cover
Filter by Year
Biosel: Biologi Science and Education
Published by IAIN Ambon
Journal Biosel receiving articles of the results of the study in biology field and education. This journal rising twice a year, namely edition of january-june and edition of july-december.
Articles
123
Articles
‚Äč
PENGARUH LAMA PENGERINGAN TERHADAP MUTUH KERIPIK BERBAHAN DASAR LIMBAH BUAH NANGKA (Artocarpu heterophyllus L)

Bachtiar, suhaedir

Biosel: Biology Science and Education Vol 7, No 2 (2018): Biosel: Biology Science and Education
Publisher : IAIN Ambon

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Nangka (Artocarpus heterophyllus) merupakan salah satu jenis buah-buahan yang sangat dikenal oleh masyarakat dan telah dimanfaatkan untuk bahan makanan. Nangka mempunyai banyak kegunaan, dapat diolah menjadi sayur, dan dapat dikomsumsi langsung. Objek penelitian adalah limbah jerami buah nangka, dan subjek penelitian adalah mutu jerami buah nangka berupa warna, aroma, tekstur, dan rasa dengan menggunakan panelis sebagai responden sebanyak 20. Pengumpulan data dalam penelitian, penelitian yang didapat akan dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan cita rasa (organoleptik) untuk menentukan cita rasa dengan ketentuan sebagai berikut, warna, aroma, tekstur, dan rasa. Hasil penelitian dikethui bahwa, dari ketiga perlakuan yaitu pengeringan jerami buah nangka selama 2 jam (A1), pengeringan dami atau jerami buah nangka selama 3 jam (A2), dan pengeringan dami atau jerami buah nagka selama 4 jam (A3). Pada perlakuan (A2) 3 jam pengeringan dami atau jerami buah nangka dianggap paling baik dengan nilai yang diperoleh warna 3,85, aroma 3,65, rekstur 3,35, dan rasa 3,65. Disini dapat dilihat bahwa perlakuan dengan lama pengeringan selama 3 jam (A2) menghasilkan kualitas warna, aroma, tekstur, dan rasa yang disukai oleh panelis dibandingkan dengan perlakuan (A1) dan (A2). Kata Kunci : Lama pengeringan, Mutu keripik, Artocarpus heterophyllus

MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR KOGNITIF SISWA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING

Safitri, Dian, Nurdiyanti, Nurdiayanti, Fadhillah, Nurul

Biosel: Biology Science and Education Vol 7, No 2 (2018): Biosel: Biology Science and Education
Publisher : IAIN Ambon

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran inkuiri terbimbing terhadap motivasi dan hasil belajar kognitif. Penelitian merupakan eksperimen semu dengan desain pretest-possttest non equivalent control group design. Populasi penelitian adalah seluruh siswa kelas XI Madrasah Aliyah Madani Alauddin Paopao yang berjumlah 95 siswa. Besarnya sampel ditetapkan sebanyak 60 siswa. Penentuan sampel yaitu secara acak kelas. Instrumen penelitian yang digunakan berupa angket motivasi dan tes hasil belajar kognitif. Data dianalisis dengan statistik inferensial analisis kovarian (anakova). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran inkuiri terbimbing berpengaruh secara signifikan terhadap motivasi dan hasil belajar kognitif.

JENIS TUMBUHAN HERBAL DAN CARA PENGOLAHANNYA (STUDI KASUS DI NEGERI LUHUTUBAN KECAMATAN KEPULAUAN MANIPA KABUPATEN SERAM BAGIAN BARAT)

Bahalwan, Farida, Mulyawati, Nina Yuliana

Biosel: Biology Science and Education Vol 7, No 2 (2018): Biosel: Biology Science and Education
Publisher : IAIN Ambon

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Penelitian ini berawal dari penggunaan tumbuhan obat yang dipakai masyarakat Negeri Luhutuban dalam menyembuhkan berbagai jenis penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis tumbuhan herbal dan cara mengolahnya. Jenis penelitian adalah deskritif yaitu untuk melihat jenis tumbuhan herbal dan cara mengolah sebagai obat. Objek penelitian ini adalah spesies tumbuhan obat yang dimanfaatkan oleh masyarakat setempat sebagai bahan baku obat. Subjek dalam penelitian ini adalah pembuat dan dukun beranak. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan kuesioner dan wawancara. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat 51 jenis tumbuhan herbal yang telah dimanfaatkan oleh masyarakat Negeri Luhutuban sebagai obat alternatif dalam menyembuhkan berbagai jenis penyakit serta cara pengolahan tergolong sederhana, yaitu direbus, ditumbuk, diremas, oles, dipanaskan dan ditempel ataupun langsung dimakan Kata Kunci: Tumbuhan Herbal, Pengolahan, Berbagai Jenis Penyakit

LAMA PENYIMPANAN STEK TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN UBI KAYU (Manihot esculenta Crantz)

Allifah, Asyik Nur, Rijal, Muhammad

Biosel: Biology Science and Education Vol 7, No 2 (2018): Biosel: Biology Science and Education
Publisher : IAIN Ambon

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Tanaman ubi kayu (Manihot esculenta Crantz) merupakan salah satu tanaman Holticultura yang dijadikan tanaman pangan dan perdagangan. Sebagai tanaman pangan, ubi kayu sumber karbohidrat bagi sekitar 500 juta manusia di dunia. Di Indonesia tanaman ubi kayu ini menempati urutan ketiga setelah padi dan jagung. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen, objek pengamatan dalam penelitian ini adalah jenis ubi kayu yang berbatang putih yang diambil pada posisi batang bagian tengah 25 cm dari pangkal batang dan 25 cm dari ujung batang yang disimpan dengan lama penyimpanan yang berbeda. Hasil penelitian menunjukan bahwa lama penyimpanan berpengaruh pada taraf 5% dan 1% terhadap pertumbuhan ubi kayu. Berdasarkan uji beda menyatakan bahwa P1 berbeda bila dibandigkan dengan perlakuan lainnya, dengan tinggi tanaman untuk P1 = 29,9 cm dengan jumlah daun 17,7 helai. Hasil pengamatan bahwa lama penyimpanan stek terhadap pertumbuhan tanaman ubi kayu pada tahap perlakuan tanpa penyimpanan dengan rataan perlakuan adalah 29,9 cm, penyimpanan satu minggu 24,23 cm dan penyimpanan dua minggu 22,5 cm Kata Kunci: Lama Penyimpanan Stek, Tinggi Tanaman, Jumlah Daun

INDUSTRIALISASI, PENCEMARAN LINGKUNGAN DAN PERUBAHAN STRUKTUR KESEHATAN MASYARAKAT

Muliani, Ahmad, Rijal, Muhammad

Biosel: Biology Science and Education Vol 7, No 2 (2018): Biosel: Biology Science and Education
Publisher : IAIN Ambon

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Di negara industri pola penyakit bergeser dari penyakit infeksi ke non infeksi dan dari gangguan fisik ke gangguan jiwa. Sistem pelayanan kesehatannya selain menekankan pelayanan klinis untuk menangani penyakit kronis non infeksi juga dikembangkan sistem pemantauan secara intensif kualitas lingkungannya, baik masalah air, udara, tanah dan makanan. Dalam perjalanan menuju masyarakat industri maka fase awal proses industrialisasinya merupakan masa transisi yang berat bagi kesehatan masyarakat. Beban kesehatan masyarakat menjadi bertumpuk sehingga memerlukan penanganan komprehensif, efektif dan efisien. Upaya penanganan dampak industri terhadap kesehatan masyarakat juga perlu ditingkatkan dengan mengembangkan tata ruang ekosistem dan pemantauan bahan pencemar secara intensif di wilayah industri. Kata Kunci: Industrialisasi, Pencemaran Lingkungan, Perubahan Struktur, Kesehatan Masyarakat.

EFIKASI DOSIS PUPUK KOTORAN HEWAN DAN VOLUME AIR TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT KLON S-1 TANAMAN KAKAO (Theobroma cacao L.)

Syarifuddin, Syarifuddin

Biosel: Biology Science and Education Vol 7, No 2 (2018): Biosel: Biology Science and Education
Publisher : IAIN Ambon

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Tanaman kakao (Theobroma cacao L.) klon Sulawesi-1 (S-1) termasuk famili Sterculiaceae yang menghasilkan cokelat yang pengelolaan pertama kali ditemukan pada tahun 1.100 ‚?? 1.400 SM di Puerto Escondido-Honduras merupakan tanaman perkebunan yang memiliki nilai ekonomis yang cukup penting dan menjadi salah satu komoditi unggulan Provinsi Maluku. Penelitian ini disusun dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL) dalam pola faktorial yang terdiri dari: Faktor pertama adalah jenis pupuk kotoran hewan yang terdiri dari pupuk kotoran ayam (K1), sapi (K2), dan kambing (K3). Faktor kedua adalah dosis (D) masing-masing terdiri dari 4 taraf perlakuan yaitu D0 = 0 tha-1 (Kontrol), D1 = 5 tha-1, D2 = 10 tha-1, D3 = 15 tha-1. Faktor ketiga adalah volume air (V) yang terdiri dari 4 taraf perlakuan, yaitu V0 = 0 ml (Kontrol), V1 = 20 ml, V2 = 40 ml, dan V3 = 60 ml. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Tidak terdapat pengaruh interaksi antara dosis pupuk kotoran ayam, sapi, maupun kambing dengan volume air terhadap pertumbuhan bibit tanaman kakao (T. cacao L.) umur 42 HST karena diduga terjadi pencucian unsur hara dalam pupuk kotoran hewan akibat tidak seimbang antara ukuran polybag dengan volume air siraman. (2) Tidak terdapat pengaruh dosis pupuk kotoran ayam, sapi, maupun kambing terhadap pertumbuhan bibit tanaman kakao (T. cacao L.) umur 42 HST. Tetapi berdasarkan nilai rata-rata dari hasil Uji Lanjut Duncan taraf kepercayaan 95% terlihat bahwa dosis 5 tha-1 memiliki nilai rata-rata tertinggi terhadap variabel tinggi tanaman, jumlah daun, dan panjang akar tunggang, jika dibandingkan dengan dosis 10 tha-1 dan 15 tha-1. Hal ini diduga karena baru pertumbuhan awal pada bibit tanaman kakao (T. cacao L.) umur 42 HST sehingga belum banyak membutuhkan unsur hara, sehingga dosis 5 tha-1 diduga telah sesuai kebutuhan pertumbuhan bibit tanaman kakao (T. cacao L.) umur 42 HST. (3) Terdapat pengaruh yang signifikan perlakuan volume air terhadap pertumbuhan bibit tanaman kakao (T.cacao L.) umur 42 HST karena diduga bibit tanaman kakao telah mampu menyerap air dengan baik untuk proses metabolisme. Berdasarkan nilai rata-rata, maka dapat dinyatakan bahwa volume air 20 ml memiliki nilai rata-rata tertinggi pada variabel tinggi tanaman dan jumlah daun, sehingga dapat dinyatakan bahwa volume 20 ml yang paling baik untuk pertumbuhan bibit tanaman kakao klon Sulawesi-1 (S-1). Kata Kunci: T. cacao L. Klone S-1, Dosis Pupuk Kotoran Hewan, Volume Air

APLIKASI AMPAS TEBU DAN KULIT PISANG TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI KANGKUNG DARAT (Ipomea reptans Poir)

Surati, Surati, Natsir, Nur Alim

Biosel: Biology Science and Education Vol 7, No 2 (2018): Biosel: Biology Science and Education
Publisher : IAIN Ambon

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Kangkung merupakan jenis tanaman sayuran daun. Tanaman ini berasal dari daerah tropis, terutama di kawasan Afrika dan Asia. Tanaman kangkung termasuk salah satu jenis tanaman hortikultura yang sangat digemari masyarakat Indonesia karena rasanya sangat gurih. Ampas tebu dan kulit pisang kepok mengandung unsur hara makro dan mikro yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan produksi tanaman kangkung darat (Ipomea reptans Poir), selain itu ampas tebu dan kulit pisang belum dimanfaatkan secara baik oleh masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ampas tebu dan kulit pisang terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman kangkung darat. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap yang terdiri dari 2 faktor yaitu ampas tebu dan kulit pisang dengan perlakuan A0 (tidak menggunakan ampas tebu dan kulit pisang), A1 (ampas tebu 1,5 kg + 3 kg tanah/polybag) dan A2 (kulit pisang 1,5 kg + 3 kg tanah/polybag). Data hasil penelitian dianalisis secara statistic pada tinggkat kepercayaan 5% atau 1% akan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh pada pemberian ampas tebu dan kulit pisang terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman kangkung darat (Ipomea reptans Poir). Hasil yang terbaik dalam penelitian ini adalah pada perlakuan A2 (Kulit pisang 1,5 kg) Kata Kunci: Kangkung Darat (Ipomea reptans Poir), Ampas Tebu, Kulit Pisang

INVENTARISASI JAMUR MAKROSKOPIS DI KAWASAN HUTAN MBEJI LERENG GUNUNG ANJASMORO

Firdaushi, Nirmala Fitria, Muchlas Basah, Arum W

Biosel: Biology Science and Education Vol 7, No 2 (2018): Biosel: Biology Science and Education
Publisher : IAIN Ambon

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Jamur di alam banyak jenisnya, baik yang berukuran makroskopis maupun yang berukuran mikroskopis. Salah satu kelompok jamur yang dapat dilihat secara kasat mata adalah Basidiomycota. Beragamnya ekosistem di hutan tropis yang disebabkan kondisi geografi yang berbeda menyebabkan beragam pula keanekaragaman spesies di dalamnya termasuk di hutan Mbeji Wonosalam lereng gunung Anjasmoro. Sebagian besar spesies jamur makroskopis belum teridentifikasi secara detail. Berdasarkan tingkat kemiripan menurut ciri-ciri morfologi dan tempat tumbuh antara obyek yang ditemukan dengan literatur yang digunakan untuk melakukan identifikasi dan klasifikasi jenis-jenis jamur basidiomycota, hasil inventarisasi yang dilakukan di hutan Mbeji lereng Anjasmoro didapatkan beberapa spesies dalam satu kelas yaitu kelas Agaricomycetes. Terdapat 14 jenis jamur makroskopis dalam 12 genus 7 famili dan 3 ordo. Spesies yang paling banyak ditemukan masuk dalam family Agaricaceae. Seluruh spesies yang ditemukan masuk dalam devisi Basidiomycota Kata Kunci: Jamur, Basidiomycota, Hutan Mbeji, Lereng Anjasmoro

PEMANFATAN LIMBAH SERBUK GERGAJI SEBAGAI BAHAN DASAR PEMBUATAN BRIKET

Suwaedi, Ode

Biosel: Biology Science and Education Vol 7, No 2 (2018): Biosel: Biology Science and Education
Publisher : IAIN Ambon

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Jenis penelitian ini adalah Penelitian Kualitatif yang bertujuan untuk menghasilkan produk berupa briket berbahan dasar limbah serbuk gergaji sebagai bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan. Hasil penelitian menunjukan bahwa Pengetahuan masyarakat tentang pemanfatan atau pembuatan briket dari limbah serbuk gergaji yaitu dari total 7 orang responden, yang menjawab Ya tidak ada dengan presentase 0%, sementara yang menjawab Tidak sebanyak 7 orang dengan presentase 100 % dari total presentase (100%). Berdasarkan uji kualitas fisik yaitu untuk mendidihkan 1 liter air, diketahui bahwa 5 buah briket dari serbuk gergaji dapat mematangkan air dalam waktu 7 menit. Hasil uji sifat penyalaan dari briket berbahan dasar serbuk gergaji, diketahui 3 buah briket serbuk gergaji memiliki keadaan mudah menyala, lama nyala yaitu 13 menit, jumlah asap yang sedikit, jumlah debu yang sedikit (1,03g), dan memiliki aroma yang tidak terlalu harum Kata Kunci: Limbah, Serbuk Gergaji, Briket

KOMBINASI KOTORAN AYAM DENGAN KOTORAN SAPI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN KEDELAI (Glycine max. L MERR)

Natsir, Nur Alim

Biosel: Biology Science and Education Vol 7, No 2 (2018): Biosel: Biology Science and Education
Publisher : IAIN Ambon

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Tanaman kedelai merupakan salah satu jenis tanaman yang sudah cukup lama mendapat tempat di hati masyarakat, karena mempunyai nilai kemanfaatan yang tinggi. Oleh karena itu usaha penanaman komoditi tanaman kedelai lebih diintensifkan, agar produksi bisa ditingkatkan. Pupuk kotoran sapi yaitu hasil buangan sapi melalui proses pencernaan, dengan perlakuan, 0,16 kg, 0,25 kg, dan 0,75 kg. Pupuk kandang ini sangat baik untuk kesuburan tanaman, mengandung unsur hara yang baik untuk tanaman, kotoran sapi memiliki kandungan senyawa alkohol dari jenis etanol. Pupuk kotoran ayam adalah limbah hasil buangan ayam melalui proses pencernaan, dengan perlakuan 0,16 kg, 0,25 kg, dan 0,75 kg unsur makro elemen N, P, K, Ca dan unsur mikro elemen Bo, Fe, Cl, Ze dan Mn. Permasalahan dalam penelitian ini adalah pengaruh perlakuan kombinasi pupuk kotoran ayam dengan kotoran sapi terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman kedelai dengan menganalisis data stasistik dengan sidik ragam (uji-F). Berdasarkan hasil penelitian bahwa perlakuan kombinasi kotoran ayam dan kotoran sapi memberikan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman kedelai. Perlakuan kombinasi terbaik terlihat kombinasi perlakuan A3B1 (0,75 kg kotoran ayam + 0,25 kg kotoran sapi) dan pengaruh tersebut berbeda secara signifikan dengan kombinasi perlakuan lain terutama pada parameter tinggi tanaman, sedangkan jumlah daun, jumlah polong, bobot basah dan kering polong tidak signifikan. Kata Kunci: Kombinasi Kotoran Ayam, Kotoran Sapi, Pertumbuhan dan Produksi, Tanaman Kedelai