cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
MEDIA KOMUNIKASI TEKNIK SIPIL
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 08541809     EISSN : 25496778     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Media Komunikasi Teknik Sipil (ISSN 0854-1809) published twice in a year, in July and December. The article can be product of researches, scientific thoughts or case study, in civil engineering and isn’t formed by politics, commercialism, and subjectivity unsure. This scientific journal contains articles of thought and research results in Civil Engineering that have never been published in scientific journals or other media.
Arjuna Subject : -
Articles 273 Documents
The Influence of Environmental Factors and Curing Period toward the Performance and durability of Asphalt Mixtures Setiadji, Bagus Hario
MEDIA KOMUNIKASI TEKNIK SIPIL Tahun 16, Nomor 2, JUNI 2008
Publisher : Department of Civil Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (412.341 KB) | DOI: 10.14710/mkts.v16i2.3687

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan informasi terkini mengenai pengaruh periode curing (waktu jeda antara saat sampel selesai dibuat dengan waktu pengujian) dan faktor lingkungan (suhu dan kelembaban) terhadap kinerja dan durabilitas dari campuran beraspal. Dalam studi ini, untuk mengukur kinerja dari campuran beraspal digunakan beberapa parameter Marshall, seperti Marshall stability, flow, Marshall Quotient (MQ), Void Filled with Asphalt (VFA), Void in the Mix (VIM) dan Void in Mineral Aggregate (VMA). Sedangkan untuk mengukur durabilitas campuran beraspal digunakan parameter Marshall Retained Stability. Campuran beraspal dibuat dengan mengacu pada 2 (dua) standard, yaitu yang pertama, SKBI – 2.4.26.1987 UDC : 625.75 (02), dimana campuran beraspal dipadatkan sebanyak 150 kali (75 kali per muka), untuk mendapatkan apa yang dinamakan campuran beton aspal (asphalt concrete/AC). Standard kedua yaitu standard baru Bina Marga (2001), dimana campuran beraspal dipadatkan sebanyak 2 (dua) fase, yaitu fase 1 dengan jumlah pemadatan sebanyak 150 kali dan fase 2 dengan jumlah pemadatan 400 kali. Hasil dari proses pemadatan dua fase ini adalah campuran beraspal hot mixture asphalt – percentage refusal density (HMA – PRD). Sesudah proses pemadatan, campuran beraspal kemudian disimulasikan dengan beberapa periode curing dan dua kondisi curing yang berbeda, yaitu curing di dalam dan di luar ruangan, dengan beberapa tingkatan suhu dan kelembaban. Hasil yang diperoleh dari studi ini mengindikasikan bahwa periode curing mempunyai pengaruh yang dominan terhadap kekuatan campuran. Sebenarnya faktor suhu dan kelembaban juga mempunyai kontribusi terhadap bertambah atau berkurangnya kekuatan campuran, namun hal ini tergantung dari lokasi dimana proses curing dilakukan dan tergantung juga pada pengaruh cuaca, terutama pada saat proses curing dilakukan di luar ruangan. Pengujian durabilitas campuran beraspal memberikan hasil bahwa semakin panjang periode curing dan semakin tinggi suhu di lokasi curing, maka campuran beraspal akan semakin awet (durable). Hasil lain yang diperoleh dari studi ini adalah campuran beraspal HMA-PRD menunjukan kinerja dan durabilitas yang lebih superior dibandingkan dengan kinerja dan durabilitas campuran beton aspal (AC).   ABSTRACT  The aim of this study was to provide up-to-date information about the influence of curing period and environmental factors, that are temperature and humidity, towards the performance and durability of asphalt mixtures. To measure the performance of the  mixture, several Marshall characteristics, such as Marshall stability, flow, Marshall Quotient (MQ), Void Filled with Asphalt (VFA), Void in the Mix (VIM) and Void in Mineral Aggregate (VMA) are used in this study, whereas Marshall Retained Stability is used to measure the durability characteristic of the mixtures. The mixtures are developed according to two standard specifications, that is, SKBI – 2.4.26.1987 UDC : 625.75 (02), the old specification, on which the mixtures, AC mixture, is compacted as many as 150 blows (75 times per face). Another specification used in this study is the new specification for hot mixture proposed by Department of Public Work (2001), on which asphalt mixture, named HMA-PRD, is compacted in two phases, that is, phase 1 and 2 with total 150 blows and 400 blows, respectively. After the compaction, the mixture then is cured in different curing period and in several conditions, that is, indoor and outdoor conditions with different levels of temperature and humidity.  The result indicates that curing period has dominant effect on the mixtures stiffness. Actually, temperature and humidity factors also contribute to the results; however, it depends on the location of the mixtures cured and also the climates. The durability test results that the longer the curing period and the higher the temperature are, the more durable the mixtures will be. Another result of this study is the new-specification mixture, HMA-PRD, is more superior than the old-specification mixture in stiffness and durability parameters. Keywords: asphalt mixtures, curing period, environmental factors, performance, durabilityPermalink: http://ejournal.undip.ac.id/index.php/mkts/article/view/3687[How to cite: Setiadji, B.H. (2008), The Influence of Environmental Factors and Curing Period toward the Performance and durability of Asphalt Mixtures, Jurnal Media Komunikasi Teknik Sipil, Tahun 16, Nomor 2, pp. 105-116]
Penentuan Prioritas Pembangunan Pelabuhan di Kabupaten Mukomuko dengan Metode Analytical Hierarchy Process Adi, Henny Pratiwi
MEDIA KOMUNIKASI TEKNIK SIPIL Tahun 16, Nomor 2, JUNI 2008
Publisher : Department of Civil Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (251.096 KB) | DOI: 10.14710/mkts.v16i2.3688

Abstract

The competition strictness in the economic field needed the exact strategy to maximising the available potential. As the  island area that was surrounded by ocean, the Mukomuko Regency in Bengkulu, had the big potential to be developed especially in the export import activity and the sea transportation. There were 4 port kinds that will be developed in the Mukomuko Regency those  are the crossing port, the sea port, the trade port and the fish port. The determination of priority in the port kind and it location that developed immediately must be carried out, so  the port that was built could be used maximally. The data collection was carried out with observation and the interview. The variables that was used as the determination criterion of  priority in the port development was marine aspect,  fisheries aspect,  transport aspect, layout aspect and environment aspect. The research results showed that location in Mukomuko more appropriate for the crossing port, the location in Bantal was more appropriate for the fish port, the location in the Kumbang Badak appropriate for the sea port and the location in the Kuala Tramang more appropriate for the trade port especially agricultural produce. Based on result of Analytical Hierarchy Process (AHP),  the development of  sea port in  Kumbang Badak became the main priority to built immediately. Keywords:  priority, port development, AHP   ABSTRAKKetatnya persaingan di bidang perekonomian memerlukan strategi yang tepat dalam  mengoptimalkan potensi yang ada.  Sebagai daerah kepulauan yang dikelilingi lautan, Kabupaten Mukomuko di Bengkulu,  memiliki potensi untuk dikembangkan terutama dalam kegiatan ekspor impor dan transportasi laut. Ada 4 jenis pelabuhan yang akan dibangun di Kabupaten Mukomuko yaitu pelabuhan penyeberangan, pelabuhan laut, pelabuhan barang dan pelabuhan ikan. Penentuan prioritas jenis pelabuhan dan lokasinya yang harus segera dibangun perlu dilakukan, agar pelabuhan yang dibangun dapat dimanfaatkan secara maksimal. Pengumpulan data dilakukan dengan pengamatan dan wawancara. Variabel-variabel yang digunakan sebagai kriteria penentuan prioritas pembangunan pelabuhan adalah aspek kelautan, aspek perikanan, aspek transportasi, aspek tata ruang dan aspek lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan lokasi di Mukomuko lebih sesuai untuk pelabuhan penyeberangan (ASDP), lokasi di Bantal lebih sesuai dikembangkan untuk pangkalan pendaratan ikan, lokasi di Kumbang Badak sesuai untuk pelabuhan laut dan lokasi di Kuala Tramang lebih sesuai untuk pelabuhan barang utamanya hasil bumi. Berdasarkan hasil Analytical Hierarchy Process (AHP), maka pembangunan pelabuhan laut di Kumbang Badak menjadi prioritas utama untuk segera dibangun. Kata Kunci : prioritas, pembangunan pelabuhan, AHPPermalink: http://ejournal.undip.ac.id/index.php/mkts/article/view/3688[How to cite: Adi, P.A. (2008), Penentuan Prioritas Pembangunan Pelabuhan di Kabupaten Mukomuko  dengan Metode Analytical Hierarchy Process, Jurnal Media Komunikasi Teknik Sipil, Tahun 16, Nomor 2, pp. 117-129]
Analisa Balik Kelongsoran (Studi Kasus di Jember) Arif, Musta'in; Widodo, Amien
MEDIA KOMUNIKASI TEKNIK SIPIL Tahun 16, Nomor 2, JUNI 2008
Publisher : Department of Civil Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (457.882 KB) | DOI: 10.14710/mkts.v16i2.3689

Abstract

Peneliti akan melakukan analisa kelongsoran (deformasi yang terjadi) dalam model 3D, dengan Program Plaxis 3D Foundation Version 1.5., dengan meninjau kondisi pelapukan tanahnnya yang terbaca dari data hasil bor dalam berupa data properties tanah dan variasi naiknya tinggi muka air tanah. Hal ini untuk melihat apakah perilaku deformasi sesuai dengan kondisi yang ada di lapangan, sehingga penelitian ini mengambil judul analisa balik kelongsoran. Bidang longsor dari hasil analisa dengan Plaxis menunjukkan saat tidak hujan (muka air tanah) jauh dari permukaan bidang tanah angka keamanan (Safety factor) nya lebih dari satu yaitu SF = 1.063, tetapi harga ini mengindikasikan bahwa kondisi tanah yang ada sudah kritis, dengan memperhatikan SF nya yang mendekati nilai 1, ketika muka air tanah naik dengan anggapan terjadi hujan yang mengakibatkan kondisi tanah menjadi semakin jenuh safety factor nya berkurang, SF = 0.873 yang mengakibatkan terjadi longsor. Terlihat juga bahwa tanah yang cenderung longsor adalah tanah pada Lapisan 1 (dengan bidang longsor antara lapisan 1 dan lapisan 2) yaitu lapisan tanah yang mengalami pelapukan (tanah residual), sedang lapisan 2 maupun lapisan 3 tidak terdeformasi. Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah: Model deformasi yang di dapatkan dari hasil Plaxis, mempunyai kecenderungan yang sama dengan kondisi deformasi yang terjadi di lapangan sedangkan letak bidang longsor dengan Plaxis, menunjukkan bidang longsor yang menyerupai kondisi di lapangan. Kondisi semua lapisan tanah yang jenuh oleh air tanah pada lokasi, terancam longsor. Faktor utama penyebab ketidakstabilan lereng sangat mungkin dipengaruhi oleh naiknya muka air tanah (drainase tidak ada) yang dapat menurunkan stabilitas lereng. kunci: longsor, plaxis, tinggi muka air tanah, deformasi, bidang longsor   ABSTRACT Researcher will do analysis of its slide (deformation that happened) in model 3D, with Program of Plaxis 3D Foundation Version 1.5., with evaluating condition of decay of soil read from data result of drilling in the form of data of properties of land soil and variation of go up high of ground water table. This matter to see whether what behavior of deformation as according to condition of exist in field, so that this research take title back analyze to landslide. Area slide from result analyze by Plaxis show moment do not the rain (ground water table) far from surface of area of land Safety Factor its more than one that is SF = 1.063, but this price is indication that condition of existing land have critical, paid attention toly is its SF coming near value 1, when face of ground water go up with ascription happened by the rain resulting condition of land become saturated progressively safety factor improvement of event slide effect of is act of human being decrease, SF = 0.873 resulting happened to slide. Seen also that land which tend to sliding is land of at Layer 1 (with area slide between layer 1 and the layer 2) that is geology experiencing of decay (residual soil), layer of medium 2 and also layer 3 do not the deformation. Conclusion which can be taken away from this research is: model of Deformation which is in getting from result Plaxis, having same tendency with condition of deformation that happened in field of while situation of area slide by Plaxis, showing area slide looking like condition in field. Condition of all saturated geology by ground water at location, threatened slide. primary factor of Cause of instability of bevel very is possible influenced by going up nya of ground water table (drainage of there no) which can degrade bevel stability. Keywords: slide, plaxis, high of ground water table, deformation, area slidePermalink: http://ejournal.undip.ac.id/index.php/mkts/article/view/3689[How to cite: Arif, M. dan Widodo, A. (2008), Analisa Balik Kelongsoran (Studi Kasus di Jember), Jurnal Media Komunikasi Teknik Sipil, Tahun 16, Nomor 2, pp. 130-147]
Analisis Kebutuhan Jenis Fasilitas Penyeberang Jalan Berdasarkan Gap Kritis (Studi Kasus PT. Sido Muncul Ungaran – Jawa Tengah) Siwanto, Joko; Teguh, Julianto
MEDIA KOMUNIKASI TEKNIK SIPIL Tahun 16, Nomor 2, JUNI 2008
Publisher : Department of Civil Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (271.881 KB) | DOI: 10.14710/mkts.v16i2.3690

Abstract

The type of pedestrians crossing facility provided for employees along the street Ungaran - Bawen hasn’t been same and its use isnot efficient since there are still any cases appeared either for the pedestrians crossing the street or traffic flow generally. The aim of the study is to evaluate the work of pedestrians crossing facility, that is zebra cross from the side of analysis on critical gap for finding out the opportunity in crossing the street safety and donot disturb the passing vehicles. This analysis method of critical gap is used for searching the minimum gap among vehicle passing through location in order that the pedestrian crossing the street may cross safety. Primary data taking is carried out through field survey using handycam for watching the conflict point and time gap between vehicles passing through the street and pedestrian who cross the street to the conflict point. From the data analysis result, the writer obtains that critical gap in study location is 2,62 second and the opportunity degree for crossing the street safety is only 11 persons on 6.30 to 7.30 WIB and 7.30 to 8.30 as much as 29 persons. Thus, we may conclude that pedestrian crossing facility, namely zebra cross is not effective and for the further is that pedestrian crossing should not be in the same field. Keywords: Zebra Cross, AnalysisPermalink: http://ejournal.undip.ac.id/index.php/mkts/article/view/3690[How to cite: Siswanto, J. dan Teguh, J. (2008), Analisis Kebutuhan Jenis Fasilitas Penyeberang Jalan Berdasarkan Gap Kritis (Studi Kasus PT. Sido Muncul Ungaran – Jawa Tengah), Jurnal Media Komunikasi Teknik Sipil, Tahun 16, Nomor 2, pp. 148-159]
Usulan Metoda Perhitungan Interaktif Struktur Pondasi di Atas Tanah Lunak dengan Menyertakan Pengaruh Penurunan Konsolidasi Jangka Panjang Lastiasih, Yudhi; Mochtar, Indrasurya B.
MEDIA KOMUNIKASI TEKNIK SIPIL Tahun 16, Nomor 2, JUNI 2008
Publisher : Department of Civil Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.848 KB) | DOI: 10.14710/mkts.v16i2.3691

Abstract

Calculation of shallow foundation, as mat foundation or other types of raft foundation, on soft soil has never included any consideration of soil consolidation. Generally in calculation, the upper structure is considered separate from the lower structure. If long term consolidation is included, the problem will occur when a relatively very rigid structure (on shallow foundation) is assumed to cause relatively uniform settlement, so as to assume no differential settlement. Whereas, uniform consolidation settlement is induced only by non-uniform soil reaction, so that this problem can never be solved with the assumption of separate upper-lower structures. In this paper, a method of structural calculation is suggested so that building may undergo uniform settlement as long as the soil consolidation occurs, without causing any damage to the building. The calculation is performed using special program with assumption that the induced soil reaction is always to cause uniform settlement. From this method, a procedure of soil –structure interaction is proposed that building on soft soil may experience large settlement without damage. Keywords: Method of foundation design, Soil-structure interaction, Consolidation settlement, Shallow foundation, Soft soil problem ABSTRAK Perhitungan pondasi dangkal seperti pondasi pelat penuh ( mat foundation) atau tipe pondasi rakit lainnya di atas tanah lunak belum ada yang memasukkan unsur penurunan konsolidasi tanah dasar dalam perhitungan. Umumnya dalam perhitungan yang ada, struktur atas dan bawah dianggap terpisah. Untuk memasukkan konsolidasi jangka panjang, masalah akan terjadi ketika gedung yang relatif sangat kaku diasumsikan menyebabkan penurunan yang merata,sehingga dianggap tidak ada beda penurunan. Padahal untuk penurunan konsolidasi yang merata dibutuhkan reaksi tanah yang tidak merata, sehingga masalah ini tidak akan pernah dapat diselesaikan dengan sistem perhitungan terpisah. Pada uraian ini diupayakan suatu metoda perhitungan struktur yang dapat mengalami penurunan secara merata selama konsolidasi tanah berlangsung, tanpa menyebabkan terjadinya kerusakan pada strukturnya. Perhitungan dilakukan dengan program khusus dengan asumsi reaksi tanah selalu menghasilkan penurunan yang merata. Dari metode ini diusulkan cara perhitungan interaksi tanah – gedung di tanah lunak yang menyebabkan gedung dapat mengalami settlement tanpa rusak. Kata kunci: Metoda perencanaan pondasi, Interaksi tanah-gedung, Penurunan konsolidasi, Pondasi dangkal, Masalah tanah lunakPermalink: http://ejournal.undip.ac.id/index.php/mkts/article/view/3691[How to cite: Lastiasih, Y. dan Mochtar, I.B. (2008), Usulan Metoda Perhitungan Interaktif Struktur Pondasi di Atas Tanah Lunak dengan Menyertakan Pengaruh Penurunan Konsolidasi Jangka Panjang, Jurnal Media Komunikasi Teknik Sipil, Tahun 16, Nomor 2, pp. 160-170]
Analisa Finansial Rencana Pembangunan Jalan Tol Palembang - Indralaya Yuanda, Yudianto; Haneman, Asrullah
MEDIA KOMUNIKASI TEKNIK SIPIL Tahun 16, Nomor 2, JUNI 2008
Publisher : Department of Civil Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (278.727 KB) | DOI: 10.14710/mkts.v16i2.3693

Abstract

Traffic jam often happens on the road for Palembang-Indralaya route Also number of accidents on the road is very high. Therefore distances in 22 kilometers. This research is aimed to make a financial feasibility study on Palembang-Indralaya toll road. The analysis used is traffic analysis from financial revenue side of the toll revenue. The number of traffic growth is taken from the growth of Gross Regional Domestic Product of the Province of South Sumatera which is currently 6.9% on average. From the result of 2007 survey, it is obtained that the average of daily traffic is currently 19,900 smp/2 directions/day. Then, the traffic analysis and financial From the result of cash flow calculation for Palembang-Indralaya toll road, it is obtained that for the calculation of construction of Alternative I Rigid Pavement, the result is not feasible (pessimistic) for implementation because the IRR is 15.84% and for NPV it is Rp 566,454,000,000.00. BEP will be earned in the 22nd year while BCR = 0.75 < 0. For cash flow with construction of Alternative II with Flexible Pavement, the result is not yet feasible to be implemented because the FIRR is 16.92% and for NPV it is Rp 818,541,000,000.00 and BEP is in the 19th year, BCR = 0.63 < 1. Keywords : LHR, Travel Time, Volume Lalu Lintas, Cash Flow, IRR, NPV, BCR, BEP, ABSTRAK Kemacetan lalu lintas terjadi pada jalan jurusan Palembang-Indralaya juga pada jalan tersebut sangat besar untuk mengimbangnya dan menentukan laju peningkat lalu lintas, maka perlu dibuat jalan tol Palembang-Indralaya sepanjang 22 Km. Tujuan dari penelitian ini untuk melakukan studi kelayakan finansial perencanaan pembangunan jalan tol Palembang-Indralaya analisa yang digunakan adalah analisa lalu lintas dari segi finansial revenue dari pendapatan tol sedangkan angka pertumbuhan lalu lintas diambil dari pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Propinsi Sumatera Selatan pada saat ini rata-rata 6,9 %. Dari hasil survey tahun 2007 didapat lalu lintas harian rata-rata pada saat ini 19.900 smp/2 arah/hari dilanjutkan dengan analisa lalu lintas dan analisa finansial, Dari hasil perhitungan Cash Flow Jalan Tol Palembang – Indralaya didapat untuk perhitungan konstruksi Alternatif I Pile Slab (Rigid Pavement) hasilnya tidak layak (pesimis) untuk dilaksanakan karena IRR yang didapat adalah:15,84% dan untuk NPV di dapat:Rp. 566.454.000.000 BEP di dapat pada tahun ke 22 sedangkan BCR = 0,75 < 0 untuk Cash Flow dengan konstruksi Alternatif II dengan cerucuk gelam (Flexibel Pavement) hasilnya adalah belum layak untuk dilaksanakan karena IRR yang didapat adalah:16,92% dan NPV adalah Rp. 818.541.000.000 dan BEP tahun ke 19 BCR = 0,63 < 1Kata Kunci : LHR, Travel Time, Volume Lalu Lintas, Cash Flow, IRR, NPV, BCR, BEPPermalink: http://ejournal.undip.ac.id/index.php/mkts/article/view/3693[How to cite: Yuanda, Y. dan Haneman, A. (2008), Analisa Finansial Rencana Pembangunan  Jalan Tol Palembang - Indralaya, Jurnal Media Komunikasi Teknik Sipil, Tahun 16, Nomor 2, pp. 171-186]
Kajian Perbandingan Debit Andalan Sungai Cimanuk Metoda Water Balance dan Data Lapangan Bakhtiar, Bakhtiar
MEDIA KOMUNIKASI TEKNIK SIPIL Tahun 16, Nomor 2, JUNI 2008
Publisher : Department of Civil Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (258.645 KB) | DOI: 10.14710/mkts.v16i2.3694

Abstract

Provision of an adequate quantity of water has been a matter of concern since the beginning of civilization. Rivers is an important water resource for water supply. The availability of water to be supplied for many purpose of demand is measured in discharge. There are several methods can be used to calculate and analyze it. In this research and paper two methods was used and compared. There are FJ Mock method called water balance method, compared with actual discharges that measured at field. From the process in analyzing and comparing its appeared that there is two views in evaluate the difference between calculating result and measuring result. First is in absolute amount, and second is in percentage of amount of the difference toward actual amount from measuring in field. The data in this research is used as the case study was taken from Cimanuk River. The conclusion is there will be better to look the difference between the results from calculating method and measuring method, in the absolute amount of discharge. Keywords: Available discharge, calculating method, measuring method, percentage value difference, absolute amount difference ABSTRAK Persoalan kecukupan jumlah ketersediaan air telah menjadi perhatian sejak awal peradaban manusia. Sungai adalah sumber alam penting untuk suplai terhadap kebutuhan air. Ketersediaan air untuk memenuhi berbagai kebutuhan diukur dengan debit. Terdapat berbagai metoda untuk menghitung dan menganalisa debit. Dalam tulisan dan penelitian ini dua metoda digunakan dan dibandingkan. Yaitu metoda FJ Mock yang disebut metoda neraca kesimbangan air, lalu dibandingkan dengan metoda hasil pengukuran langsung dilapangan. Dalam proses analisis muncul dua sudut pandang dalam membandingkan hasil kedua metoda tersebut, yaitu pertama adalah selisih absolute dari debit dan kedua adalah prosentasi selisih debit. Data untuk penelitian ini diambil dari Sungai Cimanuk, sebagai tempat studi kasus. Kesimpulan yang didapat dari penelitian adalah bahwa akan lebih baik membandingkan hasil perhitungan analisa antara metoda hitung dan metoda pengukuran lapangan dalam besaran selisih debit.Kata kunci : Debit andalan, metoda kalkulasi, metoda pengukuran, selisih nilai persentasi, perbedaan nilai absolutPermalink: http://ejournal.undip.ac.id/index.php/mkts/article/view/3694[How to cite: Bakhtiar (2008), Kajian Perbandingan Debit Andalan Sungai Cimanuk Metoda Water Balance dan Data Lapangan, Jurnal Media Komunikasi Teknik Sipil, Tahun 16, Nomor 2, pp. 200-207]
Pengaruh Penambahan Plastik LDPE (Low Density Poly Ethilen) Cara Basah dan Cara Kering terhadap Kinerja Campuran Beraspal Suroso, Tjitjik Wasiah
MEDIA KOMUNIKASI TEKNIK SIPIL Tahun 16, Nomor 3, OKTOBER 2008
Publisher : Department of Civil Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (259.203 KB) | DOI: 10.14710/mkts.v16i3.3695

Abstract

To increase the characteristic of asphalt mixture, one of is to add plastik or in chemical term called polymer into asphalt. Generally plastik is in pellet that is difficult for mixture with asphalt For kind of this should be use additional equipment  where not available in all region or in Asphalt Mixing Plant Unit. Therefore, solution of that have to look for method  mixture polymer without additional equipment. There are two kinds of mixing of polymer addition for increasing characteristic asphalt mixture. Is dry process and wet process. Wet process  can be performed by adding polymer into hot asphalt then mixed uniformly. Mean while, dry process can conducted by adding polymer into hot aggregate. The purpose of the research is to find out the performance of asphalt mixture as resulted from polymer LDPE addition both in wet and dry process at optimum asphalt content of  asphalt pen 60 mixture from Marshall Test and polymer content 3.5% weight of asphalt where is same with polymer content from wet process. In a dry process, additional polymer to hot aggregate at mixing temperature and mixed for 35 – 40 second. The research result in laboratory , showed that dry process method increased The Stability Marshall characteristics, Dynamic Stability and Resilient Modulus greater than characteristic of asphalt pen 60 mixture but lower than wet process method. Economically Dry process method is cheaper because of faster mixing time no additional mixer needed, easily handled compared to wet process method. Keywords: Asphalt, dry process, wet process, Optimum Asphalt content, polymer, characteristic of asphalt mixture.   ABSTRAK Untuk menaikkan mutu campuran beraspal, salah satunya dengan menambahkan plastik yang dalam istilah kimianya disebut polimer. Umumnya plastik berbentuk pelet sehingga untuk mencampur dengan aspal diperlukan tambahan alat. Peralatan ini tidak selalu tersedia disetiap kota atau Unit Pencampur Aspal. Oleh karena itu perlu dicari solusinya yaitu bagaimana menambahkan polimer tanpa tambahan peralatan. Penambahan polimer untuk menaikkan mutu campuran beraspal ada dua cara, yaitu cara basah (wet process) dimana plastik ditambahkan ke dalam aspal panas dan dicampur hingga homogen dan cara kering dimana plastik ditambahkan ke dalam agregat panas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan pengaruh kedua cara pencampuran plastik mutu rendah jenis LDPE terhadap kinerja campuran beraspal pada kadar aspal optimum, yang sama dengan kadar aspal optimum hasil pengujian Marshall aspal pen 60 sebagai pembanding (balnko), sedangkan kadar plastik adalah 3,5% terhadap berat aspal yang diambil dari hasil pengujian variasi kadar plastik terhadap mutu aspal yang telah dimodifikasi dengan plastik (cara basah). Pada cara kering plastik dengan kadar sama dengan cara basah ditambahkan kedalam agregat panas (pada temperatur campuran) dan diaduk selama 30-45 detik. Dari hasil yang diperoleh di laboratorium menunjukkan cara kering menghasilkan karakteristik Marshall, Stabilitas Dinamis dan Resilien Modulus lebih besar dari aspal pen 60, namun lebih rendah dari cara basah. Dari segi ekonomi cara kering diperkirakan lebih murah karena waktu pencampuran lebih cepat,  tidak memerlukan alat pengaduk (mixer) dan lebih mudah di handle dari pada cara basah.Kata kunci: Aspal, cara kering, cara basah, Kadar aspal optimum, polimer, kinerja campuran beraspalPermalink: http://ejournal.undip.ac.id/index.php/mkts/article/view/3695[How to cite: Suroso, T.W. (2008), Pengaruh Penambahan Plastik LDPE  (Low Density Poly Ethilen) Cara Basah dan Cara Kering terhadap Kinerja Campuran Beraspal, Jurnal Media Komunikasi Teknik Sipil, Tahun 16, Nomor 3, pp. 208-222]
Steel-Slag as Aggregate Substitute’s Influence to Concrete’s Shear Capacity an Experimental Approach Han, Ay Lie; Narayudha, Moga
MEDIA KOMUNIKASI TEKNIK SIPIL Tahun 16, Nomor 3, OKTOBER 2008
Publisher : Department of Civil Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (387.992 KB) | DOI: 10.14710/mkts.v16i3.3696

Abstract

Penggunaan slag baja sebagai pengganti agregat kasar pada beton telah menunjukkan nilai-nilai positif seperti meningkatnya kuat tekan beton, perbaikkan kelacakan (workability) adukan segar dan pengurangan pencemaran logam berat dengan adanya proses solidifikasi dalam semen. Karena masa jenis beton slag juga meningkat, maka perlu diadakan penelitian lanjut tentang kemungkinan penggunaan beton-slag ini sebagai komponen struktural. Peningkatan kuat tekan beton yang seiring dengan peningkatan massa jenisnya membuka peluang penggunaan bahan ini sebagai elemen struktur yang tertumpu pada tanah, seperti misalnya balok basement, balok tie-beam dan rigid pavement. Namun demikian perilaku beton-slag terhadap respons geser (shear) belum diketahui dengan pasti. Uji laboratorium ini meneliti perilaku geser balok beton-slag yang diberi tulangan tunggal sedemikian sehingga pola kehancuran balok dipengaruhi oleh kehancuran gesernya. Hasil pengujian dibandingkan terhadap balok identik dengan agregat Pudak Payung sebagai elemen kontrol. Pengamatan terhadap balok-balok ini menunjukkan bahwa penggunaan slag meningkatkan kapasitas geser beton sebesar 11%, serta tidak terjadi pergeseran pada pola kehancuran. Kata kunci: Slag, Agregat Kasar, Kuat Tekan, Kapasitas Geser. ABSTRACT The use of steel slag as a substitute to natural aggregates for concrete increases the compression strength and workability of fresh concrete mixes. Furthermore, by solidification in the cement matrix, the pollution of heavy metals into soil and groundwater can be reduced significantly. The utilization of slag-concrete to be used as structural components need to be conducted especially since mass density increases as a function of slag percentage. Possible aspects are among others, basement components, tie-beams and rigid pavement elements. All these structures rest directly on supporting under layers, reducing their negative high mass-density effect. While compression and tensile behavior have been explored, the shear capacity of slag-concrete has yet to be investigated. This experimental work covers the behavior of singly reinforced concrete beams failing under shear mode. The result is compared to the controlling element, identical to the concrete-slag beam. The controlling beam uses Pudak Payung aggregates. The experimental research shows that the slag-concrete’s shear capacity increases 11% to the Pudak Payung concrete. The mode of failure however, remains the same.Keywords: Slag, Coarse Aggregates, Compression and Shear StrengthPermalink: http://ejournal.undip.ac.id/index.php/mkts/article/view/3696[How to cite: Han A.Y. dan Narayudha, M. (2008), Steel-Slag as Aggregate Substitute’s Influence to Concrete’s Shear Capacity an Experimental Approach, Jurnal Media Komunikasi Teknik Sipil, Tahun 16, Nomor 3, pp. 223-230]
Analisa Perbaikan Sub-Grade Runway Lapangan Terbang dengan Metode Vertical Drain (Studi Kasus Bandara Tempuling di Tembilahan, Propinsi Riau) Sandhyavitri, Ari; Wibisono, Gunawan; Juniati, Sri; Rioputra, M. Dian
MEDIA KOMUNIKASI TEKNIK SIPIL Tahun 16, Nomor 3, OKTOBER 2008
Publisher : Department of Civil Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (375.269 KB) | DOI: 10.14710/mkts.v16i3.3697

Abstract

Soil stabilization for the runway sub-grade in Tampuling Airport, Tembilahan, Riau province is required as the existing soil is in the grouped of peat or soft soil. The compressibility rate of this soil is very height, with the depth of the soft soil of more than 30 meters from its surface. Based on “the worst case scenario” without any soil stabilization treatment, it was estimated that the soil consolidation rate would be 1.7 metre within 20 years period of settlement. In order to speed up consolidation process, the vertical drain method was applied. Design of pre loading technique as well as the calculation of distance between vertical drains is then demonstrated in this paper. It was estimated that the depth of vertical drain would be 18 metres, with the distance between vertical drains is 1.2 metres each; height of pre loading is 4.5 metres. With these design parameters, it was expected that the settlement process would be accelerated by 40 folds (235 months to become 6 months period). Keywords: Vertical Drain, Pre-Loading, Settlement, Consolidation, Sub-Grade. ABSTRAK Perbaikan sub-grade untuk menopang perkerasan lentur runway bandara Tampuling di Tembilahan, Propinsi Riau perlu dilakukan karena sub-grade nya terdiri atas lapisan tanah gambut dan tanah lunak. Tanah ini mempunyai kriteria sebagai tanah dengan tingkat kompresibilitas tinggi mencapai kedalaman 30 m. Berdasarkan skenario terburuk, setelmen konsolidasi tanpa ada perbaikan tanah (sub-grade) akan terjadi sebesar 1,7 meter dalam 20 tahun (235 bulan). Upaya untuk mempercepat konsolidasi dilakukan dengan memasang drainase vertikal (vertical drain). Perencanaan tinggi pre-loading, dan spasi drainase vertikal berikut kedalamannya mempengaruhi proses kecepatan konsolidasi dianalisa. Hasil perencanaan yang diusulkan adalah sebagai berikut; (i) kedalaman drainase vertikal = 18 m;(ii) spasi antar drainase = 1,2 m; dan (iii) tinggi preloading = 4,5 m. Setelmen yang direncanakan dapat dipercepat sebesar 40 kali dari semula 235 bulan menjadi sekitar 6 bulan.Kata Kunci : Drainase Vertikal, Preloading,  Setelmen, Konsolidasi, Tanah Dasar/Sub-gradePermalink: http://ejournal.undip.ac.id/index.php/mkts/article/view/3697[How to cite: Sandhyavitri, A., Wibisono, G., Juniati, S. dan Rioputra, M.D. (2008), Analisa Perbaikan Sub-Grade Runway Lapangan Terbang dengan Metode Vertical Drain (Studi Kasus Bandara Tempuling  di Tembilahan, Propinsi Riau), Jurnal Media Komunikasi Teknik Sipil, Tahun 16, Nomor 3, pp. 231-242]

Page 1 of 28 | Total Record : 273