Jurnal Saintek Lahan Kering
Published by Universitas Timor
ISSN : 26221020     EISSN : -
Journal of dryland sci-tech (JDLS) covering the field of science and technology in terms of chemistry, biology, mathematics, information technology, and public health and nursing, based on dryland.
Articles
13
Articles
Review: Senyawa Bahan Alam Terestrial dengan Aktivitas Antimalaria

Presson, Jefry

Saintek Lahan Kering Vol 1 No 2 (2018): JSLK Desember 2018
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Timor

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1112.886 KB)

Abstract

Malaria masih merupakan masalah kesehatan yang sangat membutuhkan penanganan baru karena perkembangan resistensi Plasmodium falciparum. Parasit yang bertanggung jawab terhadap penyakit malaria ini terus berkembang dengan menigkatnya prevalensi. Berdasarkan World Malarial Report tahun 2015 oleh WHO, terdapat 214 juta kasus penyakit malaria dan 438.000 diantaranya meninggal dunia. Penghentian penggunaan artemisinin karena resistensi di Asia Tenggara juga merupakan masalah yang urgen. Hal ini mengindikasikan bahwa pencarian senyawa obat antimalaria yang baru merupakan suatu kebutuhan di saat ini. Eksplorasi senyawa bahan alam terestrial terkait aktivitas antimalaria dalam beberapa dekade sudah banyak dilakukan dan dipublikasikan. Ulasan ini menyajikan berbagai data penelitian terbaru dan kemajuan perkembangan dalam penemuan senyawa obat dari sumber bahan alam terestrial. Senyawa antimalaria dapat ditemukan dari sumber alam bukan laut (terrestrial), seperti senyawa antimalaria dari berbagai golongan senyawa seperti alkaloid, terpena, kuasinoid, flavonoid, limonoid, kalkon, peptida, xanton, kuinon dan kumarin. Alkaloid merupakan kelas senyawa bahan alam yang terkenal sejak zaman dahulu. Alkaloid memiliki situs basa nitrogen aktif yang berasal dari prekursor biogenetik. flavonoid dapat menghambat PfENR secara reversibel dengan EGCG (35) yang menunjukkan aktivitas terbaik (Ki = 79 ± 2,67 nM), Dua kuasinoid yang memiliki aktivitas antimalaria adalah ailanthone (36, IC50 = 0,003 µg/mL) dan 6α-tigloyloxychaparrinone (37, IC50 = 0,061 µg/mL).

Etnobotani Tumbuhan Upacara Adat Etnis Ngadha di Kecamatan Jerebu’u Kabupaten Ngada, Propinsi Nusa Tenggara Timur

Sada, Mariana, Jumari, Jumari

Saintek Lahan Kering Vol 1 No 2 (2018): JSLK Desember 2018
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Timor

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (514.45 KB)

Abstract

Etnis Ngadha merupakan salah satu kelompok masyarakat tradisional terbesar di Kabupaten Ngada. Kehidupan masyarakatnya ditengah arus globalisasi dan modernitas masih tetap berpegang teguh pada adat-istiadat warisan leluhur, salah satunya adalah upacara adat yang menjadi ciri khas komunitasnya. Penelitian ini telah dilakukan pada bulan Februari – Mei 2016 di desa Tiwuriwu, Watumanu dan Dariwali Kecamatan Jerebu’u, Kabupaten Ngada. Penelitian ini bertujuan untuk mengiventarisasi jenis-jenis tumbuhan dan makna tumbuhan dalam pelaksanaan upacara adat serta upaya pelestarian yang dilakukan oleh masyarakat. Metode pengumpulan data dilakukan secara eksploratif, observasi partisipatif dan wawancara. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh 60 jenis tumbuhan yang tergolong dalam 26 famili yang digunakan dalam upacara adat. Famili yang paling banyak digunakan adalah Poaceae 15 jenis, Fabaceae 8 jenis, Arecaceae 6 jenis, Musaceae dan Solanaceae masing-masing 3 jenis, sedangkan famili lainnya antara 1 sampai dengan 2 jenis. Masing-masing jenis memiliki makna spesifik dalam setiap upacara adat sesuai dengan maksud dan tujuan upacara tersebut. Bentuk kegiatan konservasi yang dilakukan masyarakat adalah membudidayakan tumbuhan tersebut di sekitar pekarangan rumah, kebun atau ladang milik mereka.

Eksplorasi Tumbuhan Obat Tradisional Desa Blata Tatin Kecamatan Kangae Kabupaten Sikka

Lanur, Helena, Mago, Oktavius Yoseph Tuta

Saintek Lahan Kering Vol 1 No 2 (2018): JSLK Desember 2018
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Timor

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (468.424 KB)

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh banyaknya penggunaan obat sintetis dalam mengobati berbagai macam penyakit, semakin minim penggunaan obat tradisional dan kurangnya data tentang tumbuhan obat tradisional. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi tumbuhan obat yang dimanfaatkan di Desa Blata Tatin, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka. Sampel tumbuhan obat dikumpulkan dengan teknik survei eksploratif setelah memperoleh informasi dengan mewawancarai informan kunci dan responden di desa tersebut. Data informasi tumbuhan obat disajikan dalam bentuk tabulasi dan deskripsikan secara lengkap. Hasil penelitian menemukan 13 jenis tumbuhan obat yang digunakan di Desa Blata Tatin yaitu sambiloto (Andrographis paniculata), pisang (Musa sp.), waru (Hibiscustiliaceus L.), ubi jalar (Ipomoeabatatas), kemiri (Aleuritesmoluccana L.), kunyit (Curcumadomestica Val.), kencur (Kaempferiagalanga L.), jahe (Zingiberofficinale Rosc.), kelapa (Cocosnucifera), daun kentut (Paederiascandens Merr.), pegagan (Centellaasiatica L.), daun sirih (Piperbetle L.) dan bayam (Amaranthusspinosus L.).

Peningkatan Pertumbuhan dan Sintasan Hidup Ikan Bawal (Colossoma macropumum) dengan Penambahan Ragi Roti dalam Pakan

Manurung, Usy N., Mose, Numisye I.

Saintek Lahan Kering Vol 1 No 2 (2018): JSLK Desember 2018
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Timor

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (589.193 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian ragi roti terhadap pertumbuhan ikan bawal (Colossoma macropomum). Ikan bawal yang digunakan berukuran 5-8 cm dengan berat awal 11,35 gr. Rancangan penelitian berupa rancangan acak lengkap dengan empat perlakuan yaitu, A (0 gr ragi roti/ kg pakan), perlakuan B (5 gr ragi roti/kg pakan), perlakuan C (10 gr ragi roti/kg pakan), perlakuan D (15 gr ragi roti/kg pakan). Perlakuan E (20 gr ragi roti/kg pakan). Frekuensi pemberian pakan dua kali sehari dengan jumlah pakan berdasarkan 5%bb. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan ragi roti berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan sintasan hidup ikan bawal. Semakin tinggi dosis ragi roti dalam pakan, semakin tinggi pertumbuhan ikan bawal.

Review: Karakterisasi dan Modifikasi Membran Poliamida untuk Aplikasi Pemisahan Zat Warna

Kedang, Yohana Ivana

Saintek Lahan Kering Vol 1 No 2 (2018): JSLK Desember 2018
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Timor

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (667.237 KB)

Abstract

Membran nanofiltrasiterjadi akibat proses perbedaan tekanan untuk memisahkan solut berukuran lebih besar dari larutan. Membran inidigunakan pada proses pemurnian air, seperti pelunakan air, penghilangan zat warna, dan penghilangan mikropolutan. Membran memiliki beberapa kriteria yang penting untuk menentukan kinerja membran sebagai filtrasi yakni parameter fluks (permeabilitas), rejeksi (permselektivitas), ketebalan, morfologi dan sifat mekanik membran. Artikel ini diharapkan dapat memberikan ide dan rekomendasi mengenai karakterisasi membran serta pembuatan membran nanofiltrasi menggunakan modifikasi membran poliamida.

Hidrolisis Ampas Biji Sorgum dengan Microwave untuk Produksi Gula Pereduksi sebagai Bahan Baku Bioetanol

Kolo, Sefrinus M. D., Edi, Eduardus

Saintek Lahan Kering Vol 1 No 2 (2018): JSLK Desember 2018
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Timor

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (498.235 KB)

Abstract

Sorgum merupakan tanaman serealia yang dapat tumbuh pada berbagai keadaan lingkungan sehingga potensial dikembangkan, khususnya pada lahan marginal beriklim kering di Indonesia. Sorgum manis mempunyai potensi yang besar digunakan sebagai bahan baku etanol selain tebu. Budidaya sorgum manis mengalami pergeseran dari bahan baku pangan dan pakan menjadi bahan baku industri, baik skala kecil maupun skala besar. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan kadar gula pereduksi sebagai bahan baku bioethanol melalui hidrolisis menggunakan microwave. Sebanyak 10 gram serbuk sorgum disuspensi dengan larutan H2SO4 encer 0,1 N, 0,3 N dan 0,5 N sebanyak 250 mL lalu dipanaskan menggunakan iradiasi microwave pada temperatur 200 oC selama 20 dan 40 menit. Fraksi cair hasil hidrolisis dianalisis kandungan gula pereduksi dengan metode DNS menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa kondisi optimum hidrolisis menggunakan microwave dicapai pada konsentrasi H2SO4 0,5 N temperatur 200 oC dan waktu hidrolisis 40 menit. Kadar gula pereduksi sebesar 42,71 mg/L. Kadar gula naik sebesar 19,95% dibanding waktu hidrolisis 20 menit.

Komposisi dan Keanekaragaman Jenis Pohon Di Hutan Lindung Lapeom Kabupaten Timor Tengah Utara

Naisumu, Yolanda Getrudis

Saintek Lahan Kering Vol 1 No 1 (2018): JSLK Juni 2018
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Timor

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (567.232 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan komposisi dan keanekaragaman jenis pohon di Hutan Lindung Lapeom. Penelitian dilaksanakan pada bulan November sampai Desember 2009 menggunakan metode kuadrat dengan menempatkan plot disepanjang garis transek. Jumlah transek 5 buah, panjang transek 200 m, di setiap transek diletakkan 5 plot pengamatan dengan ukuran 20 m x 20 m. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan 22 jenis pohon dari 17 famili. Famili dengan jumlah spesies terbanyak adalah famili Caesalpinaceae sebanyak 4 spesies yakni Casia fistula, L, Delonix regia, Rafin, Cassia simea, Lamk, dan Tamarindus indica, L. Jenis dengan jumlah individu terbanyak adalah Mangifera indica, L dari famili Anacardiaceae sebanyak 20 individu. Spesies dengan indeks nilai penting tertinggi adalah Mangifera indica (43,7%), sedangkan jenis yang memiliki indeks nilai penting terendah adalah Zizipus jujuba (1.8%,) dan Jatropa Sp (1.9%). Indeks Keanekaragaman jenis pohon di hutan lindung lapeom termasuk kategori sedang dengan nilai 2.7 hal ini menunjukkan bahwa wilayah hutan lindung lapeom merupakan wilayah yang memiliki tingkat produktivitas pohon yang cukup, kondisi ekosistem yang cukup seimbang dan memiliki tekanan ekologis yang sedang. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan komposisi jenis hutan laepom sebanyak 22 jenis pohon dalam 17 famili, Jenis yang paling banyak jumlah individunya adalah Mangifera indica, L dari famili Anacardiaceae Spesies yang memiliki indeks nilai penting tertinggi adalah Mangifera indica (43, 7%) dan jenis yang memiliki indeks nilai penting terendah adalah Zizipus jujuba (1.8%), Indeks Keanekaragaman jenis pohon di hutan lindung lapeom termasuk kategori sedang.

Analisis Struktur Anatomi Batang Anyelir (Dianthus caryophyllus L.) dan Kontribusinya Terhadap Sistematik Ordo Caryophyllales

Bria, Emilia Juliyanti

Saintek Lahan Kering Vol 1 No 1 (2018): JSLK Juni 2018
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Timor

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (376.084 KB)

Abstract

Ordo Caryophyllales dikenal sebagai takson yang memiliki pertumbuhan sekunder anomaly. Anatomi batang Anyelir (Dianthus caryophyllus L.) dianalisis untuk mendapatkan data yang valid pada hubungan kekerabatan dengan anggota family yang lain. Struktur primer batangnya terdiri dari epidermis yang tersusun dari selapis sel; korteks dan empulur tersusun dari sel-sel parenkim dan memiliki ruang antarsel; dan jaringan pembuluh primer yang tersusun membentuk jari – jari terdiri atas beberapa trachea xilem, dimana xilem terletak di bagian dalam dan floem di bagian luar. Selanjutnya, pada pertumbuhan sekunder, batangnya memiliki struktur yang normal dengan aktivitas kambium yang tidak normal. Hal ini termasuk dalam ciri tumbuhan yang memiliki pertumbuhan sekunder anomali. Hasil penelitian ini dapat dijadikan karakter pembatas untuk memperkuat hubungan kekerabatan antar takson khususnya pada kategori yang lebih tinggi.

Perubahan Kadar Vitamin Dan Mineral Pada Fermentasi Tempe Gude (Cajanus cajan L.)

Sine, Yuni, Soetarto, Endang S

Saintek Lahan Kering Vol 1 No 1 (2018): JSLK Juni 2018
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Timor

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (316.058 KB)

Abstract

Tempe merupakan makanan tradisional Indonesia yang kaya akan vitamin dan mineral mudah dicerna oleh tubuh. Bahan yang lazimnya digunakan sebagai substrat fermentasi tempe adalah kacang kedelai (Glicyne max), akan tetapi tidak semua daerah di Indonesia dapat ditumbuhi oleh  kacang kedelai, oleh karena itu dibutuhkan substrat alternative untuk fermentasi tempe. Kacang gude (Cajanus cajan L.)  dapat dijadikan sebagai substrat alternatif fermentasi tempe, hal ini dikarenakan kacang gude mempunyai kandungan gizi yang cukup baik dan memiliki kandungan vitamin dan mineral yang dibutuhkan oleh tubuh. Namun demikian sebagian mineral tersebut terikat dengan senyawa asam fitat yang merupakan tripsin inhibitor, sehingga proses pengolahan seperti fermentasi merupakan salah satu cara untuk menguraikan senyawa asam fitat. Pada penelitian ini telah dilakukan pengujian berupa penentuan kadar abu, nitrogen, vitamin dan mineral dengan metode standar, dilakukan sebelum dan setelah fermentasi. Kadar abu mengalami penurunan setelah fermentasi, kadar nitrogen, kadar besi, kadar kalsium dan kadar fosfor juga mengalami penurunan, sedangkan vitamin B12 mengalami peningkatan meskipun tidak signifikan.

Analisis Kestabilan Titik Tetap Model Matematika Penyebaran Penyakit DBD Tipe SEIR

Bano, Elinora Naikteas

Saintek Lahan Kering Vol 1 No 1 (2018): JSLK Juni 2018
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Timor

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (453.697 KB)

Abstract

Dengue adalah salah satu penyakit infeksi yang ditularkan ke manusia oleh gigitan nyamuk Aedes aegypti atau Aedes albopictus. Infeksi virus dengue berupa demam dengue, demam berdarah dengue dan Dengue Shock Syndrome (DSS). Virus dengue mempunyai empat jenis serotipe yaitu: DEN_1, DEN_2, DEN_3, DEN_4. Pada model, akan dipelajari dinamika penyebaran penyakit demam berdarah dengue tipe SEIR. Dari model kemudian akan ditentukan titik tetap, selanjutnya dianalisis kestabilan dari masing-masing titik tetap dengan mempertimbangkan bilangan reproduksi dasar (R_0 ).Hasil penelitian menunjukkan bahwauntuk titik tetap tanpa penyakit kondisi akan stabil ketika R_0<1, sedangkan titik tetap endemik akan stabil untuk kondisi ketika R_0>1.