cover
Contact Name
Suprapti
Contact Email
Suprapti
Phone
-
Journal Mail Official
jra.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Riset Akuakultur
ISSN : 19076754     EISSN : 25026534     DOI : -
Jurnal Riset Akuakultur as source of information in the form of the results of research and scientific review (review) in the field of various aquaculture disciplines include genetics and reproduction, biotechnology, nutrition and feed, fish health and the environment, and land resources in aquaculture.
Arjuna Subject : -
Articles 13 Documents
Search results for , issue " Vol 1, No 1 (2006): (April 2006)" : 13 Documents clear
PENGGUNAAN TEPUNG SILASE USUS AYAM DALAM PAKAN PEMBESARAN IKAN KERAPU MACAN, Epinephelus fuscoguttatus Rachmansyah, Rachmansyah; Usman, Usman; Kabangnga, Naftali; Makmur, Makmur
Jurnal Riset Akuakultur Vol 1, No 1 (2006): (April 2006)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (798.243 KB) | DOI: 10.15578/jra.1.1.2006.87-96

Abstract

Substitusi tepung ikan dengan tepung silase usus ayam dalam pakan telah dilakukan untuk mengevaluasi respon pakan terhadap keragaan biologi ikan kerapu macan, Epinephelus fuscoguttatus. Ikan uji diberi pakan yang mengandung tepung silase usus ayam pada level 0%, 5%, 10%, 15%, dan 20% sebagai pengganti tepung ikan dan dibuat dalam bentuk pelet basah. Pakan diberikan secara at satiation dua kali sehari selama masa pemeliharaan 20 minggu di keramba jaring apung berukuran 1 x 1 x 2 m. Penggantian tepung ikan dengan tepung silase usus ayam sampai 20% atau setara dengan 39% protein tepung ikan tidak berpengaruh nyata bila dibandingkan dengan perlakuan kontrol terhadap keragaan biologi ikan kerapu. Diduga tepung silase usus ayam cukup memadai sebagai pengganti tepung ikan dengan kadar lebih dari 20% dalam pakan pembesaran ikan kerapu macan jika asam amino methionine dan lysine ditambahkan ke dalam pakan.Feeding experiment was conducted to evaluate the effects of replacing fishmeal with poultry offal silage meal (POSM) in diet on biological performance of tiger grouper. Dietary inclusion level of PSOM at 5%, 10%, 15%, and 20% substitution of fish meal were compared with the fish meal based control diet (0% PSOM). Fish were fed diets (moist pellet) at satiation two times daily for 20 weeks rearing at a floating net cage of 1 x 1 x 2 m. The result showed that replacement of fish meal with POSM up to 20% or equivalent to 39% fish meal protein were not significantly different (P>0.05) compared with control diet on all of the biological performance of tiger grouper. From the result, we expected that POSM is suitable as a partial replacement of fish meal more then 20% in tiger grouper diet if methionine and lysine are added.
POLA PEMANGSAAN LARVA IKAN KAKAP MERAH, Lutjanus sebae Melianawati, Regina; Imanto, Philip Teguh; Suastika, Made
Jurnal Riset Akuakultur Vol 1, No 1 (2006): (April 2006)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (433.76 KB) | DOI: 10.15578/jra.1.1.2006.49-54

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola pemangsaan dari larva ikan kakap merah, L. sebae umur 5 dan 10 hari yang dipelihara dengan kondisi pencahayaan alami. Pengambilan sampel dilakukan setiap satu jam pada masing-masing umur tersebut. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa secara alami pola pemangsaan larva L. sebae tergantung pada kondisi pencahayaan, di mana aktivitas pemangsaan berlangsung secara maksimal pada saat tersedia pencahayaan dengan intensitas yang mencukupi untuk larva menangkap mangsanya. Intensitas cahaya minimal yang diperlukan oleh larva L. sebae untuk melakukan pemangsaan berada pada kisaran 400—600 lux. Maksimal pemangsaan satu larva pada umur 5 dan 10 hari adalah 6,2 dan 25,3 individu rotifer. Lama waktu pencernaan larva umur 5 dan 10 hari adalah 4 dan 5 jam, sedangkan laju cerna larva pada masing-masing umur tersebut adalah 1,50 dan 2,76 individu rotifer per jam.The aim of this research was to get the information about the feeding pattern of emperor snapper L. sebae larvae at 5 and 10 days olds reared under natural light intensity. Larvae samples were taken every hour from each age. The result showed that naturally, feeding pattern of emperor snapper larvae depend on the light intensity condition, feeding activity would be done when the light intensity was enough available for supporting larvae to feed. Minimum light intensity that needed by the larvae for feeding activity was range between 400—600 lux. Maximum feeding per larvae at 5 and 10 days olds were 6.2 and 25.3 individual rotifers. Digestion time of larvae at those ages was 4 and 5 hours, while digestion rate were 1.50 and 2.76 individual rotifers per hour.
SUHU OPTIMUM UNTUK LAJU PERTUMBUHAN DAN SINTASAN BENIH LOBSTER AIR TAWAR Cherax quadricarinatus Kusmini, Irin Iriana; Hadie, Wartono; Sianipar, Elinda P
Jurnal Riset Akuakultur Vol 1, No 1 (2006): (April 2006)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (428.473 KB) | DOI: 10.15578/jra.1.1.2006.67-72

Abstract

Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh suhu air yang memberikan hasil terbaik bagi laju pertumbuhan dan sintasan benih lobster air tawar, red claw. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri atas empat perlakuan, yaitu pada suhu air 26°C, 28°C, 30°C, dan 32°C; masing-masing perlakuan tiga ulangan. Parameter yang diamati adalah laju pertumbuhan harian dan sintasan benih lobster red claw. Hasil penelitian menunjukkan bahwa laju pertumbuhan harian dan sintasan benih lobster tertinggi terdapat pada suhu 28°C, yaitu sebesar 1,15% dan 85,93%. Laju pertumbuhan harian dan sintasan benih lobster mencapai optimum pada suhu 28°C, yaitu sebesar 1,05% dan 85,93%.The aim this research was to find out the effect of water temperature to the growth and survival rate of red claw crayfish (Cherax quadricarinatus) juvenile. The experiment design used completely randomized design (CRD) with four treatments of water temperature i.e. 26°C, 28°C, 30°C, 32°C and each of the treatments was replicated three times. Parameters observed are daily growth rate and survival rate of red claw crayfish juvenile. The result showed that temperatures were effected to growth rate and survival rate of red claw crayfish juvenile which expressed through quadratic response curve. The highest daily growth rate and survival rate of red claw crayfish fry was found on temperature 28°C C i.e. 1.15% and 85.93%. The optimum growth rate and survival rate was found on temperature 28°C i.e. 1.05% and 85.93%.
ANALISIS BIOAKTIF TANAMAN MANGROVE YANG EFEKTIF MEREDUKSI PENYAKIT BAKTERI PADA BUDI DAYA UDANG WINDU Suryati, Emma; Gunarto, Gunarto; Sulaeman, Sulaeman
Jurnal Riset Akuakultur Vol 1, No 1 (2006): (April 2006)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (888.392 KB) | DOI: 10.15578/jra.1.1.2006.97-104

Abstract

Usaha penanggulangan penyakit pada komoditas perikanan pantai dewasa ini lebih diarahkan pada usaha diagnosis yang tepat dan cepat serta mencegah penggunaan vaksin serta pengelolaan mutu lingkungan melalui bioremediasi. Tanaman mangrove merupakan salah satu biota penyusun ekosistem pesisir pantai yang berfungsi sebagai tempat berlindung larva ikan dan biota lain serta sebagai penahan ombak dan angin, mereduksi kekeruhan, menstabilkan kandungan nitrat dan fosfat di dalam air, serta dapat menekan pertumbuhan populasi bakteri tertentu. Pemanfaatan bioaktif mangrove untuk mereduksi penyakit pada budi daya udang, perlu dianalisis untuk mengetahui jenis serta bioaktif mangrove yang dapat menekan pertumbuhan bakteri dan mikroorganisme lainnya. Metode analisis dilakukan dengan identifikasi jenis, ekstraksi, pemisahan, pemurnian senyawa aktif serta elusidasi struktur untuk mencari bahan aktif dan strukturnya terutama sebagai senyawa penuntun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa delapan spesies tanaman mangrove yang efektif sebagai bakterisida. Fraksi yang paling aktif menghambat pertumbuhan bakteri yaitu fraksi air, EtOAC neutral, EtOAC asam. Hasil identifikasi isolat bioaktif tanaman mangrove antara lain Exoecaria agalocha yaitu Cyclohexasiloxane, Acanthus ilicifolius yaitu 2-methyl piperazin, Osbornia octodonta yaitu 2 heptanamin-6 methyl-amino-6 methylen, Avicenia yaitu Cyclopentasiloxane, Euphatorium inulifolium yaitu n-decane/isodecane, Carbera manghas yaitu Furanon gamma-Crotonolactone dan Soneratia caseolaris yaitu L-galactopyranosida.The effort of diseases controlling in fisheries commodity is emphasized to the accurate and rapid diagnosis as well as the use of vaccine and management of environment through bioremediation. Mangrove, one of the components of coastal ecosystems, has functions as shelters of many larvae, wave and wind prevention. The other functions are to reduce the turbidity, to stabilize nitrate and phosphate in the water and to inhibit the population growth of certain bacteria. The analysis of active component and structure of mangrove bioactive as lead compound was conducted by identification, extraction, isolation, purification, and structure elucidation method. The results showed that eight species of mangrove have been identified to show the activity as bactericide. The fractions showing the strong inhibition to the bacteria are water fraction, ethyl acetate neutral and ethyl acetate acid fraction. The identified bioactive compounds from mangroves are Cyclohexasiloxane isolated from Exoecaria agalocha, 2-methyl piperazin isolated from Acanthus ilicifolius, 2 heptanamin-6 methyl-amino-6 methylen isolated from Osbornia octodonta, Cyclopentasiloxane isolated from Avicenia, n-decane/ isodecane isolated from Euphatorium inulifolium, Furanon gamma-Crotonolactone isolated from Carbera manghas and L- galactopyranosida from Soneratia caseolaris.
PENTOKOLAN UDANG WINDU, Penaeus monodon DENGAN KEPADATAN BERBEDA DALAM KERAMBA JARING APUNG (KJA) DI LAUT Tonnek, Syarifuddin; Mangampa, Markus; Muslimin, Muslimin
Jurnal Riset Akuakultur Vol 1, No 1 (2006): (April 2006)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (516.289 KB) | DOI: 10.15578/jra.1.1.2006.55-60

Abstract

Produksi tokolan udang windu PL 54 menggunakan hapa pada unit keramba jaring apung (KJA) di laut telah dilakukan di Teluk Labuange, Kabupaten Barru dari bulan Mei—Juli 2002. Penelitian ini bertujuan mendapatkan padat penebaran terbaik untuk pendederan benur udang windu dalam KJA di laut. Perlakuan yang dicobakan adalah padat penebaran benur PL 12 sebanyak padat tebar 2.000 ekor/m2 (A), 3.000 ekor/m2 (B), dan 4.000 ekor/m2 (C) masing-masing 3 kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan tokolan pada perlakuan 2.000 dan 3.000 ekor/m2 tidak berbeda nyata (0,57—0,65 g/ekor) (P>0,05), tetapi berbeda nyata pada padat penebaran 4.000 ekor/m2 (0,39 g/ekor) (P<0,05). Demikian pula hasil sintasan tampak tidak berbeda nyata pada padat penebaran 2.000 dan 3.000 ekor/m2 (56,8%—66%), tetapi menunjukkan perbedaan nyata pada padat penebaran 4.000 ekor/m2 (45,1%). Karena itu, padat penebaran maksimal benur PL 12 adalah 3.000 ekor/m2 untuk pendederan dalam KJA di laut.Juvenile production of tiger shrimps of post larvae was conducted in floating net cages in Labuange Bay, Barru Regency from May - July 2002. The aim of this research is to know the best stocking density of tiger shrimp post larvae in nursery rearing of floating net cages in the sea. The treatments were stocking density PL 12 (2,000 psc/m2; 3,000 psc/m2; and 4,000 psc/m2), with three replicates each. The results showed that growth of juvenile shrimps was not significantly different between stocking density 2,000 pcs/m2 and 3,000 pcs/m2 (0.57--0.65 g/pcs) (P>0.05), but significantly different with stocking density of 4,000 pcs/m2 (P<0.05). Nevertheless average survival rate of juvenile shrimps was not significant on stocking density 2,000 pcs and 3,000 pcs/m2, but significant different with stocking density of 4,000 pcs/me.Therefore, for juvenill production in floating net cages, the best (maximum) stocking density of potensial 12 is 3,000 pcs/m2.
KARAKTERISASI GENETIKA RUMPUT LAUT Kappaphycus alvarezii YANG DIBUDIDAYAKAN DI SULAWESI SELATAN Parenrengi, Andi; Sulaeman, Sulaeman; Suryati, Emma; Tenriulo, Andi
Jurnal Riset Akuakultur Vol 1, No 1 (2006): (April 2006)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1487.869 KB) | DOI: 10.15578/jra.1.1.2006.1-11

Abstract

Karakterisasi genetika rumput laut Kappaphycus alvarezii telah dilakukan dengan menggunakan teknik Random Amplified Polymorphic DNA (RAPD) dengan tujuan untuk mengetahui variasi genetika rumput laut K. alvarezii dari beberapa lokasi budi daya di Sulawesi Selatan yakni Polmas, Pinrang, Takalar, dan Bantaeng. Sampel dipreservasi dengan menggunakan larutan TNES-Urea sebelum ekstraksi DNA. Ekstraksi genom DNA dilakukan dengan menggunakan metode konvensional fenol-khloroform. Amplifikasi DNA dilakukan dengan teknik Polymerase Chain Reaction (PCR). Untuk dokumentasi riset, hasil PCR dielektroforesis pada agarosa gel dengan menggunakan buffer TBE. Data dianalisis menggunakan program Tools for Population Genetic Analyses (TFPGA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelima “primers” (P-40, P-50, DALRP, Ca01, dan Ca-02) yang digunakan dapat menghasilkan beberapa fragmen spesifik yang mengindikasikan fragmen spesifik spesies dan lokasi budi daya K. alvarezii. Keragaan genetika intra dan inter lokasi rumput laut menunjukkan variasi yang relatif kecil yang ditandai dengan rendahnya perbedaan jumlah/ukuran fragmen DNA, polimorfisme, indeks similaritas, dan jarak genetikanya. Total fragmen yang didapatkan dari lima primer adalah 47—55 pada ukuran fragmen 175—2.600 bp, sedangkan polimorfisme dan indeks similaritas masing-masing adalah 3,6%—31,0% dan 0,79%—0,99%. Jarak genetika antar beberapa lokasi K. alvarezii berkisar antara 0,1758—0,5689 di mana kekerabatan yang terdekat didapatkan antara Takalar dan Bantaeng.Genetic characterization of seaweed Kappaphycus alvarezii was observed using Random Amplified Polymorphic DNA (RAPD) technique to reveal the genetic variability of seaweed from different locations in South Sulawesi. The sample of farmed seaweed K. alvarezii was collected from Polmas, Pinrang, Takalar, and Bantaeng. Genomic DNA was extracted by using the conventional method of phenol-chloroform. Sample was preserved by TNES-Urea buffer prior to DNA extraction. DNA was amplified by Polymerase Chain Reaction (PCR) method. DNA Fragment was documented by gel electrophoresis using TBE buffer. The data was analyzed by computer program called Tools for Population Genetic Analyses (TFPGA). The results showed that the five primers (P-40, P-50, DALRP, Ca-01, and Ca-02) used, revealed specific fragment for species and location of K. alvarezii . The low genetic variability both intra and inter locations of farmed seaweed was indicated by variation in total and size of DNA fragment, polymorphism and similarity index. The total of fragment generated by the five primers was 47—55 in size range of 175-2,600 bp, while proportion of polymorphism and similarity index were 3.6%—31.0% and 0.79%—0.99%, respectively. Genetic distance between farmed seaweed was 0.1758—0.5689 where the closest genetic distance was found between Takalar and Bantaeng.
Kesesuaian dan Pengelolaan lahan budi daya tambak di Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan Pantjara, Brata; Aliman, Aliman; Mangampa, Markus; Pongsapan, Daud; Utojo, Utojo
Jurnal Riset Akuakultur Vol 1, No 1 (2006): (April 2006)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1970.253 KB) | DOI: 10.15578/jra.1.1.2006.131-142

Abstract

Studi kesesuaian potensi pertambakan dilakukan di 3 Kecamatan Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan, meliputi: Kecamatan Pulau Laut Utara, Pulau Laut Tengah, dan Pulau Laut Barat. Tujuan penelitian adalah mengetahui potensi dan tingkat kesesuaian lahan budi daya tambak di Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan. Metode penelitian dengan melakukan survai untuk mendapatkan data primer. Data sekunder diperoleh dari wawancara pemilik/pembudi daya tambak dan data stastistik serta Laporan Tahunan Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan. Analisis data untuk mengetahui potensi dan kesesuaian lahan budi daya tambak dengan Sistem Informasi Geografis (SIG). Tingkat kesesuaian budi daya tambak diperoleh dengan cara tumpang susun beberapa peta dan data primer pada setiap pengamatan dengan mempertimbangkan pembobotan dan skala penilaian untuk mendapatkan nilai skoring. Hasil analisis potensi dan kesesuaian tambak di 3 Kecamatan Kabupaten Kotabaru mempunyai tingkat kesesuaian sedang. Potensi kelayakan lahan untuk tambak di Desa Stagen Kecamatan Pulau Laut Utara seluas 2.548,8 ha dengan teknologi budi daya tambak sistem ekstensif hingga semi intensif, Desa Sungai Pasir dan Sungai Paring Kecamatan Pulau Laut Tengah seluas 57,9 ha dengan teknologi budi daya ekstensif hingga semi intensif. Desa Sebanti Kecamatan Pulau Laut Barat seluas 516,8 ha dengan teknologi ekstensif hingga ekstensif plus.Land suitability study of brackish water pond was conducted at 3 District in Kotabaru Regency, South Kalimantan were Pulau Laut Utara, Pulau Laut Tengah, and Pulau Laut Barat. The objectives of research to know land suitability and management for brackishwater pond in Kotabaru Regency, South Kalimantan. Survey has been done collected primary data. While secondary data was obtained from questioner with the pond farmers and statistical data from related Institution. Data analysis to know of potency and land suitability for pond with Geographical Information System (GIS), with overlying maps and primary data in each station observation with considering and assessment scale value of determining land suitability for brackish water pond. The result of research that potency and land suitability of 3 District in Kotabaru Regency were moderate suitability. Land potency in Stagen and Sungai Paring Villages, Pulau Laut Utara District can reach 2,548.8 ha with application extensive until semi intensive technology. Sungai Pasir Village, Pulau Laut Tengah District can reach 57.9 ha with application extensive until semi intensive technology. Sebanti Village, Pulau Laut Barat District of 516.8 ha with application extensive until plus extensive technology.
Front Matter dan Back Matter Suyatno, Suyatno
Jurnal Riset Akuakultur Vol 1, No 1 (2006): (April 2006)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (22.151 KB) | DOI: 10.15578/jra.1.1.2006.i-vi

Abstract

LAJU PENYERAPAN INSEKTISIDA TRIKLORFON PADA UDANG WINDU (Penaeus monodon) Pong-Masak, Petrus Rani; Supriyono, Eddy; Nirmala, Kukuh; Koesoemadinata, Santosa
Jurnal Riset Akuakultur Vol 1, No 1 (2006): (April 2006)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (626.52 KB) | DOI: 10.15578/jra.1.1.2006.105-113

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui laju penyerapan dan rasio biokonsentrasi insektisida triklorfon dalam tubuh udang windu pada tingkat konsentrasi pemaparan yang berbeda. Penelitian dilakukan dalam skala laboratorium dengan Rancangan Acak Lengkap menggunakan akuarium. Bahan uji yang digunakan adalah formulasi insektisida triklorfon serta hewan uji adalah pasca larva udang windu. Perlakuan adalah tingkatan pemaparan insektisida triklorfon, yaitu 0,0037 mg/L; 0,0110 mg/L; dan 0,0183 mg/L dalam air laut bersalinitas 20 ppt. Analisis residu triklorfon dalam sampel udang windu dan air diekstraksi, kemudian diidentifikasi menggunakan kromatografi gas cairan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa laju penyerapan insektisida triklorfon oleh udang windu pada perlakuan 0,0110 mg/L dan 0,0183 mg/L tidak berbeda nyata tetapi keduanya berbeda dengan perlakuan 0,0037 mg/L. Laju penyerapan secara berurutan sebesar 0,0049 mg/kg/jam; 0,0088 mg/kg/jam, dan 0,0086 mg/kg/jam masing-masing pada perlakuan 0,0037 mg/L; 0,0110 mg/L, dan 0,0183 mg/L. Rasio biokonsentrasi triklorfon dalam tubuh udang windu semakin kecil dengan meningkatnya konsentrasi triklorfon, yaitu dengan nilai 2,4545; 1,6132; dan 1,3373 masing-masing pada perlakuan 0,0037 mg/L: 0,0110 mg/L, dan 0,0183 mg/L.The experiment aimed to study the uptake and bioconcentration ratio of trichlorfon insecticide in tiger prawn at different exposure concentration. The study was conducted using the aquarium in the laboratory condition. Test material is trichlorfon insecticide and test animal is post larvae of tiger prawn. Treatments were 0.0037 mg/L, 0.0110 mg/L, and 0.0183 mg/L of trichlorfon insecticide by dissolved in water on 20 ppt. Shrimp and water sample were extracted then identified liquid gas chromatography. The results of the experiment shohwed that uptake of trichlorfon insecticide is not different at 0.0110 mg/L and 0.0183 mg/L and both are different with 0.0037 mg/L with the uptake rate are 0.0049, 0.0088 and 0.0086 mg/kg/h at 0.0037 mg/L, 0.0110 mg/L, and 0.0183 mg/L, respectively. Bioconcentration ratio of trichlorfon in tiger prawn were decreasing while treatment concentration was increasing, that are 2.4545, 1.6132, and 1.3373 at the treatment 0.0037 mg/L, 0.0110 mg/L, 0.0183 mg/L, respectively.
Penapisan Bakteri yang Diisolasi dari Tambak Udang sebagai Kandidat Probiotik pada Budi daya Udang Windu, Penaeus monodon Muliani, Muliani; Nurbaya, Nurbaya; Atmomarsono, Muharijadi
Jurnal Riset Akuakultur Vol 1, No 1 (2006): (April 2006)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1176.989 KB) | DOI: 10.15578/jra.1.1.2006.73-85

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendapatkan bakteri probiotik untuk budi daya udang windu P. monodon. Penelitian meliputi beberapa tahapan yaitu (1) isolasi bakteri dari tambak udang; (2) uji daya hambat terhadap Vibrio  harveyi; (3) karakterisasi secara fisiologi dan biokimia; (4) pertumbuhan bakteri pada beberapa konsentrasi NaCl; (5) pertumbuhan bakteri pada beberapa tingkat salinitas; (6) uji patogenisitas bakteri terhadap pascalarva udang windu; (7) uji tantang dengan V. harveyi dalam wadah pemeliharaan pascalarva udang windu; dan (8) analisis gen 16S-rRNA bakteri yang diisolasi dari tambak. Sedikitnya 14 isolat dari 2.228 isolat bakteri yang diisolasi dari tambak, potensial dijadikan probiotik pada budi daya udang windu. Sintasan udang windu tertinggi pada perlakuan yang menggunakan isolat BN2067. Isolat BT950 dan BT95 paling potensial menghambat pertumbuhan V. harveyi baik secara In vitro maupun In vivo. Hasil analisis gen 16Sr-RNA menunjukkan bahwa BT950 dan BT951 termasuk dalam kelompok Brevibacillus sp., sedangkan BN2067 termasuk dalam kelompok Vibrio vulnificus CMCP6 chr.This experiment was aimed for finding-out probiotic bacteria on tiger shrimp P. monodon culture. The research included several steps i.e. 1) isolation of bacteria from tiger shrimp pond; 2) inhibition test of  bacteria against V. harveyi; 3) biochemical and physiological characterization; 4) growth of bacteria at different concentration of NaCl; (5) growth of bacteria at different salinities; (6) pathogenicity test of bacteria to tiger shrimp post larvae, (7) challenge test of bacteria against V. harveyi in tiger shrimp culture media; (8) 16S-rRNA gene analysis of  bacteria isolated from shrimp pond. Fourteen isolates of 2,228 isolates of bacteria isolated from tiger shrimp pond were potential for probiotic bacteria on tiger shrimp culture. The highest survival rate of tiger shrimp was obtained from those treated with BN2067 isolate. The potential isolates to inhibit V. harveyi both In vivo and In vitro assay were BT950 and BT951. Based on 16S-rRNA gene analysis, BT950 and BT951 isolates are considered to be Brevibacillus laterosporus, while BN2067 is considered to be Vibrio vulnificus CMCP6 chr.

Page 1 of 2 | Total Record : 13


Filter by Year

2006 2006


Filter By Issues
All Issue Vol 14, No 1 (2019): (Maret, 2019) Vol 13, No 1 (2018): (Maret 2018) Vol 13, No 4 (2018): (Desember 2018) Vol 13, No 3 (2018): (September 2018) Vol 13, No 2 (2018): (Juni, 2018) Vol 13, No 1 (2018): (Maret 2018) Vol 12, No 4 (2017): (Desember 2017) Vol 12, No 3 (2017): (September 2017) Vol 12, No 2 (2017): (Juni 2017) Vol 12, No 1 (2017): (Maret 2017) Vol 12, No 4 (2017): (Desember 2017) Vol 12, No 3 (2017): (September 2017) Vol 12, No 2 (2017): (Juni 2017) Vol 12, No 1 (2017): (Maret 2017) Vol 11, No 4 (2016): (Desember 2016) Vol 11, No 3 (2016): (September 2016) Vol 11, No 2 (2016): (Juni 2016) Vol 11, No 1 (2016): (Maret 2016) Vol 11, No 4 (2016): (Desember 2016) Vol 11, No 3 (2016): (September 2016) Vol 11, No 2 (2016): (Juni 2016) Vol 11, No 1 (2016): (Maret 2016) Vol 10, No 4 (2015): (Desember 2015) Vol 10, No 3 (2015): (September 2015) Vol 10, No 2 (2015): (Juni 2015) Vol 10, No 1 (2015): (Maret 2015) Vol 10, No 4 (2015): (Desember 2015) Vol 10, No 3 (2015): (September 2015) Vol 10, No 2 (2015): (Juni 2015) Vol 10, No 1 (2015): (Maret 2015) Vol 9, No 3 (2014): (Desember 2014) Vol 9, No 2 (2014): (Agustus 2014) Vol 9, No 1 (2014): (April 2014) Vol 9, No 3 (2014): (Desember 2014) Vol 9, No 2 (2014): (Agustus 2014) Vol 9, No 1 (2014): (April 2014) Vol 8, No 3 (2013): (Desember 2013) Vol 8, No 2 (2013): (Agustus 2013) Vol 8, No 1 (2013): (April 2013) Vol 8, No 3 (2013): (Desember 2013) Vol 8, No 2 (2013): (Agustus 2013) Vol 8, No 1 (2013): (April 2013) Vol 7, No 3 (2012): (Desember 2012) Vol 7, No 2 (2012): (Agustus 2012) Vol 7, No 1 (2012): (April 2012) Vol 7, No 3 (2012): (Desember 2012) Vol 7, No 2 (2012): (Agustus 2012) Vol 7, No 1 (2012): (April 2012) Vol 6, No 3 (2011): (Desember 2011) Vol 6, No 2 (2011): (Agustus 2011) Vol 6, No 1 (2011): (April 2011) Vol 6, No 3 (2011): (Desember 2011) Vol 6, No 2 (2011): (Agustus 2011) Vol 6, No 1 (2011): (April 2011) Vol 5, No 3 (2010): (Desember 2010) Vol 5, No 2 (2010): (Agustus 2010) Vol 5, No 1 (2010): (April 2010) Vol 5, No 3 (2010): (Desember 2010) Vol 5, No 2 (2010): (Agustus 2010) Vol 5, No 1 (2010): (April 2010) Vol 4, No 3 (2009): (Desember 2009) Vol 4, No 2 (2009): (Agustus 2009) Vol 4, No 1 (2009): (April 2009) Vol 4, No 3 (2009): (Desember 2009) Vol 4, No 2 (2009): (Agustus 2009) Vol 4, No 1 (2009): (April 2009) Vol 3, No 3 (2008): (Desember 2008) Vol 3, No 2 (2008): (Agustus 2008) Vol 3, No 1 (2008): (April 2008) Vol 3, No 3 (2008): (Desember 2008) Vol 3, No 2 (2008): (Agustus 2008) Vol 3, No 1 (2008): (April 2008) Vol 2, No 3 (2007): (Desember 2007) Vol 2, No 2 (2007): (Agustus 2007) Vol 2, No 1 (2007): (April 2007) Vol 2, No 3 (2007): (Desember 2007) Vol 2, No 2 (2007): (Agustus 2007) Vol 2, No 1 (2007): (April 2007) Vol 1, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006) Vol 1, No 1 (2006): (April 2006) Vol 1, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006) Vol 1, No 1 (2006): (April 2006) More Issue