cover
Contact Name
Suprapti
Contact Email
Suprapti
Phone
-
Journal Mail Official
jra.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Riset Akuakultur
ISSN : 19076754     EISSN : 25026534     DOI : -
Jurnal Riset Akuakultur as source of information in the form of the results of research and scientific review (review) in the field of various aquaculture disciplines include genetics and reproduction, biotechnology, nutrition and feed, fish health and the environment, and land resources in aquaculture.
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue " Vol 10, No 1 (2015): (Maret 2015)" : 11 Documents clear
PERFORMA FOTOSINTESIS Kappaphycus sp. (strain Sumba) YANG DIUKUR BERDASARKAN EVOLUSI OKSIGEN TERLARUT PADA BEBERAPA TINGKAT SUHU DAN CAHAYA Lideman, Lideman; Laining, Asda
Jurnal Riset Akuakultur Vol 10, No 1 (2015): (Maret 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (460.262 KB) | DOI: 10.15578/jra.10.1.2015.41-49

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu dan cahaya terhadap laju fotosintesis Kappaphycus sp. (strain Sumba) yang diukur berdasarkan perubahan oksigen terlarut. Pengukuran laju fotosintesis Kappaphycus sp. pertama-tama dilakukan pada suhu 20oC, 24oC, 28oC, dan 32oC pada tingkat cahaya 353 μmol photons m-2 s-1 untuk mendapatkan kurva fotosintesis versus suhu (kurva P-T). Selanjutnya, pengukuran laju fotosintesis dilakukan pada suhu 20oC, 24oC, dan 28oC dengan intensitas cahaya 9, 22, 46, 58, 87, 137, 245, 353, 487, 608, dan 789 μmol photons m-2 s-1 dan juga pengukuran laju respirasi pada tingkat cahaya 0 μmol photons m-2 s-1 untuk menghasilkan kurva fotosintesis versus cahaya (kurva P-I). Beberapa parameter fotosintesis yaitu: laju fotosintesis maksimum (Pmax), koefisien fotosintesis (α), intensitas cahaya jenuh (Ek), dan intensitas cahaya kompensasi (Ec) dihitung dengan cara memplotkan kurva P-I terhadap model persamaan regresi non linear P = {Pmax x tanh (α / Pmax x I)} + Rd. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa laju fotosintesis tertinggi sebesar 6,92 μg O2 gww-1 min-1 dicapai pada suhu 28oC dengan tingkat cahaya 353 μmol photons m-2 s-1. Pada suhu 20oC, 24oC, dan 28oC, laju fotosintesis mencapai tingkat maksimum (Pmax) pada intensitas cahaya (Ek) 86,1; 154,2; dan 162,4 μmol photons m-2 s-1. Suhu yang optimum untuk aktivitas fotosintesis berkorelasi erat dengan suhu pada lingkungan budidaya di alam.
KARAKTERISASI BAKTERI ANTI QUORUM SENSING (AQS) SEBAGAI PENGHAMBAT VIRULENSI PENYAKIT PADA IKAN LELE DUMBO (Clarias gariepinus) Novita, Hessy; Rusmana, Iman; Yuhana, Munti; Pasaribu, Fachriyan Hasmi
Jurnal Riset Akuakultur Vol 10, No 1 (2015): (Maret 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (547.524 KB) | DOI: 10.15578/jra.10.1.2015.89-98

Abstract

Penyakit bakterial adalah salah satu penyebab kerugian besar di bidang akuakultur. Faktor virulensi bakteri penyakit umumnya diekspresikan oleh gen-gen virulen yang diregulasi dengan sistem Quorum Sensing. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan isolat bakteri yang memiliki potensi sebagai Anti Quorum Sensing (AQS) yang dapat menghambat faktor virulensi bakteri patogen penyebab penyakit pada ikan lele dumbo (Clarias gariepinus). Isolasi bakteri dilakukan dari sedimen, organ pencernaan dan air kolam ikan lele dumbo dari Parung, Ciampea, dan Gunung Sindur, Bogor, Jawa Barat. Sebanyak 347 isolat bakteri berhasil diisolasi, dan sebanyak 68 (19%) isolat di antaranya mempunyai aktivitas AQS dengan empat isolat yang berpotensi sebagai bakteri AQS yaitu: TS 1 dan TS 2, TA 23, dan TY 33. Empat isolat tersebut teridentifikasi berdasarkan sekuen 16S rRNA sebagai Bacillus amyloliquefaciens, Lysinnibacillus sphaericus, Lysinnibacillus fusiformis, dan Bacillus cereus dengan persentase kemiripan masing-masing 93%, 99%, dan 100%. Berdasarkan analisa gen AHL (Acyl Homoserine Lactone) laktonase (aiiA), keempat isolat tersebut menghasilkan enzim AHL. Hasil studi ini menunjukkan bahwa isolat bakteri hasil isolasi dari kolam ikan lele dumbo dapat menghambat mekanisme Quorum Sensing bakteri patogen ikan dengan mendegradasi autoinduser-nya yang berupa AHL.
ISOLASI, SELEKSI, DAN IDENTIFIKASI BAKTERI SELULOLITIK DARI RUMPUT LAUT Turbinaria sp. DAN Sargassum sp. SEBAGAI KANDIDAT PENDEGRADASI SERAT KASAR PAKAN IKAN Mulyasari, Mulyasari; Melati, Irma; Sunarno, Mas Tri Djoko
Jurnal Riset Akuakultur Vol 10, No 1 (2015): (Maret 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1451.526 KB) | DOI: 10.15578/jra.10.1.2015.51-60

Abstract

Kecernaan karbohidrat oleh ikan dapat ditingkatkan antara lain melalui penambahan bakteri selulolitik dalam pakan. Salah satu sumber bakteri selulolitik adalah rumput laut. Oleh karena itu, suatu penelitian dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan bakteri selulolitik dari rumput laut Turbinaria sp. dan Sargassum sp. Bakteri selulolitik diisolasi dengan metode pengenceran, streaking dan spreading pada media carboxymethylcellulose (CMC). Koloni yang didapat dimurnikan dan diseleksi dengan menggunakan uji aktivitas enzim selulase secara kualitatif (zona bening) dan kuantitatif, serta diidentifikasi secara biokimia dan molekuler menggunakan gen 16S-rRNA. Pada penelitian ini diperoleh 22 isolat murni bakteri dengan dua isolat yang mempunyai aktivitas selulolitik tertinggi, yaitu TS2b dan SS4b. Hasil uji biokimia dan karakterisasi secara molekuler menunjukkan bahwa kedua isolat tersebut adalah Bacillus subtilis dan B. megaterium.
INDEKS KUALITAS AIR DAN SEBARAN NUTRIEN SEKITAR BUDIDAYA LAUT TERINTEGRASI DI PERAIRAN TELUK EKAS, NUSA TENGGARA BARAT: ASPEK PENTING BUDIDAYA RUMPUT LAUT Radiarta, I Nyoman; Erlania, Erlania
Jurnal Riset Akuakultur Vol 10, No 1 (2015): (Maret 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (768.003 KB) | DOI: 10.15578/jra.10.1.2015.141-152

Abstract

Kualitas perairan merupakan salah satu aspek penting dalam perikanan budidaya. Perubahan yang terjadi pada kondisi kimia atau fisik perairan dapat menyebabkan dampak negatif terhadap pertumbuhan biota budidaya. Data kualitas air hasil program pemantauan selama enam bulan di lokasi penelitian telah dianalisis untuk melihat kisaran indeks kualitas air dan sebaran nutrien yang terjadi di sekitar unit budidaya laut terintegrasi berbasis integrated multi-trophic aquaculture (IMTA) di Teluk Ekas Provinsi Nusa Tenggara Barat. Pengamatan dilakukan pada bulan Juni-November 2014, sebanyak 13 titik pengamatan yang disebar secara diagonal dengan pusat keramba jaring apung ikan laut. Seluruh data dianalisis secara spasial dan temporal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai indeks kualitas air di lokasi penelitian tergolong kategori sedang-baik. Bulan Juli merupakan bulan dengan nilai indeks yang baik dengan kategori sedang-sangat baik (50-83); sedangkan bulan September memiliki nilai indeks yang relatif rendah dengan kategori buruk sedang (33-60). Berdasarkan sebaran nutrien (amonium, nitrat, dan orto-fosfat) menunjukkan fluktuasi secara spasial dan temporal. Konsentrasi nutrien umumnya tersedia dengan baik pada jarak 60 m dari KJA. Hasil penelitian ini dapat memberikan gambaran tentang kondisi kualitas perairan dan ketersediaan nutrien untuk mendukung pertumbuhan dan produktivitas budidaya rumput laut dengan sistem IMTA.
PATOGENESIS KO-INFEKSI PENYAKIT FISH TUBERCULOSIS DAN MOTILE AEROMONAS SEPTICEMIA PADA IKAN GURAME (Osphronemus gouramy) Purwaningsih, Uni; Indrawati, Agustin; Lusiastuti, Angela Mariana
Jurnal Riset Akuakultur Vol 10, No 1 (2015): (Maret 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (337.496 KB) | DOI: 10.15578/jra.10.1.2015.99-107

Abstract

Penyakit fish tuberculosis dan Motile Aeromonas Septicemia (MAS) merupakan penyakit potensial pada budidaya ikan gurame. Infeksi kedua penyakit tersebut dimungkinkan terjadi dalam waktu yang bersamaan walaupun etiologi kedua jenis penyakit tersebut memiliki karakteristik yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perjalanan kedua penyakit tersebut dalam waktu yang bersamaan ketika menginfeksi gurame uji dengan melihat perubahan parameter hematologi, pola kematian, dan histopatologi. Gurame uji yangdigunakan berukuran 25-30 g dengan dosis infeksi berdasarkan dosis LD50 bakteri A. hydrophila 108 cfu dan LD50 M. fortuitum 107 cfu. Gejala klinis akibat infeksi M. fortuitum mulai terlihat pada hari ke-14 ditandai dengan penurunan nafsu makan dan hari ke-18 mulai terlihat nodul dalam ukuran 0,1-0,2 mm pada permukaan tubuh. Sedangkan infeksi A. hydrophila menunjukkan gejala klinis luka pada bekas injeksi dan terlihat pembengkakan pada rongga perut mulai 24-48 jam pascainfeksi. Respons fisiologis tubuh ikan gurame terhadap adanya ko-infeksi ditunjukkan dengan nilai hemoglobin, hematokrit, persentase komponen sel darah putih yang berbeda (P<0,05) dengan kontrol. Perubahan histopatologi pada perlakuan koinfeksi menunjukkan adanya kongesti, peradangan, nekrosis, melano macrofag center, dan gramuloma yangbersifat multifocal pada organ hati, ginjal, dan limpa.
KONSTRUKSI VEKTOR EKSPRESI GEN HORMON PERTUMBUHAN LELE DUMBO (Clarias sp.) UNTUK PRODUKSI IKAN LELE LOKAL (Clarias batrachus) TRANSGENIK Buwono, Ibnu Dwi; Carsono, Nono; Kurnia, M. Untung
Jurnal Riset Akuakultur Vol 10, No 1 (2015): (Maret 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jra.10.1.2015.11-24

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh konstruksi vektor ekspresi (pTarget) rekombinan yang mengandung sisipan gen hormon pertumbuhan ikan lele dumbo (Clarias sp.) dan promoter β-aktin ikan lele lokal (C. batrachus) dalam upaya pembuatan ikan lele lokal transgenik. Promoter β-aktin lele lokal (pCbBA) telah berhasil diisolasi dari hipofisa ikan tersebut dengan ukuran sekitar 1,7 kbp; dan memiliki elemen transkripsi CAAT box, TATA box, GC box, motif CarG, dan TGACG berdasar analisis program TF Bind. Penggantian promoter CMV (cytomegalovirus) yang terkandung dalam vektor ekspresi pTarget menggunakan dua enzim restriksi SgfI dan I-PpoI, menghasilkan fragmen DNA berukuran 6.083 bp (pTarget-GH lele dumbo) sebagai produk digesti. Fragmen pTarget-GH lele dumbo yang diligasi dengan promoter β-aktin lele lokal membentuk konstruksi By: Ibnu Dwi Buwono, Nono Carsono, Yuniar Mulyani, and M. Untung KurniaThis study aims to obtain an expression vector construct (pTarget) containing recombinant growth hormone gene insertion of African catfish (Clarias sp.) and β-actin promoter derived from walking catfish (Clarias batrachus) in order to produce transgenic local catfish. β-actin promoter of walking catfish (pCbBA) have been isolated from the pituitary of the fish with a size of about 1.7 kbp, and has a transcription element: CAAT box, TATA box, GC box, CarG, and TGACG motif based on analysis result of TF Bind program. Replacement of CMV (cytomegalovirus) promoter contained in the expression vector pTarget using restriction enzymes SgfI and I-PpoI, obtained a product of digestion with the fragment size of 6,083 bp (pTarget-GH African catfish). pTarget-GH fragments were ligated with the African catfish β-actin promoter to arrange a construct of pTarget-pCbBA-African catfish GH (7,783 bp) as transgenic walking catfish expression vector.
INDUKSI PEMATANGAN GONAD DAN PENINGKATAN TINGKAT PEMBUAHAN TELUR INDUK UDANG WINDU, Penaeus monodon MELALUI RANGSANGAN HORMONAL TANPA ABLASI MATA Laining, Asda; Lante, Samuel; Usman, Usman
Jurnal Riset Akuakultur Vol 10, No 1 (2015): (Maret 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (94.152 KB) | DOI: 10.15578/jra.10.1.2015.61-68

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh rangsangan hormon gonadotropin (GTH) dan antidopamin (AD) terhadap performa induk betina alam sebagai pengganti ablasi. Dua perlakuan yang dicobakan adalah: 1) rangsangan hormon GTH dan AD pada betina udang windu alam tanpa ablasi; 2) kontrol berupa ablasi induk udang windu tanpa rangsangan hormon. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa pemijahan pertama terjadi setelah rangsangan ke-2 yaitu 4 ekor induk (23,5%). Pascainjeksi ke-3, jumlah induk yang memijah meningkat menjadi 92,7% atau sebanyak 11 ekor dari 12 ekor yang diinjeksi. Setelah empat kali rangsangan, dari 17 ekor yang diinjeksi ternyata 14 ekor dapat memijah (82%) dan 3 ekor induk tidak memijah hingga akhir pengamatan. Kontrol menghasilkan 6 ekor induk memijah dari 10 ekor yang diablasi (60%). Fekunditas telur (fertil dan tidak fertil) dari induk yang dirangsang GTH+AD adalah 219.313 butir/induk lebih tinggi dibandingkan induk yang diablasi yaitu 182.848 butir/induk. Tingkat pembuahan pada kontrol adalah 54%, lebih rendah jika dibandingkan dengan jumlah telur yang fertil dari induk yang dirangsang GTH+AD yaitu 76%. Meskipun tingkat pembuahan telur yang dihasilkan oleh induk pascainjeksi lebih tinggi, ternyata tingkat penetasan telurnya hanya 39%, lebih rendah dari induk yang diablasi yaitu 52%. Diameter telur dari induk yang mendapat rangsangan AD+GTH adalah 29,3 μm ± 0,8 (rerata ± SD) lebih besar dari diameter telur induk yang diablasi (25,1 μm ± 0,3). Total asam amino karkas induk udang yang dirangsang GTH+AD adalah 61,4% relatif lebih tinggi dibandingkan kontrol. Berdasarkan jumlah induk yang matang gonad dan fekunditas telur yang dihasilkan, aplikasi AD+GTH secara injeksi cukup dilakukan 3x pada dosis 0,3 mL/100 g udang.
PEMAPARAN INSEKTISIDA ENDOSULFAN PADA KONSENTRASI SUBLETAL TERHADAP KONDISI HEMATOLOGIS DAN HISTOLOGIS IKAN MAS (Cyprinus carpio) Taufik, Imam; Setiadi, Eri
Jurnal Riset Akuakultur Vol 10, No 1 (2015): (Maret 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (837.392 KB) | DOI: 10.15578/jra.10.1.2015.109-115

Abstract

Endosulfan merupakan insektisida golongan organoklorin non-sistemik yang banyak digunakan di bidang pertanian, khususnya di negara-negara berkembang termasuk di Indonesia. Insektisida ini bersifat sangat toksik terhadap organisme akuatik termasuk ikan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui kondisi hematologis dan histologis insang dan hati ikan mas (Cyprinus carpio) yang terpapar insektisida endosulfan. Sebagai perlakuan digunakan konsentrasi subletal endosulfan, yaitu: A) 0,00 μg/L; B) 0,24 μg/L; C) 0,73 μg/L; dan D) 1,21 μg/L. Hewan uji adalah ikan mas dengan bobot rata-rata 0,81±0,098 g/ekor. Wadah uji berupa akuarium kaca 70 cm x 50 cm x 60 cm berisi 150 liter air. Waktu pemaparan selama 12 minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa endosulfan berpengaruh nyata terhadap kondisi hematologis seperti hematokrit, hemoglobin, eritrosit, dan leukosit pada setiap perlakuan (P<0,05). Hematokrit dan hemoglobin semakin meningkat sejalan dengan peningkatan konsentrasi endosulfan, sedangkan eritrosit dan leukosit mengalami penurunan. Hasil histologi insang menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi endosulfanmaka kerusakan insang semakin meningkat, seperti hiperflasia lamella epithelium, degenerasi sel epithelium, pendarahan, vakuolasi, nekrosis, dan ploriferasi sel tulang rawan. Kerusakan pada hati yang dijumpai, yaitu dilatasi sinusoid, vakuolasi, degenerasi hepatosit, piknosis, ploriferasi hepatosit, dan nekrosis. Kerusakan jaringan hati semakin meningkat seiring dengan peningkatan konsentrasi endosulfan dalam air. Berdasarkan hasil penelitian sekarang insektisida endosulfan menyebabkan kerusakan jaringan organ filamen insang dan hati, serta ikan menjadi tidak sehat dengan aktivitas berenang menjadi abnormal dan kehilangan keseimbangan.
KERAGAAN BIOREPRODUKSI DAN PERTUMBUHAN TIGA POPULASI IKAN BAUNG (Hemibagrus nemurus Val. 1840) Subagja, Jojo; Cahyanti, Wahyulia; Nafiqoh, Nunak; Arifin, Otong Zenal
Jurnal Riset Akuakultur Vol 10, No 1 (2015): (Maret 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (513.432 KB) | DOI: 10.15578/jra.10.1.2015.25-32

Abstract

Ikan baung (Hemibagrus nemurus Val. 1840) termasuk kelompok catfish bernilai ekonomis, di Asia populer dengan nama “green catfish”. Informasi tentang variasi genetik dan keragaan bioreproduksi dari ketiga kandidat populasi hasil kegiatan 2011, yaitu: populasi Cisadane (Sdn), Cirata (Crt), dan Serayu (Sry) telah dijadikan informasi dasar dalam keperluan seleksi atau persilangan antar strain agar diperoleh ikan yang cepat tumbuh. Populasi Serayu menunjukkan tingkat variasi genetik paling kecil, namun memiliki aspek bioreproduksi lebih baik, sementara populasi Cirata menunjukkan kekerabatan dan variasi genetik lebih tinggi dari populasi Serayu dan Cisadane. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keragaan bioreproduksi dan pertumbuhan hasil persilangan dari tiga populasi yang digunakan. Keturunan hasil persilangan antara ketiga populasi telah diamati pada aspek Spesific Growth Rate (SGR), bobot akhir, dan sintasan (SR) pada stadia benih umur 42 hari, serta parameter bioreproduksi dari masing-masing populasi induk antara lain: perkembangan gonad, fekunditas, dan indeks ova somatik. Hasil persilangan antara populasi Sdn x Sry menghasilkan nilai heterosis tertinggi pada parameter SGR (8,72%); heterosis sintasan tertinggi dicapai oleh persilangan Sry dengan Sdn (45,45%); sedangkan bobot akhir dicapai oleh persilangan Crt dengan Sdn (22,08%). Persilangan dua arah antara populasi Cisadane dan populasi Cirata adalah persilangan dengan respons tertinggi pada parameter SR dan bobot akhir nilai IOS (Indeks Ova Somatik) Cisadane 15,9% dan Cirata 20,7%.
PERSPEKTIF PENGEMBANGAN PERIKANAN BUDIDAYA BERDASARKAN KARAKTERISTIK PANTAI DI TELUK GERUPUK DAN TELUK BUMBANG KABUPATEN LOMBOK TENGAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT Tarunamulia, Tarunamulia; Hasnawi, Hasnawi; Suhaimi, Rezki Antoni; Mustafa, Akhmad; Paena, Mudian
Jurnal Riset Akuakultur Vol 10, No 1 (2015): (Maret 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1729.568 KB) | DOI: 10.15578/jra.10.1.2015.117-126

Abstract

Tersedianya informasi mengenai karakteristik pantai menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan perencanaan dan pengelolaan perikanan budidaya pesisir berbasis lahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pantai khususnya aspek topografi dan hidrologi di Teluk Gerupuk dan Teluk Bumbang Kecamatan Pujut Kabupaten Lombok Tengah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), hubungannya dengan status eksisting dan kemungkinan pengembangan perikanan budidaya. Variabel topografi dan hidrologi teluk yang diukur meliputi: pasang surut (pasut), kedalaman, dan kelandaian pantai. Hasil analisis menunjukkan bahwa karakteristik pasut dengan tunggang pasut sekitar 2,85 m secara teknis masih tergolong ideal untuk pengembangan berbagai sistem budidaya tambak udang (tradisional plus, semi-intensif, intensif, dan super-intensif). Khusus untuk tambak intensif dan super-intensif, tunggang pasut yang besar harus dicermati sehubungan dengan jauhnya jarak pengambilan air bersih. Secara umum Teluk Gerupuk dan Teluk Bumbang dengan luas ± 940 ha (9,4 km2) dan kedalaman rata-rata perairan 4,17±0,12 cukup mendukung untuk kegiatan budidaya rumput laut. Berkembangnya pemanfaatan lahan selain budidaya rumput laut di sekitar dan pada teluk seperti pemukiman, pariwisata, dan budidaya tambak, dapat memengaruhi kualitas kimia fisik perairan dan kemungkinan berkaitan erat dengan menurunnya produksi rumput laut pada tahun-tahun terakhir. Dengan batasan karakteristik topografi dan hidrologis teluk yang menjadi pusat berlabuhnya aktivitas penggunaan lahan pantai dan darat, dibutuhkan perhatian serius mengenai rencana umum tata ruang wilayah teluk termasuk penanganan limbah agar tidak berdampak negatif secara ekologis dan sosial yang pada akhirnya akan mengganggu keberlanjutan usaha perikanan budidaya di wilayah ini. hidrologi, topografi, perikanan budidaya, Teluk Gerupuk, Nusa Tenggara Barat

Page 1 of 2 | Total Record : 11


Filter by Year

2015 2015


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 4 (2018): (Desember 2018) Vol 13, No 3 (2018): (September 2018) Vol 13, No 2 (2018): (Juni, 2018) Vol 13, No 1 (2018): (Maret 2018) Vol 12, No 4 (2017): (Desember 2017) Vol 12, No 3 (2017): (September 2017) Vol 12, No 2 (2017): (Juni 2017) Vol 12, No 1 (2017): (Maret 2017) Vol 11, No 4 (2016): (Desember 2016) Vol 11, No 3 (2016): (September 2016) Vol 11, No 2 (2016): (Juni 2016) Vol 11, No 1 (2016): (Maret 2016) Vol 10, No 4 (2015): (Desember 2015) Vol 10, No 3 (2015): (September 2015) Vol 10, No 2 (2015): (Juni 2015) Vol 10, No 1 (2015): (Maret 2015) Vol 9, No 3 (2014): (Desember 2014) Vol 9, No 2 (2014): (Agustus 2014) Vol 9, No 1 (2014): (April 2014) Vol 8, No 3 (2013): (Desember 2013) Vol 8, No 2 (2013): (Agustus 2013) Vol 8, No 1 (2013): (April 2013) Vol 7, No 3 (2012): (Desember 2012) Vol 7, No 2 (2012): (Agustus 2012) Vol 7, No 1 (2012): (April 2012) Vol 6, No 3 (2011): (Desember 2011) Vol 6, No 2 (2011): (Agustus 2011) Vol 6, No 1 (2011): (April 2011) Vol 5, No 3 (2010): (Desember 2010) Vol 5, No 2 (2010): (Agustus 2010) Vol 5, No 1 (2010): (April 2010) Vol 4, No 3 (2009): (Desember 2009) Vol 4, No 2 (2009): (Agustus 2009) Vol 4, No 1 (2009): (April 2009) Vol 3, No 3 (2008): (Desember 2008) Vol 3, No 2 (2008): (Agustus 2008) Vol 3, No 1 (2008): (April 2008) Vol 2, No 3 (2007): (Desember 2007) Vol 2, No 2 (2007): (Agustus 2007) Vol 2, No 1 (2007): (April 2007) Vol 1, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006) Vol 1, No 1 (2006): (April 2006) More Issue