cover
Filter by Year
An1mage Jurnal Studi Kultural
Published by An1mage
An1mage Jurnal Studi Kultural (AJSK ISSN: 2477-3492) menerima karya yang kritis, menguak mitos, membantu yang lemah dan terpinggirkan (termarginalkan) dalam melawan balik dari ketertindasan. Mayoritas belum tentu kuat, minoritas belum tentu lemah dan terpinggirkan. Mari membangun bangsa dengan pikiran kritis, pikiran kreatif, pikiran dengan analisis yang kuat dan membangun mental kita semua agar menjadi sepadan apa pun gendernya (gender equality). AJSK tidak hanya untuk sains sosial namun juga sains eksakta, sebab di sains eksakta juga muncul konstruksi mitos-mitos yang harus dibongkar (dekonstruksi) lebih kritis. Ilmu eksakta bukanlah dogma dan bukan pula agama, ilmu eksakta terus berkembang menuju penemuan-penemuan baru. Terobosan baru dalam teknik di bidang apa pun juga AJSK menerimanya.
Articles
54
Articles
Transformasi Fisik Musik Dol sebagai Musikalitas Ritual Tabot di Bengkulu

Parmadie, Bambang, Kumbara, A. A. Ngurah Anom

An1mage Jurnal Studi Kultural Vol 3 No 2 (2018): An1mage Jurnal Studi Kultural
Publisher : an1mage

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Musik telah menjadi bagian dari kehidupan manusia, entah itu digunakan untuk kepentingan upacara, hiburan ringan dalam bentuk senandung disadari atau tidak atau untuk keperluan religius. Ekspresi dan kreatifitas berasal dari apa yang ada di sekeliling kita yang menjadi kemasan karya yang dinamakan dengan seni musik. Senada dengan kalimat di atas artinya berbicara musik pasti berbicara bunyi, karena bahan dasar dari musik adalah bunyi. Ilmu musik secara umum terbagai atas musik tradisional dan musik modern (Barat). Proses transformasi dikarenakan dorongan yang kuat dari luar membuat musik dol sakral menjadi sekuler atau profan, salah satunya terjadi pada pola garapan penyajian dan komposisi musikal pada musik dol. Setiap ritual mempunyai struktur penyajian musik dol dengan penggunaan pola ritme irama yang sama di setiap ritualnya. Karena pada tiap-tiap satu repetoar mempunyai makna filosofi tersendiri yang ada pada keluarga Tabot Musik dol sakral yang hanya memiliki pola ritme pukulan dengan pakem tiga pola ritme suweri, tam atam, suwena. Pola ritme tersebut mengalami pengembangan menjadi banyak variatif pola ritme pukulan dalam pakem musik dol sekuler. Selain itu perkembangan perubahan musik dol mengalami komodifikasi perubahan bentuk perlakuan pada instrumennya. Eksploitasi pada musik dol menjadi sangat bebas untuk menjadi bahan kreatifitas . Dol yang dulunya di sakralkan dan diagungkan saat ini telah menjadi bahan ekplorasi musikal tujuan budaya populer untuk estetika pertunjukan dan garapan (kreasi).

Peraturan Presiden Nomor 20 Tahun 2018 “Suatu Paradoks”

Siregar, Mangihut

An1mage Jurnal Studi Kultural Vol 3 No 2 (2018): An1mage Jurnal Studi Kultural
Publisher : an1mage

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Peraturan Presiden Nomor 20 Tahun 2018 tentang penggunaan Tenaga Kerja Asing telah disahkan. Berlakunya Peraturan Presiden (Perpres) ini mengalami kontroversi di tengah masyarakat. Sebagian masyarakat mendukung dan sebagian menolak. Kontroversi timbul akibat sudut pandang yang berbeda dari masing-masing pihak.   Kelompok yang mendukung Perpres ini berpandangan, dibukanya peluang tenaga kerja asing (TKA) untuk bekerja di Indonesia akan berdampak positif. Mereka akan membawa kemajuan di bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi sekaligus membawa modal ekonomi untuk berbisnis di Indonesia. Apabila ini yang terjadi maka kedatangan tenaga kerja asing menjadi pembebas dari ketertinggalan Indonesia dari negara maju. Sebagian lain melihat, Perpres ini sebagai ancaman bagi Indonesia. Kedatangan tenaga kerja asing menjadi suatu penjajahan baru akan tenaga kerja di Indonesia. Persaingan tenaga kerja akan terjadi dan pemenangnya adalah orang asing karena hubungan mereka dengan negara asal. Demikian juga tentang pendapatan masing-masing tenaga kerja akan mengalami ketidakadilan di mana tenaga kerja asing diukur menurut negara asalnya, sedangkan tenaga kerja dari  Indonesia sendiri berdasarkan aturan standar di Indonesia. Untuk itu perlu dicari solusi sehingga Perpres nomor 20 Tahun 2018 dapat berjalan secara efektif.

Cultural Design: Usulan Pengembalian Pajak Penghasilan Perseorangan dari Pemerintah kepada Wajib Pajak sebagai Hak Pensiun, Asuransi, Pendidikan, dan Saat Tidak Mendapatkan Pekerjaan di Indonesia

Gumelar, Michael Sega

An1mage Jurnal Studi Kultural Vol 3 No 2 (2018): An1mage Jurnal Studi Kultural
Publisher : an1mage

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Pajak merupakan kewajiban bagi setiap warga negara dan atau lembaga yang memiliki kategori masuk ke dalam wajib pembayar pajak. Pajak merupakan salah satu sumber pendapatan pemerintah, dan setiap orang adalah subjek bagi wajib pajak. Wajib pajak mulai muncul ketika seseorang subjek pajak memiliki kekayaan dan penghasilan dalam ragam dan bentuk apa pun dalam kategori terkena pajak. Selama ini pemerintah gencar menyebarkan slogan “orang bijak bayar pajak” di mana pajak merupakan kewajiban setiap wajib pajak, dan membayar pajak merupakan langkah yang bijak agar tidak terkena sangsi dari pemerintah.  Pemerintah bahkan mengingatkan setiap warga negara dan lembaga wajib pajak untuk selalu membayar pajak tepat waktu, beserta sangsi secara administratif dan atau pidana sesuai dengan kasusnya. Membayar pajak, apa untungnya bagi si wajib pajak? Pernahkah terlintas pemikiran tersebut? Kemana penghasilan pajak dari rakyat selama ini digunakan oleh pemerintah? Tentu saja jawaban dari pemerintah sangat klasik. Pendapatan dari pajak digunakan untuk pembangunan sarana dan prasarana umum bagi warga, dan juga kepentingan pemerintah lainnya untuk kesejahteraan rakyat. Hal ini dikuati oleh  Undang-undang  nomor 28 tahun 2007  pasal 1 ayat 1 dari pemerintah yang menyatakan “Pajak adalah kontribusi wajib rakyat kepada negara yang terutang, baik sebagai orang pribadi atau badan usaha yang bersifat memaksa berdasarkan undang-undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”. Hal tersebut dapat berlaku pada pajak kendaraan, pajak tanah, pajak rumah, pajak kekayaan lainnya yang nonpajak penghasilan. Tetapi menjadi pertanyaan saat pemerintah mengambil pajak penghasilan perseorangan, di mana mengambil pajak penghasilan perseorangan kepada seorang wajib pajak, akan diikuti oleh hak yang diperoleh si wajib pajak tersebut.

Cultural Design: Bencana Alat Transportasi Massal Implikasi Buruk bagi Indonesia sebagai Negara Nonprodusen Teknologi

Gumelar, Michael Sega

An1mage Jurnal Studi Kultural Vol 3 No 2 (2018): An1mage Jurnal Studi Kultural
Publisher : an1mage

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Desain budaya (cultural design) bidang teknologi di Indonesia dibentuk karena impak globalisasi dan kepentingan negara lain yang membuat penduduk dan pemerintahan Indonesia menjadi sasaran pasar dari negeri produsen teknologi. Pemerintahan di Indonesia juga dikendalikan secara ideologi oleh negara lain sebagai negara target pasar. Hal ini membuat Indonesia cenderung menjadi negara “makelar” dengan hegemoni informasi dari negara lainnya sehingga Indonesia menjadi budak (hegeformaslaves) di bidang teknologi. Pemerintah, pebisnis, dan warga negara Indonesia yang telah menjadi hegeformaslaves ini  cenderung akan kehilangan nilai-nilai budaya aslinya dan mengelu-elukan produk serta budaya dari negara-negara pengendalinya (hegeformaslavers), negara-negara cengkeramannya kuat di Indonesia dalam bidang teknologi yang juga mengendalikan ekonomi di Indonesia ini adalah Jepang, Amerika Serikat, Jerman, Korea, China, India, dan beberapa negara-negara produsen lainnya. Lalu apa hubungannya dengan ragam bencana alat transportasi massal yang terjadi di Indonesia? Ada, karena Indonesia hanya sebagai negara target pasar dan didesain secara budaya agar dibuat tidak mengerti teknologi pembuatannya. Membuat Indonesia memiliki ketergantungan sangat tinggi kepada negara produsen teknologi. Sedangkan Indonesia saat ingin membuat sendiri teknologi tersebut tidak bisa, kemudian ingin menambah jumlah armada alat transportasi massal seperti bus, kapal laut, kereta, dan pesawat terbang menjadi semakin mahal, sedangkan keperluan ekonomi dan jumlah penduduk semakin meningkat.  Sehingga pada suatu titik keputusan secara logis cenderung membeli dan mengganti suku cadangnya saja. Seiring waktu  keserakahan bisnis karena kebutuhan ekonomi yang semakin memingkat juga muncul, hal ini membuat beban alat transportasi massal yang digunakan dipaksakan melebihi kemampuan alat transportasi massal tersebut, di sisi lainnya, ragam suku cadang untuk pengganti seadanya dengan kualitas buruk karena ketidakmampuan membeli suku cadang asli apalagi mesin sudah mulai tua, membuat implikasi potensi kecelakaan meningkat dari waktu ke waktu, hal ini telah terjadi. Lalu bagaimana tanggung jawab negara produsen? Ini hanya bisnis, tentu saja para negara hegeformaslavers bagi Indonesia tidak akan menyerahkan teknologinya kepada hegeformaslaves-nya (budak) sebab hal ini akan membuat Indonesia berubah menjadi negara produsen teknologi.

Kesetaraan Gender di Atas Rel

Christin, Lidwina Hana

An1mage Jurnal Studi Kultural Vol 3 No 2 (2018): An1mage Jurnal Studi Kultural
Publisher : an1mage

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Kejadian yang melibatkan kesalahan persepsi gender ternyata banyak di Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line. Transportasi massa yang menyediakan gerbong khusus wanita di bagian depan dan belakang rangkaian kereta ini tidak lantas menyelesaikan permasalahan, bahkan menimbulkan problematika baru seperti perkelahian antar penumpang perempuan di gerbong istimewa tersebut. Gerbong khusus wanita disediakan dengan alasan banyaknya kasus pelecehan seksual di Commuter Line, meski begitu tidak ada data pembanding apakah gerbong khusus ini sungguh memberikan manfaat nyata. Jika perempuan ingin sejajar dengan laki-laki, baiknya tidak berharap mendapatkan keistimewaan termasuk ketika menggunakan transportasi publik. Ketika di atas rel, perempuan terkadang menginginkan keistimewaan untuk duduk bahkan di fasilitas Tempat Duduk Prioritas (TDP), yang sesungguhnya diperuntukkan bagi orang tua lanjut usia, wanita hamil, kaum difabel, dan ibu yang membawa anak. Perempuan mesti menyadari, berjenis kelamin perempuan tidak lantas masuk kategori penumpang yang berhak atas TDP. Kesadaran dan empati perempuan untuk memberikan tempat duduk bagi penumpang yang berhak di KRL juga minim.

Komodifikasi Gantung-Gantungan dan Tamiang di Bali

Ciptasari, Manik, Marbun, Saortua

An1mage Jurnal Studi Kultural Vol 3 No 2 (2018): An1mage Jurnal Studi Kultural
Publisher : an1mage

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Dalam dekade terakhir gantung-gantungan dan tamiang (gagantam) telah dikomodifikasikan. Halitu terjadi karena banyak kegiatan budaya masyarakat itu sendiri, dan banyak orang di Bali lebih suka membeli gagantam. Selain itu, ideologi pasar membuat orang merasa nyaman untuk membeli gagantam daripada membuatnya sendiri. Kondisi ini berkontribusi pada peluang bagi pedagang untuk mendapatkan keuntungan. Pedagang Bali dan orang-orang dari agama lain memiliki pekerjaan alternatif lain dengan menjual gagatam di pasar tradisional. Pasar tradisional di Bali memperkenalkan gantung-gantungan dan tamiang sebagai komoditas, di mana penjual dan pembeli melakukan pertukaran. Biasanya, mereka memesan gagantam dari penduduk desa yang memasok toko-toko seni mereka di pasar tradisional. Kondisi ini memberi peluang bagi pedagang di pasar untuk mengembangkan gagantam sebagai industri budaya secara kreatif. Meskipun keuntungan dari penjualan gagantam tidak banyak, mereka biasanya menjualnya pada malam menjelang liburan seperti Galungan, Kuningan, Tumpek Landep dan hari libur utama lainnya karena pada saat liburan ada peningkatan permintaan gagantam oleh Umat Hindu di Bali.

Komodifikasi Pura Keluarga di Bali

Dewi, Ni Made Dwi Maharani, Marbun, Saortua

An1mage Jurnal Studi Kultural Vol 3 No 2 (2018): An1mage Jurnal Studi Kultural
Publisher : an1mage

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Kata Pura berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti kota atau benteng. Pura saat ini dalam konteks Hinduisme di Bali berarti tempat ibadah kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Bait keluarga dibangun agar setiap anggota keluarga dapat berdoa setiap hari. Pengusaha memproduksi, dan mendistribusikan bangunan pura keluarga dan menjualnya. Umat mendapatkan kenyamanan karena layanan dari para pembuat kuil. Penduduk setempat berpendapat bahwa komodifikasi pura keluarga sangat berharga bagi pengusaha untuk mempromosikan ekonomi dan tradisi. Produksi dan distribusi pura keluarga di Bali menunjukkan dinamisme penetrasi kapitalis. Para pelaku bisnis pura keluarga bersaing memanfaatkan berbagai modal untuk menciptakan bangunan pura keluarga dengan kualitas, ukuran, dan harga bervariasi untuk memenuhi permintaan pasar lokal dan internasional. Memang, seseorang dapat menghasilkan, mendistribusikan, menjual, atau membayar, misalnya, pura keluarga, tetapi tidak ada yang dapat memproduksi, mendistribusikan, dan menjual atau membayar berkat ilahi.

Pro Kontra Wacana Full Day School

Arioka, Ni Wayan Widayanti

An1mage Jurnal Studi Kultural Vol 3 No 1 (2018): An1mage Jurnal Studi Kultural
Publisher : an1mage

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Full day school atau sekolah sehari penuh merupakan salah satu wacana yang dilontarkan oleh Muhadjir Effendy di awal masa jabatannya sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud). Seperti namanya sistem full day school atau sekolah sehari penuh berarti bahwa siswa akan bersekolah seharian penuh, dari pagi hingga sore hari. Wacana yang dicetuskan pada tanggal 7 Agustus 2016 ini langsung menuai pro dan kontra dari berbagai kalangan masyarakat. Permasalahan pro dan kontra wacana kebijakan Mendikbud mengenai sekolah sehari penuh ini kemudian dikaji dengan menggunakan pendekatan pendidikan kritis. Adapun data yang digunakan adalah data dari media online, yakni dari portal-portal berita online dan tulisan-tulisan online (blog) yang merespons wacana sekolah sehari penuh.

Pemarginalan Terstruktur: Implikasi Sila “Ketuhanan Yang Maha Esa” dari Pancasila Terhadap Sila Lainnya

Gumelar, Michael Sega

An1mage Jurnal Studi Kultural Vol 3 No 1 (2018): An1mage Jurnal Studi Kultural
Publisher : an1mage

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Pemarginalan adalah pengucilan dalam segala bentuk yang merugikan kepada seseorang dan atau kepada suatu komunitas yang dilakukan oleh seseorang dan atau oleh komunitas lainnya dalam skala relatif besar dan atau kecil secara terstruktur ataupun tidak. Sedangkan Implikasi adalah konsekuensi logis yang dipastikan terjadi sebagai impak, akibat, dan memiliki efek samping berikutnya yang tidak dapat terelakkan dari suatu keputusan tertentu. Sila kesatu dari Pancasila “Ketuhanan Yang Maha Esa” memiliki implikasi pemarginalan secara terstruktur terhadap sila lainnya, secara terstruktur karena ditempatkan sebagai dasar negara dengan urutan nomor satu, penempatan dalam urutan tersebut secara mental mempunyai kekuatan terkuat untuk menggerakkan pikiran dan aksi seseorang dan atau aksi suatu komunitas yang menerapkan sila tersebut. Penulis dalam studi ini memberikan bukti-bukti secara nyata sebagai hasil implikasi sila pertama dari Pancasila tersebut dalam kehidupan bernegara yang dilakukan oleh pemerintah dan rakyat di Indonesia dari waktu ke waktu serta usulan solusi dari penulis agar pemarginalan terstruktur tidak terjadi lagi di masa depan.  

Ketidaksetaraan Gender dalam Dalihan na Tolu

Siregar, Mangihut

An1mage Jurnal Studi Kultural Vol 3 No 1 (2018): An1mage Jurnal Studi Kultural
Publisher : an1mage

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Suku Batak dikenal sebagai masyarakat yang sangat taat pada adat istiadat. Orang Batak tidak merasa tersinggung apabila disebut orang yang kurang taat beragama, namun sangat marah apabila disebut orang yang tidak taat akan adat istiadatnya. Adat menjadi hal yang sangat pokok dalam kehidupan keseharian Orang Batak. Pelaksanaan adat istiadat diatur dalam sistem dalihan na tolu. Setiap individu Orang Batak akan masuk dalam sistem dalihan na tolu. Selain berfungsi dalam upacara adat, sistem dalihan na tolu juga mengatur hubungan pergaulan masyarakat sehari-hari. Praktik dalihan na tolu tidak mengenal kasta (golongan atas dan bawah) karena masing-masing hula-hula, dongan tubu dan boru akan dimiliki setiap Orang Batak secara bergantian. Dengan demikian kesetaraan kedudukan Orang Batak akan terlihat dalam sistem dalihan na tolu. Namun demikian ditinjau dari sudut gender, sistem dalihan na tolu mengalami ketidakadilan gender. Gender berbeda dengan seks. Seks merupakan biologis antara laki-laki dan perempuan dan bersifat alamiah. Gender bukan bersifat alamiah tetapi hasil pengaturan perilaku atau hasil konstruksi sosial. Perempuan dilihat dari kacamata gender sebagai mahluk yang lemah dan perlu mendapat perlindungan. Laki-laki dipandang sebagai mahluk yang kuat sehingga perlu melakukan perlindungan terhadap perempuan. Konstruksi ini dibentuk oleh ideologi patriarki. Para laki-laki Orang Batak sangat nyaman akan ideologi patriarki yang terdapat dalam dalihan na tolu sehingga mereka tetap melestarikannya.