cover
Contact Name
Suprapti
Contact Email
Suprapti
Phone
-
Journal Mail Official
jra.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Riset Akuakultur
ISSN : 19076754     EISSN : 25026534     DOI : -
Jurnal Riset Akuakultur as source of information in the form of the results of research and scientific review (review) in the field of various aquaculture disciplines include genetics and reproduction, biotechnology, nutrition and feed, fish health and the environment, and land resources in aquaculture.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue " Vol 12, No 1 (2017): (Maret 2017)" : 8 Documents clear
INDUKSI PEMATANGAN GONAD IKAN GURAMI COKELAT (Sphaerichthys osphromenoides Canestrini, 1860) MENGGUNAKAN PREGNANT MARE SERUM GONADOTROPIN DAN ANTIDOPAMIN Nur, Bastiar; Cindelaras, Sawung; Meilisza, Nina
Jurnal Riset Akuakultur Vol 12, No 1 (2017): (Maret 2017)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1292.715 KB) | DOI: 10.15578/jra.12.1.2017.69-76

Abstract

Ikan gurami cokelat (Sphaerichthys osphromenoides Canestrini, 1860) merupakan salah satu spesies ikan hias endemik perairan gambut dan memiliki potensi untuk dibudidayakan. Pada kondisi budidaya, berbagai faktor lingkungan yang berperan penting dalam menstimulasi perkembangan dan pematangan gonad hingga ovulasi dan pemijahan tidak mendukung aktivitas reproduksi beberapa spesies ikan. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan dosis hormon yang efektif dapat merangsang pematangan gonad ikan gurami cokelat. Hormon yang digunakan adalah “Oodev®” (tersusun atas Pregnant Mare Serum Gonadotropin/PMSG) dan antidopamin) yang diberikan menggunakan metode “topical gill”. Ada tiga dosis Oodev® yang digunakan, yaitu: 0,02 mL; 0,04 mL; dan 0,06 mL; serta kontrol menggunakan NaCl 0,9% sebanyak 0,05 mL/g bobot badan ikan uji. Setiap perlakuan menggunakan 30 ekor induk betina ikan gurami cokelat (panjang total: 4,1 ± 0,3 cm; bobot: 1,41 ± 0,17 g). Pemberian hormon dilakukan setiap minggu hingga minggu ke-7. Pada minggu ke-8 dilakukan pembedahan untuk pengambilan gonad. Parameter yang diamati adalah: jumlah induk matang gonad, indeks gonadosomatik (IGS), fekunditas, diameter oosit, kadar estradiol-17â dalam darah, dan tingkat kematangan gonad (TKG) ikan uji pada masing-masing perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan hormon dengan dosis 0,04 mL/g bobot badan menghasilkan perkembangan gonad ikan uji yang lebih baik dengan jumlah induk matang gonad mencapai 23 ekor (76,67%), nilai IGS sebesar 2,33 ± 1,24%; fekunditas sebesar 73,5 ± 26,2 butir; diameter oosit berkisar antara 1,0-1,8 mm; kadar estradiol-17b dalam darah sebesar 15,9 ± 4,5 rg/mL dengan tingkat kematangan gonad mencapai tahap IV.Chocolate gourami (Sphaerichthys osphromenoides Canestrini, 1860) is an endemic ornamental fish species in peatland waters and potentially to be cultivated. In captive condition, some environmental factors that play important role for gonadal development, maturation, ovulation, and spawning are not suitable for supporting reproductive activity in some fish species. This study was conducted to determine the optimum dosages of hormone which is able to stimulate gonadal maturation of chocolate gourami. Oodev® (consisted of Pregnant Mare Serum Gonadotropin (PMSG) and antidopamin) was given using “topical gill” method. There were three Oodev® dosages used in this research: 0.02 mL; 0.04 mL; and 0.06 mL respectively; and control using 0.05 mL of 0.9% NaCl per gram of body weight. Each treatment was tested on 30 females (the averages of total length and body weight of 4.1 ± 0.3 cm and 1.41 ± 0.17 g, respectively). Hormone was given every week until the seventh week. At the eight weeks, surgery was performed for gonadal measurement. Parameters measured were: number of gonadal mature broodstocks, gonadosomatic index, fecundity, oocyte diameters, plasma estradiol-17â levels, and gonadal mature levels. The results showed that 0.04 mL Oodev® per g body weight of fish was superior in reproductive performance. In that treatment, there were 76.67% (23/30) fish being matured, gonad somatic index 2.33 ± 1.24%, egg fecundity 73.5 ± 26.2 eggs, oocyte diameters ranged 1.0-1.8 mm, blood level of estradiol-17b 15.9 ± 4.5 rg.mL-1, and the level of gonad development reached to stage IV.
DNA BARCODING IKAN HIAS INTRODUKSI Fahmi, Melta Rini; Kusumah, Ruby Vidia; Ardi, Idil; Sinansari, Shofihar; Kusrini, Eni
Jurnal Riset Akuakultur Vol 12, No 1 (2017): (Maret 2017)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (144.638 KB) | DOI: 10.15578/jra.12.1.2017.29-40

Abstract

Identifikasi spesies menjadi tantangan dalam pengelolaan ikan hias introduksi baik untuk tujuan budidaya maupun konservasi. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan identifikasi molekuler ikan hias introduksi yang beredar di pembudidaya dan pasar ikan hias Indonesia dengan menggunakan barcode DNA gen COI. Sampel ikan diperoleh dari pembudidaya dan importir ikan hias di kawasan Bandung dan Jakarta. Total DNA diekstraksi dari jaringan sirip ekor dengan menggunakan metode kolom. Amplifikasi gen target dilakukan dengan menggunakan primer FishF1, FishF2, FishR1, dan FishR2. Hasil pembacaan untai DNA disejajarkan dengan sekuen yang terdapat pada genbank melalui program BLAST. Identifikasi dilakukan melalui kekerabatan pohon filogenetik dan presentasi indeks kesamaan dengan sekuen genbank. Hasil identifikasi menunjukkan sampel yang diuji terbagi menjadi lima grup, yaitu: Synodontis terdiri atas lima spesies, Corydoras: empat spesies, Phseudoplatystoma: tiga spesies, Botia: tiga spesies, dan Leporinus: tiga spesies dengan nilai boostrap 99-100. Indeks kesamaan sekuen menunjukkan sebanyak 11 spesies memiliki indeks kesamaan 99%-100% dengan data genbank yaitu Synodontis decorus, Synodontis eupterus, Synodontis greshoffi, Botia kubotai, Botia lohachata, Rasbora erythromicron, Corydoras aeneus, Gyrinocheilus aymonieri, Eigenmannia virescens, Leporinus affinis, Phractocephalus hemioliopterus. Dua spesies teridentifikasi sebagai hasil hibridisasi (kawin silang) yaitu Leopard catfish (100% identik dengan Pseudoplatystoma faciatum) dan Synodontis leopard (100% identik dengan Synodontis notatus). Hasil analisis nukleotida penciri diperoleh tujuh nukleotida untuk Synodontis decora, 10 nukleotida untuk Synodontis tanganyicae, 13 nukleotida untuk Synodontis euterus, empat nukleotida untuk Synodontis notatus, dan 14 untuk Synodontis grashoffi. Kejelasan identifikasi spesies ikan menjadi kunci utama dalam budidaya, perdagangan, manajemen, konservasi, dan pengembangan ilmu pengetahuan.Species identification becomes a new challenge in the management of ornamental fish either for cultivation, or for conservation proposes. The objective of this study was to identify currently existing introduced ornamental fish in Indonesian farmers and markets using DNA barcodes COI gene. Fish samples were collected from farmers and importers of ornamental fish in Bandung and Jakarta. Total genome was extracted from caudal fin tissue using the column method. Amplification of the target gene was done by using FishF1, FishF2, FishR1, and FishR2 primers. DNA sequence was aligned with the sequences from genbank by BLAST program. Species identification was decided through the phylogenetic tree and similarity index with genbank sequences. The results showed that all of tested samples fall into five groups; Synodontis consisted of five species, Corydoras four species, Phseudoplatystoma four species, Botia three species, and Leporinus three species with 99-100 boostrap value. Sequence similarity index showed around 11 species have 99%-100% similarity index with sequence data on genbank which are Synodontis decorus, Synodontis eupterus, Synodontis greshoffi, Botia kubotai, Botia lohachata, Rasbora erythromicron, Corydoras aeneus, Gyrinocheilus aymonieri, Eigenmannia virescens, Leporinus affinis, Phractocephalus hemioliopterus. Two species were identified as hybridization product (interbreeding) including leopard catfish (100% identical with Pseudoplatystoma faciatum) and the leopard Synodontis (100% identical with Synodontis notatus). Analysis of nucleotide diagnostic showed Synodontis decora has seven nucleotides diagnostic, Synodontis tanganyicae 10 nucleotides, Synodontis euterus 13 nucleotides,  Synodontis notatus four nucleotides, and Synodontis grashoffi 14 nucleotides. The correct identification of fish species is a useful tool for aquaculture, global marketing, management or conservation, and academic/scientific purpose.
INDUKSI HORMONAL MATURASI GONAD IKAN GABUS (Channa striata) Ath-thar, Muhammad Hunaina Fariduddin; Gustiano, Rudhy; Kusmini, Irin Iriana; Prakoso, Vitas Atmadi; Putri, Fera Permata
Jurnal Riset Akuakultur Vol 12, No 1 (2017): (Maret 2017)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (321.911 KB) | DOI: 10.15578/jra.12.1.2017.9-20

Abstract

Ikan gabus (Channa striata) merupakan ikan lokal air tawar potensial untuk pengembangan budidaya di Indonesia. Sebagian besar produksi ikan gabus berasal dari tangkapan di alam yang menyebabkan menurunnya populasi ikan gabus. Domestikasi merupakan salah satu solusi dari masalah ini. Dewasa ini, ikan gabus telah dapat dipijahkan baik secara alami maupun buatan. Namun demikian produksi benih yang dihasilkan masih bergantung pada kondisi lingkungan. Tujuan penelitian adalah mendapatkan dosis oodev yang optimal untuk pematangan gonad ikan gabus, pemijahan alami, dan analisis performa pertumbuhan keturunan pertama. Jumlah larva yang dihasilkan dari pemijahan alami ikan gabus pada lingkungan ex situ adalah 1.250-5.000 ekor per induk. Berdasarkan pertambahan diameter dan fase kematangan telur, induksi hormon dengan dosis 1,5 mL/kg menunjukkan hasil terbaik dibandingkan perlakuan lain (perlakuan dosis 0,5 dan 1 mL/kg). Benih ikan gabus hasil pemijahan alami di luar habitat menunjukkan populasi Bogor memberikan performa pertumbuhan mutlak bobot (1,7 ± 0,06 g); laju pertumbuhan spesifik (2,6% ± 0,10%); dan sintasan (86,43% ± 1,32%) lebih baik dibandingkan benih ikan gabus populasi Palembang.Striped snakehead (Channa striata) is a market potential of local fish in Indonesia. Up to now (to date), the majority of production comes from natural catches. This condition, if continues, can lead to the decline in natural stock. Domestication offers a promising solution to help solve this problem. So far, natural spawning for seed production has been done succcesfully. However, continuity of fish supply is still very much dependent on environmental factors. The present study aimed to investigate the optimal hormone dosage for inducing gonad maturation, natural spawning and to analyze growth performance of fry resulted from natural spawning. Striped snakehead broodstock from Palembang and Bogor were induced with three dosages of oodev (consisted of Pregnant Mare’s Serum Gonadotropin and Aromatase Inhibitor) treatment for gonad maturation (0.5 mL/kg; 1 mL/kg and 1.5 mL/kg) with three replications. The reproductive parameters as oocyte diameter and development were measured. Striped snakehead were spawned naturally with male and female ratio of 1:1. Growth performance of seed were analyzed for 40 days of rearing. The result showed that oodev enabled to speed up gonad maturation process. Broodstock induced with 1.5 mL/kg oodev showed the biggest egg diameter and was significantly different from other treatments (P<0.05). Fry count resulted from natural spawning ranged from 1,250 to 5,000/broodstock. The broodstock from Bogor produced higher total weight gain (1.7±0.06 g) and better specific growth rate (2.6%±0.10%) than that of Palembang as well as survival rate (86.43%±1.32%).
BUDIDAYA KERANG HIJAU (Perna viridis L.) DENGAN METODE DAN KEPADATAN BERBEDA DI PERAIRAN PESISIR KUALA LANGSA, ACEH Sagita, Andi; Kurnia, Rahmat; Sulistiono, Sulistiono
Jurnal Riset Akuakultur Vol 12, No 1 (2017): (Maret 2017)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (485.718 KB) | DOI: 10.15578/jra.12.1.2017.57-68

Abstract

Kerang hijau merupakan komoditas budidaya laut yang sangat prospektif untuk dikembangkan pada suatu sistem budidaya, karena dapat dilakukan dengan biaya produksi yang rendah namun menghasilkan profitabilitas yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui metode dan kepadatan yang paling optimal untuk budidaya kerang hijau di perairan pesisir Kuala Langsa, Aceh. Metode penelitian menggunakan rancangan acak lengkap faktorial yang terdiri atas faktor metode (long line dan stick) dan faktor kepadatan (20, 30, dan 40 individu/kantong 5,30 L), masing-masing diulang sebanyak empat kali. Berdasarkan sidik ragam data Specific Growth Rate (SGR) dari panjang (SGL L) dan bobot (SGR W) menunjukkan semua perlakuan metode, kepadatan dan interaksi berbeda signifikan pada taraf uji 5% (P<0,05), di mana perlakuan yang paling optimal yaitu perlakuan metode long line dengan kepadatan 20 individu/kantong 5,30 L diperoleh rata-rata nilai SGR (L) sebesar 0,86 ± 0,01%/hari dan SGR (W) sebesar 1,18 ± 0,04%/hari dengan sintasan mencapai 92,50 ± 2,89%. Parameter kualitas perairan selama periode budidaya masih sesuai untuk mendukung kehidupan kerang hijau di mana suhu berkisar 27,5-34,0°C; salinitas 28,5-33,0 ppt; pH 7,8-8,6; dan oksigen terlarut 4,5-6,5 mg/L; serta kecepatan arus 0,1-0,3 m/s. Budidaya kerang hijau dengan metode long line pada kepadatan 20 individu/kantong 5,30 L merupakan pola budidaya yang paling optimal untuk diterapkan di perairan pesisir Kuala Langsa, Aceh.Green mussel is a very prospective marine aquaculture commodity due to its low cost production but with high profitability. This research aimed to determine the most optimal method and densities for green mussel culture in coastal waters of Kuala Langsa, Aceh. The research used a completely randomized factorial design consisting of methods factor (long line and stick) and densities factor (20, 30, and 40 individuals/basket 5.30 L), each repeated four times. Based on the variance analysis of specific growth rate (SGR) data of the length (SGR L) and weight (SGR W), all treatments of different methods and densities as well as their interactions were significant different (P<0.05). This study suggested that long line method with a densities of 20 individuals/basket 5.30 L was found to be the most optimal treatment for green mussel culture in coastal waters of Kuala Langsa. With this long line method an average SGR (L) value of 0.86 ± 0.01%/day, SGR (W) value of 1.18 ± 0.04%/day, and survival rate of 92.50 ± 2.89% were obtained. Water quality parameters during the culture period are still within the suitable range for green mussel culture, with the range of temperature 27.5-34.0°C, salinity 28.5-33.0 ppt, pH 7.8-8.6, dissolved oxygen 4.5-6.5 mg/L, and current velocity 0.1-0.3 m/s.
PERFORMA PERTUMBUHAN, KOEFISIEN VARIASI, DAN HETEROSIS HASIL PERSILANGAN IKAN PATIN (Pangasius sp.) PADA TAHAP PENDEDERAN II Darmawan, Jadmiko; Tahapari, Evi
Jurnal Riset Akuakultur Vol 12, No 1 (2017): (Maret 2017)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (681.836 KB) | DOI: 10.15578/jra.12.1.2017.21-28

Abstract

Hibridisasi merupakan salah satu teknik pemuliaan ikan dalam rangka mendapatkan varietas unggul sehingga mampu meningkatkan nilai produksi suatu komoditas ikan yang dibudidayakan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi performa pertumbuhan, koefisien variasi, dan nilai heterosis dari hasil persilangan tiga spesies ikan patin sebagai tetua, yaitu patin siam (Pangasianodon hypophthalmus), patin jambal (Pangasius djambal), dan patin nasutus (Pangasius nasutus) pada tahap pendederan II. Induk ikan patin siam dan patin jambal yang digunakan merupakan ikan yang sudah dirilis sebagai ikan budidaya, sedangkan induk ikan patin nasutus berasal dari perairan umum dan sedang dalam proses domestikasi sebagai ikan budidaya. Persilangan yang dibuat adalah: A) f  patin jambal >< m  patin jambal (JJ); B) f  patin siam >< m  patin jambal (SJ); C) f  patin siam >< m   patin siam (SS); D) f  patin siam >< m  patin nasutus (SN); dan E) f   patin nasutus >< m  patin nasutus (NN). Penelitian dilakukan secara indoor hatchery selama 30 hari pemeliharaan. Nilai heterosis dihitung berdasarkan laju pertumbuhan spesifik (LPS) bobot, LPS panjang total, dan sintasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa performa pertumbuhan, sintasan, dan konversi pakan ikan hasil persilangan tidak berbeda nyata (P>0,05). Ikan patin SN memiliki performa yang lebih baik dari tetuanya dengan nilai heterosis bobot akhir, LPS bobot, panjang total, LPS panjang total, dan sintasan berturut-turut sebesar 110,87%; 19,78%; 36,14%, 36,09%; dan 15,04%; serta nilai koefisien variasi berkisar antara 0,00-11,08. Bobot akhir, panjang total dan sintasan ikan patin SJ juga lebih baik dari tetuanya dengan nilai heterosis berturut-turut sebesar 46,00%; 11,27%; dan 2,27%; namun untuk heterosis LPS bobot dan LPS panjang total bernilai negatif (-6,65% dan -1,01%), serta nilai koefisien variasi berkisar antara 0,00-12,75. Berdasarkan hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa ikan patin hibrida SN berpotensi sebagai ikan budidaya dalam rangka peningkatan produksi ikan patin daging putih selain dari ikan patin hibrida  SJ (pasupati) yang telah dirilis ke masyarakat.Hybridization is a fish breeding technique in order to obtain high yielding varieties as to increase the production value of a farmed fish. The purpose of this study was to evaluate the growth performance, the coefficient of variation and heterosis value of the result of crossing three species of catfish as a parent, which was striped catfish (Pangasianodon hypophthalmus), jambal catfish (Pangasius djambal) and nasutus catfish (Pangasius nasutus). Crosses made were A) f jambal catfish >< m  jambal catfish (JJ); B) f striped catfish >< m  jambal catfish (SJ); C) f striped catfish >< m  striped catfish (SS); D) f striped catfish >< m  nasutus catfish (SN); and E) f nasutus catfish >< m   nasutus catfish (NN). The study was performed at the indoor hatchery for 30 days. Heterosis values were calculated based on the specific growth rate (SGR) final weight, SGR total length, and survival rate. The results showed that growth performance, survival rate, and feed conversion were not significantly different (P>0.05). Catfish SN has a better performance than the parent with the value of heterosis at final weight, SGR weight, total length, SGR total length, and survival rate of 110.87%, 19.78%, 36.14%, 36.09%, and 15.04%, respectively. The coefficient of variation ranged from 0.00 to 11.08. Final weight, total length, and survival of catfish SJ were also better than the parent with the heterosis value of 46.00%, 11.27%, and 2.27% respectively, but for heterosis SGR of the weight and the total length were negative (-6.65% and -1.01%) and the coefficient of variation ranged from 0.00 to 12.75. These results indicated that the hybrid catfish SN has a great potential as fish farming in the hope of increasing the production of white meat catfish hybrid apart from SJ (Pasupati) that have been released to the public.
KARAKTERISASI MERISTIK DAN MORFOMETRIK TIGA GENERASI IKAN TENGADAK Barbonymus schwanenfeldii ASAL KALIMANTAN BARAT, INDONESIA Radona, Deni; Kusmini, Irin Iriana; Fariduddin, Muhammad Hunaina
Jurnal Riset Akuakultur Vol 12, No 1 (2017): (Maret 2017)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (75.634 KB) | DOI: 10.15578/jra.12.1.2017.1-8

Abstract

Dalam mendukung program domestikasi ikan tengadak asal Kalimantan Barat perlu dilakukan karakterisasi fenotipe untuk mengevaluasi perubahan tingkat keragaman dari tiga generasi ikan tengadak dan antisipasi keberhasilan domestikasi yang dilakukan. Analisis keragaman fenotipe dilakukan secara biometri berdasarkan meristik dan morfometrik terhadap 30 ekor sampel dari masing-masing generasi. Hasil karakterisasi menunjukkan pada tiga generasi ikan tengadak terdapat kesamaan ciri-ciri meristik. Hasil truss morfometrik berdasarkan analisis fungsi kanonikal terhadap 21 karakter, generasi yang berbeda tersebar pada kuadran yang berbeda, G-0 berada di bagian bawah diagram kanonikal (kuadran 3 dan 4), G-1 berada di bagian kiri diagram (kuadran 1 dan 4), sedangkan G-2 sebagian besar di bagian atas diagram (kuadran 1, 2, dan 3). Berdasarkan truss morfometrik, kesamaan karakter terdapat pada garis yang menghubungkan ujung mulut dan ujung operculum bawah (A-1), garis yang menghubungkan awal sirip dorsal dan awal sirip anal (B6), garis yang menghubungkan awal sirip dorsal dan akhir sirip anal (C3), garis yang menghubungkan awal sirip anal dan akhir sirip anal (C5), garis yang menghubungkan akhir sirip dorsal dan akhir sirip anal (C6), garis yang menghubungkan akhir sirip dorsal dan awal sirip ekor atas (D1), garis yang menghubungkan akhir sirip dorsal dan akhir sirip ekor bawah (D3), dan garis yang menghubungkan akhir sirip anal dan awal sirip ekor bawah (D5). Analisis indeks keseragaman intrapopulasi (sharing component) menunjukkan keseragaman genetik tertinggi terdapat pada ikan tengadak generasi pertama (G-1) dan kedua (G-2) sebesar 76,7%; dan indeks keseragaman interpopulasi sebesar 3,3%-30% antara populasi ikan tengadak G-0 dan G-2. Ketersediaan jumlah induk yang dipijahkan dapat memengaruhi indeks keseragaman populasi.To support the domestication programs of tinfoil barb from West Kalimantan, it is important to undertake phenotypic charaterization in order to evaluate the changes in diversity of three generations of tinfoil barb and to anticipate the successfull domestication programs performed. Phenotype diversity was analyzed biometrically based on meristic and morphometric on 30 samples from each generation. The results showed that the three generations of tinfoil barbs have similar characteristic of meristic. The results of the canonical function of truss morphometric analysis on 21 characteristics showed the measurement distribution of three generation are in different quadrants. G-0 were located at the bottom of the diagram canonical (quadrant 3 and 4), G-1 was in the left side of the diagram (quadran 1 and 4), while G-2 mostly at the top of the diagram (quadran 1, 2, and 3). Based on truss morphometric, the similarity characters were in the line connecting the end of mouth and the lower end of operculum (A1), the line connecting the beginning of dorsal fin and beginning of anal fin (B6), the line connecting the beginning of dorsal fin and end of anal fin (C3), the line connecting the beginning of anal fin and end of anal fin (C5), the line connecting the end of dorsal fin and end of anal fin (C6), the line connecting the end of dorsal fin and beginning of upper part of caudal fin (D1), the line connecting the end of dorsal fin and beginning of lower part of caudal fin (D3), and the line connecting the end of anal fin and beginning of lower part of caudal fin (D5). The analysis of intrapopulation similarity index showed the highest index of genetic similarity was in G-1 and G-2 (76.7%) while, interpopulation similarity index of 3.3%-30.0%, was found G-0 and G-2 of tinfoil barb. The availability of broodstock can influence population similarity index.
RESPON IMUNITAS BENIH LOBSTER, Panulirus homarus DENGAN PENGGUNAAN PROBIOTIK PADA PAKAN MOIST Haryanti, Haryanti; Sembiring, Sari Budi Moria; Sudewi, Sudewi; Widiastuti, Zeny; Giri, I Nyoman Adiasmara; Sugama, Ketut
Jurnal Riset Akuakultur Vol 12, No 1 (2017): (Maret 2017)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (599.419 KB) | DOI: 10.15578/jra.12.1.2017.85-97

Abstract

Pemeliharaan benih lobster P. homarus masih menghadapi beberapa permasalahan, di antaranya infeksi penyakit bakteri (red body disease) dan mortalitas yang tinggi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji respons imunitas benih lobster P. homarus yang diberi pakan pelet basah (moist diets) dengan penambahan probiotik. Pemeliharaan benih lobster dilakukan secara individu (1 ekor/keranjang). Lama pemeliharaan selama tiga bulan. Bobot awal puerulus P. homarus adalah 0,37 ± 0,05 g. Perlakuan meliputi pemberian pakan moist yang ditambahkan (A) ragi Saccharomyces cerevisiae, (B) kombinasi probiotik, Alteromonas sp. BY-9 dan Bacillus cereus BC, dan (C) tanpa probiotik. Respons imunitas dianalisis dengan RT-qPCR melalui tujuh gen target terkait ekspresi imunitas, setelah diuji tantang dengan Vibrio harveyi (penyebab red body disease). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sintasan benih lobster sebesar (A) 32,22%; (B) 29,63%; dan (C) 33,33%. Pertumbuhan panjang dan bobot benih lobster tidak berbeda nyata (P>0,05). Respons imunitas benih lobster P. homarus pada perlakuan A dan B menunjukkan nilai ekspresi imun yang lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan C (tanpa probiotik). Ekspresi gen penyandi anti lipopolisakarida (ALFHa-1) meningkat pada (A) rata-rata sebesar 3,44 kali dan (B) 3,25 kali dibandingkan dengan perlakuan C (2,43 kali). Kelipatan ekspresi profenoloksidase (proPO) benih lobster meningkat pada perlakuan A (penambahan ragi) rata-rata sebesar 5,27 kali, sedangkan pada perlakuan B (kombinasi probiotik) sebesar 12,92 kali. Ekspresi Clotting sistem (transglutaminase, clotting protein) dan antioxidant defense mechanism (glutathione peroxidase/GPO) dan SAA juga mengalami peningkatan pada perlakuan A dan B.A number of contrains including disease infections and significant mortality have been occurring in lobster aquaculture. The aim of this research was to observe the immune response of juvenile lobster P. homarus culture fed by moist pellet supplemented with probiotic. Experimental juveniles were reared in individual system (one juvenile/basket). The experiment was conducted for three months. The treatments comprised (A) whole cell of yeast Saccharomyces cerevisiae, (B) combination of probiotics Alteromonas sp. BY-9 and Bacillus sp. BC, and (C) without probiotic as control. Initial weight of juveniles were 0.37 ± 0.05 g. Immunity responses were analyzed using seven immunity related genes expression by RT-qPCR. The results showed that the survival rate of juvenile for treatments A, B, and C were 32.22%, 29.63%, and 33.33% respectively. The weight and length gain of the juvenile were not significantly different (P>0.05) among treatments. Based on immunity related gene expression analysis, it revealed that A and B treatments have shown differences in the increament of immunity responses. Expressions of ALFHa-1 genes were increased on (A) treatment with average of 3.44 fold and (B) treatment (3.25 fold) and higher than C treatment (2.03 fold). Prophenoloxidase (ProPO) expression was increase average up to 5.27 fold on A (yeast supplementated) treatment and B (combination of probiotic) were 12.92 fold. Gene expression on Clotting system (transglutaminase, clotting protein) and antioxidant defense mechanism (glutathione peroxidase/GPO) was increased on A and B treatments.
TOKSISITAS AKUT NONILPHENOL PADA STADIA AWAL IKAN NILA, Oreochromis niloticus (Linnaeus, 1758) DAN IKAN KOMET, Carassius auratus (Linnaeus, 1758) Yamin, Muhamad; Supriyono, Eddy; Nirmala, Kukuh; Jr., Muhammad Zairin; Haris, Enang; Rahmawati, Riani
Jurnal Riset Akuakultur Vol 12, No 1 (2017): (Maret 2017)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (496.95 KB) | DOI: 10.15578/jra.12.1.2017.77-84

Abstract

Ikan nila (Oreochromis niloticus) dan ikan komet (Carassius auratus) adalah komoditas ikan konsumsi dan ikan hias air tawar yang paling banyak dibudidayakan masyarakat Indonesia. Namun keberadaan bahan pencemar seperti nonilphenol dapat mengancam produktivitas kegiatan budidaya ikan tersebut karena dapat menyebabkan gangguan perkembangan bahkan kematian khususnya pada tahap awal perkembangan ikan (early development stage). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat toksisitas akut median lethal concentration (LC50) nonilphenol pada larva ikan nila dan ikan komet. Penelitian dilakukan di laboratorium Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Ikan Hias (BPPBIH) Depok. Penelitian terdiri atas uji mencari nilai kisaran (range finding test/RFT) dan dilanjutkan dengan uji akut. Level konsentrasi nonilphenol diatur berdasarkan deret logaritmik di mana untuk RFT menggunakan konsentrasi 0,01; 0,10; dan 1,00 mg/L; sedangkan level konsentrasi nonilphenol untuk uji akut ditentukan dari hasil RFT. Hasil analisis probit menujukkan nilai LC50 nonilphenol pada jam ke-96 pada larva ikan nila dan ikan komet berturut-turut berada pada konsentrasi nonilphenol 0,33 dan 0.10 mg/L. Sementara kematian 100% (LC100) larva ikan nila dan ikan komet pada jam ke-96 masing-masing berada pada konsentrasi 0,61 dan 0,50 mg/L. Merujuk pada kriteria toksisitas bahan dari Komisi Pestisida Departemen Pertanian, maka hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nonilphenol tergolong dalam bahan berbahaya dengan daya racun yang sangat tinggi.Nile tilapia (Oreochromis niloticus) and comet goldfish (Carassius auratus) are the major fresh water fish commodities in Indonesia used for both consumption and ornamental fish. However, production of the fish threatened by the presence of nonylphenol which can interfere with early development stage. Research objectives were to evaluate acute toxicity of nonylphenol to larval of nile tilapia and comet goldfish and to compare median lethal concentration (LC50). Research was carried out in the RDIOF, Depok. Experiments consisted of range finding test/RFT and accute test. Nonylphenol concentrations of RFT were 0.01, 0.10, and 1.00 mg/L. The results showed that LC50-96 hours of tilapia and comet were 0.33 and 0.10 mg/L respectivelly. Total mortality (LC100-96 hours) for tilapia and comet were 0.61 and 0.50 mg/L respectivelly. These results of nonylphenol concentrations, according to toxic level criteria by The Department of Agriculture’s Pesticide Commission, is categorized as dangerous goods with very high level of toxicity.

Page 1 of 1 | Total Record : 8


Filter by Year

2017 2017


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 4 (2018): (Desember 2018) Vol 13, No 3 (2018): (September 2018) Vol 13, No 2 (2018): (Juni, 2018) Vol 13, No 1 (2018): (Maret 2018) Vol 12, No 4 (2017): (Desember 2017) Vol 12, No 3 (2017): (September 2017) Vol 12, No 2 (2017): (Juni 2017) Vol 12, No 1 (2017): (Maret 2017) Vol 11, No 4 (2016): (Desember 2016) Vol 11, No 3 (2016): (September 2016) Vol 11, No 2 (2016): (Juni 2016) Vol 11, No 1 (2016): (Maret 2016) Vol 10, No 4 (2015): (Desember 2015) Vol 10, No 3 (2015): (September 2015) Vol 10, No 2 (2015): (Juni 2015) Vol 10, No 1 (2015): (Maret 2015) Vol 9, No 3 (2014): (Desember 2014) Vol 9, No 2 (2014): (Agustus 2014) Vol 9, No 1 (2014): (April 2014) Vol 8, No 3 (2013): (Desember 2013) Vol 8, No 2 (2013): (Agustus 2013) Vol 8, No 1 (2013): (April 2013) Vol 7, No 3 (2012): (Desember 2012) Vol 7, No 2 (2012): (Agustus 2012) Vol 7, No 1 (2012): (April 2012) Vol 6, No 3 (2011): (Desember 2011) Vol 6, No 2 (2011): (Agustus 2011) Vol 6, No 1 (2011): (April 2011) Vol 5, No 3 (2010): (Desember 2010) Vol 5, No 2 (2010): (Agustus 2010) Vol 5, No 1 (2010): (April 2010) Vol 4, No 3 (2009): (Desember 2009) Vol 4, No 2 (2009): (Agustus 2009) Vol 4, No 1 (2009): (April 2009) Vol 3, No 3 (2008): (Desember 2008) Vol 3, No 2 (2008): (Agustus 2008) Vol 3, No 1 (2008): (April 2008) Vol 2, No 3 (2007): (Desember 2007) Vol 2, No 2 (2007): (Agustus 2007) Vol 2, No 1 (2007): (April 2007) Vol 1, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006) Vol 1, No 1 (2006): (April 2006) More Issue