cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sampang,
Jawa timur
INDONESIA
KABILAH : Journal of Social Community
ISSN : 25029649     EISSN : 25033603     DOI : -
Core Subject : Education, Social,
KABILAH (Journal of Social Community) Print-ISSN: 2502-9649 and Online-ISSN: 2503-3603, this journal is published by Institute for Research and Community Service (LP2M) Islamic College Nazhatut Thullab Sampang Madura. Journal published twice a year, every June and December. This journal contains conceptual articles and research result report about social community from the perspective of religion, education, law, economy and culture.
Arjuna Subject : -
Articles 56 Documents
THE EFFECTIVENESS OF USING PICTURE SERIES TO TEACH WRITING IN SMPN 1 WARU PAMEKASAN Yuliarsih, Yuliarsih
KABILAH : Journal of Social Community Vol 1 No 1 (2016): (Juni)
Publisher : LP2M STAI Nazhatut Thullab Sampang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (882.47 KB)

Abstract

Abstrak: Menulis  sebagai salah satu keterampilan bahasa yang diberikan untuk mendorong  pengajaran bahasa Inggris dari smp sampai universitas khususnya sekolah yang berbahasa Inngris. Sayangnya murid-murid kemampuannya masih rendah. Dan salah satu alasan  adalah metode pendekatan, tehnik yang digunakan oleh guru dan proses pengajaran dan pembelajaran. Lebih-lebih materi yang digunakan kadang-kadang sangat susah untuk dimengerti. Dan proses pembelajaran guru menggunakan banyak media seperti picture series dan movie . Sebagai tambahan dalam pembelajaran ini ditujukan untuk menginvestigasi keefektifan penngunaan picture series untuk mengajar menulis descriptive di smpn 01 waru. Rumusan masalah dan penelitian adalah apakah murid yang diajari picture series mempunyai kemampuan menulis descriptive lebih baik daripada murid yang tidak diajari picture series. Tujuan penelitian dalam penelitian ini adalah untuk menjawab dan menginvestigasi keefektifan picture series terhadap kemampuan menukis descriptive anak.  Design penelitiannya adalah eksperimental design khususnya quasi experimental design karena pembelajaran ini membawa kelas dimana random tidak bisa dilakukan. Subjek dalam penelitian ini terdiri dari 60 murid dari kelas pertama smpn 01 waru pamekasan. Semua subjek dalam pembelajaran mempunyai level yang sama. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa murid setelah diajari menggunakan picture series dalam menulis descriptive mempunyai kemampuan menulis lebih baik daripada murid yang tidak diajari picture series. Ini dibuktikan dari data analisis dan tes hipotesis dengan menggunakan level of signifikan 1% dimana computed t value (4,34) lebih tinggi dari t critical value (2,390). Itu berarti Ha diterima. Kesimpulannya bahwa picture series memberikan pengaruh signifikan terhadap kemampuan menulis anak . Kata Kunci: Kemampuan menulis, Picture seriesAbstract: Writing as one of the language skills is given the most emphasis in the teaching of English from junior to the senior high school and even in university especially for those schools majoring in English. Unfortunately, the students’ writing ability is still low, and one of the reasons is the method, approaches and techniques used by the teacher in teaching and learning process of writing. Moreover,the writing materials used was sometimes very difficult to understand. In the learning process the teacher used many kinds of media such as Picture Series and Movie. In addition, in this study is aimed to investigate the effectiveness of using Picture Series to teach writing in SMPN 1Waru Pamekasan.The research problem of this research: do thestudents taught by Picture Series have better achievement in writing descriptive text than those taught by non Picture Series. The research objective of this research is to answer and investigate the effectiveness Picture Serieson the students writingdescriptive.The researchdesign was experimental design specificallyquasiExperimental designbecause this study is carried out in classroom setting where random assignment to subject could not be conducted. The subject of this research was consisted of 60 students from the first grade of SMPN 1 Waru Pamekasan. All the subjects of this study were at the same class in firstSMPN 1 Waru Pamekasanclass.The result of the research showed that the students after taught by using Picture Series in Writing Descriptive has better achievement in the posttest than the students taught by non-Picture Series.It proved from the data analysis and the hypotheses testing by using level of significant 1% where the computed t-value (4.34) was higher than t-critical value (2.390). The finding means that the Alternative Hypothesis is accepted.It concludes that the using of Picture Series give a significant effect on the students writing achievement. Key words: Writing Achievement, Picture Series
KONSEP DIRI DALAM BERINTERAKSI SOSIAL REMAJA GAPURA KABUPATEN SUMENEP Mukhlishi, Mukhlishi
KABILAH : Journal of Social Community Vol 1 No 1 (2016): (Juni)
Publisher : LP2M STAI Nazhatut Thullab Sampang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (578.592 KB)

Abstract

Abstrak: Keberadaan remaja merupakan komponen yang paling penting, dan sangatlah perlu untuk terus diperhatikan keberadaannya serta kebutuhan apa saja yang dibutuhkan oleh mereka, apalagi mengingat banyaknya ragam dan corak dari remaja yang menuntut seluruh lapisan masyarakat untuk berlaku proporsional dalam pembentukan konsep diri dalam berinteraksi sosial remaja dalam proses pembelajaran bermasyarakat. Keberhasilan pembentukan konsep diri tidak serta merta adalah fokus pada remaja, namun kaberadaan masyarakat dan lingkungan keberdaannya tidak dapat dinafikan dalam pembentukan konsep diri dalam berinteraksi sosial remaja. Urgensi konsep diri terhadap remaja merupakan salah satu strategi penting untuk mencapai keberhasilan pendidikan yang berkualitas sebab konsep diri dalam berintraksi sosial remaja akan memberikan respons penilaian seluruh stake holder pendidikan salah satunya bermasyarakat dengan terbentuknya konsep diri dalam kegiatan interaksi sosial tidak dapat terelakkan dalam pembentukan karakter yang baik dalam bermasyarakat. Kata Kunci: Konsep diri, Interkasi Sosial Remaja Abstract: The existence of adolescents is the most important component, and it is necessary to continuously aware of its existence as well as the needs of what is needed by them, especially considering the many kinds and styles of teenagers who demanded the whole society to act proportionately in the formation of self-concept in social interaction adolescents in the process learning community. The success of the formation of self-concept is not necessarily focused on adolescents, but kaberadaan society and the environment of its existence can not be denied in the formation of self-concept in adolescent social interaction. Urgency self concept of adolescents is one important strategy to achieve the success of quality education because the concept in berintraksi social teens will respond assessment of all stakeholders in education one community with the formation of self-concept in the activities of social interaction, unavoidable in the formation of good character in society. Keywords: Self-concept, social interaction Teens.
PILIHAN BELAJAR AL-QUR’AN DI MADURA; KONVERSI DARI LANGGAR KE TAMAN PENDIDIKAN AL-QUR’AN Wardi, Moh
KABILAH : Journal of Social Community Vol 1 No 1 (2016): (Juni)
Publisher : LP2M STAI Nazhatut Thullab Sampang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1119.284 KB)

Abstract

Abstrak:Langgar (mushola) adalah pendidikan Islam tertua di Indonesia yang telah tumbuh dan berkembang di komunitas Islam. Hal ini didirikan lebih awal dari pesantren (Pesantren), sekolah dan madrasah. Langgar telah mengambil peran penting dalam mempersiapkan generasi Alquran, khususnya tingkat dasar, untuk waktu yang lama waktu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan jenis penelitian fenomenologis. Data diperoleh dari hasil wawancara dan observasi. Selanjutnya analisis data dilakukan dengan reduksi data, display atau penyajian data, dan tahap kesimpulan. Hasil penelitian menunjukan pertama,  bahwa, ada pergeseran dan perubahan paradigma masyarakat terhadap langgar, dan mayoritas masyarakat memilih Taman Pendidikan Al-Qur’an. Kedua, dengan berbagai kelebihan dan kekurangannya, pada daerah lain. Langgar masih bersaing dengan lembaga sejenis yang dianggap lebih modern, seperti TK al-Quran (TK Islam mempelajari Al-Quran). Kata kunci: Langgar, Taman Pendidikan Al-Qur’anAbstract:Langgar (prayer house) is the oldest Islamic education in Indonesia that has grown and developed in the Islamic community. It is established earlier than boarding schools (pesantren), schools and madrasah. Langgar (prayer house) has taken an important role in preparing generations of the Koran, in particular basic level, for long periods of time. The method used in this research is qualitative type of phenomenological research. Data obtained from interviews and observations. Further data analysis was performed with data reduction, display or presentation of data, and the stage of conclusion. The first results showed that, there is a paradigm shift and change in society to break, and the majority of people choose Islamic Kindergarten studying Al-Quran. Second, with various advantages and disadvantages, in other areas. Langgar (prayer house) still compete with similar bodies that are considered more modern, such as TK Quran (Islamic Kindergarten studying the Quran).Keywords: Langgar (prayer house), Islamic Kindergarten studying of Al-Quran
IMPROVING STUDENTS’ SPEAKING ABILITY THROUGH SHOW AND TELL TECHNIQUE TO THE EIGHTH GRADE OF SMPN 1 PADEMAWU-PAMEKASAN Zuhri, M Darrin
KABILAH : Journal of Social Community Vol 1 No 1 (2016): (Juni)
Publisher : LP2M STAI Nazhatut Thullab Sampang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (827.04 KB)

Abstract

Abstrak: Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK), menggunakan Show and tell (Tunjuk dan katakan)  untuk meningkatkan keterampilan berbicara siswa untuk kelas delapan di SMPN 1 Pademawu-Pamekasan. Subjek penelitian ini adalah siswa tahun kedua  yang melibatkan empat puluh siswa terdiri dari dua puluh laki-laki dan dua puluh siswa perempuan. Pengumpulan data melibatkan sejumlah instrumen (observasi checklist, rubrik penilaian, catatan lapangan, dan kuesioner). Untuk mendapatkan data yang lebih akurat, skor Peringkat analitis digunakan untuk mengamati berbicara siswa yang meliputi empat komponen berbicara, yaitu: Pengucapan, Grammar (tata bahasa), Vocabulary (kosakata) dan Kefasihan dalam skala 1-5. Kriteria keberhasilan didasarkan pada skor siswa yaitu nilai 80-100. Dalam siklus I, hasil pengamatan itu belum sukses, ada 18 dari 40 siswa atau sekitar 40% siswa mencapai target nilai rata-rata, sehingga peneliti merevisi strategi mengajar. Pada siklus II, hasil tes yang sedang berlangsung telah menunjukkan ada beberapa perbaikan. Ada peningkatan jumlah mahasiswa aktif dan juga dalam nilai rata-rata. Hasil dalam siklus ini (siklus II)  menunjukkan ada 27 dari 40 siswa, yang berbicara fasih dalam berbicara aktivitas keterampilan, nilai rata-rata siswa bisa mencapai 80,25. Berdasarkan data, dapat dikatakan bahwa tindakan pada siklus II membawa sukses, sehingga bisa dihentikan. Dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan Show and tell (tunjuk dan katakan) dapat membantu siswa memecahkan masalah yang berkaitan dengan kinerja keterampilan berbicara mereka.Kata kunci: Tunjuk dan katakan, keterampilan berbicara.Abstract:This research was Classroom Action Research (CAR), using show and tell to improve students’ speaking skill to the Eighth  grade of SMPN 1 Pademawu-Pamekasan. The subject of this study were the second year students of class A which involved fourty students consist of twenty males and twenty females students. The data collection involved a number of instruments (observation checklist, scoring rubric, field notes, and questionnaires). To get more accurate data, an analytical rating score was used to observe the students’ speaking which covers four speaking components, those are: Pronunciation, Grammar, Vocabulary and Fluency in a 1-5 scale. The criteria of success are based on the students’ score, 80-100. In Cycle I, the result of the observation was not successes yet, there were 18 of 40 students or about 40% students reached the target mean score, so the researcher revised the teaching strategy. In cycle II, the result of ongoing test shows there were some improvement. There was an increase in the number of active students and also in the mean score. The result in the cycle shows that were 27 out of 40 students, who spoke fluently in speaking skill activity, the mean score of the students could reach 80.25. Based on the data, it can be said that the action in cycle II brought a success, so it could be stopped. It can be concluded that by using show and tell, it helps students solve problems related to their speaking skill performance. Keywords: show and tell, speaking skill.
POLITIK PENDIDIKAN ISLAM ORDE LAMA 1945-1965 (Study Kebijakan Pemerintah Dalam Penyelenggaraan Pendidikan Islam) Ismail, Ismail
KABILAH : Journal of Social Community Vol 1 No 1 (2016): (Juni)
Publisher : LP2M STAI Nazhatut Thullab Sampang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (779.255 KB)

Abstract

Abstrak:Penelitian ini merupakan penelitian literatur yang memiliki fokus kajian tentang kebijakan pemerintah orde lama dalam penyelenggaraan pendidikan Islam. Kebijakan pemerintah orde lama dalam penyelenggaraan pendidikan Islam dapat ditelusuri melalui lahirnya beberapa regulasi tentang pelaksanaan pendidikan nasional maupun yang secara spesifik mencakup pendidikan Islam. Regulasi tersebut antara lain : 1) Keputusan Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BPKNIP) pada tanggal 27 Desember 1945. 2) Keputusan bersama antara Menteri PPK dan Menteri Agama  No.1142/Bhg A(pengajaran), Jakarta tanggal 2 Desember 1946, No 1285 /K-7 (Agama) Yogyakarta tanggal 2 Desember 1946. 3) UU No 4 Tahun 1950 tentang Dasar-Dasar Pendidikan dan Pengadjaran di Sekolah. 4) Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan No. 1432/Kab. Tanggal 20 Juni 1951 dan Menteri Agama No. K.1/652, tanggal 20 Juni 1951. 5) Instruksi Bersama Menteri Pendidikan, Pengajaan dan Kebudayaan No. 17678/Kab dan Menteri Agama No. K.1/9180 tanggal 16 juli 1951. 6) Undang – undang No. 12 Tahun 1954. 7) TAP MPRS No 2 Tahun 1960. Adapun implikasi riil dari beberapa kebijakan tersebut meliputi: Pertama dilaksanakannya pendidikan Agama Islam di sekolah negeri. Kedua diakuainya Madrasah sebagai bagian dari lembaga pendidikan formal oleh pemerintah. Ketiga Departemen Agama melaksanakan Madrasah Wajib Belajar untuk mengejar ketertinggalan umat Islam dalam pendidikan umum dan keterampilan. Keempat dibentuknya perguruan tinggi agama Islam untuk memenuhi hasrat dan keinginan umat Islam terhadap pendidikan tinggi. Keyword : Politik Pendidikan Islam, Orde Lama, Kebijakan. Abstract: This research is the study of literature has focused on the governments policy of the old order in the organization of Islamic education. The government policy of the old order in the organization of Islamic education can be traced through the birth of some of the regulations on the implementation of the national education and specifically include Islamic education. The regulation among others: 1) The decision of the Working Committee of the Central Indonesian National Committee (BPKNIP) on December 27, 1945. 2) The joint decision between the KDP and the Minister of Religious Affairs Minister No.1142 / Bhg A (teaching), Jakarta on December 2, 1946, No. 1285 / K-7 (Religion) Yogyakarta on December 2, 1946. 3) Act No. 4 of 1950 on the Basics of Education and Pengadjaran School. 4) Joint Decree (SKB) The Minister of Education and Culture No. 1432 / Kab. June 20, 1951 and Minister of Religion No. K.1 / 652, dated June 20, 1951. 5) Joint Ministerial Instruction Education and Cultures 17 678 / Kab and Minister of Religion No. K.1 / 9180 dated 16 July 1951. 6) Law - Law No. 12 Year 1954. 7) TAP MPRS No. 2 of 1960. The real implications of some of these policies include: First implementation of Islamic education in public schools. Both diakuainya Madrasah as part of the formal educational institutions by the government. Third Madrasah Religious Affairs to implement compulsory education to catch up with the Muslims in general education and skills. Fourth establishment of Islamic colleges to meet the desire and the desire of Muslims to higher education. Keyword: Politics of Islamic Education, the Old Order, Policy.
KECERDASAN EMOSIONAL, SPIRITUAL DAN PERILAKU PROSOSIAL SANTRI SABILUL IHSAN PAMEKASAN MADURA Sabiq, Zamzami
KABILAH : Journal of Social Community Vol 1 No 1 (2016): (Juni)
Publisher : LP2M STAI Nazhatut Thullab Sampang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (789.83 KB)

Abstract

Abstrak:Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara kecerdasan emosi dan kecerdasan spiritual dengan perilaku prososial. Populasi dalam penelitian ini adalah Santri Pondok Pesantren Sabilul Ihsan Pamekasan. Pada penelitian ini seluruh populasi diambil dan dijadikan sampel (total sampling) dalam penelitian dengan jumlah 30 orang santri yang terdiri 10 santri putra dan 20 santri perempuan. Pengumpulan data menggunakan skala kecerdasan emosi, skala kecerdasan spiritual dan skala perilaku prososial. Metode analisis data yang digunakan adalah teknik analisis regresi berganda yang akan diolah statistiknya dengan bantuan komputer seri program statistik SPSS 20.0 for windows. Hasil analisis regresi ganda diperoleh F = 102,301; p = 0,000 (p < 0,05) yang berarti bahwa kecerdasan emosi dan kecerdasan spiritual mempunyai hubungan yang signifikan dengan perilaku prososial. Hasil analisis korelasi antara kecerdasan emosi dengan perilaku prososial menunjukkan t = 2,113 dengan p = 0,002 (p < 0,05) yang berarti ada korelasi signifikan positif antara kecerdasan emosi dan perilaku prososial. Hasil analisis korelasi antara kecerdasan spiritual dengan perilaku prososial menunjukkan t = 7,521 dengan p = 0,000 (p < 0,05) yang berarti ada korelasi signifikan positif antara kecerdasan spiritual dan perilaku prososial. R2 = 0,482 menunjukkan bahwa kedua variabel bebas kecerdasan emosi dan kecerdasan spiritual secara bersama-sama memberikan sumbangan efektif terhadap variabel tergantung perilaku prososial sebesar 48,2 % dan terdapat 51,8 % variabel-variabel lain yang mempengaruhi variabel tergantung perilaku prososial dalam penelitian ini. Kata kunci: kecerdasan emosi, spiritual, perilaku prososial Abstract: The purpose of this research is to examine the relation between emotional intelligent and spiritual intelligent with pro-social behavior. The population of this research is  students of Pondok Pesantren Sabilul Ihsan Pamekasan. In this research, all of the population are taken and made as the sample. The populations are 30 students consist of 10 boys and 20 girls. The technique of data collection uses emotional intelligent scale, spiritual intelligent scale, and pro-social behavior scale made by the researcher. The method of data analysis used is multiple regression analysis that will be processed the statistics using SPSS 20.0 for windows. The result of multiple regression analysis is gotten F = 102,301; p = 0.000 (p < 0,05) means that the emotional intelligent and spiritual intelligent have a significant relation with pro-social behavior. The result of correlation analysis between emotional intelligent and pro-social behavior shows t = 2,113 with p = 0,002 (p < 0,05) means that there is a positive significant correlation between emotional intelligent and pro-social behavior. The result of correlation analysis between spiritual intelligent and pro-social behavior shows t = 7,521 with p = 0,000 (p < 0,05) means there is a positive significant correlation between spiritual intelligent and pro-social behavior. R2 = 0,482 shows that both of independent variable emotional intelligent and spiritual intelligent give effective contribution toward dependent variable pro-social behavior 48,2%. there are 51,8 % variables which influence dependent variable pro-social in this research. Key words: emotional intelligent, spiritual intelligent, pro-social behavior.
PENGAJIAN DAN DEKADENSI MORAL REMAJA Jamal, Nur
KABILAH : Journal of Social Community Vol 1 No 1 (2016): (Juni)
Publisher : LP2M STAI Nazhatut Thullab Sampang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1003.485 KB)

Abstract

Abstrak:Masa remaja adalah masa dimana munculnya berbagai kebutuhan dan emosi dan kekuatan tumbuh dan kemampuan fisik yang lebih jelas dan daya fakir menjadi matang. Tapi remaja penuh dengan perasaan ketidakpastian, kecemasan dan ragu-ragu, yang berkecambuk harapan dan tantangan, kesenangan dan kesengsaraan, semuanya harus dilalui oleh pertempuran serius, menuju masa depan dan orang dewasa yang matang. Peningkatan emosional yang cepat pada masa remaja awal yang dikenal sebagai periode badai dan stres. Peningkatan emosional ini merupakan hasil dari perubahan fisik yang terjadi pada masa remaja. Dalam hal kondisi sosial, peningkatan emosi ini merupakan tanda bahwa remaja berada dalam kondisi baru yang berbeda dari periode sebelumnya. Pada saat ini banyak tuntutan atau tekanan yang ditujukan untuk remaja, misalnya, mereka diharapkan tidak lagi berperilaku seperti anak-anak, mereka harus lebih mandiri dan bertanggung jawab. Kemandirian dan tanggung jawab akan terbentuk dari waktu ke waktu, dan akan tampak jelas pada remaja akhir yang duduk di awal-awal kuliah. Oleh karena itu, penurunan moral yang dialami remaja saat ini pada dasarnya disebabkan oleh beberapa faktor, faktor baik di luar maupun di dalam. Salah satu faktor eksternal, yaitu perkembangan zaman yang terus berkembang berpartisipasi mempengaruhi pola pikir remaja. Pola pikir dan perilaku remaja yang kurang baik, kurang tersaringnya menggambarkan dan mencerminkan baik ajaran moral yang baik dalam keluarga atau komunitas, yang tentunya masuknya pengaruh budaya asing telah menyebabkan remaja ke gerbang kehancuran, bahkan ke dalam jurang. Bentuk penghancuran moral atau perilaku. Manners dalam masyarakat juga pudar. Yang menyoroti dekadensi moral. Dengan demikian, peran agama dalam bentuk studi yang dibutuhkan. Di mana agama adalah landasan atau dasar di alam mendasari semua perilaku atau perilaku manusia, terutama remaja. dalam makalah ini akan membahas beberapa diskusi tentang isu-isu, metode pengajaran dan karakteristik perubahan dekadensi moral remaja dan faktor dekadensi, jenis dekadensi dan solusi dalam mengantisipasi. Kata Kunci: Remaja dan Dekadensi Moral  Abstract: Adolescence is a period where the emergence of a variety of needs and emotions and the growing strength and physical ability clearer and indigent power being overcooked. But adolescence is filled with feelings of uncertainty, anxiety and hesitation, which berkecambuk expectations and challenges, pleasures and tribulations, everything must be passed by a serious battle, toward the future and mature adults. Increased emotional is rapid in early adolescence is known as the period of storm and stress. Increased emotional is the result of physical changes that occur in adolescence. In terms of social conditions, increased this emotion is a sign that adolescents are in a new condition that is different from the previous period. At this time many demands or pressure aimed at teenagers, for example, they are expected to no longer behave like children, they need to be more independent and responsible. Independence and responsibility will be formed over time, and will be evident in the late teens sitting in the early days of college. Therefore, the moral decline experienced by adolescents today are basically caused by several factors, factors both outside and inside. One of the external factors, namely the development of the times that are constantly evolving participating affect adolescent mindset. The mindset and behavior of adolescents who are less good, less tersaringnya depicts and reflects well the moral teachings either in the family or community, which is certainly the entry of foreign cultural influences have led teens to the gate of destruction, even into the abyss. The form of the destruction of morals or behavior. Manners in society also faded. Which highlighted the moral decadence. Thus, the role of religion in the form of the study is needed. Where religion is a foundation or a foundation in nature underlies all behavior or human behavior, especially teenagers. in this paper will discuss some of the discussion of the issues, teaching methods and characteristics of adolescent moral decadence changes and factors the decadence, the types of decadence and solutions in anticipated. Keywords: Youth and Moral Decadence
KOMPOLAN KEKERABATAN/BANI: LABORATORIUM PENDIDIKAN KARAKTER DAN BUDAYA RELIGIUS MASYARAKAT MADURA Rachman, Fathor
KABILAH : Journal of Social Community Vol 1 No 1 (2016): (Juni)
Publisher : LP2M STAI Nazhatut Thullab Sampang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1360.064 KB)

Abstract

Abstrak: Perkembangan zaman yang terus bergulir dengan sangat pesat, telah mengubah tatanan kehidupan masyarakat. Di Madura misalnya, kehidupan masyarakat mengalami transformasi besar-besaran, dari tradisionalisme ke pola hidup modern. Hal ini telah berdampak pada pergeseran karakter dan budaya masyarakat. Masyarakat semakin terasing dari karakter dan budaya leluhurnya yang mengedepankan tatakrama, kesantunan, kesopanan, kepatuhan dan silaturrahim dalam bingkai keagamaan yang sangat kuat. Bercermin pada kehidupan leluhur untuk menatap masa depan merupakan hal yang sangat penting agar karakter dan budaya religius masyarakat tidak tercerabut dari akarnya. Hal ini bisa dilakukan salah satunya melalui Kompolan Kekerabatan/Bani sebagai laboratorium pendidikan berbasis kemasyarakatan yang saat ini tengah memainkan peranannya di tengah-tengah masyarakat Madura. Penelitian ini akan mengungkap penyelenggaraan, peranan dan strategi Kompolan Kekerabatan dalam membangun karakter dan budaya religius masyarakat Madura. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif-etnografis. Sumber datanya ditentukan dengan snowball sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan partisipan observation, indepht interview, dan studi dokumentasi dengan teknik Analisis Data Model Domain Spradley. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: pertama, roses penyelenggaraan dan pembentukan Kompolan Kekerabatan dilakukan dengan pertemuan rutin dan insidental, pertemuan akbar, acara haul dan silaturrahim akbar, pengajian keagamaan, tahlilan dan do’a bersama, musyawarah keluarga, pengenalan tokoh utama/public figure, adanya generasi penerus, pengurus dan anggota kompolan, kantor sekretariat, proses rekrutmen, dan silsilah keturunan. Kedua, peranannya dalam membangun karakter dan budaya religius dilakukan melaui penguatan keimanan dan ketakwaan, peningkatan pengetahuan keagamaan, perluasan jaringan kekerabatan, pembinaan keagamaan pada masyarakat, bantuan dana pendidikan bagi keluarga kurang mampu, santunan anak yatim, mendirikan lembaga pendidikan keagamaan (formal dan non-formal), pemberdayaan masjid, pemberdayaan ekonomi keluarga, dan penyelesaian konflik keluarga. Ketiga, Strateginya dilakukan melalui ceramah keagamaan, pendekatan khusus pada keluarga tertentu, pembinaan keluarga dan lingkungan yang religius, pengenalan pada leluhur yang shaleh, pembentukan lingkungan yang produktif, kontrol sosial yang aktif, mendo’akan generasi penerusnya. Kata kunci: Tradisi Kompolan Kekerabatan, Karakter dan Budaya Religius, Masyarakat Madura.  Abstract: The times are rolling very rapidly, has changed the order of peoples lives. In Madura, for example, the life of people experiencing major transformation, from traditionalism to modern lifestyles. This has an impact on the character and culture shift. People are increasingly alienated from the character and culture of their ancestors (leluhur) that puts manners, politeness, modesty, obedience and silaturrahim with a very strong religious frame. Reflecting on the life of the ancestors to look the future is very important for the character and religius culture of community is not uprooted. This can be done one through Kompolan Kekerabatan/Bani (family organization) as laboratory community-based education that is currently playing a role in the middle of the Madura. This study will reveal the organization, role and strategy Kompolan Kekerabatan/Bani building character and religious culture of the of Madura’s people. This study used a qualitative ethnographic research approach. The data source is determined by snowball sampling. Data collection techniques using participant observation, indepht interview, and documentation. The data were analyzed using the Spradley Domain Model Analysis of Spradley. The results of the research show that: 1. The process of implementation and formation of Kompolan Kekerabatan/Bani performed with routine and incidental meetings, rallies, events and silaturrahim grand haul, religious instruction, tahlilan and prayer together, the family council, the introduction of the main character/public figure, the next generation, management and kompolan’s members, secretariat offices, recruitment, and lineage (silsilah keturunan); 2. Role in building character and religious culture done through the strengthening of faith and piety, religious knowledge enhancement, expansion of the network of kinship (kekerabatan), religious guidance to the community, help fund education for poor families, orphan benefits, establish religious educational institutions (formal and non-formal), mosques empowerment, economic empowerment family, and family conflict resolution; 3. The strategy carried out through religious lectures, special approach in certain families, family coaching and religious environment, introduction of the pious ancestors, the establishment of a productive environment, social control is active, praying for future generations.  Key word: Tradition of Kompolan Kekerabatan/Bani, Character and Religious Culture, Madura’s Society
PENDIDIKAN KARAKTER DALAM PRESPEKTIF ISLAM Farida, Siti
KABILAH : Journal of Social Community Vol 1 No 1 (2016): (Juni)
Publisher : LP2M STAI Nazhatut Thullab Sampang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (742.956 KB)

Abstract

Abstrak: Pendidikan karakter dimaknai sebagai pendidikan nilai, budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak yang tujuannya untuk mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memberikan keputusan baik buruk, mewujudkan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati sebagai cita-cita luhur dalam dunia pendidikan. Oleh sebab itu, maka pendidikan karakter akan terlaksana jika selaras dengan sistem pendidikan nasional. Penyelengaraan pendidikan sistem pendidikan disebuah negara akan berbeda dengan negara lainnya, karena sistem pendidikan yang diselenggarakan diberbagai negara mempunyai ciri yang sesuai dengan latar belakang budaya masing-masing negara. Dalam pendidikan karakter harus melibatkan aspek seperti: kognitif, afektif, konatif, dan psikomotorik yang harus dikembangkan sebagai suatu keutuhan (holistik) dalam konteks kultural. Dalam pendidikan Islam, pendidikan karakter merupakan pendidikan yang telah diajarkan Al qur’an, yaitu pendidikan yang mengedepankan Akhlak. Al-Qur’an dengan sangat tegas memberikan solusi yang nyata kepada kita untuk mengembangkan kesadaran spiritual, emosional, dan intelektual yang tidak hanya menjadi teori, tetapi Al qur’an memerintahkan untuk menerjemahkannya dalam kehidupan sehari-hari. Kata Kunci: Pendidikan Karakter, pendidikan Islam  Abstract: Character education is defined as the value of education, manners, moral education, character education which aims to develop the ability of learners to provide good and bad decisions, realize the good in everyday life with a vengeance as the lofty ideals in education. Therefore, it will be executed if the character education in line with the national education system. Educational organization of the education system in a country will be different from other countries, because the education system is organized in various countries have characteristics appropriate to the cultural background of each country. In character education should involve aspects such as: cognitive, affective, conative, and psychomotor should be developed as a whole (holistic) in a cultural context. In Islamic education, character education is an education that has taught Al Quran, namely education that emphasizes Morals. Quran with a very firm provides real solutions to us to develop an awareness of spiritual, emotional, and intellectual is not only a theory, but Al Quran ordered to translate it into everyday life. Keywords: Character Education, Islamic education
TRAINING MANAGEMENT IN ISLAMIC BOARDING SCHOOL (Case Study on Sidogiri’s Islamic Boarding School Pasuruan) Ruhyanani, Hindama
KABILAH : Journal of Social Community Vol 1 No 2 (2016): (Desember)
Publisher : LP2M STAI Nazhatut Thullab Sampang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (533.732 KB)

Abstract

Abstrak:Pesantren adalah pendidikan asli di Indonesia yang unik karena menampilkan karakter khas dan eksotis, memiliki keunggulan, baik dalam tradisi ilmiah yang dinilai sebagai salah satu tradisi serta transmisi dan internalisasi moral. Sementara di sisi lain, sekolah juga merupakan pendidikan yang dapat memainkan peran pemberdayaan dan transformasi sosial secara efektif. Pesantren mampu melakukan sumber daya manusia oleh manajemen pelatihan. Pertama, kebijakan pesantren dalam rangka mempertahankan eksistensi pondok pesantren adalah untuk meningkatkan kualitas dan kompetensi dari ulama. kemampuan ditingkatkan dalam bentuk kemampuan manajemen, kemampuan ekonomi dan kemampuan untuk menguasai materi. Kedua, manajemen pelatihan dari perencanaan evaluasi dilakukan seefektif mungkin dalam rangka meningkatkan kompetensi guru agama. Tapi konsep berkah selalu menemani pelaksanaan pelatihan. Kata Kunci: Manajemen Pelatihan, Pesantren Abstract:Boarding school is an original education (indegenious) in Indonesia, which is unique because it displays the typical character and the exotic, has the advantage, both in the scientific tradition which is rated as one of the great tradition (great tradition) as well as transmission and internalization of morality. While on the other hand, schools are also an education which can play the role of empowerment (empowerment) and social transformation (civil transformation) effectively. Pesantren able to perform human resource by training management. First, policy of boarding school in order to maintain the existence of the boarding school is to improve the quality and competence of the cleric as well as students. Enhanced capabilities in the form of management ability, the ability of the economy and the ability to master the material. Second, training management from planning to evaluation is carried out as effectively as possible in order to increase the competence of religious teacher and students. But the concept of blessing always accompany the implementation of the training. Keyword: Training Management, Islamic Boarding School