cover
Contact Name
Suprapti
Contact Email
Suprapti
Phone
-
Journal Mail Official
jra.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Riset Akuakultur
ISSN : 19076754     EISSN : 25026534     DOI : -
Jurnal Riset Akuakultur as source of information in the form of the results of research and scientific review (review) in the field of various aquaculture disciplines include genetics and reproduction, biotechnology, nutrition and feed, fish health and the environment, and land resources in aquaculture.
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue " Vol 5, No 3 (2010): (Desember 2010)" : 12 Documents clear
PEMATANGAN GONAD INDUK ABALON Haliotis squamata MELALUI PENGELOLAAN PAKAN Rusdi, Ibnu; Rahmawati, Riani; Susanto, Bambang; Adiasmara, I Nyoman
Jurnal Riset Akuakultur Vol 5, No 3 (2010): (Desember 2010)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (162.547 KB) | DOI: 10.15578/jra.5.3.2010.383-391

Abstract

Abalon merupakan hewan yang bersifat herbivora di alam memakan berbagai jenis makroalga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh berbagai makroalga sebagai pakan terhadap perkembangan gonad abalon Haliotis squamata. Dalam penelitian ini diterapkan 4 perlakuan pemberian pakan yaitu: (A) Gracilaria sp., (B) Ulva sp., (C) Sargassum sp., (D) Kombinasi Gracilaria sp. + Ulva sp. + Sargassum sp. (rasio 1:1:1). Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap masing-masing dengan 3 ulangan. Induk-induk abalon dipelihara dalam 12 buah kontainer plastik berlubang ukuran 0,58 m x 0,39 m x 0,31 m dan ditempatkan dalam sebuah bak semen ukuran 3 m x 2 m x 1 m. Setiap kontainer berisi abalon sebanyak 10 ekor dengan ukuran awal rata-rata panjang cangkang dan bobot masing-masing 58,9±1,37 mm dan 36,1±4,06 g. Pakan diberikan dengan dosis 15%-20% dari bobot biomassa setiap 2 hari sekali. Pergantian air menggunakan sistem sirkulasi dengan debit 5-6 L/menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata pertumbuhan bobot mutlak dan laju pertumbuhan bobot harian berbeda nyata (P<0,05) antar perlakuan. Tingkat kematangan gonad (TKG) induk abalon pada hari ke-70 diperoleh TKG-III tertinggi dihasilkan pada perlakuan kombinasi Gracilaria + Ulva sp. + Sargassum sp. (P<0,05). Perlakuan pakan kombinasi Gracilaria sp. + Ulva sp. dan Sargassum sp. terlihat lebih sesuai dalam memacu pematangan gonad induk abalon H. squamata. Abalone is a herbivorous animal which consumes various kinds of macroalgae in the wild. The aim of the study was to study the effects of various kinds of macroalgae on gonadal maturation of abalone, Haliotis squamata. The experiment applied four kinds of macroalgae i.e.: (A) Gracilaria sp.; (B) Ulva sp.; (C) Sargassum sp.; and (D) Combination of Gracilaria sp. + Ulva sp. + Sargassum sp. (ratio 1:1:1) as food for abalone broodstock. The experiment was arranged in complete random design with three replications. One cemented tank of 3 m x 2 m x 1 m in size was used for the observation. Twelve plastic containers of 0,58 m x 0,39 m x 0,31 m in size were placed in the tank and stocked with 10 abalones per container with the average size of shell length and body weight were 58.9±1.37 mm and 36.1±4.06 g, respectively. For each treatment, macroalgae was given daily with the dosage between 15% and 20% from the total of body weight. Water exchange was done using flow-through system with rate of exchange of 5-6 L/minute. The result of the study showed that the average of absolute growth and daily growth rate of abalones were significantly different (P<0.05) among treatments. The observation of gonadal development of abalone broodstocks on day-70 revealed that the latest stage III of gonadal maturation was achieved by the broodstock fed with combination treatment of Gracilaria sp. + Ulva sp. + Sargassum sp. (P<0.05). Combination of macroalgae from this treatment was clearly  able to stimulate gonadal maturation of H. squamata broodstock.
KARAKTERISTIK, KESESUAIAN, DAN PENGELOLAAN LAHAN UNTUK TAMBAK BUDIDAYA DI KABUPATEN LUWU UTARA PROVINSI SULAWESI SELATAN Hasnawi, Hasnawi; Mustafa, Akhmad
Jurnal Riset Akuakultur Vol 5, No 3 (2010): (Desember 2010)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (192.251 KB) | DOI: 10.15578/jra.5.3.2010.449-463

Abstract

Kabupaten Luwu Utara (Lutra) memiliki lahan potensial untuk tambak dan produktivitas tambaknya untuk budidaya udang dan ikan relatif rendah. Oleh karena itu, dilakukan survai untuk mengetahui karakteristik lahan dalam upaya menentukan kesesuaian dan pengelolaan lahan untuk budidaya tambak demi peningkatan produktivitas tambak di Kabupaten Lutra. Faktor yang dipertimbangkan dalam mengetahui karakteristik lahan adalah: tanah, topografi, hidrologi, vegetasi, dan iklim. Analisis spasial dalam Sistem Informasi Geografis digunakan untuk penentuan kesesuaian lahan budidaya tambak. Pengelolaan lahan ditentukan berdasarkan karakteristik lahan yang disesuaikan dengan teknologi dan komoditas yang dapat diaplikasikan di tambak. Kawasan pesisir Kabupaten Lutra didominasi oleh tanah bermasalah yaitu tanah sulfat masam, tanah gambut, dan tanah sulfat masam yang berasosiasi dengan tanah gambut. Tanah sulfat masam adalah jenis tanah dominan di Kabupaten Lutra yang memiliki potensi kemasaman dan unsur-unsur toksik yang tinggi dan sebaliknya unsur hara makro yang rendah dengan tekstur tanah yang  tergolong pasir berlempung dan lempung berpasir. Topografi lahan umumnya relatif datar dan elevasi yang tergolong rendah yang didominasi oleh vegetasi Sonneratia sp., Rhizophora sp., dan Nypa fruticans. Curah hujan yang rendah pada bulan September sampai Februari berdampak pada kondisi kualitas air yang lebih baik terutama pada salinitas, pH, Ca, dan Mg yang lebih tinggi daripada musim hujan. Hasil analisis menunjukkan bahwa lahan tambak di Kabupaten Lutra yang tergolong sangat sesuai (kelas S1) seluas 1.821,9 ha; tergolong cukup sesuai (kelas S2) seluas 368,2 ha; dan tergolong sesuai marjinal (kelas S3) seluas 3.268,1 ha. Untuk perbaikan tanah bermasalah tersebut dapat dilakukan melalui remediasi maupun dengan pemupukan.Coastal area of North Luwu Regency has suitable areas for brackishwater ponds, however many of those areas are low in productivity for shrimp and fish culture. Hence, a survey was conducted to study the characteristics of the area as an effort to determine land suitability and land management for increasing the productivity of brackishwater ponds in North Luwu Regency. Factors that were taken into acount to determine the characteristics of land were soil, topography, hydrology, vegetation and climate condition. Spatial analysis using Geographical Information System software was used to determine land suitability for brackishwater ponds. Land management was determined based on the characteristics of land that are adaptable to the types of technology and commodity applied in the brackishwater ponds. The coastal area of North Luwu Regency was dominated by types of infertile soils, i.e., acid sulfate soil, peat soil and acid sulfate soil associated with peat soil, Acid sulfate soil in North Luwu Regency has high potential acidity and high level toxic element. On the other hand, the area has low level macro elements and soil textures are dominated by loamy sand and sandy loam. In general, the land topography is flat and the elevation is classified as low. The areas are dominated by Sonneratia sp., Rhizophora sp., and Nypa fruticans. Low rainfall level is occurred in September to February and directly affects the coastal water quality, causing higher salinity, pH, Ca, and Mg than in rainy season. Results of analysis show that brackishwater ponds in North Luwu Regency were classified as highly suitable (1,821.9 ha), moderately suitable (368.2 ha) and marginally suitable (3,268.1 ha). Remediation and fertilization are highly recommended in order to improve the soil quality for optimum culture production.
PEMIJAHAN ALAMI ARWANA SILVER (Osteoglossum bicirrhosum) DALAM BAK TERKONTROL Priyadi, Agus; Ginanjar, Rendy; Chumaidi, Chumaidi; Hadie, Wartono
Jurnal Riset Akuakultur Vol 5, No 3 (2010): (Desember 2010)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (86.396 KB) | DOI: 10.15578/jra.5.3.2010.345-350

Abstract

Ikan arwana silver (Osteoglossum bicirrhosum) adalah ikan hias introduksi berasal dari Brazil yang sudah menjadi ikan hias potensial. Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui teknik pemijahan secara alami ikan arwana silver dalam bak terkontrol. Induk arwana jantan dan betina yang sudah diberi penanda (tagging) sebanyak 12 ekor diadaptasikan dalam bak beton (3 m x 2 m x 1 m) yang diletakkan di dalam ruangan yang dilengkapi dengan instalasi aerasi. Pakan diberikan berupa percil (50 g) dan ikan selar (360 g) dua hari sekali. Setelah 10 bulan ikan arwana mencapai panjang berkisar 59-64 cm dan bobot berkisar 1.208,5-1.849,5 g. Semua ikan arwana (11 ekor) dipindah ke luar ruangan, dipelihara dalam bak beton (5 m x 2 m x 1.2 m) dengan media air yang diputar menggunakan pompa dan bak pemeliharaan ditutup dengan jala. Pakan diberikan sama seperti saat adaptasi. Pengamatan keberhasilan pemijahan ikan dilakukan setiap saat dengan mengetahui ada tidaknya telur yang dierami dalam mulut arwana jantan. Pengeluaran larva dari dalam mulut induk jantan dilakukan setelah telur dierami selama 1-1,5 bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah 8 bulan pemeliharaan di luar ruangan, arwana silver jantan terlihat mengerami telur dalam mulutnya pertama kali dan menghasilkan larva sebanyak 17 ekor, kemudian berturut-turut menghasilkan larva setiap bulan pada bulan ke-22, 23, dan 24 berkisar 25-107 ekor/induk/bulan. Silver arowana (Osteoglossum bicirrhosum) is an ornamental fish introduced from Brazil and has been popular among fish collectors. The objective of this research was to determine the optimal spawning technique of silver arowana in controlled tank. Tagged male and female of arowana broodstock were adapted in 3 m x 2 m x 1 m indoor concrete tank with stocking density of 12 individual/tank. Lift frogs (50 g) and raw fish (360 g) were given as feed once per two days. After ten months of rearing, the total length of silver arowana broodstock varied from 59 to 64 cm and body weight ranged from 1,208.5 to 1,849.5 g. Eleven individuals of silver arowana broodstocks were stocked in 5 m x 2 m x 1.2 m out door concrete tank in which the water media was recirculated using water pump and rearing tank were covered with net. The feeds given were the same as during the adaptation process. Observation of breeding was done regularly by observing whether the eggs were already in the male broodstock mouth or not. The process to collect the larvae out of the male broodstock mouth was done after the eggs were incubated in its mouth for about 1.0-1.5 month. Result showed that after 8 months of rearing in outdoor tank, male silver arowanas were seen carrying eggs in their mouth for the first time and produce 17 larvae. On average, as many as 25-107 larvae were obtained per broodstock starting from 22nd, 23nd, and 24nd of rearing period.
FAKTOR PENGELOLAAN YANG MEMPENGARUHI TINGKAT PRODUKSI RUMPUT LAUT Kappaphycus alvarezii DI PERAIRAN PANTAI SELATAN PROVINSI SULAWESI SELATAN Ratnawati, Erna; Mustafa, Akhmad; Daud, Rohama
Jurnal Riset Akuakultur Vol 5, No 3 (2010): (Desember 2010)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (220.185 KB) | DOI: 10.15578/jra.5.3.2010.491-504

Abstract

Perairan pantai Kabupaten Jeneponto, Bantaeng, dan Bulukumba merupakan sentra produksi rumput laut Kappaphycus alvarezii di Sulawesi Selatan. Pengelolaan budidaya yang dilakukan oleh pembudidaya di daerah tersebut cukup bervariasi sehingga dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui faktor pengelolaan budidaya yang mempengaruhi produksi rumput laut. Metode survai melalui pengajuan kuesioner kepada 62 responden secara terstruktur. Sebagai peubah tidak bebas dalam penelitian ini adalah produksi rumput laut, sedangkan peubah bebas adalah faktor pengelolaan budidaya. Analisis regresi berganda dengan peubah boneka digunakan untuk memprediksi produksi rumput laut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi rumput laut di perairan selatan Sulawesi Selatan berkisar antara 463-5.000 dengan rata-rata 1.502,3 kg kering/3.000 m2 yang dibudidayakan dengan tali panjang. Faktor pengelolaan budidaya yang mempengaruhi produksi rumput laut adalah jarak antar tali ris, jarak antar rumpun dalam tali ris, hama baronang, penyakit ice-ice, bobot bibit, asal bibit dan sumber cemaran. Untuk meningkatkan produksi rumput laut di perairan selatan Sulawesi Selatan dapat dilakukan melalui peningkatan bobot bibit antara 36,9 sampai 100,0 g/rumpun, menggunakan bibit yang tidak diangkut terlalu lama, tidak menambah jarak antar tali ris sampai melebihi 1,0 m, tidak menambah jarak antar rumpun dalam tali ris yang melebihi 25 cm serta melakukan penanaman berdasar kalender musim tanam untuk mencegah terjadinya serangan hama dan penyakit serta cemaran.Coastal waters of Jeneponto, Bantaeng, and Bulukumba Regencies are the centre of seaweed Kappaphycus alvarezii production in South Sulawesi. Culture management practices applied by farmers in these areas are highly variable. Therefore, this research was conducted to study culture management practices affect the seaweed production in the area. Field survey was conducted by interviewing 62 respondents using questionnaires. The dependent variable in this research was seaweed production, while the independent variables were culture management factors. Multiple regressions with dummy variable were employed to analyze the data to predict seaweed production. The results show that the seaweed productions per one cycle in the south coastal waters of South Sulawesi were ranging from 463 to 5,000 kg dry/3,000 m2. Using long line method, the average yield production was 1,502.3 kg dry/3,000 m2. Culture management practices that affect the seaweed production were distance between ropes, distance between seaweed seeds along the rope, rabbitfish predatory, ice-ice disease, weight of seed, seed origin, and source of pollution. Increasing seaweed production in the south coastal waters of South Sulawesi could be done through increasing weight of seed from 36.9 to 100.0 g/clump, quicker transport of seed, maintaining the distance between the ropes not more than 1.0 m, not increasing the distance between clump along the ropes more than 25 cm along as well as conducting seed planting based on cultivating season to prevent pest diseases and pollution.
PENGARUH APLIKASI SUMBER C- KARBOHIDRAT (TEPUNG TAPIOKA) DAN FERMENTASI PROBIOTIK PADA BUDIDAYA UDANG WINDU, Penaeus monodon POLA INTENSIF DI TAMBAK Gunarto, Gunarto; Muliani, Muliani; Mansyur, Abdul
Jurnal Riset Akuakultur Vol 5, No 3 (2010): (Desember 2010)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (139.502 KB) | DOI: 10.15578/jra.5.3.2010.393-409

Abstract

Penelitian bertujuan untuk membandingkan pengaruh penambahan sumber C- karbohidrat (tepung tapioka) dan fermentasi probiotik pada budidaya udang windu dengan pola intensif di tambak terutama melihat efeknya terhadap perbaikan kualitas air, pertumbuhan, sintasan, dan produksi udang windu. Enam petak tambak masing-masing ukuran sekitar 4.000 m2, setelah selesai tahap persiapan tambak (pengeringan, pembalikan tanah dasar, pengapuran, pengisian air, dan pemupukan), kemudian tambak ditebari tokolan udang windu PL-25 dengan padat tebar 20 ekor/m2. Tiga perlakuan diuji yaitu A). Penambahan tepung tapioka  ke air tambak dengan dosis 62% dari total pakan yang diberikan per hari dan diberikan dalam selang waktu lima hari sekali selama masa pemeliharaan pada bulan pertama dan kemudian dengan selang waktu tiga hari sekali selama masa pemeliharaan bulan kedua hingga menjelang panen; B). Pemberian fermentasi probiotik ke air tambak sebanyak 5 mg/L/minggu; dan C). Pemberian fermentasi probiotik ke air tambak sebanyak 10 mg/L/minggu. Masing-masing perlakuan dengan dua ulangan. Sampling pertumbuhan, kualitas air, dan bakteri dilakukan setiap dua minggu sekali. Sintasan, produksi, dan nilai konversi pakan dihitung setelah udang dipanen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian tepung tapioka menyebabkan konsentrasi amoniak relatif lebih rendah di perlakuan A daripada di perlakuan B dan C, namun menunjukkan perbedaan yang tidak nyata (P>0,05) di antara ketiga perlakuan tersebut. Bahan Organik Total (BOT) pada hari ke-112 di perlakuan C paling rendah dan menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,05) dengan BOT di perlakuan B dan A. Juga terdapat indikasi adanya peningkatan populasi bakteri heterotrof, bakteri Sulfur Oxidizing Bacteria (SOB) di sedimen tambak, terutama di perlakuan C yang terjadi setelah masuk bulan ke-IV. Konsentrasi oksigen terlarut di perlakuan C relatif lebih tinggi daripada di perlakuan B dan A. Hal tersebut kemungkinan yang menyebabkan pertumbuhan, sintasan, dan produksi udang pada perlakuan C lebih tinggi daripada yang diperoleh pada perlakuan B dan A. Nilai konversi pakan yang terendah juga dijumpai pada perlakuan C, sedangkan yang tertinggi pada perlakuan A. Hasil analisis statistik baik pada pertumbuhan, sintasan, produksi, dan nilai konversi pakan menunjukkan perbedaan yang tidak nyata (P>0,05) di antara ketiga perlakuan yang diuji.The objective of the research was to compare the effect of addition of carbohydrate source (starch flour) and probiotics fermentation to the water quality and the growth, survival, and production of tiger shrimp in intensive brackishwater pond system. Six pond compartments each sized approximately of 4,000 m2, went through preparation stages (pond drying, ploughing, liming, filling the pond with sea water and fertilyzing). Then the ponds were stocked with tiger shrimp post larvae day 25 at stocking density of 20 ind./m2. Three treatments were tested, A). the addition of starch flour in pond water column at a dosage of 62% of the total given feed per day, and applied every five days during the first month of shrimp culture, and then every three days from the second month to harvest time; B). the addition of probiotic fermentation to the pond water column and was given at 5 mg/L/week; and C). the addition of probiotic fermentation to the pond water column and was given at 10 mg/L/week. Result of the research showed that the addition of starch flour was able to decrease the ammonia concentration in treatment A, but there was no significant difference (P>0.05) with the ammonia concentration compared to the treatment B and C. Total Organic Matter (TOM) at day 112 in treatment C was the lowest and significantly different (P<0.05) with TOM in treatment B and A. There was also an indication of increasing heterothrophic bacterial population and Sulphur Oxidizing Bacterial (SOB) in the sediment pond of treatment C in the fourth month of culture period. Dissolved oxygen in treatment C relatively was higher than those of treatment A and B. These conditions presummably have caused the higher of shrimp growth, survival rate and production in treatment C compared to the treatment A and B. The lowest of feed conversion ratio was also obtained by treatment C and the highest was treatment A. Statistical analysis on shrimp growth, survival, production, and feed convertion ratio were not significantly different (P>0.05) among those treatments.
MODEL KESESUAIAN LOKASI PENGEMBANGAN BUDIDAYA TAMBAK DI KAWASAN PESISIR KABUPATEN PONTIANAK, KALIMANTAN BARAT Utojo, Utojo; Mustafa, Akhmad; Hasnawi, Hasnawi
Jurnal Riset Akuakultur Vol 5, No 3 (2010): (Desember 2010)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.278 KB) | DOI: 10.15578/jra.5.3.2010.465-479

Abstract

Penelitian ini memanfaatkan teknologi Sistem Informasi Geografis (SIG) untuk menentukan lokasi yang sesuai bagi pengembangan budidaya tambak di Kabupaten Pontianak, Kalimantan Barat. Data sekunder yang diperoleh berupa data iklim, peta Rupabumi Indonesia kawasan Pontianak skala 1:50.000, citra digital ALOS AVNIR-2 dan peta batimetri skala 1:200.000. Data primer diperoleh dengan metode survai di lokasi penelitian yaitu kualitas air dan tanah serta pasang surut. Penentuan stasiun pengamatan dilakukan secara acak dan sistematik. Setiap lokasi pengambilan contoh ditentukan posisi koordinatnya dengan alat Global Positioning System (GPS). Data lapangan (fisika-kimia air dan tanah), data sekunder, dan data citra satelit digital, dianalisis secara spasial dengan metode PATTERN menggunakan SIG. Berdasarkan hasil survai dan evaluasi kesesuaian lokasi budidaya tambak di wilayah pesisir Kabupaten Pontianak seluas 497,077 ha. Pada umumnya yang tergolong sangat sesuai (114,986 ha), cukup sesuai (168,819 ha), tersebar di wilayah pesisir Kecamatan Sungai Pinyuh, Sungai Kunyit, Mempawah Hilir, dan Mempawah Timur, sedangkan yang kurang sesuai (213,272 ha), terdapat di Kecamatan Segedong dan Siantan. This research used GIS technique to find location suitable to develop sustainable brackhiswater pond in Pontianak Regency, West Kalimantan. Secondary data such as wheather data, Indonesia earth surface map of Pontianak area scale of 1:50,000, ALOS satellite imagery digital data, and navigation map scale 1:200,000 were collected and used. The primary data (water and soil quality) and tidal variation were determined during the field survey. Simple systematic random sampling was used to allocate sampling points. Digital Remote Sensing (ALOS) data, secondary data, and field data (water quality) were analyzed using PATTERN method and Geographical Information System (GIS). Thematic map of the area suitability as the main expected output of the study was created using spatial analysis and GIS as suggested by references. The potential areas suitable for brackhiswater pond development at Pontianak Regency were 497.077 ha, classified as brackhiswater pond with high suitability (114.986 ha) and moderate (168.819 ha), distributed in subdistrict shore area of Pinyuh River, Kunyit River, Mempawah Hilir, and Mempawah Timur, and the area classified as low suitability (213.272 ha) distributed in Segedong and Siantan Subdistricts. 
BUDIDAYA UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei) TEKNOLOGI INTENSIF MENGGUNAKAN BENIH TOKOLAN Mangampa, Markus; Suwoyo, Hidayat Suryanto
Jurnal Riset Akuakultur Vol 5, No 3 (2010): (Desember 2010)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (107.927 KB) | DOI: 10.15578/jra.5.3.2010.351-361

Abstract

Salah satu jenis udang yang cukup potensial untuk dikembangkan adalah udang vaname (Litopenaeus vannamei). Budidaya ini berkembang dengan teknologi intensif, namun terbatas pada golongan masyarakat menengah ke atas (padat modal). Riset ini bertujuan untuk mendapatkan data dan informasi pengaruh penggunaan tokolan terhadap produksi, Rasio Konversi Pakan (RKP) pada pembesaran udang vaname teknologi intensif. Riset ini dilaksanakan di tambak Punaga, Takalar, Instalasi Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau (BRPBAP), menggunakan empat petak masing masing berukuran 4.000 m2/petak. Hewan uji adalah udang vaname dengan perlakuan: (A) pembesaran dengan tebar benur (PL-12), dan (B) pembesaran dengan tebar tokolan (PL-27). Setiap perlakuan dengan 2 ulangan, kepadatan benur dan tokolan adalah 50 ekor/m2, dan pemeliharaan berlangsung 80 hari di tambak. Hasil yang diperoleh pada perlakuan B memperlihatkan pertumbuhan mutlak (11,114±0,258 g/ekor), sintasan (92,55±0,23%), produksi (2.087,5±88,2 kg/petak) lebih tinggi daripada perlakuan A yaitu: pertumbuhan mutlak (10,085±0,120 g/ekor), sintasan (90,83±8,51%), produksi (1.831,0±149,9 kg/petak), namun ketiga peubah ini berbeda tidak nyata antara kedua perlakuan. RKP lebih rendah pada perlakuan B (1,096±0,034) berbeda nyata dengan perlakuan A (1,257±0,048). Peubah kualitas air memperlihatkan sebaran kisaran yang merata untuk kedua perlakuan, kecuali nitrit (NO2) memperlihatkan kisaran yang tinggi pada perlakuan B (0,18235 mg/L) dibandingkan dengan perlakuan A (0,0328 mg/L) pada akhir penelitian. Hal ini disebabkan waktu panen yang berbeda sesuai dengan kondisi musim yaitu kualitas air sumber semakin menurun. Kualitas air sumber yang menurun ini diikuti oleh meningkatnya total vibrio di air laut mencapai; 4,33104 cfu/mL dibandingkan dalam air tambak 829.102 cfu/mL. Kesimpulan memperlihatkan bahwa penggunaan tokolan (PL-27) menghasilkan produksi yang tinggi dan rasio konversi pakan yang rendah.One species of shrimps that has the potential to be developed for aquaculture is whiteleg shrimp (Litopenaeus vannamei). The recent cultivation method has been developed using intensive technology, but can only be afforded by middle and upper social groups (capital intensive). This research was aimed to study the influence of using shrimp juvenile on the production and feed conversion ratio of whiteleg shrimp cultured in intensive system. The research was conducted at the research installation of the Research Institute for Coastal Aquaculture in Punaga, Takalar Regency. Four  ponds each sized of 4,000 m2 were used in this research. The treatment was applied i.e grow-out of post-larvae 12 (PL-12) (A) and grow-out of shrimp juvenile (PL-27) (B) each with stocking density of 50 ind./m2. Each treatment was arranged in two replications and reared for 80 days. The results obtained in treatment B showed that absolute growth (11.114±0.258 g/ind.), survival (92,55±0,23%), and production (2,087.5±88.2 kg/pond) was higher than those of in treatment A (absolute growth, 10.085±0.120 g/ind., survival rate, 90.83±8.51%, production, 1,831.0±149.9 kg/pond), but all parameters were not significantly different between both treatments. Feed conversion ratio (FCR) was lower in treatment B (1.096±0034) and significantly different with treatment A (1.257±0.048). Water quality parameters showed similar variations in both treatments, except Nitrite (NO2) where a high range of Nitrite variation was recorded in treatment B (0.18235 mg/L) compared to treatment A (0.0328 mg/L) at the end of research. This was due to different harvest times in accordance with the conditions of the season where at a particular time, the quality of water source was decreasing. The decrease of water quality was followed by the increase of total vibrio in seawater reaching 433104 CFU/mL than in the pond water 829.102 CFU/mL. The conclusion is that using the shrimp juvenile, PL-27, high shrimp production and low RKP can be achieved. 
UJI KETAHANAN LARVA UDANG GALAH DARI BEBERAPA SUMBER POPULASI TERHADAP BAKTERI Vibrio harveyi Khasani, Ikhsan; Wahjuningrum, Dinamella; Evan, Yan
Jurnal Riset Akuakultur Vol 5, No 3 (2010): (Desember 2010)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (143.671 KB) | DOI: 10.15578/jra.5.3.2010.411-424

Abstract

Salah satu penyakit yang sering menyerang udang di pembenihan adalah vibriosis, yang disebabkan oleh bakteri Vibrio harveyi. Penelitian bertujuan untuk mengetahui tingkat ketahanan beberapa strain larva udang galah, yaitu asal Sungai Ogan, Sumatera Selatan; Sungai Asahan, Sumatera Utara; Sungai Barito, Kalimantan Selatan; Sungai Ciasem, Jawa Barat; dan strain GIMacro terhadap infeksi bakteri Vibrio harveyi, sebagai dasar perakitan varietas unggul udang galah. Penelitian dilakukan dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan lima perlakuan, yaitu strain larva dan tiga ulangan. Larva udang galah stadia 4 dari 5 populasi berbeda, dengan panjang rata-rata 2,7±0,4 mm ditempatkan di stoples volume 3 L dengan padat penebaran  larva 100 ekor/L. Setiap wadah diisi 1 L air payau 10‰. Selanjutnya diinfeksi bakteri V. harveyi patogen berumur 24 jam dengan kepadatan 105 cfu/mL. Nauplii Artemia diberikan pada pagi dan sore hari. Parameter yang diamati meliputi pengamatan visual abnormalitas larva uji yang dilihat dari tingkah laku larva dan kondisi organ hepatopankreas, tingkat sintasan, kelimpahan total bakteri Vibrio sp. dan V. harveyi, identifikasi bakteri, dan parameter kualitas air. Selama 48 jam perlakuan sintasan larva yang berasal dari strain induk yang berbeda memberikan hasil berbeda nyata dengan tingkat sintasan tertinggi pada larva asal Barito, yaitu 75%; diikuti GIMacro 65%; Asahan 61,33%; Ciasem 53,66%; strain Ogan 20%.Vibriosis caused by Vibrio harveyi is a serious problem in intensive system hatcheries of freshwater prawn. This study was conducted to study the resistance of larvae from different locations i.e. Ogan River, South Sumatra; Asahan River, North Sumatra; Barito River, South Kalimantan; Ciasem River, West Java; and GIMacro, as part of breeding program to create superior prawn strain. Complete randomized design was used in this study, with 5 treatments, i.e. larvae source and 3 replications. 4th stage of freshwater prawn larvae from the different populations, average total length of 2,7±0,4 mm, were reared in 3 liters buckets with larvae density of 100 larvae/L. Each bucket was filled with 1 L of 10‰ saline water. V. harveyi aged 24 hours was inoculated in each bucket with a density of 105 cfu/mL. Artemia sp. nauplii was given to the larvae twice per day. Some parameters consisting of abnormalitas of larvae, larvae behaviour, hepatopancreas performance, mortality, total of Vibrio sp. number and water quality was observed during the study. During 48 hours of the treatment, showed that factor of different larvae location gave a significant result to larvae survival rate. The highest survival rates was observed in the Barito larvae population (75%), followed by GIMacro (65%), Asahan (61.33%), Ciasem (53.66%), and Ogan 20%.
ANALISIS TINGKAT KECERNAAN PAKAN DAN LIMBAH NITROGEN (N) BUDIDAYA IKAN BANDENG SERTA KEBUTUHAN PENAMBAHAN C-ORGANIK UNTUK PENUMBUHAN BAKTERI HETEROTROF (BIOFLOK) Usman, Usman; Palinggi, Neltje Nobertine; Harris, Enang; Jusadi, Dedi; Supriyono, Eddy; Yuhana, Munti
Jurnal Riset Akuakultur Vol 5, No 3 (2010): (Desember 2010)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (510.627 KB) | DOI: 10.15578/jra.5.3.2010.481-490

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis kecernaan pakan dan beban limbah nitrogen (N) dan karbon organik (C) pada pembesaran ikan bandeng untuk dijadikan acuan penumbuhan bakteri heterotrof (bioflok). Pakan uji yang digunakan adalah pakan komersial yang memiliki kadar protein berbeda yaitu 17%, 21%, dan 26%. Pakan tersebut digiling ulang, lalu ditambahkan kromium oksida (Cr2O3) sebagai indikator kecernaan. Untuk menentukan total limbah N termasuk ekskresi amonia, dilakukan juga pemeliharaan ikan bandeng selama 45 hari dan menghitung retensi N. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecernaan ketiga pakan tersebut tidak berbeda nyata yaitu antara 77,2%-78,2% untuk bahan kering; 88,6%-90,0% untuk protein; dan 81,6%-83,1% untuk C-organik. Namun total limbah N per 100 g pakan yang masuk ke perairan meningkat secara nyata dengan meningkatnya kadar protein pakan yaitu 2,27 g N untuk pakan berprotein 17%; 2,76 g N untuk pakan berprotein 21%; dan 3,28 g N untuk pakan berprotein 26%. Untuk mengkonversi limbah N dari budidaya bandeng ini menjadi bakteri heterotrof (bioflok), diperlukan aplikasi C-organik sebanyak 22,7 g; 27,6; dan 33 g per 100 g pakan berturut-turut untuk pakan yang berprotein 17%, 21%, dan 26%.This experiment was conducted to analyze the feed digestibility and nitrogen (N) waste of milk fish grow-out and assessment of organic-C addition to promote heterotrophic bacteria (biofloc). The three commercial diets were used containing different protein levels i.e. (A) 17%, (B) 21%, and (C) 26%. Chromic oxide was used as the digestibility marker. To assess the total nitrogen waste, the milk fish with initial weight of 48 g/fish were reared for 45 days and the protein retention was calculated. The results showed that the apparent digestibility of the all three tested diets was not significantly different (>0.05) i.e. 77.2%-78.2% for dry matter, 88.6%-90% for protein, and 81.6%-83.1% for organic-C. However, the total nitrogen waste per 100 g of feed released to the waters tended to increase with the increase of protein content of the feed, i.e. 2.27g N for 17% of diet protein content; 2.76 g N for 21% of diet protein content, and 3.28 g N for 26% of diet protein content. Conversion of the total N waste of milk fish grow-out to promote heterotrophic bacteria needed additional organic-C of 22.7 g; 27.6 g; 33 g per 100 g of feed which have 17%, 21%, and 26% protein contents.
KERAGAAN COPEPODA CYCLOPOIDA: Apocyclops sp. PADA KONDISI KULTUR Imanto, Philip Teguh; Sumiarsa, Gede Suwarthama
Jurnal Riset Akuakultur Vol 5, No 3 (2010): (Desember 2010)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.03 KB) | DOI: 10.15578/jra.5.3.2010.363-372

Abstract

Copepoda pada dasarnya adalah udang berukuran mikroskopik yang menjadi rantai pakan alami yang penting di perairan bebas. Investigasi jenis-jenis copepod lokal akan membantu menyiapkan informasi untuk pengembangan budidayanya sebagai jasad pakan alami. Penelitian dilakukan dengan mengkoleksi jenis Cyclopoida lokal perairan pantai Gerokgak, Buleleng, Bali, diisolasi dan dikembangbiakkan dengan pakan kombinasi antara alga Nannochloropsis oculatta, tepung terigu, ragi roti, dan hati ayam dalam tangki beton 5 m3. Tiga ratus individu Cyclopoida yang membawa telur ditempatkan pada tiga wadah kultur bervolume satu liter. Pengamatan pada pertumbuhan individu dilakukan dengan sampling setiap hari dan setiap dua hari untuk melihat perkembangan telurnya. Jenis Cyclopoida lokal termasuk famili Cyclopidae dan genus Apocyclops spp. Kecepatan pertumbuhan mencapai 20 µm setiap harinya, dan dari fase copepodit mencapai ukuran dewasa membawa telur dianalisis selama 12 hari, perkembangan telur memerlukan waktu maksimal 10 hari, sehingga estimasi siklus umur minimal adalah 22 hari. Produktivitas rata-rata telur Apocyclops spp. pada penelitian ini diestimasi sebanyak 36 (minimum16-maksimum 65) butir per individu betina. Penelitian kultur lebih lanjut difokuskan pada optimalisasi suhu, salinitas, oksigen terlarut pada media hingga optimalisasi pada jenis pakan.Copepod, a microscopic shrimp, is an important member in natural food chain in waters. Investigating the types of local copepod will provide valuable information for the development of other natural live feed culture. The research was carried out by collecting local Cyclopoida species from Gerokgak coastal waters, Buleleng Regency-Bali, isolated and cultured with combination feed of algae Nannochloropsis oculatta, wheat flour, yeast bread and chicken liver in 5 m3 concrete tank. Three hundred individuals of Cyclopoida carrying eggs were placed in three beaker glasses of one-liter culture volume. An observation on the individual growth was done by daily sampling and every two days to see the development of the eggs. The type of local Cyclopoid was classified as Cyclopidae family in the genus of Apocyclops spp. The growth rate reached 20 ìm per day, and from copepodite to adult carrying eggs took 12 days, the egg development took maximum 10 days, and the estimate of the minimum age cycle was 22 days. The average productivity of egg of Apocyclops spp. in this study was estimated to be 36 (min. 16-max. 65) eggs per female. Further culture studies focusing on the optimization of temperature, salinity, dissolved oxygen in the media and nutritional aspects, need to be further studied.

Page 1 of 2 | Total Record : 12


Filter by Year

2010 2010


Filter By Issues
All Issue Vol 14, No 1 (2019): (Maret, 2019) Vol 13, No 1 (2018): (Maret 2018) Vol 13, No 4 (2018): (Desember 2018) Vol 13, No 3 (2018): (September 2018) Vol 13, No 2 (2018): (Juni, 2018) Vol 13, No 1 (2018): (Maret 2018) Vol 12, No 4 (2017): (Desember 2017) Vol 12, No 3 (2017): (September 2017) Vol 12, No 2 (2017): (Juni 2017) Vol 12, No 1 (2017): (Maret 2017) Vol 12, No 4 (2017): (Desember 2017) Vol 12, No 3 (2017): (September 2017) Vol 12, No 2 (2017): (Juni 2017) Vol 12, No 1 (2017): (Maret 2017) Vol 11, No 4 (2016): (Desember 2016) Vol 11, No 3 (2016): (September 2016) Vol 11, No 2 (2016): (Juni 2016) Vol 11, No 1 (2016): (Maret 2016) Vol 11, No 4 (2016): (Desember 2016) Vol 11, No 3 (2016): (September 2016) Vol 11, No 2 (2016): (Juni 2016) Vol 11, No 1 (2016): (Maret 2016) Vol 10, No 4 (2015): (Desember 2015) Vol 10, No 3 (2015): (September 2015) Vol 10, No 2 (2015): (Juni 2015) Vol 10, No 1 (2015): (Maret 2015) Vol 10, No 4 (2015): (Desember 2015) Vol 10, No 3 (2015): (September 2015) Vol 10, No 2 (2015): (Juni 2015) Vol 10, No 1 (2015): (Maret 2015) Vol 9, No 3 (2014): (Desember 2014) Vol 9, No 2 (2014): (Agustus 2014) Vol 9, No 1 (2014): (April 2014) Vol 9, No 3 (2014): (Desember 2014) Vol 9, No 2 (2014): (Agustus 2014) Vol 9, No 1 (2014): (April 2014) Vol 8, No 3 (2013): (Desember 2013) Vol 8, No 2 (2013): (Agustus 2013) Vol 8, No 1 (2013): (April 2013) Vol 8, No 3 (2013): (Desember 2013) Vol 8, No 2 (2013): (Agustus 2013) Vol 8, No 1 (2013): (April 2013) Vol 7, No 3 (2012): (Desember 2012) Vol 7, No 2 (2012): (Agustus 2012) Vol 7, No 1 (2012): (April 2012) Vol 7, No 3 (2012): (Desember 2012) Vol 7, No 2 (2012): (Agustus 2012) Vol 7, No 1 (2012): (April 2012) Vol 6, No 3 (2011): (Desember 2011) Vol 6, No 2 (2011): (Agustus 2011) Vol 6, No 1 (2011): (April 2011) Vol 6, No 3 (2011): (Desember 2011) Vol 6, No 2 (2011): (Agustus 2011) Vol 6, No 1 (2011): (April 2011) Vol 5, No 3 (2010): (Desember 2010) Vol 5, No 2 (2010): (Agustus 2010) Vol 5, No 1 (2010): (April 2010) Vol 5, No 3 (2010): (Desember 2010) Vol 5, No 2 (2010): (Agustus 2010) Vol 5, No 1 (2010): (April 2010) Vol 4, No 3 (2009): (Desember 2009) Vol 4, No 2 (2009): (Agustus 2009) Vol 4, No 1 (2009): (April 2009) Vol 4, No 3 (2009): (Desember 2009) Vol 4, No 2 (2009): (Agustus 2009) Vol 4, No 1 (2009): (April 2009) Vol 3, No 3 (2008): (Desember 2008) Vol 3, No 2 (2008): (Agustus 2008) Vol 3, No 1 (2008): (April 2008) Vol 3, No 3 (2008): (Desember 2008) Vol 3, No 2 (2008): (Agustus 2008) Vol 3, No 1 (2008): (April 2008) Vol 2, No 3 (2007): (Desember 2007) Vol 2, No 2 (2007): (Agustus 2007) Vol 2, No 1 (2007): (April 2007) Vol 2, No 3 (2007): (Desember 2007) Vol 2, No 2 (2007): (Agustus 2007) Vol 2, No 1 (2007): (April 2007) Vol 1, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006) Vol 1, No 1 (2006): (April 2006) Vol 1, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006) Vol 1, No 1 (2006): (April 2006) More Issue