cover
Contact Name
Suprapti
Contact Email
Suprapti
Phone
-
Journal Mail Official
jra.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Riset Akuakultur
ISSN : 19076754     EISSN : 25026534     DOI : -
Jurnal Riset Akuakultur as source of information in the form of the results of research and scientific review (review) in the field of various aquaculture disciplines include genetics and reproduction, biotechnology, nutrition and feed, fish health and the environment, and land resources in aquaculture.
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue " Vol 6, No 2 (2011): (Agustus 2011)" : 11 Documents clear
EVALUASI PEMANFAATAN PAKAN DENGAN DOSIS TEPUNG JAGUNG HASIL FERMENTASI YANG BERBEDA UNTUK PERTUMBUHAN BENIH IKAN MAS (Cyprinus carpio) Samsudin, Reza; Suhenda, Ningrum; Melati, Irma; Nugraha, Aditiya
Jurnal Riset Akuakultur Vol 6, No 2 (2011): (Agustus 2011)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (106.883 KB) | DOI: 10.15578/jra.6.2.2011.281-289

Abstract

Penggunaan bahan baku lokal yaitu jagung diharapkan dapat menekan harga pakan. Penelitian ini dilakukan di Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar, Bogor dengan tujuan untuk mengetahui jenis inokulum yang tepat dalam proses fermentasi tepung jagung dan memperoleh dosis tepung jagung hasil fermentasi yang dapat dimanfaatkan dalam formulasi pakan ikan mas. Tiga jenis kapang yang digunakan diperoleh dari Laboratorium Mikrobiologi, PAU, IPB. Proses fermentasi dilakukan selama empat hari dengan dosis 9 mL per 100 g tepung jagung (kepadatan kapang 107) dan diinkubasi pada suhu ruang (30oC). Pada uji coba pakan bobot rata-rata benih ikan mas yang dipergunakan yaitu 9,01±0,01 g/ekor dan dipelihara dalam akuarium (60 cm x 50 cm x 40 cm) dengan padat penebaran 15 ekor/akuarium. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan lima perlakuan dan tiga ulangan. Sebagai perlakuan yaitu pakan buatan yang mengandung tepung jagung fermentasi dengan dosis berbeda: 0%, 5%, 10%,15%, dan 20%. Dari hasil penelitian diperoleh data kadar protein dan kadar lemak jagung yang difermentasi R. oligosporus meningkatmasing-masing dari 9,49% menjadi 17,68% (meningkat 86,3%) dan dari 3,95% menjadi 6,04% (naik 52,91%). Hasil uji coba pada ikan mas menunjukkan bahwa pakan yang mengandung jagung fermentasi (pakan perlakuan) memberikan laju pertumbuhan spesifik, rasio efisiensi protein, retensi lemak, dan konversi pakan yang berbeda nyata (P<0,05) antar perlakuan. Retensi protein untuk semua perlakuan tidak berbeda nyata (P>0,05). Laju pertumbuhan tertinggi (1,96%), konversi pakan terbaik (2,38), dan retensi lemak terendah (terbaik) yaitu 42,98%. diperoleh pada pakan yang mengandung jagung fermentasi 20%.
EVALUASI KESESUAIAN LAHAN AKTUAL TAMBAK YANG ADA DI KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT PROVINSI JAMBI Rachmansyah, Rachmansyah; Mustafa, Akhmad
Jurnal Riset Akuakultur Vol 6, No 2 (2011): (Agustus 2011)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1010.527 KB) | DOI: 10.15578/jra.6.2.2011.311-324

Abstract

Tambak di Kabupaten Tanjung Jabung Barat (Tanjabbar), Provinsi Jambi memiliki produktivitas yang relatif rendah dan telah ditetapkan sebagai salah satu lokasi pengembangan kawasan Minapolitan. Oleh karena itu, dilakukan penelitian untuk menentukan kesesuaian lahan tambak yang ada demi peningkatan produktivitas tambak serta mendukung program pengembangan kawasan Minapolitan di Kabupaten Tanjabbar. Faktor yang dipertimbangkan dalam evaluasi lahan adalah: topografi dan elevasi, hidrologi, tanah, dan iklim. Analisis spasial dalam Sistem Informasi Geografis digunakan untuk penentuan kesesuaian lahan budidaya tambak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lahan tambak di Kabupaten Tanjabbar didominasi tanah sulfat masam dengan unsur-unsur toksik yang tinggi dan sebaliknya unsur hara makro yang rendah dengan tekstur tanah dominan  lempung berliat dan lempung berpasir. Topografi lahan umumnya relatif datar dan elevasi yang tergolong rendah.  Salinitas air tergolong rendah dengan tingkat turbiditas yang tergolong tinggi serta pasang surut yang sangat tinggi (4,55 m). Curah hujan yang mencapai 2.393 mm/tahun dengan 2 bulan kering. Hasil analisis kesesuaian lahan aktual menunjukkan bahwa tambak yang ada di Kabupaten Tanjabbar seluas 617,14 ha, di mana  tidak ada lahan tambak yang tergolong sangat sesuai (Kelas S1); 38,40 ha tergolong cukup sesuai (Kelas S2); dan 222,82 ha yang tergolong kurang sesuai (Kelas S3); dan 355,92 ha yang tergolong tidak sesuai (Kelas N).
EMBRIOGENESIS DAN PERKEMBANGAN LARVA PATIN HASIL HIBRIDISASI ANTARA BETINA IKAN PATIN SIAM ( Pangasianodon hypophthalmus Sauvage, 1878) DENGAN JANTAN IKAN PATIN JAMBAL ( Pangasius djambal Bleeker, 1846) DAN JANTAN PATIN NASUTUS ( Pangasius nasutus Bleeker, 1863) Iswanto, Bambang; Tahapari, Evi
Jurnal Riset Akuakultur Vol 6, No 2 (2011): (Agustus 2011)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (316.628 KB) | DOI: 10.15578/jra.6.2.2011.169-186

Abstract

Pengembangan budidaya ikan patin jambal maupun ikan patin nasutus untuk memenuhi permintaan pasar ekspor patin daging putih sulit direalisasikan karena keterbatasan fekunditas dan pematangan gonad induk betinanya. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produktivitas patin daging putih adalah melalui hibridisasi, yakni hibridisasi antara betina patin siam dengan jantan patin jambal maupun jantan patin nasutus. Hal ini dikarenakan patin siam memiliki keunggulan fekunditas yang tinggi, sedangkan patin jambal maupun patin nasutus memiliki keunggulan daging yang putih. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui karakteristik patin hibrida tersebut, termasuk pada tahap-tahap awal kehidupannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik embriogenesis dan perkembangan ontogeni morfologis larva patin hibrida tersebut. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa embriogenesis patin hibrida siam-jambal dan hibrida siam-nasutus serupa, tetapi perkembangan patin hibrida siam-nasutus sedikit lebih cepat. Pada suhu 28oC-29oC, larva patin hibrida siam-nasutus mulai menetas 20 jam setelah fertilisasi, berukuran panjang total 3,34±0,14 mm, dengan kantung kuning telur berukuran 0,71±0,28 mm3 yang terserap 50% pada umur 24 jam dan relatif habis terserap pada umur 54 jam. Larva patin hibrida siam-jambal mulai menetas 21 jam setelah fertilisasi, berukuran panjang total 3,47±0,13 mm, dengan kantung kuning telur berukuran 0,42±0,08 mm3 yang terserap 50% pada umur 30 jam dan habis terserap pada umur 60 jam. Perkembangan larva kedua patin hibrida tersebut hingga menyerupai morfologi ikan patin dewasa juga relatif serupa, tetapi patin hibrida siam-nasutus menunjukkan keragaan pertumbuhan yang lebih bagus, menghasilkan heterosis berdasarkan pertambahan panjang total selama 10 hari masa pemeliharaan sebesar 20,20%, sedangkan pada patin hibrida siam-jambal sebesar -4,15%.
PRODUKSI BANDENG (Chanos chanos) MELALUI APLIKASI PUPUK ORGANIK Pantjara, Brata; Hendradjat, Erfan Andi
Jurnal Riset Akuakultur Vol 6, No 2 (2011): (Agustus 2011)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (144.657 KB) | DOI: 10.15578/jra.6.2.2011.253-262

Abstract

Bandeng (Chanos chanos) merupakan salah satu komoditas unggulan di sektor perikanan yang berkontribusi dalam memenuhi produksi nasional. Ekspor bandeng ke beberapa negara seperti Uni Eropa dan Amerika Serikat sangat prospektif untuk dikembangkan, namun bandeng asal Indonesia kurang disukai karena terindikasi mengandung zat kimia yang dapat mengganggu kesehatan. Oleh karena itu, dalam beberapa tahun terakhir produk bandeng organik semakin meningkat karena banyaknya minat masyarakat akan produk makanan tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pupuk organik terhadap produksi bandeng semi intensif. Pupuk organik yang dicoba adalah pupuk organik komersial (A) dan pupuk organik non komersial (B). Pupuk organik non komersial dibuat dengan cara fermentasi dari campuran limbah sayuran, ampas tahu, pupuk kompos, dan dedak. Padat penebaran bandeng pada masing-masing perlakuan adalah 15.000 ekor/ha. Pemberian pakan dilakukan setelah bandeng berumur 2 bulan di tambak dengan dosis pakan 2%-4% dari bobot ikan per hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan bandeng selama enam bulan mencapai bobot dari 1,98 g/ekor menjadi 232,4 g/ekor pada A dan 253 g/ekor pada B. Sintasan bandeng pada perlakuan A dan B, masing-masing mencapai 56,62% dan 60,82%. Produksi bandeng pada perlakuan A dan B, masing-masing mencapai 1.974 dan 2.309 kg/ha
PEMELIHARAAN BENIH IKAN KLON ( Amphiprion ocellaris ) DENGAN SISTEM PENGELOLAAN AIR YANG BERBEDA Setiawati, Ketut Maha; Hutapea, Jhon Harianto
Jurnal Riset Akuakultur Vol 6, No 2 (2011): (Agustus 2011)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (62.332 KB) | DOI: 10.15578/jra.6.2.2011.243-252

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sistem pergantian air yang sesuai untuk pemeliharaan benih ikan klon. Perlakuan yang diuji adalah sistem pergantian air yang berbeda: air mengalir (A), semi statis (B), dan resirkulasi (C). Perlakuan dengan 3 kali ulangan. Wadah yang digunakan berupa 9 buah akuarium dengan volume 30 L. Hewan uji yang digunakan adalah benih ikan klon dengan ukuran panjang total 2,6 ± 0,2 cm. Kepadatan benih ikan 20 ekor/akuarium. Pakan yang diberikan berupa pakan buatan dan Artemia dengan frekuensi pemberian 2 kali sehari. Variabel yang diamati kualitas air (suhu, pH, salinitas, oksigen terlarut, PO4, NH3, NO2, NO3, pertumbuhan, sintasan, dan jumlah bakteri pada masing-masing perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada perlakuan B semua ikan uji mati pada hari ke-10 dan hari ke-23 pemeliharaan karena tingginya kandungan amonia dan bakteri Vibrio spp., sedangkan pada perlakuan A dan C dapat menunjang kehidupan benih ikan klon. Sintasan pada perlakuan A (63,3% ± 7,64%) lebih tinggi daripada perlakuan C (35% ± 5%).
ANALISIS TRUSS MORFOMETRIK BEBERAPA VARIETAS IKAN NILA ( Oreochromis niloticus ) Ariyanto, Didik; Listiyowati, Nunuk; Imron, Imron
Jurnal Riset Akuakultur Vol 6, No 2 (2011): (Agustus 2011)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (211.16 KB) | DOI: 10.15578/jra.6.2.2011.187-196

Abstract

Langkah awal yang dilakukan dalam rangka pembentukan varietas ikan nila toleran salinitas adalah koleksi dan karakterisasi varietas-varietas ikan nila yang akan digunakan sebagai sumber-sumber genetik pembentukan varietas tersebut. Beberapa varietas ikan nila yang telah dikoleksi antara lain ikan nila Nirwana Wanayasa, GMT Sukabumi, GIFT Sukamandi, BEST Bogor, dan red NIFI. Kegiatan ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui keragaman morfologi antara beberapa varietas ikan nila hasil koleksi tersebut serta menduga hubungan kekerabatannya berdasarkan tingkat keragaman dan kemiripan antar populasi. Karakterisasi morfologi dilakukan menggunakan metode truss morfometrik dilanjutkan dengan analisis komponen utama (principal component analysis) dan analisis pengelompokan (cluster analysis). Hasil karakterisasi menunjukkan bahwa terdapat 2 kelompok utama pada varietas-varietas ikan nila yaitu ikan nila GMT Sukabumi, GIFT Sukamandi, BEST Bogor, dan red NIFI bergabung menjadi satu kelompok sedangkan ikan nila Nirwana Wanayasa membentuk kelompok tersendiri. Di dalam kelompok pertama, ikan nila red NIFI mempunyai bentuk yang berbeda dari 3 populasi lainnya.
PERBANDINGAN PATOGENESITAS, Edwardsiella tarda PADA IKAN MAS KOKI (Charassius auratus) DAN IKAN CELEBES RAINBOW (Telmatherina celebensis) Narwiyani, Siti; Kurniasih, Kurniasih
Jurnal Riset Akuakultur Vol 6, No 2 (2011): (Agustus 2011)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (203.232 KB) | DOI: 10.15578/jra.6.2.2011.291-301

Abstract

Edwardsiella tarda adalah salah satu jenis bakteri yang masuk dalam daftar Hama Penyakit Ikan Karantina (HPIK) yang harus dicegah penyebarannya. Infeksi E. tarda terdapat pada berbagai jenis ikan budidaya maupun pada ikan yang hidup di perairan bebas. E. tarda juga menginfeksi vertebrata tingkat tinggi (burung dan reptil), mamalia, dan termasuk juga manusia. Pada manusia, dikenal sebagai penyebab penyakit gastrointestinal dan ekstraintestinal. Edwardsiella tarda sudah tersebar di beberapa negara di antaranya adalah Jepang, Taiwan, Thailand, Amerika Serikat, Singapura, dan Malaysia. Di Indonesia, E tarda ditemukan di Jawa, Sumatera, dan Kalimantan. E. tarda dapat diidentifikasi melalui gejala klinis, identifikasi secara morfologi, fisik, dan biokimia, serta molekuler DNA. Bakteri ini menyerang mekanisme pertahanan tubuh inang, karena itu, proses proliferasi bakteri ini sangat cepat di dalam inang dan menyebabkan kematian. Tingkat patogenitas E. tarda dapat ditentukan berdasarkan kemampuan bakteri tersebut untuk menginfeksi kekebalan non spesifik pada ikan. Perbedaan patogenitas E. tarda pada berbagai ikan air tawar di Indonesia belum pernah dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan patogenitas dan LC50 E. tarda pada ikan mas koki (Carassius auratus) dan ikan Celebes rainbow (Telmatherina celebensis). Untuk uji LC50 ikan uji disuntik dengan penyuntikan intraperitonial dengan konsentrasi bakteri 0, 102, 104,106, 108, dan 1010cfu/mL, ikan dipelihara dalam akuarium selama 48 jam dan dihitung jumlah kematiannya setiap 12 jam. Nilai LC50 untuk ikan mas koki dan ikan Celebes Rainbow adalah 1,8 x 105 cfu/mL dan 2,3 x 107 cfu/mL. Uji patogenitas dilakukan dengan melakukan perendaman ikan uji dalam akuarium berukuran 30 cm x 30 cm x 50 cm dengan kepadatan 10 ekor/akuarium dan volume 20 air liter selama seminggu; dan kepadatan bakteri menggunakan nilai LC50 masingmasing ikan. Perubahan makroskopik patologik anatomik menunjukkan adanya lesi kemerahan pada ekor dan sirip, pembengkakan perut dan tubuh, insang pucat, lesi pada pangkal sirip dan ekor, dan pembengkakan pada hati dan ginjal pada ikan mas koki dan ikan Celebes rainbow
EFEKTIVITAS PEMBERIAN KOMBINASI HORMON HUMAN CHORIONIC GONADOTROPIN DAN 17α α α α α-METILTESTOSTERON SECARA KRONIS TERHADAP KADAR ESTRADIOL-17β DAN PERKEMBANGAN TELUR IKAN BAUNG ( Mystus nemurus ) Isriansyah, Isriansyah
Jurnal Riset Akuakultur Vol 6, No 2 (2011): (Agustus 2011)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (52.04 KB) | DOI: 10.15578/jra.6.2.2011.263-269

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh pemberian hormon Human Chorionic Gonadrotopin (HCG) dan 17α-metiltestosteron secara kronis dan menentukan dosis yang efektif untuk merangsang kadar hormon estradiol-17β dan perkembangan telur ikan baung. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode eksperimen dengan menerapkan berbagai dosis hormon HCG (0, 200, dan 400 IU/kg) dan hormon 17α-metiltestosteron (0, 100, dan 200 µg/kg bobot badan). Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga ulangan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian hormon HCG dan 17α-metiltestosteron berpengaruh sangat nyata dan efektif untuk meningkatkan kadar hormon estradiol-17β dan perkembangan telur ikan baung (P<0,01). Kadar hormon estradiol-17β dan perkembangan telur tertinggi pada ikan baung dihasilkan oleh perlakuan pemberian hormon HCG 400 IU/kg dan 17α-metiltestosteron 200 µg/kg bobot badan.
ANALISIS SPASIAL KELAYAKAN LAHAN BUDIDAYA KERANG HIJAU ( Perna viridis ) BERDASARKAN KONDISI LINGKUNGAN DI KABUPATEN CIREBON, JAWA BARAT Radiarta, I Nyoman; Saputra, Adang; Ardi, idil
Jurnal Riset Akuakultur Vol 6, No 2 (2011): (Agustus 2011)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (712.785 KB) | DOI: 10.15578/jra.6.2.2011.341-352

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis kelayakan lahan budidaya kerang hijau menggunakan metode tancap di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Pengumpulan data lingkungan perairan telah dilakukan pada bulan Juli 2010. Data lapangan dan data sekunder lainnya (peta dan data penginderaan jauh) kemudian dianalisis secara spasial dengan sistem informasi geografis (SIG). Lima parameter penting kelayakan lahan dibagi menjadi dua kelompok yaitu faktor lingkungan dan pembatas. Penelitian ini menggunakan sistem skor 1-4, 4 adalah sangat layak dan 1 adalah tidak layak untuk pengembangan budidaya kerang hijau. Hasil analisis SIG menunjukkan bahwa sekitar 46% (23 km2) dari total lokasi potensial (50 km2) tergolong sangat layak. Lokasi ini menyebar sejajar dengan garis pantai dari Kecamatan Kapetakan sampai Kecamatan Suranenggala. Tidak ditemukan lokasi dengan kategori tidak layak. Hasil analisis ini menunjukkan bahwa lokasi penelitian di Kabupaten Cirebon sangat mendukung untuk pengembangan budidaya kerang hijau.
ISOLASI DAN KARAKTERISASI BAKTERI DENITRIFIKASI SEBAGAI AGEN BIOREMEDIASI NITROGEN ANORGANIK Syahputra, Khairul; Rusmana, Iman; Widyastuti, Utut
Jurnal Riset Akuakultur Vol 6, No 2 (2011): (Agustus 2011)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (125.387 KB) | DOI: 10.15578/jra.6.2.2011.197-209

Abstract

Denitrifikasi merupakan salah satu proses utama yang mengurangi kandungan senyawa nitrogen anorganik di lingkungan. Proses ini dapat digunakan untuk mengatasi kelebihan senyawa nitrogen anorganik yang tinggi di kolam budidaya perikanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan mengkarakterisasi isolat bakteri denitrifikasi sebagai agen bioremediasi senyawa nitrogen anorganik. Sebanyak 21 isolat bakteri pereduksi nitrat berhasil diisolasi dari medium pengkayaan dengan konsentrasi nitrat 100 µM dan 1500 µM. Sebanyak 6 isolat merupakan kelompok bakteri denitrifikasi (fermentatif negatif) dan 15 isolat termasuk kelompok bakteri fermentatif. Berdasarkan hasil seleksi didapatkan isolat HNF5 dan LNF mempunyai kemampuan reduksi nitrat yang tinggi. Aktivitas reduksi nitrat terjadi dari awal inkubasi, di mana aktivitas paling cepat terjadi pada fase eksponensial pertumbuhan bakteri. Isolat HNF5 dan LNF memiliki kecepatan maksimum reduksi nitrat (Vmaks) 0,17 mM.h-1 dan 0,16 mM.h-1 dengan nilai konstanta Michaelis-Menten (Km) 0,40 mM dan 0,28 mM. Identifikasi dengan sekuen 16S-rRNA memperlihatkan bahwa isolat HNF5 dan LNF mempunyai kemiripan dengan Pseudomonas aeruginosa.

Page 1 of 2 | Total Record : 11


Filter by Year

2011 2011


Filter By Issues
All Issue Vol 14, No 1 (2019): (Maret, 2019) Vol 13, No 1 (2018): (Maret 2018) Vol 13, No 4 (2018): (Desember 2018) Vol 13, No 3 (2018): (September 2018) Vol 13, No 2 (2018): (Juni, 2018) Vol 13, No 1 (2018): (Maret 2018) Vol 12, No 4 (2017): (Desember 2017) Vol 12, No 3 (2017): (September 2017) Vol 12, No 2 (2017): (Juni 2017) Vol 12, No 1 (2017): (Maret 2017) Vol 12, No 4 (2017): (Desember 2017) Vol 12, No 3 (2017): (September 2017) Vol 12, No 2 (2017): (Juni 2017) Vol 12, No 1 (2017): (Maret 2017) Vol 11, No 4 (2016): (Desember 2016) Vol 11, No 3 (2016): (September 2016) Vol 11, No 2 (2016): (Juni 2016) Vol 11, No 1 (2016): (Maret 2016) Vol 11, No 4 (2016): (Desember 2016) Vol 11, No 3 (2016): (September 2016) Vol 11, No 2 (2016): (Juni 2016) Vol 11, No 1 (2016): (Maret 2016) Vol 10, No 4 (2015): (Desember 2015) Vol 10, No 3 (2015): (September 2015) Vol 10, No 2 (2015): (Juni 2015) Vol 10, No 1 (2015): (Maret 2015) Vol 10, No 4 (2015): (Desember 2015) Vol 10, No 3 (2015): (September 2015) Vol 10, No 2 (2015): (Juni 2015) Vol 10, No 1 (2015): (Maret 2015) Vol 9, No 3 (2014): (Desember 2014) Vol 9, No 2 (2014): (Agustus 2014) Vol 9, No 1 (2014): (April 2014) Vol 9, No 3 (2014): (Desember 2014) Vol 9, No 2 (2014): (Agustus 2014) Vol 9, No 1 (2014): (April 2014) Vol 8, No 3 (2013): (Desember 2013) Vol 8, No 2 (2013): (Agustus 2013) Vol 8, No 1 (2013): (April 2013) Vol 8, No 3 (2013): (Desember 2013) Vol 8, No 2 (2013): (Agustus 2013) Vol 8, No 1 (2013): (April 2013) Vol 7, No 3 (2012): (Desember 2012) Vol 7, No 2 (2012): (Agustus 2012) Vol 7, No 1 (2012): (April 2012) Vol 7, No 3 (2012): (Desember 2012) Vol 7, No 2 (2012): (Agustus 2012) Vol 7, No 1 (2012): (April 2012) Vol 6, No 3 (2011): (Desember 2011) Vol 6, No 2 (2011): (Agustus 2011) Vol 6, No 1 (2011): (April 2011) Vol 6, No 3 (2011): (Desember 2011) Vol 6, No 2 (2011): (Agustus 2011) Vol 6, No 1 (2011): (April 2011) Vol 5, No 3 (2010): (Desember 2010) Vol 5, No 2 (2010): (Agustus 2010) Vol 5, No 1 (2010): (April 2010) Vol 5, No 3 (2010): (Desember 2010) Vol 5, No 2 (2010): (Agustus 2010) Vol 5, No 1 (2010): (April 2010) Vol 4, No 3 (2009): (Desember 2009) Vol 4, No 2 (2009): (Agustus 2009) Vol 4, No 1 (2009): (April 2009) Vol 4, No 3 (2009): (Desember 2009) Vol 4, No 2 (2009): (Agustus 2009) Vol 4, No 1 (2009): (April 2009) Vol 3, No 3 (2008): (Desember 2008) Vol 3, No 2 (2008): (Agustus 2008) Vol 3, No 1 (2008): (April 2008) Vol 3, No 3 (2008): (Desember 2008) Vol 3, No 2 (2008): (Agustus 2008) Vol 3, No 1 (2008): (April 2008) Vol 2, No 3 (2007): (Desember 2007) Vol 2, No 2 (2007): (Agustus 2007) Vol 2, No 1 (2007): (April 2007) Vol 2, No 3 (2007): (Desember 2007) Vol 2, No 2 (2007): (Agustus 2007) Vol 2, No 1 (2007): (April 2007) Vol 1, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006) Vol 1, No 1 (2006): (April 2006) Vol 1, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006) Vol 1, No 1 (2006): (April 2006) More Issue