cover
Filter by Year
Jurnal Anestesiologi Indonesia
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -
Jurnal Anestesiologi Indonesia (JAI) diterbitkan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) dan dikelola oleh Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (UNDIP) bekerjasama dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) cabang Jawa Tengah.
Articles
185
Articles
Perbandingan Waktu Pemberian Atrakurium Besylate Intravena 0,5 mg/kgbb 5 Detik dan 90 Detik Terhadap Peningkatan Nadi Saat Induksi Anestesi Umum di Rumah Sakit Saiful Anwar Malang

Santika, Suparno Adi, R.B, Djujuk, Karmini, Karmini

JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 7, No 1 (2015): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Latar Belakang : Atracurium besylate, merupakan obat pelumpuh otot nondepolarisasi kelas bisquaternary benzylisoquinolinium yang menghasilkan beberapa efek samping selama uji klinis luas di berbagai penelitian, berupa pelepasan histamin yang dikaitkan dengan refleks takikardia, hipotensi berat dan ruam pada pengamatan klinis. Beberapa kasus reaksi anafilaksis parah dilaporkan setelah injeksi atrakurium, menyebabkan komplikasi yang mengancam jiwa. Pemberian lambat injeksi Atrakurium besylate, menurunkan manifestasi refleks peningkatan nadi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui, perbandingan waktu pemberian Atrakurium besylate intravena dapat menurunkan tingkat kejadian peningkatan nadi saat induksi anestesi umum di RSSA Malang.Metode : Penelitian ini merupakan uji klinis tersamar tunggal, bersifat eksperimental. Pasien dengan kriteria klinis ASA I-II sejumlah 32 orang dilakukan randomisasi sederhana menjadi 2 kelompok P dan mendapatkan perlakuan pemberian Atrakurium besylate 0,5 mg/kgBB iv dalam waktu 5 detik. Kelompok lainya dilakukan pemberian Atrakurium besylate 0,5 mg/kgBB iv dalam waktu 90 detikHasil : Penelitian ini didapatkan, perbedaan peningkatan nadi yang bermakna secara statistik (p < 0,05), pada saat kelompok O dan P dibandingkan pada menit ke 3 (0,005) dan ke 4 (0,004), sedangkan pada menit ke 5 (0,210) tidak didapatkan perbedaan peningkatan nadi pasienKesimpulan :  Disimpulkan bahwa, pemberian Atrakurium besylate intravena 0,5 mg/kgBB dalam waktu 90 detik menurunkan tingkat terjadinya peningkatan nadi daripada pemberian dalam waktu 5 detik.

Manajemen Anestesi Operasi Total Tiroidektomi Menggunakan Target Controlled Infusion (TCI) Propofol dan Blok Pleksus Servikal Superfisial pada Pasien Karsinoma Tiroid dengan Metastasis Paru

Fachrian, Dedy, Istanto, Widya, Harahap, M Sofyan

JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 7, No 1 (2015): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Latar Belakang : Keganasan pada tiroid jarang terjadi, namun kanker tiroid merupakan keganasan endokrin yang paling sering terjadi. Kanker paru-paru muncul ketika terjadi mutasi genetik pada sel normal dalam paru-paru yang dapatbermetastasis ke seluruh tubuh atau juga dapat diakibatkan metastasis dari tempat lain, seperti payudara, tiroid, atau usus besar. Keganasan tiroid menimbulkan beberapa tantangan dalam tindakan anestesi yaitu kemungkinan kesulitan dalam pengelolaan jalan nafas dan kemungkinan terjadinya badai tiroid.Adanya massa pada paru menjadikan pengelolaan anestesi pada pasien ini menjadi lebih kompleks.Kasus : Wanita usia 36 tahun dengan karsinoma tiroid metastasis paru direncanakan tindakan total tiroidektomi. Dari pemeriksaan pra operasi didapatkan keluhan benjolan pada leher kanan sebesar bola bekel. Pasien berada dalam Kondisi eutiroid secara klinis dan laboratoris. Dari foto dada didapatkan massa dengan opasitas bentuk bulat, batas relatif tegas dengan kalsifikasi di tepinya pada hemithoraks kiri.Manajemen anestesi diawali dengan midazolam 2 mg sebagai premedikasi dilanjutkan dengan TCI Propofol target plasma 6 mcg/ml, Fentanyl 100 mcg dan Rocuronium 30 mg untuk induksi kemudian pasien diintubasi tanpa gejolak hemodinamik. Setelah itu, dilakukan blok pleksus servikal superfisial dengan bupivacaine konsentrasi 0,25% volume 10 cc di setiap sisi leher.Untukrumatantarget plasma TCI diturunkan menjadi 4 mcg/ml dan rocuronium intermiten.Ventilator dengan setting Pressure Cycle untuk menghindari hiperinflasi paru dengan O2 dan Air dengan perbandingan 1:1 tanpa menggunakan N2O dan Agen Anestesi Volatile. Operasi berlangsung selama 4 jam dengan hemodinamik stabil.Pada akhir operasi TCI Propofol diturunkan secara bertahap dan pasien diekstubasi setelah pernapasan spontan adekuat kemudian pasien kembali ke ruang perawatan.Ringkasan : Penggunaan kombinasi anestesi umum dengan intubasi menggunakan TCI Propofol dan blok servikalis superfisial dapat menjadi teknik anestesi pilihan pada kasus struma disertai tumor paru. Analgesi melalui blok pleksus servikal superfisial terbukti cukup memuaskan selama operasi.

Manajemen Anestesi pada bayi prematur dengan asosiasi VACTERL

Wibowo, Primartanto, Yahya, Corry Quando

JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 7, No 1 (2015): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Latar Belakang : Sindrom VACTERL merupakan kelainan kongenital yang melibatkan malformasi vertebra, atresia anal, anomali kardiovaskular, malformasi ginjal dan kelainan struktur pada tungkai. Manajemen anestesi pada pasien tersebut memiliki risiko mortalitas tinggi karena adanya anomali jantung dan ginjal yang dapat mempengaruhi status hemodinamik.Kasus : Dilaporkan penanganan anestesi pada bayi prematur berusia 28 minggu berat 1,795gr menjalani operasi kolonostomi atresia ani.  Frekuensi nadi 157x/menit, frekuensi napas 40x/menit, terdapat ronki pada kedua lapang paru dan murmur sistolik. Saturasi oksigen pasien 98% menggunakan nasal continuous positive airway pressure (NCPAP) fraksi inspirasi oksigen 40%.Induksi menggunakan 0,2 mg midazolam, 2 mg ketamin, 2 mcg FentanylR . Rapid sequence intubation diberikan ventilasi dengan oksigen 100% menggunakan sirkuit Jackson-Rees frekuensi pernapasan 50-60 kali/menit. Rumatan anestesi dilakukan menggunakan oksigen 100% 4 liter per menit dan 1 volume percent isofluran. Setelah penggunaan isofluran, pasien mengalami desaturasi hingga 92% dan bradikardia hingga 125 kali per menit. Isofluran dihentikan diganti denganketamin. Setelah hemodinamik stabil, insisi dimulai. Selama prosedur operasi, denyut jantung berkisar di 125-155 kali per menit dengan saturasi oksigen 98-100%. Lama operasi 95 menit. Post operasi dirawat di NICU. Pasien meninggal pada hari ke-12 perawatan pasca operasi di NICU.Ringkasan : Tata laksana anestesi pada pasien VACTERL terutama di fokuskan pada kelainan kardiovaskuler yang ada  dengan memperhatikan keseimbangan antara SVR dan PVR.

Pengaruh Diabetes Mellitus Gestasional Terhadap Sirkulasi Uteroplasenta

Isngadi, Isngadi, Sindharta, Redhy, Uyun, Yusmein, Rahardjo, Sri

JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 7, No 1 (2015): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Diabetes mellitus pada kehamilan (Gestational diabetes mellitus/GDM) adalah intoleransi glukosa yang ditemukan pertama kali pada masa kehamilan dan sering menimbulkan komplikasi pada ibu yang mengandung maupun janin yang dikandung. Beberapa organ pada GDM mengalami perubahan struktur dan perubahan fungsi termasuk disfungsi endothel mikrosirkulasi dan makrosirkulasi fetoplasenta. Endothelium-derived Relaxing Factors (EDRF) khususnya prostasiklin dan nitrik oksid berperan penting dalam mengontrol sirkulasi fetoplasental. Endothel vaskuler pasien GDM mengalami disfungsi, sehingga sintesa dan pelepasan prostasiklin dan nitrik oksid (NO) mengalami gangguan sehingga tonus arteria meningkat. Peningkatan tonus arteri yang menuju uterus akan menurunkan aliran darah uteroplasenta dan akhirnya menurunkan umbilical blood flow (UmBF). Endothel pembuluh darah merupakan target utama dari stress oksidatif. Sintesa NO merupakan mekanisme penting yang mendasari perubahan pembuluh darah sistemik dan pembuluh darah uterine selama kehamilan. Beberapa evidensi penelitian membuktikan peranan NO dan ADMA pada kehamilan normal dan insufiensi plasenta. Dengan berkembangnya pengetahuan akan mekanisme gangguan jalur ADMA-NO, pilihan tambahan untuk intervensi terapetik akan dapat ditemukan. Tatalaksana GDM secara umum adalah dengan pengaturan diet, latihan fisik selama tidak ada kontraindikasi, pengawasan dan kontrol gula darah, dan terapi farmakologi Berbagai penelitian lain terus berusaha menemukan terapi-terapi baru untuk memperbaiki endothel dan sirkulasi uteroplasenta pada pasien GDM.

Perbandingan Dosis Induksi dan Pemeliharaan Propofol Pada Operasi Onkologi Mayor yang Mendapatkan Pemedikasi Gabapentin dan Tanpa Gabapentin

Okta, Ida Bagus, Subagiartha, I Made, Wiryana, Made

JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 9, No 3 (2017): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.671 KB)

Abstract

Latar Belakang : Anestesi umum merupakan teknik anestesi yang paling sering dikerjakan dibandingkan dengan teknik anestesi lain. Total Intravena Anestesi menggunakan propofol telah dikembangkan secara luas, karena menurunnya angka insiden PONV, biaya anestesi yang lebih murah, dan waktu pulih yang cepat. Berbagai teknik, alat dan obat-obatan diteliti untuk mengurangi dosis propofol yang diperlukan durasi operasi karena efek samping propofol yang berbahaya, yang dikenal PRIS (Propofol Related Infusion Syndrome), yang dapat menyebabkan morbiditas dan mortalitas yang tinggi.   Tujuan : Untuk membandingkan dosis induksi dan pemeliharaan propofol yang diperlukan intraoperatif antara kelompok gabapentin dan kelompok kontrol. Selanjutnya hasil penelitian dapat digunakan secara umum dalam penggunaan gabapentin sebagai obat akut pada periode perioperatif.Metode : Penelitian ini adalah double blind clinical trial. Teknik penelitian ini dapat mengkontrol ekspektasi dan  manipulasi subjek penelitian terhadap prosedur penelitian sehingga dapat menghasilkan hasil yang valid dan terpercaya. Penelitian dibagi menjadi dua kelompok, kelompok gabapentin dan kelompok kontrol. 32 sampel tiap kelompok telah menjalani operasi onkologi mayor dengan teknik anestesi yang sama total intravena propofol dengan TCI. Hasil : Dosis induksi kelompok gabapentin memiliki 1,15 mg/kgbb dibandingkan dengan kelompok kontrol yang memiliki median 1,48 mg/kgbb (p < 0,001). Dosis pemeliharaan kelompok gabapentin memiliki median 93,27 mcg/kgbb/menit dibandingkan kelompok kontrol yang memiliki median 123,80 mcg/kgbb/menit (p < 0,001).Simpulan : Premedikasi oral gabapentin 600 mg efektif menurunkan dosis induksi dan pemeliharaan propofol yang digunakan pada teknik TIVA untuk menjaga operasi mayor onkologi. Selanjutnya premedikasi gabapentin dapat digeneralisir penggunaannya pada operasi lain untuk menurunkan kebutuhan propofol intraoperatif.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Migrasi Kateter Epidural

Purnomo, Heri Dwi, Rusman, Rio

JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 9, No 3 (2017): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Epidural kontinyu saat ini merupakan salah satu satu tekhnik regional anestesia yang mulai sering digunakan dalam praktek anesthesia sehari-hari. Dapat digunakan untuk anestesia tunggal dalam pembedahan, adjuvan anestesia umum, manajemen nyeri paska operasi serta menajemen nyeri kronis pada pasien keganasan. Salah satu permasalahan yang banyak dihadapi pada prosedur epidural kontinyu adalah kejadian migrasi kateter epidural keluar dari ruang epidural. Kateter pada awalnya telah berada di rongga epidural dan telah dikonfirmasi dengan teknik Loss of Resistence (LOR), hanging drop, ataupun dengan bantuan ultrasonografi. Karena pengaruh berbagai faktor, kateter epidural dapat berpindah dari tempat yang seharusnya. Hal ini tentu saja dapat mempengaruhi efektivitas anestesia dari epidural itu sendiri, serta dapat berakibat fatal bila obat lokal anestesi dalam jumlah tertentu masuk ke ruang lainnya melalui kateter yang telah bergeser ke ruang subarachnoid, intravaskuler, atau ruang subdural.Berbagai penyebab terjadinya migrasi kateter antara lain karena adanya perubahan posisi waktu pemasangan maupun aktifitas pasien, meningkatnya tekanan ruang epidural Oleh karena itu penting bagi seorang anestesiologi untuk mengetahui apa saja faktor-faktor yang bisa meningkatkan resiko migrasi kateter epidural dan bagaimana cara mencegahnya serta mengatasi komplikasi yang mungkin timbul. 

Akurasi Diagnostik Prokalsitonin Sebagai Penanda Serologis Untuk Membedakan Antara Sepsis Bakterial dan Sepsis Virus

Arif, Syafri Kamsul, Wahyuddin, A. Muh. Farid, Musba, A. Muh Takdir

JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 9, No 3 (2017): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Prokalsitonin merupakan penandadiagnostik yang baik pada sepsis khususnya sepsis yang disebabkan oleh bakteri. Penelitian ini bertujuan mengetahui sensitivitas, spesifisitas dan akurasi diagnostik prokalsitonin sebagai penandaserologis untuk membedakan antara sepsis bakterial dan virus pada pasien yang dirawat di Intensive Care Unit  (ICU) dan Infection Center (IC) RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo.Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain cross sectional menggunakan data sekunder rekam medik pasien sepsis yang dirawat di ICU dan IC RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo, periode 1 Januari 2014 sampai dengan 31 Agustus 2016. Data tersebut dianalisa dengan uji T Independent,  Mann Whitney and Chi-Square dimana terdapat 80 sampel yang memenuhi kriteria inklusi.Dari penelitian ini, terdapat perbedaan yang signifikan dari kadarprokalsitonin antara sepsis bacterial(60.89 ± 73.651 ng/ml) dan sepsis virus (1.12 ± 0.622 ng/ml). Berdasarkan analisis Receiver Operating Characteristic (ROC), area Under the Curve (AUC) dari prokalsitonin adalah 0.841 dengan interval 0.758–0.925 dan signifikansi 95%. Kadar ambang diagnostik terbaik prokalsitonin yang didapatkan pada penelitian ini adalah 1.60 sebagai cut off point (sensitivitas: 82,4%, spesifisitas: 65,2% dan akurasi: 88,7%) untuk membedakan sepsis bakterial dengan sepsis virus. Prokalsitonin memiliki sensitivitas, spesifisitas dan akurasi diagnostik yang baik sebagai pembeda anatar seosis bakterial dan sepsis virus.

Manajemen Anestesi Prosedur Fontan

Ridconi, Akhmad, Nugroho, Budi

JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 9, No 3 (2017): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

PendahuluanSingle ventricle merupakan kelainan jantung kongenital kompleks, dan seseorang yang hidup dengan kelainan ini akan disertai dengan sejumlah keterbatasan. Tanpa terapi bedah, univentrikel akan menjadi malapetaka. Prosedur Fontan merupakan teknik pembedahan terpilih yang dapat diterapkan pada pasien dengan single ventricle. Hasil prosedur Fontan dipengaruhi oleh beberapa faktor termasuk faktor, prosedur, pengelolaan, dan tekanan vena sisi kanan berangsur-angsur akan meningkat. Seiring dengan berjalannya waktu gagal jantung kanan akan mengalami penurunan fungsi sistem, meliputi peningkatan resistensi pembuluh darah pulmoner (PVR), peningkatan tekanan vena sistemik (SVR), low-cardiac output kronis, disfungsi ventrikel kanan, dan kegagalan prosedur perbaikan single ventricle. Presentasi KasusWanita 19 tahun dengan Double Outlet Right Ventricle, Ventricular Septal Defect, Pulmonal Stenosis, Patent Ductus Arteriosus, Bilateral Superior Vena Cava yang akan menjalani prosedur Fontan. KesimpulanProsedur Fontan akan meningkatkan usia harapan hidup pasien. Keberhasilan jangka panjang ditentukan oleh banyaknya komplikasi. Dalam kondisi tidak adanya ketaatan.

Perbandingan Efek Penambahan Neostigmin 50 µg dan 75 µg Pada Bupivakain Hiperbarik 0,5% 15 mg Terhadap Lama Kerja Blokade Sensorik dan Efek Samping Mual Muntah Pasca Operasi Anesti Spinal

Kristiyono, Totok, Tamtomo, Didik, Judin, Marthunus

JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 9, No 3 (2017): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Latar Belakang : anestesi spinal menggunakan bupivakain hiperbarik banyak dipakai pada operasi untuk pasien dengan berbagai kondisi klinik. Kerugian dari bupivakain hiperbarik adalah mula kerja lambat, kejadian mual-muntah dan hipotensi yang tinggi. Intratekal neostigmin dapat menghambat metabolisme dari sumsum tulang belakang, melepaskan  acetylcholine pada tulang belakang dan memproduksi analgesia. Penambahan intratekal neostigmin pada bupivakain menghasilkan analgesia dan mengurangi hipotensi. Tujuan : menganalisa penambahan dosis rendah neostigmin dengan hasil maksimal dan efek samping minimal antara dosis 50 µg dan 75 µg.Metode : penelitian menggunakan percobaan acak buta ganda terkontrol (Randomized Double Blind Controlled Trial) pada 36 pasien yang menjalani operasi dengan teknik anestesi spinal. Secara random subyek penelitian dikelompokkan menjadi dua yaitu kelompok A (penambahan neostigmin 50 mg) dan kelompok B (penambahan neostigmin 75mg). Pengambilan subyek penggunakan kriteria inklusi dan eksklusi, apabila subyek tidak kooperatif dan membutuhkan analgesik tambahan selama pembedahan dikeluarkan dari penelitian ini. Analisis data untuk data numerik menggunakan independent t-test, sedangkan data kategorik menggunakan chi-square, dengan tingkat kemaknaan 95% (p < 0,05, dikatakan bermakna secara statistik).Hasil : Dari hasil perhitungan statistik, lama kerja sensorik pada kedua kelompok tidak terdapat perbedaan bermakna (p > 0,05). Lama kerja sensorik pada kelompok neostigmin 50 mg yang ditambahkan pada bupivakain hiperbarik 0,5% 15 mg (197,78 ± 43,08 menit), sedangkan kelompok 75 mg yang ditambahkan pada bupivakain hiperbarik 0,5% 15 mg (195,17 ± 40,60 menit). Begitu juga lama kerja motorik kedua kelompok tidak terdapat perbedaan bermakna (p > 0,05), pada kelompok neostigmin 50 mg (249,83 ± 44,60 menit), sedangkankelompok neostigmin 75 mg (248,78 ± 33,28 menit). Namun mual dan muntah lebih sedikit pada penambahan neostigmin 50 mg yaitu mual 16,7% dan muntah 22,2% dibandingkan penambahan neostigmin 75 mg yaitu mual 83,3% dan muntah 77,8%.Kesimpulan : Efek penambahan neostigmin 50 mg pada bupivakain hiperbarik 0,5%.

Penanganan Perioperatif Pasien Penyakit Jantung Kongenital Dewasa dengan ASD, Suspek Hipertensi Pulmonal, LV Smallish

Wardhana, Wisnhu, Boom, Cindy Elfira

JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 9, No 2 (2017): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1125.307 KB)

Abstract

Penyakit jantung kongenital dewasa / grown-up congenital heart disease   (GUCH) yang menempati urutan teratas dengan insidensi 10% dari jantung kongenital asianotik pada dewasa adalah atrial septal defect (ASD). Terapi optimal ASD masih kontroversial. Operasi direkomendasikan pada pasien usia pertengahan dan usia tua dengan pintasan kiri ke kanan yang bermakna. Komorbid yang paling sering didapatkan pada defek kongenital pada usia dewasa muda adalah gangguan hemodinamik, hipertensi pulmonal, aritmia,  penyakit kardiovaskular dan penyakit resprasi. Dilaporkan pasien perempuan usia 29 tahun dengan atrial septal defect(ASD) dengan hipertensi pulmonaldan Left Ventricle (LV) Smallishyang dilakukan operasi penututupan defek atrial atau ASD closure. Persiapan preoperasi mencakup anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.Perubahan patologi utama adalah peningkatan resistensi vaskuler paru dan perubahan sekunder terhadap peningkatan aliran darah dari pintasan kiri ke kanan. Masalah yang dihadapi pada pasien  perioperasi ini adalah ukuran jantung kiri baik atrium maupun ventrikel kiri yang kecil memberikan dampak hemodinamik tidak stabil berupa aritmia dan pulmonal hipertensi saat dilakukan penutupan defek. Pemberianobat topangan jantung (nitroglyserin, milrinone, norepinephrine, adrenaline) dan pembuatan Patent Foramen Ovale (PFO) memberikan hasil hemodinamik yang stabil selama operasi dan  di ruang perawatan Intensive Care Unit (ICU).