cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
BULETIN OSEANOGRAFI MARINA
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 20893507     EISSN : 25500015     DOI : -
Core Subject : Science,
Buletin Oseanografi Marina (BULOMA) adalah jurnal yang menginformasikan hasil penelitian dan telaah pustaka tentang aspek Oseanografi, Ilmu Kelautan, Biologi Laut, Geologi Laut, Dinamika Laut dan Samudera, Estuari, Kajian Enerji Alternatif, Mitigasi Bencana, Sumberdaya Alam Pesisir, Laut dan Samudera.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue " Vol 8, No 1 (2019): Buletin Oseanografi Marina" : 8 Documents clear
Keanekaragaman Siput Ordo Mesogastropoda dan Neogastropoda pada Zona Eulitoral di Kawasan Pesisir Pulau Sembilan, Kabupaten Kotabaru Fajeriadi, Hery; Zaini, Muhammad; Dharmono, Dharmono
Buletin Oseanografi Marina Vol 8, No 1 (2019): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (627.778 KB) | DOI: 10.14710/buloma.v8i1.22544

Abstract

Gastropoda tersebar luas di kawasan pesisir, salah satunya pesisir Pulau Sembilan Kotabaru. Kawasan ini masih tergolong alami dan terdapat terumbu karang. Beberapa titik terumbu karang mulai mengalami kerusakan. Terumbu dan batu karang di zona eulitoral merupakan habitat alami gastropoda. Gastropoda terbagi menjadi tiga ordo, dua diantaranya adalah Ordo Mesogastropoda dan Ordo Neogastropoda belum didokumentasikan. Penelitian ini bertujuan untuk melanjutkan dokumentasi spesies gastropoda (Mesogastropoda dan Neogastropoda) dan menganalisis indeks keanekaragamannya. Data dikumpulkan dengan teknik purposive sampling dengan luas plot 1 m2, sebanyak 20 plot, di sepanjang seratus meter mengikuti garis pantai. Data yang dikumpulkan adalah nama spesies dan jumlah individu setiap spesies.­ Berdasarkan data tersebut ditentukan indeks keanekaragaman menggunakan persamaan Shannon-Wienner. Ditemukan lima spesies dari Ordo Mesogastropoda dan dua spesies dari Ordo Neogastropoda.Indeks keanekaragaman (H’) Mesogastropoda dan Neogastropoda adalah 1.620 dengan kategori sedang, artinya ekosistem di kawasan tersebut tergolong stabil. Gastropods are widespread in the coastal area, one of which is the coast of Pulau Sembilan Kotabaru. This area is still relatively natural, and there are coral reefs. Some points of coral reefs began to suffer damage. Reefs and rocks in the eulittoral zone are natural gastropod habitats. Gastropods are divided into three orders, two of which are mesogastropod orders, and the neogastropod order has not been documented. This study aims to continue the documentation of gastropod species (Mesogastropods and Neogastropods) and analyze their diversity index. Data were collected by purposive sampling technique with a plot area of 1 m2, as many as 20 plots, along a hundred meters following the coastline. The data collected is the name of the species and the number of individuals in each species. Based on these data the diversity index is determined using the Shannon-Wiener equation. Five species of the mesogastropod order and two species of the neogastropod order were found. The Mesogastropod and Neogastropod diversity index (H') is 1,620 in the medium category, meaning that the ecosystem in the region is classified as stable.
Kandungan Klorofil dan Fukosantin serta Pertumbuhan Skeletonema costatum pada Pemberian Spektrum Cahaya Yang Berbeda Arifah, Rizqi Umi; Sedjati, Sri; Supriyantini, Endang; Ridlo, Ali
Buletin Oseanografi Marina Vol 8, No 1 (2019): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (292.166 KB) | DOI: 10.14710/buloma.v8i1.19986

Abstract

Skeletonema costatum mengandung klorofil-a, klorofil-c, dan fukosantin yang menyebabkan selnya berwarna hijau kecoklatan. Klorofil dan fukosantin memiliki berbagai manfaat, salah satunya dalam bidang kesehatan sebagai anti-bakteri, anti-oksidan, anti-inflamasi, anti-obesitas, anti-diabetes. Cahaya merupakan faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan kandungan pigmen pada mikroalga. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan spektrum cahaya yang memiliki pengaruh terhadap pertumbuhan, kandungan klorofil dan fukosantin S. costatum. Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari-Maret 2018 di Laboratorium Biologi, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro dan pengujian laboratoris di Laboratorium BPIK Srondol, Semarang. Metode yang digunakan adalah metode eksperimental laboratoris. Diatom S. costatum dikultivasi dengan tiga spektrum cahaya yang berbeda yaitu putih, biru, dan merah. Pertumbuhan sel S. costatum diamati sampai 2 x 24 jam kemudian dipanen untuk perhitungan biomassanya. Biomassa kering hasil kultivasi diekstraksi menggunakan metanol. Kadar pigmen ekstrak metanol dianalisis menggunakan spektrofotometer UV-Vis dan identifikasi pigmen dengan uji Kromatografi Lapis Tipis (KLT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan cahaya putih secara signifikan meningkatkan kandungan klorofi- a S. costatum dibandingkan spektrum cahaya merah, namun tidak berbeda nyata terhadap spektrum cahaya biru. Pertumbuhan, kandungan klorofil-c dan fukosantin S. costatum pada pemberian spektrum cahaya yang berbeda tidak menunjukkan perbedaan nyata. Skeletonema costatum contains chlorophyll-a, chlorophyll-c, and fucoxanthin giving to its cells. Chlorophyll and fucoxanthin have various benefits, e.g. in the medicine field as anti-bacterial, anti-oxidant, anti-inflammatory, anti-obesity, and anti-diabetes. Light is one of the environmental factor that affects the growth and pigment content of microalgae. This study aims to determine the spectrum of light that influences growth, chlorophyll content and fucoxanthin of S. costatum. This research was conducted in January-March 2018 at the Biology Laboratory, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, Diponegoro University and laboratory testing at the BPIK Srondol Laboratory, Semarang. The method used was a laboratory experimental method. Diatom S. costatum was cultivated with three different spectrums of light (white, blue, and red). Growth of S. costatum cells was observed up to 2x24 hours and then harvested for biomass calculations. Dry biomass was extracted using methanol. Pigment content of The S. costatum methanol extract was analyzed using UV-Vis spectrophotometer and pigments identification using Thin Layer Chromatography (TLC). The results showed that the chlorophyll content of S. costatum under white light spectrum was significantly higher from the red light spectrum, but not significantly different from blue light spectrum. Growth, chlorophyll-c and fucoxanthin content of S. costatum didn’t show significant differences under different light spectra.
Komposisi Dan Kelimpahan Fitoplankton Di Laguna Segara Anakan, Cilacap Wiyarsih, Budhy; Endrawati, Hadi; Sedjati, Sri
Buletin Oseanografi Marina Vol 8, No 1 (2019): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (505.926 KB) | DOI: 10.14710/buloma.v8i1.21974

Abstract

Segara Anakan merupakan laguna yang terletak di selatan Pulau Jawa tepatnya di perbatasan antara Jawa Barat dengan Jawa Tengah. Kawasan Segara Anakan merupakan tempat bertemunya sungai besar, sehingga mengalami perubahan penurunan kualitas perairan berupa penyempitan dan pedangkalan akibat proses sedimentasi yang tinggi. Hal ini dikhawatirkan dapat mengakibatkan menurunnya kualitas perairan yang dapat mengganggu pertumbuhan fitoplankton di perairan. Fitoplankton merupakan parameter biologi yang dapat dijadikan bioindikator untuk mengevaluasi kualitas dan tingkat kesuburan suatu perairan. Kondisi tentang lingkungan perairan diperkirakan berubah sepanjang waktu, maka perlu penelitian fitoplankton, untuk mengetahui tingkat kesuburan perairannya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui komposisi dan kelimpahan fitoplankton di Laguna Segara Anakan, Cilacap. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif eksploratif dengan pengambilan data menggunakan purposive sampling method. Hasil menunjukkan ditemukan 34 genera yaitu Kelas Bacillariophyceae (21 genera), Kelas Cyanophyceae (4 genera), Dinophyceae (6 genera), Chlorophyceae (2 genera), dan Euglenophyceae (1 genus). Kelimpahan fitoplankton berkisar antara 12.945,8-38.194,1 sel/liter. Indeks Keanekaragaman termasuk kategori sedang dengan nilai berkisar 1,60 - 2,32. Indeks keseragaman termasuk kategori sedang hingga tinggi, dengan nilai berkisar 0,59 - 0,81. Indeks dominansi berkisar antara 0,18 - 0,44. menunjukkan bahwa tidak ada genus yang mendominasi. Segara Anakan is a lagoon located in the south of Java Island precisely on the border between West Java and Central Java. Segara Anakan area is the place where the big river meets. Water quality decrease because of narrowing the lagoon due to the high sedimentation process. This may affect the presence of phytoplankton in the water. The quality and the fertility level of aquatic can be evaluated through the phytoplankton existence since phytoplankton is used as a biological indicator for the marine environment. The condition of the aquatic environment is expected to change over time, so it is necessary to study phytoplankton. The purpose of this research is to know about the composition and abundance of phytoplankton in Segara Anakan Lagoon, Cilacap. This research used the descriptive explorative method by data sampling using purposive sampling method. The study showed 34 genera of Bacillariophyceae (21 genera), Cyanophyceae (4 genera), Dinophyceae (6 genera), Chlorophyceae (2 genera), and Euglenophyceae (1 genus). The abundance of phytoplankton ranging from 12.945,8-38.194,1 cells/liter. The Diversity Index is a medium category with values ranging from 1.60 to 2.32. The evenness index is moderate to high, with values ranging from 0.59 to 0.81. The Dominant index ranges from 0.18 to 0.44. The value indicates the category of no dominating genus.
Pertumbuhan dan Kandungan Lutein Dunaliella salina pada Salinitas yang Berbeda Kimberly, Faith Dibri; Supriyantini, Endang; Sedjati, Sri
Buletin Oseanografi Marina Vol 8, No 1 (2019): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (446.529 KB) | DOI: 10.14710/buloma.v8i1.20839

Abstract

Dunaliella salina adalah salah satu mikroalga yang mengandung pigmen lutein. Lutein memiliki manfaat sebagai antioksidan untuk melawan radikal bebas pada mata. Pertumbuhan mikroalga dipengaruhi oleh berbagai macam faktor lingkungan, salah satunya adalah salinitas. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan salinitas terbaik guna mengoptimalkan pertumbuhan dan produksi pigmen lutein pada D. salina. Metode yang digunakan adalah eksperimen laboratoris. Mikroalga D. salina dikultivasi dengan lima perlakuan salinitas yang berbeda yaitu 20, 25, 30, 35, dan 40 ppt. Pertumbuhan sel D. salina diamati selama 9 x 24 jam kemudian dipanen untuk perhitungan biomassanya. Biomassa basah hasil kultivasi diekstraksi menggunakan pelarut aseton. Ekstrak aseton D. salina kemudian dianalisis kandungan pigmen luteinnya secara spektrofotometrik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan salinitas berpengaruh secara signifikan terhadap pertumbuhan sel dan kandungan pigmen lutein D. salina. Pertumbuhan sel D. salina optimum pada perlakuan salinitas 30 ppt,yaitu sebesar 125,86 x 104 sel/mL, sedangkan untuk kandungan pigmen lutein     D. salina diproduksi optimum pada salinitas 25 ppt, yaitu sebesar 0,0077 µg/g. Dunaliella salina is a microalga containing lutein pigment. Lutein has the role of being an antioxidant to fight free radicals in the eye. Microalgae growth is influenced by a variety of environmental factors,  such as salinity. The purpose of this research is to determine the best salinity to optimize the growth and production of lutein pigments in D. salina. The method used in this research was a laboratory experiment. Microalgae D.salina was cultivated with five different salinity treatments, which 20, 25, 30, 35, and 40 ppt. Growth of D. salina cells was observed for 9 x 24 hours and then harvested for the biomass determination. The wet biomass from the cultivation results was extracted using acetone solvent. D. salina acetone extract was then analyzed for its lutein pigment content spectrophotometrically. The results showed that salinity treatment had a significant effect on cell growth and pigment content of lutein D. salina. The optimum growth of D. salina cell is optimally achieved in 30 ppt salinity treatment at the amount of 125,86 x 104 cell/mL, while for the lutein pigment content of D. salina is optimally achieved in 25 ppt salinity at the amount of 0,0077 µg/g.
Makrozoobenthos Gastropoda pada Vegetasi Mangrove di Pesisir Utara, Semarang Hutama, Haryo Farras Raditya; Hartati, Retno; Djunaedi, Ali
Buletin Oseanografi Marina Vol 8, No 1 (2019): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (496.037 KB) | DOI: 10.14710/buloma.v8i1.22453

Abstract

Kerusakan hutan mangrove yang terjadi karena adanya aktivitas manusia cukup mengkhawatirkan dan berpengaruh terhadap kelangsungan hidup biota yang hidup didalamnya, salah satunya adalah Gastropoda. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui komposisi jenis makrozoobenthos gastropoda  dan menganalisa struktur komunitasnya. Pengambilan sampel dilaksanakan pada bulan Maret 2015 di 4 lokasi yakni Mangunharjo, Mangkang Wetan, Pantai Maron dan Trimulyo, Semarang. Penentuan lokasi sampling dengan metode purposive sampling method terbagi dari kelebatan mangrove lebat, sedang dan jarang pada setiap lokasi penelitian dengan pertimbangan pengaruh aliran sungai terhadap parameter disetiap stasiunnya.Klasifikasi kelebatan mangrove berdasarkan data sekunder kerapatan mangrove Pesisir Utara Semarang 2015. Pengambilan sampel gastropoda menggunakan metode kualitatif dengan transek 5m x 5m dan 1m x 1m dengan jumlah stasiun sebanyak 8 dan 3 kali pengulangan pada setiap stasiunnya. Hasil penelitian ditemukan 8 jenis spesies yang terdiri dari 4 famili yang berbeda.Famili Potamididae paling banyak ditemukan dengan jumlah 4 spesies. Ditemukan satu spesies Famili Neriitidae yakni Nerita sp. serta satu spesies Famili Ellobiidae yakni Cassidula sp.. Kelimpahan tertinggi terdapat pada Stasiun MR1 (25.667 ind./75m2) dan terendah distasiun MW3 (0.107 ind./75m2). Nilai Indeks Keanekaragaman masuk dalam kategori sedang, sedangkan nilai indeks keseragaman dalam kategori tinggi.Dalam penelitian ini menemukan spesies yang mendominasi pada 2 stasiun yaitu Stasiun MW1 dan MR1. The damage of the mangrove ecosystem which occur due to human activity is quite alarming and effect on the survival of biota that lived in it, one which is Gastropods. This research was conducted to find out the composition of macrozoobenthos gastropods and analyze its community structure. Sampling did on March 2015 at 4 locations, i.e., Mangunharjo, Mangkang Wetan, Maron and Trimulyo, Semarang. This study was conducted to determine and identify the community structure of gastropod macrozoobenthos in mangrove vegetation on the coast of Semarang The determination of sampling location use purposive sampling method that divide the dense mangrove luxuriance, moderate and rarely at location research. The dense mangrove classification based on secondary data from the landsat image of 8 and the data density of mangrove North Coastal Semarang 2015. Sampling use qualitative method with 5 m x 5 m transects and 12 stations with three-time repetitions for each stations. The results found gastropods 8 types of species comprising in 4 different families. Potamididae family is the most dominant where found 4 species. One species of Neriitidae family is found which Nerita sp. and one species of the Ellobidae family is also found, which Cassidula sp.. The highest abundance was found on Station MR1 (25.667 ind./75m2) and the lowest in station MW3 (0.107 ind./75m2). The value of the Diversity Index can be category as average while the Equitability Index value is high. In this study, found there is 2 dominance species on the whole research station, one at MW1 and the other at MR1.
Konsentrasi Surfaktan dan Minyak di Perairan Depapre, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua Tanjung, Rosye Hefmi Rechnelty; Hamuna, Baigo; Alianto, Alianto
Buletin Oseanografi Marina Vol 8, No 1 (2019): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (460.389 KB) | DOI: 10.14710/buloma.v8i1.22264

Abstract

Kondisi kualitas air suatu perairan yang baik sangat penting untuk mendukung kehidupan organisme yang hidup di dalamnya. Penentuan status mutu air perlu dilakukan sebagai acuan dalam melakukan pemantauan pencemaran kualitas air. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji status mutu air laut berdasarkan konsentrasi parameter surfaktan dan minyak di perairan Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura. Pengambilan sampel air laut dilakukan di lima stasiun penelitian, kemudian hasilnya dibandingkan dengan baku mutu air laut untuk biota laut berdasarkan KEPMEN-LH No. 51 Tahun 2004. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi surfaktan di perairan Distrik Depapre berkisar antara 0,08–0,22 mg/L, sedangkan konsentrasi kandungan minyak berkisar antara 0,14–0,41 mg/L. Berdasarkan baku mutu air laut, konsentrasi surfaktan dan minyak belum melampaui baku mutu dan masih sesuai untuk biota laut di perairan Depapre, Kabupaten Jayapura. Hasil penelitian ini memberikan informasi bahwa kondisi perairan Depapre belum tercemar oleh limbah surfaktan dan minyak. Namun tidak menutup kemungkinan bahwa konsentrasi tersebut dapat terus meningkat, sehingga perlu upaya lebih lanjut dari pemerintah dan masyarakat untuk meminimalkan jumlah limbah surfaktan dan minyak yang masuk kelingkungan perairan laut. Good water quality is critical to support the life of organisms. The determination of water quality status was needed as a reference to monitor water pollution. This study aimed to assess the condition of water quality based on the concentration of surfactant and oil parameters in the Depapre waters, Jayapura Regency. Sampling was carried out in five research stations; then the results were compared with water quality standards based on KEPMEN-LH No. 51 Tahun 2004 for marine biotas. The result showed that the concentration of surfactant in Depapre waters was 0.08–0.22 mg/L, while the oil concentration was 0.14–0.41 mg/L. Based on water quality standards, surfactant and oil concentration has not exceeded the quality standards and are suitable for marine biotas in Depapre waters, Jayapura Regency. Results showed the condition of  Depapre waters had not been polluted by surfactant and oil waste. However, it does not rule out the possibility that the concentration can increase so that it needs further efforts from the government and the community to minimize the amount of surfactant and oil waste entering the marine environment.
Kandungan Logam Berat Seng pada Enhalus acoroides di Perairan Jepara Putra, Bagus Apriana; Santoso, Adi; Riniatsih, Ita
Buletin Oseanografi Marina Vol 8, No 1 (2019): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (603.988 KB) | DOI: 10.14710/buloma.v8i1.21378

Abstract

Lamun adalah tanaman air yang berbunga (Antophyta) dan mempunyai kemampuan adaptasi untuk hidup dan tumbuh di lingkungan laut.Enhalus acoroidesmerupakan jenis lamun yang banyak tumbuh di sekitar perairan Teluk Awur dan Pulau Panjang. Kegiatan manusia meliputi pertanian, industri mebel, pariwisata, dan kegiatan nelayan  di Teluk Awur dan Pulau Panjang diduga menjadi sumber logam berat Seng (Zn). Keberadaan lamun di laut dapat menjadi bioindikator pencemaran logam berat karena menyerap dan mengakumulasi bahan pencemar. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui dan membandingkan kandungan logam berat seng (Zn)pada lamun Enhalus acoroides (akar dan daun), pada air dan pada sedimen di Teluk Awur dan Pulau Panjang. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif, sedangkan metode penentuan lokasi menggunakan metode purposive sampling. Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah sampel lamun Enhalus acoroides, air, dan sedimen.Parameter lingkungan seperti suhu, salinitas, oksigen terlarut, kecerahan, pH dan arus diukur secara in situ. Hasil penelitian menunjukkan nilai akumulasi Zn pada akar Enhalus acoroides  di Teluk Awur berkisar antara 0,98–1,27 mg/l dan pada daun 0,4–0,89 mg/l, sedangkan akumulasi logam berat Zn pada akar Enhalus acoroides di Pulau Panjangberkisar antara 0,78–1,01 mg/l dan pada daun 0,34–0,75 mg/l. Kemampuan lamun Enhalus acoroides yang ada di Teluk Awur dan Pulau Panjang dalam mengakumulasi logam berat Zn termasuk dalam kategori rendah dengan nilai faktor biokonsentrasi rata-rata <250.  Seagrass is a flowering water plant (Antophyta) and can adapt to live and grow in the marine environment. Enhalus acoroides is a type of seagrass that grows around Teluk Awur and Panjang Island. All human activities including agriculture, tourism, and fishing activities in Teluk Awur and Panjang Island may be the source of heavy metals Zinc (Zn). The presence of seagrass in the sea can be a bioindicator of heavy metal pollution due to absorb and accumulate contaminants. The purposes of this research were to know and compare the content of heavy metals (Zn in seagrass Enhalus acoroides (root and leaf), on water and in sediments in Teluk Awur and Panjang Island.  This research used the descriptive method, while the method of determining the location used purposive sampling method. The material used in this research were the samples of Enhalus acoroides, water, and sediment. Environmental parameters such as temperature, salinity, dissolved oxygen, clarity, pH and current flow were determined in situ. The results showed the value of the accumulation of heavy metal Zn from the root of Enhalus acoroides in Teluk Awur ranging between 0.98–1.27 mg/l and 0.41–0.89 mg/l from the leaves, while the accumulation of heavy metal Zinc (Zn) from the root of Enhalus acoroides in Panjang Island range between 0,78–1.01 mg/l and 0.34–0.75 mg/l from the leaves. The ability of Enhalus acoroides in Teluk Awur and Panjang Island to accumulate the heavy metals Zn were low category because of bioconcentrating factor value <250. 
Pestisida Organoklorin dalam Sedimen di Muara Sungai Upang, Provinsi Sumatera Selatan Ariana, Ria; Diansyah, Gusti; Putri, Wike Ayu Eka
Buletin Oseanografi Marina Vol 8, No 1 (2019): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (481.554 KB) | DOI: 10.14710/buloma.v8i1.21024

Abstract

Pestisida adalah substansi kimia yang bersifat akumulatif dalam sedimen. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui jenis dan konsentrasi pestisida organoklorin yang terakumulasi di sedimen Muara Sungai Upang. Pengambilan sampel dilaksanakan pada bulan September 2017 di Sungai Upang hingga ke muara. Analisis sampel menggunakan metode Gas Chromatography Mass Spectrometry. Hasil penelitian menemukan pestisida organoklorin terakumulasi di dua stasiun yaitu stasiun 2 dan stasiun 5. Jenis pestisida organoklorin yang ditemukan adalah Endrin dengan konsentrasi 0,35 ppb pada stasiun 2 dan 0,41 ppb pada stasiun 5. Konsentrasi endrin yang ditemukan pada kedua stasiun tersebut telah melewati batas mutu yang diperkenankan (0,0624 ppb). Pesticides are chemical substancepotentially accumulated in sediment. The purpose of this study was to determine the type and concentration of organochlorine pesticides which are accumulated in the sediments Upang Estuary. Sampling was conducted in September 2017 along Upang River to estuary. Analysis of pesticides using Gas Chromatography Mass Spectrometry. The result of the research was obtained that organochlorine pesticides accumulated in station 2 and station 5. Type of organochlorine pesticides found was Endrin of  0.35 ppb in station 2 and 0.41 ppb in station 5. Endrin concentration found at both stations has passed the quality threshold (0.0624 ppb).

Page 1 of 1 | Total Record : 8