cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota kupang,
Nusa tenggara timur
INDONESIA
JUTEKS - Jurnal Teknik Sipil
ISSN : 25275496     EISSN : 26219786     DOI : -
JUTEKS (Jurnal Teknik Sipil) merupakan merupakan publikasi online yang diterbitkan Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Kupang yang memuat tentang hasil penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang Teknik Sipil dengan lingkup Manajemen Konstruksi, Struktural, Transportasi, Sumber Daya Air dan Geoteknik. JUTEKS terbit 2 kali dalam setahun yaitu pada bulan April dan Oktober. Publikasi ilmiah ini terbuka para Akademisi, non-Akademisi dan masyarakat umum yang akan mempublikasikan hasil penelitiannya dalam bidang Teknik Sipil.
Arjuna Subject : -
Articles 48 Documents
ANALISIS LABORATORIUM PENGGUNAAN AGREGAT DARI QUARY WAE MESE UNTUK CAMPURAN BERASPAL PANAS DI KABUPATEN MANGGARAI BARAT – NTT Dumin, Lodofikus; Liem, Ferdinan Nikson; Mata, Abia Erasmus
JUTEKS - Jurnal Teknik Sipil Vol 3 No 1 (2018): JUTEKS JURNAL TEKNIK SIPIL
Publisher : Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32511/juteks.v3i1.191

Abstract

Secara visual agregat dari lokasi quary Wae Mese dapat dimanfaatkan sebagai agregat untuk campuran beraspal panas maupun untuk campuran beton semen. Setelah dilakukan kajian secara laboratoris material tersebut dapat digunakan sebagai agregat campuran aspal panas AC-WC dengan hasil; memenuhi syarat dari aspek: gradasi agregat (batu pecah 3/4” dan 1/2" sebesar 1,65% dan 1,56%, abu batu dan pasir 9,06% dan 4,89%), berat jenis dan penyerapan air agregat (batu pecah 3/4" dan 1/2" sebesar 1,86% dan 1,50%, abu batu dan pasir 1,48% dan 1,96%) dan abrasi agregat sebesar 23,50%; dan memenuhi Spesifikasi untuk digunakan sebagai material campuran beraspal panas LASTON AC-WC berdasarkan hasil pengujian dan hasil perhitungan parameter Marshall, dengan menggunakan material asal Wae Mese , Kecamatan Watu Nggelek, Kabupaten Manggarai Barat , dengan kadar aspal Optimum 6,25%.
EVALUASI DAYA DUKUNG TANAH DASAR UNTUK MENDUKUNG PENANGANAN KERUSAKAN RUAS JALAN WEELULI - FULUR KABUPATEN BELU – NTT Daga, Welem; Bria, Melchior; Muda, Anastasia; Dumin, Ludofikus
JUTEKS : Jurnal Teknik Sipil Vol 1 No 1 (2016)
Publisher : P3M- Politeknik Negeri Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (730.159 KB) | DOI: 10.32511/juteks.v1i1.76

Abstract

Salah satu penyebab kegagalan struktur perkerasan jalan (pavement) dalam melayani arus lalulintas adalah daya dukung tanah (DDT) yang relatif rendah. Hal ini dapat diantisipasi sebelumnya melalui suatu penelitian tanah dasar pada ruas jalan baru maupun peningkatan jalan. Parameter yang paling umum dipakai dalam menilai daya dukung tanah untuk perkerasan jalan adalah nilai California Bearing Ratio (CBR) yang dapat diperoleh baik melalui uji CBR laboratorium atau uji Dynamic Cone Penetrometer (DCP) langsung di lapangan. Dalam penelitian ini akan dievaluasi bagaimana aplikasi dari kedua metode ini untuk menilai daya dukung tanah dasar dengan mengambil kasus di Ruas Jalan Weeluli – Fulur Kabupaten Belu NTT. Ruas jalan ini mengalami kerusakan yang cukup parah karena beban kendaraan yang melalui jalur ini melebihi kapasitas tonase jalan. Hasil dari penelitian ini adalah diperolehnya nilai DDT berdasarkan hasil uji lapangan menggunakan DCP dan hasil uji CBR laboratorium dan nantinya dipakai dalam merencanakan pekerjaan peningkatan ruas jalan Weeluli – Fulur. Hasil perbandingan nilai CBR diperoleh hubungan antara CBR lapangan (y) dengan CBR Laboratorium (x) adalah Linear menurut persamaan y = 1,249x – 0,557.
APLIKASI LAMPU LED BERTENAGA SURYA SEBAGAI PENERANGAN RUMPON NELAYAN DI PANTAI ATAPUPU KABUPATEN BELU Mauko, Imanuel; Daga, Welem
JUTEKS : Jurnal Teknik Sipil Vol 1 No 1 (2016)
Publisher : P3M- Politeknik Negeri Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1567.976 KB) | DOI: 10.32511/juteks.v1i1.86

Abstract

Pemakaian rumpon tradisional oleh nelayan di pesisir pantai Atapupu  selama ini kurang efektif  dalam hal memanggil ikan karena hanya menggunakan daun kelapa/daun lontar sebagai rumah ikan untuk berlindung dan mencari makan. Daun yang dipakai ini tidak bertahan lama karena rusak akibat gelombang maupun pembusukan daun dan juga waktu tangkap yang baik dan maksimal hanya terjadi pada saat subuh/remang-remang, dimana saat tersebut ikan tertarik untuk naik ke permukaan karena pantulan cahaya. Kurangnya pencahayaan dan mahalnya minyak tanah menyebabkan beberapa kelompok nelayan yang menggunakan rumpon enggan untuk menarik rumponnya diwaktu malam, padahal penarikan ikan saat malam menurut mereka lebih maksimal. Selain itu, kebutuhan minyak tanah untuk penerangan saat menarik  rumpon ikan sekitar 5 liter atau setara Rp. 30.000,- Untuk mengatasi masalah ini maka tim menerapkan penggunaan lampu LED bertenaga surya sebagai  alat penerangan rumpon, sekaligus sebagai alat pemanggil ikan.. Beberapa  keunggulan lampu LED yang akan dirancang sebagai penerangan rumpon ini diantaranya dapat dicelupkan/direndam dalam air, lebih tahan lama, konsumsi daya listrik yang lebih sedikit dan dapat terdapat pilihan warna cahaya atau kerlap-kerlip yang cepat menarik perhatian ikan. Penerapan teknologi penerangan rumpon dilakukan dengan merancang serta membuat suatu sistem penerangan menggunakan lampu LED dengan sumber tenaga berasal dari tenaga surya. Selanjutnya lampu penerangan ini digunakan pada saat penangkapan ikan  dengan rumpon. Hasil penerapan teknologi lampu LED ini menunjukan adanya peningkatan hasil tangkapan ikan para nelayan pantai Atapupu yang pada akhirnya dapat meningkatan pendapatan dan ekonomi nelayan.
ANALISIS PENEMPATAN DAN DESAIN BANGUNAN PENGENDALI SEDIMEN GUNA PENANGANAN LAJU EROSI DI DAS OESAPA BESAR KUPANG PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR Sutirto, Sutirto; Johannis, Dian E. W.; Fallo, Yunus
JUTEKS : Jurnal Teknik Sipil Vol 1 No 2 (2016)
Publisher : P3M- Politeknik Negeri Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32511/juteks.v1i2.111

Abstract

Hasil analisa existing DAS Oesapa Besar pada tahun 2015 mempunyai laju erosi 425,771 ton/ha/tahun dan total besarnya erosi 53.662,426 ton/tahun dengan ketebalan erosi lahan 5,6 mm/tahun. Tingkat bahaya erosi dan kekritisan lahan dengan kriteria Sangat ringan 1.901,86 Ha ( 41,33), Sedang 1,524,79 Ha (33,13%), Berat 601,41 Ha (13,07%) dan Sangat Berat seluas 573,70 Ha ( 12,47 %).Untuk menjaga besarnya debit limpasan dan laju erosi yang sangat besar di DAS Oesapa Besar diperlukan desain bangunan pengendali sedimen sesuai kondisi eksisting Desain bangunan (check dam) yang dilakukan dalam rangka menghasilkan suatu bangunan fungsional yang optimal dengan total biaya minimum. Untuk mencapai biaya minimum tersebut, maka check dam harus didesain dengan memanfaatkan material yang tersedia secara maksimum, termasuk material galian dan urugan untuk pondasi dan untuk bangunan pelengkap.Dari hasil analisa sesuai arahan penempatan lokasi bangunan pengendali sedimen diperoleh 9 lokasi untuk menahan laju erosi yang terjadi di DAS Oesapa Besar. Adapun usia masing-masing bangunan pengendali sedimen sesuai penempatan dan laju erosi yang terjadi pada Sub-Sub DAS Oesapa Besar yang dapat menahan laju erosi sebesar 420,383 ton/ha/tahun melalui daya tampung sedimen yang di tampung oleh bangunan pengendali sedimen 478.324,89 ton dengan kurun waktu selama 27 tahun
BUDIDAYA RUMPUT LAUT DI PANTAI BOLOK KUPANG - NUSA TENGGARA TIMUR Nahak, Priska Gardeni; Trisnoyuwono, Diarto
JUTEKS : Jurnal Teknik Sipil Vol 1 No 2 (2016)
Publisher : P3M- Politeknik Negeri Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (710.771 KB) | DOI: 10.32511/juteks.v1i2.116

Abstract

NTT Province as one of the provinces in Indonesia has many islands, with the main livelihood of the people were farming, gardening and seaweed farmers. One of the flagship products of seafood NTT was seaweed. Kupang district is one of the producers of seaweed in the province, but the availability of area for those matter until now not able to meet the maximum target of dry seaweed. Additionally dried seaweed produced has poor quality because it still contains a lot of impurities, thus affecting the selling price, which would certainly have an impact on the income and welfare of the farmers. It is because the technique that applied to both the cultivation technique and drying techniques were still very traditional. One of the technologies offered to overcome those problems was 'Dryer Box Technology'. This technology were expected especially to minimize the amount of seaweed ready for harvest were always broken and lost in the rainy season, due to lack of seaweed dryers facilities. In addition by these technology were also expected to get more cleaner dried seaweed because it is not contaminated with dirt when drying, so as to improve the quality of the dried seaweed. This quality improvement, also will increase the selling price of which would increase the income and welfare of farmers seaweed, as well as increasing the amount of seaweed production in NTT Province. The dryer box technology has a dimension 0.8 m lenght; 0.66 m width; and 1.5 m height. so that for once the drying process, 50 kg of wet grass only requires about 0.53 m² of area, while using traditional drying methods requires 10m² ± s / d 15 m² of area depending on the number of wet grass. Besides shorter drying time is for 50 kg of wet grass, it takes only about ± 0.75 hours. Whereas with traditional systems, drying time takes an average of 3-4 days. This will increase the productivity of dry seaweed, which can increase the production quantity of dried seaweed ready though in NTT Province.
PENGEMBANGAN BATAKO SISTEM INTERLOCKING UNTUK BANGUNAN TAHAN GEMPA Trisnoyuwono, Diarto; Simamora, Marsinta; Nahak, Priska Gardeni
JUTEKS : Jurnal Teknik Sipil Vol 2 No 1 (2017)
Publisher : P3M- Politeknik Negeri Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (928.022 KB) | DOI: 10.32511/juteks.v2i1.129

Abstract

Earthquakes as a natural phenomenon have caused many casualties and property.for the examples human casualties from the Aceh earthquake on December 26th, 2006 more than 180 thousand people, the Nias earthquake on March 15th, 2005 have more than 3000 of victims andlast  the Yogyakarta earthquake on 27th May 2006 over 5700 victims. Based on observations most of the human victims caused by falling by the collapsed building. One of the elements of the building that is easy to fail when an earthquake strike is part of the wall.The walls are composed of clay bricks or concrete bricks only able to withstand axial force but weak in resisting lateral force perpendicular to the plane. Innovation model of brick to overcome the problem is batako interlocking system. Batako hooks (Interlock block) is a wall building material that has a hook to lock movement due to lateral force. Interlock block is the development of the brick by adding lips on certain sides as a lock. The developed brick model with a dimensions length of 30 cm, height of 15 cm and thickness of 10 cm, which is equipped with bulge / lips on all four sides. The portion of the mixture used is 1 cement: 5 sand. The molded brick was applied to a wall-mounted pairs product with a length of 1.5 m and a height of 1 m. Based on the calculation of material requirement from brick wall, it is known that the specific material for inserting an interlocking brick is 25% less than conventional batako pairs, besides the time required to obtain a neat pair of interlocking bricks is 7.5 minutes faster when compared with Installation of conventional brick.
STUDI IDENTIFIKASI DAN PENANGGULANGAN GENANGAN BANJIR DI JALAN CAK DOKO KELURAHAN OETETE - KOTA KUPANG Nahak, Priska Gardeni; Bria, Melchior; Nenabu, Oktoviani
JUTEKS : Jurnal Teknik Sipil Vol 2 No 2 (2017)
Publisher : P3M- Politeknik Negeri Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32511/juteks.v2i2.165

Abstract

Genangan air di Jalan Cak Doko khususnya di depan SMA Negeri 1 Kupang, sudah sangat memprihatinkan, karena genangan yang terjadi bisa mencapai ketinggian hingga 0.75 m, sehingga sangat mengganggu aktivitas lalulintas di lokasi tersebut. Genangan air di ruas jalan ini sering menyebabkan kemacetan karena, kendaraan yang melewatinya harus mengurangi kecepatan untuk menghindari cipratan air dan kemungkinan adanya lubang pada jalan, bahkan tak jarang ada kendaraan yang mogok karena mesin kendaraan tiba-tiba mati. Selain itu, genangan air tersebut juga dapat menyebabkan kerusakan jalan yang berpotensi membentuk lubang atau cekungan yang membuat jalan tidak rata sehingga rawan kecelakaan. Dengan kondisi tersebut, maka diperlukan suatu studi untuk mengevaluasi dan menentukan upaya penanganan terhadap permasalahan genangan air/banjir yang ada di Kota Kupang, khususnya di Jalan Cak Doko Kelurahan Oetete. Berdasarkan hasil identifikasi di lapangan terhadap jaringan drainase yang ada di lokasi studi, terlihat bahwa saluran drainase secara umum sudah tidak berfungsi dengan baik, karena di dalam saluran terdapat banyak sekali sedimen dan sampah-sampah, baik itu sampah organik maupun sampah non organik sehingga menyebabkan penyempitan saluran. Genangan banjir di jalan Cak Doko (depan SMAN I) terjadi karena beberapa hal, antara lain adanya perubahan penggunaan lahan, di mana banyak daerah resapan yang kini telah beralih fungsi menjadi kawasan perumahan, sekolah, dan gedung lainnya, selain itu lahan-lahan kosong di sekitar gedung dan permukiman, banyak yang sudah dibeton, atau dipaving, sehingga mengurangi lahan untuk peresapan, serta adanya penyempitan saluran akibat sedimen dan sampah, sehingga saluran drainase tidak lagi mampu menampung air hujan, yang akhirnya menyebabkan luapan yang menggenangi daerah-daerah cekungan, terutama di sekitar jalan Cak doko. Berdasarkan hasil evaluasi debit banjir rencana periode kala ulang 5 tahun terhadap kapasitas saluran eksisting diperoleh kapasitas saluran (Qs) lebih kecil dari debit banjir rencana (Qr) sehingga kapasitas saluran eksisting tidak dapat menampung debit banjir yang terjadi. Saluran drainase eksisting juga tidak berfungsi dengan baik yang disebabkan terdapat banyak sekali sedimen dan sampah baik itu sampah organik maupun sampah non organik yang masuk ke dalam saluran sehingga menyebabkan penyempitan saluran. Dari hasil evaluasi kondisi debit banjir rencana terhadap kapasitas saluran eksisting, maka diperoleh pada ruas 1 sampai ruas 6 kapasitas saluran (Qs) lebih kecil dari debit banjir rencana (Qr), sehingga saluran drainase pada ruas 1 sampai ruas 6 tersebut tidak dapat menampung debit banjir rencana. Oleh kerena itu, perlu direkomendasikan untuk merencanakan dimensi saluran berdasarkan hasil perhitungan debit banjir rencana (Qr) kala ulang 5 tahun agar dapat menampung dan mengalirkan debit air hujan dan debit air kotor yang terjadi.
APLIKASI GRADASI GABUNGAN DI LABORATORIUM DAN GRADASI HOT BIN ASPHALT MIXING PLANT CAMPURAN LATASTON (HRS – BASE) TERHADAP KARAKTERISTIK MARSHALL Daga, Welem M.W.L.; Paling, Theodorus; Lay, Yermias Elvis
JUTEKS : Jurnal Teknik Sipil Vol 2 No 2 (2017)
Publisher : P3M- Politeknik Negeri Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32511/juteks.v2i2.170

Abstract

Perencanaan yang baik terkadang meleset dalam pelaksanaannya, yang akibatnya akan berdampak pada masyarakat pengguna jalan. Komposisi gradasi perkerasan lentur yang digunakan sering tidak sesuai dengan desain perencanaan dan peruntukkannya. Banyak upaya yang dilakukan untuk melihat kembali komposisi yang digunakan gradasi yang digunakan. Diantaranya dengan melihat perbandingan gradasi gabungan di laboratorium dengan gradasi gabungan pada unit Hot Feed Bin di Asphalt Mixing Plant (AMP) yang berbeda jauh, juga sering menghadapi kendala akibat tidak pernah diadakan kalibrasi pada saringan yang ada pada unit Hot Feed Bin di AMP. Dari faktor sumber daya manusia sering diakibatkan oleh sikap para operator pelaksana perkerjaan konstruksi jalan yang amat sering mengabaikan pentingnya pengukuran dan kalibrasi gradasi gabungan di laboratorium, maupun gradasi gabungan di unit Hot Feed Bin di Asphalt Mixing Plant (AMP). Sering terjadinya pencampur-bauran agregat dalam muatan bin, tipe yang benar dari feeders, termasuk tipe belt untuk agregat pasir halus, pintu feeders jarang dikalibrasi secara tepat dan terpasang dengan kuat, tidak terjaganya secara terpisah ukuran agregat di lokasi stockpile, menjadi penyebab penyimpangan pada Job Mix Agregate Formula (JMAGF). Penelitian komparasi aplikasi gradasi gabungan di laboratorium dan gradasi di unit Hot Feed Bin Asphalt Mixing Plant (AMP) yang mengacu pada Spesifikasi Baru Beton Aspal Campuran Panas perlu dilakukan untuk mendapatkan kinerja gradasi Job Mix Agregate Formula (JMAGF) campuran Lataston (HRS – Base) di Laboratorium dan membandingkannya dengan gradasi Job Mix Agregate Formula (JMAGF) dengan kadar aspal yang sama campuran Lataston (HRS -Base) di unit Hot Feed Bin Asphalt Mixing Plant (AMP).
KAJIAN PENGGUNAAN SINAR MATAHARI UNTUK PENGKONDISIAN UDARA RUANGAN MENGGUNAKAN BATU ALAM PULAU TIMOR SEBAGAI PENYERAP PANAS PADA SYTEM DINDING TROMBE Palinggi, Aris; Rerung, Oktovianus D.; Hattu, Edwin P. D.
JUTEKS : Jurnal Teknik Sipil Vol 3 No 1 (2018): JUTEKS JURNAL TEKNIK SIPIL
Publisher : P3M- Politeknik Negeri Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (969.871 KB) | DOI: 10.32511/juteks.v3i1.192

Abstract

Penggunaan energi fosil yang semakin meningkat pada akhirnya menyebabkan pemanasan global, oleh sebab penggunaan energi yang bersih seperti energi matahari sangat diperlukan. Energi matahari dapat digunakan untuk mendinginkan ruangan yaitu dengan sistem dinding Trombe. Dinding Trombe banyak digunakan dengan posisi vertikal di negara-negara sub tropis. Tujuan pada penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi suhu ruangan setelah diterapkan sistem dinding Trombe. Metode yang digunakan adalah penggunaan batu alam Pulau Timor sebagai penyerap panas dan dilakukan dengan alat simulasi berupa kotak. Perhitungan panas dilakukan dengan pemasangan sensor panas dan software berupa Adriuno Uno dan Ashare. Pengambilan data setiap 5 menit dari jam 09.00 sampai jam 21.00. Penelitian dilakukan dengan memperbandingkan kondisi udara (temperatur) udara Luar ruangan dengan ruangan tanpa dinding Trombe, dan ruangan dengan dinding Trombe vertikal,. Kondisi udara ruangan tersebut juga akan dibandingkan dengan kondisi standar kenyamanan udara untuk aktivitas manusia. Hasil yang didapatkan menunjukkan bahwa penggunaan dinding Trombe di daerah tropis akan membuat ruangan lebih sejuk Penggunaan dinding Trombe Horizontal mampu menurunkan suhu lebih rendah dibanding vertikal. Semua data yang didapatkan menunjukkan kondisi ruangan dengan dinding Trombe masih belum memenuhi syarat kenyamanan manusia sebab pada saat pengambilan data kondisi suhu di NTT sedang musim panas.
KAJIAN MANAJEMEN PELAKSANAAN PEMELIHARAAN JALAN PADA RUAS JALAN OBEN BONE KABUPATEN KUPANG NTT Conterius, Yosefus
JUTEKS : Jurnal Teknik Sipil Vol 3 No 1 (2018): JUTEKS JURNAL TEKNIK SIPIL
Publisher : P3M- Politeknik Negeri Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (713.084 KB) | DOI: 10.32511/juteks.v3i1.199

Abstract

Konstruksi secara umum di terjemahkan sebagai segala bentuk pembuatan infrastruktur (contoh jalan, jembatan, gedung, irigasi, gedung) serta pelaksanaan pemeliharaan dan perbaikan infrastruktur. Dalam pelaksanaannya, proyek konstruksi membutuhkan suatu manajemen untuk mengolah dari bahan baku sebagai input kegiatan menjadi suatu konstruksi. Dengan kata lain, kegiatan pelaksanaan proyek konstruksi dapat diartikan sebagai suatu kegiatan sementara, yang berlangsung dalam jangka waktu terbatas dengan alokasi sumberdaya tertentu dan dimaksudkan untuk menghasilkan produk dengan kriteria-kriteria yang telah digariskan secara jelas dalam kontrak. Demikian halnya dengan proyek pemeliharaan jalan yang membutuhkan aspek manajemen proyek yang baik seperti pada ruas jalan Oben–Bone Kecamatan Nekamese Kabupaten Kupang. Jalan ini sering dilalui oleh truk-truck yang mengangkut material di pantai selatan. Selain itu juga merupakan jalan utama menuju tempat Ziarah Gua Bunda Maria yang ada di Desa Usapi. Perlu adanya pemeliharaan karena kondisi jalan lama yang sudah rusak, yang berdampak pada ketidak nyamanan yang dirasakan para pengguna jalan tersebut sehingga mengganggu arus transportasi baik jasa maupun barang. Dalam proses pelaksanaan pemeliharaan jalan Oben-Bone Kabupaten Kupang diperlukan penanganan yang baik dengan sumber daya yang memadai pula berdasarkan 5 M + I diantaranya man (tenaga kerja), money (biaya), methods (metode), machines (peralatan), materials (bahan) market (pasar) dan Information. Hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan pemeliharaan jalan adalah penggunaan biaya dan penjadwalan waktu kerja. Penggunaan biaya harus digunakan secara efisien dan waktu kerja harus direncanakan secara efektif. Dari kedua hal tersebut akan sangat membantu dalam mencapai tujuan yaitu keberhasilan pelaksanan suatu proyek.