J@TI (TEKNIK INDUSTRI)
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : 25021516]
J@ti Undip: Jurnal Teknik Industri [e-ISSN 2502-1516] merupakan jurnal nasional yang mengangkat tulisan-tulisan penelitian dalam disiplin ilmu teknik industri. Pertama kali terbit sejak tahun 2006 hingga saat ini dengan frekuensi terbit tiga (3) kali dalam setahun. Setiap edisi terbitan berisi 8 artikel jurnal. Terbit setiap Januari, Mei, dan September.
Articles 277 Documents
PENGARUH MOTIVASI KERJA DAN GAYA KEPEMIMPINAN TERHADAP DISIPLIN KERJA SERTA DAMPAKNYA PADA KINERJA KARYAWAN (STUDI KASUS PADA PT. PLN (PERSERO) APD SEMARANG) Susanty, Aries; Baskoro, Sigit Wahyu
J@TI (TEKNIK INDUSTRI) Volume 7, No.2, Mei 2012
Publisher : Departement of Industrial Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (396.795 KB)

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis dan membuktikan pengaruh motivasi kerja dan gaya kepemimpinan terhadap disiplin kerja dan kinerja karyawan, serta untuk menganalisis dan membuktikan pengaruh disiplin kerja terhadap kinerja karyawan. Penelitian ini juga ingin memberikan beberapa rekomendasi tentang bagaimana meningkatkan kinerja karyawan untuk Divisi Sumber Daya Manusia (SDM) berdasarkan hasil penelitian ini. Penelitian dilakukan di PT. PLN (Persero) APD Semarang. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang dibagikan kepada 63 orang. Selain kuesioner, data juga dikumpulkan melalui wawancara singkat. Penelitian dilakukan dengan menggunakan Structural Equation Modeling (SEM) yang dijalankan oleh SmartPLS 2.0 M3. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa motivasi dan gaya kepemimpinan memiliki dampak positif yang signifikan terhadap disiplin kerja dan kinerja karyawan. Namun, penelitian ini tidak dapat membuktikan bahwa motivasi memiliki dampak positif yang signifikan terhadap kinerja karyawan. Berdasarkan kondisi yang terjadi dilapangan, penelitian ini menghasilkan rekomendasi untuk perbaikan pekerjaan di masa depan yang berkaitan dengan motivasi, gaya kepemimpinan, disiplin kerja, dan kinerja karyawan. Keyword : motivasi kerja, gaya kepemimpinan, disiplin kerja, dan kinerja karyawan   ABSTRACT The purpose of this study was to analyze and prove the effect of work motivation and leadership style to work discipline and employee performance, as well as to analyze and prove the effect of work discipline on employee performance. This research also want to provide  some recommendation about how to increase employee performance for the Division of   the Human Resources (HR)  based on the results of this study. Research was conducted at PT. PLN (Persero) APD Semarang. Data collected through a questionnaire which distribution to 63 people. Besides questionnaire, data also collected through  a short interview. Research carried out by using Structural Equation Modeling (SEM) which was run by SmartPLS 2.0 M3. The results of this research showed that motivation and leadership style have a significant positive  impact on work discipline and employee performance.  However, this research can’t prove that motivation has a significant positive impact on employee performance. Based the condition which was happen in the field, this research generate recommendations for improvement of future work related to motivation, leadership style, work discipline , and employee performance. Keyword : work motivation, leadership style, work discipline, and employee performance
PEMILIHAN SISTEM PENYEDIAAN AIR BAKU DI PULAU KAHAKITANG KABUPATEN KEPULAUAN SANGIHE Dundu, Ariestides; Mandagi, R. J. M.
J@TI (TEKNIK INDUSTRI) Volume 7, No.2, Mei 2012
Publisher : Departement of Industrial Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (449.251 KB)

Abstract

Kabupaten Kepulauan Sangihe terdiri dari beberapa pulau-pulau kecil yang memiliki permasalahan dalam ketersediaannya air baku. Dari beberapa pulau-pulau kecil yang ada, pulau Kahakitang, mempunyai beberapa sumber air yang dapat dimanfaatkan sebagai penyedia air baku seperti mata air, sumur, air hujan dan air laut. Namun jarak antar dusun yang ada dipulau tersebut saling berjauhan di samping letaknya ada yang di dataran tinggi dan ada di dataran rendah, dusun-dusun dalam satu desa berjauhan dan ada yang berada pada daerah tangkapan yang berbeda, dan debit air dari mata air/sumur sangat kecil, sehingga sumber air yang ada belum dapat melakukan suplai air secara menyeluruh. Sistem Penyediaan Air Baku apa yang memenuhi berbagai kriteria untuk digunakan di Pulau Kahakitang ? Dalam metode Analytic Hierarchy Process (AHP) digunakan kriteria-kriteria : Ketersediaan Air,  Biaya, Kesesuaian Lokasi, Kemudahan Pelaksanaan, dan Perawatan, dengan alternatif : Instalasi Pengolahan Air dengan Reverse Osmosis (IPA-RO), Akuifer Buatan Simpanan Air Hujan (ABSAH), Jaringan pipa dari sumber air, dan Perahu Air dalam memecahkan persoalan tersebut. Hasil yang didapat dalam pemilihan sistem penyediaan air baku di Pulau Kahakitang adalah: untuk Desa Behongan dusun Soa, Sistem IPA-RO merupakan pilihan yang memiliki nilai tertinggi. Sebagai alternatif dapat diambil nilai tertinggi kedua yaitu Perahu Air. Untuk Desa Behongan dusun Sowang,  dari nilai yang didapat bahwa Sistem mengambil dari mata air merupakan pilihan yang memiliki nilai tertinggi. Sebagai alternatif dapat diambil nilai tertinggi kedua yaitu IPA-RO. Untuk Desa Dalako Bombanehe dusun Dalako didapatkan nilai tertinggi untuk sistem penyediaan air dengan menggunakan ABSAH. Sebagai alternatif dapat diambil nilai tertinggi kedua yaitu perahu air. Untuk Desa Dalako Bombanehe dusun Bombanehe didapatkan nilai tertinggi untuk sistem penyediaan air dengan menggunakan IPA-RO. Sebagai alternatif dapat diambil nilai tertinggi kedua yaitu ABSAH. Untuk Desa Batusaiki Taleko dusun Batusaiki didapatkan nilai tertinggi untuk sistem penyediaan air dengan menggunakan Mata air/sumur. Sebagai alternatif dapat diambil nilai tertinggi kedua yaitu IPA-RO, dan Untuk Desa Batusaiki Taleko dusun Taleko didapatkan nilai tertinggi untuk system penyediaan air dengan menggunakan ABSAH. Sebagai alternatif dapat diambil nilai tertinggi kedua yaitu perahu air. Kata kunci : Pulau Kahakitang, Sistem Penyediaan Air Baku, AHP   Abstract   Sangihe Islands District consists of several small islands that have problems in the availability of raw water. Of several small islands there, Kahakitang island, has several water sources that can be utilized as a provider of raw water such as springs, wells, rain water and sea water. But the distance between the hamlets island located far from each other in addition to one in the highlands and in the lowlands, the hamlets in the far-flung villages and there are in different catchment areas, and the discharge of water from the spring / well very small, so that the existing water sources have not been able to supply water thoroughly. Raw Water Supply System what meets the various criteria to be used in Kahakitang Island? In the Analytic Hierarchy Process (AHP) is used criteria: Water Availability, Cost, Compliance Location, Ease of Implementation, and Maintenance, with the alternative: Water Treatment Plant with Reverse Osmosis (RO IPA), Aquifer Artificial Rain Water Savings (INVALID) , The pipeline from the water source, and Boat Water in solving these problems. The results in the selection of raw water supply system Kahakitang Island are: to village hamlet Behongan Soa, IPA-RO system is an option that has the highest value. An alternative could be taken the second highest water boat. For Behongan village hamlet Sowang, the value obtained from the system taking from the springs is an option that has the highest value. As an alternative to the second highest value is taken IPA-RO. For Bombanehe Dalako village hamlet Dalako highest value obtained for water supply systems using INVALID. An alternative could be taken the second highest water boat. For Bombanehe Dalako village hamlet Bombanehe highest value obtained for water supply systems using IPA-RO. An alternative could be taken the second highest score is INVALID. For Taleko Batusaiki village hamlet Batusaiki highest value obtained for water supply systems using springs / wells. As an alternative to the second highest value is taken IPA-RO, and for village hamlet Taleko Batusaiki Taleko highest value obtained for water supply system using INVALID. An alternative could be taken the second highest water boat. Keywords: Kahakitang Island, Baku water supply system, AHP
USULAN PERBAIKAN KUALITAS PELAYANAN PADA INSTALASI RAWAT JALAN DENGAN METODE SERVQUAL DAN TRIZ (STUDI KASUS DI RS MUHAMMADIYAH ROEMANI) Sari, Diana Puspita; Harmawan, Andry
J@TI (TEKNIK INDUSTRI) Volume 7, No.2, Mei 2012
Publisher : Departement of Industrial Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (309.337 KB)

Abstract

Semakin meningkatnya kesadaran masyarakat dan tingkat pendidikan, maka tuntutan masyarakat terhadap pelayanan yang berkualitas juga semakin tinggi, termasuk didalamnya adalah pelayanan yang diberikan rumah sakit. Pelayanan yang berkualitas ini dapat diukur darti tingkat kepuasan pelanggannya. Instalasi Rawat Jalan (IRJ) RSM Roemani merupakan bagian yang paling banyak melayani pasien dibanding bagian lainnya. Saat ini, IRJ RSM Roemani mendapat kritikan dari pelanggan mengenai turunnya kualitas layanan yang diberikan. Dengan banyaknya keluhan dari pelanggan, mendorong RSM Roemani untuk melakukan evaluasi kualitas pelayanannya, serta melakukan perbaikan agar dapat mencapai kepuasaan pelanggan. Metode yang digunakan untuk menganalisa  masalah yang terjadi terkait dengan kualitas layanan adalah SERVQUAL, sedangkan untuk memecahkan masalahnya digunakan metode TRIZ. Hasil penelitian menunjukkan terdapat tujuh variabel yang menjadi masalah yakni terjadi kesenjangan antara persepsi dengan ekspektasi pelanggan. Hal ini menunjukkan bahwa pelayanan IRJ RSM Roemani belum mampu memenuhi harapan pelanggan. Berdasarkan hasil analisis dengan metode TRIZ, solusi usulan perbaikan kualitas pelayanan yaitu perbaikan alur pelayanan, memasang papan informasi pada tempat-tempat strategis yang berisikan petunjuk pelayanan serta informasi terkait pelayanan yang terjadi, mempercayakan pelayanan kesehatan pada petugas medis (perawat dan dokter) yang professional serta berpengalaman di bidangnya untuk membentuk brand image masyarakat, IRJ menyediakan sistem pendaftaran elektronik untuk pasiennya serta menggunakan sistem pencarian obat elektronik, dan IRJ melakukan penambahan tempat duduk ruang tunggu serta memperbaiki sistem penyimpanan rekam medis. Kata-kata kunci : Kualitas Pelayanan, SERVQUAL, TRIZ   ABSTRACT The growth up of society  consciousness and education level, now the Society demand high quality of service, including health service provided by hospital. Quality service  are defined as customer satisfaction.The policlinic as part of RSM Roemani which gives much more services than another part. In this time, IRJ RSM Roemani get many criticism from costumer to the less gratifying service quality of consumer, so RSM Romani have to evaluate the quality of its service so that it can immediately repair of quality of service to reach the customer satisfaction. The method that used to analyse the quality of service is SERVQUAL, whereas to produce ideal solution for the problem used TRIZ method.The result of this research shows, contain seven variable has been a problems, which that any gap between customer perseption and expectation consumer. It’s means that a service on the policlinic RSM Roemani is not satisfying yet. Based on analysis result with TRIZ method, give an idea for the repair of service quality such us, repairing system design service, installing the pasteboard or poster information on stragetic place on policlinic comprising a procedure and information services, trusting a health services with professional medic (doctor ang nurse) to create brand image on society, the policlinic provide the system of registration and inventory electronic and increase volume of seat on waiting room, and the policlinic repair the storey system of medical report. Keyword : Quality of service, SERVQUAL, TRIZ
KAJIAN PEMETAAN DAN OPTIMALISASI POTENSI PAJAK DALAM RANGKA MENINGKATKAN PENDAPATAN ASLI DAERAH (PAD) DI KABUPATEN JEMBER Wardhono, Adhitya; Indrawati, Yulia; Qori`ah, Ciplis Gema
J@TI (TEKNIK INDUSTRI) Volume 7, No.2, Mei 2012
Publisher : Departement of Industrial Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (343.916 KB)

Abstract

Dalam konsep otonomi daerah, pemerintah daerah memiliki peran penting dalam mengatur dan mengurus rumah tangga daerah termasuk pengelolaan keuangan daerah, seperti yang tertuang dalam UU No 32 dan 33 tahun 2004. Dengan lahirnya peraturan otonomi daerah tersebut pemerintah daerah diharapkan untuk lebih mampu menggali potensi sumber-sumber penerimaan daerah dalam membiayai segala aktivitas pembangunan daerah melalui peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Peningkatan sumber penerimaan PAD tersebut dapat dilakukan diantaranya melalui intensifikasi dan ekstensifikasi pajak dan retribusi daerah. Di Kabupaten Jember, potensi penerimaan pajak masih belum tergali secara optimal atau masih lebih rendah dibandingkan dengan penerimaan dari retribusi daerah. Realisasi penerimaan pajak daerah rata-rata tahun 2003-2006 sebesar 28,30% lebih rendah dibandingkan penerimaan retribusi yaitu 44,33% (APBD, 2003-2006). Dengan demikian perlu dilakukan identifikasi optimalisasi potensi pajak daerah dengan evaluasi permasalahan yang selama ini terjadi, sehingga pada gilirannya dapat dirumuskan kebijakan pemerintah yang lebih sesuai dan tepat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis pajak yang sangat tidak berpotensi di Kabupaten Jember dengan tolak ukur hasil (yield) adalah pajak hotel dan restoran, pajak hiburan, pajak reklame dan pajak penerangan jalan. Sedangkan pajak yang sangat berpotensi adalah pajak galian golongan C. Penilaian persepsi masyarakat mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi optimalisasi penerimaan pajak daerah adalah faktor kelembagaan sebesar 55% dengan kriteria faktor adalah masih rendahnya law of enforcement terhadap tindakan penyalahgunaan penerimaan pajak dan masih lemahnya sistem administrasi dalam pengelolaan penerimaan pajak daerah. Rekomendasi kebijakan adalah pentingnya pengelolaan pajak daerah yaitu 62% melalui peningkatan inovasi dalam sistem pemungutan pajak dan peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan dan pelatihan. Kata kunci: otonomi daerah, pendapatan asli daerah,  pajak   Abstract In autonomy concept of area, local government has important role in arranging and managing its own area, including financial management, which is decanted in UU No 32 and 33 2004. Regulation of local government expected to be more can dig potency of source of acceptance of area in defraying all activities development of area through make-up of Local Real Earning. Source of acceptance of the LRE can be conducted through intensification and extensification tax area and retribution. In Jember regency, acceptance of area tax was not optimal result while compared to local retribution. In 2003 – 2006, percentage of local tax contribution showed 28,30%, it has lower value than local retribution which has  44,33% (APBD, 2003-2006). Therefore, it requires to be identified local tax optimalization through previous problems evaluation, so that in turn can be formulated government policies precisely. The empirical result of this study indicated that in Jember regency, type of low potential tax are hotel and restaurant, amusement, entertainment and light road. Other case, dig tax on group C has potential local earning. Society perception on influence factor of tax earning optimalization is institutional factor which appeared 55%, considering on imperfect law enforcement and administrative system. The importance of policy recommendations is local tax management  which reach 62% through innovation on imposition tax system and improvement of human resource quality through training and education. Keyword: local autonomy, local real earning, tax
PENGGUNAAN METODE ANALYTIC HIERARCHY PROCESS (AHP) DALAM PENENTUAN PRIORITAS PROGRAM KESEHATAN (STUDI KASUS PROGRAM PROMOSI KESEHATAN) Makkasau, Kasman
J@TI (TEKNIK INDUSTRI) Volume 7, No.2, Mei 2012
Publisher : Departement of Industrial Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (328.141 KB)

Abstract

Kesehatan merupakan salah satu permasalahan yang paling kompleks dalam dunia modren saat ini. Menurut Blum (1974) ada empat faktor utama yang menentukan derajat kesehatan masyarakat,  yakni : perilaku, lingkungan, pelayanan kesehatan dan hereditas, yang  dapat  diuraikan  lagi  kedalam  faktor  sekunder dan tersiernya. Seiring dengan kemajuan iptek dibidang kesehatan masyarakat dan kedokteran,  telah memberikan berbagai macam alternatif yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah kesehatan yang terjadi dimasyarakat saat ini. Analytic Hierarchy Process (AHP) merupakan suatu model pendekatan yang memberikan kesempatan bagi para perencana dan pengelola program bidang kesehatan untuk dapat membangun  gagasan-gagasan  atau  ide-ide dan mendefinisikan persoalan-persoalan yang ada dengan cara membuat asumsi-asumsi dan  selanjutnya  mendapatkan pemecahan yang diinginkannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan intervensi program yang paling efektif, dengan metodogi analitic dengan menggunakan sistem pembuat keputusan dengan model AHP. Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan model AHP, maka dapat dihasilkan suatu alternatif  program kesehatan yang sangat efektif. Dengan menggunakan model AHP maka setiap program kesehatan ditentukan prioritasnya dengan jelas, dibandingkan dengan menggunakan cara  Hanlon, Delbeq maupun  PEARL yang  selama ini  digunakan oleh pengelola progam kesehatan di Kota Ternate dan di Indonesia. Disarankan untuk menggunakan metode AHP dalam menentukan intervensi/program yang paling efektif dan benefit, serta dapat diterima oleh semua stake holder. Kata kunci : Analytic Hierarchy Process, Program Kesehatan Abstract Health is one of the most complex problems in the modren world today. According to Blum (1974) there are four main factors that determine the health of society, namely: behavioral, environmental, health and heredity, which can be decomposed further into secondary and tertiary factors. Along with the advancement of science and technology in the field of public health and medicine, has provided a wide range of alternatives that can be used to solve the health problems that occur in society today. Analytic Hierarchy Process (AHP) is an approach to a model that provides an opportunity for planners and managers of health programs to build on the ideas or the ideas and define existing problems by making assumptions and then get the desired solution . The purpose of this study was to determine the most effective intervention programs, with metodogi analitic using a system model of decision making with AHP. Based on the results of the model analysis using AHP, it can produce an alternative health program is very effective. By using the AHP model of any health program with clearly defined priorities, as opposed to the way Hanlon, Delbeq and PEARL has been used by program managers and health in the city of Ternate in Indonesia. It is recommended to use the method of AHP in determining interventions / programs that are most effective and benefits, and can be accepted by all stakeholders. Keywords: Analytic Hierarchy Process, Health Program
STRATEGI PENGEMBANGAN USAHA KERAJINAN ENCENG GONDOK SEBAGAI PRODUK UNGGULAN KABUPATEN SEMARANG MENGGUNAKAN ANALISIS RANTAI NILAI Puspitasari, Nia Budi; Arvianto, Ary; Tauhida, Dina; Hendra, Aditya
J@TI (TEKNIK INDUSTRI) Volume 7, No.2, Mei 2012
Publisher : Departement of Industrial Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (334.012 KB)

Abstract

Eceng gondok adalah sejenis tumbuhan yang hidup terapung di permukaan air. Pertumbuhan eceng tersebut akan semakin baik apabila hidup pada air yang dipenuhi limbah pertanian atau pabrik (Yuwanto, 2007). Eceng gondok adalah tanaman yang dapat dimanfaatkan menjadi berbagai kerajinan berupa sandal, tas, mebel dan souvenir yang memiliki nilai seni tinggi. Perkembangan kerajinan eceng gondok yang semakin pesat dan kondisi pemasaran yang baik sebesar 33, 33% membuat kompetitor sejenis semakin bermunculan. Oleh karena itu diperlukan strategi agar pemilik UKM dapat mempertahankan usahanya dan tetap berkompetisi di pasaran. Rantai nilai meliputi proses yang saling terkait secara vertikal dan menghasilkan nilai tambah bagi konsumen (Kaplinsky dan Morris, 2002). Dengan adanya rantai nilai tersebut dapat diketahui jaringan rantai nilai dalam memproduksi kerajinan eceng gondok. Tahapan penelitian yang dilakukan adalah menganalisis rantai nilai secara keseluruhan, kemudian melakukan analisis SWOT, menetapkan strategi berdasarkan variabel Diamond Porter, dan yang terakhir melakukan analisis Critical Success Factor untuk mengetahui faktor-faktor kesuksesan produk eceng gondok. Kata Kunci : eceng gondok, rantai nilai, SWOT, Diamond Porter, CSF Abstract Water hyacinth is a kind of plant life floating on the water surface. Eceng will grow  better if the water-filled lives on the farm or factory waste (Yuwanto, 2007). Water hyacinth is a plant that can be utilized as a variety of crafts such as slippers, bags, furniture and souvenirs that have high artistic value. Progress craft is rapidly increasing water hyacinth and good marketing condition by 33, 33% make more similar competitors emerge. Therefore we need strategies for UKM owners to maintain their business and remain competitive in the market.The value chain includes processes are interlinked vertically and generate added value for the consumer (Kaplinsky and Morris, 2002). With this value chain, network of value chain is known in producing handicraft water hyacinth. Stages of the research is to analyze the value chain as a whole, and then do a SWOT analysis, setting a strategy based on variables Diamond Porter, and the latter Critical Success Factor analysis to determine product success factors of water hyacinth. Keywords : hyacinth, value chain, SWOT, Porter´s Diamond, CSF
PRIORITAS PENENTUAN LOKASI WADUK PADA DAS CILIWUNG UNTUK PENGENDALIAN BANJIR JAKARTA Martdianto, Rommy; Kadri, Trihono
J@TI (TEKNIK INDUSTRI) Volume 7, No.2, Mei 2012
Publisher : Departement of Industrial Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (613.316 KB)

Abstract

Wilayah Jakarta merupakan wilayah yang sulit terlepas dari banjir. Berbagai upaya pengendalian banjir telah diupayakan semenjak zaman Pemerintah Kolonial Belanda hingga saat ini, namun permasalahan banjir yang ditimbulkan juga semakin kompleks, dengan dimensi ilmu pengetahuan yang semakin luas. Salah satu penyebab terjadinya banjir Jakarta karena aliran permukaan dari hulu DAS Ciliwung yang lebih besar dari kapasitas aliran sungai/ saluran drainase. Berbagai usulan dan upaya telah dilakukan untuk mengatasi masalah banjir Jakarta, salah usulan ialah dengan membangun waduk di hulu DAS Ciliwung. Waduk tersebut yang dapat berfungsi sebagai tampungan dan regulasi air limpasan dari hulu DAS Ciliwung dan juga untuk dapat dimanfaatkan bagi kepentingan masyarakat. Pembangunan waduk relatif mahal dan membutuhkan pembebasan lahan, sehingga penentuan alternatif lokasi waduk harus melalui kriteria yang tepat. Pemilihan alternative tersebut dilakukan berdasarkan potensi cekungan alami, dan rencana peruntukan lahan berdasarkan kebijakan pemerintah pada rencana lokasi waduk. Aplikasi metoda analisis multikriteria PAH (Proses Analisis Hirarki atau AHP) yang dapat menentukan solusi optimum suatu permasalahan dengan tinjauan multikriteria yang memiliki variabel bersifat kuantitatif dengan tujuan menentukan metoda penanggulangan banjir dengan waduk optimum pada DAS Ciliwung. Kata kunci : Pengendalian banjir, waduk, AHP. ABSTRACT Jakarta is a region that is difficult regardless of the flood. Various flood control efforts have been attempted since the Dutch era to the present, but also caused flooding problems become more complex, with dimensions wider science.One of the causes of flooding in Jakarta due to runoff from the upper watershed Ciliwung greater than the capacity of the river / canal drainage. Various proposals and attempts have been made to overcome the problem of flooding in Jakarta, one proposal is to build a dam in the upper Ciliwung. The reservoir, which could serve as a catchment and water runoff from the upstream regulatory Ciliwung and also to be used for the benefit of society. Construction of dams are relatively expensive and require land acquisition, so the determination of alternative dam site must go through the appropriate criteria. The selection was based on the potential of alternative natural basins, and land use plans based on government policy on the planned location of the reservoir. Application PAH multicriteria analysis method (Analysis Hierarchy Process or AHP) to determine the optimum solution of a problem with a review of multicriteria who have quantitative variables in order to determine the method of flood control reservoirs in the watershed Ciliwung optimum. Keywords: flood control, reservoirs, AHP.
PENILAIAN TEKNOLOGI UNTUK MENENTUKAN POSISI INDUSTRI PESAING Susihono, Wahyu
J@TI (TEKNIK INDUSTRI) Volume 7, No.2, Mei 2012
Publisher : Departement of Industrial Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (334.308 KB)

Abstract

PT Sumiati Ekspor Internasinal bergerak pada usaha penjualan handycraft yang dipasok oleh lima industri kecil binaannya. Perusahaan akan melakukan privatisasi dalam waktu dekat, manajer pusat menginginkan ada satu industri kecil mengambil alih pengelolaan. Pihak manajemen perusahaan menghendaki ada penilaian teknologi secara internal dan eksternal kepada lima industri kecil binaanya sebagai dasar pengambilan keputusan. Dalam Penelitian ini dilakukan penilaian kepada semua industri kecil pemasokhandycraft dengan pendekatan model teknometrik, yaitu memperkirakan derajat sophistication komponen teknologi, evaluasi tiap komponen technoware, humanware, inforware dan organware dan menilai state-of-the-art. Kuesioner yang disebarkan dari lima industri kecil diolah menggunakan pairwise comparison Analytic Hierarchy Process”(AHP), dilanjutkan dengan perhitungan TCC (Technology Contribution Coefficient). Penilaian internal perusahaan dilakukan dengan model DEA (data envelopment analysis). Hasil akhir TCC dan DEA secara kuantitatif dibandingkan. Hasil TCC (Technology Contribution Coefficient) secara berturut-turut dari industry yang memperoleh nilai terbesar adalah Industri Maharani 52.23%, Industri Bestari 42.87%, Industri Priyo 41.51%, Industri Rizky 32.66%, Industri Teguh 31.93%. Unsur kontribusi teknologi terbesar yang dihasilkan industri Maharani adalah organware, sedangkan empat perusahaan lainnya humanware. Unsur teknologi yang harus dikembangkan dalam jangka pendek untuk semua industri kecil adalah technoware. Hasil penilaian internal perusahaan dengan model DEA menunjukan bahwa industri Maharani mempunyai rangking tertinggi, sedangkan Industri Rizki pada rangking terrendah. Model teknometrik dikombinasi pairwise comparison AHP dan DEA dapat membantu perusahaan besar melakukan penilaian teknologi kepada industri kecil sejenis. Kata Kunci : penilaian teknologi, model teknometrik, pairwise comparison AHP, DEA   Abstract Sumiati Export International Corporation is one of handicraft companies supplied by five small industry of its trainee. Since the company will be privet in a short time, the head office manager wanted one of small industries take over its management. Therefore the company needs to determine one of small industry which is the best. The management intends to make an assessment of technology to five small industries of its trainee internally and externally as the basic of decision making. This research will be held by making an assessment to all of handicraft suppliers by using technometric model approach. In this approach assessment conducted by determining degree of technology component sophistication, valuing state-of-the-art, determining contribution of technology component, making the map of relation between the components, and valuing intensity of contribution components. The questioners spreading to five small industries analyzed by pairwise comparison Analytic Hierarchy Process (AHP) then concluded by the calculation of TCC (Technology Contribution Coefficient). The company made internal assessment by using DEA (data envelopment analysis) model then compare the result of TCC white DEA quantitatively. TCC result showed that the values of the industry in a row are Maharani by 52.23%, Bestari by 52.23%, Priyo by 41.51%, Rizky 32.66%, and Teguh by 31.93%. The greatest contribution for Maharani came from organware while the rest companies came from humanware. In the future, all of small industries expected to develop technology known by technoware. The Result of internal assessment of Sumiati Export International Corporation by DEA model showed that Maharani in the first position and Rizky in the last position. Technometric model with combination of pairwise comparison AHP aids big companies to make technology assessment to small industries. Keywords: assessment of technology, technometric model, pairwise comparison AHP, DEA
PENENTUAN WAKTU STANDAR DAN JUMLAH TENAGA KERJA OPTIMAL PADA PRODUKSI BATIK CAP (STUDI KASUS: IKM BATIK SAUD EFFENDY, LAWEYAN) Rinawati, Dyah Ika; Sari, Diana Puspita; Muljadi, Fatrin
J@TI (TEKNIK INDUSTRI) Volume 7, No.3, September 2012
Publisher : Departement of Industrial Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (277.605 KB)

Abstract

Batik Saud Effendy merupakan salah satu IKM batik di Kampoeng Batik Laweyan, Surakarta. Jenis batik yang diproduksi adalah batik cap dan batik tulis dengan sebagian besar jenis batik yang diproduksi adalah batik cap. IKM Batik Saud Effendy ini berproduksi dengan strategi make to order dan belum ada pedoman waktu produksi. Selain itu beban kerja pada setiap stasiun kerja kurang seimbang, dimana dari value stream mapping yang ada, pada stasiun pengecapan dalam penyelesaian 1 lot produksi sebanyak 120 meter menghasilkan waktu terlama dibandingkan dengan stasiun kerja lainnya, yaitu 434 menit dengan 3 orang pekerja. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan waktu baku dan jumlah tenaga kerja optimal pada setiap tahapan proses. Dari hasil penelitian dan perhitungan didapatkan waktu baku untuk masing-masing proses produksi, yaitu pemotongan mori (17,46 menit), pengecapan (582,15 menit), pewarnaan (84,06 menit), pengeringan dan pencucian (207,98 menit), penglorodan sebesar 99,87 menit, pengeringan 1123,2 menit, dan packing sebesar 75,24 menit. Usulan tenaga kerja yang diberikan dapat menghemat biaya pengeluaran IKM sebesar 12%. Kata Kunci: beban kerja, tenaga kerja, waktu standar Abstract Effendy Saud Batik is one of IKM batik Batik Kampoeng Laweyan, Surakarta. Types produced batik is batik and batik with most types of batik is batik produced. IKM Batik Effendy Saud´s production strategy make to order and there are no guidelines for production time. Besides the workload at each work station lacks balance, which of the existing value stream mapping, the tasting station in the settlement of 1 lot production yield as much as 120 meters the longest time compared to other work stations, which is 434 minutes with 3 workers. The purpose of this study was to determine the standard time and the optimal number of workers at each stage of the process. From the research results and the calculation of standard time for each of the production process, ie cutting mori (17.46 minutes), taste (582.15 minutes), coloring (84.06 min), drying and washing (207.98 minutes) , penglorodan of 99.87 minutes, drying 1123.2 minutes, and packing of 75.24 minutes. Proposed labor provided SMEs can save expenses by 12%. Keywords: workload, manpower, standard time
PERILAKU KONSUMEN AKAN KEMUNGKINAN MENYUMBANGKAN PONSEL BEKAS KE PROGRAM PENGUMPULAN PONSEL UNTUK DIDAUR ULANG Kristina, Helena; Hanafi, Jessica; Wunda, novita
J@TI (TEKNIK INDUSTRI) Volume 7, No.3, September 2012
Publisher : Departement of Industrial Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (275.769 KB)

Abstract

Pertumbuhan pesat pasar ponsel di Indonesia berpotensi mengakibatkan ledakan limbah ponsel bekas di masa depan. Limbah ponsel bekas berdampak buruk bagi kesehatan manusia dan lingkungan. Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasinya adalah dengan menyumbang ponsel bekas ke program pengumpulan ponsel untuk didaur ulang. Di Indonesia, program pengumpulan ponsel belum banyak dilakukan. Penelitian ini memberikan informasi mengenai perilaku penggunaan ponsel (usage behavior) dari konsumen yang menyumbang ponsel bekas ke program pengumpulan ponsel untuk didaur ulang, serta perilaku konsumen untuk menyumbang ponsel untuk didaur ulang.  Informasi ini diharapkan dapat digunakan untuk memprediksi jumlah ponsel bekas yang berpotensi dikumpulkan untuk didaur ulang. Pengumpulan data dilakukan melalui survey dengan cara menyebarkan kuesioner secara langsung dan online. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah accidental sampling. Jumlah sampel penelitian 200 responden. Berdasarkan hasil pengolahan data juga menunjukkan bahwa niat berperilaku konsumen di Jabodetabek untuk mendaur ulang ponsel bekas adalah netral, sedangkan niat berperilaku konsumen untuk menyumbang ponsel bekas ke program pengumpulan ponsel untuk didaur ulang adalah positif. Selanjutnya, diketahui adanya perbedaan niat berperilaku untuk mendaur ulang ponsel bekas dan menyumbang ponsel bekas ke program pengumpulan ponsel untuk didaur ulang, menurut jenis pekerjaan. Kata kunci: ponsel bekas, limbah elektronik, daur ulang, program pengumpulan, perilaku konsumen Abstract   The rapid growth of mobile phone market in Indonesia has a potential to lead to the mobile phone waste explosion in the future. Mobile phone waste poses a risk of causing adverse effects to human health and the environment. An effort that can be done to overcome them is by donating used mobile phone to the collection program of mobile phones for recycling. In Indonesia, people are still not familiar with mobile phone waste collection and there is still limited number of mobile phone collection programs existed. This study provides information on the mobile phone usage behavior of consumers who contributed to the collection program of mobile phones for recycling, as well as the consumer behavior of donating mobile phone for recycling. This information is expected to be used to predict the amount of potentially collected used mobile phones for recycling. The data was collected through survey by distributing questionnaires in person and online. The sampling technique used was accidental sampling. The sample sizes of consumer behavior of donating mobile phone for recycling research, are 200. Based on the data processing results, are known that consumer behavioral intention to recycle used mobile phone is neutral, while the behavioral intention to donate used mobile phone to the collection program of mobile phone for recycling is positive. Furthermore, the differences in recycling used mobile phone behavior and in donating used mobile phone to the collection program of mobile phone for recycling behavior between social groups differentiated by employment. Key words: used mobile phones, recycle, collection program, usage behavior

Page 1 of 28 | Total Record : 277