cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penelitian Kehutanan FALOAK
ISSN : 2620617X     EISSN : 25795805     DOI : -
Jurnal Penelitian Kehutanan FALOAK (JPKF) adalah publikasi ilmiah hasil penelitian bidang kehutanan dengan No. ISSN 2579-5805. Jurnal ini merupakan konsorsium yang dibentuk oleh tiga institusi yaitu Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Hasil Hutan Bukan Kayu, Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kupang dan Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Manokwari. Semula pencantuman nama penerbit oleh Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Hasil Hutan Bukan Kayu, namun mulai volume 2 tahun 2018 pencantuman nama penerbit oleh tiga institusi yang berkolaborasi. JPKF diterbitkan dua kali setahun (April dan Oktober). Sejak awal pendirian pada tahun 2017 pengelolaannya dirancang mengikuti sistem jurnal elektronik. Publikasi ilmiah pada jurnal ini meliputi bidang Silvikultur, Jasa Lingkungan, Biometrik, Pemanenan dan Pengolahan Hasil Hutan Kayu dan Bukan Kayu, Perlindungan, Konservasi Sumberdaya, Sosial Ekonomi dan Kebijakan, Ekologi Tumbuhan, Mikrobiologi dan Bioteknologi, Sifat Dasar Kayu dan Tumbuhan, Hidrologi dan Konservasi Tanah.
Arjuna Subject : -
Articles 25 Documents
AKTIVITAS ENZIM HYDROXYMETHYLGLUTARYL COENZYME A REDUCTASE PADA INDUKSI GAHARU Aquilaria malaccensis MENGGUNAKAN PUPUK UREA DAN Fusarium solani (HYDROXYMETHYLGLUTARYL COENZYME A REDUCTASEACTIVITY ON Aquilaria malaccensis AGARWOOD INDUCTION WITH NITROGEN FERTILIZER AND Fusarium solani) Wahyuni, Resti
Journal Penelitian Kehutanan FALOAK Vol 1, No 1 (2017): Jurnal Penelitian Kehutanan FALOAK
Publisher : Balai Penelitian Dan Pengembangan Teknologi Hasil Hutan Bukan Kayu

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (147.693 KB) | DOI: 10.20886/jpkf.2017.1.1.1-8

Abstract

Aquilaria malaccensis merupakan salah satu spesies penghasil gaharu di Indonesia. Senyawa gaharu terbentuk sebagai respon pertahanan pohon gaharu terhadap berbagai gangguan seperti gangguan fisik, infeksi patogen atau perlakuan kimiawi. Gaharu mengandung bermacam-macam senyawa kimia. Kandungan senyawa kimia terbesar adalah sesquiterpen. Biosintesis sesquiterpen dapat diprediksi dengan melihat aktivitas enzim Hydroxymethylglutaryl coenzyme A reductase (HMGR). Pengukuran aktivitas enzim HMGR menggunakan metode spektrofotometri. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur aktivitas enzim HMGR pada induksi gaharu Aquilaria malaccensis perlakuan pupuk urea dan Fusarium solani untuk memperkirakan terjadi/tidak nya sintesis sesquiterpen melalui jalur asam mevalonat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas enzim HMGR pada kombinasi perlakuan pemupukan urea dan F. solani sebesar 0.0796 unit/mgP, pada perlakuan F. solani sebesar 0.0130 unit/mgP, pada perlakuan pupuk urea maupun tanpa perlakuan (kontrol) sebesar 0.0023 unit/mgP saat 30 hari setelah perlakuan (HSP). Aktivitas enzim HMGR saat 30 HSP dipengaruhi oleh interaksi antara perlakuan pupuk urea dan F. solani. Aktivitas enzim HMGR saat 30 HSI masih tergolong rendah sehingga kemungkinan belum terjadi sintesis terpenoid melalui jalur asam mevalonat.
ANALISIS DAMPAK TPTI TERHADAP DINAMIKA PERMUDAAN SPECIES POHON KOMERSIL TINGKAT PANCANG DAN TIANG DI HUTAN ALAM PAPUA El Halim, Rifki; Hastanti, B.W
Journal Penelitian Kehutanan FALOAK Vol 1, No 2 (2017): Jurnal Penelitian Kehutanan FALOAK
Publisher : Balai Penelitian Dan Pengembangan Teknologi Hasil Hutan Bukan Kayu

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (181.161 KB) | DOI: 10.20886/jpkf.2017.1.2.51-58

Abstract

AbstractTPTI has been utilised and developed for long period to harvest timber in Indonesia’s natural forest. depite has been utilised and developed for long period, the TPTI implementation has reap a lot of controversy.   Most research about TPTI has been conducted in Kalimantan and Sumatra, this research mainly stressed on the sustainability of commercially tree species in tree stage. The other research which is analysed the impact of TPTI on commercially tree species in the sapling and poles stage even more in Papua natural forest is barely conducted. To analyse the TPTI impact on West Papuan natural forest, in particular the commercially tree species in sapling and poles stage, this research is comparing the dynamic change of primary and secondary forest after TPTI. Data collection is recorded from IUPHHK PT TTL, Boven Digul, Papua. The data specifically collected from primary forest, secondary forest age 1 year and secondary forest age 3 year.  Data collection is conducted using discontinuous plot sampling with 10x10 m and 5x5 m for poles and sampling respectively. Later on, the species and population variable that has been collected are analysed using ANOVA (α=0,05) and accumulation curve. Data analysis report that in a short period the TPTI activity does increase the diversity and the population size of sapling and poles.  To preserve the diversity and population size tending and further monitoring is pivotal. Further research using older secondary forost is essential to fully analyse the impact of TPT on commercially tree species dynamic on sapling and poles stage. AbstrakTPTI adalah system yang sudah lama digunakan dan dikembangkan untuk mengambil hasil hutan kayu di hutan alam Indonesia. Meskipun sudah lama digunakan dan dievaluasi, system ini banyak menuai kontroversi. Sebagian besar evaluasi TPTI dilakukan untuk menganalisis dampak TPTI terhadap kelestarian species pohon komersil pada tingkat pohon di hutan Kalimantan dan Sumatera. Sedangkan penelitian dampak TPTI pada species komersil di tingkat tiang dan pancang terlebih lagi pada hutan alam di Papua hampir tidak pernah dilakukan. Untuk menjawab pengaruh TPTI pada species komersil tingkat pancang dan tiang di Papua penelitian ini berusaha membandingkan dinamika populasi dan diversitas pancang dan tiang pada sebelum dan sesudah ditebang dengan TPTI.  Pengamatan penelitian dilakukan di area IUPHHK PT TTL Boven Digul, Papua. adapun area hutan yang diamati adalah hutan primer, hutan sekunder umur 1 tahun dan hutan sekunder umur 3 tahun.  Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan pendekatan discontinuous plot sampling dengan ukuran plot 10x10m untuk inventarisasi pohon tingkat tiang dan 5x5 untuk inventarisasi pohon tingkat pancang. Selanjutnya, data species dan populasi yang berhasil dikumpulkan dibandingkan  dengan ANOVA (α=0,05) dan kurva akumulatif. Hasil penelitian membuktikan bahwa pada jangka pendek TPTI berdampak positif terhadap peningkatan populasi dan dan diversitas pohon species komersil di tingkat pancang dan tiang. Untuk menjaga diversitas pohon tetap tinggi, perawatan dan pengamatan lebih lanjut perlu dilakukan. Penelitian lebih lanjut dengan menggunakan hutan sekunder yang lebih tua masih perlu dilakukan untuk bisa mengetahui dampak jangka menengah dan jangka panjang kegiatan TPTI terhadap dinamika species komersil tingkat pancang dan tiang. 
ESTIMASI LAJU PERKAWINAN SILANG PADA Toona sinensis Roem DENGAN PENANDA RAPD (Random Amplified Piolymorphic DNA) [Out crossing value estimation in Toona sinensis Roem Based On RAPD Markers] Jayusman, Jayusman; Na'iem, Muhammad; Indrioko, Sapto; Hardianto, Eko Bhakti; Nurcahyaningsih, ILG
Journal Penelitian Kehutanan FALOAK Vol 2, No 1 (2018): Jurnal Penelitian Kehutanan FALOAK
Publisher : Balai Penelitian Dan Pengembangan Teknologi Hasil Hutan Bukan Kayu

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (675.966 KB) | DOI: 10.20886/jpkf.2018.2.1.13-28

Abstract

ABSTRACTToona sinensis Roem or surian, belongs to the family Meliaceae. It is very important Indonesia community forest tree species because of it excellent wood quality and medicinal properties.  The study investigated the mating system of surianbase on 88 polymorphic band Random Amplified PolymorphicDNA (RAPD)of 200 tree sample. Origin of geographical location and materials used in this research from Enrekang seed stand identified population, South Sulawesi Province.The mating parameter estimated using the mix mating model showed that this population practice a mixture of mating model with multilocus outcrossing  rate (tm)was 0.938, meaning that  the total of outcrossing that can be among relative individual or not. The singlelocus outcrossing rate (ts) was 0.765, meaning that most outcrossing occurred among non-relative tree than among relative ones (tm- tm)= 0,172. Highest value was obtained for correlation of selfing among families (0.999±0.045), but low value obtained forcorrelation paternity multilocus (0.076±0.016) and correlation paternity singlelocus (-0.002±0.062).Maternal inbreeding coefficient (Fm)was 0.032, meaning high category. From inbreed crossing  0,062 (s=1-tm) was because selfing. Therefore we can concluded that surian is low tolerance of selfing.These result have important implication to establish strategies of genetic breeding strategic of surian. ABSTRAK Toona sinensis Roem atau surian, termasuk keluarga Meliaceae. Spesies hutan rakyat yang sangat penting di Indonesia karena memiliki kualitas kayu dan memiliki banyak manfaat sebagai obat. Penelitian ini meneliti sistem perkawinan berdasarkan 88 pita polimorfik Random Amplified Polymorphic DNA (RAPD) dari 200 sampel pohon. Asal lokasi geografis dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah dari populasi tegakan benih teridentifikasi Enrekang, Provinsi Sulawesi Selatan. Estimasi parameter mating sistem menggunakan model kawin campuran menunjukkan bahwa populasi ini mempraktekkan model kawin campuran dengan nilai outcrossing(tm) 0,938, yang berarti bahwa total perkawina silang pada banyak lokus dapat terjadi di antara individu berkerabat atau  tidak berkerabat. Tingkat outcrossing lokus tunggal (ts) 0,765 yang berarti bahwa hubungan yang paling jauh terjadi di antara pohon tidak berkerabat  daripada yang relatif (tm - tm) = 0,172. Nilai tertinggi ditunjukkan pada  korelasi selfing antar keluarga (0,999 ± 0,045) dan koefisien kawin kerabat  (Fm) 0,332. Sedangkan nilai rendah ditunjukkan korelasi paternal multilokus (0,076 ± 0,016), korelasi lokus tunggal (-0.002 ± 0.062). Nilaiselfing (s =1-tm) 0,062. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa surian (T. Sinensis Roem) adalah memiliki sifat toleransi rendah terhadap selfing. Hasil ini memiliki implikasi penting untuk menetapkan strategi pemuliaan genetik surian.
PENILAIAN EKONOMI PENGELOLAAN WISATA ALAM DI CAGAR ALAM PEGUNUNGAN ARFAK KABUPATEN MANOKWARI, PAPUA BARAT (Studi Kasus Kampung Kwau Distrik Minyambouw) [Economic Valuation of Ecotourism Management in Arfak Mountains Nature Reserve of Manokwari Regency (Case Study of Kwau Village of Minyambouw District)] Tuharea, Abdullah; Hardjanto, Hardjanto; Hero, Yulius
Journal Penelitian Kehutanan FALOAK Vol 1, No 1 (2017): Jurnal Penelitian Kehutanan FALOAK
Publisher : Balai Penelitian Dan Pengembangan Teknologi Hasil Hutan Bukan Kayu

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.746 KB) | DOI: 10.20886/jpkf.2017.1.1.9-20

Abstract

Pengelolaan dan pemanfaatan jasa lingkungan seperti wisata alam yang terjadi selama ini di wilayah Cagar Alam Pegunungan Arfak (CAPA) belum menjadi perhatian stakeholder terkait dikarenakan kurangnya informasi tentang manfaat ekonominya. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi nilai ekonomi pengelolaanwisata alam di Kampung Kwau, Distrik Minyambouw, Kabupaten Manokwari. Kampung Kwau merupakan salah satu daerah penyangga dari Cagar Alam Pegunungan Arfak. Metode yang digunakan adalah Travel Cost Method (TCM) dengan sistem zonasi (asal pengunjung). Data yang dikumpulkan berupa data primer dan sekunder dengan cara wawancara serta studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwanilai ekonomi pengelolaan wisata alam di Kampung Kwaupada tahun 2011 adalah  Rp. 895.868.125 dari total biaya pengeluaran pengunjung.Biayapengeluaranyang terbesar adalah biaya transportasi (91%).Obyek wisata alam andalan Kampung Kwau adalah bird watching. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan acuan dalam pengelolaan kawasan CAPA.  
LUAS OPTIMUM PETAK UKUR UNTUK HUTAN TANAMAN KAYU PUTIH DI KESATUAN PENGELOLAAN HUTAN YOGYAKARTA (Optimum Size Of Sampling Plot For Cajuput Plantation at Forest Management Unit Yogyakarta) Mulyana, Budi; Rohman, Rohman; Wardhana, Wahyu
Journal Penelitian Kehutanan FALOAK Vol 2, No 1 (2018): Jurnal Penelitian Kehutanan FALOAK
Publisher : Balai Penelitian Dan Pengembangan Teknologi Hasil Hutan Bukan Kayu

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (291.881 KB) | DOI: 10.20886/jpkf.2018.2.1.29-38

Abstract

Utilization of non-timber forest products, especially cajuput plants in Indonesia needs to be optimalized. The management of cajuput plantations should be supported with data and information toward sustainable management. The sampling approach to estimate the potential of cajuput leaves has no standard on plot size. The objective of this research is to determine the optimal plot size that can be used in inventory of cajuput plantation. Equipements used in this research are GPS, rope, bamboo, compass, digital scales, and quadcopter drones. The research material is cajuput stand which has good degree of normality. The method used in this research is making of nested sample plot of 20 x 20 m, 30 x 30 m, 40 x 40 m, 50 x 50 m, 60 x 60 m, 70 x 70 m, 80 x 80 m, 90 x 90 m, and standard plot (control) 100 x 100 m. Parameters measured were number of tree (n / ha) and the biomass of cajuput leaves-twig (Kg / ha). Data were analyzed by using t-student test to determine the difference of mean value between sample sample plot and control plot. The analysis is also done by calculating the precision of each sample plot. The result showed that the estimated value of number of tree (n / ha) of the 20 m x 20 m plot size was not significantly different with the control plot size of 100 m x 100 m. Estimation of leaves-twigs biomass of cajuput with plot size of 20 m x 20 m plot is also not significantly different with the result of measurement of leaves-twigs biomass of cajuput in control plot 100 m x 100 m. Thus, the optimum plot size that can be used in the study site is 20 m x 20 m.
KONSERVASI GENETIK CENDANA BERBASIS PARTISIPASI MASYARAKAT DI DESA NUSA KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN (Genetic Conservation Of Sandalwood Based On Community Participation In East Nusa Tenggara) sumardi, sumardi
Journal Penelitian Kehutanan FALOAK Vol 1, No 2 (2017): Jurnal Penelitian Kehutanan FALOAK
Publisher : Balai Penelitian Dan Pengembangan Teknologi Hasil Hutan Bukan Kayu

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (136.444 KB) | DOI: 10.20886/jpkf.2017.1.2.67-74

Abstract

Sandalwood (Santalum album Linn.) is a species that has advantages and contribution to the development of East Nusa Tenggara province. It is a commodity that has contributed the highest foreign exchange for the regional income of East Nusa Tenggara Province in 1986/1987 up to 1990/1991. However, the sustainability of sandalwood is now threatened due to mismanagement and low success of regeneration. To avoid the occurrence of genetic degradation or even the extinction of this species is important to do genetic conservation. The community participation model for the genetic conservation of sandalwood has been piloted in the Timor Tengah Utara District of East Nusa Tenggara Province. This study aimed to analyze the success and growth of sandalwood in the model of community participation for genetic conservation strategy of sandalwood in East Nusa Tenggara. The analysis has shown that the survival rate of sandalwood in the genetic conservation with community participation model at 1 year old are 100% if planted on the yard; 90.74% if planted on the bare land; and 64.58% if planted on the land with a very close shade. Trials in 5 farmer groups showed that no significant difference between farmer groups on successful planting in the field, as indicated by similar plant life percentages. Meanwhile, The variance analysis on the growth characteristic showed that mean of high and diameter were not significantly different between treatment model of planting. The mean of height and diameter of each shading treatment were 30.13 cm and 2.97 mm if planted on the yard area; 31.49 cm and 3.25 mm if planted on the bare land; and 29.63 cm and 3.05 mm if planted on the land with a very close shade.
ANALISIS KEUNTUNGAN USAHA TANI AGROFORESTRY KEMIRI, COKLAT, KOPI DAN PISANG DI HUTAN KEMASYARAKATAN SESAOT, LOMBOK BARAT (Benefits analysis of agroforestry farming patterned candlenuts, cacao, coffee and banana in Sesaot community forest, West Lombok) Nandini, Ryke
Journal Penelitian Kehutanan FALOAK Vol 2, No 1 (2018): Jurnal Penelitian Kehutanan FALOAK
Publisher : Balai Penelitian Dan Pengembangan Teknologi Hasil Hutan Bukan Kayu

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (325.908 KB) | DOI: 10.20886/jpkf.2018.2.1.1-12

Abstract

Agroforestry farming at community forest (HKm) practice provides ecological, economic and social benefits. The aimed of this study was to find the economical benefits from agroforestry with chestnut (Aleurites mollucana (L) Willd), cacao (Theobroma cacao), coffee (Coffea, sp.) and banana (Musa, sp.) pattern in HKm Sesaot. The partial economic analysis was used. Interviews were conducted on 30 HKm’s Sesaot farmers which selected purposively by grouping on three land strata (strata I: <0.25 ha, strata II: >0.25-0.45 ha, strata III: >0.45-1 ha).The data collected were farm cost and revenue from the land. The results show that agroforestry farming in HKm Sesaot provides economical benefits. Chestnut suitable to be developed in all strata, cacao in strata I and II, coffee not suitable to be developed in strata I, while banana should not be developed in all strata.   
PENGARUH PEMANGKASAN TERHADAP PRODUKSI TUNAS PADA KEBUN PANGKAS BIDARA LAUT (Strychnos lucida R Brown) [The Effect of Hedging to The Production of Shoots on The Hedge Orchard of Strychnos lucida R Brown] Krisnawati, Krisnawati; Dwi Rahayu, Anita Apriliani
Journal Penelitian Kehutanan FALOAK Vol 1, No 1 (2017): Jurnal Penelitian Kehutanan FALOAK
Publisher : Balai Penelitian Dan Pengembangan Teknologi Hasil Hutan Bukan Kayu

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (125.924 KB) | DOI: 10.20886/jpkf.2017.1.1.31-38

Abstract

ABSTRACT  Bidara laut (Strychnos lucida R Brown) is a potential of traditional medicinal plant, especially in the area of Bali and NTB. Efficacy of S. lucida wood is used to malaria medicine and stamina enhancer. One way to ensure the supply of raw material of S. lucida, need to be cultivated as plant propagation by cuttings. Vegetative propagation of plants using shoot cuttings needs juvenile plant material. One of way to get it is build the hedge orchard. Hedging techniques are necessary aspect on hedge orchard management whose role is to determine the productivity and quality of the cutting materials. This study aims to determine the effect of stock plant height after hedging (10 cm and 20 cm) to the production of shoots. The study design used completely randomized design. The parameters measured were the number of shoots and length of shoot after four months of observation. The results showed that the difference of stock plant height of S. lucida after hedging affects the number of shoots and length of shoots that was produced. Average of number of shoots that was produced after four months on height of hedging at 20 cm was higher than height of hedging at 10 cm i.e. 2.59 shoots. This was contrasts with an average of length of shoots which produced that height of hedging at 10 cm would indicate that the length of shoots was better than at 20 cm i.e. 8.99 cm.                                                         ABSTRAKBidara laut (Strychnos lucida R Brown) merupakan tumbuhan obat tradisional yang potensial, khususnya di wilayah Bali dan NTB. Khasiat kayu bidara laut antara lain digunakan sebagai obat malaria dan penambah stamina. Salah satu cara untuk menjamin pasokan bahan baku kayu bidara laut, perlu dilakukan budidaya seperti perbanyakan tanaman dengan stek. Perbanyakan tanaman secara vegetatif menggunakan stek pucuk memerlukan bahan tanaman yang juvenil. Salah satu cara untuk mendapatkannya yaitu dengan membangun kebun pangkas. Teknik pemangkasan merupakan aspek yang diperlukan dalam pengelolaan kebun pangkas yang berperan untuk menentukan produktivitas dan kualitas bahan stek. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tinggi tanaman induk setelah pemangkasan (10 cm dan 20 cm) terhadap produksi tunas. Rancangan penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap. Parameter yang diukur adalah jumlah tunas dan panjang tunas setelah 4 bulan pengamatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan tinggi tanaman induk bidara laut setelah pemangkasan mempengaruhi jumlah tunas dan panjang tunas yang dihasilkan. Jumlah tunas rata-rata yang dihasilkan setelah 4 bulan pemangkasan pada tinggi pangkasan 20 cm lebih baik dibandingkan tinggi pangkasan 10 cm yaitu 2,59 tunas. Hal ini berkebalikan dengan panjang tunas rata-rata yang dihasilkan, tinggi pangkasan 10 cm justru menunjukkan panjang tunas yang lebih baik dibandingkan tinggi pangkasan 20 cm yaitu 8,99 cm.
EFEK LAJU KARBONDIOKSIDA (CO₂) TERHADAP MORFOLOGI DAN LAJU PERTUMBUHAN POPULASI Spirulina platensis (Gomont) [The Effect Of Carbon Dioxide (Co₂) Rate To The Morphology And The Growth Rate Of Spirulina Platensis (Gomont) Population] Anggadhania, lutfi; Nugroho, Andhika Puspito
Journal Penelitian Kehutanan FALOAK Vol 1, No 2 (2017): Jurnal Penelitian Kehutanan FALOAK
Publisher : Balai Penelitian Dan Pengembangan Teknologi Hasil Hutan Bukan Kayu

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (362.305 KB) | DOI: 10.20886/jpkf.2017.1.2.75-84

Abstract

ABSTRACTCarbon dioxide pollution occurs due to increase the use of fossil fuels for industry and transportation. Due to deforestry, the absorption of carbon dioxide by terrestrial environment is reduced. This will lead the increased of carbon dioxide absorption by the sea. The absorption of carbon dioxide by the ocean will lead the changes in ocean chemistry and affects the marine ecosystems. Spirulina platensis, as a cosmopolitan organism that can use inorganic carbon that absorbed by the ocean become one of microorganism that has effect by these changes. This research aims are to study the effect of carbon dioxide rate to the morphology and the growth rate of Spirulina platensis population. This research method is completely randomized design with three treatments and three replications. The period of treatment started in the exponential phase with carbon dioxide rate at 0.1 lpm, 0.2 lpm, and 0.4 lpm. The results showed that carbon dioxide is given can be used by S. platensis to stimulating the growth but this will also shorten the growth kinetics. This is also reflected in the results of the statistical analysis that there is no significant defference (p>0,05). And the morphological responses of S. platensis are fragmentation and lysis cell.ABSTRAK Pencemaran karbondioksida terjadi karena peningkatan penggunaan bahan bakar fosil untuk industri dan transportasi. Akibat terjadinya deforestri penyerapan karbondioksida oleh lingkungan terrestrial berkurang, sehingga terjadi peningkatan penyerapan karbondioksida oleh laut. Penyerapan karbondioksida oleh laut akan menyebabkan perubahan sifat kimia laut yang berdampak pada ekosistem laut. Spirulina platensis sebagai organisme kosmopolitan yang terdapat di laut dapat menggunakan karbon anorganik yang terserap dalam laut. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari efek laju karbondioksida terhadap morfologi dan laju pertumbuhan populasi Spirulina platensis. Metode penelitian ini adalah rancangan acak lengkap dengan tiga perlakuan dan tiga ulangan. Masa perlakuan dimulai pada fase eksponensial dengan laju karbondioksida 0,1 lpm, 0,2 lpm, dan 0,4 lpm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karbondioksida yang diberikan mampu digunakan oleh S. platensis untuk meningkatkan pertumbuhan tetapi juga akan memperpendek kinetika pertumbuhan. Hal ini juga tercermin pada hasil analisis statistiknya yang tidak ada beda nyata (p>0,005). Secara morfologi respon S. platensis terhadap pemberian karbondioksida adalah terjadinya fragmentasi dan lisis sel.
KARAKTERISTIK, KEMISKINAN, GENDER DAN PERSEPSI PENCARI MASOI (Cryptocarya massoia (Oken) Kosterm.) (Studi Kasus di Kabupaten Teluk Wondama, Provinsi Papua Barat) [Characteristics, poverty, gender and perceptions of Masoi’s (Cryptocarya massoia (Oken) Kosterm.) collectors (A case study in Teluk Wondama regency, West Papua Province)] Hastanti, Baharinawati Wilhan; Noya, Julanda
Journal Penelitian Kehutanan FALOAK Vol 2, No 1 (2018): Jurnal Penelitian Kehutanan FALOAK
Publisher : Balai Penelitian Dan Pengembangan Teknologi Hasil Hutan Bukan Kayu

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (362.45 KB) | DOI: 10.20886/jpkf.2018.2.1.39-56

Abstract

ABSTRACTSMasoi is one of the most important NTFP from Papua. Results of the refining is the manufacture of perfumes, cosmetics, aromatherapy and basic materials maker flavour of food. This plant grows naturally in Fakfak, Kaimana, Teluk Wondama, Nabire, Jayapura, Sarmi, and Merauke. In general, masoi’s collector is a side job for people surrounding forests. The purpose of this study was to determine the description of socioecomics characteristic, poverty, gender and community perceptions masoi collectors in Teluk Wondama. This study used a qualitive approach, the data were analysed descriptively. Characteristics of masoi’s collectors are man, at productive age, less-educated, family status that is high in the number of dependents family and low income. Based on the number of dependents family and low income, masoi’s collectors are classified as “living in poverty”. Gender is observed in the role of woman in the group of masoi’s collectors. Perceptions of masoi’s collectors of masoi’s plant are positive as it is generally assumed as a high economic and high benefit plant. Although this plant is suitable for cultivation, masoi’s collectors are not interested in masoi’s cultivation. It is mainly because of 1) difficulties to acquire massoi’s seedlings, 2) perseverance and accuracy requirements for cultivation, 3) high failure of cultivation, 4) long harvest period, 5) the unavailability of sustainable and environmentally friendly technology for masoi’s harvesting.  Keywords: characteristics, poverty, gender, perceptions. ABSTRAK            Masoi adalah salah satu HHBK andalan Papua. Hasil penyulingannya merupakan bahan dasar pembuatan parfum, kosmetika, aromaterapi dan bahan dasar pembuat aroma makanan. Tanaman ini tumbuh menyebar secara alami  dari Fakfak, Kaimana, Teluk Wondama, Nabire, Jayapura, Sarmi hingga Merauke. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui gambaran karakteristik sosial ekonomi, kemiskinan, gender  dan persepsi komunitas pencari masoi di Kabupaten Teluk Wondama. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, data-data dianalisis secara deskriptif. Pencarian masoi dilakukan sebagai pekerjaan sampingan masyarakat sekitar hutan. Karakteristik masyarakat pencari masoi antara lain berjenis kelamin laki-laki, pada usia produktif, berpendidikan rendah, status berkeluarga dengan tanggungan keluarga yang banyak dan tingkat pendapatan yang rendah. Berdasarkan banyaknya tanggungan anggota keluarga dan pendapatan yang rendah, pencari masoi dikategorikan hidup dalam kemiskinan.  Gender terlihat pada peranan dan posisi perempuan pada kelompok pencari masoi. Persepsi pencari masoi terhadap tanaman masoi pada umumnya positif, karena dianggap bernilai ekonomi tinggi dan kaya akan manfaat. Namun kurang tertarik untuk menanam walaupun secara umum masoi cocok di tanam di daerah tersebut dan masih luasnya lahan yang bisa dikelola dengan masoi. Hal tersebut dikarenakan 1) sulitnya memperoleh bibit masoi,  2) perlu ketekunan dan ketelitian dalam penanaman masoi, 3) tingkat kegagalan tanaman tinggi,     4) memerlukan waktu yang lama untuk memperoleh hasilnya, 5) Belum diperoleh teknik pemanenan yang ramah lingkungan dan berasas kelestarian. Kata kunci : karakteristik, kemiskinan, gender, persepsi 

Page 1 of 3 | Total Record : 25