cover
Filter by Year
Jurnal Anestesiologi Indonesia
Published by Universitas Diponegoro
Jurnal Anestesiologi Indonesia (JAI) diterbitkan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) dan dikelola oleh Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (UNDIP) bekerjasama dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) cabang Jawa Tengah.
Articles
185
Articles
Aplikasi Klinis Continuous Interscalene Blok

Basuki, Djudjuk R

JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 10, No 1 (2018): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Blok pleksus brakialis dimulai oleh Ansbro pada tahun 1946. Pada tahun 1999, Boezaart mempublikasi tehnik baru yaitu continuous interscalene block. Sebagian besar metode  ini memiliki kendala pada penempatan kateter yang tidak akurat atau dislokasi kateter. Continous Interscalene Block (CISB) adalah blok plexus brachial proximal di leher yang dapat dilakukan melalui pendekatan anterior atau posterior. Pendekatan anterior disebut juga True Continous Interscalene Block dan pendekatan posterior dikenal sebagai continous Cervikal Paravertebral Block. CISB diindikasikan untuk setelah pembedahan mayor bahu, clavicula lateral, acromiocalvicular join dan proksimal humerus serta  juga dapat digunakan untuk terapi nyeri kronik ekstremitas atas. Komplikasi Continous Interscalene Block (CISB) mirip dengan single ISB injeksi, meskipun insiden paralisis diafragma akibat blok nervus frenicus telah dilaporkan secara signikan berkurang. Dalam praktik rutin, interscalene blok dapat menggunakan bolus awal 10-15 ml obat anastesi lokal seperti rovipacaine 0,2-0,75 %.  Konsentrasi yang digunakan  tergantung pada faktor pasien, tujuan blok (analgesia atau anestesia), dan ada tidanya kateter. Jika terdapat kateter, dosis bolus awal bisa dikurangi dan anastesi lokal tambahan bisa disuntikkan melalui kateter. Infus kontinyu rovipacaine 0,2 % 4-10 ml/ jam dapat digunakan untuk analgesia pasca operasi. Penggunaan infus kontinyu bupivacaine 0,125 % dengan kecepatan 0,125 ml/kg per jam juga dapat mengatasi nyeri secara efisien.  Dibandingkan dengan teknik kontinyu, teknik PCRA (Patient control regional analgesia) dengan infus basal rendah 5 ml/jam bupivacaine ditambah dengan bolus 2,5 ml PCA dalam 30 menit dapat mengontrol nyeri dengan efisien, mengurangi penggunaan anestesi lokal 37% dan mengurangi efek samping.

Kesulitan “Weaning” pada Kasus Flail Chest Akibat Fraktur Sternum yang Tidak Teridentifikasi

Edwar, Pesta Parulian Maurid, Airlangga, Prananda Surya, Salinding, Agustina, Semedi, Bambang Pujo, Sylvaranto, Teguh, Rahardjo, Eddy

JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 10, No 1 (2018): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Latar Belakang:Trauma toraks menyebabkan 20% dari semua kematian akibat trauma. Salah satu yang memiliki morbiditas dan mortalitas tinggi adalah flail chestdan fraktur sternum merupakan sebagian kecil dari penyebab flail chest. Mengingat kejadiannya yang sangat jarang maka fraktur sternum sering menjadi jebakan diagnostik yang terlupakan pada flail chest.Laporan Kasus:Terdapat 2 kasus yang dilaporkan dengan trauma toraks. Kasus pertama adalah multitrauma dengan Injury Severity Score(ISS) 50, trauma kepala, trauma abdomen dan trauma ekstremitas. Setelah dilakukan stabilisasi hemodinamik selama 3 hari, pasien sulit disapih dari ventilasi mekanik. Setelah tidak ditemukan lagi sumber perdarahan dan hemodinamik stabil pasien segera disiapkan operasi daruratdan ditemukan penyebabnya adalah fraktur sternum yang tidak teridentifikasi sebelumnya. Kasus kedua adalah trauma toraks dengan ISS 17, secara klinis tampak flail chestdan foto toraks antero-posterior yang normal. Setelah dilanjutkan CT scantoraks ditemukan fraktur sternum yang menyebabkan  pernafasan tidak adekuat. Segera dilakukan fiksasi eksternal dan hasilnya  memuaskan.Diskusi: Fraktur sternum seringkali disebabkan oleh mekanisme trauma toraks anterior yang berat dan dapat menimbulkan manifestasi flail chestsehingga dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas terlebih lagi bila disertai adanya trauma pada sistem organ lain serta penggunaan ventilator mekanik jangka panjang dan sepsis. Kejadian fraktur sternum sangat jarang dan foto toraks lateral pada kasus trauma juga jarang dilakukan sehingga seringkali fraktur sternum tidak teridentifikasi. Dengan mengetahui mekanisme trauma, gejala klinis yang tidak sesuai dengan gambaran foto toraks antero-posterior dan sulitnya penyapihan dari ventilasi mekanik  maka penggunaan ultrasonografi untuk skrining diharapkan dapat membantu menghindari jebakan terlambatnya identifikasi fraktur sternum.Kesimpulan:Pada trauma toraks dengan adanya fail chest, diagnostik dini diikuti fiksasi eksternal akan mengurangi morbiditas dan mortalitas pada pasien fraktur sternum.

Tatalaksana Pasien Sepsis dengan Sindroma Cushing Iatrogenik Eksogen

Ardiyan, Ardiyan, Aditianingsih, Dita

JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 10, No 1 (2018): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Sepsis adalah disfungsi organ mengancam nyawa akibat ketidakseimbangan respon tubuh terhadap infeksi. Kerentanan terhadap infeksi berat pada penderita penyakit autoimun maupun immunokompromais disebabkan konsumsi obat dan terapi yang dijalani. Pemberian atau penggunaan kortikosteroid dosis tinggi dan lama seperti hiperkortisolisme atau sindrom Cushing meningkatkan kerentanan terhadap infeksi Pasien imunokompromis berisiko tinggi mengalami infeksi patogen serta infeksi oportunistik oleh mikroorganisme virulen. Infeksi merupakan faktor predisposisi terjadinya peningkatan respon kompromi sistemik tubuh dalam kondisi sepsis dan syok sepsis. Kasus ini melaporkan seorang pasien berusia 24 tahun dengan sepsis akibat pneumonia yang diperberat oleh sindroma Cushing iatrogenic akibat steroid yang dikonsumsi dalam waktu lama, menyebabkan sulitnya perawatan serta prognosis yang buruk.

Peran Angiografi Pada Emboli Paru

Lubis, Bastian, Nasution, Akhyar H, Magdalena, Bellinda, Purwaamidjaja, Dis Bima

JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 10, No 1 (2018): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Latar belakang: Emboli paru sering tidak terdeteksi karena gejalanya tidak spesifik dan tidak dapat dicegah.  Angka kematian PE berkisar 100.000 hingga 200.000 kematian di Amerika Serikat.  Bahkan angka ini dapat bertambah bila tidak ditangani segera.  Dibutuhkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan alat peneunjang seperti EKG, foto thorak, D dimer, fibrinogen, ekokardiografi dan prosedure yang canggih seperti CT angiografi.Kasus: Ada 4 kasus yang dilaporkan.  Kasus pertama, kedua dan ketiga terjadi emboli paru setelah post operasi.  Kami menggunakan skoring Wells dan Geneva untuk mendukung diagnosis emboli paru.  Sedangkan kasus keempat berbeda, dengan menggunakan D-dimer, desaturasi dan peningkatan jantung kanan merupakan tanda emboli di paru.Diskusi: Angka kecacatan emboli paru dapat menurun dengan diagnosis yang cepat dan pengobatan yang baik. Pengobatan yang tepat menggunakan heparin atau streptokinase bahkan DSA merupakan modalitas bila terjadi emboli massive.

Aplikasi klinis Continous Interscalene Block

Basuki, Djujuk R

JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 10, No 1 (2018): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Blok pleksus brakialis dimulai oleh Ansbro pada tahun 1946. Pada tahun 1999, Boezaart mempublikasi tehnik baru yaitu continuous interscalene block. Sebagian besar metode  ini memiliki kendala pada penempatan kateter yang tidak akurat atau dislokasi kateter. Continous Interscalene Block (CISB) adalah blok plexus brachial proximal di leher yang dapat dilakukan melalui pendekatan anterior atau posterior. Pendekatan anterior disebut juga True Continous Interscalene Block dan pendekatan posterior dikenal sebagai continous Cervikal Paravertebral Block. CISB diindikasikan untuk setelah pembedahan mayor bahu, clavicula lateral, acromiocalvicular join dan proksimal humerus serta  juga dapat digunakan untuk terapi nyeri kronik ekstremitas atas. Komplikasi Continous Interscalene Block (CISB) mirip dengan single ISB injeksi, meskipun insiden paralisis diafragma akibat blok nervus frenicus telah dilaporkan secara signikan berkurang.Dalam praktik rutin, interscalene blok dapat menggunakan bolus awal 10-15 ml obat anastesi lokal seperti rovipacaine 0,2-0,75 %.  Konsentrasi yang digunakan  tergantung pada faktor pasien, tujuan blok (analgesia atau anestesia), dan ada tidanya kateter. Jika terdapat kateter, dosis bolus awal bisa dikurangi dan anastesi lokal tambahan bisa disuntikkan melalui kateter. Infus kontinyu rovipacaine 0,2 % 4-10 ml/ jam dapat digunakan untuk analgesia pasca operasi. Penggunaan infus kontinyu bupivacaine 0,125 % dengan kecepatan 0,125 ml/kg per jam juga dapat mengatasi nyeri secara efisien.  Dibandingkan dengan teknik kontinyu, teknik PCRA (Patient control regional analgesia) dengan infus basal rendah 5 ml/jam bupivacaine ditambah dengan bolus kecil PCA 2,5 ml/30 menit dapat memberikan kontrol nyeri yang efisien, tetapi konsumsi lokal anastesi berkurang 37 % dan efek sampingnya rendah.

Operasi Payudara dengan Anestesi Spinal Lumbar

Sudrajat, Mohammad, Harahap, Moh Sofyan, Sutiyono, Doso

JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 10, No 1 (2018): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Anestesi umum adalah pilihan anestesi untuk operasi payudara seperti mastektomi. Namun, pasien dengan metastasis paru, fungsi paru yang buruk memiliki risiko tinggi untuk mortalitas dan morbiditas perioperatif karena komplikasi paru akibat anestesi umum. Teknik alternatif  harus dipertimbangkan untuk pasien dengan masalah paru, seperti metastasis tumor dan atelektasis, serta untuk pasien yang menolak prosedur anestesi umum. Anestesi spinal, salah satu teknik sederhana dan terkenal, bisa diambil sebagai alternatif untuk operasi payudara. Kami melaporkan tiga kasus operasi payudara dengan anestesi spinal lumbal, tanpa reaksi / masalah yang merugikan, dan pasien puas dengan teknik yang diterapkan.

Sepsis dan Tata Laksana Berdasar Guideline Terbaru

Irvan, Irvan, Febyan, Febyan, Suparto, Suparto

JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 10, No 1 (2018): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Istilah Sepsis menurut konsensus terbaru adalah keadaan disfungsi organ yang mengancam jiwa yang disebabkan karena disregulasi respon tubuh terhadap infeksi. Penggunaan kriteria SIRS untuk mengidentifikasi sepsis dianggap tidak membantu lagi. Kriteria SIRS tidak menggambarkan adanya respon disregulasi yang mengancam jiwa. Disfungsi organ didiagnosis apabila peningkatan skor SOFA ≥ 2. Dan istilah sepsis berat sudah tidak digunakan. Septik syok didefinisikan sebagai keadaan sepsis dimana abnormalitas sirkulasi dan metabolik yang terjadi dapat menyebabkan kematian secara signifikan. Dalam protokol yang dikeluarkan pada tahun 2016, target resusitasi EGDT dihilangkan, dan merekomendasikan terapi cairan kristaloid minimal sebesar 30 ml/kgBB dalam 3 jam atau kurang.

Efek Pemberian Midazolam atau Propofol Terhadap Lama Penggunaan Ventilator Mekanik di ICU RSUP Dr. Kariadi

Nugroho, Rio Kristian, Aisyahani, Aisyahani, Leksana, Ery, Pujo, Jati Listiyanto

JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 10, No 1 (2018): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Pendahuluan : Sedasi di ruang intensif dapat memperbaiki outcome perawatan dan membuat pasien lebih nyaman, namun juga berpotensi memperpanjang durasi ventilasi mekanik dan length of stay (LOS). Obat yang saat ini sering digunakan adalah midazolam, namun durasi kerja midazolam dapat memanjang pada pasien dengan gagal fungsi organ. Propofol adalah obat sedasi dengan klirens tinggi dan tanpa metabolit aktif yang dapat digunakan untuk memperpendek durasi ventilasi mekanik dan LOS pasien. Membandingkan durasi ventilasi mekanik dan biaya sedasi pada pasien pascabedah di ruang intensif yang disedasi menggunakan midazolam dan propofol.Metode : Dilakukan penelitian obser vasional dengan desain cross-sectional terhadap 30 pasien pascabedah dengan ventilator di ICU yang dibagi menjadi 2 kelompok secara acak, masing-masing kelompok terdiri dari 15 pasien. Kelompok I mendapat midazolam bolus 0,02-0,08 mg/kg IV, dilanjutkan infus kontinyu dosis 0,04-0,2 mg/kg/jam. Kelompok II mendapat Propofol bolus 1,5-2,5 mg/kg IV, dilanjutkan infus kontinyu dosis 5-80 μg/kg/menit. Target skor RASS adalah -1 sampai -2, yang dipantau 1 jam pascasedasi, dilanjutkan tiap 4 jam setelahnya. Pencatatan dilakukan terhadap durasi ventilator mekanik, rerata skor RASS, dan biaya sedasi.Hasil : Penelitian ini menunjukan bahwa dur asi ventilasi mekanik dan biaya sedasi pada kelompok propofol lebih rendah daripada midazolam, namun perbedaannya tidak bermakna dengan nilai p≤0,05.Kesimpulan : Sedasi pasien pascabedah dengan ventilator di r uang intensif dengan propofol lebih efektif dalam mengurangi durasi ventilasi mekanik dan biaya sedasi daripada midazolam, namun tidak berbeda bermakna.

Pengaruh Pemberian Minuman Karbohidrat Dan Protein Whey Pra Operasi Terhadap Kadar C- Reactive Protein Pasca Operasi Pada Pasien Mastektomi

Endrianto, Edwin Santoso, Primatika, Aria Dian, Pujo, Jati Listiyanto

JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 7, No 1 (2015): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Latar belakang : CRP adalah protein fase akut yang kadarnya dalam darah sangat berkaitan erat dengan respon inflamasi akut yang terjadi.Tindakan pembedahan dan puasa yang berkepanjangan menyebabkan pelepasan sitokin-sitokin  proinflamasi dan  mediator inflamasifaseakut melalui proses yang rumit.Tujuan : Membuktikan pengaruh pemberian minuman karbohidrat dan protein whey praoperasi terhadap kadar CRP pascaoperasi pada pasien mastektomi.Metode : Penelitian jenis uji klinis acak terkontrol. Sampel penelitian sebanyak 26 dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok perlakuan (13 sampel) diberikan 400 mL minuman karbohidrat dan protein whey malam sebelum operasi dan 200 mL 4 jam sebelum operasi. Kelompok kontrol diberikan air mineral dengan jumlah dan waktu pemberian yang sama dengan kelompok perlakuan. Kedua kelompok diperiksa kadar CRP pra dan pascaoperasi.Hasil : Terdapat perbedaan bermakna ( p = 0,001) pada kadarCRP pascaoperasi antara kelompok kontrol yaitu 7,62 ± 2,074 dibandingkan dengan CRP pascaoperasi kelompok perlakuan yaitu 2,81 ± 2,920. Selain itu juga terdapat perbedaan yang bermakna (p = 0,000) dalam selisih kadar CRP praoperasi dan pascaoperasi pada kelompok kontrol yaitu 5,36 ± 0,535 dibandingkan dengan kelompok perlakuan yaitu 0,89 ± 0,938.Kesimpulan : Pemberian minuman karbohidrat dan protein whey pra operasi terbukti menurunkan respon inflamasi fase akut pascaoperasi, yang tergambar dari peningkatan kadar CRP pascaoperasi yang lebih rendah pada kelompok perlakuan dibandingkan dengan kelompok kontrol.

Perbandingan Efektifitas Larutan Antiseptik Kombinasi Chlorexidine Gluconate Cetrimide - Alkohol 70% Dengan Povidone Iodine 10 % Terhadap Kepadatan Kuman Pada Tindakan Anestesi Spinal

Indrawan, Khadafi, Jaya, Wiwi, Noorhamdani, Noorhamdani

JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 7, No 1 (2015): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Latar belakang : Infeksi bakteri dapat disebabkan oleh tehnik neuraxial. Salah satu faktor penyebab  infeksi bakteri adalah  peralatan yang digunakan, tehnik aseptik yang salah, atau larutan anti septik yang dipakai. Larutan antiseptik yang biasa digunakan pada anestesi spinal adalah chlorhexidine dan povidone iodine. Chlorhexidine gluconate adalah larutan antiseptik yang kuat dan  berspektrum luas,  efektif melawan hampir semua bakteri (gram positif dan gram negatif) dan jamur nosokomial . Povidone iodine memiliki aktivitas melawan mikroorganisme b gram negatif maupun gram postif dan dapat menembus dinding sel serta menghambat sintesis protein bakteriTujuan : Mengetahui Efektifitas  larutan antiseptik kombinasi Chlorhexdine gluconate cetrimide – alkohol 70% dengan pemakaian Povidone iodine 10%  terhadap kepadatan kuman pada tindakan  anestesi spinalMetode : Penelitian eksperimental dengan rancangan “single blind true experimental design” pada 32 pasien dengan usia 18 – 40 tahun, status fisik ASA I-II yang menjalani tindakan anestesi spinal. Terdiri dari 2 kelompok: kelompok Chlorexidine gluconate cetrimide-alkohol 70% (clor) dan kelompok Povidone Iodine 10% (pov). Dilakukan pengambilan swab I pada punggung pasien sebelum perlakuan. Dan pengambilan swab II setelah mendapat perlakuan dan mengambil cairan serebrospinal untuk dikultur. Analisa hasil dengan uji statistik dilakukan uji beda t berpasangan (sebelum dan sesudah perlakuan) dan uji t dua sampel bebas (sesudah perlakuan), dengan derajat kemaknaan yaitu nilai p< 0,05.Hasil : Insidensi kepadatan kuman pada kelompok clor sebesar 1,4% sedangkan pada kelompok pov 4,1%. Insidensi kepadatan kuman lebih banyak pada kelompok povidone iodine. Dari rata-rata penurunan kepadatan kuman sesudah perlakuan kelompok chlorexidine mean = 0,0625, sedangkan pada kelompok povidone mean = 1,0625. Rata-rata penurunan kepadatan kuman pada kelompok chlorexidine lebih kecil.Simpulan : Efektifitas antiseptik kombinasi Chlorexidine gluconate cetrimide-alkohol 70 % lebih baik bila dibandingkan antiseptik Povidone iodine 10%  terhadap kepadatan kuman pada tindakan anestesi spinal.