cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
BULETIN OSEANOGRAFI MARINA
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 20893507     EISSN : 25500015     DOI : -
Core Subject : Science,
Buletin Oseanografi Marina (BULOMA) adalah jurnal yang menginformasikan hasil penelitian dan telaah pustaka tentang aspek Oseanografi, Ilmu Kelautan, Biologi Laut, Geologi Laut, Dinamika Laut dan Samudera, Estuari, Kajian Enerji Alternatif, Mitigasi Bencana, Sumberdaya Alam Pesisir, Laut dan Samudera.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 8, No 2 (2019): Buletin Oseanografi Marina" : 10 Documents clear
Potensi Penyimpanan Karbon pada Lamun Spesies Enhalus acoroides dan Cymodocea serrulata Di Perairan Jepara Harimbi, Ken Asti; Taufiq-Spj, Nur; Riniatsih, Ita
Buletin Oseanografi Marina Vol 8, No 2 (2019): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.258 KB) | DOI: 10.14710/buloma.v8i2.23657

Abstract

Pemanasan global telah menjadi perhatian dunia. Riset karbon dilakukan dalam upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Ekosistem pesisir memiliki fungsi penyerap karbon di lautan (carbon sink) yang dikenal dengan istilah blue carbon. Karbon bebas yang diserap kemudian tersimpan pada sedimen dan organ pada lamun dalam bentuk biomassa. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung estimasi stok karbon pada lamun jenis Enhalus acoroides dan Cymodocea serrulata di Teluk Awur, Jepara Jawa Tengah pada Desember 2018. Sampling survey method digunakan dalam penelitian ini. Untuk mendapatkan nilai kerapatan lamun, penentuan titik sampling lamun dengan metode purposive sampling. Analisis kandungan karbon dengan metode pengabuan, sampel lamun dicuplik 3 individu pada jenis Enhalus acoroides dan 6 individu pada jenis Cymodocea serrulatadari 27 titik sampling. Penghitungan total stok karbon dilakukan dengan konversi data biomassa hasil perhitungan kerapatan lamun menjadi kandungan karbon. Hasil analisis menunjukkan estimasi stok karbon jenis lamun Enhalus acoroides (1,07 ton/ha) lebih tinggi daripada Cymodocea serrulata (0,64 ton/ha). Hal ini dapat disimpulkan bahwa ekosistem lamun berperan sebagai carbon sink. Untuk selanjutnya diharapkan adanya pengelolaan ekosistem pesisir dan laut secara terpadu untuk mempertahankan keberadaan lamun agar kontribusi terhadap ekosistem di sekitarnya semakin stabil. Global warming has been the world's concern. This research was conducted in concern to adapt and mitigate the climate change. Coastal ecosystem has a carbon sink function in the ocean known as a blue carbon. The absorbed carbon is stored on the sediment and organ of the seagrass in the form of biomass. This research aims to estimate carbon stocks on Enhalus acoroides and Cymodocea serrulata in Teluk Awur coastal waters, Jepara of Central Java which was conducted on December 2018. Sampling survey method was used in this study. In order to find the density value of the seagrass in the field area, purposive sampling method was used to determine the sampling points. Dry-ashing method was used for analysing carbon content of the seagrass by using 3 individuals of Enhalus acoroides and 6 individuals sample of Cymodocea serrulata from 27 sampling points. The total calculation of carbon stocks is conducted by converting biomass data into carbon content. The results shows that estimation of the carbon stock of seagrass Enhalus acoroides (1.07 tons/ha) was higher than Cymodocea serrulata (0.64 tons/ha). This can be conclude that the seagrass ecosystem serves as a carbon sink, hence, it is expected that integrated coastal and marine ecosystems management can be maintained the seagrass existence in order to contributed to the surrounding ecosystem. 
Tingkat Herbivori Daun Mangrove Rhizophora stylosa dan Avicennia marina Di Desa Pasar Banggi, Rembang, Jawa Tengah Fadilla, Winda Ariesta Nur; Soenardjo, Nirwani; Setyati, Wilis Ari
Buletin Oseanografi Marina Vol 8, No 2 (2019): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (431.734 KB) | DOI: 10.14710/buloma.v0i0.24965

Abstract

Hutan mangrove memiliki fungsi ekologi sebagai daerah pemijahan, daerah asuhan dan daerah mencari makan. Fauna yang tinggal di hutan mangrove akan menciptakan simbiosis antara flora dan fauna mangrove, misalnya aktivitas herbivori daun. Herbivori daun mangrove dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti spesies tanaman, tinggi tanaman dan umur daun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat herbivori daun mangrove Rhizophora stylosa dan Avicennia marina berdasarkan tinggi tanaman dan umur daun pada ekosistem mangrove di Desa Pasar Banggi, Rembang, Jawa Tengah. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Metode pengambilan data yang digunakan adalah metode survei dan penentuan lokasi penelitian menggunakan metode purposive. Sampel daun diambil dari 2 spesies mangrove dominan pada ekosistem Desa Pasar Banggi yaitu Rhizophora stylosa dan Avicennia marina. Daun diambil dari 3 kategori tinggi tanaman yaitu <1 m, 1-< 3 m dan 3?5 m, masing-masing diambil 10 pohon sebagai ulangan. Daun diambil sebanyak 10 %, dipisahkan berdasarkan umur daun (muda dan tua) dan kondisi daun (utuh dan rusak). Sampel daun diolah menggunakan software ImageJ dan Measure Picture. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata tingkat herbivori tertinggi pada daun muda Rhizophora stylosa pada tanaman dengan tinggi 3?5 m dan tertinggi pada daun tua Rhizophora stylosa pada tanaman dengan tinggi 1?< 3 m, sedangkan  rata-rata tingkat herbivori tertinggi pada daun muda Avicennia marina pada tanaman dengan tinggi 1?< 3 m dan tertinggi pada daun tua Avicennia marina pada tanaman dengan tinggi 1?< 3 m. Mangrove forests have ecological functions a spawning ground, nursery ground and feeding ground. Fauna living in mangrove forests will create a symbiosis between mangrove flora and fauna, for example herbivory leaf activity. Herbivory of mangrove leaves is influenced by several factors such as plant species, plant height and leaf age. This study aims to determine the herbivory level of mangrove Rhizophora stylosa and Avicennia marina leaves based on plant height and leaf age in the mangrove ecosystem in Pasar Banggi Village, Rembang, Central Java. The research method used in this study was descriptive. The data collection method used in this study is the survey method and the determination of the location of the study using a purposive method. Leaf samples were taken from 2 dominant mangrove species in the Pasar Banggi Village ecosystem, Rhizophora stylosa and Avicennia marina. The leaves are taken from 3 plant height categories, namely <1 m, 1-<3 m and 3-5 m, each of which is taken as 10 replicates. The leaves are taken as much as 10%, then separated according to the age of the leaves (young or old) and the condition of the leaves (whole or damaged). Leaf samples were processed using ImageJ and Measure Picture software. The results showed the highest average herbivory level in young leaves of Rhizophora stylosa at plant height 3-5 m (10.11%) and highest on old leaves of Rhizophora stylosa at plant height 1-<3 m (10.67%), while the highest average herbivory level in Avicennia marina young leaves at plant height 1-<3 m (12.54%) and the highest on the old leaves of Avicennia marina at plant height 1-<3 m (11.73%).
Analisis Kelimpahan Mikroalga Epifit Pada Lamun Enhalus acoroides Di Perairan Pulau Karimunjawa, Jepara Devayani, Cantik Sitta; Hartati, Retno; Taufiq-Spj, Nur; Endrawati, Hadi; Suryono, Suryono
Buletin Oseanografi Marina Vol 8, No 2 (2019): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1147.447 KB) | DOI: 10.14710/buloma.v8i2.23739

Abstract

Padang lamun berfungsi sebagai daerah asuhan, pemijahan, tempat mencari makan dan habitat bagi biota laut, diantaranya: ikan, meiofauna, maupun mikroalga epifit. Mikroalga epifit dapat digunakan sebagai salah satu unsur indikator dalam ekosistem perairan terkait dengan kesuburan dan pencemaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi dan kelimpahan mikroalga epifit pada daun lamun Enhalus acoroides yang  dilakukan pada Oktober 2018 dengan metode diskriptif. Penentuan stasiun penelitian menggunakan metode purposive random sampling dengan tiga stasiun yaitu di perairan Pantai Nyamplungan (Stasiun 1), Pantai Bobi (Stasiun 2) dan Pelabuhan Syahbandar (Stasiun 3). Sampel daun lamun E. acoroides dipotong menjadi tiga bagian, yaitu ujung (UA dan UB), tengah (TA dan TB) dan pangkal (PA dan PB) daun. Untuk mendapatkan sampel mikroalga epifit dilakukan dengan metode pengerikan. Hasil penelitian  di semua  stasiun ditemukan tiga kelas yakni Bacillariophyceae, Dinophyceae dan Cyanophyceae. Genus yang paling banyak ditemukan adalah Navicula, Rhizosolenia, Oscillatoria, Gonyaulax dan Prorocentrum. Kelimpahan total mikroalga epifit tertinggi terdapat pada Stasiun 3 (11.234 sel/cm2) dan terendah pada Stasiun 2 (6.717 sel/cm2). Kelimpahan mikroalga epifit pada ujung daun bagian permukaan atas (UA) menghasilkan jumlah tertinggi yakni 5.682 sel/cm² dan bagian yang terendah terdapat pada posisi tengah daun bagian permukaan bawah (TB) sebanyak 3.292 sel/cm². Posisi menempel pada bagian lamun berpengaruh terhadap kelimpahan mikro alga epifit. Seagrass bed has a function as  nursery, spawning, and feeding ground, as well as a habitat for marine biota such as fish, meiofauna, and epiphytic microalgae. Epiphytic microalgae can be used as one of the indicators in aquatic ecosystems related to productivity and pollution. The aims of this study were to know the composition and abundance of epiphytic microalgae on Enhalus acoroides leaves. This research was done on October 2018 by using descriptive method. The sample was taken from three stations, ie.  Nyamplungan (Station 1), Bobi Beach (Station 2) and Syahbandar Port (Station 3). The seagrass samples of  Enhalus acoroides leaves were cut into three parts i.e. tip (UA & UB), middle (TA & TB)  and base (PA & PB) part of the leaves to obtain the samples of epiphytic microalgae by using scratching method. The results of the study found three classes, i.e.  Bacillariophyceae, Dinophyceae and Cyanophyceae. The genus most commonly found were Navicula, Rhizosolenia, Oscillatoria, Gonyaulax and Prorocentrum. The highest total abundance of epiphytic microalgae was at Station 3 (11.234 sel/cm2) and the lowest at Station 2 (6.717 sel/cm2). The abundance of  epiphytic microalgae based on different part of seagrass leaves showed that the upper surface of the leaf tip (UA) has highest abundance (5.682 cell/cm²) and the bottom surface of the middle leaf (TB) has the lowest abundance (3.292 cell/cm²). The posisiton of attachment affect on the abundance of epiphyte microalgae.
Pemanfaatan Data Angin Untuk Karakteristik Gelombang Laut Di Perairan Natuna Berdasarkan Data Angin tahun 2009 - 2018 Afriady, Ary; Alam, Tasdik Mustika; Azis Ismail, Mochamad Furqon Mustika
Buletin Oseanografi Marina Vol 8, No 2 (2019): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (701.312 KB) | DOI: 10.14710/buloma.v8i1.25304

Abstract

Analisis data angin dilakukan untuk meramalkan dan menentukan karakteristik gelombang laut di perairan Pulau Natuna. Data angin yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari National Centers for Environmental Prediction (NCEP) selama 10 tahun dari tahun 2009 sampai dengan tahun 2018. Metoda yang digunakan untuk estimasi tinggi, periode dan arah gelombang laut yang dibangkitkan oleh angin adalah metode Svedrup, Munk dan Bretschneider (SMB). Hasil perhitungan peramalan karakteristik gelombang diperoleh bahwa pembentukan gelombang didominasi oleh arah yang berasal dari timur laut dan terjadi pada musim barat dan musim peralihan 1. Adapun pada musim timur dan peralihan, arah dominan gelombang masing-masing berasal dari selatan dan barat daya. Tinggi gelombang maksimum 1,0-1,4 m sering terjadi pada musim musim timur, adapun tinggi gelombang minimum 0,2-0,6 m dominan terjadi pada musim musim peralihan. Periode gelombang dominan ditemukan pada kisaran 7-9 detik yang terjadi pada tiap musim.  The analysis of wind data has been done to forecast and determine the characteristic of the ocean wave in Natuna Island waters. The wind data in this study came from the National Centers for Environmental Prediction (NCEP) for a period of 10 years from 2009 to 2018. The method to estimate wave height, wave period, and wave direction generated by wind is Sverdrup, Munk dan Bretschneider (SMB) system. The results of wave forecasting analysis show that the formation of the wave is mainly originated from the northeast which occurs during the west and first transition season. As for the east and second transition season, the origin of wave formation coming from the south and southwest, respectively. The maximum wave height of 1.0-1.4 m frequently occurs during the east monsoon, while the minimum wave height. The dominant wave period is found in the range of 7-9 seconds, which occurs in every season. 
Perbedaan Metode Mutilasi Terhadap Lama Waktu Molting Scylla serrata Ario, Raden; Djunaedi, Ali; Pratikto, Ibnu; Subardjo, Petrus; Farida, Fauzia
Buletin Oseanografi Marina Vol 8, No 2 (2019): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (277.558 KB) | DOI: 10.14710/buloma.v8i2.24886

Abstract

Kepiting bakau (Scylla serrata) memiliki nilai ekonomis tinggi. Kebutuhan kepiting bakau selalu meningkat sehingga perlu diupayakan budidaya kepiting bakau secara intensif. Salah satu perkembangan teknologi dalam budidaya perikanan untuk meningkatkan produksi kepiting bakau adalah produksi kepiting cangkang lunak. Kepiting cangkang lunak merupakan kepiting fase ganti kulit (molting) yang mempunyai keunggulan cangkangnya lunak sehingga dapat dikonsumsi secara utuh. Untuk mempercepat kepiting molting diperlukan berbagai rangsangan yang salah satunya adalah menggunakan metode mutilasi. Tujuan penelitian untuk mengetahui perbedaan lama waktu molting dan pertumbuhan berat kepiting bakau dengan menggunakan metode mutilasi pada kaki jalan dan capit. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode eksperimental dengan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari empat perlakuan, yaitu mutilasi kaki jalan dan capit, semua kaki jalan, capit, dan alami. Biota yang digunakan berjumlah 40 ekor dengan 10 kali ulangan tiap perlakuan. Data yang diperoleh berupa lama waktu molting serta pertambahan berat mutlak kepiting bakau yang dianalisis menggunakan uji statistik parametrik. Hasil penelitian menunjukkan metode mutilasi berpengaruh terhadap lama waktu molting dengan waktu molting tercepat pada perlakuan mutilasi kaki jalan dan capit rata-rata 13 hari. Metode mutilasi tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan berat mutlak dengan nilai tertinggi pada kepiting perlakuan alami sebesar 53,30 gram. Mud crabs (Scylla serrata) are known to have a high economic value. The increasing demand of mud crabs for consumption rxcequires higher production. Therefore, mud crabs need to be cultivated intensively. One of the methods to improve the values of mud crabs? aquaculture is by producing soft-shell crabs. Soft-shell crabs are produced during molting phase in which the crab shed it?s exoskeleton in order to grow. In the fisheries industry, the soft-shell crabs are considered to be more valuable as it can be consumed as a whole. Accelerating the production of molting crabs, requires stimulus. One of the methods is mutilation. The aim of this study is to estimate the periods required for molting under different treatments, as well as calculating the increase of total weight of molting crabs.. The method used was an experimental method which contained four treatments. The treatments are mutilation of walking legs and claws, all of walking legs, claws, and no mutilation. The number of crabs used was 40 with 10 replications per treatment. The data obtained in the period of molting and the increase of total weight of the mud crabs were analyzed using ANOVA. The result shows that mutilation affects the period of crab?s molting in which the fastest molting (13 days on average) occurred after mutilation of walking legs and claws. This mutilation method does not influence the increase of total weight and the highest value is showed in non-treated group with the increase of 53,30 grams in weight. 
Hubungan Logam Berat Pb terhadap Fraksi Sedimen dan Bahan Organik di Muara Sungai Tiram, Marunda, Jakarta Utara Fitroh, Indah Syahiddah; Subardjo, Petrus; Maslukah, Lilik
Buletin Oseanografi Marina Vol 8, No 2 (2019): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (417.266 KB) | DOI: 10.14710/buloma.v8i1.25209

Abstract

Kegiatan industri di Perairan Muara Sungai Tiram, Marunda, Jakarta Utara, akan berdampak terhadap konsentrasi logam berat di Perairan. Sedimen merupakan tempat akumulasinya logam tersebut dan pada suatu saat akan dapat menjadi sumber bagi kolom perairan diatasnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui konsentrasi logam berat pada sedimen dasar dan mengetahui korelasinya terhadap ukuran butir serta dan bahan organik. Analisa logam berat diawali dengan proses destruksi menggunakan aquaregia dan supernatannya di baca nilai absorbasninya menggunakan Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS). Untuk melihat hubungan parameter logam berat terhadap ukuran butir dan bahan organik, menngunakan analisis korelasi Pearson. Berdasarkan penelitian tersebut diperoleh nilai konsentrasi logam berat dengan kisaran 20,19?55,68 ppm. Konsentrasi logam berat memiliki korelasi positif terhadap fraksi silt dan clay.  Distribusi logam berat di lokasi penelitian berasosiasi kuat terhadap fraksi ukuran butir halus dan bahan organik, melalui proses adsorpsi. The waters of the Muara Sungai Tiram, Marunda, North Jakarta, are areas that are surrounded by very dense industrial activities. The existence of these activities has an impact on the concentration of heavy metals in basic sediments in these waters. The purpose of this study was to determine the concentration of heavy metals in basic sediments and determine the correlation between the concentration of heavy metals with grain size on the base sediment in the liquid and the correlation between the concentration of heavy metals with organic matter. Analysis of heavy metal concentrations was carried out using the acid destruction method, then the concentration was read using the Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS), and processed into a heavy metal concentration map using Arcgis 10.3. Based on these studies the value of heavy metal concentrations obtained in the range of 20.19 - 55.681 ppm. Heavy metal concentrations have a positive correlation with the mud and organic matter fractions with r values of 0.68 and 0.10, respectively. The distribution of heavy metals in this study is strongly associated with the fine grain size fraction and organic matter, through the adsorption process
Teknologi Pengukuran Online Pasang Surut Dengan Sensor Ultrasonik dan Berbasis Realtime Web Fatoni, Khoirol Imam; Puliwarna, Tunggul; Manurung, Parluhutan
Buletin Oseanografi Marina Vol 8, No 2 (2019): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (539.611 KB) | DOI: 10.14710/buloma.v8i2.25349

Abstract

Pengembangan teknologi sensor ultrasonik yang relatif terjangkau dan berkualitas untuk pemantauan dinamika muka air laut di perairan Indonesia dapat dikatakan masih relatif minim di Indonesia. Sementara kebutuhan studi untuk kepentingan riset hidrografi, oseanografi, kegiatan pelayaran, riset datum vertikal, dan pemantauan bencana seperti banjir dan bencana tsunami, sangat penting dikembangkan. Di era 4.0 saat ini, perkembangan teknologi komunikasi data digital GPRS sudah hampir  mencakup seluruh pelosok negeri, ditambah banyaknya komponen elektronik dan sensor yang dapat diintegrasikan sesuai dengan kebutuhan, maka lebih mudah menerapkan konsep pengukuran dengan sistem online yang mempunyai kemampuan realtime monitoring terkoneksi dengan jaringan internet. Hasil penelitian menunjukkan teknologi sistem pengukuran realtime yang terdiri atas 5 komponen yang terintegrasi yaitu; 1) Sensor pemantau tinggi permukaan air presisi, 2) Data Logger dengan microcontroller yang mengatur sensor, modem GPRS/GSM, power system, memory card, dan GPS Timing, 3) Cloud data server, dan 4) Aplikasi online monitoring. Pengukuran dengan sistem online ini sudah diinstalasi Pushidrosal untuk kepentingan pengukuran pasang surut periode panjang di beberapa lokasi strategis, serta seluruh stasiun menghasilkan data sekitar 98% per tahun. Peralatan pengukuran yang dihasilkan, mudah dioperasikan, mudah dimobilisasi, kandungan material lokal, serta data yang diperoleh mempunyai ketelitian pengamatan < 1% dengan ketinggian terkontrol GPS serta interval pengukuran hingga 1 menit. The development of ultrasonic sensor technology that is relatively affordable and of high quality for monitoring sea level dynamics in Indonesian waters can be said to be still relatively minimal in Indonesia. While the need for studies for research purposes is required to serve various applications as such as hydrographic research, oceanography, shipping activities, vertical datum research, and monitoring disasters such as floods and tsunami disasters, are very important to be developed. In the 4.0 era, the development of GPRS digital data communication technology has almost covered all corners of the country, plus many electronic components and sensors that can be integrated according to needs, it is easier to apply the concept of measurement with online systems that have realtime monitoring capabilities connected to the internet network. The results showed the realtime measurement system technology consisting of 5 integrated components namely; 1) Sensor for precision water level monitoring, 2) Data Logger with a microcontroller that controls sensors, GPRS / GSM modem, power system, memory card, and GPS Timing, 3) Cloud data server, and 4) Online monitoring application. Measurement with this online system has been installed by Indonesian Naval Hydrographic and Oceanographic Center for measuring long-term tides in several strategic locations, and all stations produce about 98% of data per year. Measuring equipment easy to operate, easy to mobilize, local material content, as well as data obtained has observation accuracy <1% with GPS controlled altitude, and data interval until 1 minutes.
Keanekaragaman Perifiton pada Daun Lamun Enhalus acoroides dan Cymodocea serrulata di Pulau Parang, Karimunjawa Ario, Raden; Riniatsih, Ita; Pratikto, Ibnu; Sundari, Pratiwi Megah
Buletin Oseanografi Marina Vol 8, No 2 (2019): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (496.052 KB) | DOI: 10.14710/buloma.v8i2.23274

Abstract

Keanekaragaman jenis lamun dan struktur morfologi yang cukup besar pada Enhalus acoroides dan Cymodocea serrulata memungkinkan ditumbuhi perifiton dimana dapat meningkatkan produktivitas primer. Penelitian bertujuan untuk mengetahui kelimpahan perifiton dan pola distribusinya serta hubungan kerapatan lamun terhadap kelimpahan perifiton di PulauParang, Karimunjawa. Penelitian yang dilaksanakan pada bulan Oktober 2018 menggunakan metode survei dan penentuan lokasi dipilih dengan menggunakan metode purposive sampling, sedangkan metode pengambilan data lamun melalui metode line transect quadrant yang mengacu pada metode seagrass watch. Pengambilan daun lamun untuk pengamatan perifiton menggunakan metode sapuan daun yang selanjutnya diamati dengan menggunakan metode sensus yaitu pengamatan total dengan alat sedgwick rafter counting chamber di bawah mikroskop. Nilai kelimpahan perifiton pada daun lamun Enhalus acoroides di Stasiun 1, Stasiun 2, dan Stasiun 3 berturut?turut sebesar 2654 sel/cm2, 2831 sel/cm2, 1435 sel/cm2. Sedangkan kelimpahan perifiton pada daun lamun Cymodocea serrulata di Stasiun 1, Stasiun 2, dan Stasiun 3 berurutan sebesar 0 sel/cm2, 2376 sel/cm2, 2890 sel/cm2. Kelimpahan tertinggi perifiton terdapat pada jenis lamun Enhalus acoroides, hal ini diduga karena Enhalus acoroides mempunyai penampang daun yang lebih lebar dan umur jaringan makrofil yang lebih lama. Perifiton yang mendominasi di Pulau Parang berasal dari Kelas Bacillariophyceae, diduga karena kelas ini memiliki kemampuan melekat pada substrat yang baik. Berdasarkan perhitungan Indeks Morisita maka diketahui bahwa sebaran perifiton di Pulau Parang adalah mengelompok. Kelimpahan perifiton dengan kerapatan lamun di Pulau Parang memiliki hubungan cukup erat.   The variety of seagrass types and the morphological structure of Enhalus acoroides and Cymodocea serrulata allows periphyton to be grown. Periphyton can increase primary productivity and help the decomposition process of seagrass. This research aims to determine the periphyton abundance, periphyton distribution and seagrass density relationship towards periphyton abundance in Parang Island, Karimunjawa. This research was conducted on October 2018. The seagrass data was collected by using the line transect quadrant method refers to the seagrasswatch method. Taking seagrass leaf for periphyton observation using the leaf drainage method was then observed using the census method, which is a total observation with sedgwick rafter counting chamber. Periphyton abundance value on seagrass leaves of Enhalus acoroides at Station 1, Station 2, and Station 3 are 2654 cells/ cm2, 2831 cells/ cm2, 1435 cells/ cm2 respectively. While periphyton abundance on the seagrass leaves of Cymodocea serrulata at Station 1, Station 2, and Station 3 are 0 cell/ cm2, 2376 cells/ cm2, 2890 cells/ cm2 respectively. The highest abundance of periphyton was observed on Enhalus acoroides leaves. This is presumably because Enhalus acoroides has a wider leaf section and longer age of macrophilic system. Periphyton that dominates in Parang Island comes from Class Bacillariophyceae. This is likely because this class has the ability to attach on a good substrate. Based on the calculation of the Morisita Index, it is known that the periphyton distribution in Parang Island is clustered. Periphyton abundance showed a strong relation with the seagrass density.
Komposisi Larva Ikan Pada Tutupan Padang Lamun di Perairan Prawean Bandengan, Kabupaten Jepara Redjeki, Sri; Putri, Riska Novianti; Santoso, Adi; Sunaryo, Sunaryo; Sedjati, Sri
Buletin Oseanografi Marina Vol 8, No 2 (2019): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (630.569 KB) | DOI: 10.14710/buloma.v8i2.25639

Abstract

Larva Ikan (ichtyoplankton) merupakan tahapan awal dari daur hidup ikan dimulai dari perkembangan telur, larva dan juvenil, memiliki tingkat mortalitas tinggi dan peka terhadap perubahan lingkungan, predator, dan kesediaan makanan. Fungsi ekologis padang lamun sebagai daerah asuhan dan tempat berlindung bagi semua jenis organisme laut kecil, salah satunya larva ikan. Kerapatan atau tutupan padang lamun juga sebagai salah satu faktor pendukung melimpahnya organisme dan kekayaan di laut. Tujuan Penelitian ini untuk mengetahui kelimpahan dan distribusi larva ikan yang terdapat pada ekosistem padang lamun, serta mengetahui hubungan kelimpahan larva ikan dengan tutupan padang lamun di Perairan Prawean Bandengan, Jepara. Metode penelitian ini adalah metode deskriptif dengan penentuan lokasi sampling menggunakan  purposive sampling methode. Lokasi penelitian pada 3 stasiun dengan pembagian kerapatan lamun yang berbeda (I = Padat ; II = Sedang ; III = Jarang) dan dilakukan sebanyak 3 kali pengulangan sampling di masing-masing lokasi. Pengambilan sampel larva ikan dilakukan dengan menggunakan larva net  (P = 0,9 m ; L : 0,6m) dengan ukuran mata jaring 800 µm. Hasil penelitian ini ditemukan larva ikan sebanyak 5 famili yaitu Nemipteridae, Gerreidae, Gobiidae, Labridae, dan Mullidae. Famili larva ikan yang paling sering ditemukan adalah Nemipteridae. Rata-rata kelimpahan famili larva ikan pada Stasiun I sebesar 0,419 ind/m3, Stasiun II sebesar 0,205 ind/m3, dan pada stasiun III sebesar 0,069 ind/m3. Nilai rata - rata indeks keanekaragaman termasuk dalam kategori rendah sedang (0,65?1,37), indeks keseragaman larva ikan termasuk dalam kategori rendah-tinggi (0,33-0,65) indeks dominasi larva ikan menunjukan ada yang mendominasi pada tiga stasiun (0,28?0,30) dan indeks sebaran morisita yang dilakukan menunjukan bahwa sebaran larva ikan pada tiga stasiun merata. Fish larvae (ichtyoplankton) are the initial stages of the fish's life cycle starting from the development of eggs, larvae and juveniles, which have a high mortality rate and are sensitive to environmental changes, predators, and food availability. The ecological function of seagrass beds as nurseries and shelter for all types of small marine organisms, one of which is fish larvae. The density or cover of seagrass beds is also one of the supporting factors for the abundance of organisms and wealth in the sea. The purpose of this study was to determine the abundance and distribution of fish larvae found in the seagrass ecosystems, and to determine the relationship of abundance of fish larvae with cover seagrass beds in the waters of Prawean Bandengan, Jepara. This research method is a descriptive method by determining the sampling location using purposive sampling method. The research location was in 3 stations with a different distribution of seagrass density (I = Dense; II = Medium; III = Rare) and carried out 3 times repetition of sampling at each location. Sampling of fish larvae was carried out using larvae net (P = 0,9 m; L: 0,6m) with a mesh size of 800 ?m. The results of this reasearch, found fish larvae of 5 families, namely Nemipteridae, Gerreidae, Gobiidae, Labridae, and Mullidae. The most common family of fish larvae was Nemipteridae. The average abundance of fish larvae at Station I was 0,419 ind/m3, Station II was 0,205 ind/m3, and at Station III was 0,069 ind/m3. The average diversity index was included in the low category (0,65 ? 1,37), the uniformity index of fish larvae was included in the low-high category (0,33 ? 0,65) the fish larvae dominance index shows that there are dominating at three stations (0,28 ? 0,30) and the distribution index of distribution (morisita) conducted showed that the distribution of fish larvae at three stations was evenly distributed.
Efektivitas Gracilaria gigas sebagai Biofilter Logam Berat Tembaga (Cu) pada Media dengan Salinitas yang Berbeda Hidayah, Yovita Noor; Supriyantini, Endang; Suryono, Suryono
Buletin Oseanografi Marina Vol 8, No 2 (2019): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (394.975 KB) | DOI: 10.14710/buloma.v8i1.19486

Abstract

Limbah hasil kegiatan industri dan pertanian memberikan efek negatif pada ekosistem perairan laut, seperti logam berat Cu. mempunyai potensi toksisitas yang tinggi terhadap lingkungan perairan. Dinding sel Gracilaria gigas memiliki polisakarida yang mampu menyerap logam Cu. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kemampuan daya absorpsi Gracilaria gigas terhadap logam Cu dalam  media pemeliharaan dengan salinitas berbeda. . Metode yang digunakan adalah eksperimental  laboratoris, menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dan 3 pengulangan setiap perlakuan. Perlakuan menggunakan 5 tingkat salinitas  yaitu 10, 20, 25, 30, dan 40 ? dengan  pemeliharaan selama 28 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan salinitas yang berbeda tidak berpengaruh terhadap penyerapan logam berat Cu oleh Gracilaria gigas (p>0,05). Konsentrasi logam berat Cu dalam media pemeliharaan tertinggi pada perlakuan E (40 ?) dengan rerata nilai 0,11; 0,10; 0,13; dan 0,17 ppm.  Kapasitas penyerapan logam Cu oleh Gracilaria gigas tertinggi terdapat pada hari ke 7 perlakuan A (25 ?) dengan nilai rerata 0,007 mg/g dan efektivitas penyerapan sebesar 82,77 %. Berat basah G. gigas tertinggi terjadi pada hari ke 7 dengan rerata nilai A (25 ?) 227,11 g; B (10 ?) 240,55 g; C (20 ?) 236,44 g; D (30 ?) 221,44 g; dan E (40 ?) 203,77 g. Berat mutlak dan laju pertumbuhan spesifik (SGR)  tertinggi terdapat pada perlakuan E (40 ?), yaitu -34,22 g dan -0,70% per hari.  Semakin tinggi salinitas, maka pertumbuhan G. gigas akan semakin rendah sehingga akan mempengaruhi daya absorpsi logam Cu. Waste from industrial and agricultural activities has a negative effect on marine aquatic ecosystems, such as heavy metals Cu has a high potential for toxicity to the aquatic environment. The cell wall of G. gigas has polysaccharides which are able to absorb Cu metal. The purpose of this study was to determine the ability of G. gigas absorption to Cu metal in maintenance media with different salinity. . The method used is an experimental laboratory, using a completely randomized design (CRD) and 3 repetitions of each treatment. The treatment uses 5 levels of salinity namely 10, 20, 25, 30, and 40 ? with maintenance for 28 days. The results showed that different salinity treatments did not affect the absorption of heavy metal Cu by G.gigas (p> 0.05). The highest concentration of heavy metal Cu in the maintenance media at treatment E (40 ?) with a mean value of 0.11; 0.10; 0.13; and 0.17 ppm. The highest absorption capacity of Cu by G. gigas was on the 7th day of treatment A (25 ?) with an average value of 0.007 mg / g and the effectiveness of absorption of 82.77%. The highest wet weight of G. gigas occurred on the 7th day with an average value of A (25 227) 227.11 g; B (10 ?) 240.55 g; C (20 ?) 236.44 g; D (30 ?) 221.44 g; and E (40 203) 203.77 g. The highest absolute weight and specific growth rate (SGR) was found in treatment E (40 ?), which was -34.22 g and -0.70% per day. The higher the salinity, the growth of  G. gigas will be lower so that it will affect the absorption of Cu metal.

Page 1 of 1 | Total Record : 10