cover
Contact Name
Suprapti
Contact Email
Suprapti
Phone
-
Journal Mail Official
jra.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Riset Akuakultur
ISSN : 19076754     EISSN : 25026534     DOI : -
Jurnal Riset Akuakultur as source of information in the form of the results of research and scientific review (review) in the field of various aquaculture disciplines include genetics and reproduction, biotechnology, nutrition and feed, fish health and the environment, and land resources in aquaculture.
Arjuna Subject : -
Articles 13 Documents
Search results for , issue " Vol 4, No 2 (2009): (Agustus 2009)" : 13 Documents clear
HUBUNGAN BEBERAPA FAKTOR TEKNIS DENGAN PRODUKTIVITAS TAMBAK INTENSIF DI LAMPUNG SELATAN Paena, Mudian; Sapo, Irmawati; Mustafa, Akhmad; Rachmansyah, Rachmansyah
Jurnal Riset Akuakultur Vol 4, No 2 (2009): (Agustus 2009)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (25.68 KB) | DOI: 10.15578/jra.4.2.2009.267-275

Abstract

Sub sektor perikanan budidaya menjadi salah satu penyokong produksi perikanan nasional. Terkait dengan semakin meningkatnya permintaan pasar internasional dan domestik maka program revitalisasi perikanan budidaya khususnya udang yang dicanangkan sejak tahun 2005 telah direspon baik oleh semua pemerhati perikanan budidaya. Produksi udang nasional tersebut dihasilkan oleh tambak dari berbagai tingkat teknologi mulai dari tambak tradisional sampai pada tambak intensif. Pengembangan tambak intensif di Indonesia masih didominasi oleh para pengusaha atau perorangan yang memiliki modal besar, mengingat dalam pengoperasian tambak intensif membutuhkan biaya produksi yang sangat tinggi dan bervariasi antara tambak satu dengan tambak yang lainnya. Namun demikian pengelolaan tambak intensif secara teknik tidak sama antara satu pengelola tambak dengan pengelola tambak lainnya. Hal tersebut berdasarkan kemampuan dan pengalaman para teknisi dan tenaga ahli pendamping serta kondisi spesifik setiap tambak. Berdasarkan hal tersebut maka  telah dilakukan penelitian tentang hubungan antara beberapa faktor teknis dengan produktivitas udang di tambak intensif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor teknis mana yang sangat berpengaruh terhadap produksi udang di tambak intensif. Penelitian ini dilakukan di kawasan tambak intensif Kabupaten Lampung Selatan Provinsi Lampung pada tahun 2007. Metode penelitian yang dilakukan adalah metode survai untuk mendapatkan data primer dari proses produksi yang dilakukan melalui pengajuan kuisioner dan perekaman pada saat wawancara kepada responden secara terstruktur. Analisis data dilakukan untuk menentukan koefisien korelasi untuk mengetahui tingkat hubungan atau keeratan hubungan antara produktivitas tambak dengan faktor teknik pengelolaan tambak. Seluruh data dianalisis menggunakan Program Statistial Product and Service Solution (SPSS) 15,0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengapuran dolomit awal, pengapuran kaptan awal, padat penebaran dan waktu penebaran mempengaruhi produktivitas tambak intensif di Kabupaten Lampung Selatan.Aquaculture sector has been one of the backbones of national fisheries production. Increasing demand from international and domestic markets has made the revitalization of aquaculture, particularly in prawn culture which has been proclaimed since 2005, getting positive response from fisheries stakeholders. National prawn production mainly comes from pond culture applying different technology levels from traditional to intensive systems. Development of intensive pond in Indonesia is dominated by entrepreneurs who have massive capital resources. Intensive ponds require a very high production costs and vary from one pond to the others. Furthermore, intensive pond is managed differently between one manager and the others. It depends on the skill and experience of technicians, aquaculture extensions and specific conditions of the pond. This research was aimed to find out technical factors which influence prawn culture in intensive pond. The research was done in intensive pond area in South Lampung in 2007. A field survey was conducted using questionaire and structured interview to gather primary data of production processess. Data analysis was done to determine the coefficient correlation or the closeness of correlation between pond productivity and pond technical factors. All data were analyzed using Statistical Product and Service Solution (SPSS) 15.0 program. The result showed that the initial dolomite plastering, captan application, stocking density, and time of stocking influence the productivity of intensive ponds in South Lampung, province of Lampung.
ISOLASI FRAGMEN TERTENTU GEN HORMON PERTUMBUHAN IKAN MAS MAJALAYA DAN NILA GIFT DENGAN METODE CTAB–PCR Buwono, Ibnu Dwi; Suparta, Maman Herman
Jurnal Riset Akuakultur Vol 4, No 2 (2009): (Agustus 2009)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (112.508 KB) | DOI: 10.15578/jra.4.2.2009.213-219

Abstract

Hormon pertumbuhan (Growth Hormone/GH) pada ikan berperan untuk memacu pertumbuhan, di samping terlibat juga dalam fungsi osmoregulasi, pengaturan keseimbangan cairan elektrolit, dan proses-proses metabolisme. Metode CTAB (Cetyl Trymethyl Ammonium Bromide) digunakan untuk mengisolasi DNA sel ikan (DNA genomik) dari sirip ekor ikan mas Majalaya dan nila GIFT. Isolasi gen hormon pertumbuhan dari DNA genomik kedua jenis ikan dapat disintesis dengan primer cGH (carp Growth Hormone) dan TiGH (Tilapia Growth Hormone) menggunakan metode PCR (Polymerase Chain Reaction). Hasil elektroforegram produk amplifikasi PCR untuk sebagian gen hormon pertumbuhan ikan mas Majalaya dapat dideteksi dengan ukuran fragmen DNA sebesar 615 bp dan 349 bp. Fragmen DNA hormon pertumbuhan ikan nila GIFT dapat dideteksi dengan ukuran 597 bp.The roles of growth hormones in fish are for growth promotion. They are also involved in osmoregulation function, balance regulation of liquid electrolite, and correlated with metabolism processes. CTAB (Cetyl Trymethyl Ammonium Bromide) methods was used to isolate fish cell DNA (genomic DNA) from caudal fin of Majalaya carp and GIFT nile. Growth hormone gene isolates from two kinds of genomic DNA can be synthesized with primers cGH (carp Growth Hormone) and TiGH (Tilapia Growth Hormone) using PCR (Polymerase Chain Reaction) method. Electroforegram product of the PCR amplification for partial growth hormone gene of Majalaya carp fish can be detected with DNA fragment size of 615 bp and 349 bp. DNA fragment of growth hormone of GIFT nile tilapia can be detected with size of 597 bp. 
HUBUNGAN PANJANG-BOBOT, PERTUMBUHAN, DAN FAKTOR KONDISI IKAN KAKAP MERAH, Lutjanus argentimaculatus DARI HASIL BUDIDAYA Melianawati, Regina; Andamari, Retno
Jurnal Riset Akuakultur Vol 4, No 2 (2009): (Agustus 2009)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (152.143 KB) | DOI: 10.15578/jra.4.2.2009.169-178

Abstract

Panjang, bobot, pertumbuhan, dan faktor kondisi, merupakan aspek biologis yang penting diketahui dari kandidat ikan budidaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan panjang-bobot, pertumbuhan serta faktor kondisi ikan kakap merah L. argentimaculatus hasil budidaya. Ikan yang digunakan untuk penelitian terdiri atas dua kelompok ukuran. Ikan pada kelompok kecil berukuran panjang 9,50-14,50 cm dengan bobot 15,63-53,21 gram, berjumlah 80 ekor dan dipelihara selama 70 hari dalam satu tangki pemeliharaan. Ikan pada kelompok besar berukuran panjang 21,5-26,0 cm dan bobot 233,5-319,6 gram; berjumlah 63 ekor dan dipelihara selama 56 hari dalam tiga tangki. Masing-masing tangki pemeliharaan yang digunakan berukuran 4.000 L. Hasil akhir penelitian menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif antara panjang dengan bobot, baik pada ikan kelompok kecil maupun besar dengan nilai koefisien korelasi masing-masing antara 0,89 dan 0,91. Pertumbuhan ikan kakap merah bersifat allometrik negatif, dengan nilai b 2,83 dan 1,86 pada ikan yang normal masing-masing pada kelompok kecil dan besar serta 1,66 dan 0,61 pada ikan yang abnormal bentuk tubuhnya pada kelompok kecil dan besar. Pada kelompok ikan kecil, pertumbuhan, kecepatan pertumbuhan nisbi, dan koefisien pertumbuhannya lebih besar dibandingkan dengan kelompok ikan besar. Faktor kondisi ikan yang normal adalah 1,79 dan 1,60 masing-masing pada kelompok kecil dan besar, sedangkan pada ikan yang abnormal adalah 2,09 pada kelompok kecil dan 1,86 pada kelompok besar.Length, weight, growth, and condition factors are important biological aspects for culture fish candidate. This experiment was aimed to get information regarding length-weight relationship, growth and condition factors of cultured mangrove snapper. Fish used for this experiment consisted of two groups different in size. Small fish group consisted of 80 individuals and has 9.50-14.50 cm of length average and 15.63-53.21 g of weight average and reared in one tank for 70 days, while big fish group consisted of 63 individuals and has 21.5-26.0 cm of length average and 233.5-319.6 g of weight and reared in three tanks for 56 days. Rearing was performed in 4,000-L tanks. The results indicated that there was a positive length-weight relationship between mangrove snapper groups with range of correlation value of 0.89 and 0.91. Growth of mangrove snapper was negatively allometric with b value of 2.83 and 1.86 for normal fish in small and big fish groups, while for abnormal-shape fish was 1.66 and 0.61 in small and big fish groups, respectively. Small fish group had growth, relative growth rate and growth coefficient higher than those of big fish groups. Condition factor was 1.79 and 1.60 for normal fish in small and big fish groups, while for abnormal-shape fish was 2.09 and 1.86 for small and big fish groups, respectively. 
POTENSI MAGGOT UNTUK PENINGKATAN PERTUMBUHAN DAN STATUS KESEHATAN IKAN Fahmi, Melta Rini; Hem, Saurin; Subamia, I Wayan
Jurnal Riset Akuakultur Vol 4, No 2 (2009): (Agustus 2009)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (538.926 KB) | DOI: 10.15578/jra.4.2.2009.221-232

Abstract

Penggunaan maggot sebagai pakan alternatif ikan telah dikaji di Loka Riset Budidaya Ikan Hias Air Tawar (LRBIHAT), Depok. Maggot merupakan larva serangga black soldier (Hermetia illusence) yang dapat mengkonversi material organik menjadi biomassanya. Salah satu keunggulan maggot adalah dapat diproduksi dalam berbagai ukuran, sesuai dengan kebutuhan. Penyimpanan maggot pada suhu rendah dapat menghambat pertumbuhan dan mempertahankan kehidupannya. Produksi maggot pada ukuran kecil dimulai dari penyediaan telur, penetasan, dan pembesaran dalam media PKM (Palm Kernel Meal) atau bungkil kelapa sawit, pemanenan dan penyimpanan dalam suhu rendah. Nilai nutrisi maggot pada umur 6-7 hari adalah protein: 60,2%; lemak: 13,3%; abu: 7,7%; karbohidrat: 18,8%. Percobaan pemanfaatan maggot sebagai suplemen pakan diujikan terhadap ikan Balashark (Balantiocheilus melanopterus Bleeker) ukuran 2,0 ± 0,2 g. Hasil yang didapatkan menunjukkan bahwa pemberian maggot memberikan pertumbuhan dan sintasan yang lebih baik. Dampak penambahan maggot pada ikan terlihat signifikan terhadap gambaran darah ikan yang menunjukkan daya tahan tubuh ikan yang lebih baik.Maggot utilization as fish feed alternative has been studied at Loka Riset Budidaya Ikan Hias Air Tawar (LRBIHAT), Depok. Maggot is an insect larvae of black soldier (Hermetia illusence) that can convert organic material to its body biomass. One of the advantages in maggot culture is that it can be produced in different sizes according to fish requirement. Keeping maggot at low temperature can delay its growth while keeping it alive. Production of small size maggot starts from eggs preparation, hatching, and rearing in media of PKM (Palm Kernel Meal) or coconut oil cake of palm, cropping and then keeping it in low temperature. Nutritional value of maggot at the age of 6-7 days is as follows: protein, 60.2%, fat; 13.3%, ash; 7.7%, carbohydrate; 18.8%. Trial feeding using maggot as feed supplement was done on Balashark (Balantiocheilus melanopterus Bleeker) sized 2.0 ± 0.2 g. The result showed that maggot gave significant growth and survival rate to fish specimen. Blood configuration analysis showed that the maggot supplement has also contributed to a significant increase of body immunity of fish specimen.
Front Matter dan Back Matter Suyatno, Suyatno
Jurnal Riset Akuakultur Vol 4, No 2 (2009): (Agustus 2009)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (64.085 KB) | DOI: 10.15578/jra.4.2.2009.i-v

Abstract

PERTUMBUHAN SPORA RUMPUT LAUT Gracilaria verrucosa SECARA IN VITRO DENGAN PENAMBAHAN HORMON PENGATUR PERTUMBUHAN PADA TANAMAN Suryati, Emma; Rachmansyah, Rachmansyah; Mulyaningrum, Sri Redjeki Hesti
Jurnal Riset Akuakultur Vol 4, No 2 (2009): (Agustus 2009)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.274 KB) | DOI: 10.15578/jra.4.2.2009.307-312

Abstract

Perbaikan mutu genetik rumput laut Gracilaria verrucosa dapat dilakukan melalui perkawinan silang dari spora atau melalui fusi protoplas. Perkembangan spora rumput laut sangat tergantung pada media tumbuh dan kondisi lingkungan dimana spora tersebut berada. Untuk memacu perkembangan spora pada kondisi laboratorium, diperlukan perlakuan khusus agar spora dapat tumbuh dan bertahan hidup. Pemberian kinetin yang berfungsi sebagai hormon perangsang tumbuh pada tanaman dapat mempercepat pertumbuhan dari spora membentuk anakan baru. Konsentrasi kinetin yang digunakan berkisar antara 0,5–2 mg/L. Sintasan spora dan pertumbuhan yang optimum diperoleh pada pemberian kinetin 1 mg/L baik pada media padat maupun pada media cair. Pemeliharaan anakan rumput laut secara in vitro dipertahankan hingga mencapai ukuran 2 cm.Genetic improvement of seaweed, G. verrucosa can be done through spore cross breeding or protoplast fusion. Seaweed spore development is very dependent on the medium and environment where the spore grows. To stimulate the development of the spore in laboratory, special treatment is needed in order to foster spore growth and survival. Kinetin treatment as a plant growth regulator can stimulate the growth of seaweed from spore to bud. Applied kinetin range was 0.5–2 mg/L. Optimum survival rate and growth of spore achieved by the addition of 1 ppm kinetin concentration both in solid and liquid media. In vitro nursery of buds was continued until the buds reached 2–3 cm in size.
PENGARUH PENAMBAHAN KALSIUM PADA MEDIA TERHADAP SIKLUS MOLTING DAN PERTUMBUHAN BIOMASSA UDANG GALAH, Macrobrachium rosenbergii (de Man) Zaidy, Azam Bachur; Hadie, Wartono
Jurnal Riset Akuakultur Vol 4, No 2 (2009): (Agustus 2009)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (163.555 KB) | DOI: 10.15578/jra.4.2.2009.179-189

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji pengaruh penambahan kalsium ke dalam media dalam proses peningkatan kadar kalsium kulit dan konsumsi pakan, serta konsekuensinya bagi pertumbuhan udang. Penelitian tahap 1 dengan perlakuan dosis penambahan Ca(OH)2 sebanyak 0 mg/L, 15 mg/L, 30 mg/L, 45 mg/L, dan 60 mg/L, dengan 3 ulangan. Penelitian tahap 2 dengan perlakuan penambahan kalsium 0 mg/L, 30 mg/L, dan 60 mg/L. Parameter yang diukur meliputi kadar kalsium kulit, tingkat konsumsi pakan, laju pertumbuhan, dan efisiensi pemanfaatan pakan. Penambahan Ca(OH)2 sebanyak 15-60 mg/L meningkatkan kadar kalsium media (25,51-35,22 mg/L) dibanding dengan kontrol (18,53 mg/L). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan kalsium Ca(OH)2 sebanyak 30 mg/L mampu mempercepat laju peningkatan kadar kalsium kulit. Laju peningkatan kadar kalsium kulit yang lebih cepat berimplikasi terhadap peningkatan konsumsi pakan dan berkonsekuensi lanjut bagi peningkatan pertumbuhan udang. Aplikasi penggunaan kalsium  Ca(OH)2 sebanyak 15-30 mg/L untuk mempercepat proses ganti kulit udang berimplikasi terhadap pertumbuhan udang. Konsumsi pakan harian, mulai meningkat pada penambahan Ca(OH)2 15 mg/L, dan tertinggi pada perlakuan penambahan Ca(OH)2 sebanyak 45 mg/L. Laju pertumbuhan biomassa pada media yang ditambah Ca(OH)2 sebanyak 30 dan 60 mg/L memberikan pengaruh yang nyata (P<0,05). Efisiensi tingkat konsumsi pakan perlakuan penambahan Ca(OH)2  sebanyak 30 mg/L lebih tinggi dibanding perlakuan penambahan Ca(OH)2 sebanyak 0 dan 60 mg/L.This research was aimed to study the effect of calcium addition into culture media in order to increase husk calcium and food consumption and its consequences to prawn growth. Research phase 1 consisted of treatments of Ca(OH)2 addition i.e. 0 mg/L, 15 mg/L, 30 mg/L, 45 mg/L, and 60 mg/L, with 3 replications for all  treatments. Research phase 2 consisted of treatments of calcium addition of 0 mg/L, 30 mg/L, and 60 mg/L. The measured parameters were the rate of husk calcium, feed consumption rate,  growth rate, and feed conversion ratio. The Ca (OH)2 addition was 15-60 mg/L to increase calcium concentration in the media (25.51-35.22 mg/L) compared to the control (18.53 mg/L). Result of the research indicated that the usage of calcium Ca(OH)2 of 30 mg/L can accelerate the calsium deposition in prawn husk. Acceleration of calsium deposition has direct implication to the increase of FCR and thus it increases prawn growth rate. Application of calcium Ca(OH)2 addition of 15-30 mg/L to accelerate molting process has positive effect on the growth rate of prawn. Daily food consumption rate started to increase with the addition of 15 mg/L of Ca(OH)2, and the highest was reached at the concentration of 45 mg/L Ca(OH)2. Growth rate of prawn biomass in culture media added with 30 and 60 mg/L of Ca(OH)2 were significantly different (P<0.05). Better food consumption efficiency levels were achieved by the treatment of Ca(OH)2 addition of 30 mg/L compared to the other treatments.
PROFIL PEMIJAHAN IKAN TUNA SIRIP KUNING, Thunnus albacares DALAM BAK TERKONTROL DENGAN ANALISIS MITOKONDRIA DNA (mt-DNA) Permana, Gusti Ngurah; Moria, Sari Budi; Hutapea, Jhon Harianto; Haryanti, Haryanti
Jurnal Riset Akuakultur Vol 4, No 2 (2009): (Agustus 2009)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (902.495 KB) | DOI: 10.15578/jra.4.2.2009.157-167

Abstract

Variasi mitokondria DNA pada ikan tuna sirip kuning, Thunnus albacares menggunakan analisis RFLP (restriction fragment length polymorphism) dapat menyediakan data yang akurat dan memberikan bukti tentang profil pemijahan ikan tuna dalam bak terkontrol. Genotipe mt-DNA yang berasal dari induk dibandingkan dengan genotipe yang ada pada telur untuk memonitor dan mengetahui profil dari pemijahan ikan tuna dalam bak terkontrol. Telur dikumpulkan setiap pemijahan dari tahun 2004-2006. Profil pemijahan dari induk betina diamati dari jumlah genotipe yang ditemukan pada telur. Hasil dari penelitian ini adalah 49 induk yang dianalisis ditemukan 42 genotipe, 6 genotipe yang teramati ditemukan pada telur dan 4 diantaranya memiliki genotipe tunggal sedangkan satu genotipe (DABEA) dimiliki oleh dua induk. Prakiraan panjang cagak dan bobot induk pada saat memijah adalah 82,2-164 cm and 9,183-28,142 kg. Genotipe yang sama ditemukan hampir setiap hari pada saat sampling selama setahun. Hasil ini mengindikasikan bahwa ikan tuna sirip kuning dapat bertelur sepanjang tahun tergantung kepada suhu air dan kondisi pakan.Study of mitochondrial (mt-DNA) variations of yellowfin tuna, Thunnus albacares using (RFLP) restriction fragment length polymorphisms can provide evidence of spawning profile of the species in captivity. Mt-DNA genotypes of broodstock were compared with their eggs in order to monitor spawning profile. Spawned eggs were collected on every spawning from 2004 to 2006. The spawning profiles of these females were determined from the genotypes of the eggs. The result showed that from 49  broodstock individuals, 42 genotypes were observed, in which 6 genotypes were observed in their eggs and 4 of them established a single female’s identity and one type (DABEA) was shared by two females. Fork length and weight of broodstock female when spawning were ranging from 82.2–164 cm and 9.183-28.142 kg. The same genotypes were observed in almost every sampling session for one year period. The results indicate that the females are able to spawn at any time depending on optimum water temperature and food availability. 
DIAGNOSA KOI HERPES VIRUS (KHV) DENGAN TEKNIK POLYMERASE CHAIN REACTION PADA IKAN MAS (Cyprinus carpio) DENGAN NESTED TIMIDINE KINASE Novita, Hessy; Koesharyani, Isti
Jurnal Riset Akuakultur Vol 4, No 2 (2009): (Agustus 2009)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (499.876 KB) | DOI: 10.15578/jra.4.2.2009.233-240

Abstract

Kematian massal yang terjadi pada ikan mas dan koi telah dikonfirmasi disebabkan oleh serangan virus. Hasil analisis morfologi menunjukkan virus ini termasuk ke dalam kelompok Herpesviridae sehingga disebut Koi herpes virus (KHV). Deteksi KHV dengan teknik PCR sampai saat ini masih belum ada standarisasi, telah banyak protokol PCR yang dikembangkan dalam mendeteksi KHV. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeteksi KHV dengan menggunakan metode nested PCR Timidine Kinase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan nested PCR 10 kali lebih sensitif dari metode improve Gray Sph dan 100 kali lebih sensitif dari metode Gilad et al. Dengan nested Timidine Kinase dapat dikembangkan dalam peningkatan deteksi awal pada diagnosa KHV.Some cases of mass mortality of common carp have been confirmed to be caused by virus infection. Morphological analysis revealed that this virus belongs to Herpesviridae and thus named as Koi Hervesvirus (KHV). KHV detection by PCR technique has not been standardized yet. However, some PCR have been developed for detection of KHV. The aim of this research was to study the sensitiveness of nested PCR Timidine Kinase for KHV detection. The result of the research showed that nested PCR was 10 times more sensitive than improved Gray Sph method and 100 times more sensitive than Gilad method. Nested Timidine Kinase method can be developed for the improvement of KHV early detection.
AKTIVITAS KITINASE, LESITINASE, DAN HEMOLISIN ISOLAT DARI BAKTERI IKAN NILA (Oreochromis niloticus Lin.) YANG DIKULTUR DALAM KERAMBA JARING APUNG WADUK JATILUHUR, PURWAKARTA Mangunwardoyo, Wibowo; Ismayasari, Ratih; Riani, Etty
Jurnal Riset Akuakultur Vol 4, No 2 (2009): (Agustus 2009)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (112.352 KB) | DOI: 10.15578/jra.4.2.2009.257-265

Abstract

Aeromonas hydrophila Lin. merupakan bakteri patogen oportunistik akuatik yang virulensinya dipengaruhi oleh adanya enzim kitinase, lesitinase, dan toksin haemolisin, merupakan penyebab kematian ikan nila yang tinggi. Penelitian bertujuan untuk mengamati aktivitas enzim kitinase, lesitinase, dan toksin hemolisin dari 30 ikan nila dari keramba jaring apung waduk Jatiluhur dengan metode tehnik agar. A. hydrophila menunjukkan positif virulen ditunjukkan adanya zona bening untuk lesitinase sebesar 7,9 mm; kitinase 8,0 mm; dan hemolisin 6,6 mm dibandingkan dengan isolat Enterobacter sp., Pseudomonas sp., dan Vibrio sp. Hal ini menunjukkan bahwa A. hydrophila bersifat patogen dan virulen terhadap ikan nila.Aeromonas hydrophila Lin. is one of opportunistic aquatic pathogen bacteria where its pathogenic behavior is influenced by chitinase, lechitinase, and toxin haemolycine, and causes high mortality in nile tilapia culture. The purpose of the research was to observe the activities of two A. hydrophila’s enzymes i.e.: chitinase and lechitinase, and one extracelullar toxin, haemolycine, isolated from 30 nile tilapias cultured in floating net cage at Jatiluhur using quantitative plate assay technique. A. hydrophila was positive virulent marked with transparent zone of lechitinase of 7.9 mm, haemolycin of 6.6 mm, and chitinase of 8.0 mm compared to Enterobacter sp., Pseudomonas sp., and Vibrio sp. Therefore, A. hydrophila is determined as highly pathogenic bacterium and virulent for nile tilapia.

Page 1 of 2 | Total Record : 13


Filter by Year

2009 2009


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 4 (2018): (Desember 2018) Vol 13, No 3 (2018): (September 2018) Vol 13, No 2 (2018): (Juni, 2018) Vol 13, No 1 (2018): (Maret 2018) Vol 12, No 4 (2017): (Desember 2017) Vol 12, No 3 (2017): (September 2017) Vol 12, No 2 (2017): (Juni 2017) Vol 12, No 1 (2017): (Maret 2017) Vol 11, No 4 (2016): (Desember 2016) Vol 11, No 3 (2016): (September 2016) Vol 11, No 2 (2016): (Juni 2016) Vol 11, No 1 (2016): (Maret 2016) Vol 10, No 4 (2015): (Desember 2015) Vol 10, No 3 (2015): (September 2015) Vol 10, No 2 (2015): (Juni 2015) Vol 10, No 1 (2015): (Maret 2015) Vol 9, No 3 (2014): (Desember 2014) Vol 9, No 2 (2014): (Agustus 2014) Vol 9, No 1 (2014): (April 2014) Vol 8, No 3 (2013): (Desember 2013) Vol 8, No 2 (2013): (Agustus 2013) Vol 8, No 1 (2013): (April 2013) Vol 7, No 3 (2012): (Desember 2012) Vol 7, No 2 (2012): (Agustus 2012) Vol 7, No 1 (2012): (April 2012) Vol 6, No 3 (2011): (Desember 2011) Vol 6, No 2 (2011): (Agustus 2011) Vol 6, No 1 (2011): (April 2011) Vol 5, No 3 (2010): (Desember 2010) Vol 5, No 2 (2010): (Agustus 2010) Vol 5, No 1 (2010): (April 2010) Vol 4, No 3 (2009): (Desember 2009) Vol 4, No 2 (2009): (Agustus 2009) Vol 4, No 1 (2009): (April 2009) Vol 3, No 3 (2008): (Desember 2008) Vol 3, No 2 (2008): (Agustus 2008) Vol 3, No 1 (2008): (April 2008) Vol 2, No 3 (2007): (Desember 2007) Vol 2, No 2 (2007): (Agustus 2007) Vol 2, No 1 (2007): (April 2007) Vol 1, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006) Vol 1, No 1 (2006): (April 2006) More Issue