cover
Contact Name
Suprapti
Contact Email
Suprapti
Phone
-
Journal Mail Official
jra.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Riset Akuakultur
ISSN : 19076754     EISSN : 25026534     DOI : -
Jurnal Riset Akuakultur as source of information in the form of the results of research and scientific review (review) in the field of various aquaculture disciplines include genetics and reproduction, biotechnology, nutrition and feed, fish health and the environment, and land resources in aquaculture.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue " Vol 13, No 3 (2018): (September 2018)" : 10 Documents clear
RESPONS DAN POLA PERTUMBUHAN BENIH ikan baung (Hemibagrus nemurus) DARI TIGA GENERASI DIPELIHARA PADA WADAH BUDIDAYA YANG BERBEDA Kusmini, Irin Iriana; Kristanto, Anang Hari; Subagja, Jojo; Prakoso, Vitas Atmadi; Putri, Fera Permata
Jurnal Riset Akuakultur Vol 13, No 3 (2018): (September 2018)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (330.964 KB) | DOI: 10.15578/jra.13.3.2018.201-211

Abstract

Ikan baung (Hemibagrus nemurus) merupakan salah satu komoditas ikan air tawar ekonomis tinggi di Indonesia. Untuk meningkatkan produktivitas budidaya, maka dilakukan pembentukan generasi baru populasi terbaik agar diperoleh generasi yang lebih produktif dan cepat tumbuh. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi respons dan pola pertumbuhan benih ikan baung generasi-1 (G-1), generasi-2 (G-2), dan generasi-3 (G-3) pada wadah budidaya yang berbeda. Penelitian dilakukan di kolam semi-permanen, kolam beton dan jaring apung di Instalasi Riset Plasma Nutfah Perikanan Air Tawar, Cijeruk dengan tiga ulangan. Benih yang digunakan berukuran panjang rata-rata 1,54 ± 0,22 cm; dan bobot 0,06 ± 0,01 g; dipelihara dengan padat tebar 50 ekor/m2. Selama 15 hari pertama pemeliharaan benih diberi pakan Tubifex dan pakan komersial dengan kadar protein 41% sebanyak 5% per hari dengan frekuensi pemberian pakan dua kali sehari, untuk pemeliharaan selanjutnya pakan yang diberikan berupa pakan komersil saja. Pemeliharaan dilakukan selama 45 hari, dan pengukuran pertumbuhan dilakukan 15 hari sekali. Parameter yang diamati meliputi laju pertumbuhan spesifik, sintasan, dan pola pertumbuhan. Sebagai data pendukung dilakukan pengukuran kualitas air dan kelimpahan plankton. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan bobot dan panjang benih ikan baung G-2 lebih unggul dibanding dengan G-1 dan G-3, sedangkan wadah budidaya yang terbaik adalah pada pemeliharaan di kolam semi-permanen dengan bobot ikan 6,79 ± 4,085 g dan panjang 8,46 ± 1,967 cm. Pertumbuhan ikan baung yang dipelihara di kolam semi-permanen menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,05) terhadap wadah pemeliharan lainnya. Pola pertumbuhan ikan baung dari tiga wadah budidaya bersifat allometrik negatif (b<3).Asian redtail catfish (Hemibagrus nemurus) is one of the high economic value of freshwater fish commodities in Indonesia. In order to increase aquaculture productivity, production of new generation from the best population was conducted to obtain a more productive and fast-growing generation. The purpose of this study was to evaluate the response and growth pattern of G-1, G-2, and G-3 fingerlings of Asian redtail catfish on different rearing media. The study was conducted in semi-permanent ponds, concrete ponds, and floating nets in Research Installation of Freshwater Fisheries Germplasm, Cijeruk with three replications. The stocking density of each treatment was 50/m2, with the fingerlings average length of 1.54 ± 0.22 cm and weight of 0.06 ± 0.01. During the first 15 days, fish were fed with Tubifex and commercial feed (41% crude protein; fed 5% per day) with twice per day of feeding frequency. Fish were reared for 45 days, and growth measurement was conducted by sampling every 15 days. Parameters observed including specific growth rates, survival, and growth patterns. As supporting data, water quality, and plankton abundance were measured. The results showed that weight and length gain on the second generation (G-2) of Asian redtail catfish was superior compared to G-1 and G-3, whilst the best rearing media was found in semi-permanent ponds with the weight of 6.79 ± 4.085 g and the length of 8.46 ± 1.967 cm. The growth pattern of Asian redtail catfish from three rearing media was negative allometric (b<3).
PENYEDIAAN PAKAN ALAMI UNTUK MENINGKATKAN SINTASAN DAN PERTUMBUHAN LARVA IKAN RAINBOW KURUMOI (Melanotaenia parva) Kadarini, Tutik; Musthofa, Siti Zuhriyyah; Zamroni, Mochammad
Jurnal Riset Akuakultur Vol 13, No 3 (2018): (September 2018)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (92.876 KB) | DOI: 10.15578/jra.13.3.2018.251-257

Abstract

Permasalahan utama budidaya ikan rainbow (Melanotaenia parva) adalah sintasan larva yang masih rendah terutama pada saat terjadi peralihan makan dari cadangan kuning telur (endogenous) ke pakan eksternal (eksogenous). Pakan awal larva rainbow berupa pakan alami (plankton). Untuk menyediakan plankton dapat dilakukan melalui pemupukan kotoran ayam. Tujuan penelitian adalah penyediaan pakan alami untuk meningkatkan sintasan dan pertumbuhan larva ikan rainbow kurumoi melalui pemupukan kotoran ayam dengan dosis yang berbeda di akuarium. Akuarium yang digunakan berukuran 50 cm x 50 cm x 40 cm sebanyak 15 buah dengan volume air 40 L. Dosis pupuk kotoran ayam yang diujikan sebagai berikut: (A) kontrol (tanpa pemupukan), (B) 5 g, (C) 10 g, (D) 15 g, dan (E) 20 g per 40 L air, masing-masing perlakuan diulang tiga kali. Ikan uji yang digunakan berupa larva rainbow kurumoi yang berumur dua hari. Larva ditebar setelah 5-7 hari pemupukan dengan kepadatan sebanyak 100 ekor/wadah. Rancangan percobaan yang digunakan rancangan acak lengkap (RAL). Parameter yang diamati unsur hara pupuk, jenis dan kelimpahan plankton, sintasan larva, pertumbuhan (panjang dan bobot) larva, dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemupukan kotoran ayam terbaik dengan dosis pupuk 20 g/40 L dengan kelimpahan plankton 58.300 ind./L; sintasan larva 84,33 ± 3,79%; dan pertumbuhan (bobot 0,048 ± 0,012 g; panjang total 1,67 ± 0,15 cm dan panjang standar 1,44 ± 0,13 cm).The main problem of rainbow aquaculture is the survival of larvae which is still low, especially at the time of the initial eating, namely the transition of food endogenous to exogenous. The initial feed of rainbow larvae is natural food (plankton). To provide natural food can be done through fertilization chicken manure. The aim of the study was the provision of natural food to improve the survival and growth of rainbow kurumoi larvae by fertilizing chicken manure with different doses in the aquarium. The container used is 50 cm x 50 cm x 40 cm aquarium with 15 pieces with 40 L water volume. The doses of chicken manure were tested as follows (A) control (without fertilization), (B) 5 g (C) 10 g, (D) 15 g and (E) 20 g per container where each treatment was repeated 3 times. The test fish used were rainbow kurumoi larvae that were around 1-2 days old. Larvae are stocked after fertilizing around 5-7 days with a density of 100 larvae/container. The experimental design was a completely randomized design (CRD). Parameters observed were fertilizer nutrients, type and abundance of plankton, larvae survival, growth (length and weight) of larvae and water quality. The results showed that fertilizing the best chicken manure with a fertilizer dose of 20 g/40 L with an abundance of plankton 58,300 ind./L, survival 84.33 ± 3.79% and growth (weight 0.048 ± 0.012 g, total length 1.67±0.15 cm and standard length 1.44 ± 0.13 cm).
REPRODUKSI IKAN BAUNG (Hemibagrus nemurus) DENGAN PERLAKUAN DOSIS HORMON GnRH-a BERBEDA Subagja, Jojo; Prakoso, Vitas Atmadi
Jurnal Riset Akuakultur Vol 13, No 3 (2018): (September 2018)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (52.563 KB) | DOI: 10.15578/jra.13.3.2018.213-218

Abstract

Ikan baung (Hemibagrus nemurus) memiliki prospek bagus untuk dikembangkan sebagai komoditas budidaya di Indonesia karena citarasa daging yang enak banyak diminati konsumen. Dewasa ini, peningkatan produksi benih dapat dilakukan melalui pemijahan buatan dengan manipulasi hormonal. Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk mengevaluasi produksi induk ikan baung melalui pemijahan buatan dengan dosis penyuntikan GnRH-a berbeda. Penelitian dilakukan di Instalasi Riset Plasma Nutfah Perikanan Air Tawar, Cijeruk, Bogor pada bulan November 2017. Induk betina ikan baung yang digunakan berukuran 465,0 ± 71,8 g; dan induk jantan 426,3 ± 46,8 g. Induksi dilakukan dengan penyuntikan hormon GnRH-a dengan tiga dosis yang berbeda pada induk betina (0,3; 0,5; dan 0,7 mL/kg bobot badan), dan ikan jantan dengan dosis 0,4 mL/kg bobot badan. Masing-masing perlakuan terdiri atas tiga ekor induk betina sebagai ulangan. Hormon disuntikkan secara intramuskular, diberikan dua kali penyuntikan 35% dari dosis total pada penyuntikan pertama, dan 65% diberikan pada penyuntikan kedua, dengan interval waktu penyuntikan delapan jam. Parameter yang diamati yaitu jumlah telur ovulasi, derajat pembuahan, derajat penetasan, dan sintasan larva selama tujuh hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis penyuntikan hormon GnRH-a 0,5 mL/kg pada induk ikan baung saat proses pemijahan buatan menghasilkan derajat penetasan yang lebih tinggi dibandingkan dosis 0,3 dan 0,7 mL/kg; serta sintasan larva yang lebih baik dibandingkan dosis 0,7 mL/kg. Sedangkan nilai jumlah telur yang berhasil ovulasi dan derajat pembuahan yang relatif lebih baik ditemukan pada perlakuan dosis 0,7 mL/kg dibandingkan dengan dosis 0,3 dan 0,5 mL/kg.Asian redtail catfish (Hemibagrus nemurus) has a good prospect to be developed as aquaculture commodity in Indonesia. It was proved by the demand of consumers regarding to its delicious flesh taste. Recently, efforts to increase seedling production could be implemented through artificial spawning with hormonal manipulation. This study was conducted to evaluate the production of broodstocks through artificial spawning with different doses of GnRH-a. Study was conducted at Research Institute for Freshwater Fisheries Germplasm, Cijeruk, Bogor in November, 2017. The broodstock used in this study was 465.0 ± 71.8 g for females, and 426.3 ± 46.8 g for males. Induction was performed by injection of GnRH-a hormone with three different doses on female broodstocks (0.3, 0.5 and 0.7 mL/kg of body weight), and male broodstocks with a dose of 0.4 mL/kg of body weight. Each treatment consisted of three females as replications. The hormone was injected intramuscularly, given twice injection: 35% of the total dose is given at the first injection, and the remaining 65% was given at the second injection, with an injection time interval of eight hours. The results showed the observed parameters of number of the ovulated eggs, fertilization rate, hatching rate, and larval survival for seven days, treatment dosage of 0.5 mL/kg showed better results (P<0.05) than the dosage of 0.3 mL/kg and 0.7 mL/kg. Parameters observed were number of ovulated eggs, fertility rate, hatching rate, and survival rate for seven days. The results showed that the dosage of 0.5 mL/kg GnRH-a injection to the broodstock during artificial spawning resulted in higher hatching rate compared to 0.3 and 0.7 mL/kg and better larval survival rate than the dosage of 0.7 mL/kg. Meanwhile, the number of ovulated eggs and fertility rate was relatively better in the treatment of 0.7 mL/kg compared with the dosage of 0.3 and 0.5 mL/kg.
EFEKTIVITAS EKSTRAK DAUN CIPLUKAN (Physalis angulata L.) TERHADAP SISTEM KEKEBALAN TUBUH IKAN NILA (Oreochromis niloticus) Octarina, Yusrika; Prasetiyono, Eva; Febrianti, Dwi; Robin, Robin
Jurnal Riset Akuakultur Vol 13, No 3 (2018): (September 2018)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (105.453 KB) | DOI: 10.15578/jra.13.3.2018.259-265

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas ekstrak daun ciplukan (Physalis angulata) sebagai imunostimulan dalam meningkatkan jumlah leukosit dan aktivitas fagositosis pada ikan nila. Ikan nila yang digunakan berukuran panjang 10-12 cm dan bobot 70-90 g. Ikan tersebut diperoleh dari pembudidaya ikan nila di Desa Riding Panjang Kecamatan Merawang. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap tunggal. Rancangan ini terdiri atas lima perlakuan (P), yaitu P1= kontrol positif (penyuntikkan dengan larutan fisiologis), P2= 4% (v/v) (1 mL ekstrak + 24 mL akuades), P3= 8% (v/v) (2 mL ekstrak + 23 mL akuades), P4= 12% (v/v) (3 mL ekstrak + 22 mL akuades) dan P5= kontrol negatif (tanpa penyuntikan). Ekstrak ciplukan diinjeksikan sebanyak 0,1 mL pada setiap ekor ikan secara intra-muskular. Indikator imun yang diamati adalah jumlah total leukosit dan aktivitas fagositosis. Data dianalisis menggunakan analisis sidik ragam (ANOVA). Hasil yang menunjukkan pengaruh antara perlakuan, selanjutnya dianalis dengan uji wilayah berganda duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak ciplukan dapat meningkatkan jumlah leukosit dan aktivitas fagositosis. Dosis terbaik dalam meningkatkan respon imun adalah dosis ekstrak P4= 12% (v/v) ekstrak dengan jumlah total leukosit (12,43 x 108 sel/mL) dan aktivitas fagositosis (46,67%).The aim of this research was to determined the effectivity of the extract Physalis angulata as immunostimulant on the amount of total leucocyte count and phagocytosis activity of nile tilapia. The tested fishes were nile tilapia with size of, 10-12 cm in total length, and 70-90 g in weight. The fish were obtained from fish farmers in Riding Panjang village Merawang Sub District. The research was designed in single completely randomized design. There were five levels of treatment (P), with P= positive control (injected with physiological solution), P2= 4% (v/v) (1 mL extract + 24 mL aquadest), P3= 8% (v/v) (2 mL extract + 23 mL aquadest), P4= 12% (v/v) (3 mL extract + 22 mL aquadest) and P5= negative control (without injection). The extract Physalis angulata L. was injected intramuscularly at a dose of 0.1 mL per fish. The immune indicators observed were total leucocyte count and phagocytosis activity). Data analyzed by using analysis of variant (Anova). if there were any significant different between the treatment, analysis continued by duncan”s multiple range test. The results of the research showed that the extract could increase the amount of total leucocyte count and phagocytosis activity. The ciplukan leaves at a dose of 12% (v/v) were the most effective dose in enhancing total leucocyte (12.43 x 108 cell/mL) and phagocytosis activity (46.67%).
PEMIJAHAN INDUK, PROFIL KOLESTEROL, DAN ASAM LEMAK TELUR LOBSTER PASIR (Panulirus homarus) HASIL BUDIDAYA Adiputra, Yudha Trinoegraha; Zairin Jr., Muhammad; Suprayudi, Muhammad Agus; Manalu, Wasmen; Widanarni, Widanarni
Jurnal Riset Akuakultur Vol 13, No 3 (2018): (September 2018)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (999.095 KB) | DOI: 10.15578/jra.13.3.2018.219-227

Abstract

Pembenihan lobster pasir (Panulirus homarus) belum berkembang di Indonesia karena terbatasnya teknik pemijahan induk dan belum diketahuinya tingkat keberhasilan induk betina membawa telur dan profil telur hasil pemeliharaan. Penelitian bertujuan untuk mempelajari pengaruh ablasi satu tangkai mata, metode pemijahan massal dan individual pada bulan gelap dan terang pada induk berganti kulit dan membawa telur, serta konsentrasi kolesterol dan asam-asam lemak telur pada lama pengeraman berbeda. Induk betina dan jantan dipakai secara terus-menerus saat percobaan pemijahan. Pemijahan pertama menggunakan pemijahan dengan rasio 2:1 pada bulan gelap. Percobaan kedua dan ketiga menggunakan pemijahan massal selama bulan terang dan gelap. Profil telur dibandingkan konsentrasi kolesterol dan asam lemaknya pada 1, 2, dan 3-4 minggu pengeraman. Hasil penelitian menunjukkan ablasi tangkai mata dapat menstimulasi pemijahan individual dan massal yang didahului dengan ganti kulit pada induk betina sebagai indikator pemijahan. Pemijahan massal pada bulan gelap menghasilkan induk betina membawa telur terbanyak dibandingkan pemijahan individual pada bulan gelap dan pemijahan massal pada bulan terang. Konsentrasi kolesterol dan asam-asam lemak telur mengalami perubahan mengikuti lama pengeraman oleh induk yang menunjukkan terjadinya peningkatan kematangan telur (P<0,05).Spiny lobster (Panulirus homarus) hatchery has not been developed in Indonesia. Major constraints were limited broodstock spawning techniques, low incidence of eggs-berried broodstock, and unknown eggs profile. This study aimed to evaluate the effects of eyestalk ablation, spawning methods and moon circulation to molted, the number of eggs berried of females, and eggs-berried cholesterol and fatty acids profiles. Individual and mass spawning during full and new moon were used in this studies. Female and male broodstocks were used for consecutive spawning with ratio 2:1. The first study was used individual spawning during new moon. The second and third studies were used mass spawning during full moon and new moon, respectively. Eggs-berried profile compared concentration of cholesterol and fatty acids during 1, 2, and 3-4 weeks. Results showed eyestalk ablation stimulated individual or mass spawned and molted of female as early indicator of spawning. Full moon and mass spawning supported more eggs-berried female broodstock than that of other methods. Cholesterol and fatty acids showed different concentration within 1, 2, and 3-4 weeks of eggs-berried that supported eggs maturity (P<0.05).
DETEKSI DINI Enterocytozoon hepatopenaei (EHP) PADA UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei) MENGGUNAKAN METODE PCR (POLYMERASE CHAIN REACTION) Faisal, Annisa Fitriah; Pancoro, Adi
Jurnal Riset Akuakultur Vol 13, No 3 (2018): (September 2018)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (512.78 KB) | DOI: 10.15578/jra.13.3.2018.267-275

Abstract

Sejak akhir tahun 2014, wabah kotoran putih atau yang sering disebut juga WFD (White Feces Disease), merupakan salah satu masalah yang sering terjadi pada petambak udang di Indonesia. Wabah ini diketahui disebabkan oleh Enterocytozoon hepatopenaei (EHP) dan telah mengakibatkan retardasi pertumbuhan hingga kematian pada udang. Hingga saat ini, penyakit WFD dapat dideteksi dengan cara uji histologi, hibridisasi in situ, dan PCR. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan metode deteksi dini penyakit EHP pada udang vaname dengan metode PCR melalui perancangan primer yang spesifik dan sensitif. Pada penelitian ini dilakukan isolasi EHP pada udang vaname yang terinfeksi, kemudian dideteksi dengan metode PCR yang mentarget SWP (spore wall protein) dari EHP serta pengujian spesifitas dan sensitivitasnya. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa EHP dapat diisolasi dari udang yang terinfeksi dan dapat didesain dua pasang primer yaitu SWP-EHP1 dan SWP-EHP3 yang mentarget spore wall protein EHP. Kedua primer ini dapat digunakan untuk deteksi EHP menggunakan PCR, dengan produk PCR pada primer SWP-EHP1 yaitu 398 bp dan primer SWP-EHP3 sebesar 415 bp, serta nilai suhu annealing optimal pada 48oC.Hasil pengujian sensitivitas primer, diketahui bahwa primer SWP-EHP1 dapat mendeteksi EHP hingga jumlah DNA target sebanyak 7,74 x 102 kopi sedangkan primer SWP-EHP3 dapat mendeteksi hingga 16,2 x 102 kopi.Since 2014, white feces disease (WFD) is one of the emerging problems for whiteleg shrimp farming industries in Indonesia. This outbreak is known to be caused by Enterocytozoon hepatopenaei (EHP) infection to shrimp. EHP infection resulted in growth retardation to a mass mortality in shrimp. To date, WFD can be detected by histology, in situ hybridization and PCR. This study aimed to obtain an early detection method of EHP on whiteleg shrimp by PCR method through specific and sensitive primers design. In this study, we isolated the DNA of EHP from infected whiteleg shrimp, then detected by PCR method which targeted spore wall protein (SWP) from EHP as well as sensitivity and specificity testing. As a result, EHP can be isolated from infected shrimp and can be designed 2 pairs of primers (SWP-EHP1 and SWP-EHP3) targeting spore wall protein of EHP. These primers could be used for EHP detection using PCR, with PCR products from primers SWP-EHP1 was 398 bp and from SWP-EHP3 primers was 415 bp, with an optimum annealing temperature of 48oC. Primers sensitivity test results revealed that primers SWP-EHP1 could detect EHP to 7.74 x 102 copies while the primers SWP-EHP3 could detect up to 16.2 x 102 copies.
BUDIDAYA KARANG HIAS POLIP BESAR PADA KEDALAMAN YANG BERBEDA DI ALAM DAN SISTEM RESIRKULASI Johan, Ofri; Ginanjar, Rendy; Kadarini, Tutik
Jurnal Riset Akuakultur Vol 13, No 3 (2018): (September 2018)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.77 KB) | DOI: 10.15578/jra.13.3.2018.229-237

Abstract

Karang polip besar cukup tinggi permintaan sebagai karang hias dari Indonesia sehingga perlu dilakukan penelitian budidayanya. Penelitian ini telah dilakukan pada tahun 2016 untuk melihat tingkat keberhasilan budidayanya dengan adaptasi pada dua sistem yang berbeda yaitu di alam pada kedalaman yang berbeda 5 m, 10 m, dan 15 m dengan tiga jenis karang uji (Plerogyra sp. Physogyra sp., dan Nemenzophyllia sp.) dan sistem resirkulasi. Penelitian ini bertujuan untuk melihat tingkat keberhasilan hidup karang. Pengamatan meliputi tingkat kematian, perubahan warna karang sebagai indikasi stres karang dan kelimpahan zooxanthellae. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh karang Physogyra sp. mengalami fluktuasi perubahan warna meskipun kembali membaik, sementara dua jenis lain Plerogyra sp. dan Nemenzophyllia sp. mengalami perubahan warna ke arah kondisi baik pada farm dengan sistem resirkulasi. Pengamatan perubahan warna di alam mengalami stres ditandai dengan perubahan warna ke arah putih baik di kedalaman 5 m, 10 m, dan 15 m. Pengamatan tingkat kematian setelah 33 hari diperoleh tingkat kematian 100% pada kedalaman 5 m, 10 m untuk semua jenis, namun pada kedalaman 15 m karang Nemenzophyllia sp. mengalami kematian 100% dan karang yang dapat bertahan Physogyra sp. dan Plerogyra sp. dengan tingkat kematian berturut-turut adalah 71,4% dan 50,0%. Kematian dan pemutihan yang tinggi berhubungan erat dengan kondisi suhu dan intensitas cahaya pada bulan Juli-Agustus 2017 dan parameter lain TDS dan DO. Budidaya karang berhasil pada sistem resirkulasi dengan tingkat kematian 0%.Large polyp coral are quite high in demand as an ornamental coral from Indonesia so it needs to do research propagation. This research has been conducted in 2016 to see the success rate of propagation with adaptation on two different systems that is in nature at three different depths 5 m, 10 , and 15 m with three species of corals (Plerogyra sp., Physogyra sp., and Nemenzophyllia sp.) and recirculation system. This study aims to see the success rate of coral life. Observations included mortality rates, coral color changes as an indication of coral stress and zooxanthellae abundance. Based on the research results obtained Physogyra sp. coral experience fluctuation of color change although again improved, while two other species Plerogyra sp. and Nemenzophyllia sp. experience color change towards good condition at farm with recirculation system. Observations of color changes in nature experience stress characterized by changes in color towards the white well at depths of 5 m, 10 m, and 15 m. Observation of mortality rate after 33 days was obtained 100% mortality rate at depth 5 m, 10 m for all species, but at 15 m depth Nemenzophyllia sp. suffered 100% mortality and coral that survived Phygogyra sp. and Plerogyra sp. with successive mortality rate was 71.4% and 50.0%. High mortality and bleaching are closely related to conditions of temperature and light intensity in July-August 2017 and other parameters of TDS and DO. Coral propagation was successful in the recirculation system with 0% mortality rate until the research end.
EVALUASI KESESUAIAN PERAIRAN UNTUK BUDIDAYA IKAN DALAM KERAMBA JARING APUNG DI KABUPATEN MALUKU TENGGARA BARAT PROVINSI MALUKU Mustafa, Andi Akhmad; Tarunamulia, Tarunamulia; Hasnawi, Hasnawi; Radiarta, I Nyoman
Jurnal Riset Akuakultur Vol 13, No 3 (2018): (September 2018)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (466.285 KB) | DOI: 10.15578/jra.13.3.2018.277-287

Abstract

Kabupaten Maluku Tenggara Barat (MTB) memiliki potensi untuk pengembangan budidaya ikan dalam keramba jaring apung (KJA), tetapi belum tersedia data karakteristik perairannya. Penelitian bertujuan untuk mengkaji kesesuaian dan daya dukung perairan berdasarkan karakteristik perairannya untuk budidaya ikan dalam KJA di kawasan pesisir Kabupaten MTB Provinsi Maluku, Indonesia. Data karakteristik perairan yang dikumpulkan berupa pasang surut, kecepatan dan arah arus, kedalaman, kecerahan, suhu, salinitas, oksigen terlarut, pH, nitrat, nitrit, nitrogen amonia total, fosfat, padatan tersuspensi total, dan bahan organik total air, serta jenis substrat dasar. Kesesuaian perairan ditentukan melalui analisis dengan weighted linear combination dalam sistem informasi geografis (SIG) dan luasan daya dukung perairan untuk budidaya ikan dalam KJA didasarkan pada referensi yang telah ada. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum karakteristik perairan Kecamatan Tanimbar Utara, Wuarlabobar, dan Selaru, Kabupaten MTB dapat mendukung kegiatan budidaya ikan dalam KJA, namun kedalaman perairan yang relatif dangkal yang menjadi faktor pembatas dalam kesesuaian perairan untuk kegiatan budidaya ikan dalam KJA. Dari 67.287,84 ha kawasan pesisir yang diteliti di Kabupaten MTB dijumpai yang tergolong sangat sesuai seluas 1.564,43 ha; cukup sesuai seluas 10,687,78 ha; kurang sesuai sesuai 2.103,92 ha; dan tidak sesuai seluas 52.931,71 ha untuk budidaya ikan dalam KJA. Di kawasan pesisir Kecamatan Tanimbar Utara, Wuarlabobar, dan Selaru dapat dilakukan budidaya ikan dalam KJA dengan daya dukung perairan masing-masing seluas 363, 292, dan 570 ha yang dapat digunakan untuk masing-masing 5.445; 4.380; dan 8.550 unit KJA ukuran 8 m x 8 m.Maluku Tenggara Barat District has potential waters for the development of floating net cage mariculture. However, the characteristics and quality of the waters have not been well studied. This study was aimed to assess the suitability and carrying capacity of coastal waters of Maluku Tenggara Barat based on the requirements of net cage mariculture. The measured waters characteristics included tidal, current velocity (speed and direction), water depth, transparency, temperature, salinity, dissolved oxygen, pH, nitrate, nitrite, total ammonia nitrogen, phosphate, total suspended solids, and total organic matter as well as bottom substrate types. The weighted linear combination (WLC) method in geographic information system (GIS) was used to determine the level of waters suitability and carrying capacity to support floating net cage mariculture operation. The WLC criteria used were based on the existing standard environmental criteria. The results showed that the coastal waters of Tanimbar Utara, Wuarlabobar, and Selaru sub-districts were suitable for fish culture in floating net cage. Nevertheless, the relatively shallow water depth in the study area was identified as the primary limiting factor of suitability. Of the total of the coastal areas studied (67,287.84 ha), 1,564.43 ha; 10,687.78 ha; 2,103.92 ha; and 52,931.71 ha were respectively categorized as very suitable, moderately suitable, marginally suitable, and not suitable for fish culture in floating net cage. The carrying capacity of the coastal waters of Tanimbar Utara, Wuarlabobar and Selaru sub-districts were estimated able to support 5,445; 4,380; and 8,550 floating net cage units sized 8 m x 8 m distributed in total farm areas of 363, 292, and 570 ha, respectively.
KERAGAMAN GENETIK IKAN TIGER FISH (Datnioides sp.) ASAL KALIMANTAN DAN SUMATERA Fahmi, Melta Rini; Hayuningtyas, Erma Primanita; Zamroni, Mochammad; Nur, Bastiar; Sinansari, Shofihar
Jurnal Riset Akuakultur Vol 13, No 3 (2018): (September 2018)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (444.828 KB) | DOI: 10.15578/jra.13.3.2018.191-199

Abstract

Ikan tiger fish (Datnioides sp.) merupakan ikan hias air tawar yang memiliki nilai ekonomis penting. Distribusi populasi ikan ini meliputi Papua, Kalimantan, dan Sumatera, dengan tingkat eksploitasi yang cukup tinggi di dua lokasi terakhir. Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan informasi keragaman genetik ikan tiger fish yang mendiami perairan Kalimantan dan Sumatera. Sebanyak 24 sampel ikan uji dikoleksi dari Sungai Kapuas, Kalimantan Barat dan Sungai Musi, Sumatera Selatan. Penelitian dilakukan dalam dua tahap, tahap pertama yaitu identifikasi molekuler dengan menggunakan DNA barcoding gen cytochrome oxidase 1 (COI), tahap kedua adalah analisis keragaman genetik dengan menggunakan marka DNA mitokondria gen cytochrome b (Cyt b), dan DNA inti gen recombination activating gene (RAG2). Hasil identifikasi secara molekuler menunjukkan bahwa ikan hasil koleksi memiliki kesamaan genetik sebesar 100% dengan spesies D. undecimradiatus. Keragaman genetik ikan tiger fish antar populasi berkisar pada nilai 0,023 (standar deviasi 0,001) sedangkan keragaman intra populasi adalah sebesar 0,002 dan 0,003 masing-masing untuk populasi Kalimantan dan Sumatera. Jarak genetik sampel baik yang berasal dari Sumatera maupun Kalimantan dengan spesies D. undeciumradiatus masing-masing 0,003 dan 0,006; sedangkan dengan spesies D. microlepis yaitu 0,142. Analisis menggunakan gen RAG2 menunjukkan sampel yang diuji memiliki struktur populasi yang terpisah ditandai dengan terjadinya mutasi pada enam nukleotida dan tiga asam amino.The Tiger fish (Datnioides sp.) is a freshwater ornamental fish that has important economic value. The distribution of this fish included Papua, Kalimantan, and Sumatra, but intensive exploitation occurs in the last two population. This research was conducted to obtain the genetic diversity of tiger fish that inhabited in Kalimantan and Sumatra. A total of 24 fish were collected from Kapuas River, West Kalimantan and Musi River, at Sumatra. The study was conducted in two stages, the first stage is molecular identification of sample by using DNA barcoding cytochrome oxidase 1 (COI) gene, the second stage is analyses of genetic diversity of tiger fish within and between population by using the mitochondrial DNA cytochrome b (Cyt b) gene, and nucleus DNA recombination (RAG2) gene. The molecular identification has shown that the collected fish has a genetic similarity of 100% with D. undecimradiatus. The genetic diversity of tiger fish between populations is 0.023 (standard deviation of 0.001) whereas intra-population is 0.002 and 0.003 for Kalimantan and Sumatra, respectively. The genetic distance of samples with species D. undeciumradiatus were 0.003 and 0.006 for Kalimantan and Sumatera, respectively, whereas the genetic distance with D. microlepis was 0.142. The analysis of mutation on RAG2 gene shows there are six nucleotides and three amino acids have mutation.
PENGARUH FREKUENSI PEMBERIAN Moina sp. SEBAGAI PAKAN AWAL PADA PEMELIHARAAN LARVA IKAN GABUS Channa striata DENGAN SISTEM AIR HIJAU Saputra, Adang; Jusadi, Dedi; Suprayudi, Muhammad Agus; Supriyono, Eddy; Sunarno, Mas Tri Djoko
Jurnal Riset Akuakultur Vol 13, No 3 (2018): (September 2018)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (464.119 KB) | DOI: 10.15578/jra.13.3.2018.239-249

Abstract

Ikan gabus Channa striata merupakan salah satu komoditas ikan air tawar yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Kendala dalam pengembangan budidaya ikan gabus adalah tingginya tingkat kematian pada stadia pemeliharaan larva. Tingginya kematian pada stadia larva karena kecukupan jumlah pakan dan nutrisi pakan awal yang tidak optimum. Tujuan percobaan adalah menentukan frekuensi pemberian Moina sp. yang tepat sebagai pakan awal pada pemeliharaan larva ikan gabus pada sistem air hijau (dengan menambahkan Chlorella sp.). Penelitian dirancang dengan rancangan acak lengkap. Perlakuan yang diberikan adalah frekuensi pemberian Moina sp. per hari sebagai pakan awal: A. enam kali tanpa pemberian Chlorella sp. (kontrol), B. enam kali + Chlorella sp., C. empat kali + Chlorella sp., dan D. dua kali + Chlorella sp. Hasil penelitian menunjukkan pemberian pakan awal dari jenis Moina sp. pada pemeliharan larva ikan gabus pada sistem air hijau dengan frekuensi pemberian dua, empat, dan enam kali dalam sehari memberikan performa sintasan (93,42%-94,29%) dan pertumbuhan tidak berbeda secara nyata (P>0,05). Frekuensi pemberian Moina sp. sebanyak dua kali sehari merupakan perlakuan yang efektif untuk sintasan dan pertumbuhan larva ikan gabus pada pemeliharaan dengan sistem air hijau.Snakehead fish Channa striata is one of the highly-valued freshwater fish commodity. However, its aquaculture development is hampered by a high mortality during larval stage rearing. This high mortality is suspected to be caused by insufficient quantity and quality of food. The purpose of this study was to determine the appropriate feeding frequency using Moina sp. as an initial food for snakehead fish larvae reared in a green water system (Chlorella sp.). A completely randomized design was arranged for this experiment where the treatments consisted of different feeding frequencies of Moina sp. given to the larvae as follows: A) six times a day without the addition of Chlorella sp. (control); B) six times a day with the addition of Chlorella sp.; C) four times a day with the addition of Chlorella sp.; and D) two times a day with the addition of Chlorella sp. The results of the experiment showed that the survival rate (93.42%- 94.29%) and growth of the larvae reared in the green water system with were not significantly different (P>0.05). However, this study suggested that feeding frequency of two times per day was sufficient to support an optimum growth and survival of snakehead larvae reared in a green water system.

Page 1 of 1 | Total Record : 10


Filter by Year

2018 2018


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 4 (2018): (Desember 2018) Vol 13, No 3 (2018): (September 2018) Vol 13, No 2 (2018): (Juni, 2018) Vol 13, No 1 (2018): (Maret 2018) Vol 12, No 4 (2017): (Desember 2017) Vol 12, No 3 (2017): (September 2017) Vol 12, No 2 (2017): (Juni 2017) Vol 12, No 1 (2017): (Maret 2017) Vol 11, No 4 (2016): (Desember 2016) Vol 11, No 3 (2016): (September 2016) Vol 11, No 2 (2016): (Juni 2016) Vol 11, No 1 (2016): (Maret 2016) Vol 10, No 4 (2015): (Desember 2015) Vol 10, No 3 (2015): (September 2015) Vol 10, No 2 (2015): (Juni 2015) Vol 10, No 1 (2015): (Maret 2015) Vol 9, No 3 (2014): (Desember 2014) Vol 9, No 2 (2014): (Agustus 2014) Vol 9, No 1 (2014): (April 2014) Vol 8, No 3 (2013): (Desember 2013) Vol 8, No 2 (2013): (Agustus 2013) Vol 8, No 1 (2013): (April 2013) Vol 7, No 3 (2012): (Desember 2012) Vol 7, No 2 (2012): (Agustus 2012) Vol 7, No 1 (2012): (April 2012) Vol 6, No 3 (2011): (Desember 2011) Vol 6, No 2 (2011): (Agustus 2011) Vol 6, No 1 (2011): (April 2011) Vol 5, No 3 (2010): (Desember 2010) Vol 5, No 2 (2010): (Agustus 2010) Vol 5, No 1 (2010): (April 2010) Vol 4, No 3 (2009): (Desember 2009) Vol 4, No 2 (2009): (Agustus 2009) Vol 4, No 1 (2009): (April 2009) Vol 3, No 3 (2008): (Desember 2008) Vol 3, No 2 (2008): (Agustus 2008) Vol 3, No 1 (2008): (April 2008) Vol 2, No 3 (2007): (Desember 2007) Vol 2, No 2 (2007): (Agustus 2007) Vol 2, No 1 (2007): (April 2007) Vol 1, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006) Vol 1, No 1 (2006): (April 2006) More Issue