cover
Contact Name
Suprapti
Contact Email
Suprapti
Phone
-
Journal Mail Official
jra.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Riset Akuakultur
ISSN : 19076754     EISSN : 25026534     DOI : -
Jurnal Riset Akuakultur as source of information in the form of the results of research and scientific review (review) in the field of various aquaculture disciplines include genetics and reproduction, biotechnology, nutrition and feed, fish health and the environment, and land resources in aquaculture.
Arjuna Subject : -
Articles 13 Documents
Search results for , issue " Vol 4, No 3 (2009): (Desember 2009)" : 13 Documents clear
PENENTUAN LOKASI PENGEMBANGAN BUDIDAYA TAMBAK BERKELANJUTAN DENGAN APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DI KABUPATEN LAMPUNG SELATAN Utojo, Utojo; Mustafa, Akhmad; Rachmansyah, Rachmansyah; Hasnawi, Hasnawi
Jurnal Riset Akuakultur Vol 4, No 3 (2009): (Desember 2009)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1001.571 KB) | DOI: 10.15578/jra.4.3.2009.407-423

Abstract

Penelitian ini memanfaatkan teknologi Sistem Informasi Geografi (SIG) untuk menentukan lokasi yang layak bagi pengembangan budidaya tambak di Kabupaten Lampung Selatan. Data sekunder yang diperoleh berupa data iklim, peta Rupa Bumi Indonesia kawasan Lampung Selatan skala 1:50.000, citra digital landsat-7 ETM+ dan peta batimetri skala 1:200.000. Data primer diperoleh dengan metode survai di lokasi penelitian yaitu kondisi kualitas perairan, kualitas air, dan pasang surut. Penentuan stasiun pengamatan dilakukan secara acak dan sistematik. Setiap lokasi pengambilan contoh ditentukan posisi koordinatnya dengan alat Global Positioning System (GPS). Data lapangan (fisika-kimia perairan), data sekunder, dan data citra satelit (Landsat ETM+) digital, dianalisis secara spasial dengan metode PATTERN menggunakan Sistem Informasi Geografi (SIG). Berdasarkan hasil survai dan evaluasi kelayakan budidaya tambak udang di wilayah pesisir Lampung Selatan seluas 4.052,3 ha. Pada umumnya yang memiliki tingkat kelayakan tinggi (1.223,1 ha), sedang (2.065,4 ha), dan rendah (763,8 ha) tersebar di wilayah pesisir Kecamatan Sragi, Ketapang, dan Panengahan, sedangkan sebagian kecil terdapat di Kecamatan Kalianda, Sidomulyo, dan Katibung, serta lokasi yang tidak layak berupa perbukitan, masing-masing dituangkan dalam peta prospektif skala 1:50.000.This research used GIS technique to find location suitable to develop sustainable brackishwater pond culture in South Lampung Regency. Secondary data such as weather data, Indonesia earth surface map of South Lampung area scale of 1:50,000, landsat-7ETM digital imagery, and navigation map scaled 1:200,000. Primary data (water quality) and tide were collected using survey method. Simple systematic random sampling was used to allocate sampling points. Digital Remote sensing (Landsat ETM+) data, secondary data, and field data (water quality) were analyzed using PATTERN method and Geographic Information System (GIS). Tematic map of area suitability as the main expected output of the study was created through spatial analysis and GIS as suggested by reference. The potential areas which are suitable for shrimp brackishwater pond culture development in South Lampung Regency are 4,052.3 ha, consisting of high suitability area (1,223.1 ha), moderate (2,065.4 ha), and low (763.8 ha) and are distributed in the coastline areas of Subdistrict of Sragi, This research used GIS technique to find location suitable to develop sustainable brackishwater pond culture in South Lampung Regency. Secondary data such as weather data, Indonesia earth surface map of South Lampung area scale of 1:50,000, landsat-7ETM digital imagery, and navigation map scaled 1:200,000. Primary data (water quality) and tide were collected using survey method. Simple systematic random sampling was used to allocate sampling points. Digital Remote sensing (Landsat ETM+) data, secondary data, and field data (water quality) were analyzed using PATTERN method and Geographic Information System (GIS). Tematic map of area suitability as the main expected output of the study was created through spatial analysis and GIS as suggested by reference. The potential areas which are suitable for shrimp brackishwater pond culture development in South Lampung Regency are 4,052.3 ha, consisting of high suitability area (1,223.1 ha), moderate (2,065.4 ha), and low (763.8 ha) and are distributed in the coastline areas of Subdistrict of Sragi, 
PERAN IKAN LIAR YANG BERASOSIASI DENGAN KERAMBA JARING APUNG DALAM MEREDUKSI BUANGAN NUTRIEN PAKAN Undu, Muhammad Chaidir; Rachmansyah, Rachmansyah; Makmur, Makmur
Jurnal Riset Akuakultur Vol 4, No 3 (2009): (Desember 2009)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (91.582 KB) | DOI: 10.15578/jra.4.3.2009.327-332

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran ikan liar yang hidup di sekitar keramba jaring apung dalam meminimalisir buangan nutrien yang berasal dari kegiatan budidaya melalui pendekatan kecernaan ikan. Ikan sersan mayor Abudefduf vaigiensis dan capungan Sphaeramia orbicular yang dominan di keramba jaring apung ditangkap dan dipelihara selama dua bulan dan diberi pakan ikan kerapu komersial. Apparent Digestibility Coefficient (ADC) kemudian dihitung menggunakan metode tidak langsung dengan cara mencampurkan indikator khromium oksida (Cr2O3) ke dalam pakan. ADC ikan sersan mayor untuk N, P dan bahan kering berturut-turut sebesar 12,88%; 15,47%; dan 66,67%. Selanjutnya jumlah N dan P yang tersimpan dalam karkas ikan sebesar 19,90% dan 12,76%. Ikan sersan mayor dengan FCR 3,0 melepaskan N dan P ke perairan sebanyak 104,78 dan 42,66 gram setiap penambahan 1 kg bobot badan. Ikan capungan, dengan ADC terhadap N, P dan bahan kering pakan sebesar 12,52%; 59,07%; dan 62,15% menahan 16,76% N dan 11,71% P dalam karkasnya. Dengan FCR 5,0, ikan capungan mengeksresikan N sebanyak 181,46 gram dan 71,96 gram P ke perairan ketika terjadi peningkatan biomassa 1 kg. Ikan liar yang hidup di sekitar keramba jaring apung di Teluk Awerange dapat meminimalisir buangan limbah dari keramba jaring apung sebesar 10% – 20%.   The study was aimed to point out the role of wild fishes associated with floating net cage in minimizing nutrient loading from fish farming through digestibility approach. Abudefduf vaigiensis and Sphaeramia orbicular as the dominant species around sea cage were caught and fed ad satiation with commercial grouper food for 2 months period. Apparent Digestibility Coefficient (ADC) was then calculated using indirect method by mixing indicator chromium oxide (Cr2O3) with fish food. ADC of A. vaigiensis for nitrogen (N), phosphate (P) and dry matter were 12.88%, 51.47%, and 66.67 % respectively. Moreover, N and P retained from fish carcass were 19.90% and 12.76%. Furthermore, these fishes with FCR of 3.0 release N and P to sea water as much as 104.78 gram and 42.66 g respectively when biomass increase to 1 kg. For Sphaeramia orbicularis, ADC for N, P and dry matter were 12.52%, 59.07%, and 62.15% respectively and retained 16.76% N and 11.71% P in their carcass. Moreover, with FCR of 5.0, these fishes excreted 181.46 gram of N and 71.96 gram of P into the environment when the biomass increases to 1 kg. Wild fishes associated with sea cage in Awarange bay have the potential of minimize released nutrient between 10%–20%.
PEMANFAATAN MAGGOT SEBAGAI PENGGANTI TEPUNG IKAN DALAM PAKAN BUATAN UNTUK BENIH IKAN BALASHARK (Balanthiocheilus melanopterus Bleeker) Priyadi, Agus; Azwar, Zafril Imran; Subamia, I Wayan; Hem, Saurin
Jurnal Riset Akuakultur Vol 4, No 3 (2009): (Desember 2009)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (99.347 KB) | DOI: 10.15578/jra.4.3.2009.367-375

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh substitusi sumber protein tepung ikan dengan tepung maggot telah diteliti terhadap ikan hias balashark. Sebanyak 1.500 ekor benih ikan balashark dengan bobot awal rata-rata 2,26 ± 0,08 g dan panjang 5,18 ± 0,06 cm ditebar dalam 15 unit bak tembok berukuran 1,2 m x 0,7 m x 0,5 m, sistem resirkulasi dan dilengkapi aerasi dengan padat penebaran 100 ekor/bak dan dipelihara selama 60 hari. Pakan buatan dengan perbedaan substitusi maggot terhadap tepung ikan sebagai pengganti protein diberikan sebagai perlakuan yaitu (a) 0%; (b) 10%; (c) 20%; (d) 30%; dan (e) 40% maggot substitusi. Perlakuan substitusi maggot nyata mempengaruhi (P<0,05) pertambahan bobot, panjang total, pertumbuhan spesifik, retensi protein, dan rasio efisiensi protein. Substitusi maggot hingga level 16,47% memberikan respons terbaik terhadap penampilan tumbuh benih ikan balashark.The objective of this research was to study the effect of maggot meal as an alternative protein source to partially substitute fish meal in artificial feed for balashark fry. This research was conducted at the Research Institute for Ornamental Fish in Depok, West Java. Fifteen concrete tanks each of 1.2 m x 0.7 m x 0.5 m, provided with aerated recirculation water system, were used as culture tanks. Balashark fry averaging 2.26±0.08 g in body weight and 5.18±0.06 cm in body length were stocked into the tanks at a density of 100 fries per tank. The dietary treatments tested were five different levels of maggot meal, namely: (a) 0% substitution; (b) 10% substitution; (c) 20% substitution; 30% substitution, and e) 40% substitution. Feeding of the fries lasted for 60 days. Results of the research showed that, based on body weight gain, total body length, specific growth rate, protein retention, protein efficiency ratio, and lipid retention, the effect of maggot meal to substitute for fish meal was significant (P<0.05). The best growth performance of the balashark fries was achieved by the feed containing maggot meal substitution for fish meal of 16.47%.
EVALUASI RINCI KARAKTERISTIK DAN TINGKAT KESESUAIAN LAHAN TAMBAK DI KECAMATAN BALUSU KABUPATEN BARRU PROVINSI SULAWESI SELATAN Tarunamulia, Tarunamulia; Mustafa, Akhmad
Jurnal Riset Akuakultur Vol 4, No 3 (2009): (Desember 2009)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (843.659 KB) | DOI: 10.15578/jra.4.3.2009.425-438

Abstract

Upaya peningkatan produksi tambak yang optimal dan berkelanjutan mutlak didukung oleh informasi karakteristik lahan yang rinci dan mudah diinterpretasi oleh berbagai stakeholder. Ketersediaan informasi spasial tambak di berbagai daerah di Indonesia utamanya masih diperuntukkan bagi kebutuhan umum perencanaan tata ruang wilayah pesisir dan pantai tingkat provinsi dan kabupaten. Dengan demikian data tersebut tentunya belum memuat informasi yang berhubungan langsung dengan upaya pengelolaan dan peningkatan produktivitas lahan tambak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik dan menilai tingkat kesesuaian secara rinci lahan tambak pada salah satu kawasan tambak di Kecamatan Balusu Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan melalui analisis spasial. Informasi spasial secara rinci yang meliputi tata letak tambak dan saluran tambak termasuk penggunaan lahan di sekitar tambak diekstrak dari citra satelit resolusi tinggi Quickbird akuisisi tahun 2007. Pengambilan sampel tanah tambak mengikuti metode acak bertingkat (Stratified random sampling) pada wilayah pertambakan. Hasil analisis spasial peubah kimia tanah yang secara rinci dikelompokkan menurut peubah yang mewakili tingkat kemasaman dan kesuburan tanah menunjukkan bahwa hamparan tambak eksisting umumnya memiliki karakteristik tanah yang masam dengan tingkat kesuburan yang rendah. Lebih lanjut diketahui bahwa dari total lahan tambak 548,33 ha yang disurvai; 260,6 ha lahan tersebut berkategori kurang layak; 283,3 ha layak; dan hanya sekitar 4,43 ha yang berkategori sangat layak. Namun demikian 52,47% lahan yang berstatus layak hingga sangat layak tersebut juga masih dapat berubah status menjadi kurang layak dengan adanya batasan aspek hidrologis, utamanya tingkat ketersediaan air yang mengandalkan jaringan saluran tambak.The current national plan to increase shrimp production to the optimum and sustainable level must be supported by adequate and accurate information on detailed spatial characteristics of coastal areas. The spatial characteristics must also be interpretable or readable to most aquaculture stakeholders. However, the existing available spatial information of land-based aquaculture in most of regions in Indonesia is so far only employed for the global spatial planning of coastal areas (provincial and regency level). In fact, the available information does not have enough detail if it is intended for pond management and engineering applications with respects to upgrading pond productivity. The purpose of this study was to understand the detailed soil characteristics and to assess the level of suitability of the existing brackishwater pond areas in Balusu Sub-district Barru Regency, South Sulawesi with the application of spatial analysis. The detailed spatial information comprising pond layout, canal network and adjacent land use/land cover around the pond unit area was extracted from quickbird satellite imagery acquired in 2007. Soil samples were collected following a stratified random sampling method over shrimp farming areas. Output of spatial analysis of chemical soil variables that were divided into variables representing the level of soil acidity and variables indicating soil fertility showed in general that most of the pond units have high level of soil acidity and can be categorized as marginal land  with low level of soil fertility. Furthermore, the analysis showed that from 548.33 ha area of surveyed fish pond areas, 260.6 ha were categorized as less suitable, 283.3 ha were suitable, and only 4.43 ha were in the category of highly suitable. Although there were 52.47% of the total area classified in the category of suitable to highly suitable, the status might switch to less suitable if there is not enough attention paid onto the existing limiting factors such as the less optimal function of the present canal networks as the main source of tide-water supply for all pond units.
TOLERANSI SALINITAS BENIH PERSILANGAN 3 STRAIN IKAN NILA (Oreochromis niloticus) DENGAN IKAN MUJAIR (O. mossambicus) Gusrina, Gusrina; Alimuddin, Alimuddin; Sumantadinata, Komar; Widyastuti, Utut
Jurnal Riset Akuakultur Vol 4, No 3 (2009): (Desember 2009)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (195.216 KB) | DOI: 10.15578/jra.4.3.2009.333-340

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui keberhasilan introduksi gen penyandi hormon pertumbuhan (Growth Hormone, GH) pada embrio ikan lele sehingga dapat memperbaiki kecepatan tumbuhnya. Gen GH dari ikan nila (tiGH) yang dikontrol oleh promoter beta-aktin (mBP) dari ikan medaka dimikroinjeksikan ke dalam blastodisk embrio ikan lele fase satu sel. Konsentrasi konstruksi gen pmBP-tiGH yang ditransfer adalah 50 µg/mL akuabides. Parameter yang diamati meliputi derajat sintasan embrio (DKHe), derajat penetasan (DP) dan persentase individu ikan lele yang membawa pmB-tiGH. DKHe dihitung sebelum telur menetas, sedangkan DP dihitung pada saat semua telur menetas. Identifikasi ikan yang membawa pmB-tiGH ditentukan menggunakan metode PCR dengan primer spesifik untuk gen tiGH. Analisis ekspresi gen menggunakan metode RT- PCR. Hasil penelitian dari 100 embrio yang diinjeksi menunjukkan bahwa nilai DKHe (97%) dan DP  (94%) pada kontrol (tidak dimikroinjeksi) lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan mikroinjeksi (30% untuk DKHe, dan 28% DP). Ikan lele yang membawa pmBP-tiGH adalah 42,86% (12/28). Kesimpulan adalah bahwa tiGH masih diekspresikan pada benih ikan lele.This study was conducted to determine the success of introducing gene encoding growth hormone (GH) in catfish embryos that can improve its growth rate. GH gene of Nile tilapia, driven by medaka bactin promoter was injected to one cell stage of catfish embryos by microinjection method. The DNA solution (pmBP-tiGH) used was 50 µL/ml in SDW (Sterile Distillated Water). The parameters observed were survival rate of embryos (SRe), hatching rate (HR), and the percentage of individual carrying pmBP-tiGH. SRe was calculated before hatching and HR was calculated at the time of all embryos hatched. Transgenic individuals carrying tiGH were identified by PCR (Polymerase Chain Reaction) method with specific primer for tiGH gene. The analysis of gene expression was detected by RT-PCR. The results of the research from 100 catfish embryos showed that control have higher SRe (97%) and HR (94%) than SRe (30%) and HR (28%) of injected fish. The percentage of catfish carrying tiGH gene was 42.86% (12/28). Conclusion: tiGH was expressed in catfish.
PERBANDINGAN PENGGUNAAN BERBAGAI PRESERVASI RNA JARINGAN DENGAN RNA LATER, ALKOHOL, DAN ALKOHOL-GLISEROL UNTUK DETEKSI IMNV DENGAN PCR Novita, Hessy; Mufidah, Tatik; Koesharyani, Isti
Jurnal Riset Akuakultur Vol 4, No 3 (2009): (Desember 2009)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (121.666 KB) | DOI: 10.15578/jra.4.3.2009.377-383

Abstract

Salah satu kunci keberhasilan pemeriksaan virus dan patogen lain pada udang dan ikan adalah penanganan sampel secara benar. Deteksi RNA untuk virus IMNV dengan PCR sangat dipengaruhi oleh proses preservasi, karena RNA cenderung tidak stabil dan mudah terdegradasi sehingga dapat mengurangi sensitivitas diagnosa dengan PCR. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan membandingkan penggunaan jenis-jenis preservasi RNA jaringan untuk keperluan diagnosa dengan PCR. RNA jaringan berasal dari jaringan udang yang terinfeksi IMNV. Insang atau pleopoda dari udang dipreservasi dengan tiga jenis bahan pengawet, yaitu alkohol 90%, alkohol - gliserol dengan perbandingan 80% dan 20%, dan RNA LATER, kemudian dilakukan pengamatan dengan deteksi PCR selama 1 tahun. Dari hasil penelitan menunjukkan bahwa jaringan yang dipresevasi dengan RNA LATER setelah diuji PCR menghasilkan band yang cenderung stabil dibandingkan dengan preservasi alkohol, dan alkohol-gliserol.One of the key success in detecting viruses and other pathogenic organisms in shrimp and fish is the correct handling of samples. RNA virus detection for IMNV with PCR process is strongly influenced by preservative process, because RNA is unstable and easily to degrade so that it can reduce the sensitivity of PCR diagnosis. The objective of this research was to determine and compare types of preservatives used for PCR diagnostic. RNA was derived from shrimp infected IMNV. Gill or pleopoda of shrimp was preserved with three types of preservative which were 90% Alcohol, alcohol - glycerol with ratio of 80% and 20%, and RNA LATER, and then observed using PCR analysis several times for over one year. The results of the research indicates that the tissue preserved in RNA Later, resulted more stable band compared to alcohol, and alcohol-glycerol in PCR analysis.
PEMETAAN DISTRIBUSI KERAMBA JARING APUNG IKAN AIR TAWAR DI WADUK CIRATA, JAWA BARAT DENGAN MULTI TEMPORAL DATA ALOS AVNIR-2 Radiarta, I Nyoman; Ardi, Idil
Jurnal Riset Akuakultur Vol 4, No 3 (2009): (Desember 2009)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1071.58 KB) | DOI: 10.15578/jra.4.3.2009.439-446

Abstract

Budidaya ikan air tawar dengan keramba jaring apung (KJA) telah memberikan kontribusi yang cukup besar bagi peningkatan produksi perikanan, menyediakan lapangan kerja, dan perbaikan perekonomian masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pemetaan distribusi keramba jaring apung ikan air tawar di Waduk Cirata, Jawa Barat. Data utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah multi temporal data satelit Advanced Land Observing Satellite (ALOS) Advance Visible and Near Infrared Radiometer type 2 (AVNIR-2) tanggal 27 Juni 2008 dan 27 September 2008. Validasi data satelit telah dilakukan melalui survei lapangan pada tanggal 17 April 2009. Hasil klasifikasikan data satelit dan estimasi luasan menunjukkan adanya peningkatan luasan KJA dari 892 ha pada bulan Juni 2008 menjadi 949 ha pada bulan September 2008, sedangkan luasan waduk menunjukkan penurunan yaitu 5.839 ha pada bulan Juni 2008 menjadi 4.818 ha pada bulan September 2008. Hasil pemetaan dan estimasi luasan dari penelitian ini berguna sebagai data dasar yang dapat dimanfaatkan untuk perencanaan dan pengelolaan waduk yang lebih baik.Freshwater cage aquaculture is of a great importance to increase aquaculture production, provide employment opportunity and improve rural economy. The aim of this study was to map the distribution of freshwater cage aquaculture in Cirata Reservoir, West Java. The main data source used in this study include a multi temporal satellite data of ALOS AVNIR-2 acquired on Juni 27, 2008 and September 27, 2008. Satellite data were validated through field visit on April 17, 2009. Based on image classification and area estimation, the results show that increasing trend of cage culture area from 892 ha in June 2008 to 949 ha in September 2008. Meanwhile, decreasing trend was observed for reservoir area: 5,839 ha in June 2008 to 4,818 ha in September 2008. Results from this study can be used as a basic information for a better planning and management of the reservoir.
RELASI PERTUMBUHAN DAN RANSUM HARIAN PADA BENIH IKAN LELE (Clarias batrachus L.) Setiawan, Amin; Priyadi, Agus
Jurnal Riset Akuakultur Vol 4, No 3 (2009): (Desember 2009)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (93.732 KB) | DOI: 10.15578/jra.4.3.2009.341-347

Abstract

Relasi pertumbuhan (G) dan ransum harian (R) dari ransum nol sampai ransum maksimal telah dipelajari pada benih ikan lele (Clarias batrachus L.) berukuran bobot rata-rata 21,7 ± 7,94 mg dalam kondisi iluminasi alami dan kisaran suhu 22,9-26,1oC untuk memahami aksi faktor-faktor lingkungan terhadap pertumbuhan. Perbedaan respon pertumbuhan benih ikan lele terhadap perbedaan ransum harian tampak amat jelas.  Peningkatan ransum harian diikuti dengan peningkatan laju pertumbuhan dengan penambahan yang semakin berkurang dengan mengikuti persamaan G = -5,379 + 1,447 R – 0,016 R2. Pertumbuhan nol (Gnol = 0%), pertumbuhan optimal (Gopt. = 15,77%) dan pertumbuhan maksimal (Gmaks.= 27,32%) berturut-turut diperoleh dari tingkat pemberian ransum pemeliharaan 3,88%, ransum optimal 18,33% dan ransum maksimal 45,21% bobot badan kering per hari.Growth (G) and daily ration (R) relationship from zero ration to maximum ration has been studied in catfish (Clarias batrachus L.) fry of 21.7± 7.94 mg in average body weight under natural illumination and temperature range of 22.9-26.1oC to study the effect of environmental factors on growth. Different growth responses have been shown by catfish fry fed with different daily rations. Increasing in daily ration was followed by increasing in growth rate with downward increment according to equation of G = -5.379 + 1.447 R – 0.016 R2. Zero growth (Go = 0%), optimum growth (Gopt. = 15.77%) and maximum growth (Gmax. = 27,32%) were gained, respectively, from maintenance ration of 3.88%, optimum ration of 18,33% and maximum ration of 45.21% dry body weight per day.
TOKSISITAS SUBLETAL MOLUSKISIDA NIKLOSAMIDA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KONDISI HEMATOLOGI YUWANA IKAN MAS (Cyprinus carpio) Yosmaniar, Yosmaniar; Supriyono, Eddy; Nirmala, Kukuh; Sukenda, Sukenda
Jurnal Riset Akuakultur Vol 4, No 3 (2009): (Desember 2009)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (100.688 KB) | DOI: 10.15578/jra.4.3.2009.385-393

Abstract

Niklosamida digunakan secara intensif sebagai pestisida di sawah untuk membunuh keong mas (Pomacea sp.). Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan pengaruh toksisitas subletal moluskisida niklosamida terhadap pertumbuhan dan kondisi hematologi yuwana ikan mas (Cyprinus carpio). Penelitian dilakukan di Instalasi Riset Lingkungan Perikanan Budidaya dan Toksikologi Cibalagung Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar Bogor. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan. Waktu penelitian 12 minggu. Perlakuan adalah konsentrasi moluskisida niklosamida, yaitu: 0,00 (kontrol); 0,01; 0,03; dan 0,05 mg/L. Menggunakan 16 akuarium ukuran 70 cm x 50 cm x 60 cm. Benih ikan mas yang digunakan berkisar 2,5-3,0 gram dipelihara dengan kepadatan 20 ekor dalam volume air 40 L. Selama pemaparan ikan uji diberi pakan secara at satiation serta dilakukan pergantian air setiap 48 jam dengan konsentrasi bahan uji yang sama. Peubah yang diukur adalah laju pertumbuhan dan kondisi hematologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi subletal moluskisida niklosamida berpengaruh nyata terhadap penurunan pertumbuhan terjadi mulai pada konsentrasi 0,03 mg/L sedangkan terhadap kondisi hematologi, yaitu peningkatan hematokrit dan hemoglobin pada konsentrasi 0,01 mg/L dan peningkatan jumlah eritrosit pada konsentrasi 0,03 mg/L, dan penurunan leukosit pada konsentrasi 0,03 mg/L.Niklosamida digunakan secara intensif sebagai pestisida di sawah untuk membunuh keong mas (Pomacea sp.). Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan pengaruh toksisitas subletal moluskisida niklosamida terhadap pertumbuhan dan kondisi hematologi yuwana ikan mas (Cyprinus carpio). Penelitian dilakukan di Instalasi Riset Lingkungan Perikanan Budidaya dan Toksikologi Cibalagung Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar Bogor. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan. Waktu penelitian 12 minggu. Perlakuan adalah konsentrasi moluskisida niklosamida, yaitu: 0,00 (kontrol); 0,01; 0,03; dan 0,05 mg/L. Menggunakan 16 akuarium ukuran 70 cm x 50 cm x 60 cm. Benih ikan mas yang digunakan berkisar 2,5-3,0 gram dipelihara dengan kepadatan 20 ekor dalam volume air 40 L. Selama pemaparan ikan uji diberi pakan secara at satiation serta dilakukan pergantian air setiap 48 jam dengan konsentrasi bahan uji yang sama. Peubah yang diukur adalah laju pertumbuhan dan kondisi hematologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi subletal moluskisida niklosamida berpengaruh nyata terhadap penurunan pertumbuhan terjadi mulai pada konsentrasi 0,03 mg/L sedangkan terhadap kondisi hematologi, yaitu peningkatan hematokrit dan hemoglobin pada konsentrasi 0,01 mg/L dan peningkatan jumlah eritrosit pada konsentrasi 0,03 mg/L, dan penurunan leukosit pada konsentrasi 0,03 mg/L. four treatments containing four replications of different nilosamide concentrations: 0.00; 0.01; 0.03; 0.05 mg/L for 12 weeks were applied. Specific growth rate and hematology condition were measured. Blood samples were collected at the first, fourth, eighth, and twelfth weeks of exposure time. Result of the research indicated that  concentration of 0.03 mg/L niclosamide was significantly effective (P< 0.05) in decreasing specific growth rate (0.62%). The sublethal concentration of 0.01mg/L increased hematocrit and hemoglobin levels while concentration of niclosamide of 0.03 mg/L increased erythrocyte cells and decreasing leucocyte cells.
TOLERANSI SALINITAS BENIH PERSILANGAN 3 STRAIN IKAN NILA (Oreochromis niloticus) DENGAN IKAN MUJAIR (O. mossambicus) Hayuningtyas, Erma Primanita; Robisalmi, Adam; Listiyowati, Nunuk; Ariyanto, Didik
Jurnal Riset Akuakultur Vol 4, No 3 (2009): (Desember 2009)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (95.862 KB) | DOI: 10.15578/jra.4.3.2009.313-318

Abstract

Penelitian ini merupakan studi awal yang akan digunakan sebagai bahan untuk penelitian tahap selanjutnya, dalam rangka mendapatkan kandidat ikan nila toleran salinitas. Penelitian ini dilakukan di Loka Riset Pemuliaan dan Teknologi Budidaya Perikanan Air Tawar, Sukamandi pada bulan Maret 2009. Ikan yang digunakan adalah hasil persilangan 4 strain, nila BEST (Bogor Enhancement Strain of Tilapia), nila merah (Red NIFI), NIRWANA (Nila Ras Wanayasa), mujair (O. mossambicus). Persilangan dilakukan secara dua arah penuh (full diallel crossing) sehingga dihasilkan 16 populasi, tetapi yang bertahan hidup ada 14 populasi. Pengujian secara langsung dilakukan pada media bersalinitas 10‰, 20‰, dan 30‰ sebanyak 10 L dengan kepadatan 1 ekor/L, rata-rata bobot 0,22 g dan rata-rata panjang total 2,16 cm. Metode yang digunakan adalah metode eksperimen (LT50) dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) 3 perlakuan dan 3 ulangan. Analisis data menggunakan analisis keragaman (one-way ANOVA) jika berbeda nyata dilanjutkan dengan uji lanjut Tukey. Hasil penelitian menunjukkan bahwa benih persilangan memiliki toleransi lebih tinggi pada salinitas 10‰ berbeda nyata (P<0,05) dibanding dengan salinitas 20‰ dan 30‰. Pada uji papar langsung terhadap salinitas 30‰ terdapat lima persilangan terbaik yaitu, Mujair   x NIRWANA   (2,49 j), Mujair   x Red NIFI   (1,91 j), NIRWANA   x Red NIFI   (1,86 j), NIRWANA   x Mujair   (1,85 j), dan BEST   x Mujair   (1,65 j).This research was an initial study that will provide information for the next research in order to get a candidate of salinity tolerance tilapia. This study was conducted at the Research Institute for Freshwater Fish Breeding and Aquaculture, Sukamandi, in March 2009. The fish used in this experiment comprised of hybrids of 4 tilapia strains, i.e. BEST (Bogor Enhancement Strain of Tilapia), Red NIFI, NIRWANA (Nila Ras Wanayasa), and Mozambique tilapia (O. mossambicus). The hybridizations were conducted following full diallel crossing yielding 16 populations, of which, only 12 populations could survive the treatments. Fish with an average of body weight of 0.22 g and total length of 2.16 cm were directly stocked to 10 L media with salinity of 10‰, 20‰, and 30‰ at a density of 1 fish/liter. The method used in this experiment was Lethal Time 50% (LT50) with Complete Random Device (RAL) consisted of 3 treatments and 3 replications. The result was analyzed by the analysis of variance (one-way ANOVA). Further, Tukey test was carried-out if the ANOVA showed a significance difference among treatments. The result showed that the hybrids of tilapia had significantly different (P<0,05) higher tolerance to salinity of 10 ‰ than that of 20‰ and 30‰. The best five populations with direct exposure to salinity 30 ‰ were Mozambique tilapia    x NIRWANA   (2.49 hours), Mozambique tilapia   x Red NIFI   (1.91 h), NIRWANA   x Red NIFI   (1.86 j), NIRWANA   x Mozambique tilapia   (1.85 h), and Mozambique tilapia   x BEST   (1.65 h).

Page 1 of 2 | Total Record : 13


Filter by Year

2009 2009


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 4 (2018): (Desember 2018) Vol 13, No 3 (2018): (September 2018) Vol 13, No 2 (2018): (Juni, 2018) Vol 13, No 1 (2018): (Maret 2018) Vol 12, No 4 (2017): (Desember 2017) Vol 12, No 3 (2017): (September 2017) Vol 12, No 2 (2017): (Juni 2017) Vol 12, No 1 (2017): (Maret 2017) Vol 11, No 4 (2016): (Desember 2016) Vol 11, No 3 (2016): (September 2016) Vol 11, No 2 (2016): (Juni 2016) Vol 11, No 1 (2016): (Maret 2016) Vol 10, No 4 (2015): (Desember 2015) Vol 10, No 3 (2015): (September 2015) Vol 10, No 2 (2015): (Juni 2015) Vol 10, No 1 (2015): (Maret 2015) Vol 9, No 3 (2014): (Desember 2014) Vol 9, No 2 (2014): (Agustus 2014) Vol 9, No 1 (2014): (April 2014) Vol 8, No 3 (2013): (Desember 2013) Vol 8, No 2 (2013): (Agustus 2013) Vol 8, No 1 (2013): (April 2013) Vol 7, No 3 (2012): (Desember 2012) Vol 7, No 2 (2012): (Agustus 2012) Vol 7, No 1 (2012): (April 2012) Vol 6, No 3 (2011): (Desember 2011) Vol 6, No 2 (2011): (Agustus 2011) Vol 6, No 1 (2011): (April 2011) Vol 5, No 3 (2010): (Desember 2010) Vol 5, No 2 (2010): (Agustus 2010) Vol 5, No 1 (2010): (April 2010) Vol 4, No 3 (2009): (Desember 2009) Vol 4, No 2 (2009): (Agustus 2009) Vol 4, No 1 (2009): (April 2009) Vol 3, No 3 (2008): (Desember 2008) Vol 3, No 2 (2008): (Agustus 2008) Vol 3, No 1 (2008): (April 2008) Vol 2, No 3 (2007): (Desember 2007) Vol 2, No 2 (2007): (Agustus 2007) Vol 2, No 1 (2007): (April 2007) Vol 1, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006) Vol 1, No 1 (2006): (April 2006) More Issue