cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Anestesiologi Indonesia
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 23375124     EISSN : 2089970X     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Anestesiologi Indonesia (JAI) diterbitkan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) dan dikelola oleh Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (UNDIP) bekerjasama dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) cabang Jawa Tengah.
Arjuna Subject : -
Articles 208 Documents
Pengaruh Asam Traneksamat pada Profil Koagulasi Pasien yang Mendapatkan Ketorolak ., Hijrineli; Harahap, Mohamad Sofyan; Soenarjo, Soenarjo
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 5, No 3 (2013): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBackground: Intra-operative bleeding is one of the challenges in anesthesia. Management of bleeding is an important modality for the anesthesiologist to maintain the patient in a state of physiological homeostasis. Ketorolac is a nonsteroidal anti-inflammatory drugs (NSAIDs) are often used as intraoperative and postoperative analgesia in surgical patients. NSAID use as a post-surgical analgesia has side effects such as interference with the function of hemostasis, is one of its manifestations extended bleeding time. Tranexamic acid can reduce the amount of bleeding and save the use of coagulation factors durante operations, and thus is expected to improve the coagulation profile (PPT and aPTT) of patients who received ketorolac.Objectives: To investigate the effect of Tranexamic acid administration to PPT and aPTT in patients given ketorolacMethod: This study is a clinical experimental study with randomized controlled blind design in Central Operating Theatre of Kariadi Hospital Semarang. Sample was taken from patient using simple random sampling and divided into two group. The first group (KI) was administered ketorolac and tranexamic acid .Second group (K II) was given ketorolac and placebo. Statistical analysis was performed with SPSS 16 for Windows.Result: Preoperatively, PPT between groups were not significantly different (KI : 12.27±0.811 ;K II: 12.89±1.041; p: 0.083), and so were preoperative aPTT (K I: 30.01±2.060 ; K II: 31.43±3.632 ; p: 0.196). In 2 hours post operative PPT were prolonged in both groups but were not significantly different between groups ( K I : 13.17±1.202 ; K II: 13.60±1.648; p: 0.417). aPTT value in 2 hours post operative were significantly different between groups ( K I: 31.31±1.518; K II: 32.5667±3.899; p: 0.007). In 6 hours post operative, PPT K I were shortened ( 12.43±0.8314), but K II were still prolonged (13.793±1.384; p: 0.003). In aPTT, K I shortened (29.4533±1.465), as well as K II(34.74±3.967; p: 0.004) but the difference between groups were significant.Conclusion: Statistically, Tranexamic acid administration provide significant improvement the coagulation profile in patients given ketorolac.Keywords : Ketorolac, Tranexamic acid, PPT, aPTTABSTRAKLatar Belakang: Perdarahan intra operatif adalah salah satu tantangan dalam bidang anestesi. Penanganan perdarahan merupakan modalitas yang penting bagi ahli anestesi untuk mempertahankan keadaan pasien dalam homeostasis fisologis. Ketorolak adalah obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) yang sering digunakan sebagai analgesia intraoperatif maupun post operatif pada pasien bedah. Penggunaan OAINS sebagai analgesia paska bedah memiliki efek samping berupa gangguan pada fungsi hemostasis, salah satu manifestasinya adalah memperpanjang waktu perdarahan. Asam traneksamat dapat menurunkan jumlah perdarahan dan menghemat pemakaian faktor faktor koagulasi durante operasi, dan demikian diharapkan akan memperbaiki profil koagulasi (PPT dan aPTT)pasien yang mendapatkan ketorolak.Tujuan: Mengetahui pengaruh pemberian asam traneksamat terhadap PPT dan aPTT pasien yang mendapatkan ketorolakMetode: Penelitian ini merupakan uji eksperimental klinis dengan desain acak tersamar di Instalasi Bedah Sentral (IBS) RSUP Dr. Kariadi Semarang. Sampel diambil dari pasien yang menjalani operasi menggunakan “simple random sampling”dan dibagi menjadi dua kelompok : Kelompok 1 (K1) diberikan diberikan ketorolak 30 mg iv dan Asam traneksamat 1 gram intravena; Kelompok 2 (K2) diberikan diberikan ketorolak 30 mg iv dan placebo. Pasien dinilai PPT dan aPTT sebelum operasi, 2 jam pasca operasi dan 6 jam pasca operasi. Analisis statistik dengan SPSS for Windows versi 16.Hasil: Pada periode pre operatif, rerata PPT kedua kelompok cenderung tidak berbeda bermakna (KI : 12.27±0.811detik ;K II: 12.89±1.041; p: 0.083), demikian pula aPTT pre operatif (K I: 30.01±2.060 detik ; K II: 31.43±3.632 ; p: 0.196). Pada 2 jam post operatif terjadi pemanjangan PPT pada kedua kelompok namun beda kedua kelompok tidak bermakna ( K I : 13.17±1.202 detik K II: 13.60±1.648; p: 0.417). Perbedaan nilai aPTT 2 jam pasca operasi kedua kelompok tersebut bermakna secara statistik ( K I: 31.31±1.518 detik K II: 32.5667±3.899; p: 0.007). Pada 6 jam pasca operasi, PPT K I memendek ( 12.43±0.8314), namun K II tetap memanjang (13.793±1.384; p: 0.003). Pada nilai aPTT, K I memendek (29.4533±1.465),K II (34.74±3.967; p: 0.004) .Simpulan: Pemberian asam traneksamat dapat memperbaiki studi koagulasi pasien yang mendapatkan ketorolak secara bermakna secara statisticKata kunci : Ketorolak, Asam traneksamat, PPT, aPTT
Pengaruh Simvastatin Terhadap Kadar Proliferasi Limfosit Mencit Balb/C yang Diinduce Sepsis dengan LPS Kharmayani, Made Ryan; Lutfi, Haris; Soesilowati, Danu
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 5, No 3 (2013): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Statin, inhibitor 3-hidroxy-3-methylglutaryl coenzyme A (HMG-CoA) reductase merupakan agen yang paling efektif dalam menurunkan lipid dan mempunyai efek pleiotrofik yaitu anti inflamatori dan immunomodulatori. Statin juga memodifikasi interaksi interseluler dan kemotaksis seluler pada sistem imun serta berpotensi mempengaruhi limfosit T dengan cara menghambat iinteraksi antara adhesi molekul seluler leukocyte function-associated antigen-1 (LFA-1) dan intercellular adhesion molecule-1 (ICAM-1), juga menurunkan interferon gamma (IFN -ɣ) yang berperan dalam ekspresi class II major histocompatibilty complex (MHC II) pada antigen precenting cells (APC) dan merupakan proses penting dalam aktivasi sel T. Penurunan ekspresi MHC II berakibat pada inhibisi aktivasi CD 4 limfosit, sehingga mengakibatkan penurunan diferensiasi T helper-1 (Th1) dan pelepasan sitokin proinflamasi juga menurun.Tujuan : Membuktikan efek simvastatin dosis bertingkat peroral pada mencit yang diberi LPS intraperitoneal terhadap penurunan kadar proliferasi limfosit.Metode : Penelitian eksperimental laboratorik dengan desain randomized post test only controlled group pada 20 ekor mencit Balb/c yang disuntik lipopolisakarida 10 mg/KgBB intraperitoneal dan simvastatin dosis 0,03 mg, 0,06 mg dan 0,12 mg peroral. Mencit dibagi menjadi 4 kelompok secara random, yaitu K1 sebagai control,  K2 yang mendapat simvastatin 0,03 mg, K3 yang mendapat simvastatin 0,06 mg dan K4 yang mendapat simvastatin 0,12 mg. Pemeriksaan limfosit diambil dari kultur limpa setelah 72 jam pemberian simvastatin. Uji statistik yang digunakan adalah parametrik ANOVA dan dilanjutkan PosterioriHasil : Kadar rerata limfosit kelompok K1 (1,546 ± 0,106), K2 (0,541 ± 0,046), K3 (0,471 ± 0,013) dan K4 (0,553 ± 0,02). Terdapat penurunan kadar limfosit secara signifikan pada kelompok K2, K3 dan K4 dibanding K1 dengan p <0,05. Tidak terdapat perbedaan bermakna antara kadar limfosit kelompok K2 dengan kelompok K3 dan K4 ( p>0,05) tetapi didapatkan perbedaan bermakna antara kelompok K3 dibandingkan kelompok K4 ( p<0,05).Simpulan : Simvastatin secara signifikan menurunkan kadar proliferasi limfosit pada mencit yang diberi LPS intraperitoneal. Dosis 0,06 mg memiliki efek menekan kadar proliferasi limfosit paling besar.
Perbedaan Pemberian Midazolam dan Ketamin Terhadap PaCO2 dan HCO3 pada Pasien dengan Ventilator Istanto, Tatag; Primatika, Aria Dian; Leksana, Ery
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 5, No 3 (2013): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBackground:Sedation is given as much as 42-72% in patients treated in the Intensive Care Unit (ICU). Drugs that can be used, midazolam and ketamine, are different in terms of the effect on blood vessels.Objective : To find the difference in the value of PaCO2 and HCO3 via arterial blood gas analysis in patients at ICU who received midazolam as sedation compared with the use of ketamine.Methods: An experimental clinical randomized double-blind trial in patients using the ventilator in the ICU. Subjects (n: 28) were divided into 2 groups, K1 and K2, received ketamine and midazolam as sedation. Given for 24 hours with varying doses with a target depth of sedation of subjects on Ramsay Score 3. Then examined the value of blood gas analysis at 0, 6 and 24 hours.Results: Characteristics of the subjects age has a normal distribution of data. Results in comparison to 0 and 24 hours, groups of K1 and K2 on the value of HCO3 has a value of p = 0.565 (p> 0,05). And in PaCO2 values indicate significance at p = 0.12 (p> 0.05).Conclusion: There is no significant difference in PaCO2 dan HCO3 values when using ketamine and midazolam as sedation in subjects with ventilators between 0 to 24 hours.Keywords : midazolam, ketamine, sedation, ventilator, blood gas analysisABSTRAKLatar belakang: Sekitar 42 – 72% pasien yang dirawat di Unit Rawat Intensif (URI) diberikan sedasi. Obat yang digunakan yaitu midazolam dan ketamin, yang berbeda efeknya terhadap pembuluh darah.Tujuan: Mengetahui perbedaan nilai PaCO2 dan HCO3 darah arteri pasien yang dirawat di URI yang menerima midazolam dibandingkan dengan ketamin.Metode: Penelitian ini merupakan uji klinik eksperimental acak tersamar ganda pada subjek yang menggunakan ventilator di URI. Subjek (n : 28) dibagi menjadi K1 yang mendapat sedasi ketamin dan K2 yang mendapat midazolam. Sedasi diberikan selama 24 jam, dosis bervariasi, target Ramsay Score 3. Diperiksa nilai analisis gas darah pada jam ke- 0, 6 dan 24.Hasil: Hasil perbandingan pada jam ke- 0 dan ke- 24 kelompok K1 dan K2 nilai HCO3 p=0,565 (p>0,05). Nilai PaCO2 menunjukkan kemaknaan sebesar p=0,12 (p>0,05)Kesimpulan : Terdapat perbedaan yang tidak bermakna pada penggunaan ketamin maupun midazolam sebagai sedasi terhadap nilai PaCO2 dan HCO3 pada subjek yang menggunakan ventilator antara jam ke- 0 dan ke- 24.Kata kunci : midazolam, ketamin, sedasi, ventilator, analisis gas darah
Peran Plasmafaresis pada Terapi Pasien Sepsis dengan Myasthenia Gravis Imron, Ahmad; Aditianingsih, Dita
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 5, No 3 (2013): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBackground: Plasmapheresis is potential to remove harmful or toxic mediator from the circulation. Plasmapheresis have been showed significantly improve outcome in autoimmune disease. The theurapetic efficacy and safety of plasmapheresis in the treatment of the patient in the severe sepsis and septic shock have been studied.Case: A 18 years old female was diagnosed after respiratory failure due to myasthenia gravis and severe sepsis due to pneumonia. She was referred from other hospital after the failure of anticholinesterase drugs to treat the symptomp of myasthenia gravis. Chest x-ray showed infiltrates at paracardial and basal right lung. Therapy had been given during the ICU stay are antibiotic, supportive drugs, and plasmapheresis was performed for 4 times. After appropiate antibiotic had given and plasmapheresis had been performed, the patient showed improvement of the musclestrength. PatienT successfully weaned from ventilator at day-9, and return to the ward at day-10.Summary: Plasmapheresis plays important role in the treatment of myasthenia gravis with sepsis. Plasmapheresis is utilized to remove a variety of offending plasma pathogens, such as antibodies, abnormal immunoglobulins and circulating immune complexesKeywords : Myasthenia gravis, plasmapharesis, intensive careABSTRAKPendahuluan : Plasmapheresis berpotensi untuk menghilangkan mediator berbahaya atau beracun dari sirkulasi . Plasmapheresis telah menunjukkan peningkatan keluaran yang bermakna pada penyakit autoimun . Kemanjuran theurapetic dan keamanan plasmapheresis dalam pengobatan pasien di sepsis berat dan syok septik telah dipelajari .Kasus : Seorang perempuan berusia 18 tahun didiagnosis dengan gagal nafas karena myasthenia gravis dan sepsis berat akibat pneumonia . Dia dirujuk dari rumah sakit lain setelah kegagalan obat antikolinesterase untuk mengobati gejala dari myasthenia gravis. x foto thorax menunjukkan infiltrat di paru-paru kanan paracardial dan basal . Terapi yang diberikan selama di ICU adalah antibiotik , obat-obatan suportif, dan plasmapheresis dilakukan selama 4 kali . Setelah antibiotik yang sesuai diberikan dan plasmapheresis selesai, pasien menunjukkan perbaikan kekuatan otot. Pasien berhasil disapih dari ventilator pada hari ke - 9 , dan kembali ke bangsal di hari - 10 .Ringkasan : Plasmapheresis memainkan peran penting dalam pengobatan myasthenia gravis dengan sepsis . Plasmapheresis digunakan untuk menghapus berbagai factor pemicu dalam plasma , seperti antibodi , imunoglobulin abnormal dan kompleks imun dalam sirkulasiKata kunci : Myasthenia gravis, plasmapharesis, terapi intensif
Manajemen Anestesi pada Pasien dengan Kistoma Ovarii Permagna Sinantyanta, Hadyan; Gde Sujana, Ida Bagus
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 5, No 3 (2013): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background : Management of anesthesia in patients with cystoma ovarian permagna is a challenge because it requires careful preparation and have a high risk during the perioperative periodCase : A woman 25 years old attending with a growing abdomen experienced since the 15 months before admission, the patient complained of slight difficulty breathing. Activity began to decrease, difficult to walk. Patients with 109 cm abdominal circumference. Ultrasound examination showed a large cystoma with ascites . CT scan of the abdomen showed a large cystic mass with a size of 30,3 x 34,9 x42,1 cm with solid components are urging the intestine and the presence of hydronephrosis degrees IV and III in the left- right , minimal intraperitoneal ascites fluid.General Anesthesia were delivered by ET intubation. .  The surgery lasted for 2 hours, cystoma successfully removed intact ovary weighed 23 kg. Intraoperative bleeding patients about 500 ml , and 1600 ml of urine production. After 19 hours of observation in the intensive care unit was extubated . After the third day the patient is allowed to be treated in the room . Weight 30 kg patient in the room. Normal physical activity and without complaints of pain with VAS scale ( visual analog score) as silent as it moved 2 cm 0 cm . Patients were allowed to go home after day 8 post for outpatient surgery.Summary: Management of anesthesia has been conducted to a woman with cystoma ovarian permagna. The surgery was a great success and patient dismissed after day 8 post op. Pendahuluan : Manajemen anestesi pada pasien dengan kistoma ovarium permagna merupakan tantangan karena memerlukan persiapan yang cermat dan memiliki risiko tinggi selama periode perioperatif .Kasus :   Seorang wanita berusia 25 tahun datang dengan keluhan perut membesar  sejak 15 bulan sebelum masuk rumah sakit, pasien mengeluhkan kesulitan bernapas. Aktivitas mulai berkurang, terdapat kesulitan berjalan. Pasien memiliki lingkar perut 109 cm. Pemeriksaan USG menunjukkan kistoma besar dengan ascites. CT scan abdomen menunjukkan massa kistik besar dengan ukuran 30,3 x 34,9 x42 ,1 cm dengan komponen padat mendesak usus dan adanya hidronefrosis derajat IV dan III di kiri-kanan, cairan asites minimal intraperitoneal.Dilakukan anestesi dengan anestesi umum dengan intubasi. Operasi berlangsung selama 2 jam, kistoma berhasil diangkat secara utuh denganberat massa saat ditimbang 23 kg. Perdarahan intraoperatif sekitar 500 ml, dan produksi urin 1600 ml. Setelah 19 jam pengawasan di unit perawatan intensif, pasien diekstubasi. Setelah hari ketiga pasien dirawat di ruangan. Berat pasien 30 kgdiruangan. Aktivitas fisik normal dan tanpa keluhan nyeri dengan skala VAS ( skor analog visual) saat diam dan saat bergerak 2 cm 0 cm. Pasien diijinkan pulang ke rumah setelah hari ke-8 pasca operasi untuk rawat jalan.Ringkasan: Manajemen anestesi telah dilakukan pada wanita dengan kistoma ovarium permagna.Operasi berjalan sukses dan pasien diperbolehkan pulang ke rumah setelah hari ke-8 pasca operasi untuk rawat jalan
Pengaruh Pemberian Parecoxib Terhadap Kadar Il-6 dan Intensitas Nyeri Pascabedah Laparotomi Ginekologi Haeruddin, Heriady; Ahmad, Muhammad Ramli
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 5, No 2 (2013): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background : Post operative pain still an issue in the post operative management.Approximately 80% patients undergo surgery has had acute post operative pain whichhipothetically mediated by interleukin 6 (IL-6): a proinflamation cytokine that hasimportant role in pain physiology. Objective : The aim of this research is to measure Interleukin 6 (IL-6) concentration andpost operative pain intensity in the use of combination Parecoxib 40 mg intravenouswith epidural analgesic bupivakain and fentanyl for patients undergo gyneacologylaparotomy. Methods : This is an experimental research using double blind random technique.Total sample 50, which divided into 2 groups consist of 25 subjects each which haddone gyneacologic laparotomy. One group had Parecoxib 40 mg before surgery and12 hours after surgery, while the control group had placebo. Both of groups hadepidural analgesic using bupivacain 0,5% and fentanyl, and post operative analgesiccontinuous with bupivacain 0,125% and fentanyl 2 ug/ml 5 ml/hour. The painasessment using NRS chart at 2, 12, and 24 hours post operative. Result : IL-6 serum on both groups had elevation with the peak level on 24 hours postoperative. No significant difference in IL-6 serum elevation (p>0,05). No differencealso in assessment post operative pain scale using NRS chart in both groups. Conclusion : Analgesic combination between Parecoxib 40 mg IV with epiduralanalgesic bupivacain 0,125% can’t lower IL-6 patient serum who undergogynecologic laparotomy. Latar Belakang : Nyeri pascabedah masih merupakan masalah dalam periodepascabedah. Sekitar 80% pasien yang menjalani pembedahan mengalami nyeri akutpascabedah. Interleukin-6 (IL-6) merupakan sitokin proinflamasi yang berperanpenting dalam fisiologi nyeri. Tujuan : Penelitian ini bertujuan mengukur kadar IL-6 dan intensitas nyeripascabedah pada penggunaan kombinasi Parecoxib 40 mg intravena dengananalgesia epidural bupivacain dan fentanyl pada pasien yang menjalani laparotomiginekologi. Metode : Dilakukan penelitian eksperimental secara acak pada 50 pasien yang dibagimenjadi dua kelompok, masing-masing 25 subyek yang menjalani bedah laparotomiginekologi. Sebelum dan 12 jam setelah pembedahan Kelompok Parecoxibmendapatkan Parecoxib 40 mg sedangkan Kelompok Kontrol mendapatkan plasebo.Pada kedua kelompok mendapatkan anestesi selama pembedahan dengan anestesiepidural bupivacain 0,5% dan fentanyl dilanjutkan analgesia epidural pascabedahkontinu dengan bupivacain 0,125% dan fentanyl 2 ug/ml 5 ml/jam. Penilaian nyeridengan NRS diam bergerak dan dilakukan pada 2 jam, 12 jam, dan 24 jampascabedah. Hasil : Pada IL-6 serum pada kedua kelompok mengalami peningkatan dengan kadarpuncak pada pengukuran 24 jam pascabedah. Tidak ada perbedaan peningkatankadar IL-6 antara kedua kelompok (p>0,05). Demikian pula pada penilaian skalanyeri dengan NRS diam dan bergerak, tidak ditemukan perbedaan antara keduakelompok. Kesimpulan : Kombinasi analgesia parecoxib 40 mg iv dengan analgesia epiduralbupivacain 0,125% tidak dapat menurunkan kadar IL-6 serum pada pasien yangmenjalani laparotomi ginekologi.
Efek Dexmedetomidine 0,2 ug/kgbb Intravena terhadap Insiden Delirium saat Pulih Sadar dari Anestesi Umum pada Pasien Pediatrik Hendrawan, Cahya; Arif, Syafri Kamsul
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 5, No 2 (2013): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background : Dexmedetomidine gives sedation effect, analgesic and anxiolitik afterintravenous administration. Isoflurane and Sevoflurane associated with delirium effectwhen awakening from general anesthesia. This research using placebo as control, weevaluate delirium effect from single dose dexmedetomidine when awakening fromgeneral anesthesia with Isoflurane as inhalation agent in pediatric patients whomundergo elective operation. Method : This is a double blind research. There are 46 children (age 3-10 years old)selected randomly had dexmedetomidin 0,2 ug/kg weight or placebo before the surgeryended. One hour after surgery, we evaluate delirium score. We noted ekstubation time,awakening, and side effect from dexmedetomidin. We also asessed post operative painusing objective pain scale (OPS). Result : The delirium effect when awakening from general anesthesia in the groupgiven dexmedetomidine are better than the placebo group (P<0,05). Post operativepain are similar in both groups. Ekstubation time and awakening time inDexmedetomidin group are longer than placebo group, but not qualified statistically.No side effect (hypotension and bradicardia) in both groups. Conclusion : We conclude that dexmedetomidine 0,2 ug/kgBB intravenous proven tominimize delirium incidens when awakening from general anesthesia with isofluranewith childen undergo elective surgery. Latar Belakang : Dexmedetomidine memberikan efek sedasi, analgesia, dan anxiolitiksetelah pemberian intravena. Isofluran dan sevofluran dihubungkan dengan angkakejadian delirium saat pulih sadar dari anestesi umum pada pasien pediatrik. Padapenelitian dengan menggunakan placebo sebagai kontrol, kami mengevaluasi efek daridosis tunggal dexmedetomidine pada delirium saat pulih sadar dari anestesi umumpada pasien pediatrik yang menjalani pembedahan elektif menggunakan anestesiumum dengan isofluran. Metode : Pada penelitian acak tersamar ganda ini , 46 anak (usia 3-10 tahun) dipilihsecara acak mendapatkan dexmedetomidin 0,2ug/kgBB atau placebo pada akhirpembedahan. Semua pasien mendapatkan obat anestesi yang standar. Setelahpembedahan, nilai delirium saat pulih sadar dari anestesi umum diukur sampai 1 jampascabedah. Waktu ekstubasi, waktu pulih sadar, dan efek samping daridexmedetomidine dicatat. Setelah pembedahan nyeri pasien diukur denganmenggunakan objective pain scale (OPS) . Hasil : Nilai delirium saat pulih sadar dari anestesi umum pada kelompokdexmedetomidine lebih baik daripada kelompok placebo (P<0,05). Nilai nyeri samapada kedua kelompok (P>0,05). Waktu ekstubasi dan waktu pulih sadar lebih panjangpada kelompok dexmedetomidin tetapi tidak bermakna secara statistik (P>0,05). Tidakada efek samping (hipotensi dan bradikardi) pada kedua kelompok. Kesimpulan : Kami menyimpulkan bahwa Dexmedetomidine 0,2ug/kgBB intravenadapat mengurangi insiden delirium saat pulih sadar dari anestesi umum denganisofluran pada anak yang menjalani pembedahan elektif.
Perbedaan Pengaruh HES 6% (200) Dalam NaCl 0,9% dan Dalam Larutan Berimbang pada Base Excess dan Strong Ion Difference Pasien Seksio Sesaria dengan Anestesi Spinal Hasyim, Djatun; Samodro, Ratn; Sasongko, Himawan; Leksana, Ery
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 5, No 2 (2013): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background : On cesarean section with spinal anesthesia, colloid administration aspreload is more effective than crystalloid. This preload using colloid with its differentsolvent has its own effect to the acid base balance. Therefore the use of colloid-solvent-based-on is being improved. Objectives : to analyze the effect of HES 6% in balanced solution with HES 6% in NaCl0,9% on Base Excess (BE) and Strong Ion Difference (SID) on cesarean sectionpatients with spinal anesthesia.Method: this is an experimental clinical trial, double blind randomized withconsecutive sampling, divided into two groups (n=12), HES 6% in balanced solutionand HES 6% in NaCl 0,9%. Statistical analysis were performed with SPSS forWindows version 16. Result : Group HES 6% in NaCl 0,9% has significant difference for BE before andafter administration (p < 0,05). While BE before and after administration on HES 6%in balanced solution has insignificant difference (p > 0,05). Group HES 6% in NaCl0,9% has significant difference for SID before and after administration (p < 0,05).While SID before and after administration on HES 6% in balanced solution hasinsignificant difference (p > 0,05). Conclusion : there are significant declination of BE and SID on group of HES 6% inNaCl 0,9% than on group of HES 6% in balanced solution.  Latar belakang : Pada bedah sesar dengan anestesi spinal, pemilihan koloid sebagaicairan preload lebih efektif ketimbang kristaloid. Pemberian cairan koloid denganpelarut yang berbeda sebagai preload ini memiliki dampak terhadap keseimbanganasam basa tubuh. Sehingga pemilihan koloid berdasarkan pelarutnya mulaidipertimbangkan. Tujuan : Melihat pengaruh pemberian HES 6% dalam larutan berimbang dengan HES6% dalam NaC1 0,9% terhadap Base Excess (BE) dan Strong Ion Difference (SID)pada pasien bedah sesar dengan anestesi spinal. Metode : Merupakan uji klinik eksperimental yang dilakukan secara acak tersamarganda, dengan consecutive sampling, dibagi menjadi 2 kelompok (n=12) yaitukelompok HES 6% dalam larutan berimbang dan HES 6% dalam NaC1 0,9%. Ujistatistik untuk membandingkan nilai BE dan SID pada masing-masing kelompokmenggunakan SPSS for Windows versi 16. Hasil : Nilai BE sebelum dan sesudah perlakuan pada kelompok HES 6% dalam NaCI0,9%, memiliki perbedaan yang bermakna (p < 0,05). Sedangkan nilai BE sebelumdan sesudah perlakuan pada kelompok HES 6% dalam larutan berimbang memilikiperbedaan yang tidak bermakna (p > 0,05). Nilai SID sebelum dan sesudah perlakuanpada kelompok HES 6% dalam NaC1 0,9%, memiliki perbedaan yang bermakna (p0,05). Sedangkan nilai SID sebelum dan sesudah perlakuan pada kelompok HES 6%dalam larutan berimbang memiliki perbedaan yang tidak bermakna (p > 0,05). Kesimpulan : Terdapat penurunan BE dan SID secara bermakna pada kelompok HES6% dalam NaC1 0,9% dibanding pada kelompok HES 6% dalam larutan berimbang.
Pengaruh Premedikasi Klonidin terhadap Interval Q-Tc dan Skor Rate Pressure Product pada Laringoskopi Intubasi Noor, Fajrian; Hidayat, Soni; Witjaksono, Witjaksono; Budiono, Uripno
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 5, No 2 (2013): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background : Endotracheal intubation laryngoscopy is an act done in generalanesthesia. Laryngoscopy and intubation actions than can cause trauma, can alsocause cardiovascular changes in the form of increased blood pressure, increased heartrate, increased scores rate pressure product (RPP) which increased cardiac oxygendemand and Q-Tc interval prolongation by sympathetic stimulation caused bylaryngoscopy intubation. Role of clonidine premedication administration aims toreduce cardiovascular changes of decreased blood pressure and decreased heart rate. Objective : This study aimed to study the effect of oral clonidine tablets for bloodpressure, heart rate, Q-Tc interval and score rate pressure product (RPP) duringlaryngoscopy intubation Methods : Forty-eight subjects aged 14-40 years with ASA physical status I and II, withno sign of trouble intubation were randomly divided into groups of clonidine (KI) andthe control group (K II). KI group get oral clonidine premedication 0.15 mg 2 hoursbefore surgery, while K2 placebo. Both groups received the same treatment aslaryngoscopy intubation. Blood pressure, heart rate, Q-Tc interval and RPP score iscalculated at 2 minutes post-induction, 2 min and 5 min after intubation laryngoscopy. Results : heart rate, RPP Score and QTc intervals did not differ significantly betweenthe two groups. However blood pressure in the clonidine group was significantly lowerin the clonidine group. Conclusions : Premedication with oral clonidine 0.15 mg dose did not affect the Q-Tcinterval, RPP scores, and heart rate were significantly laryngoscopy intubation inadult patients. Latar belakang : Laringoskopi intubasi endotrakea merupakan tindakan yang banyakdilakukan pada anestesi umum tindakan laringoskopi dan intubasi selain dapatmenimbulkan trauma, juga dapat menimbulkan gejolak kardiovaskuler berupapeningkatan tekanan darah, peningkatan laju jantung, peningkatan score ratepressure product (RPP) yaitu peningkatan kebutuhan oksigen jantung danpemanjangan interval Q-Tc oleh stimulasi simpatik akibat laringoskopi intubasiPeran pemberian premedikasi klonidin bertujuan untuk mengurangi gejolakkardiovaskuler berupa penurunan tekanan darah dan penurunan laju jantung. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh pemberian klonidintablet oral terhadap tekanan darah, laju jantung, interval Q-Tc dan skor rate pressureproduct (RPP) saat laringoskopi intubasi. Metode : Empat puluh delapan subjek berusia 14-40 tahun dengan status fisik ASA Idan II, tanpa tanda kesulitan intubasi dibagi secara acak menjadi kelompok klonidin(K I) dan kelompok kontrol (K II). Kelompok KI mendapatkan premedikasi klonidinoral 0,15 mg 2 jam sebelum operasi sedangkan K2 mendapatkan plasebo. Keduakelompok mendapatkan perlakuan yang sama saat laringoskopi intubasi. Tekanandarah, laju jantung, interval Q-Tc dan skor RPP dihitung pada 2 menit pasca induksi,2 menit dan 5 menit pasca laringoskopi intubasi. Hasil : Laju jantung, Skor RPP dan interval QTc tidak berbeda bermakna antarakedua kelompok . Akan tetapi tekanan darah pada kelompok klonidin secara bermaknalebih rendah pada kelompok klonidin Simpulan : Premedikasi klonidin oral pada dosis 0,15 mg tidak mempengaruhiinterval Q-Tc, skor RPP, dan laju jantung secara bermakna pada laringoskopiintubasi pasien dewasa.
Pengaruh Induksi Propofol dan Ketamin terhadap Kadar Procalcitonin Plasma Rofiq, Aunun; Arifin, Johan; Witjaksono, Witjaksono
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 5, No 2 (2013): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBackground: Procalcitonin used as one of the inflammatory response to infection.Induction of anesthesia used drugs known to affect the increase in procalcitoninObjective: Determine the effect of differences in propofol and ketamine on levels ofprocalcitonin in general anesthesiaMethod: a quasi experimental study on 16 subjects who performed general anesthesia.The samples were divided into 2 groups each of 8 samples, group 1 and 2 get a dose ofpropofol 2.5 mg / kg intravenous or ketamine 2 mg / kg intravenous as an anestheticinduction drugs. anesthesia were mainained with O2 and N2O with a ratio of 50%:50%. Subject blood samples were taken before induction, 4 hours and 24 hoursfollowing induction.Results: There were significant difference in procalcitonin levels before and aftertreatment in the propofol group (K1) (p = 0.008) and no significant difference in theketamine group (K2) (p = 1,00). Procalcitonin levels amid values K1 and K2 were0.175 ± 0.1 and 0.05 ± 0.05. Propofol causes marked elevated levels of procalcitonincompared to ketamine (p = 0.053)Conclusion: Propofol significantly increased procalcitonin levels compared toketamineKeywords : propofol, ketamine, procalcitonin, general anesthesiaABSTRAKLatar belakang: Procalcitonin merupakan salah satu petanda respon inflamasiterhadap infeksi. Obat induksi anestesi dapat mempengaruhi kadar procalcitoninplasma.Tujuan: Menilai pengaruh propofol dan ketamin terhadap kadar procalcitonin dalaminduksi general anestesiMetode: Studi quasi experimental terhadap 16 subjek yang menjalani generalanestesi. Sampel dibagi menjadi grup 1 yang mendapatkan propofol dengan dosis2,5 mg/kgbb intravena dan grup 2 yang mendapatkan ketamin dengan dosis 2 mg/kgbbintravena sebagai obat induksi anestesi selama prosedur penelitian, anestesi rumatanO2 dan N2O dengan rasio 50%:50%. Sampel darah subjek diambil sebelum induksi,jam ke-4 dan jam ke -24.Hasil: Didapatkan perbedaaan kadar procalcitonin bermakna sebelum dan sesudahperlakuan pada kelompok propofol (K1) (p=0,008) dan perbedaan tidak bermaknapada kelompok ketamin (K2) (p=1,00). Nilai tengah kadar procalcitonin K1 dan K2adalah 0,175±0,1 dan 0,05±0,05. Propofol menyebabkan peningkatan kadarprocalcitonin lebih tinggi dibandingkan ketamin (p=0,053)Kesimpulan : Propofol secara bermakna meningkatkan kadar procalcitonindibandingkan ketamin

Page 3 of 21 | Total Record : 208


Filter by Year

2009 2019


Filter By Issues
All Issue Vol 11, No 2 (2019): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 11, No 1 (2019): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 10, No 3 (2018): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 10, No 2 (2018): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 10, No 3 (2018): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 10, No 2 (2018): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 10, No 1 (2018): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 9, No 3 (2017): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 9, No 2 (2017): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 9, No 1 (2017): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 8, No 3 (2016): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 8, No 2 (2016): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 8, No 1 (2016): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 7, No 3 (2015): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 7, No 2 (2015): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 7, No 1 (2015): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 6, No 3 (2014): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 6, No 2 (2014): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 6, No 1 (2014): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 5, No 3 (2013): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 5, No 2 (2013): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 5, No 1 (2013): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 4, No 3 (2012): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 4, No 2 (2012): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 4, No 1 (2012): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 3, No 3 (2011): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 3, No 2 (2011): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 3, No 1 (2011): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 2, No 3 (2010): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 2, No 2 (2010): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 2, No 1 (2010): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 1, No 3 (2009): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 1, No 2 (2009): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 1, No 1 (2009): Jurnal Anestesiologi Indonesia More Issue