikan mas (pCcBA) dan cDNA hormon pertumbuhan (PhGH) ikan patin siam (Pangasianodon hypophthalmus) dibuat dan selanjutnya ditransfer menggunakan metode elektroporasi pada sperma yang berperan sebagai perantara. Elektroporasi dilakukan dengan tipe kejutan square wave dengan panjang kejutan (pulse length) 30 milidetik, interval kejutan (pulse interval) 0,1 detik, kuat medan listrik (electric field strength) 125 V/cm, dan jumlah kejutan (pulse number) 3 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan transfer gen PhGH eksogen pada ikan patin siam meningkat dengan meningkatnya konsentrasi DNA yang digunakan. Persentase ikan yang membawa gen asing pada konsentrasi DNA 10 μg/mL, 50 μg/mL, dan 90 μg/mL, secara berturut-turut adalah 28,57%; 78,57%; dan 85,71%. Bobot ratarata yuwana ikan patin siam transgenik F0 umur 2 bulan yang dihasilkan menggunakan konsentrasi DNA 50 μg/mL dan 90 μg/mL adalah 22,6% dan 19,0% lebih berat dibandingkan non-transgenik, tetapi pada konsentrasi 10 μg/mL lebih rendah (-8.45%). Populasi yuwana ikan patin siam berumur 4 bulan yang diintroduksi gen asing dengan konsentrasi 90 μg/mL memiliki bobot rataan 53,38% lebih berat dibandingkan kontrol non-transgenik. Dengan menggunakan metode RT-PCR, ekspresi gen PhGH terdeteksi pada sirip ikan transgenik, sedangkan pada ikan non-transgenik tidak terdeteksi. Dengandemikian, elektroporasi sperma menggunakan konsentrasi DNA 90 μg/mL efektif meningkatkan keberhasilan transfer gen, dan over-ekspresi gen PhGH eksogen meningkatkan pertumbuhan ikan patin siam.
PRODUKSI PROTEIN REKOMBINAN HORMON PERTUMBUHAN IKAN KERAPU Faizal, Irvan; Aliah, Ratu Siti; Amarullah, Muhammad Husni; Megawati, Novi; Sutanti, Sutanti; Alimuddin, Alimuddin
Jurnal Riset Akuakultur Vol 7, No 2 (2012): (Agustus 2012)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (87.059 KB) | DOI: 10.15578/jra.7.2.2012.231-235

Abstract

Salah satu spesies ikan yang menjadi target produksi perikanan budidaya nasional adalah ikan kerapu tikus (Cromileptes altivelis). Ikan kerapu tikus merupakan ikan laut budidaya komoditas ekspor, namun laju pertumbuhannya sangat lambat. Oleh karena itu, perlu dilakukan usaha budidaya yang mampu menaikkan laju pertumbuhan ikan kerapu tikus. Pendekatan nutrisi melalui penggunaan hormon pertumbuhan (Growth Hormone, GH) pada usaha budidaya diyakini mampu meningkatkan kecepatan tumbuh ikan budidaya. Pada penelitian ini, melalui teknologi DNA rekombinan telah dilakukan isolasi dan identifikasi gen GH yang selanjutnya dilakukan produksi protein rekombinan GH (recombinant Growth Hormone, rGH) dengan memanfaatkan penggunaan bakteri E. coli. Dalam pelaksanaan penelitian dilakukan konstruksi rGH yang menghasilkan bakteri E. coli BL21 (DE3) yang mampu memproduksi protein rGH. Produksi rGH dilakukan pada skala bioreaktor. Proses isolasi produk rGH-nya dalam bentuk pellet inclusion bodies yang selanjutnya dicampur dengan pelet pakan komersil hingga konsentrasi akhir protein dalam pakan mencapai 1 ng/6 mg pakan, di mana setelah dikering-anginkan, pelet pakan protein rekombinan GH dapat diaplikasikan untuk budidaya ikan kerapu tikus dan ikan budidaya lainnya.

Page 1 of 2 | Total Record : 12


Filter by Year

2012 2012


Filter By Issues
All Issue Vol 14, No 1 (2019): (Maret, 2019) Vol 13, No 1 (2018): (Maret 2018) Vol 13, No 4 (2018): (Desember 2018) Vol 13, No 3 (2018): (September 2018) Vol 13, No 2 (2018): (Juni, 2018) Vol 13, No 1 (2018): (Maret 2018) Vol 12, No 4 (2017): (Desember 2017) Vol 12, No 3 (2017): (September 2017) Vol 12, No 2 (2017): (Juni 2017) Vol 12, No 1 (2017): (Maret 2017) Vol 12, No 4 (2017): (Desember 2017) Vol 12, No 3 (2017): (September 2017) Vol 12, No 2 (2017): (Juni 2017) Vol 12, No 1 (2017): (Maret 2017) Vol 11, No 4 (2016): (Desember 2016) Vol 11, No 3 (2016): (September 2016) Vol 11, No 2 (2016): (Juni 2016) Vol 11, No 1 (2016): (Maret 2016) Vol 11, No 4 (2016): (Desember 2016) Vol 11, No 3 (2016): (September 2016) Vol 11, No 2 (2016): (Juni 2016) Vol 11, No 1 (2016): (Maret 2016) Vol 10, No 4 (2015): (Desember 2015) Vol 10, No 3 (2015): (September 2015) Vol 10, No 2 (2015): (Juni 2015) Vol 10, No 1 (2015): (Maret 2015) Vol 10, No 4 (2015): (Desember 2015) Vol 10, No 3 (2015): (September 2015) Vol 10, No 2 (2015): (Juni 2015) Vol 10, No 1 (2015): (Maret 2015) Vol 9, No 3 (2014): (Desember 2014) Vol 9, No 2 (2014): (Agustus 2014) Vol 9, No 1 (2014): (April 2014) Vol 9, No 3 (2014): (Desember 2014) Vol 9, No 2 (2014): (Agustus 2014) Vol 9, No 1 (2014): (April 2014) Vol 8, No 3 (2013): (Desember 2013) Vol 8, No 2 (2013): (Agustus 2013) Vol 8, No 1 (2013): (April 2013) Vol 8, No 3 (2013): (Desember 2013) Vol 8, No 2 (2013): (Agustus 2013) Vol 8, No 1 (2013): (April 2013) Vol 7, No 3 (2012): (Desember 2012) Vol 7, No 2 (2012): (Agustus 2012) Vol 7, No 1 (2012): (April 2012) Vol 7, No 3 (2012): (Desember 2012) Vol 7, No 2 (2012): (Agustus 2012) Vol 7, No 1 (2012): (April 2012) Vol 6, No 3 (2011): (Desember 2011) Vol 6, No 2 (2011): (Agustus 2011) Vol 6, No 1 (2011): (April 2011) Vol 6, No 3 (2011): (Desember 2011) Vol 6, No 2 (2011): (Agustus 2011) Vol 6, No 1 (2011): (April 2011) Vol 5, No 3 (2010): (Desember 2010) Vol 5, No 2 (2010): (Agustus 2010) Vol 5, No 1 (2010): (April 2010) Vol 5, No 3 (2010): (Desember 2010) Vol 5, No 2 (2010): (Agustus 2010) Vol 5, No 1 (2010): (April 2010) Vol 4, No 3 (2009): (Desember 2009) Vol 4, No 2 (2009): (Agustus 2009) Vol 4, No 1 (2009): (April 2009) Vol 4, No 3 (2009): (Desember 2009) Vol 4, No 2 (2009): (Agustus 2009) Vol 4, No 1 (2009): (April 2009) Vol 3, No 3 (2008): (Desember 2008) Vol 3, No 2 (2008): (Agustus 2008) Vol 3, No 1 (2008): (April 2008) Vol 3, No 3 (2008): (Desember 2008) Vol 3, No 2 (2008): (Agustus 2008) Vol 3, No 1 (2008): (April 2008) Vol 2, No 3 (2007): (Desember 2007) Vol 2, No 2 (2007): (Agustus 2007) Vol 2, No 1 (2007): (April 2007) Vol 2, No 3 (2007): (Desember 2007) Vol 2, No 2 (2007): (Agustus 2007) Vol 2, No 1 (2007): (April 2007) Vol 1, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006) Vol 1, No 1 (2006): (April 2006) Vol 1, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006) Vol 1, No 1 (2006): (April 2006) More Issue