cover
Contact Name
Suprapti
Contact Email
Suprapti
Phone
-
Journal Mail Official
jra.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Riset Akuakultur
ISSN : 19076754     EISSN : 25026534     DOI : -
Jurnal Riset Akuakultur as source of information in the form of the results of research and scientific review (review) in the field of various aquaculture disciplines include genetics and reproduction, biotechnology, nutrition and feed, fish health and the environment, and land resources in aquaculture.
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue " Vol 3, No 3 (2008): (Desember 2008)" : 12 Documents clear
PENGGUNAAN MAGGOT SEBAGAI SUBSTITUSI IKAN RUCAH DALAM BUDIDAYA IKAN TOMAN (Channa micropeltes CV.) Ediwarman, Ediwarman; Hernawati, Rina; Adianto, Wisnu; Moreau, Yann
Jurnal Riset Akuakultur Vol 3, No 3 (2008): (Desember 2008)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (581.708 KB) | DOI: 10.15578/jra.3.3.2008.395-400

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui substitusi larva black soldier fly (Hermetia illuscens), fresh maggot sebagai pengganti ikan rucah terhadap keragaan pertumbuhan ikan toman (Channa micropeltes CV). Sebanyak 450 ekor ikan toman dengan bobot rata-rata 6,03 ± 0,69 g dipelihara dalam 15 unit hapa (1 m x 1 m x 1,2 m) dengan padat tebar 30 ekor/hapa. Ada 5 tingkatan kombinasi substitusi yaitu: 0%, 25%, 50%, 75%, dan 100% maggot segar dihitung dari bobot kering. Selama 56 hari, pemberian maggot hidup tidak berpengaruh terhadap sintasan. Hasil penelitian memberikan rataan bobot akhir ikan menurun dengan meningkatnya persentase pemberian maggot (27,1 g,  0%; 19,6 g, 25%; 22,1 g, 50%; 14,1 g, 75%; 10,5 g, 100%). Sedangkan pertumbuhan (SGR) berkisar antara 0,49%—2,61% hari-1, dengan konversi pakan (FCR), 3,24—14,1. Dari hasil analisis ANOVA dapat disimpulkan bahwa untuk mandapatkan laju pertumbuhan spesifik (SGR) yang terbaik, maggot dapat menggantikan ikan rucah sampai 50%, dengan rasio konversi pakan (FCR) sebesar 3,31.The aim of this research was to evaluate the effect of fresh black soldier fly (Hermetia illuscens) larvae, or fresh maggot, as substitute to trash fish on growth by feeding giant snakehead (Channa micropeltes). Giant snakehead (6.03 ± 0.69 g, mean mass ± SD) were reared in 15 hapas (1 m x 1 m x 1.2 m) with 30 fish per unit. Five substitution levels were tested: 0%, 25%, 50%, 75%, and 100% fresh maggot on dry mass basis. After 65 days, the utilization of fresh maggot did not affect fish survival rate. Average fish mass at the end of experiment was negatively correlated to the level of substitution of trash fish by fresh maggot (27.1 g, 0%; 19.6 g, 25%; 22.1 g, 50%; 14.1 g, 75%; 10.5 g, 100%) while specific growth rate (SGR) ranged from 2.61% to 0.49 % day-1 and feed conversion ratio (FCR on dry mass basis) ranged from 3.24 to 14.1. Using ANOVA tools, results indicated that fresh maggot can substitute as much as 50% trash fish without negative impact on SGR, with expected FCR of 3.31.
KULTUR MIKROALGA Haematococcus pluvialis UNTUK MENGHASILKAN ASTAXANTIN Muzaki, Ahmad; Fahrudin, Fahrudin; Wardana, Ida Komang; Haryanti, Haryanti
Jurnal Riset Akuakultur Vol 3, No 3 (2008): (Desember 2008)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1519.438 KB) | DOI: 10.15578/jra.3.3.2008.351-361

Abstract

Mikroalga merupakan sumberdaya biologis yang eksklusif dan berperan sangat luas untuk aplikasi penyedia komponen bernilai tinggi di bidang perikanan dalam rangka peningkatan ekonomi. Tujuan riset ini adalah mendapatkan teknik pengkulturan Haematococcus pluvialis dan teknik stimulasi melalui penyinaran sel untuk menghasilkan produk astaxantin. Media tumbuh Bold (PIV metal) dan modifikasi Bold (Clewat-32) diujikan untuk pengkulturan. Pengkulturan juga diterapkan dengan menggunakan 6 jenis air tawar dari sumber berbeda (mata air alam, sumur artesis, air mineral kemasan I, air mineral kemasan II, air sumur, dan air PAM). Efek stres dilakukan melalui penyinaran dengan UV selama 3 jam dan inkubasi lanjutan dengan menggunakan penyinaran intensitas cahaya tinggi untuk mendapatkan sel merah yang mengandung astaxantin. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa pertumbuhan sel H. pluvialis pada media Bold (PIV metal) lebih baik (55 x 104 sel/mL) dan air tawar yang berasal dari mata air alam menghasilkan kepadatan sel lebih tinggi (166 x 104 sel/mL) pada hari ke-5 dan 245 x104 sel/mL pada hari ke-13 dibandingkan air dari sumber lainnya. Penyinaran UV dan dilanjutkan dengan penyinaran intensitas cahaya tinggi mempercepat perubahan warna sel dan produksi metabolit sekunder sebagai astaxantin. Microalgae are exclusive biological resources to provide valuable compounds in fisheries. The purpose of the research was to evaluate culture technique of H. pluvialis and stimulation technique through UV irradiation to produce astaxanthin. Growth media of Bold (PIV metal) and Bold (clewat-32) modifications were tested to culture microalgae. Other culture technique applied by using 6 fresh water from various sources (natural fresh water, deep well water, mineral water I, mineral water II, well water, and municipal water supply sample). Stress effects were tested by using UV irradiation for 3 hours and incubation with high light intensity to find red cells containing astaxanthin. Result showed that growth cell of H. pluvialis in BOLD media (PIV metal) was higher (550 x 104 sel/mL) than that of in BOLD modification media. Cell density of H. pluvialis cultured with fresh water from natural source was higher (166 x 104 sel/mL) on day 5th and 245 x104 sel/mL on day 13th compared to other water sources. Effect of UV irradiation and high light intensity stimulated cells color change and produced secondary metabolite of astaxanthin.
MODEL ANALISIS SPASIAL KESESUAIAN LAHAN TAMBAK SKALA SEMI-DETAIL BERDASARKAN PEUBAH KUNCI TAMBAK SISTEM EKSTENSIF DAN SEMI-INTENSIF Tarunamulia, Tarunamulia; Mustafa, Akhmad; Sammut, Jesmond
Jurnal Riset Akuakultur Vol 3, No 3 (2008): (Desember 2008)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1692.522 KB) | DOI: 10.15578/jra.3.3.2008.449-461

Abstract

Penerapan metode evaluasi multi-kriteria dalam penilaian spasial kesesuaian lahan tambak terbukti belum efektif di Indonesia. Hal ini terutama dipengaruhi oleh tidak cukup tersedianya data spasial pendukung dalam analisis tersebut. Analisis spasial yang diterapkan dalam penilaian kesesuaian lahan tambak selama ini lebih banyak mengadopsi model evaluasi multikriteria seperti yang umumnya diterapkan pada analisis kesesuaian lahan terdahulu seperti analisis kesesuaian lahan pertanian atau pemukiman yang tentunya memiliki karakteristik yang berbeda. Beberapa peubah lingkungan yang digunakan dalam analisis multikriteria tersebut kadangkala tidak memperhatikan kesesuaian skala peta yang berhubungan dengan level informasi. Tulisan ini bertujuan untuk menguraikan metode alternatif penilaian kesesuaian lahan tambak ekstensif dan semiintensif pada skala semidetail (1:50.000) dengan memanfaatkan peubah kunci lingkungan tambak yang mempengaruhi keberhasilan sistem budidaya tersebut. Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Barru, dengan memanfaatkan informasi spasial berupa ketinggian lahan, kawasan sempadan pantai dan sungai, penggunaan lahan eksisting, dan jangkauan pasang surut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan memanfaatkan peubah kunci dalam model, sudah dapat ditentukan wilayah kelayakan lahan tambak secara umum di lokasi penelitian. Studi ini juga menguraikan manfaat peta kesesuaian lahan tambak dari model tersebut untuk kepentingan perencanaan dan penelitian lebih lanjut. Model ini secara umum berhasil memberikan dasar penting dalam analisis spasial lingkungan pantai untuk kepentingan budidaya sesuai dengan tingkat skala peta yang dibahas. Penelitian ini juga memberikan peluang dalam proses pemetaan potensi lahan tambak secara cepat dengan tingkat akurasi yang cukup baik tanpa harus dibatasi oleh ketidaklengkapan data spasial pendukung.Application of multi-criteria evaluation (MCE) for land suitability assessment of brackishwater pond in Indonesia has been hindered by the unavailability of supporting spatial data for the analysis. The existing spatial analysis methods in aquaculture mainly adopt the previously developed spatial assessment techniques in agriculture, urban planning or transportation network that certainly have different characteristics as well as environmental requirements. A number of environmental factors used in the MCE analysis are sometimes inappropriate with the map scale with respect to the level of information presented. The goal of this study was to provide an alternative spatial assessment method for the evaluation of land suitability for brackishwater aquaculture at semi-detailed scale by employing key environmental/ecological factors that influence the success and the sustainability of the coastal industry. This model was developed by employing spatial dataset of Barru coastal areas which include digital land elevation data, map of buffer zone (green belt), existing land use/cover map and information of local tidal range. The research shows that the overall land suitability for brackishwater aquaculture at the scale of 1:50,000 can be achieved despite using only limited number of key environmental factors in the model. This research has also demonstrated the potential application of the map in coastal planning and in a more detailed research. Overall this study has provided a fundamental approach of spatial analysis for coastal management particularly in land-based aquaculture development at respective scale. This model has also offered an alternative solution to quickly and accurately map the potential land for brackishwater aquaculture regardless of partial availability of supporting spatial dataset for the analysis.
SELEKTIF BREEDING UDANG WINDU Penaeus monodon DENGAN KARAKTER PERTUMBUHAN DAN SPF (SPECIFIC PATHOGEN FREE) Wardana, Ida Komang; Muzaki, Ahmad; Fahrudin, Fahrudin; Permana, I Gusti Ngurah; Haryanti, Haryanti
Jurnal Riset Akuakultur Vol 3, No 3 (2008): (Desember 2008)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1498.468 KB) | DOI: 10.15578/jra.3.3.2008.301-312

Abstract

Riset selektif breeding dengan mengutamakan karakter pertumbuhan dan bebas penyakit (SPF) menjadi pilihan mendesak agar diperoleh calon induk udang windu dengan karakter fenotipe dan genotipe yang lebih baik. Tujuan riset ini adalah mendapatkan teknik selektif breeding dan induk udang hasil seleksi dengan karakter tumbuh cepat serta bebas penyakit (SPF). Metode seleksi diawali dengan pembenihan  induk yang berasal dari alam (F-0) mengikuti kaidah full sib mating, mengaplikasikan teknik probiotik, biosecurity, dan pemantauan infeksi virus. Diagnosis bebas penyakit (SPF) dilakukan dengan pengujian 7 jenis virus (TSV, WSSV, IHHNV, YHV, BP, MBV, HPV). Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa 8 famili udang generasi pertama (F-1) memberikan keragaan fenotipe yang bervariasi (ukuran besar, sedang/reguler, dan kecil). Benih generasi pertama (F-1) hasil seleksi fenotipe pertumbuhan cepat (0,78%—9,91%) dari populasi benih udang kemudian dipelihara untuk calon induk. Induk udang yang digunakan pada saat dan setelah pembenihan mempunyai karakter SPF, demikian pula generasi pertama (F-1), walaupun ada kontaminasi IHHNV pada benih dari induk  -18,  -19,  -22. Keragaan genotipe induk udang (F-0) dan generasi pertama (F-1) menunjukkan keragaman genetik yang berbeda. Nilai heterozigositas pada induk udang (F-0) sebesar 0,1436; sedangkan pada generasi pertama (F-1) dengan tumbuh cepat sebesar 0,2659. Penanda gen untuk tumbuh cepat ditunjukkan pada gen dengan berat molekul 1.025 bp, 1.280 bp, dan 1.325 bp serta susunan sequence DNA yang berbeda bila dibandingkan pada penanda gen udang tumbuh lambat.Selective breeding focusing on growth and Specific Pathogen Free (SPF) is a priority to obtain genetically and morphologically better of black tiger shrimp spawner. The objective of the study was to develop selective breeding technique and select spawner better character on growth and Specific Pathogen Free (SPF). Selection method was initiated from the breeding of wild shrimp spawners (F-0) following full sib mating method, probiotics application, biosecurity, and virus diseases diagnosis. Diagnosis of SPF was tested on 7 viruses (TSV, WSSV, IHHNV, YHV, BP, MBV, HPV) by IQ-2000 kit. Result showed that 8 families of first generation (F-1) shrimp phenotypically varied (big, regular and small size). First generation of shrimp produced from phenotype selection with fast growth (0.78%—9.91%) of total fry polulation then reared till reached spawner size. Shrimp spawners used before and after breeding had SPF traits, similar with the first generation of shrimp fry. There was IHHNV contamination on shrimp (F-1) offsprings from  -18,  -19,  -22. Genotype performance shrimp spawner (F-0) and the first generation (F-1) showed different genetic variations. Heterozigosity value of shrimp spawner (F-0) was 0,1436 and the first generation (F-1) with fast growth trait was 0,2659. Gene marker of fast growth was indicated by a gene with molecular weight of 1,025 bp; 1,280 bp; and 1,325 bp and different DNA sequences compared with gen marker of slow growth shrimp.
AKTIVITAS ENZIM KOMERSIAL, EKSTRAK KASAR ENZIM DARI VISCERA KEONG MAS (Pila polita), ABALON (Haliotis asinina), DAN BEKICOT (Achatina fulica) UNTUK LISIS JARINGAN RUMPUT LAUT Kappaphycus alvarezii PADA KULTUR PROTOPLAS Mulyaningrum, Sri Redjeki Hesti; Suryati, Emma
Jurnal Riset Akuakultur Vol 3, No 3 (2008): (Desember 2008)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1079.612 KB) | DOI: 10.15578/jra.3.3.2008.313-321

Abstract

Dalam usaha perbaikan kualitas bibit rumput laut Kappaphycus alvarezii dilakukan kultur protoplas dengan isolasi protoplas menggunakan enzim. Untuk mendapatkan sumber enzim yang ekonomis sebagai alternatif pengganti enzim komersial dan untuk mengetahui perbandingan konsentrasi enzim komersial yang optimum agar menghasilkan jumlah protoplas yang maksimum, dilakukan karakterisasi terhadap enzim dari berbagai sumber. Aktivitas ekstrak kasar enzim dari viscera bekicot (Achatina fulica) tidak berbeda nyata dengan enzim komersial (P>0,05) dengan aktivitas sebesar 0,729 unit/mL; enzim komersial 0,354 unit/mL; ekstrak kasar enzim dari viscera keong mas (Pila polita) 0,048 unit/mL; dan ekstrak kasar enzim dari viscera abalon (Haliotis asinina) 0,014 unit/mL. Perbandingan enzim komersial yang optimum adalah 2:1 menghasilkan protoplas sebanyak 1,26 x 108 sel/mL; kemudian 1:2 dengan jumlah protoplas 1,22 x 108 sel/mL; perbandingan 1:1 menghasilkan protoplas sebanyak 8,36 x 107 sel/mL; perbandingan 0:1 menghasilkan protoplas sebanyak 6,33 x 107 sel/mL; dan perbandingan 1:0 menghasilkan protoplas sebanyak 9,55 x 106 sel/mL. Rumput laut asal Takalar memiliki protoplas dengan kepadatan tertinggi sebesar 3,7 x 108 sel/mL.Effort to improve the quality of seaweed seed Kappaphycus alvarezii has been done by protoplast culture with protoplast isolation using enzyme. To find out economical enzyme sources as alternatives to substitute the expensive commercial enzyme and to determine the optimum concentration ratio of commercial enzyme to produce maximum amount of protoplast, characterization was executed to several potential sources. Activity of crude extract enzyme from viscera of garden snail (Achatina fulica) was not significantly different with commercial enzyme (P>0.05) it was 0.729 unit/mL, commercial enzyme 0.354 unit/mL activity; crude extract enzyme from viscera of golden snail (Pila polita) 0.048 unit/mL activity and crude extract enzyme from viscera of abalone (Haliotis asinina) 0.014 unit/mL activity. Optimum ratio of commercial enzyme was 2:1, it resulted protoplast up to 1.26 x 108 cell/mL, then ratio of 1:2 resulted protoplast up to 1.22 x 108 cell/mL, ratio of 1:1 resulted protoplast up to 8.36 x 107 cell/mL, ratio of 0:1 resulted protoplast up to 6.33 x 107 cell/mL and ratio of 1:0 resulted protoplast up to 9.55 x 106 cell/mL. The highest density of protoplast gained by seaweed from Takalar reached 3.7 x 108 cell/mL.
PENGARUH STARVASI RANSUM PAKAN TERHADAP PERTUMBUHAN, SINTASAN, DAN PRODUKSI UDANG VANAMEI (Litopenaeus vannamei) DALAM WADAH TERKONTROL Tahe, Suwardi
Jurnal Riset Akuakultur Vol 3, No 3 (2008): (Desember 2008)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1283.453 KB) | DOI: 10.15578/jra.3.3.2008.401-412

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pengurangan ransum pakan secara periodik terhadap pertumbuhan, sintasan, produksi, rasio konversi pakan, dan efisiensi pakan pada pemeliharaan udang vanamei dalam wadah terkontrol. Penelitian dilakukan menggunakan 12 akuarium berukuran 50 cm x 75 cm x 60 cm dan dilengkapi dengan sistem aerasi. Hewan uji adalah pascalarva udang vanamei dengan bobot awal rata-rata 0,18 ± 0,02 g yang ditebar dengan kepadatan 50 ekor/akuarium. Rancangan penelitian adalah rancangan acak lengkap dengan empat perlakuan yang masing-masing perlakuan terdiri atas tiga ulangan. Perlakuan yang diujikan adalah starvasi (pemuasaan) melalui pengurangan ransum pakan secara periodik yaitu A) pengurangan ransum pakan 75%, B) pengurangan ransum pakan 50%, C) pengurangan ransum pakan 25%, dan D) kontrol (tanpa pengurangan ransum pakan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengurangan ransum pakan secara periodik tidak berpengaruh nyata (P > 0,05) terhadap pertambahan bobot biomassa, laju pertumbuhan harian, sintasan, produksi, dan rasio konversi pakan serta mampu meningkatkan efisiensi pakan sekitar 16,04%—21,97%. Penghematan penggunaan pakan untuk udang vanamei dapat dilakukan dengan pengurangan ransum pakan hingga 75% bobot biomassa/minggu.The aim of this study was to know the effect of starvation period by a gradual decrease in feed amounts on the growth, survival rate, productivity, food conversion ration (FCR), and food efficiency rate of white leg shrimp (Litopenaeus vannamei) in controlled containers. Twelve of 50 cm x 75 cm x 60 cm aquaria with aeration systems were used in this experiment. In each aquarium, we stocked 50 post larvae (PL) with average weight of 0.18 ± 0.02 g. Four treatments, comprising, A) a 75% decrease in feed, B) a 50% decrease in feed, C) a 25% decrease in feed, and D) control (without feed reduction) with three replications were employed in the experiment following complete randomized design (DSG). The results showed that a gradual decrease in feed amounts had no significant influence on the increase of the body weight, daily growth rates, survival rates, production, and FCR of the shrimp. The results offer the possibility of increasing feed efficiency up to about 16.04% to 21.97%. It is recommended that the efficiency of feeding rate of white leg shrimp can be obtained through a decrease of feed amount up to 75%.
PEUBAH KUALITAS AIR YANG BERPENGARUH TERHADAP PLANKTON DI TAMBAK TANAH SULFAT MASAM KABUPATEN LUWU UTARA PROVINSI SULAWESI SELATAN Pirzan, Andi Marsambuana; Mustafa, Akhmad
Jurnal Riset Akuakultur Vol 3, No 3 (2008): (Desember 2008)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1133.304 KB) | DOI: 10.15578/jra.3.3.2008.363-374

Abstract

Studi telah dilakukan pada tambak-tambak tanah sulfat masam di Kabupaten Luwu Utara Provinsi Sulawesi Selatan yang bertujuan menelaah peubah kualitas air yang berpengaruh terhadap jumlah individu dan genus plankton. Contoh plankton dan air diambil dari lokasi yang dianggap merepresentasikan kondisi kualitas air tambak tanah sulfat masam. Plankton dikoleksi menggunakan plankton net nomor 25, kemudian diawetkan dengan larutan Lugol (1%). Identifikasi plankton menggunakan mikroskop yang berpedoman pada buku identifikasi plankton dan penghitungannya menggunakan Sedwick Rafter Counting Cell. Hasil studi menunjukkan bahwa jumlah individu plankton berkisar 60—1.110 ind./L dan jumlah genus berkisar dari 2—17 genera. Analisis regresi berganda menunjukkan bahwa suhu air, pH, kandungan amonium, dan silikat berpengaruh terhadap jumlah individu, sedangkan suhu, potensial redoks, kandungan amonium, bahan organik total dan oksigen terlarut berpengaruh terhadap jumlah genus.The study was conducted in acid sulfate soil-affected brackishwater ponds of North Luwu Regency, South Sulawesi Province with the primary aim of investigating the effects of pond water quality on the individual number and genera of plankton. Plankton and water samples were taken at sites that represented water quality conditions influenced by acid sulfate soils in the aquaculture ponds. Plankton was sampled using a plankton net (number 5) and samples were preserved with 1% Lugol’s solution. Plankton was identified to genus level using standard identification keys for plankton. Plankton density was calculated using the counting cell method. The results showed that the number of plankton individuals ranged from 60 to 1,110 ind./L in 2 to 17 genera.  Multiple regression analysis showed that water temperature, pH, ammonium, and silicate affected the individual number, while water temperature, redox potential, ammonium, total organic matter and dissolved oxygen affected the number of genera.
KORELASI PADAT TEBAR DAN DEBIT AIR DALAM TEKNIK PENDEDERAN BENIH UDANG GALAH (Macrobrachium rosenbergii) SECARA INTENSIF Hadie, Wartono; Hadie, Lies Emmawati
Jurnal Riset Akuakultur Vol 3, No 3 (2008): (Desember 2008)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (449.212 KB) | DOI: 10.15578/jra.3.3.2008.323-328

Abstract

Riset ini dilaksanakan untuk mengetahui korelasi antara padat tebar dan debit air dalam teknik pendederan udang galah. Riset dilakukan dengan menggunakan bak ukuran 4 m x 2 m x 0,75 m yang mempunyai sistem air mengalir. Perlakuan yang diaplikasikan adalah padat tebar dalam tiga tingkatan yaitu 250, 500, dan 750 ekor/m2 yang dikombinasikan dengan tiga tingkat debit air yaitu 0,010; 0,020; dan 0,030 liter/detik/m2. Setiap perlakuan dilakukan dengan 3 ulangan. Udang galah dalam penelitian ini adalah PL-44 dengan ukuran 0,04 g. Pendederan udang galah dilaksanakan selama 40 hari. Hasil riset menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara variabel padat tebar dan debit air. Variabel debit air memberikan kontribusi sebesar 57% dan variabel padat tebar mempunyai kontribusi 18% dalam mendukung sintasan benih udang galah. Hasil terbaik dicapai oleh perlakuan padat tebar 500 ekor/m2 dan debit air 0,030 liter/detik/m2 dengan laju pertumbuhan harian udang mencapai rata-rata 2,84% dan sintasan sebesar 89,6% selama 40 hari masa pemeliharaan.The research aim was to evaluate the correlation between fry density and water flow rate in the nursery of giant prawn. The experiment was conducted in concrete tanks. The treatment consisted of three levels, 250, 500, and 750 fry/m2 and combination of three levels of water flow, i.e. 0.010, 0.020, and 0.030 litre/second/m2. Three replications were used in each treatments. The prawn fry were PL-14 with 0.04 g of average weight. The research was conducted for 40 days of post-larvae rearing. Result of this experiment showed that there was interaction between density and water flow. The data analysis indicated that there were 57% contribution of water flow and 18% of fry density to survival rate of giant prawn. The best result was showed by the density of 500 fry/m2 and water flow of 0.030 litre/second/m2. The specimen have specific growth rate of 2.84% and survival rate of 89.6% for 40 days of rearing.
ISOLASI DAN SKRINING BAKTERI NITRIFIKASI SERTA APLIKASINYA PADA BIOFILTRASI MEDIA PEMELIHARAAN LARVA UDANG GALAH (Macrobrachium rosenbergii de Man) Khasani, Ikhsan
Jurnal Riset Akuakultur Vol 3, No 3 (2008): (Desember 2008)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1283.453 KB) | DOI: 10.15578/jra.3.3.2008.401-412

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan isolat bakteri nitrifikasi yang memiliki potensi mengoksidasi amonia dan nitrit pada media pemeliharaan larva udang galah. Bakteri diisolasi dari bak pengolahan air bekas pemeliharaan larva udang galah di Loka Riset Pemuliaan dan Teknologi Budidaya Perikanan Air Tawar, Sukamandi. Sebanyak 52 isolat bakteri berhasil diisolasi, yang terdiri atas 25 isolat tumbuh pada medium nitrifikasi-1 dan 27 isolat tumbuh pada medium nitrifikasi-2. Di antara isolat bakteri yang tumbuh pada medium nitrifikasi-1 hanya tiga isolat yang mampu mengoksidasi amonia, yaitu Acinetobacter ligniersii A10, Chromobacterium violaceum C2, dan Acinetobacter anitratus C1. Uji oksidasi amonia terhadap tiga isolat yang diperoleh dan satu strain kontrol, Pseudomonas stutzeri ASLT2, menunjukkan bahwa P. stutzeri mempunyai kemampuan oksidasi amonia lebih tinggi dibanding A. ligniersii A10, C. violaceum C2, dan A. anitratus. Uji kemampuan 27 isolat bakteri yang tumbuh pada medium nitrifikasi-2 menunjukkan bahwa semua isolat tersebut tidak dapat mengoksidasi nitrit. Inokulasi bakteri nitrifikasi (P. stutzeri) dan bakteri denitrifikasi (Alcaligenes sp.) pada bak filter tidak berpengaruh terhadap perbaikan kualitas air dan pertumbuhan larva udang galah.The aim of this study was to obtain nitrifying bacteria which have high potency to oxidize ammonium and nitrite and to know the effectiveness of application of bioremediation bacteria in giant freshwater larvae rearing. The bacteria were isolated from waste water treatment tank of freshwater prawn hatchery of Research Institute for Breeding and Freshwater Aquaculture, Sukamandi. Fifty two isolates, i.e. 25 isolates grew on nitrification-1 medium and 27 isolates grew on nitrification-2 medium. The ammonium oxidation test showed that only three of 25 isolates were capable to oxidize ammonium, i.e. Acinetobacter ligniersii A10, Chromobacterium violaceum C1, and Acinetobacter anitratus C2 and one control strain, Pseudomonas stutzeri ASLT2. Further test or screening, showed that P. stutzeri oxidized ammonium more effective than either A. ligniersii A10, C. violaceum C2, or A. anitratus C1. The nitrite oxidation test showed that all isolates could not oxidized nitrite. The result on bacteria Inoculation, i.e. nitrifying bacteria (P. stutzeri) and denitrifying bacteria (Alcaligenes sp.), on filter tank indicated that the bacteria was not able to either reduce ammonium and nitrite concentration or stimulate prawn larvae growth.
KEANEKARAGAMAN DAN MIGRASI VERTIKAL COPEPODA DI TELUK SUMBERKIMA BALI Nugraha, Media Fitri Isma; Sumiarsa, Gede Suwarthama; Hanafi, Adi; Sudarto, Sudarto
Jurnal Riset Akuakultur Vol 3, No 3 (2008): (Desember 2008)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1085.045 KB) | DOI: 10.15578/jra.3.3.2008.375-383

Abstract

Penelitian keanekaragaman spesies copepoda yang hidup di sekitar keramba jaring apung (KJA) di Teluk Sumberkima, Bali Utara dilaksanakan pada bulan Februari 2007 dengan posisi sampling 50L 0237293 UTM 9101738. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman dan distribusi vertikal populasi zooplankton khususnya copepoda di sekitar KJA Teluk Sumberkima pada beberapa tingkat kedalaman. Sampling copepoda dilakukan dengan memompa air laut sejumlah volume tertentu pada tingkat kedalaman masing-masing 0 m, 3 m, 6 m, 9 m, 12 m, dan 15 m. Air laut tersebut kemudian disaring pada 200 µm secara terpisah. Sampel copepoda diawetkan dengan formalin 4% untuk analisis mikroskopik di laboratorium. Hasil penelitian menunjukkan secara keseluruhan terdapat 3 ordo yang terdiri atas 22 spesies copepoda. Ordo yang mendominasi adalah Calanoida yang ditemukan pada setiap kedalaman, dilanjutkan oleh ordo Cyclopoida yang ditemukan pada kedalaman 0 m, 3 m, 6 m, 12 m, dan 15 m dan ordo Harpacticoida yang ditemukan di semua lapisan kedalaman. Spesies yang mendominasi di setiap kedalaman adalah Calanus sinicus dan Calanus minor.The aim of this experiment was to study biodiversity and vertical distribution of copepods around floating cage culture in Sumberkima Bay, North Bali, in sea water depth levels of 0, 3, 6, 9, 12, and 15 meters at sampling site of 50L 0237293 UTM 9101738. The observation was done in February 2007. Samples were obtained by pumping and then filtering the seawater through 200 µm membrane filter. Samples were preserved in 4% formaldehyde for microscopic observation. Results showed that there were three orders from 22 copepod species dominated by the order of Calanoida found in any depth level followed by the order of Cyclopoida found at 0, 3, 6, 12, and 15 meters depth. Even though the order of Harpacticoida copepods was found in each observed depth level but this order was in little quantity. Dominant species at each depth level was Calanus sinicus and Calanus minor from the order of Calanoida.

Page 1 of 2 | Total Record : 12


Filter by Year

2008 2008


Filter By Issues
All Issue Vol 14, No 1 (2019): (Maret, 2019) Vol 13, No 1 (2018): (Maret 2018) Vol 13, No 4 (2018): (Desember 2018) Vol 13, No 3 (2018): (September 2018) Vol 13, No 2 (2018): (Juni, 2018) Vol 13, No 1 (2018): (Maret 2018) Vol 12, No 4 (2017): (Desember 2017) Vol 12, No 3 (2017): (September 2017) Vol 12, No 2 (2017): (Juni 2017) Vol 12, No 1 (2017): (Maret 2017) Vol 12, No 4 (2017): (Desember 2017) Vol 12, No 3 (2017): (September 2017) Vol 12, No 2 (2017): (Juni 2017) Vol 12, No 1 (2017): (Maret 2017) Vol 11, No 4 (2016): (Desember 2016) Vol 11, No 3 (2016): (September 2016) Vol 11, No 2 (2016): (Juni 2016) Vol 11, No 1 (2016): (Maret 2016) Vol 11, No 4 (2016): (Desember 2016) Vol 11, No 3 (2016): (September 2016) Vol 11, No 2 (2016): (Juni 2016) Vol 11, No 1 (2016): (Maret 2016) Vol 10, No 4 (2015): (Desember 2015) Vol 10, No 3 (2015): (September 2015) Vol 10, No 2 (2015): (Juni 2015) Vol 10, No 1 (2015): (Maret 2015) Vol 10, No 4 (2015): (Desember 2015) Vol 10, No 3 (2015): (September 2015) Vol 10, No 2 (2015): (Juni 2015) Vol 10, No 1 (2015): (Maret 2015) Vol 9, No 3 (2014): (Desember 2014) Vol 9, No 2 (2014): (Agustus 2014) Vol 9, No 1 (2014): (April 2014) Vol 9, No 3 (2014): (Desember 2014) Vol 9, No 2 (2014): (Agustus 2014) Vol 9, No 1 (2014): (April 2014) Vol 8, No 3 (2013): (Desember 2013) Vol 8, No 2 (2013): (Agustus 2013) Vol 8, No 1 (2013): (April 2013) Vol 8, No 3 (2013): (Desember 2013) Vol 8, No 2 (2013): (Agustus 2013) Vol 8, No 1 (2013): (April 2013) Vol 7, No 3 (2012): (Desember 2012) Vol 7, No 2 (2012): (Agustus 2012) Vol 7, No 1 (2012): (April 2012) Vol 7, No 3 (2012): (Desember 2012) Vol 7, No 2 (2012): (Agustus 2012) Vol 7, No 1 (2012): (April 2012) Vol 6, No 3 (2011): (Desember 2011) Vol 6, No 2 (2011): (Agustus 2011) Vol 6, No 1 (2011): (April 2011) Vol 6, No 3 (2011): (Desember 2011) Vol 6, No 2 (2011): (Agustus 2011) Vol 6, No 1 (2011): (April 2011) Vol 5, No 3 (2010): (Desember 2010) Vol 5, No 2 (2010): (Agustus 2010) Vol 5, No 1 (2010): (April 2010) Vol 5, No 3 (2010): (Desember 2010) Vol 5, No 2 (2010): (Agustus 2010) Vol 5, No 1 (2010): (April 2010) Vol 4, No 3 (2009): (Desember 2009) Vol 4, No 2 (2009): (Agustus 2009) Vol 4, No 1 (2009): (April 2009) Vol 4, No 3 (2009): (Desember 2009) Vol 4, No 2 (2009): (Agustus 2009) Vol 4, No 1 (2009): (April 2009) Vol 3, No 3 (2008): (Desember 2008) Vol 3, No 2 (2008): (Agustus 2008) Vol 3, No 1 (2008): (April 2008) Vol 3, No 3 (2008): (Desember 2008) Vol 3, No 2 (2008): (Agustus 2008) Vol 3, No 1 (2008): (April 2008) Vol 2, No 3 (2007): (Desember 2007) Vol 2, No 2 (2007): (Agustus 2007) Vol 2, No 1 (2007): (April 2007) Vol 2, No 3 (2007): (Desember 2007) Vol 2, No 2 (2007): (Agustus 2007) Vol 2, No 1 (2007): (April 2007) Vol 1, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006) Vol 1, No 1 (2006): (April 2006) Vol 1, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006) Vol 1, No 1 (2006): (April 2006) More Issue