Master Bahasa
ISSN : 23374462     EISSN : -
Articles
40
Articles
Ragam Bahasa Aceh Masyarakat Nelayan Kecamatan Meureudu Kabupaten Pidie Jaya

Nurlaili, Nurlaili

Master Bahasa Vol 6, No 3 (2018)
Publisher : Master Bahasa

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (265.145 KB)

Abstract

Penelitian ini didasarkan oleh adanya fenomena bahasa Aceh yang digunakan oleh sekelompok masyarakat yang berprofesi sebagai nelayan di Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya. Masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana ragam bahasa Aceh yang digunakan oleh para nelayan di pantai Meureudu Kabupaten Pidie Jaya? Tujuan penelitian untuk Mendeskripsikan ragam bahasa Aceh yang digunakan oleh para nelayan pantai Meureudu Kabupaten Pidie Jaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu teknik observasi dan wawancara. Hasil penelitian yang diperoleh bahwa ragam bahasa Aceh yang terdapat pada masyarakat tutur yang berprofesi sebagai nelayan meliputi variasi bahasa ragam usaha, variasi bahasa ragam akrab, dan variasi bahasa ragam santai. Selain itu, karakteristik bahasa Aceh pada masyrakat nelayan meliputi tiga aspek kosakata yaitu kata kerja, kata benda, dan kata sifat. Pada kata kerja diperoleh ragam bahasa seperti kata meubhoi dan laboh. Pada kata sifat, ragam bahasa ditandai dengan penggunaan kata seperti puteh. Selanjutnya, ragam bahasa masyarakat nelayan juga ditandai penggunaan kata-kata seperti aneuk itek, aset, rawe, sotong, beureuneh, pawang, that luah engkot, saoh, tukang bate ame-ame, tong rensip, boh pisang, kawe bhom, kawe bhom, dan kawe limbang. Keseluruhan bentuk-bentuk tersebut merupakan penanda bahwa bahasa Aceh yang digunakan oleh masyarakat nelayan di Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidi Jaya memiliki ragam tersendiri ketika berkomunikasi, khususnya ketika berkomunikasi dengan sesama anggota masyarakat yang berprofesi sebagai nelayan dan ragam tersebut juga dapat diketahui ketika berkomunikasi dalam konteks atau situasi tutur tertentu.

Onomatope dalam Komik Indonesia Online

Diana, Vitra

Master Bahasa Vol 6, No 3 (2018)
Publisher : Master Bahasa

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Topik penelitian ini adalah onomatope dalam komik Indonesia online. Aspek yang dikaji adalah (1) jenis onomatope, (2) makna onomatope, dan (3) struktur onomatope. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data kajian pustaka. Data penelitian ini bersumber pada lima komik Indonesia online, yaitu Tomato Complex, Terjebak Nostalgia, Haunting Squad, Dropout Classroom, dan Underground Soccer League. Hasil penelitian ini berupa jenis, makna, dan struktur onomatope di dalam komik Indonesia online. Onomatope primer meliputi (1) suara benda berupa suara benda padat dan suara benda cair, (2) suara binatang berupa suara harimau, suara kucing, suara serigala, dan suara burung, dan (3) suara manusia, yaitu segala bunyi yang dihasilkan dari suara-suara manusia yang berupa ungkapan-ungkapan yang menerangkan suatu maksud dari kejadian yang sedang terjadi, suara tertawa, teriakan, tangisan. Onomatope sekunder meliputi (1) suara gerakan berupa gerakan anggota badan yang tidak menimbulkan suara, seperti gerakan tangan mengelus kepala, menggelengkan kepala, menggoyangkan kaki, dan gerakan mengedipkan mata, (2) suara emosi yang berasal dari perasaan atau reaksi yang ditujukan kepada seseorang atau kejadian, suara kaget, suara gugup, suara terkejut, suara kesal, suara merinding, suara marah, suara ketakutan, suara kecewa. Selanjutnya, makna onomatope di dalam komik Indonesia online meliputi (1) makna konseptual dan (2) makna kontekstual. Onomatope yang mengandung makna konseptual deg, cur, bruk, cit memiliki makna yang sama di dalam kamus, sedangkan onomatope yang mengandung makna kontekstual plak, gruduk, plash, tep, glundung memiliki makna di dalam konteks. Struktur onomatope meliputi (1) monosilabel terbuka berpola V, KV, dan KKV dan tertutup berpola KVK, VKK, VKKK, KKVK, KVKK, dan KKVKK, (2) bisilabel terbuka berpola V-V dan KV-V dan tertutup berpola KKV-VK, VK-VK, KV-VK, KKV-KVK, KV-KVK, KKV-VK, dan KVK-KVK, dan (3) multisilabel terbuka berpola KKV-KV-KV-KV-KV dan KV-KV-KV dan tertutup KVK-KVK-KVK. Berdasarkan hasil penelitian, disimpulkan bahwa onomatope di dalam komik Indonesia online berbentuk monosilabel tertutup yang bermakna kontekstual.

Perlawanan dalam Novel Berlatar Konflik Aceh

Rizki, Azrul

Master Bahasa Vol 6, No 3 (2018)
Publisher : Master Bahasa

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (316.606 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan perlawanan yang terdapat dalam novel berlatar konflik Aceh yaitu perlawanan sosial dan kultural. Sumber data dalam penelitian ini adalah tiga novel berlatar konflik Aceh yaitu Teuntra Atom (2009) karya Thayeb Loh Angen, Kabut Perang (2010) karya Ayi Jufridar, dan Tanah Surga Merah (2016) karya Arafat Nur. Data dalam penelitian ini adalah kata, frasa, kalimat dan paragraf yang mengandung perihal perlawanan di dalamnya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini deskriptif kualitatif. Pengumpulan data digunakan metode dokumentasi. Hasil penelitian menyatakan bahwa ketiga novel memiliki perlawanan yang berhubungan sosiokultural di dalamnya. Perlawanan Kultural yang terdapat dalam tiga novel berjumlah 11 jenis yaitu (1) arsitek barat, (2) kawin campur, (3) penghinaan terhadap orang tua, (4) mengatur orang tua, dan (5) tarian adat, (6) menjaga kehormatan dan (7) berciuman (8) bermesra-mesraan, (9) telat menikah, (10) rajah dan (11) peusijuek. Perlawanan Sosial yang terdapat dalam tiga novel yang dikaji berjumlah 12 jenis yaitu (1) penurunan bendera negara, (2) memerangi narkoba, (3) korupsi, dan (4) nepotisme, (5) pungli, (6) menolak kebangsaan, (7) kemanusiaan, dan (8) menolak berbohong, (9) politik praktis, (10) literasi, (11) melawan kebodohan, dan (12) membantu perlawanan.

Ekranisasi Novel Assalamualaikum Beijing ke dalam Film Assalamualaikum Beijing

Armiati, Yenni

Master Bahasa Vol 6, No 3 (2018)
Publisher : Master Bahasa

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (297.325 KB)

Abstract

Penelitian ini berjudul “Ekranisasi Novel Assalamualaikum Beijing ke dalam film Assalamualaikum Beijing. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penciutan dan penambahan pada tokoh, alur, dan latar dari novel ke film. Sumber data dalam penelitian ini adalah novel karya Asma Nadia dan film yang disutradarai oleh Guntur Soeharjanto. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik dokumentasi.Penelitian ini menggunakan penelitian deskripsi dengan menganalisis novel dan film.Dilihat dari segi penelitian menunjukkan bahwa (1)pada novel Assalamualaikum Beijing tidak disebutkan tokoh pak Danil, paman Zhongween dan istrinya. Film terjadinya pengurangan tokoh Bayu, (2) pada alur tahap awal novel dan film terjadinya perbedaan alur pembuka, novel menggunakan alur campuran, sedangkan film menggunakan alur maju, alur  dan pada tahap akhir cerita menunjukkan bahwa terjadinya beberapa pengurangan adegan pada film, (3) pada novel tidak mengalami pengurangan maupun penambahan latar waktu, tempat, dan sosial sedangkan pada film terjadi pengurangan latar tempat yaitu, Borobudur, halte, dan kampus tidak ditampilkan di dalam film. Simpulan penelitian ini adalah terdapat pengurangan dan penambahan yang terjadi antara novel dan film Assalamualaikum Beijing.

Analisis Komparatif Antara Bahasa Jamee Perantauan di Banda Aceh dan Bahasa Minangkabau Bukittinggi Perantauan di Takengon

Erwandi, Novia

Master Bahasa Vol 6, No 3 (2018)
Publisher : Master Bahasa

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (443.004 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan fonologi, leksikal, morfologi, dan struktur sintaksis antara bahasa Jamee dan bahasa Minangkabau Bukittinggi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sumber data dalam penelitian ini adalah 5 orang penutur bahasa Jamee  dan 5 orang penutur bahasa Minangkabau Bukittingi. Penganalisisan data dengan cara seleksi data, klasifikasi data, dan penyajian data. Hasil penelitian menyatakan bahwa terdapat perbedaan fonologi, yaitu sistem vokal bahasa Jamee terdapat /ɛ/ dan /ɔ/, sedangkan sistem vokal bahasa Minangkabau Bukittinggi /a/ dan sistem konsonan bahasa Jamee /ɣ/ atau /R/, sedangkan bahasa Minangkabau Bukittinggi /r/, kemudian perbedaan pengucapan di antaranya vokal tunggal, misalnya makɛn, bɔRa dalam bahasa Jamee dan makan, bara dalam bahasa Minangkabau Bukittingi, vokal rangkap, misalnya ukue, jungkie, bacukui dalam bahasa Jamee, sedangkan ukua, jungkia, bacukua dalam bahasa Minangkabau Bukittinggi dan konsonan saRɛwa, kaReh dalam bahasa Jamee dan sarawa, kareh dalam bahasa Minangkabau  Bukittinggi. Selanjutnya, perbedaan leksikal, misalnya labang, ujɛn dalam bahasa Jamee dan paku, hujan dalam bahasa Minangkabau Bukittinggi dengan jumlah perbedaan leksikal keseluruhnya 190 data. Perbedaan tersebut terdiri atas kata benda, kata sifat, kata kerja, dan kata keterangan, kemudian Perbedaan morfologi dimulai dari afiksasi. Untuk afiksasi perbedaan terletak pada sisipan (infiks) -al-, -ar- dalam bahasa Jamee dan -am-, -um- dalam bahasa Minangkabau Bukittinggi, akhiran (sufiks) –en, -ken dalam bahasa Jamee, sedangkan -kan, dalam bahasa Minangkabau Bukittinggi dan awal-akhir (konfiks) me-ken, me-en, sedangkan ma-kan, ma-an dalam bahasa Minangkabau Bukittinggi, kecuali prefiks, prefiks kedua bahasa memiliki kesamaan. Perbedaan klasifikasi kata terletak pada verba 33 kosakata, misalnya mahaRek, maangendalam bahasa Jamee, sedangkan manguduah, manyabik bahasa Minangkabau  Bukittinggi, nomina 87 kosakata, misalnya apom, musola  dalam bahasa Jamee sarabi, surau bahasa Minangkabau Bukittinggi adjektiva 27 kosakata, misalnya batat, ingetdalam bahasa Jamee, sedangkan karengkah, takana bahasa Minangkabau Bukittinggi numerelia 14, kosakata, misalnya tiop, Samoh dalam bahasa Jamee, sedangkan tiok, satandan bahasa Minangkabau Bukittinggi, dan adverbia 9 kosakata, misalnya mantang, mau dalam bahasa Jamee, sedangkan masih, nio bahasa Minangkabau Bukittinggi. Dari segi jenis perulangan kata tidak ada perbedaan hanya saja pada bentuk kata atau kata dasarnya saja, sedangkan struktur kalimat dari kedua bahasa memiliki kesamaan.

Analisis Unsur Kekerasan dalam Novel-Novel Karya Arafat Nur

Fitri, Cut Nurul

Master Bahasa Vol 6, No 3 (2018)
Publisher : Master Bahasa

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (326.202 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan unsur kekerasan yang dialami tokoh baik dalam bentuk fisik maupun psikis dalam novel-novel Arafat Nur. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Metode deskriftif dimaksudkan untuk mendeskripsikan dan menganalisisi secara kritis data-data teks novel Arafat Nur yang mendeskripsikan kekerasan di dalamnya. Sumber data penelitian ini adalah novel-novel Arafat Nur. Dalam hal ini dipilih tiga judul novel Arafat Nur sebagai sumber data, yaitu (1)  Percikan Darah di Bunga yang terdiri atas 208 halaman, novel ini diterbitkan oleh Zikrul Hakim, tahun 2005. (2) Lampuki terdiri dari 436 halaman, novel ini diterbitkan oleh Serambi Ilmu, tahun 2011. (3) Bulan Kertas terdiri dari 224 halaman, novel ini diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama, tahun 2017. Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data penelitian ini adalah teknik kepustakaan dan studi dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis kualitatif dengan penganalisis data secara verbal. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa  tokoh-tokoh dalam novel Arafat Nur mengalami kekerasan  dalam bentuk fisik maupun psikis, yaitu (a) kekerasan fisik meliputi pembunuhan, pemerkosaan, pemukulan, penembakan, penganiayaan, pembersihan wilayah dengan membariskan, menelanjangi dan merangkak, menganiaya, (b) secara psikis meliputi: pemutusan matarantai ekonomi, menciptakan suasana mencekam, meneror, memasang bom rakitan untuk menakut-nakuti. Novel-novel Arafat Nur berperan sebagai dokumentasi sejarah yang terjadi di Aceh karena kekerasan-kekerasan yang didokumentasikan tersebut merupakan gambaran nyata kekerasan yang dialami masyarakat Aceh.

Analisis Presuposisi dalam Tuturan Pemeran Film Komedi Eumpang Breuh “Dum Hoe Can”

Putri, Nina Eka

Master Bahasa Vol 6, No 3 (2018)
Publisher : Master Bahasa

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Penelitian ini berjudul Analisis Presuposisi dalam Tuturan Pemeran Film Komedi Eumpang Breuh “Dum Hoe Can”. Rumusan masalah penelitian ini adalah (1) apa sajakah  jenis  presuposisi dalam tuturan pemeran film komedi Eumpang Breuh “Dum Hoe Can”, (2) apa sajakah pemicu presuposisi dalam tuturan pemeran film komedi Eumpang Breuh “Dum Hoe Can”, dan (3) apa sajakah sifat presuposisi dalam tuturan pemeran film komedi Eumpang Breuh “Dum Hoe Can”. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deksriptif dengan pendekatan kualitatif. Data penelitian ini adalah data verbal yang meliputi tuturan pemeran Film Eumpang Breuh “Dum Hoe Can” dengan sumber datanya berupa Film Eumpang Breuh “Dum Hoe Can. Jumlah data yang diteliti dalam film ini adalah 300 tuturan yang terdiri atas 14 percakapan. Penelitian ini menggunakan teknik simak yang diikuti oleh teknik catat. Langkah-langkah analisis data penelitian ini meliputi: analisis domain, analisis taksonomi, analisis komponensial, dan analisis tema. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 7 jenis presuposisi, 13 pemicu presuposisi, dan 6 sifat presuposisi. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa (1) jenis presuposisi faktif ditandai oleh adanya pemicu kata kerja faktif, (2) presuposisi nonfaktif ditandai oleh adanya pemicu berupa klausa perbandingan, (3) presuposisi konterfaktual ditandai oleh adanya pemicu berupa kondisioner kontrafaktual, (4) presuposisi eksistensial ditandai oleh adanya pemicu berupa simpler, (5) presuposisi leksikal ditandai oleh adanya pemicu berupa perubahan kata kerja, kalimat sumbing, klausa temporal, pernyataan tersirat dengan konstituen penegas, klausa relatif nonrestriktif, kuantifier, manner adverbial, dan aspek masih, (6) presuposisi struktural ditandai oleh adanya pemicu interogatif, dan (7) presuposisi kategoris tidak memiliki jenis pemicu pasti yang termasuk dalam presuposisi kategoris. Hal ini disebabkan tuturan yang mengandung  makna presuposisi kategoris diamati dari predikat yang terdapat dalam tuturan itu sendiri. Terakhir, ketujuh jenis tersebut memiliki keenam sifat presuposisi.

Eksistensi Tokoh Ayah dalam Novel Ayah Karya Andrea Hirata dan Novel Ayahku (Bukan) Pembohong Karya Tere Liye

Hasniyati, Hasniyati

Master Bahasa Vol 6, No 3 (2018)
Publisher : Master Bahasa

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (323.456 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan eksistensi tokoh ayah dalam novel Ayah karya Andrea Hirata dan novel Ayahku (Bukan) Pembohong karya Tere Liye. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik kajian pustaka. Teknik analisis  data dengan cara mengklasifikasi eksistensi tokoh ayah, mendeskripsi eksistensi tokoh ayah, dan menyimpulkan eksistensi tokoh ayah. Berdasarkan hasil penelitian kedua novel, ditemukan persamaan dan perbedaan eksistensi ayah dalam novel. Pertama, peran ayah sebagai pencari nafkah dalam kedua novel tersebut memiliki perbedaan. Perbedaannya terdapat pada peran ayah dalam Ayah karya Andrea Hirata yang tidak ideal sebagai pencari nafkah, sedangkan peran ayah sebagai pencari nafkah dalam novel Ayahku (Bukan) Pembohong karya Tere Liye sudah ideal. Kedua, peran ayah sebagai pemberi rasa aman dalam kedua novel sangat ideal. Ayah memberi rasa kehangatan dan kenyamanan yang sangat mendalam. Ketiga, peran ayah sebagai pemberi pendidikan dalam kedua novel sangat sesuai dengan kehidupan normal. Ayah telah mengajarkan pendidikan sejak usia dini terhadap anaknya. Keempat, peran ayah sebagai pelindung dalam kedua novel tersebut memiliki perbedaan. Perbedaannya terdapat pada peran ayah dalam Ayah karya Andrea Hirata yang tidak mampu melindungi anaknya ketika dirampas oleh ibu kandungnya, sedangkan peran ayah sebagai pelindung dalam novel Ayahku (Bukan) Pembohong karya Tere Liye sudah ideal. Kelima, peran ayah sebagai teman bermain (friend and playmate) dalam kedua novel tersebut memiliki perbedaan. Peran ayah dalam Ayah karya Andrea Hirata belum ideal sebagai teman bermain  karena sejak kecil anaknya diambil paksa oleh ibunya sehingga waktu bersama untuk bermain kurang. Berbeda dengan peran ayah dalam novel Ayahku (Bukan) Pembohong karya Tere Liye, peran ayah dalam cerita mampu menjadi kawan bercerita, canda, dan tawa.

Karakteristik Ragam Bahasa Hukum dalam Teks Qanun Aceh

Mawardi, Mawardi, Fitriani, Siti Sarah

Master Bahasa Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Master Bahasa

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (332.452 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan karakteristik ragam bahasa hukum ditinjau dari unsur kejelasan makna, kepaduan pikiran, kelugasan, dan keresmian dalam teks Qanun Aceh. Sumber data penelitian ini adalah 5 teks Qanun Aceh. Data penelitian ini adalah bagian-bagian teks Qanun Aceh yang memiliki karakteristik ragam bahasa hukum yang meliputi kejelasan makna, kepaduan pikiran, kelugasan, dan keresmian. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif-kualitatif. Data dikumpulkan dengan teknik dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan karakteristik ragam bahasa hukum yang terdapat dalam teks Qanun Aceh sudah sesuai aspek kejelasan makna, kepaduan pikiran, kelugasan, dan keresmian. Namun, hasil penelitian ini juga menunjukkan terdapat beberapa teks Qanun Aceh yang belum sesuai dengan karakteristik ragam bahasa hukum secara sempurna. Terdapat beberapa teks Qanun Aceh yang belum jelas maknanya, tidak lugas, tidak padu, dan belum menggunakan aspek keresmian. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa, ketidaksesuaian unsur karakteristik ragam bahasa hukum yang belum sempurna banyak ditemui pada aspek keresmian khususnya pada penggunaan bahasa baku dan ejaan. .

Bahasa Makian dalam Masyarakat Pesisir Kabupaten Pidie

Safrizal, Andi, Bahrun, Bahrun

Master Bahasa Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : Master Bahasa

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mendiskripsikan (1) bentukbentuk bahasa makian dalam masyarakat pesisir kabupaten Pidie, (2) referensi yang terdapat pada bahasa makian dalam masyarakat pesisir kabupaten Pidie, (3) makna yang terdapat pada bahasa makian dalam masyarakat pesisir kabupaten Pidie, dan (4) tujuan bahasa makian dalam masyarakat pesisir kabupaten Pidie. Makian adalah sebuah ungkapan yang biasanya berkonotasi negatif, diucapkan sebagai bentuk ekspresi keadaan psikologis yang dirasakan seseorang. Penelitian ini dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif, dan data yang dikumpulkan adalah data lisan. Data penelitian ini adalah percakapan yang terjadi di kecamatan Muara Tiga dan kecamatan Batee. Pengolahan data dilakukan dengan beberapa tahap, pertama data diseleksi sesuai dengan daerah dan kebutuhan penelitian, kemudian ditraskripsi, dan terakhir analisis data. Analisis data dilakukan dalam beberapa tahap, pertama adalah tahap interpreasi bentuk-bentuk makian, kemudian interpretasi referensi dan makna makian, serta interpretasi tujuan penggunaan bahasa makian. Hasil penelitian mengungkapkan bahasa makian sebagai berikut: (1) bentuk-bentuk bahasa makian dalam masyarakat pesisir kabupaten Pidie terdiri atas bentuk monomorfemik, polimorfemik, frase, klausa dan kalimat, (2) referen bahasa makian dalam masyarakat pesisir kabupaten Pidie terdiri atas binatang, makhluk halus, benda-benda, istilah agama, bagian tubuh manusia, kekerabatan, manusia, sifat, aktivitas, sumpah, profesi, penyakit, dan seru, (3) Makna yang terdapat dalam bahasa makian masyarakat pesisir kabupaten adalah makna denotatif dan makna konotatif (4) tujuan bahasa makian dalam masyarakat pesisir kabupaten Pidie adalah untuk mengungkapkan kemarahan, mengungkapkan kekesalan, mengintimidasi lawan bicara, mengekspresikan keheranan, menghina, sebagai gurauan dan mengakrabkan suasana.