cover
Contact Name
Suprapti
Contact Email
Suprapti
Phone
-
Journal Mail Official
jra.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Riset Akuakultur
ISSN : 19076754     EISSN : 25026534     DOI : -
Jurnal Riset Akuakultur as source of information in the form of the results of research and scientific review (review) in the field of various aquaculture disciplines include genetics and reproduction, biotechnology, nutrition and feed, fish health and the environment, and land resources in aquaculture.
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue " Vol 3, No 2 (2008): (Agustus 2008)" : 12 Documents clear
APLIKASI PUPUK BERIMBANG TERHADAP PERTUMBUHAN RUMPUT LAUT, Gracilaria verrucosa Di Tambak Tanah Sulfat Masam Pantjara, Brata; Sahib, Muhammad
Jurnal Riset Akuakultur Vol 3, No 2 (2008): (Agustus 2008)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (845.998 KB) | DOI: 10.15578/jra.3.2.2008.225-232

Abstract

Salah satu faktor lingkungan yang mempengaruhi produksi rumput laut, Gracilaria verrucosa adalah kualitas tanah. Rumput laut jenis ini banyak dibudidayakan di tambak tanah sulfat masam yang tergolong tanah dengan kesuburan rendah. Oleh karena itu, dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui imbangan dosis pupuk yang optimal untuk pertumbuhan rumput laut di tambak tanah sulfat masam. Penelitian dilakukan di Desa Lampuara Kecamatan Ponrang Kabupaten Luwu. Penentuan dosis pupuk dan frekuensi aplikasi mengacu pada penelitian pendahuluan skala laboratorium. Perlakuan dalam penelitian ini adalah perbandingan pupuk urea dan SP-36, masing-masing secara berurutan adalah 150 dan 0 kg/ha (A); 112,5 dan 37,5 kg/ha (B); 75 dan 75 kg/ha (C); 37,5 dan 112,5 kg/ha (D); 0 dan150 kg/ha dan tanpa pupuk (E). Bibit rumput laut ditebar dengan kepadatan 2 ton/ha dan dipelihara selama 60 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan yang dicobakan memberikan pengaruh yang signifikan (P<0,05) terhadap rumput laut basah, di mana produksi tertinggi didapatkan pada perlakuan B dan C yaitu 2.090 g/m2 (20,9 ton/ha) dan 1.986,7 g/m2 (19,9 ton/ha) selama 60 hari dengan laju pertumbuhan harian (LPH) sebesar 6,97% dan 6,62% per hari.One of the environment factors that influences seaweed, Gracilaria verrucosa production is soil quality. This seaweed is commonly cultured in acid sulphate-affected soil ponds that is classified as a soil with low fertility. The objective of the research was to know the optimum fertilizer dosage for seaweed growth in acid sulphate-affected soil ponds. The research was conducted in Lampuara Village Ponrang Sub-district Luwu Regency. Dosages and frequencies of fertilizer were determined by referring to a preliminary research in the laboratory. The treatments of this research were using Urea and SP-36 fertilizers with composition of 150 and 0 kg/ha (A); 112.5 and 37.5 kg/ha (B); 75 and 75 kg/ha (C); 37.5 and 112.5 kg/ha (D); 0 and 150 kg/ha and without fertilizer (E), respectively. Seeds of seaweed were stocked with densities of 2 ton/ha. The result of the research showed that the treatments were significantly different (P<0.05) on effecting the seaweed production, where the highest production were found in B and C treatments, i.e. 2,090 g/m2 (20.9 ton/ha) and 1,986.7 g/m2 (19.9 ton/ha) for 60 days with daily growth rate of 6.97% and 6.62%.
OPTIMALISASI PADAT TEBAR BENIH UDANG PAMA (Penaeus semisulcatus) PADA PENTOKOLAN DENGAN SISTEM HAPA DI TAMBAK Mangampa, Markus; Sulaeman, Sulaeman; Parenrengi, Andi; Lante, Samuel
Jurnal Riset Akuakultur Vol 3, No 2 (2008): (Agustus 2008)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (781.447 KB) | DOI: 10.15578/jra.3.2.2008.175-181

Abstract

Udang pama mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi baik di pasar domestik maupun di pasar dunia. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kepadatan benih yang sesuai pada pentokolan yang ditokolkan di tambak dengan menggunakan hapa. Riset ini dilaksanakan pada petakan tambak 250 m2 di Instalasi Riset Perikanan Air Payau Marana, menggunakan 9 unit hapa dari waring halus berukuran 1 m x 1 m x 1 m. Benih udang pama stadia PL-12 berukuran panjang rata rata 0,11 cm/ekor dengan bobot rata-rata 0,003 g/ekor ditebar dengan kepadatan berbeda sebagai perlakuan yaitu: (A) 1.000 ekor/m2, (B) 1.500 ekor/m2, dan (C) 2.000 ekor/m2 selama 35 hari. Untuk suplai oksigen digunakan 1 aerator Hiblow dengan 2 batu aerasi/hapa. Tinggi air dalam hapa 0,80 m dan pergantian air dilakukan setelah 15 hari pemeliharaan sebanyak 30% setiap 3 hari. Diberikan pakan komersil dalam bentuk crumble dengan dosis 50%—200% dari bobot biomassa. Hasil riset menunjukkan bahwa sintasan tertinggi pada kepadatan (A) 1.000 ekor/m2 (70,83%) berbeda nyata pada kepadatan (B) 1.500 ekor/m2 (47,71%), dan (C) 2.000 ekor/m2 dengan sintasan yang sangat rendah (34,58%). Pertumbuhan tidak menunjukkan perbedaan masing-masing sebesar: (A) 3,43; (B) 3,37; dan (C) 3,42 cm/ekor. Hal yang sama ditunjukkan pada pertumbuhan bobot masing-masing perlakuan yaitu: (A) 0,348; (B) 0,286; dan (C) 0,300 g/ekor.ABSTRACT:    Differences of stocking densities of green tiger shrimp fry (Penaeus semisulcatus) reared in nursery with net-cage system. By: Markus Mangampa, Sulaeman, Andi Parenrengi, and Samuel LanteGreen tiger shrimp is an economically valuable species both in domestic and international markets. The experiment was conducted at Marana Research Station in Maros Regency using nine of one-cubic-meter net-cages submerged in a 250 m2-pond. The aim of the experiment was to investigate the optimum stocking density of green tiger shrimp post larvae during nursery with net cage system in pond. PL-12 of green tiger shrimp fry with average individual length and body weight of 0.11 cm and 0.003 g respectively were stocked at different densities i.e. A= 1,000 ind./cage; B= 1,500 ind./cage; and C= 2,000 ind./cage. Each treatment was made in triplicate and reared for 35 days. Two aeration lines were used for each cage for oxygen supply using portable aerator. Water exchange was done 15 days after stocking date at a rate of 30% of water volume in pond everyday for three days. An average water depth in pond was maintained at 0.8 m. Crumbled commercial shrimp diet was applied daily at a rate of 50%—200% of body weight (BW). Result of the experiment showed that the highest survival rate (SR) was achieved by treatment A (70.83%) which was statistically different (P<0.05) to the treatment B (47.71%) and C (34.58%). Absolute length and weight growth rate were not significantly different on all treatments (P>0.05).
PENGGUNAAN DUA JENIS HORMON GONADOTROPIN UNTUK MERANGSANG PEMIJAHAN IKAN BALASHARK (Balanteocheilus melanopterus) Satyani, Darti; Subandiyah, Siti; Insan, Irsyaphiani
Jurnal Riset Akuakultur Vol 3, No 2 (2008): (Agustus 2008)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (555.323 KB) | DOI: 10.15578/jra.3.2.2008.157-164

Abstract

Penelitian yang bertujuan untuk memperoleh cara yang lebih baik dan efisien dalam pemijahan buatan induk balashark dilakukan dengan memilih induk yang matang gonad dari bak-bak pemeliharaan. Sebanyak 20 ekor terdiri atas 12 ekor betina dan 8 ekor jantan terpilih dari 40 ekor (25 betina dan 15 jantan) pada bulan Juni dan Agustus 2007. Perlakuan stimulasi untuk pemijahan dilakukan terhadap induk matang gonad ini dengan dua macam jenis hormon gonadotropin yaitu ovaprim dengan dan tanpa kombinasi HCG. Stimulasi dilakukan dengan dua kali suntikan untuk betina dan satu kali untuk jantan. Suntikan pertama adalah ovaprim 0,4 mL/kg bobot tubuh untuk perlakuan tanpa kombinasi dan 300 IU/kg HCG untuk perlakuan kombinasi. Suntikan kedua dengan interval waktu masing-masing 6 dan 12 jam, adalah ovaprim 0,6 mL/kg bobot tubuh untuk semua perlakuan. Induk jantan disuntik dengan ovaprim 0,6 mL/kg bersamaan dengan suntikan pertama betina. Pembuahan buatan dilakukan pada telur dan sperma yang dikeluarkan dengan cara penyalinan. Penetasan telur terbuahi di dalam corong inkubator bervolume 5 (lima) liter. Hasil penelitian ini adalah diameter telur induk matang gonad yang terpilih antara 0,8—1,28 mm. Perlakuan kombinasi HCG dan ovaprim memberikan hasil yang lebih baik dalam semua parameter yang diamati daripada dengan ovaprim saja. Telur ovulasi lebih banyak, derajat pembuahan dan penetasan lebih tinggi. Bulan Agustus merupakan waktu yang lebih sesuai untuk pemijahan.This research was aimed to obtain a better and efficient method in artificial propagation of Balashark by selection of mature broodstocks from rearing tanks. There were 20 fish selected consisted of 12 females and 8 males from 40 mature broodstock fish (25 females and 15 males). The selection process was carried out in June and August, 2007. Stimulation treatments for these selected mature broodstocks were conducted using two kinds of gonadotrophine hormones i.e ovaprim combined with and without HCG. Stimulation treatments were conducted twice for the females and only once for the males. For female, the first treatment was with 0.4 mL/kg body mass of ovaprim and added with 300 iu/kg body mass of HCG for combination treatment. The second treatment was using 0.6 mL/kg body mass of ovaprim for all females with six hours interval from the first treatment and 12 hours interval for combination treatment. Males were injected with 0.6 mL/kg body mass of ovaprim at the same time with the first injection to the females. Artificial fertilization was given to all ovulated eggs with the sperm collected from the males. Fertilized eggs were hatched in five liter volume capacity of funnel incubator. The experiment results showed that the egg diameter produced by the females were ranging from 0.8–1.28 mm with the average diameter of 1.0–1.18 mm. Combination treatments using ovaprim and HCG gave better results in all observed parameters compared to the treatments that used only ovaprim (no combination). Combination treatment also resulted in greater ovulated eggs as well as higher fertilization and hatching rates. August was assumed to be a better and appropriate time period for Balashark broodstock induced spawning.
Kajian Dampak Lingkungan Global dari Kegiatan Keramba Jaring Apung melalui Life Cycle Assessment (LCA) Prihadi, Tri Heru; Erlania, Erlania; Astuti, Iswari Ratna
Jurnal Riset Akuakultur Vol 3, No 2 (2008): (Agustus 2008)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1900.967 KB) | DOI: 10.15578/jra.3.2.2008.263-273

Abstract

Perubahan iklim global yang berlangsung saat ini memberikan pengaruh pada berbagai bidang, termasuk perikanan yang menyebabkan terjadinya degradasi lingkungan perairan. Hal ini berdampak pada muncul dan menyebarnya berbagai penyakit ikan, menurunnya laju pertumbuhan organisme perairan, bahkan hingga menimbulkan kematian massal ikan. Namun hal ini belum sepenuhnya dapat diatasi oleh para ilmuwan tanah air, bahkan bisa dikatakan baru sebagian kecil saja. Penerapan Best Management Practice (BMP) dengan aplikasi Life Cycle Assessment (LCA) akan sangat berarti dalam upaya penerapan perikanan budidaya berkelanjutan, dengan model pengelolaan kuantitatif. Dalam hal ini metode LCA secara kuantitatif merupakan pertama kalinya dilakukan di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mengevaluasi kuantitas dan kategori dampak lingkungan akibat kegiatan budidaya keramba jaring apung (KJA) melalui LCA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan budidaya di KJA menimbulkan dampak yang signifikan terhadap lingkungan perairan. Dari berbagai faktor yang berperan dalam kegiatan budidaya KJA, pakan ikan merupakan faktor yang paling dominan dalam menghasilkan dampak lingkungan global (di atas 70%), berupa pemanasan global, penurunan jumlah sumberdaya abiotik, eutrofikasi, penipisan lapisan ozon, toksisitas pada manusia, dan penurunan jumlah keanekaragaman hayati. Dari faktor pakan tersebut, unsur yang paling berpengaruh dalam menghasilkan dampak lingkungan adalah soybean Brazil dan winter wheat, sehingga perlu dicari alternatif bahan untuk mensubstitusi kedua unsur tersebut. Demikian juga faktor-faktor lainnya (seperti: polystyrene foams, drum plastik, bambu, jaring, besi, skala budidaya, dan lain-lain) mempunyai peranan terhadap dampak yang ditimbulkan terhadap lingkungan perairan.Global climate change has been affecting many sectors, including fisheries causing aquatic environment degradation such as fish disease outbreaks, decreasing growth rate of fish and other aquatic organisms, and further, may cause fish mass mortality. Recently these conditions have not fully solved by Indonesian scientists. Application of Best Management Practice (BMP) with Life Cycle Assessment (LCA) using quantitative model is the best way for implementing a Sustainable Aquaculture. This case was the first attempt of using the quantitative LCA in Indonesia. This research was conducted to quantify and evaluate environmental aspects that were affected by floating net cage (KJA). The result showed that fish culture in KJA contributed significant impacts to the aquatic environment. From many factors of KJA, feed was the most dominant factor that caused the global environmental impact (above 70%), in form of global warming potential, abiotic depletion, eutrophycation, ozone depletion potential, human toxicity, and biodiversity depletion. Feed consist of many substances. Soybean Brazil and winter wheat were the major substances that brought out the most environmental impact. Thus, it is important to find alternative materials to substitute these substances. Other factors of KJA (plastic drums, polystyrene foam, bamboo, steel, net, farming scale, etc.) also affected the quantity and kind of impacts to aquatic environment.
APLIKASI DAN EFEKTIVITAS VAKSIN ANTI PARASIT PADA PEMBENIHAN IKAN KERAPU PASIR (Epinephelus corallicola) DI HATCHERI Johnny, Fris; Roza, Des; Zafran, Zafran
Jurnal Riset Akuakultur Vol 3, No 2 (2008): (Agustus 2008)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1276.358 KB) | DOI: 10.15578/jra.3.2.2008.233-240

Abstract

Penyakit investasi parasit merupakan penyakit investasi yang sering diabaikan, padahal investasi parasit merupakan salah satu masalah serius dalam produksi ikan laut di Indonesia. Suatu penelitian untuk aplikasi dan menguji efektivitas vaksin inaktif terhadap parasit telah dilakukan di Laboratorium Patologi, Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut, Gondol-Bali. Benih ikan kerapu pasir disuntik secara intraperitoneal dengan vaksin anti parasit inaktif dengan dua konsentrasi, yaitu (A). 0,1 mL/ekor (100 µg vaksin/ekor ikan); (B). 0,1 mL/ekor (10 µg vaksin/ekor ikan); dan (C). tanpa perlakuan vaksin hanya disuntik dengan 0,1 mL PBS/ekor (kontrol). Penyuntikan ulang (booster) dilakukan 15 hari pasca penyuntikan pertama. Efektivitas vaksin dievaluasi melalui uji tantang ikan yang divaksin dan kontrol dengan menginfeksikan parasit Benedenia hidup. Daya imunogenisitas dievaluasi setiap 10 hari selama 30 hari pemeliharaan dengan mengukur titer antibodi ikan yang divaksin dibandingkan dengan ikan yang tidak divaksin. Hasil uji tantang menunjukkan bahwa sintasan ikan yang divaksin lebih tinggi (100,00% dan 98,89%) daripada kontrol (88,89%). Titer antibodi kelompok ikan yang divaksin juga lebih tinggi (1:32 dan 1:16) dibanding kontrol (1:2). Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa vaksin parasit inaktif mampu meningkatkan kekebalan ikan kerapu pasir terhadap infeksi parasit Benedenia.Parasite infestation is one of serious problems that have to be faced in marine fish culture in Indonesia. Mass mortality may occur when fish are infected with this disease. Experiment with aim to evaluate effectiveness of inactivated vaccine against parasite has been conducted at Fish Pathology Laboratory of Research Institute for Mariculture, Gondol-Bali. The juveniles of coral grouper, Epinephelus corallicola were intraperitoneally injected with inactivated vaccine against parasite (A). 0.1 mL/fish (100 µg vaccine/fish), (B). 0.1 mL/fish (10 µg vaccine/fish), and (C). 0.1 mL of PBS solution as a control. Booster was delivered 15 days post first vaccination. The immunogenicity of vaccine were evaluated every 10 days for one month of rearing period by looking at the production of antibody titer level of vaccinated fish compared to unvaccinated fish group. The results of challenge test with live Benedenia parasites showed that the survival rates of vaccinated fish were higher (100.00% and 98.89%) than that of unvaccinated fish (88.89%). Antibody titer levels of vaccinated groups ranged from 1:32 to 1:16, while in the control group was only 1:2. It is suggested that inactivated parasite vaccine is effective against Benedenia parasite.
EFEKTIVITAS PROMOTER b-ACTIN IKAN MEDAKA (Oryzias latipes) DENGAN PENANDA GEN hrGFP (HUMANIZED Renilla reniformis GREEN FLUORESCENT PROTEIN) PADA IKAN LELE (Clarias gariepinus) KETURUNAN F0 Ath-thar, Muhammad Hunaina Fariduddin; Sumantadinata, Komar; Alimuddin, Alimuddin; Gustiano, Rudhy
Jurnal Riset Akuakultur Vol 3, No 2 (2008): (Agustus 2008)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1084.236 KB) | DOI: 10.15578/jra.3.2.2008.199-207

Abstract

Promoter merupakan salah satu faktor penentu dalam teknologi transgenesis. Pada penelitian ini efektivitas promoter b-actin ikan medaka diuji pada telur ikan lele fase 1 sel dan 2 sel. Penelitian dilakukan di Laboratorium Pengembangbiakan dan Genetika Ikan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Penelitian ini berlangsung selama 3 bulan. Insersi promoter dilakukan dengan cara menginjeksi telur hasil pemijahan buatan dengan plasmid DNA pmb-actin–hrGFP pada fase telur 1 sel dan 2 sel. Konsentrasi DNA yang digunakan adalah 20 µg/mL. Perkembangan embrio diamati pada 8, 12, 16, 20, 24 jam setelah gen disuntikkan serta 4 dan 8 jam setelah telur menetas. Derajat sintasan embrio (DKH), derajat penetasan (DP), dan persentase embrio mengekspresikan transgen (PEMT) dicatat selama pengamatan. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa promoter b-actin ikan medaka aktif pada ikan lele, dengan adanya ekspresi gen hrGFP pada embrio setelah 8, 12, 16, 20, 24 jam setelah penyuntikan serta 4 dan 8 jam setelah telur menetas. Nilai DKHkontrol pada jam ke-24 adalah 97,1% dan untuk DKHinjeksi pada jam ke-24 adalah 85,7%. Untuk PEMT pada telur yang disuntik pada fase 1 sel mempunyai persentase yang lebih tinggi (66,7%) dibanding telur yang disuntik pada fase 2 sel (50,0%). Derajat penetasan memperlihatkan bahwa jumlah telur untuk penyuntikan pada fase 1 sel lebih tinggi (93,3%) dibanding dengan yang disuntik pada fase 2 sel (55,0%). Total jumlah telur yang berhasil disuntik adalah 35 butir dan yang terekspresi sebanyak 20 butir (57,1%).Promoter is one of the most important factors in transgenic. In this study, effectiveness of b-actine of medaka (Oryzias latipes) was examined in the eggs of walking catfish at the first cleavage and two cell stage. The experiment was carried out in the Laboratory of Fish Genetic, Fac. of Fisheries, Bogor Agricultural University for three months. Promoter was inserted by injecting artificial fertilization eggs with DNA pmb-actin–hrGFP plasmid. DNA concentration was 20 µg/mL. Eggs development were observed at 8, 12, 16, 20, 24 hours after injection, 4 and 8 hours after hatching. The result showed that b-actin promoter was active on embryo targets indicated by expression of hrGFP gene after 8, 12, 16, 20, 24 hours after injection as well as 4 and 8 hours after hatching. Survival rate within 24 hours were 97.1% for control and 85.7% for injected eggs. Successful of injection was higher on the first cleavage stage (66.7%) than that of on the two stage cell (50.0%). Hatching rate was also higher on the first cleavage (93.3%) than that of on the two cell stage (55.0%). Total number of eggs injected succesfully was 35 eggs with 57.1% of them containing foreign genes.
FAKTOR STATUS PEMBUDIDAYA, KONDISI, DAN PENGELOLAAN TAMBAK YANG BERPENGARUH TERHADAP PRODUKSI RUMPUT LAUT (Gracilaria verrucosa) DI TAMBAK TANAH SULFAT MASAM KABUPATEN LUWU UTARA PROVINSI SULAWESI SELATAN Ratnawati, Erna; Mustafa, Akhmad; Rachmansyah, Rachmansyah
Jurnal Riset Akuakultur Vol 3, No 2 (2008): (Agustus 2008)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1080.303 KB) | DOI: 10.15578/jra.3.2.2008.275-287

Abstract

Tambak di Kabupaten Luwu Utara umumnya tergolong tanah sulfat masam dan banyak digunakan untuk budidaya rumput laut (Gracilaria verrucosa) dengan produksi yang tinggi. Oleh karena itu, dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui faktor status pembudidaya, kondisi, dan pengelolaan tambak yang mempengaruhi produksi rumput laut. Metode penelitian yang diaplikasikan adalah metode survai untuk mendapatkan data primer dari produksi, status pembudidaya, dan pengelolaan tambak yang dilakukan melalui pengajuan kuisioner kepada responden secara terstruktur, sedangkan kondisi tambak ditentukan melalui pengamatan dan pengukuran langsung di lapangan. Sebagai peubah tidak bebas adalah produksi dan peubah bebas adalah faktor status pembudidaya yang terdiri atas 10 peubah, kondisi tambak yang terdiri atas 12 peubah, dan pengelolaan tambak yang terdiri atas 26 peubah. Analisis regresi berganda dengan peubah boneka digunakan untuk memprediksi produksi rumput laut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi aktual rata-rata rumput laut di tambak tanah sulfat masam sebesar 7.821 kg/ha/tahun dengan prediksi produksi sebesar 23.563 kg kering/ha/tahun. Produksi rumput laut dapat ditingkatkan melalui: peningkatan pengalaman pembudidaya tambak, penambahan jumlah pintu air, tambak dibuat dengan bentuk bujur sangkar atau empat persegi panjang dengan luasan tambak tidak terlalu luas serta peningkatan lama pengeringan tanah dasar tambak, padat penebaran ikan bandeng, dosis kapur dan dosis pupuk Urea, SP-36, KCl, dan Za sebagai pupuk dasar.Brackishwater pond in North Luwu Regency, generally as classified as acid sulfate soils and most of them was used for culturing seaweed (Gracilaria verrucosa) with high productivity. Hence, it was conduct research that aim to know the effect of farmer status, condition, and management of pond on the seaweed production. Survey method was applied to find primary data of seaweed production, farmer status and pond management, while pond condition was determined through observation or measurement in the field. As a dependent variable in this research is seaweed production. Independent variable was grouped into: (a) farmer status factor, consist of 10 variables; (b) pond condition factor, consist of 12 variables; and (c) pond management factor, consist of 26 variables. Multiple regression with dummy variable was used to analyse the data in prediction dependent variable. Results show that average of seaweed actual production in ASS-affected pond of Luwu Utara Regency is 7,821 kg dry/ha/year with prediction product is 23,563 kg dry/ha/year. Seaweed production can be increased through: (a) increasing the experience of farmers pond, (b) increasing number of water gate and pond was make in rectangle or rectangular shape with it is not large of area, (c) increasing duration of bottom drying and stocking density of milkfish, and (d) increasing dosage of lime and Urea, SP-36, KCl and ZA as initiating fertilizer.
RESPONS SELEKSI UDANG GALAH (Macrobrachium rosenbergii) DALAM LINGKUNGAN AIR PAYAU Hadie, Wartono; Hadie, Lies Emmawati; Listyanto, Nurbakti
Jurnal Riset Akuakultur Vol 3, No 2 (2008): (Agustus 2008)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (386.491 KB) | DOI: 10.15578/jra.3.2.2008.209-214

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi respons seleksi udang galah yang dipelihara dalam lingkungan bersalinitas hingga generasi kedua. Udang galah dipelihara dalam lingkungan air payau dengan salinitas 0‰, 10‰, dan 15‰. Penelitian dilakukan hingga generasi kedua dalam lingkungan yang sama. Metode seleksi pada generasi pertama dan kedua dilakukan dengan seleksi keluarga (family selection). Seleksi pada masing-masing generasi dilakukan pada karakter pertumbuhan dalam masing-masing lingkungan salinitas. Secara keseluruhan respons seleksi harapan untuk semua genotipe mencapai 5,58 g per generasi dan respons seleksi kenyataan untuk semua genotipe mencapai 3,07 g per generasi di atas rataan tetua. Hasil ini sangat bermakna dalam meningkatkan ukuran bobot badan udang galah sebagai keberhasilan program seleksi. Hasil ini berlaku untuk seleksi pada salinitas perlakuan hingga 15‰.This research aimed to evaluate the selection response of the giant freshwater prawn cultured in different salinity levels that were observed up to second generation. Prawns were reared in brackish water environment with salinity levels of 0%, 10%, and 15%. Research was conducted up to the second generation in the same salinity level environments. Method of selection was family selection applied to both first and second generations. Selection process of each generation was performed on the growth character of prawns in each salinity level environment. Overall, expected selection response of all genotype achieved 5.58 g per generation and real selection response for all genotype reached 3.07 g above the parent generation. The result is arguably very meaningful in the effort of increasing the body mass of tiger prawn. The findings are valid for selection using salinity level up to 15 ppm.
PEMBENTUKAN INDUK NEOFEMALE UDANG GALAH GIMacro MELALUI ANDREKTOMI Iswanto, Bambang; Khasani, Ikhsan; Imron, Imron
Jurnal Riset Akuakultur Vol 3, No 2 (2008): (Agustus 2008)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1255.245 KB) | DOI: 10.15578/jra.3.2.2008.165-173

Abstract

Udang galah merupakan salah satu komoditas perikanan yang memiliki sifat seksual dimorfisme pada karakter pertumbuhan. Udang galah jantan dapat tumbuh lebih cepat dibandingkan udang galah betina, sehingga mendorong pengupayaan budidaya udang galah secara monoseks jantan. Benih monoseks jantan dapat diperoleh dengan mengawinkan neofemale, yang dihasilkan melalui proses feminisasi udang galah jantan, dengan jantan normal. Andrektomi merupakan salah satu teknik feminisasi yang dapat dilakukan pada udang galah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas andrektomi terhadap proses feminisasi pada udang galah GIMacro. Proses andrektomi dilakukan terhadap yuwana jantan udang galah GIMacro umur 70—97 hari, dengan ukuran panjang total 3,2—7,6 cm; panjang standar 1,8—4,5 cm; dan bobot 0,29—3,63 g. Hasil penelitian menunjukkan bahwa andrektomi menyebabkan kematian yang cukup tinggi, yaitu: 26,83%—37,70% setelah 24 jam dan 35,37%—81,89% setelah 5 hari. Setelah 3 bulan pembesaran, sintasan berkisar 9,45%—57,32%; dengan komposisi 8,51%—91,67% tetap sebagai jantan; 8,33%—40,43% mengalami feminisasi, dan 60,00%—77,27% tampak sebagai jantan dengan berbagai abnormalitas. Udang galah betina hasil andrektomi menunjukkan tanda-tanda mengalami perkembangan gonad, kantung pengeraman, dan dapat memijah dengan sedikit massa telur. Hasil yang diperoleh memberikan harapan bagi pembentukan betina neofemale melalui andrektomi pada yuwana udang galah umur 75—80 hari.Males of giant freshwater prawn (Macrobrachium rosenbergii) grow faster than females. All male seeds can be produced through the mating of neofemale, which can be resulted from the feminization of male freshwater prawn, with normal male. Andrectomy is a method to feminize the male freshwater prawn. This study was aimed to investigate the effectiveness of andrectomy on the feminization of giant freshwater prawn, using GIMacro strains as experimental animals. The androgenic glands of male juveniles at 70—97 days old, with 3.2—7.6 cm total length, 1.8—4.5 cm standard length, and 0.29—3.63 g body weight were removed micro surgically (andrectomy). The andrectomized juveniles were then reared for three months to allow the development of their reproductive characteristics. The results showed that andrectomy caused high mortality, about 26.83%—37.70% after 24 hours, and about 35.37%—81.89% after 5 days. At the end of rearing period, survival rate of adult prawn ranged from 9.45%—57.32%, with the proportion of normal male, female (feminized) and abnormal male were 8.51%—91.67%, 8.33%—40.43%, and 60.00%—77.27%, respectively. Despite of the high mortality rate, the successfully feminized individuals showed the development of reproductive characteristics including gonadal and egg chamber developments and egg production. The results suggest that andrectomy, particularly which was applied to the juveniles of 70—97 days old, has been a quite effective technique to produce neofemale on the GIMacro strain of freshwater prawn.
KLONING cDNA HORMON PERTUMBUHAN DARI IKAN GURAME (Osphronemus gouramy) Nugroho, Estu; Alimuddin, Alimuddin; Kristanto, Anang Hari; Carman, Odang; Megawati, Novi; Sumantadinata, Komar
Jurnal Riset Akuakultur Vol 3, No 2 (2008): (Agustus 2008)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (965.684 KB) | DOI: 10.15578/jra.3.2.2008.183-190

Abstract

Penelitian mengenai kloning cDNA pengkode hormon pertumbuhan ikan gurame telah dilakukan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh sekuens DNA komplemen hormon pertumbuhan sebagai langkah awal dalam rangka pengembangan teknologi rekayasa genetik ikan gurame. Empat buah kelenjar hifopisa ikan gurame digunakan sebagai bahan bakunya dan dilakukan proses ekstraksi RNA total dari kelenjar hipofisa, dilanjutkan dengan sintesis cDNA, amplifikasi PCR, purifikasi fragmen DNA dari gel, ligasi produk PCR dengan vektor kloning, transformasi dan inkubasi bakteri, seleksi koloni bakteri putih, isolasi plasmid, dan sekuensing. Hasil sekuensing menunjukkan bahwa panjang produk amplifikasi PCR adalah 843 bp yang menyandikan 204 asam amino residu dan mengandung sekuens-sekuens yang konserf untuk gen hormon pertumbuhan (GH). Analisis homologi menunjukkan kesamaan sekuens hasil isolasi antara 52,4%--97,6% dengan gen GH ikan lainnya, dengan persentase homologi tertinggi adalah dengan ikan sepat. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sekuens hasil isolasi merupakan sekuens gen GH. Dari hasil analisis sekuens terlihat bahwa gen GH ikan gurame secara evolusi adalah konserf.Research on cDNA cloning encoded the gouramy growth hormone was conducted. The aim of the research was to get complementary DNA, cDNA, sequences of growth hormone as an initial step to develop genetic engineering of gouramy fish. Four pituitary glands of the gouramy were taken and then processed with total RNA extraction, and continued with cDNA synthesis, PCR amplification, DNA fragment purification from the gel, PCR product legation with cloning vector, transformation and incubation of bacteria, white colony bacteria selection, plasmid isolation and sequencing analysis. Sequencing result showed that the amplified PCR product length had 834 bp, encoding 204 amino acid residue and contained conserve sequence for GH (growth hormone) gen. Homolog analysis showed sequence similarity of isolated result between 52.4%—97.6% with other GHs with the highest percentage resulted from the Trichogaster pectoralis. From the sequence analysis showed that GH gen of gouramy at an evolutionary manner was conserve.

Page 1 of 2 | Total Record : 12


Filter by Year

2008 2008


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 4 (2018): (Desember 2018) Vol 13, No 3 (2018): (September 2018) Vol 13, No 2 (2018): (Juni, 2018) Vol 13, No 1 (2018): (Maret 2018) Vol 12, No 4 (2017): (Desember 2017) Vol 12, No 3 (2017): (September 2017) Vol 12, No 2 (2017): (Juni 2017) Vol 12, No 1 (2017): (Maret 2017) Vol 11, No 4 (2016): (Desember 2016) Vol 11, No 3 (2016): (September 2016) Vol 11, No 2 (2016): (Juni 2016) Vol 11, No 1 (2016): (Maret 2016) Vol 10, No 4 (2015): (Desember 2015) Vol 10, No 3 (2015): (September 2015) Vol 10, No 2 (2015): (Juni 2015) Vol 10, No 1 (2015): (Maret 2015) Vol 9, No 3 (2014): (Desember 2014) Vol 9, No 2 (2014): (Agustus 2014) Vol 9, No 1 (2014): (April 2014) Vol 8, No 3 (2013): (Desember 2013) Vol 8, No 2 (2013): (Agustus 2013) Vol 8, No 1 (2013): (April 2013) Vol 7, No 3 (2012): (Desember 2012) Vol 7, No 2 (2012): (Agustus 2012) Vol 7, No 1 (2012): (April 2012) Vol 6, No 3 (2011): (Desember 2011) Vol 6, No 2 (2011): (Agustus 2011) Vol 6, No 1 (2011): (April 2011) Vol 5, No 3 (2010): (Desember 2010) Vol 5, No 2 (2010): (Agustus 2010) Vol 5, No 1 (2010): (April 2010) Vol 4, No 3 (2009): (Desember 2009) Vol 4, No 2 (2009): (Agustus 2009) Vol 4, No 1 (2009): (April 2009) Vol 3, No 3 (2008): (Desember 2008) Vol 3, No 2 (2008): (Agustus 2008) Vol 3, No 1 (2008): (April 2008) Vol 2, No 3 (2007): (Desember 2007) Vol 2, No 2 (2007): (Agustus 2007) Vol 2, No 1 (2007): (April 2007) Vol 1, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006) Vol 1, No 1 (2006): (April 2006) More Issue