cover
Filter by Year

Analysis
Sains Akuakultur Tropis
Published by Universitas Diponegoro
Articles
25
Articles
PENGGUNAAN EKSTRAK KULIT BUAH MANGGIS (Garcinia mangostana) SEBAGAI ANTIBAKTERI UNTUK MENGOBATI INFEKSI Aeromonas hydrophila PADA IKAN NILA (Oreochromis niloticus)

Maisyaroh, Latifah Apriliana, Susilowati, Titik, Haditomo, Alfabetian Herjuno Condro, Yuniarti, Tristiana, Basuki, Fajar

Sains Akuakultur Tropis Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : Departemen Akuakultur FPIK UNDIP

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Ikan nila (O. niloticus) merupakan salah satu ikan air tawar ekonomis penting. Salah satu kendala utama dalam kegiatan budidaya adalah adanya penyakit, diantaranya Motile Aeromonas Septicema (MAS) yang disebabkan oleh Aeromonas hydrophila. Sekarang ini, penanganan penyakit lebih diutamakan menggunakan obat herbal. Ekstrak kulit buah manggis diduga mengandung senyawa antibakteri yang mungkin dapat digunakan untuk meningkatkan kelulushidupan ikan Nila. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh perendaman ekstrak kulit buah manggis terhadap kelulushidupan ikan nila yang diinfeksi A. hydrophila. Sebanyak 120 ekor ikan Nila dengan panjang rata-rata 8,55±0,50 cm digunakan pada penelitian ini. Ikan diinfeksi bakteri A. hydrophila sebanyak 0,1 mL secara intramuscular dengan kepadatan 108 CFU/mL. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 pengulangan yaitu perlakuan A (0 mg/L, B (500 mg/L), C (600 mg/L) dan D (700 mg/L). Setelah munculnya gejala klinis, ikan dilakukan perlakuan perendaman dengan ekstrak kulit manggis selama 4 jam. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perendaman ekstrak kulit buah manggis berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap kelulushidupan ikan nila. Perlakuan terbaik ditunjukan pada perlakuan D (700 mg/L) dengan prosentasi kelulushidupan sebesar 76,67±15,28.

PERFORMA PERTUMBUHAN UDANG WINDU (Penaeus monodon) YANG DIBUDIDAYAKAN BERSAMA RUMPUT LAUT (Gracilaria sp.) DENGAN PADAT TEBAR YANG BERBEDA MENERAPKAN SISTEM INTEGRATED MULTI-TROPHIC AQUACULTURE (IMTA)

Azizah, Irma, Rejeki, Sri, Aryati, Restiana Wisnu

Sains Akuakultur Tropis Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : Departemen Akuakultur FPIK UNDIP

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Tiger shrimp is a commodity pond that has high economic value compared to others. Tiger shrimp culture can be done by using a monoculture system, a polyculture system or an Integrated Multi-trophic Aquaculture (IMTA) system. IMTA system is one solution to reduce the environmental impact of cultivation activities because undigested feed and metabolism results in an accumulation of feces in the pond. This study aims to determine the effect of the addition of seaweed into the system on the growth and survival rate of tiger shrimp and also to determine the best density of seaweed in controlling the water quality. The research was conducted from September 2017 to November 2017 in Tambak Bulusan Village, Demak, Central Java. The material used is seaweed. Tiger shrimp used in size PL 30 measuring 2.0-2.9 cm. In length the stocking density is 80 individuals/m. The feed used is pellets given by using a fixed feeding rate of 5%. This research used an experimental method with complete randomized design with 5 treatments and 3 replications. The treatment of seaweed stocking used is 50 g, 100 g, 150 g, and 200 g. The results showed that different stocking of seaweed had significant effect on growth of weight, relative growth rate, survival rate of tiger shrimp. The best treatment of seaweed density is treatment  A1 (50 gram), treatment A1 can increase the value of tiger shrimp growth with absolute weight of 1.67 ± 0.05 gram; the relative growth rate of 36.36 ± 1.04 %; and the survival rate of 78.75 ± 1.25 %. While the best growth value of seaweed is at treatment A1 (50 gram) with weight growth value of 73,21 ± 4,26 gram, and daily growth rate of 2,15 ± 0,08 %/day. Seaweed can balance the quality of waters with the results of nitrate water quality of 0.02 mg / L - 0.08 mg / L, nitrites of 0.00 - 0.42 mg / l, and ammonia levels of 0.02 - 0.59 mg / l. The results are quite feasible for shrimp farming activities.Keywords: growth, Penaeus monodon, Gracilaria sp., IMTA    

PERFORMA PERTUMBUHAN UDANG WINDU (Penaeus monodon) YANG DIBUDIDAYAKAN BERSAMA KERANG HIJAU (Perna viridis) DENGAN SISTEM IMTA

Evania, Chlara, Rejeki, Sri, Aryati, Restiana Wisnu

Sains Akuakultur Tropis Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : Departemen Akuakultur FPIK UNDIP

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

ABSTRACT                             Integrated Multi-Tropic Aquaculture (IMTA) is a cultivation system in which organic waste from cultivation activities can be utilized by other biota in one container so as to reduce the environmental impact of cultivation activities. Organic waste can be utilized as the growth of phytoplankton which will be used other biota as natural food. This research is focused on the species of tiger shrimp (P. monodon) as the main cultivated commodity, while the green mussels (P. viridis) is one of the biota that can utilize the phytoplankton that flourish because of organic waste in the waters. The purpose of the study is to determine the effect of green mussel stock density on the growth and survival rate of tiger shrimp with IMTA system. The tiger shrimp used were stadia postlarvae (PL30) with size 0.11 - 0.14 gram /shrimp. The stocking density is 80 tiger shrimps per container with 1m2 container size. This study used a complete randomized design study (RAL) with 5 treatments and 3 replications. The stocking density of the green mussel being used as treatment are 0, 30, 45, 60, and 70 green mussels per container. The results showed that the average growth rate of tiger shrimp in treatment A (with stocking density of 0 green mussels) was 22,06±0,18%/day, treatment B (with stocking density of 30 green mussels) was 28.89±0.20%/day, treatment C (with stocking density of 45 green mussels) was 27.09±0.20%/day, treatment D (with stocking density of 60 green mussels) was 25.32±0.21%/day and treatment E (with stocking density of 75 green mussels) was 23.92±0.12%/day. The average value of tiger shrimp survival rate on B was 80.00%, A was 78.33%, C was 77.92%, D was 74.58% and E was 61.25%. The best green mussels stocking density for tiger shrimp growth and survival rate is with stocking density of 30 green mussels (treatment B). Keyword: Growth, Survival Rate, Green Mussel, Tiger Shrimp, IMTA

PENGARUH EUGENOL TERHADAP KADAR GLUKOSA DARAH DAN KELULUSHIDUPAN BENIH IKAN GURAMI (Osphronemus gouramy, Lac.) SELAMA DAN SETELAH PERIODE TRANSPORTASI SISTEM TERTUTUP

Midihatama, Arika, Subandiyono, Subandiyono, Haditomo, Alfabetian Herjuno Condro

Sains Akuakultur Tropis Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : Departemen Akuakultur FPIK UNDIP

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Masalah yang sering dihadapi dalam transportasi ikan gurami adalah rendahnya tingkat kelulushidupan.  Penambahan eugenol diharapkan mampu menekan laju metabolisme, sehingga kematian dapat diminimalkan.  Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kadar glukosa darah dan kelulushidupan gurami selama proses transportasi sistem tertutup.  Metode penelitian ini adalah metode eksperimental rancangan acak lengkap dengan 4 perlakuan dan masing-masing perlakuan 3 ulangan. Perlakuan yang diberikan pada media transportasi dengan eugenol 0.000, 0.002, 0.004, dan 0.006 ml/L, masing-masing untuk perlakuan A, B, C, dan D.  Data yang diambil ada 2, yaitu periode transportasi dan pemeliharaan, yang dilakukan selama 10 hari.  Variabel yang diukur saat transportasi adalah kadar glukosa darah, dan kelulushidupan (SR). Variabel yang diukur saat pemeliharaan adalah SR.  Parameter kualitas air yang diamati adalah suhu, oksigen terlarut (DO), tingkat keasaman (pH), dan amonia (NH3).  Hasil penelitian dianalisis dengan  ANOVA dan dilanjutkan dengan uji Duncan masing-masing dengan selang kepercayaan 95%.  Berdasarkan hasil penelitian tersebut, konsentrasi maksimal eugenol yang dapat digunakan untuk transportasi adalah 0,002 ml/L.

PENGARUH KEPADATAN YANG BERBEDA TERHADAP EFISIENSI PEMANFAATAN PAKAN, PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN IKAN TAWES (Puntius javanicus) PADA SISTEM RESIRKULASI

Utami, Kesuma Putri, Hastuti, Sri, Nugroho, Ristiawan Agung

Sains Akuakultur Tropis Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : Departemen Akuakultur FPIK UNDIP

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Produksi ikan tawes mengalami peningkatan setiap tahunnya total produksi tahun 2015 yaitu 14,048 ton dan tahun 2016 sebesar 44,210 ton. Peningkatkan produksi dapat dilakukan dengan meningkatkan padat tebar. Padat penebaran merupakan satu diantara aspek budidaya yang perlu diketahui karena menentukan laju pertumbuhan, rasio konversi pakan dan kelangsungan. Pemanfaatan sistem resirkulasi pada budidaya intensif menjadi penting untuk menjaga kualitas air. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kepadatan yang terbaik terhadap efisiensi pemanfaatan pakan, pertumbuhan dan kelulushidupan ikan tawes. Penelitian dilaksanakan di Balai Benih Ikan Kebowan, Semarang pada bulan April-Mei 2018. Ikan uji yang digunakan adalah ikan tawes dengan panjang rata-rata 3,08±0,13 cm dan bobot rata-rata 1,65±0,22 g/ekor. Pakan yang digunakan adalah pakan komersil dengan kandungan protein 39 – 40 %. Pemberian pakan dilakukan pada pukul 07.00, 12.00 dan 17.00 WIB secara at satiation. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 kali ulangan. Perlakuan A (27 ekor/ 100 l), perlakuan B (54 ekor/ 100 l), perlakuan C (81 ekor/ 100 l) dan perlakuan D (108 ekor/ 100 l). Hasil penelitian menunjukkan bahwa padat tebar yang berbeda memberikan pengaruh nyata (P<0,05) terhadap konsumsi pakan individu, SGR, pertumbuhan panjang relatif, SGR dan SR dan tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap FCR. Perlakuan terbaik dalam penelitian ini adalah A dengan nilai TKP 10,37±0,46 g/ind, FCR 1,77±0,04 %, Pertumbuhan Panjang Relatif 1,48±0,02 %/hari, SGR 9,08±0,57 %/hari, SGR 3,74±0,12 %/hari, SR 93,83±2,14 % dan Glukosa Darah 67,33±3,06 mg/dl. Kualitas air selama pemeliharaan masih dalam kisaran yang layak untuk budidaya ikan tawes. Peningkatan padat tebar dapat menurunkan pertumbuhan ikan tawes dan kadar glukosa darah ikan meningkat.

PENGARUH PROBIOTIK DALAM PAKAN TERHADAP PERFORMA DARAH, KELULUSHIDUPAN, DAN PERTUMBUHAN IKAN TAWES (Puntius javanicus)

Shabrina, Dara Ayu, Hastuti, Sri, Subandiyono, Subandiyono

Sains Akuakultur Tropis Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : Departemen Akuakultur FPIK UNDIP

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Ikan tawes (Puntius javanicus) merupakan salah satu jenis ikan yang mempunyai nilai ekonomis tinggi tetapi mempunyai kendala dalam proses budidaya misalnya pemanfaatan pakan yang belum optimal.  Probiotik mengandung jenis bakteri menguntungkan yang mampu meningkatkan efisiensi pemanfaatan pakan dan pertumbuhan ikan.  Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh penambahan probiotik pada pakan terhadap performa darah, kelulushidupan dan pertumbuhan pada ikan tawes (P. javanicus).  Kegiatan penelitian dilaksanakan pada bulan Juli hingga bulan September 2017, di Mijen, Semarang.  Penelitian ini menggunakan metode experimental dengan rancangan acak lengkap (RAL) 4 perlakuan dan masing-masing terdiri dari 3 ulangan.  Perlakuan yang diujikan adalah penambahan probiotik dalam pakan dengan perlakuan A (tanpa probiotik), B (7 mg/kg), C (14 mg/kg) dan D (21 mg/kg).  Rata-rata berat ikan tawes (P. javanicus) 4,51±0,06 g dan panjang 5,60±0,06 cm.  Pemberian pakan secara at satiation dengan frekuensi tiga kali sehari.  Ikan uji dipelihara dengan padat tebar 20 ekor dalam satu wadah.  Wadah pemeliharaan  menggunakan ember bervolume 20 L dengan lama pemeliharaan 42 hari.  Pakan yang digunakan adalah pakan komersil berupa (pellet) mengandung protein 30%.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan probiotik dalam pakan pengaruh nyata (P<0,05) terhadap TKP, EPP, PER, RGR dan SR, namun tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap glukosa, leukosit, hematokrit dan eritrosit.  Perlakuan terbaik dalam penelitian ini adalah perlakuan D dengan nilai TKP 139,09±8,86 g; EPP 88,54±4,14%; PER 2,85±0,13%; RGR 3,25±0,17%/hari; dan SR 93,33±2,89%, untuk hasil glukosa, leukosit, dan eritrosit dalam keadaan normal pada setiap perlakuan dengan nilai rata-rata berturut 47,00-72,67 mg/dl; 24,67-114,27 sel/mm3; dan 2,10-1,97 106/µL, tetapi untuk nilai hematokrit dalam keadaan dibawah normal yaitu 13,67-17,00 %.

PERFORMA PERTUMBUHAN HARPATICOIDA Tigriopus sp. DALAM KONDISI KULTUR SEMI MASSAL DENGAN DIET MIKROALGA YANG BERBEDA

Suminto, Suminto, Chilmawati, Diana

Sains Akuakultur Tropis Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : Departemen Akuakultur FPIK UNDIP

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Tigriopus sp. is a copepod included harpacticoid ordo which is a live food organism for marine fish and shrimp larvae. The lack of information about the appropriate microalgae diet is an obstacle in the semi-mass culture of Tigriopus sp. The purpose of this study was to determine the effect of different microalgae diets and the type of microalgae diet which provides the best growth performance of Tigriopus sp. in semi-mass culture conditions. The experimental design used was a Completely Randomized Design (CRD) with 4 treatments and 4 repetitions namely Tigriopus sp. with a microalgae diet; A. Chlorella vulgaris; B. Tetraselmis chuii; C. Chaetoceros calcitrans; and D. Isochrysis galbana. The results showed that giving C. calcitrans microalgae diet has significant effect (p<0.05) and provides growth performance of Tigriopus sp. Best total density reached 9,75±0,50 inds.mL-1; specific growth rate of the population was 0,114±0,003 inds.day-1 and egg production was 9.26 ± 0.09 eggs.ind.-1 Keywords: Tigriopus sp., growth performance, semi-mass culture, microalgae diet

PERFORMA KEMATANGAN GONAD, FEKUNDITAS, DAN DERAJAT PENETASAN MELALUI STRATEGI PEMBERIAN PAKAN ALAMI YANG BERBEDA PADA CALON INDUK LOBSTER AIR TAWAR (Cherax quadricarinatus)

Sidharta, Visakha, Pinandoyo, Pinandoyo, Nugroho, Ristiawan Agung

Sains Akuakultur Tropis Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : Departemen Akuakultur FPIK UNDIP

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Induk lobster air tawar (Cherax quadricarinatus) yang berkualitas adalah induk yang memiliki fekunditas tinggi, bisa bertelur beberapa kali, serta menghasilkan benih yang ukurannya besar dan sehat. Pemberian kombinasi pakan yang lengkap dapat mempercepat kematangan gonad serta meningkatkan nilai fekunditas dan derajat penetasan (hatching rate) lobster air tawar. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh dan komposisi terbaik pakan alami tauge, cacing sutra, dan ubi jalar putih terhadap kematangan gonad, fekunditas, dan derajat penetasan pada induk lobster air tawar. Pemilihan tauge, cacing sutra, dan ubi jalar putih dikarenakan ketiga bahan tersebut memiliki kualitas nutrisi yang tinggi, murah serta mudah didapat. Hewan uji yang digunakan adalah lobster air tawar dengan umur 6 bulan dan ukuran 35 – 45 gram. Sistem yang digunakan adalah sistem resirkulasi dan wadah sebanyak 15 buah dengan padat tebar 1 ekor pada tiap masing – masing wadah. Pemberian pakan diberikan sebanyak 3% dari biomassa lobster air tawar. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan dalam penelitian ini, yaitu perlakuan A (50% tauge, 0% cacing sutra, dan 50% ubi jalar putih), perlakuan B (50% tauge, 25% cacing sutra, dan 25% ubi jalar putih), perlakuan C (25% tauge, 50% cacing sutra, dan 25% ubi jalar putih), perlakuan D (25% tauge, 25% cacing sutra, dan 50% ubi jalar putih), dan perlakuan E (0% tauge, 50% cacing sutra, dan 50% ubi jalar putih). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian komposisi pakan memberikan pengaruh nyata (P<0,05) terhadap fekunditas dan derajat penetasan (hatching rate). Hasil perlakuan terbaik yaitu pada perlakuan C (25% tauge, 50% cacing sutra, dan 25% ubi jalar putih) dengan nilai fekunditas sebesar 330,67±18,15 butir dan nilai derajat penetasan sebesar 93,52±0,35%.

STUDI KASUS KEBERADAAN PENYAKIT IMNV (INFECTIOUS MYONECROSIS VIRUS) PADA UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei) DI PERTAMBAKAN PEKALONGAN, JAWA TENGAH

Sarah, Humidah, Prayitno, Slamet Budi, Haditomo, Alfabetian Herjuno Condro

Sains Akuakultur Tropis Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Departemen Akuakultur FPIK UNDIP

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Udang vaname (Litopenaeus vannamei) menjadi salah satu spesies andalan bagi pertambakan di indonesia. Salah satu kendala pada pembudidaya udang vaname saat ini adanya penyakit IMNV (Infectious Myonecrosis Virus). Pekalongan merupakan salah satu produksi udang vaname yang cukup penting di Jawa Tengah. Pemantauan penyakit penting seperti IMNV sangat perlu dilakukan untuk mengetahui potensi resiko tertular dan tersebarnya penyakit IMNV di Pekalongan. Peneltian ini bertujuan untuk mengkaji status kesehatan udang khususnya dari infeksi IMNV pada tambak intensif di Kota Pekalongan. Metode penelitian yang dilakukan adalah menggunakan metode studi kasus, dengan melakukan pengambilan sampel udang melalui purposive random sampling dan wawancara kepada pemilik tambak. Jumlah udang 144 ekor dari 8 tambak terpilih. Hasil real time PCR dan analisa histopatologi terhadap organ daging bagian ekor menunjukkan bahwa 25% tambak contoh terinfeksi IMNV yaitu di desa Krapyak dan desa Kandang Panjang, sedangkan hasil histopatologi menunjukkan bahwa jaringan daging udang mengalami nekrosis. Berdarsarkan hasil diatas, tambak intensif di Kota Pekalongan memiliki potensi terinfeksi IMNV pada tahap sedang.

PENGARUH PERBEDAAN FREKUENSI GRADING TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN LARVA IKAN PATIN SIAM (Pangasianodon hypophthalmus)

Nimatulloh, Mohammad Aris, Rejeki, Sri, Aryati, Restiana Wisnu

Sains Akuakultur Tropis Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Departemen Akuakultur FPIK UNDIP

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Ikan Patin siam (Pangasionodon hypophthalmus) merupakan ikan yang berasal dari Thailand yang telah berhasil dibudidayakan di Indonesia. Menurut data kementrian perdagangan tahun 2013 bahwa produksi ikan patin siam dalam negeri mencapai 31.490 ton pada tahun 2006, pada tahun 2012 produksi ikan patin siam meningkat hingga mencapai 651.000 ton. Peningkatan tersebut harus diimbangi dengan stok benih yang melimpah. Grading merupakan salah satu proses untuk meningkatkan produksi dimana ikan dikelompokkan sesuai dengan ukurannya. Ikan uji yang digunakan adalah larva ikan patin siam (P. hypophthalmus) yang baru menetas dengan bobot 0,73±0,01 (mg) dan panjang 0,66 ± 0,0012 (cm) dipelihara selama 35 hari dengan kepadatan 100 ekor/liter dengan metode pemberian pakan dan cara pemeliharaan larva ikan patin siam sesuai dengan SOP di Balai Penelitian Pemuliaan Ikan Sukamandi. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan 3 kali ulangan. Perlakuan menggunakan frekuensi grading yang berbeda pada tiap perlakuan. Perlakuan A (tanpa grading), perlakuan B (1 x grading), perlakuan C (2 x grading) dan perlakuan D (3 x grading). Data yang didapatkan meliputi laju pertumbuhan spesifik (SGR), kelangsungan hidup (SR) dan kualitas air. Hasil menunjukan bahwa SR dan SGR bersifat normal, homogen dan addiktif. Hasil analisis sidik ragam (ANOVA) berpengaruh nyata terhadap laju pertumbuhan serta SR. Perlakuan C (2x grading) merupakan perlakuan terbaik dari perlakuan lainnya baik pertumbuhan maupun SR dengan nilaiSGR 20,75± 0,2%, kelangsungan hidup 90,27±2,88%, data kualitas air masih sesuai untuk budidaya ikan patin siam (P. hypophthalmus).