cover
Contact Name
Suprapti
Contact Email
Suprapti
Phone
-
Journal Mail Official
jra.puslitbangkan@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Riset Akuakultur
ISSN : 19076754     EISSN : 25026534     DOI : -
Jurnal Riset Akuakultur as source of information in the form of the results of research and scientific review (review) in the field of various aquaculture disciplines include genetics and reproduction, biotechnology, nutrition and feed, fish health and the environment, and land resources in aquaculture.
Arjuna Subject : -
Articles 459 Documents
EVALUASI PENGGUNAAN JENIS SELTER BERBEDA TERHADAP RESPONS STRES DAN KINERJA PRODUKSI PENDEDERAN LOBSTER AIR TAWAR Cherax quadricarinatus DALAM SISTEM RESIRKULASI Siburian, Arif Faisal; Nirmala, Kukuh; Supriyono, Eddy
Jurnal Riset Akuakultur Vol 13, No 4 (2018): (Desember 2018)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.738 KB) | DOI: 10.15578/jra.13.4.2018.297-307

Abstract

Sintasan yang rendah pada pembenihan lobster air tawar tidak terlepas dari karakteristik lobster air tawar yang teritorial pada areal yang terbatas, sering menunjukkan sifat agresif pada umur muda, dan memiliki perilaku kanibalisme. Tujuan dari penelitian ini adalah mengevaluasi pengaruh penggunaan selter yang berbeda terhadap respons stres dan kinerja produksi sehingga dapat menentukan jenis selter yang tepat untuk pendederan lobster air tawar Cherax quadricarinatus. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan empat perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan pada penelitian ini adalah penggunaan selter yang berbeda yakni pipa PVC, roster (ventilasi blok), tali rafia, dan tanpa selter (kontrol). Benih lobster air tawar yang digunakan memiliki bobot rata-rata awal berkisar antara 0,60±0,09-0,64±0,02 g dan panjang total rata-rata awal berkisar antara 2,55±0,06-2,61±0,03 cm yang dipelihara dalam sistem resirkulasi selama 60 hari. Perlakuan dengan penggunaan selter ataupun tanpa selter (kontrol) tidak memberikan pengaruh signifikan (P>0,05) terhadap respons stres, namun memberikan pengaruh signifikan (P<0,05) pada kinerja produksi benih lobster air tawar di akhir penelitian. Perlakuan terbaik pada penelitian ini adalah penggunaan selter tali rafia dengan kadar glukosa sebesar 101,00±17,35 mg/dL; protein total sebesar 5,00±0,36 g/dL; sintasan sebesar 86,67± 0,00%; bobot rata-rata akhir sebesar 2,86-3,46 g; panjang total rata-rata akhir sebesar 4,47-5,08 cm; laju pertumbuhan bobot spesifik sebesar 2,92±0,21%/hari; laju pertumbuhan panjang spesifik sebesar 1,15±0,08%/hari; rasio konversi pakan sebesar 2,97±0,05; dan biomassa total sebesar 45,02±1,10 g. Penggunaan tali rafia sebagai selter menjadi perlakuan yang terbaik karena kemampuan tali rafia memisahkan banyak individu sehingga dapat mengurangi kanibalisme dengan cara meminimalkan kontak antarbenih lobster air tawar.The low survival rate in seed production of freshwater crayfish is mainly caused by the territorial behavior of freshwater crayfish which leads to aggressiveness and cannibalism behavior even at a young age. This research aimed to determine the effect of using different nursery shelters on stress responses and production performance of freshwater crayfish Cherax quadricarinatus. This research used a completely randomized design consisted of four treatments, each with triplicate. The treatments used were different shelters made from PVC pipes, ventilation blocks, raffia ropes, and no shelters as controls. The freshwater crayfish seeds had initial weights ranged from 0.60±0.09-0.64±0.02 g, and total length ranged from 2.55±0.06-2.61±0.03 and reared in a recirculation system for 60 days. The results of the research showed that all treatments including controls did not have a significant effect (P>0.05) on stress responses but had a significant effect (P<0.05) on the production performance of freshwater crayfish seed at the end of this research. The seeds reared with raffia ropes shelter had the best production performance indicated by its glucose level of 101.00±17.35 mg dL1, total protein level of 5.00±0.36 g dL1, survival rate of 86.67 ± 0.00%, final average weight of 3.46 ± 0.08 g, final average total length of 5.08 ± 0.12 cm, specific weight growth rate of 2.92±0.21% per day, specific length growth rate of 1.15± 0.08% per day, feed conversion ratio of 2.97±0.05, and total biomass of 45.02±1.10 g. The use of raffia ropes is considered as the best shelter for freshwater crayfish seed as it provides more space to separate individual seeds which can reduce cannibalism behaviour due to minimum contact between individual seeds.
RESPONS SELEKSI INDIVIDU KARAKTER PERTUMBUHAN POPULASI F-0 IKAN MAS STRAIN RAJADANU Ariyanto, Didik; Hayuningtyas, Erma Primanita; Syahputra, Khairul
Jurnal Riset Akuakultur Vol 9, No 3 (2014): (Desember 2014)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (96.566 KB) | DOI: 10.15578/jra.9.3.2014.353-361

Abstract

Program pembentukan varietas unggul ikan mas tahan penyakit khususnya koi herpesvirus (KHV) dilakukan untuk mengatasi penyakit yang mewabah sejak tahun 2002. Hasil evaluasi awal program tersebut menunjukkan bahwa ikan mas strain Rajadanu dari Kabupaten Kuningan, Jawa Barat mempunyai daya tahan terhadap penyakit KHV lebih baik dibandingkan strain lainnya. Namun demikian, hasil evaluasi pada populasi F-0 ikan mas tahan penyakit, yang diindikasikan dengan marka molekuler major histocompatibility complex (MHC) II terkait daya tahan terhadap penyakit, mempunyai laju pertumbuhan relatif lebih lambat. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, dilakukan kegiatan seleksi individu karakter pertumbuhan pada populasi F-0 ikan mas strain Rajadanu yang mempunyai marka MHC. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi respons seleksi individu karakter pertumbuhan pada populasi F-0 ikan mas strain Rajadanu terhadap keragaan pertumbuhan benih F-1. Benih F-1 dari induk terseleksi dan kontrol berumur tiga bulan dengan bobot individu 10-15 gdipelihara di kolam pembesaran ukuran 50 m2 dengan kepadatan 10 ekor/m2. Pakan komersial berbentuk pelet dengan kandungan protein kasar 28% diberikan sebanyak 10%; 7,5%; 5%; dan 2,5% dari total biomassa ikan per hari pada bulan pertama, kedua, ketiga, dan keempat. Pakan diberikan dua kali sehari setiap pagi dan sore. Sampling bobot rata-rata individu dilakukan setiap bulan hingga akhir bulan keempat. Selain sampling bobot, pada akhir bulan keempat juga dilakukan penghitungan jumlah individu yang hidup untuk menganalisis nilai sintasan dan biomassa panen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa selisih bobot rata-rata individu populasi F-1 hasil seleksi dengan kontrol sebesar 17,84 g atau setara dengan respons seleksi sebesar 7,29%. Nilai heritabilitas nyata karakter pertumbuhan populasi ikan mas strain Rajadanu dalam penelitian ini termasuk kategori rendah, sebesar 0,06.
PENENTUAN LOKASI PENGEMBANGAN BUDIDAYA TAMBAK BERKELANJUTAN DENGAN APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DI KABUPATEN LAMPUNG SELATAN Utojo, Utojo; Mustafa, Akhmad; Rachmansyah, Rachmansyah; Hasnawi, Hasnawi
Jurnal Riset Akuakultur Vol 4, No 3 (2009): (Desember 2009)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1001.571 KB) | DOI: 10.15578/jra.4.3.2009.407-423

Abstract

Penelitian ini memanfaatkan teknologi Sistem Informasi Geografi (SIG) untuk menentukan lokasi yang layak bagi pengembangan budidaya tambak di Kabupaten Lampung Selatan. Data sekunder yang diperoleh berupa data iklim, peta Rupa Bumi Indonesia kawasan Lampung Selatan skala 1:50.000, citra digital landsat-7 ETM+ dan peta batimetri skala 1:200.000. Data primer diperoleh dengan metode survai di lokasi penelitian yaitu kondisi kualitas perairan, kualitas air, dan pasang surut. Penentuan stasiun pengamatan dilakukan secara acak dan sistematik. Setiap lokasi pengambilan contoh ditentukan posisi koordinatnya dengan alat Global Positioning System (GPS). Data lapangan (fisika-kimia perairan), data sekunder, dan data citra satelit (Landsat ETM+) digital, dianalisis secara spasial dengan metode PATTERN menggunakan Sistem Informasi Geografi (SIG). Berdasarkan hasil survai dan evaluasi kelayakan budidaya tambak udang di wilayah pesisir Lampung Selatan seluas 4.052,3 ha. Pada umumnya yang memiliki tingkat kelayakan tinggi (1.223,1 ha), sedang (2.065,4 ha), dan rendah (763,8 ha) tersebar di wilayah pesisir Kecamatan Sragi, Ketapang, dan Panengahan, sedangkan sebagian kecil terdapat di Kecamatan Kalianda, Sidomulyo, dan Katibung, serta lokasi yang tidak layak berupa perbukitan, masing-masing dituangkan dalam peta prospektif skala 1:50.000.This research used GIS technique to find location suitable to develop sustainable brackishwater pond culture in South Lampung Regency. Secondary data such as weather data, Indonesia earth surface map of South Lampung area scale of 1:50,000, landsat-7ETM digital imagery, and navigation map scaled 1:200,000. Primary data (water quality) and tide were collected using survey method. Simple systematic random sampling was used to allocate sampling points. Digital Remote sensing (Landsat ETM+) data, secondary data, and field data (water quality) were analyzed using PATTERN method and Geographic Information System (GIS). Tematic map of area suitability as the main expected output of the study was created through spatial analysis and GIS as suggested by reference. The potential areas which are suitable for shrimp brackishwater pond culture development in South Lampung Regency are 4,052.3 ha, consisting of high suitability area (1,223.1 ha), moderate (2,065.4 ha), and low (763.8 ha) and are distributed in the coastline areas of Subdistrict of Sragi, This research used GIS technique to find location suitable to develop sustainable brackishwater pond culture in South Lampung Regency. Secondary data such as weather data, Indonesia earth surface map of South Lampung area scale of 1:50,000, landsat-7ETM digital imagery, and navigation map scaled 1:200,000. Primary data (water quality) and tide were collected using survey method. Simple systematic random sampling was used to allocate sampling points. Digital Remote sensing (Landsat ETM+) data, secondary data, and field data (water quality) were analyzed using PATTERN method and Geographic Information System (GIS). Tematic map of area suitability as the main expected output of the study was created through spatial analysis and GIS as suggested by reference. The potential areas which are suitable for shrimp brackishwater pond culture development in South Lampung Regency are 4,052.3 ha, consisting of high suitability area (1,223.1 ha), moderate (2,065.4 ha), and low (763.8 ha) and are distributed in the coastline areas of Subdistrict of Sragi, 
RESPONS IMUN UDANG WINDU Penaeus monodon TERHADAP VAKSIN dsRNA VP-24 PADA DOSIS BERBEDA Mulyaningrum, Sri Redjeki Hesti; Parenrengi, Andi; Tampangallo, Bunga Rante; Trismawanti, Ike
Jurnal Riset Akuakultur Vol 13, No 1 (2018): (Maret 2018)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (463.845 KB) | DOI: 10.15578/jra.13.1.2018.77-84

Abstract

Peningkatan produksi udang windu Penaeus monodon terus diupayakan, salah satunya dengan peningkatan respons imun udang terhadap infeksi penyakit WSSV. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respons imun udang terhadap pemberian vaksin dsRNA VP-24 pada berbagai dosis. Konstruksi vaksin dsRNA VP-24 dilakukan menggunakan Megascript kit dengan DNA genom VP-24 sebagai template. Vaksinasi dilakukan dengan metode injeksi pada udang windu yang berukuran rata-rata 15,88 ± 3,50 g; dosis vaksin yang diujikan adalah 0,02 µg; 0,2 µg; 2 µg; dan sebagai kontrol adalah udang yang tidak diberi vaksin. Penelitian terdiri atas empat perlakuan dosis vaksin dengan masing-masing dua ulangan dan dipelihara selama lima hari. Uji tantang dilakukan selama enam hari dengan menginjeksi virus WSSV dalam saline solution (1:3 v/v). Pengamatan terhadap sintasan udang windu dilakukan setiap hari, sedangkan penghitungan total hemocyte (THC) dan ProPO diamati pada hari I, III, dan VI setelah diinfeksi WSSV. Pada akhir pengujian dilakukan pengambilan jaringan hepatopankreas untuk analisis histopatologi. Analisis data dilakukan secara statistik dengan analisis ragam (ANOVA). Hasil yang diperoleh memperlihatkan bahwa injeksi vaksin dsRNA VP-24 dengan dosis 0,2 µg memiliki pengaruh yang signifikan terhadap sintasan dan respons imun udang windu (P<0,05). Vaksin dsRNA VP-24 dengan dosis 0,2 µg mampu memberikan sintasan udang windu P. monodon sebesar 65% dan meningkatkan respons imun udang dengan THC (1.550 x 10t sel/mL) dan ProPO (0,042 Abs).One of the efforts to increase the production of tiger shrimp Penaeus monodon is increasing the immune response against WSSV disease. This study aims to evaluate shrimp immune response to dsRNA VP-24 vaccination at various doses. The construction of dsRNA VP-24 vaccine was performed using Megascript kit with the VP-24 DNA genome as a template. The vaccination was done by injection method on shrimp sized 15.88 ± 3.50 g. The tested vaccine doses (treatments) were 0.02 ¼g; 0.2 ¼g; 2 ¼g; and unvaccinated shrimp as the control. The study consisted of four treatments of vaccine doses with two replicates for each treatment. The challenge test was performed by injecting the WSSV virus in saline solution (1:3 v/v). The observation on shrimp survival rate was done daily, while the total hemocyte count (THC) and ProPO observation were performed on the 1st day, 3rd day, and 6th day after WSSV infection. At the end of the experiment, samplings of hepatopancreas for analysis were performed. Data were statistically analyzed using ANOVA. The present study indicated that the injection of 0.2 ¼ g dsRNA VP-24 vaccine had a significant effect on the survival rate and immune response of shrimp (P<0.05). The dose of 0.2 ¼g dsRNA VP-24 had resulted in 65% of survival rate and increased immune response of P. monodon with THC (1,550 x 10t cell/mL) and ProPO (0.042 Abs).
TOKSISITAS PROTEIN 89 kDa PRODUK EKSTRASELULER Streptococcus agalactiae PADA IKAN NILA (Oreochromis niloticus) Amrullah, Amrullah; Sukenda, Sukenda; Harris, Enang; Alimuddin, Alimuddin; Lusiastuti, Angela Mariana
Jurnal Riset Akuakultur Vol 10, No 3 (2015): (September 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (598.612 KB) | DOI: 10.15578/jra.10.3.2015.397-403

Abstract

Identifikasi protein toksin yang bersifat antigenik dari produk ekstraselular (ECP) crude Streptococcus agalactiae penting dilakukan untuk pengembangan vaksin protein toksoid. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi toksisitas protein dengan berat molekul 89 kDa dari ECP Streptococcus agalactiae hasil fraksinasi dengan SDS-PAGE (ECPP89). Ikan nila dengan bobot sekitar 25 g masing-masing diinjeksi secara intraperitonial dengan protein ECPP89 dosis 1, 2, 4, 8, dan 16 μg/mL/ekor ikan (secara berturut-turut diberi kode ECPP89-1, ECPP89-2, ECPP89-4, ECPP89-8, dan ECPP89-16). Sebagai kontrol positif ikan diinjeksi dengan bakteri utuh S. agalactiae 1 x 104 cfu/mL (WCB) dan ECP crude S. agalactiae (ECPC), sementara kontrol negatif ikan diinjeksi larutan PBS. Ikan dipelihara selama 15 hari dengan kepadatan 10 ekor (70 L air). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan nila yang diinjeksi dengan ECPP89 mengalami gejala seperti perubahan morfologi, perubahan nafsu makan, dan perubahan renang ikan. Mortalitas pada perlakuan ECPP89 secara umum lebih tinggi dibandingkan dengan ECPC, namun lebih rendah (p<0,05) dibandingkan dengan WCB. Mortalitas ikan pada perlakuan ECPP89-4, ECPP89-8, dan ECPP89-16 tidak berbeda tetapi secara signifikan lebih tinggi dibandingkan dengan ECPC dan dua dosis perlakuan ECPP89 lainnya (p<0,05). Ikan kontrol negatif tidak mengalami kematian maupun perubahan klinis. Hasil ini menunjukkan bahwa ECPP89 merupakan protein toksin dari ECP S. agalactiae.
RESPONS PERTUMBUHAN DAN KERAGAAN DARAH DARI TIGA STRAIN IKAN NILA TERHADAP PEMBERIAN HORMON PERTUMBUHAN REKOMBINAN IKAN KERAPU KERTANG Listiyowati, Nunuk; Alimuddin, Alimuddin; Sukenda, Sukenda; Setyawan, Priadi
Jurnal Riset Akuakultur Vol 10, No 4 (2015): (Desember 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (578.867 KB) | DOI: 10.15578/jra.10.4.2015.481-492

Abstract

Berbagai strain ikan nila sudah berhasil dibudidayakan di Indonesia. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi penambahan hormon pertumbuhan rekombinan ikan kerapu kertang, Epinephelus lanceolatus (rElGH) dalam pakan terhadap performa pertumbuhan dan imunitas tiga strain ikan nila terhadap infeksi bakteri Streptococcus agalactiae. Tiga strain nila yang digunakan adalah strain nila biru (hasil pemuliaan di Sukamandi), srikandi (toleran salinitas tinggi dari Sukamandi) dan nirwana (hasil pemuliaan di Wanayasa)dengan kisaran rerata bobot 0,24-0,4 g/ekor dan panjang standar 1,9-2,27 cm/ekor. Ikan dipelihara dalam bak fiber bulat kapasitas 1,5 ton air sebanyak sembilan buah selama 50 hari, dengan padat tebar 200 ekor/bak. Pakan mengandung rElGH dosis 2 mg/kg pakan diberikan dua hari sekali, selama dua minggu dengan frekuensi tiga kali sehari (pagi, siang, dan sore) secara at satiation (sampai kenyang). Hasil penelitian menunjukkan ikan yang diberi rElGH memiliki pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan kontrol, kecuali nila biru. Pertumbuhan terbaik terdapat pada nila srikandi dengan bobot 6,08 ± 1,26 g; laju pertumbuhan harian 0,12 ± 0,03 g/hari dan panjang standar 5,5 ± 0,63 cm. Ikan nila yang mendapatkan perlakuan rElGH pada pakan menunjukkan ketahanan tubuh yang berbeda ketika diuji tantang dengan bakteri S. agalactiae. Ikan nila nirwana memiliki jumlah kematian yang paling sedikit P<0,05) dibandingkan dengan ikan nila srikandi dan nila biru terhadap infeksi S. agalactiae. Nilai MTD ikan nila nirwana perlakuan rElGH dan kontrol adalah 174,3 jam dan 217,7 jam. Hasil pengamatan uji tantang menunjukkan bahwa tidak ada yang berbeda dalam parameter hematologi. Sebagai kesimpulan, strain ikan nila sangat memengaruhi efektivitas pemberian rElGH dalam memacu pertumbuhan dan imunitasnya.
KAJIAN BIOREPRODUKSI DAN KOMPOSISI PROKSIMAT DAGING IKAN TUNA SIRIP KUNING (Thunnus albacares) DARI BEBERAPA PERAIRAN DI INDONESIA Hutapea, Jhon Harianto; Andamari, Retno; Giri, I Nyoman Adiasmara; Permana, Gusti Ngurah
Jurnal Riset Akuakultur Vol 1, No 3 (2006): (Desember 2006)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1562.994 KB) | DOI: 10.15578/jra.1.3.2006.325-336

Abstract

KAJIAN BIOREPRODUKSI DAN KOMPOSISI PROKSIMAT DAGING IKAN TUNA SIRIP KUNING (Thunnus albacares) DARI BEBERAPA PERAIRAN DI INDONESIA
EFEKTIVITAS MINERAL KALSIUM TERHADAP PERTUMBUHAN YUWANA UDANG GALAH (Macrobrachium rosenbergii) Hadie, Lies Emmawati; Hadie, Wartono; Prihadi, Tri Heru
Jurnal Riset Akuakultur Vol 4, No 1 (2009): (April 2009)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (102.2 KB) | DOI: 10.15578/jra.4.1.2009.65-72

Abstract

Pertumbuhan udang galah dibatasi oleh kulitnya yang bersifat tidak elastis, karena terdiri atas khitin. Agar udang galah tumbuh dengan baik, maka harus ada unsur mineral dalam pakannya. Salah satu mineral yang bersifat esensial adalah mineral kalsium. Kalsium mempunyai fungsi dalam pembentukan tulang, jaringan lunak, proses regulasi dalam tubuh, dan menjaga keseimbangan asam basa. Oleh karena peran penting dari kalsium tersebut, maka dilakukan penelitian mengenai efek mineral kalsium dalam ransum pakan udang galah terhadap pertumbuhannya. Hewan uji yang digunakan pada penelitian ini adalah yuwana udang galah dengan kisaran bobot 56,0 ± 3,0 mg. Rancangan penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan perlakuan yang diterapkan adalah kalsium 1,0%; 3,0%; 5,0%; 7,0%; dan 0,0% sebagai kontrol. Setiap perlakuan mendapat 3 ulangan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kadar kalsium dalam ransum pakan sangat mempengaruhi laju pertumbuhan harian udang galah (P<0,05). Kadar kalsium yang optimal dalam ransum pakan udang galah adalah sebesar 3,46%.The growth of giant prawn is limited by a non elastic material called chitin, which is a limiting factor in its growth. Feed containing mineral is needed to improve its growth. One of the essential minerals is calcium. The function of calcium is essential in bone and soft tissue formations, acid balancing, and regulation processes in the body. Because of its benefits, the research on the calcium effect on giant prawn was conducted. The aims of this study was to know the effect of calcium on the growth rate of giant prawn juvenile. Test animals were juveniles of giant prawn with average weight of 56.0 ± 3.0 mg. Research design employed complete randomized design with five calcium mineral treatments as follows:1.0%, 3.0%, 5.0%, 7.0%, and 0.0% as control. Each treatment has three replications. The result showed that calcium affected the daily growth rate of giant prawn (P<0.05). The calcium dosage of 3.46% is the optimum level for giant prawn juvenile.
APLIKASI PUPUK BERIMBANG TERHADAP PERTUMBUHAN RUMPUT LAUT, Gracilaria verrucosa Di Tambak Tanah Sulfat Masam Pantjara, Brata; Sahib, Muhammad
Jurnal Riset Akuakultur Vol 3, No 2 (2008): (Agustus 2008)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (845.998 KB) | DOI: 10.15578/jra.3.2.2008.225-232

Abstract

Salah satu faktor lingkungan yang mempengaruhi produksi rumput laut, Gracilaria verrucosa adalah kualitas tanah. Rumput laut jenis ini banyak dibudidayakan di tambak tanah sulfat masam yang tergolong tanah dengan kesuburan rendah. Oleh karena itu, dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui imbangan dosis pupuk yang optimal untuk pertumbuhan rumput laut di tambak tanah sulfat masam. Penelitian dilakukan di Desa Lampuara Kecamatan Ponrang Kabupaten Luwu. Penentuan dosis pupuk dan frekuensi aplikasi mengacu pada penelitian pendahuluan skala laboratorium. Perlakuan dalam penelitian ini adalah perbandingan pupuk urea dan SP-36, masing-masing secara berurutan adalah 150 dan 0 kg/ha (A); 112,5 dan 37,5 kg/ha (B); 75 dan 75 kg/ha (C); 37,5 dan 112,5 kg/ha (D); 0 dan150 kg/ha dan tanpa pupuk (E). Bibit rumput laut ditebar dengan kepadatan 2 ton/ha dan dipelihara selama 60 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan yang dicobakan memberikan pengaruh yang signifikan (P<0,05) terhadap rumput laut basah, di mana produksi tertinggi didapatkan pada perlakuan B dan C yaitu 2.090 g/m2 (20,9 ton/ha) dan 1.986,7 g/m2 (19,9 ton/ha) selama 60 hari dengan laju pertumbuhan harian (LPH) sebesar 6,97% dan 6,62% per hari.One of the environment factors that influences seaweed, Gracilaria verrucosa production is soil quality. This seaweed is commonly cultured in acid sulphate-affected soil ponds that is classified as a soil with low fertility. The objective of the research was to know the optimum fertilizer dosage for seaweed growth in acid sulphate-affected soil ponds. The research was conducted in Lampuara Village Ponrang Sub-district Luwu Regency. Dosages and frequencies of fertilizer were determined by referring to a preliminary research in the laboratory. The treatments of this research were using Urea and SP-36 fertilizers with composition of 150 and 0 kg/ha (A); 112.5 and 37.5 kg/ha (B); 75 and 75 kg/ha (C); 37.5 and 112.5 kg/ha (D); 0 and 150 kg/ha and without fertilizer (E), respectively. Seeds of seaweed were stocked with densities of 2 ton/ha. The result of the research showed that the treatments were significantly different (P<0.05) on effecting the seaweed production, where the highest production were found in B and C treatments, i.e. 2,090 g/m2 (20.9 ton/ha) and 1,986.7 g/m2 (19.9 ton/ha) for 60 days with daily growth rate of 6.97% and 6.62%.
PEMELIHARAAN BENIH IKAN BALASHARK ( Balantiocheilus melanopterus ) DENGAN PENINGKATAN KESUBURAN KOLAM Insan, Irsyaphiani
Jurnal Riset Akuakultur Vol 6, No 3 (2011): (Desember 2011)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (74.807 KB) | DOI: 10.15578/jra.6.3.2011.413-423

Abstract

Domestikasi ikan balashark telah berhasil dilakukan tapi masih ada permasalahan pada stadia awal benih yaitu tingkat kematian yang masih tinggi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui  penampilan  benih ikan balashark yang dipelihara di kolam melalui peningkatan kesuburan dengan cara pemupukan. Benih balashark yang digunakan ukuran 120 mg (usia 24 hari) dipelihara dalam hapa ukuran 2 m x 2 m x 1 m yang diletakkan di kolam tanah ukuran 50 m dengan padat tebar 225 ekor/hapa. Perlakuan berupa penyuburan kolam dengan pemupukan yang berbeda yaitu tanpa pemupukan, pemupukan dengan kotoran ayam 800 g/m2, pupuk organik cair 2 mL/m2 dan pupuk komersial 1 g/m2 serta setiap perlakuan diulang tiga kali. Parameter yang diamati meliputi kelimpahan plankton dan plankton di dalam usus ikan dilakukan setiap dua hari sekali. Sedangkan pertumbuhan dan sintasan dilakukan setiap 10 hari sekali. Rancangan penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap. Penelitian dilaksanakan selama 40 hari. Hasil penelitian menunjukkan kelimpahan plankton tertinggi dijumpai pada perlakuan pemupukan kotoran ayam yaitu 88 spesies fitoplankton dan 26 spesies zooplankton. Sedangkan plankton yang paling banyak ditemukan dalam usus ikan adalah dari kelas Chlorophyceae dan Crustacea. Pertumbuhan (panjang dan bobot mutlak) pada perlakuan pemupukan kotoran ayam menunjukkan hasil yang nyata lebih tinggi (P<0,05), sedangkan sintasan pada semua perlakuan tidak menunjukkan hasil yang berbeda (P>0,05).

Page 1 of 46 | Total Record : 459


Filter by Year

2006 2018


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 4 (2018): (Desember 2018) Vol 13, No 3 (2018): (September 2018) Vol 13, No 2 (2018): (Juni, 2018) Vol 13, No 1 (2018): (Maret 2018) Vol 12, No 4 (2017): (Desember 2017) Vol 12, No 3 (2017): (September 2017) Vol 12, No 2 (2017): (Juni 2017) Vol 12, No 1 (2017): (Maret 2017) Vol 11, No 4 (2016): (Desember 2016) Vol 11, No 3 (2016): (September 2016) Vol 11, No 2 (2016): (Juni 2016) Vol 11, No 1 (2016): (Maret 2016) Vol 10, No 4 (2015): (Desember 2015) Vol 10, No 3 (2015): (September 2015) Vol 10, No 2 (2015): (Juni 2015) Vol 10, No 1 (2015): (Maret 2015) Vol 9, No 3 (2014): (Desember 2014) Vol 9, No 2 (2014): (Agustus 2014) Vol 9, No 1 (2014): (April 2014) Vol 8, No 3 (2013): (Desember 2013) Vol 8, No 2 (2013): (Agustus 2013) Vol 8, No 1 (2013): (April 2013) Vol 7, No 3 (2012): (Desember 2012) Vol 7, No 2 (2012): (Agustus 2012) Vol 7, No 1 (2012): (April 2012) Vol 6, No 3 (2011): (Desember 2011) Vol 6, No 2 (2011): (Agustus 2011) Vol 6, No 1 (2011): (April 2011) Vol 5, No 3 (2010): (Desember 2010) Vol 5, No 2 (2010): (Agustus 2010) Vol 5, No 1 (2010): (April 2010) Vol 4, No 3 (2009): (Desember 2009) Vol 4, No 2 (2009): (Agustus 2009) Vol 4, No 1 (2009): (April 2009) Vol 3, No 3 (2008): (Desember 2008) Vol 3, No 2 (2008): (Agustus 2008) Vol 3, No 1 (2008): (April 2008) Vol 2, No 3 (2007): (Desember 2007) Vol 2, No 2 (2007): (Agustus 2007) Vol 2, No 1 (2007): (April 2007) Vol 1, No 3 (2006): (Desember 2006) Vol 1, No 2 (2006): (Agustus 2006) Vol 1, No 1 (2006): (April 2006) More Issue