cover
Filter by Year
Radioterapi & Onkologi Indonesia
S4
Sinta Score
ISSN : 20869223     EISSN : -
Majalah Radioterapi & Onkologi Radiasi Indonesia (Journal of the Indonesian Radiation Oncology Society) dengan ISSN 2086-9223, satu-satunya majalah dalam bidang Onkologi Radiasi di Indonesia, merupakan majalah di bawah penerbit Perhimpunan Dokter Spesialis Onkologi Radiasi Indonesia (PORI). Majalah ini rutin diterbitkan sejak tahun 2010 dengan frekuensi terbitan 2 kali dalam setahun.
Articles
54
Articles
Radioterapi pada Sarkoma Uterus

Kristian, Yoseph Adi, Sekarutami, Sri Mutya

Radioterapi & Onkologi Indonesia Vol 9, No 1 (2018): Volume 9 No.1 Januari 2018
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Onkologi Radiasi Indonesia (PORI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1257.045 KB)

Abstract

Sarkoma uterus merupakan keganasan uterus yang langka. Secara umum tumor ini dianggap memiliki karakter yang agresif dan sering dikaitkan dengan prognosis yang buruk. Walaupun penggunaan radioterapi masih diperdebatkan, terdapat penelitian yang menunjukkan  bahwa radioterapi adjuvan dapat memperbaiki local-regional failure free survival (LRFFS) 5 tahun dari 55.3% menjadi 70.8% serta secara signifikan mampu meningkatkan survival rate. 

Kompresi Medula Spinalis akibat Metastasis

Sinambela, Aurika, Ramli, Irwan

Radioterapi & Onkologi Indonesia Vol 9, No 1 (2018): Volume 9 No.1 Januari 2018
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Onkologi Radiasi Indonesia (PORI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (736.027 KB)

Abstract

Sebanyak 5 – 10% pasien kanker akan mengalami kompresi medulla spinalis akibat metastasis (KMSM). Penyakit ini terjadi saat tumor atau fragmen tulang menggeser dan menekan kedudukan medulla dalam kanalis spinalis. Gejala utama adalah nyeri punggung (83-95% pasien), dengan atau tanpa deficit motorik (82% pasien) dan sensorik (50-80% pasien).  Saat ini pencitraan terpilih untuk diagnosis kompresi medulla spinalis adalah MRI dengan kontras. Kondisi ini merupakan salah satu kegawatdaruratan onkologi, yang harus ditatalaksana segera setelah diagnosisnya ditentukan. Modalitas terapi yang tersedia saat ini adalah operasi, radioterapi, dan kortikosteroid. Sepertiga pasien dengan KMSM memiliki kesempatan hidup lebih dari 1 tahun setelah terapi, sehingga tatalaksana yang dipilih harus mempertimbangkan toksisitas dan morbiditas pasca terapi agar tercapai kualitas hidup yang optimal.

Revolusi Teknik Radioterapi pada Karsinoma Nasofaring

Sinambela, Aurika, Supriana, Nana

Radioterapi & Onkologi Indonesia Vol 9, No 1 (2018): Volume 9 No.1 Januari 2018
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Onkologi Radiasi Indonesia (PORI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (994.715 KB)

Abstract

Karsinoma nasofaring (KNF) adalah keganasan yang berasal dari sel epitel nasofaring. Laju insidens paling tinggi ada di Asia Tenggara, termasuk Indonesia.Perkembangan terapi radiasi menjadi revolusi tatalaksana KNF.Dalam beberapa dekade terakhir, akumulasi pengetahuan mengenai radiobiologi dan penentuan volume target, serta modalitas radiodiagnostik yang semakin maju memungkinkan revolusi teknik radiasi KNF.Peningkatan signifikan sintasan dan pengurangan toksisitas yang fatal pada terapi radiasi pasien KNF dapat dicapai setelah revolusi teknik radiasi dari era 2DRT, 3DCRT, hingga IMRT.

Hubungan antara Perilaku Merokok dengan Kejadian Mukositis Berat pada Pasien Keganasan Kepala dan Leher yang Menjalani Radioterapi

Pulungan, Adhi Marihot Pardamean, Hariyanto, Agustinus Darmadi, Nugroho, Candra Adi, Farisi, Dede Sulaeman, Sandjaja, Franky, Auzan, Mahesa, Yudistira, Mega, Angela, Nellyn, Djaali, Widyanti, Prajogi, Gregorius Ben

Radioterapi & Onkologi Indonesia Vol 9, No 1 (2018): Volume 9 No.1 Januari 2018
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Onkologi Radiasi Indonesia (PORI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (824.819 KB)

Abstract

Tujuan: Mukositis akibat radiasi adalah reaksi yang paling mengganggu yang terjadi ketika pasien kanker kepala leher menjalani radiasi. Telah diketahui bahwa merokok dapat mengganggu aktivitas sitotoksik Natural Killer cells dengan meningkatkan produksi sitokin pro-inflamasi dan proliferasi sel T terhadap mitogen. Kasus berbasis bukti ini mengevaluasi dampak riwayat merokok sebelumnya terhadap kejadian mukositis pada pasien kanker kepala leher yang menjalani pengobatan radiasi.Metode: Pencarian bukti-bukti dari literatur dilakukan di PubMed dan EBSCOhost. Seluruh penelitian yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dinilai aspek validitas, kepentingan dan aplikabilitasnya dengan menggunakan kuesioner penilaian kritis dari Oxford Center of Evidence-Based MedicineHasil: Dari 104 penelitian yang sudah ditemukan, 6 penelitian dipilih untuk ditelaah lebih lanjut. Hanya terdapat satu studi, Tao dkk., yang menunjukkan hubungan yang signifikan antara riwayat merokok dan reaksi mukosa oral akibat radiasi meskipun dengan Interval Kepercayaan yang rendah (1.258-58.23). Lima penelitian lainnya gagal menunjukkan hubungan yang signifikan.Kesimpulan: Tidak ada penelitian yang menunjukkan dampak riwayat merokok sebelumnya dengan kejadian mukositis pada pasien kanker kepala leher yang menjalani radiasi. Namun, lima dari enam penelitian menunjukkan insiden mukositis yang lebih tinggi pada kelompok pasien yang memiliki riwayat merokok sebelumnya.

Angiofibroma Nasofaring Juvenil

Ginting, Hezron K, Supriana, Nana

Radioterapi & Onkologi Indonesia Vol 9, No 1 (2018): Volume 9 No.1 Januari 2018
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Onkologi Radiasi Indonesia (PORI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (826.447 KB)

Abstract

Juvenile Nasopharyngeal Angiofibroma merupakan tumor jinak kepala leher langka pada remaja laki-laki namun mempunyai risiko invasi yang tinggi karena sifatnya yang agresif dan merusak tulang - tulang tengkorak. Pembedahan masih merupakan terapi utama untuk kasus ini. Terapi lain yang dapat diberikan meliputi tatalaksana hormonal, embolisasi dan radiasi. Radiasi memiliki peran pada kasus Juvenile Nasopharyngeal Angiofibroma lanjut di mana tidak dapat dilakukan operasi atau operasi yang dilakukan tidak dapat mengangkat tumor secara keseluruhan.

Perbandingan Protokol Terapi Radiasi pada Glioblastoma Multiforme

Raharjo, Febryono Basuki, Supriana, Nana

Radioterapi & Onkologi Indonesia Vol 8, No 1 (2017): Volume 8 No.1 Januari 2017
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Onkologi Radiasi Indonesia (PORI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1356.484 KB)

Abstract

Peran radioterapi dalam penatalaksanaan Glioblastoma Multiforme (GBM) terus berkembang, mulai dari teknik Whole Brain Radiotherapy (WBRT), 3D-Conformal Radiotherapy (3D-CRT) hingga teknik Intensity Modulated Radiotherapy (IMRT). Perkembangan teknologi radiodiagnostik CT-scan dan MRI juga berkontribusi besar dalam peningkatan akurasi dalam lokalisasi gross tumor. Seiring peningkatan teknologi tersebut, penentuan volume target radiasi menjadi hal yang terus menjadi perdebatan dan terdapat beberapa perbedaan panduan protokol delineasi. Dalam tinjauan pustaka ini, kami akan membandingkan serta mempelajari kelemahan dan keuntungan dari berbagai protokol delineasi yang ada.

Kraniofaringioma

Silalahi, Montesqieu, Djakaria, H.M

Radioterapi & Onkologi Indonesia Vol 8, No 1 (2017): Volume 8 No.1 Januari 2017
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Onkologi Radiasi Indonesia (PORI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1295.933 KB)

Abstract

Kraniofaringioma merupakan tumor jinak regio sella yang jarang terjadi dan penanganannya memiliki kesulitan yang tinggi karena lokasinya dan morbiditasnya, serta tingginya laju rekurensi. Di Amerika Serikat, sekitar 1,2-4,6% dari seluruh tumor intrakranial adalah kraniofaringioma. Gambaran khas untuk kraniofaringioma adalah tumor suprasella dengan komponen padat dan kistik yang dapat disertai dengan gambaran kalsifikasi. Reseksi komplit lewat pembedahan diyakini merupakan pilihan tatalaksana terbaik, walaupun sayangnya sulit tercapai. Radiasi eksterna diberikan pada reseksi subtotal dan sebagai terapi utama pada kraniofaringioma rekuren. Teknik radiasi konformal yang diberikan setelah reseksi subtotal baik dengan menggunakan dosis konvensional ataupun dengan teknik stereotactic radiosurgery (SRS) memberikan kontrol lokal yang baik dan mengurangi risiko morbiditas dibandingkan terapi pembedahan yang agresif untuk mencapai reseksi total.

Sarkoma Ewing

Gozal, Fenny, Djakaria, H.M

Radioterapi & Onkologi Indonesia Vol 8, No 1 (2017): Volume 8 No.1 Januari 2017
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Onkologi Radiasi Indonesia (PORI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1214.526 KB)

Abstract

Sarkoma Ewing/ Ewing Sarcoma (ES) merupakan keganasan tulang tersering nomor dua pada anak setelah osteosarkoma. Sebagai tumor dengan derajat keganasan tinggi, seringkali ES terdiagnosis dengan kondisi lesi yang ekstensif serta tidak jarang sudah mengalami metastasis sehingga prognosis pasien menjadi buruk. Tata laksana yang tepat untuk ES menjadi tantangan bagi klinisi dalam menangani pasien. Terapi multimodalitas berupa kombinasi antara kemoterapi, pembedahan dan radioterapi menjadi pilihan terbaik dalam tatalaksana ES yang dapat meningkatkan angka 5 year survival dari pasien ES. Radioterapi dalam hal ini memiliki peranan sebagai terapi definitif, pre operatif maupun sebagai terapi adjuvan post operatif.

Keganasan Primer Vagina

Ari Lestari, Anak Agung Sagung, Supriana, Nana

Radioterapi & Onkologi Indonesia Vol 8, No 1 (2017): Volume 8 No.1 Januari 2017
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Onkologi Radiasi Indonesia (PORI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1064.571 KB)

Abstract

Keganasan primer vagina adalah keganasan yang jarang ditemukan, berkisar 1-2% dari seluruh keganasan ginekologi. Keganasan primer vagina sebagian besar berupa karsinoma sel skuamosa yang erat berhubungan dengan adanya infeksi Human Papillomavirus (HPV). Radioterapi memegang peranan penting dalam tatalaksana keganasan vagina dengan mengkombinasikan radiasi eksterna dengan brakiterapi. Operasi memiliki peran yang sangat sedikit pada kasus ini karena letak anatomis vagina yang sangat dekat dengan kandung kencing dan rektum. Kemoradiasi masih diperdebatkan penggunaannya dalam terapi keganasan vagina.

Kanker Vulva

Nurhidayat, Wahyudi, Ramli, Irwan

Radioterapi & Onkologi Indonesia Vol 8, No 1 (2017): Volume 8 No.1 Januari 2017
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Onkologi Radiasi Indonesia (PORI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1561.677 KB)

Abstract

Kanker vulva adalah keganasan ginekologi yang jarang terjadi pada wanita (1% dari seluruh keganasan pada wanita). Sekitar 80-90% jenis histopatologi kanker vulva adalah karsinoma sel skuamosa. Faktor risiko terjadinya kanker vulva adalah usia lanjut, adanya lesi prekanker, infeksi HPV, imunodefisiensi, merokok dan lichen sclerosis. Keterlibatan kelenjar getah bening merupakan faktor prognosis terpenting yang dapat menurunkan overall survival. Modalitas terapi pada kanker vulva adalah kombinasi antara operasi, kemoterapi dan radioterapi. Preservasi anatomi dan fungsi organ menjadi menjadi pertimbangan penting dalam menentukan tatalaksana kanker vulva. Pada makalah ini akan dibahas peran radiasi pada kanker vulva.