cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Anestesiologi Indonesia
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 23375124     EISSN : 2089970X     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal Anestesiologi Indonesia (JAI) diterbitkan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) dan dikelola oleh Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (UNDIP) bekerjasama dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) cabang Jawa Tengah.
Arjuna Subject : -
Articles 196 Documents
Perbedaan Lama Analgesi Antara Lidokain 5% 100 mg Hiperbarik, Kombinasi Lidokain 5% 100 mg Hiperbarik + Klonidin 75μg Serta Kombinasi Lidokain 5% 100 mg Hiperbarik + Klonidin 150μg Pada Blok Subarakhnoid Artsanto, R; Sutiyono, Doso; Witjaksono, Witjaksono
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 1, No 1 (2009): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (477.867 KB)

Abstract

ABSTRACTBackground: Subarachnoid block using hyperbaric lidocaine, has been applicated onmany variable clinic surgeries. The disadvantages of using hyperbaric lidocain 5% is shortduration, 45-60 minutes, despite many surgeries take more than 1 hour.Objective: Prove whether addition of Clonidine 75μg and Clonidine 150 μg onsubarachnoid block with hyperbaric lidocaine 5% 100 mg able to make longer time ofanalgesia.Methods: It is experimental study with quota sampling design on the 60 patients which areundergoing surgery on abdominal region. In the room, blood pressure, heart rate,respiratory rate were measured. All of the patients were fasting 6 hours and nopremedications. In the “Instalasi Bedah Sentral” vein access 18 G was inserted andcolloid 7,5 cc/kg as preload. The patients were divided randomly into 3 groups.Uncooperative patient and who need additional analgesia during surgery, was excluded.Using ANOVA and p < 0,05. Datas were gathered in tables.Results: There was no difference for patient characteristic and surgery distribution among3 groups. Regression time of 2 segments on the lidocaine-clonidine 150 μg group waslonger than lidocaine group and lidocaine-clonidine 75 μg group (p=0,000). The onset ofsensoric block on lidocaine-clonidine 150 was shorter than lidocaine group and lidocaineclonidine75 μg group (p=0,000). The onset of motoric block on lidocaine-clonidine 150μg was shorter than lidocaine group and lidocaine-clonidine 75 μg group (p=0,000).Duration of motoric block on lidocaine-clonidine 150 μg group was longer than lidocainegroup and lidocaine-clonidine 75 μg group (p=0,000). Maximal level of sensoric block onlidocaine-clonidine 150 μg was higher than lidocain group and lidocaine-clonidine 75 μggroup (p=0,038).Conclusion: Regression time of 2 segments on lidocaine-clonidine 150 μg group waslonger significantly than lidocaine group and lidocaine-clonidine 75 μg group ; lidocaineclonidine75 μg was longer significantly than lidocain group.Keywords: Subarahcnoid block, hyperbaric lidocaine 5% 100 mg, Clonidine 75μg,Clonidine 150 μg.ABSTRAKLatar belakang: blok subarakhnoid menggunakan lidocain hiperbarik, banyak digunakanpada operasi untuk pasien dengan berbagai kondisi klinik. Kerugian dari penggunaanlidocain 5% hiperbarik adalah durasinya yang singkat, dimana banyak tindakanpembedahan yang durasinya lebih dari 1 jam.Tujuan: Membuktikan apakah penambahan klonidin 75 μg dan klonidin 150 μg pada bloksubarakhnoid dengan lidokain 5% 100 mg hiperbarik dapat memperpanjang lamaanalgesia.Metode: Penelitian eksperimental dengan desain quota sampling pada 60 pasien yangmenjalani operasi di daerah regio abdominal. Saat di ruangan dilakukan pengukurantekanan darah, laju jantung dan laju nafas. Semua penderita dipuasakan 6 jam dan tidakdiberikan obat premedikasi. Saat datang di Instalasi Bedah Sentral dilakukan pemasanganinfus kateter intravena 18 G, dan diberikan preload cairan dengan larutan koloid 7,5cc/kgBB. Penderita dikelompokkan secara acak dengan menggunakan tabel randommenjadi 3 kelompok. Pasien tidak kooperatif dan membutuhkan analgetik tambahanselama pembedahan, pasien dikeluarkan dari penelitian. Uji statistik menggunakanANOVA dan derajat kemaknaan p < 0,05. Penyajian data dalam bentuk tabel.Hasil: Karakteristik penderita dan distribusi operasi antara ketiga kelompok tidakberbeda. Waktu regresi 2 segmen kelompok Lidokain-Klonidin 150 μg lebih lamadibandingkan kelompok Lidokain dan kelompok Lidokain-Klonidin 75 μg (p=0,000). Mulakerja blok sensorik kelompok Lidokain-Klonidin 150 μg lebih cepat dibandingkankelompok Lidokain dan kelompok Lidokain-Klonidin 75 μg (p=0,000). Mula kerja blokmotorik kelompok Lidokain-Klonidin 150 μg lebih cepat dibandingkan kelompok Lidokain dan kelompok Lidokain-Klonidin 75 μg (p=0,000). Lama blok motorik kelompok Lidokain-Klonidin 150 μg lebih lama dibandingkan kelompok Lidokain dan Lidokain-Klonidin 75μg (p=0,000). Level maksimal blok sensorik kelompok Lidokain-Klonidin 150 μg lebihtinggi dibandingkan kelompok Lidokain dan kelompok Lidokain-Klonidin 75 μg (p=0,038).Kesimpulan: Waktu regresi 2 segmen kelompok Lidokain-Klonidin 150 μg lebih lamasecara bermakna dibandingkan kelompok Lidokain dan kelompok Lidokain-Klonidin 75μg, serta kelompok Lidokain-Klonidin 75 μg lebih lama secara bermakna dibandingkankelompok Lidokain.Kata kunci: Blok Subarakhnoid, Lidokain 5% 100 mg hiperbarik, Klonidin 75 μg,Klonidin 150 μg
Perbedaan Pengaruh Pemberian Infus HES Dengan Berat Molekul 40 kD dan 200 kD Terhadap Plasma Prothrombin Time dan Partial Thromboplastin Time Kajian Pada Pasien Dengan Perdarahan Sampai 20% Estimated Blood Volume Satoto, Hari Hendriarto; Leksana, Ery; Budiono, Uripno
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 1, No 1 (2009): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBackground : There were increased number of patient with major surgey. High molecular weight HES had better haemodynamic function but affected coagulation much. PT and PTT study were done to know effect HES in coagulation system.Objective : To compare difference of PT and PTT between HES 40 kD and HES 200 kD in patient up to 20% Estimated Blood Volume bleeding.Methods : We had experimental study with “Single Blind Randomized Clinical Trial” design. 46 patients were randomly divide into 2 group. Group 1 were given HES 40 kD and group 2 were given HES 200 kD. All the patient were administrated PT and PTT study before operation. In operating room, they were inducted by thiopentone 5 mg/kgBB, atracurium besilat 0,5 mg/kgBB, inhalation agent with isofluran, tramadol atracurium were added in necessary. PT and PTT were administrated 15 minute and 2 hours after administrated. Statisic data were analyzed with SPSS 11,5 for windows.Result : It was demonstrated in this study that HES 00 kD had longer PTT from preoperation (29,72 ± 1,70) to (32,69 ± 0,77) and preoperation PT (12,85 ± 0,86) to (13,31 ± 0,73). There were longer PTT in HES 40 kD from (29,89 ± 1,47) to (34,10 ± 1,30). There were significantly higher PTT in HES 200 kD after administration of HES. (mean 4,21 ± 1,28 vs 2,97 ± 1,76 repectively, p = 0,009; p < 0,05).Conclusion : HES 200 kD was significantly longer PT and PTT than HES 40 kD.Keywords : HES, Prothrombin Time, Partial Thromboplastin Time.ABSTRAKLatar belakang : Pasien dengan operasi besar yang beresiko terjadi perdarahan semakin meningkat setiap tahun. HES dengan berat molekul besar mempertahankan hemodinamik lebih baik tetapi mengganggu faktor koagulasi. Pemeriksaan PT dan PTT dilakukan untuk memeriksa pengaruh HES pada koagulasi.Tujuan : Membuktikan pemanjangan PT dan PTT pada pemberian larutan HES 40 kD dan HES 200 kD terhadap pasien yang menjalani operasi dengan pendarahan sampai 20% EBV.Metode : Dilakukan penelitian eksperimental pada 46 pasien dengna desain “Single Blind Randomized Clinical Trial”. Kelompok penelitian dibagi menjadi 2 kelompok secara acak, masing-masing 23 pasien. Pasien diambil sampel PT dan PTT pre operasi. Pasien diinduksi dengan thiopentone 5 mg/kgBB, atracurium besilat 0,5 mg/kgBB, pemeliharaan anestesi dengan isofluran, tramadol sebagai analgetik dan ditambahakan atracurium bila perlu. Sebagai cairan rumatan anestesi, kelompok I (HES 40 kD) dan kelompok II (HES 200 kD) sebagai pengganti kehilangan darah. 15 menit dan 4 jam setelah pemberian perlakuan dilakukan pemeriksaan PT dan PTT. Analisis data statistik menggunakan SPSS 11,5 for windows.Hasil : Dari hasil penelitian, pemberian ES 200 kD memperpanjang PTT dari preoperasi (29,72 ± 1,70) menjadi (32,69 ± 0,77) dan PT dari preoperasi (12,85 ± 0,86) menjadi (13,31 ± 0,73). Pada HES 40 kD didapatkan pemanjangan PTT dari preoperasi (29,89 ± 1,47) menjadi (34,10 ± 1,30). Analisis statistik antara PTT kelompok HES 40 kD dan 200 kD menunjukkan hasil berbeda bermakna dengan nilai p = 0.009 (p<0.05).Simpulan : Pemberian HES 200 kD memperpanjang PT dan PTT lebih besar dari p ada HES 40 kD.Kata kunci : HES, Prothrombin Time, Partial Thromboplastin Time
Pengaruh Pemberian Ketorolak 30 mg Intravena pada Penderita dengan Anestesi Spinal Terhadap Fungsi Pembekuan Darah : Protrombin Time, Partial Tromboplastin Time with Kaolin Hendrasto, Aryono; Daya, Eva Susana Putri; Harahap, Mohamad Sofyan
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 1, No 1 (2009): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (192.284 KB)

Abstract

ABSTRACTBackground : The use of ketorolak as an analgesic have been increasing recently because of its advantage in fasting ambulatory patient, but it will extend bleeding time by its aggregation disturbances. Despite of trombosit function disturbances, the bleeding can also caused by vessels and coagulation disturbances. There is a relation between trombosit and coagulation function.Purpose : To establish that administration of intravenous 30 mg ketorolak in patient with spinal anesthesia will extend coagulation function (prothrombin time and partial thromboplastin time).Method : An experimental study with randomized post test only controlled group design in 30 patients who underwent elective surgery with spinal anesthesia. Patients divided in two groups randomizely : group P received 30 mg ketorolak iv and group K received placebo (NaCl 0,%). PT and PTT examination will be held before operation and 60 minutes after administration of ketorolak or placebo. The results were analyzed by using T-test parametric statistical assay, with reliability p<0,05.Results: Independent T-test assay for post operative PT and PTTK variable showed no significant differences between group P and group K. On Paired T-test assay, for pre and post operative PT variable in P group showed no significant differences (p=0,327) . For pre and post operative PTTK in P group show ed significant differences (p=0,029) . On Paired T-test assay, for pre and post operative PT variable in K group showed no significant differences (p=0,062) . For pre and post operative PTTK variable in K group there were also no significant differences (p=0,160) .Conclusion: Administration of single dose intravenous 30 mg ketorolak in patients with spinal anesthesia has no influence to extrinsic coagulation pathway function (PTTK) although this extention still in normal value or not visible clinically.Keywords : ketorolak, spinal anesthesia, trombosit aggregation, PT and PTTKABSTRAKLatar belakang : Saat ini penggunaan ketorolak sebagai analgesik meningkat karena sifatnya yang menguntungkan untuk mempercepat ambulatory pasien, namun mempunyai efek samping memperpanjang waktu perdarahan (bleeding time) melalui gangguan fungsi trombosit. Perdarahan juga dapat disebabkan gangguan pembuluh darah dan fungsi koagulasi. Ada hubungan saling terkait antara fungsi trombosit dan fungsi koagulasi.Tujuan : Membuktikan bahwa pemberian ketorolak 30 mg intravena pada penderita dengan spinal anestesi menyebabkan pemanjangan fungsi koagulasi (protrombin time dan partial tromboplastin time)Metode : Merupakan penelitian eksperimental dengan randomized post test only controlled group pada 30 penderita yang akan menjalani operasi elektif dengan anestesi spinal. Penderita secara random dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok P yang mendapat ketorolak 30 mg iv dan kelompok K yang mendapat placebo ((NaCl 0,9%). Pemeriksaan PT, PTT dilakukan menjelang operasi dan 60 menit setelah pemberian ketorolak atau placebo. Hasilnya dinilai dengan menggunakan uji statistikparametric T- test, dengan derajat kemaknaan p<0,05.Hasil : Uji Independent T-test variable PT post tindakan dan PTTK post tindakan antara kelompok P dan kelompok K menunjukkan perbedaan yang tidak bermakna (p>0,05). Uji Paired T-test, untuk variabel PT pre tindakan dan PT post tindakan pada kelompok P menunjukkan perbedaan yang tidak bermakna (p=0,237). Untuk variable PTTK pre tindakan dan PTTK post tindakan pada kelompok P menunjukkan perbedaan bermakna (p=0,029). Uji Paired T-test, untuk variabel PT pre tindakan dan PT post tindakan pada kelompok K menunjukkan perbedaan yang tidak bermakna(p=0,062). Untuk variabel PTTK pre tindakan dan PTTK post tindakan pada kelompok K menunjukkan perbedaan tidak bermakna(p=0,160).Kesimpulan : Pemberian dosis tunggal ketorolak 30 mg intravena pada penderita dengan anestesi spinal tidak berpengaruh terhadap fungsi koagulasi jalur ekstrinsik (PT) tapi akan memperpanjang fungsi koagulasi jalur intrinsik (PTTK) namun pemanjangan ini masih dalam batas normal atau tidak nampak secara klinis.
Penanganan Perioperatif Pasien Dengan TOF dan Kardiomiopati Dilatatif Disertai Multiple Thrombus di Semua Ruang Jantung Perdhana, Fajar; Adriane, Prieta
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 9, No 1 (2017): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (741.139 KB)

Abstract

Tetrallogy of Fallot (TOF) didefinisikan sebagai kondisi penyakit jantung kongenital yang ditandai dengan adanya obstruksi right ventricle outflow tract (RVOTO) baik stenosis pada supravalvar, valvar dan subvalvar, adanya ventricle septal defect (VSD), dextroposisi dari aorta dan hipertrofi ventrikel kanan. Kondisi ini diperberat dengan kardiomiopati dilatatif yang menyebabkan pasien jatuh pada keadaan gagal jantung dan pembentukan trombus multipel di semua ruang jantung. Tantangan perioperatif adalah terjadinya tet spell pada periode pre CardioPulmonary By pass (CPB), dan depresi kontraktilitas dapat menyebabkan gagal jantung. Pasca operasi beresiko tinggi untuk terjadi low cardiac output syndrome. Anak usia 2 tahun 10 bulan dengan diagnosis TOF dan kardiomiopati dilatatif disertai pembentukan trombus multipel yang menjalani prosedur total koreksi, dengan penyulit penyerta gagal jantung yang membaik dengan terapi medikamentosa, fungsi ventrikel kiri dan ventrikel kanan yang turun. Pasien dipasang monitoring standar EKG, SpO2, dan NIBP, kemudian dilakukan induksi inhalasi dengan sevofluran, selanjutnya dilakukan pemasangan invasif blood pressure pada arteri radialis kiri dan pemasangan kateter vena sentral (CVC) pada vena jugularis kanan. Dilakukan tindakan evakuasi trombus, penutupan VSD dengan goretex patch dan reseksi infundibulum kemudian dilakukan pericardial patch untuk melebarkan Right Ventricel Outflow Tract (RVOT). Pasca operasi pasien mengalami low cardiac ouput syndrome,dirawat selama 21 hari di ICU, dan dilakukan trakeostomi pada perawatan hari ke-9. Pasien berhasil disapih dari ventilator pada perawatan hari ke-13 dan pindah dari ICU ke ruang perawatan pada hari ke-21. Prosedur total koreksi pada pasien TOF dengan disertai kardiomiopati dilatatif merupakan tantangan tersendiri bagi dokter ahli anestesi. Persiapan pre-operasi yang baik, manajemen durante operasi dan monitoring yang seksama serta perawatan pasca operasi yang berkesinambungan menghasilkan hasil yang baik.
Perbandingan Sekresi IL-10 di Jaringan Sekitar Luka Insisi Dengan dan Tanpa Infiltrasi Levobupivakain : Studi Imunohistokimia pada Tikus Wistar Winarto, .; Budiono, Uripno; Harahap, Mohamad Sofyan
Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 1, No 1 (2009): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (461.216 KB)

Abstract

ABSTRACTBackground : The acute pain occurs after wound could depress the immune function that leads to the inhibition of the wound healing processes. Local anesthetic which has a long duration effect such as levobupivacain could be used to relief the pain so that protect the depression of immune function. Activation of macrophage can promote the T cell to produce IL -10.Objective: To compare the IL-10 secretion between levobupivacain tread and non levobupivacain on the tissue surround the wound.Methods: A laboratoric experimental study designed wi th randomized post test only control group method. Thirty five female rats were randomly devided into three groups. Control group (K), Non-Levobupivacain infiltration group (P1) and Levobupivacain infiltration group (P2). No incision and no infiltration in K group. Two cm of skin incision was performed to P1 and P2. After the incision, levobupivacain infiltration were given every 8 hours for 24 hours to the P2 group. No levobupivacain was given to the first st nd th group. On day 1 , 2 , 3 the rats were sacrified and the tissue surround the wound were taken for immunohistochemistry staining. The IL-10 secretion were analyzed for histologic scoring. Kruskal Wallis Test, Mann- Whitney Test were used for statistic analysis.Result : It was demonstrated in this study that the histologic score of IL-10 of the levobupivacain treated group was significanly higher than non levobupivacain group in nd 2 day (mean 5.36 ± 1.25 vs 3.00 ± 2.11 respectively, p=0,023 ; p&lt;0,05).Conclusion : The IL-10 secretion was significantly higher in levobupivacain treated group than non levobupivacain group on the tissue surround the woundKeywords : IL-10 secretion, levobupivacain infiltration, after incision painABSTRAKLatar belakang : Nyeri menyebabkan peningkatan hormon glukokortikoid yang memperlama penyembuhan luka. Transmisi nyeri dapat dihambat dengan obat anestesi lokal levobupivakain. Terapi ini akan mengurangi supresi imunitas seluler sehingga fungsi makrofag dalam membantu aktifasi sel T tidak terhambat. Aktifasi sel T ini diduga akan meningkatkan sekresi IL-10.Tujuan : Membandingkan sekresi IL-10 di jaringan sekitar luka dengan dan tanpa infiltrasi levobupivakain.Metode: Eksperimental laboratorik dengan desain Randomized Post test only control group design, pada tiga puluh lima ekor tikus Wistar. Kelompok penelitian dibagi menjadi tiga kelompok secara acak, Kelompok Kontrol (K) 5 ekor, Perlakuan 1 (P1) dan Perlakuan 2 (P2) masing -masing lima belas ekor. Kelompok Kontrol, tikus tanpa insisi dan tanpa infiltrasi. Kelompok P1, tikus yang dilakukan insisi 2 cm, tanpa diberikan infiltrasi levobupivakain. Kelompok P2, tikus yang dilakukan insisi 2 cm, diberikan infiltrasi levobupivakain tiap 8 jam selama 24 jam. Ekspresi IL -10 di sekitar luka insisi dinilai dengan skor histologi dari preparat dengan menggunakan pengecatan imunohistokimia, yang diambil dari biopsi jaringan pada hari ke 1, 2, dan 3. Metode perhitungan statistik menggunakan Kruskal Wallis Test dilanjutkan Mann Whitney Test.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan pada jaringan insisi rerata skor histologi IL -10 pada kelompok levobupivakain lebih tinggi (5.36 ± 1.25) dibanding kelompok tanpa levobupivakain (3.00 ± 2.11) pada hari ke dua. Perhitungan statistik antara kedua kelompok tanpa levobupivakain dan dengan kelompok levobupivakain berbeda bermakna (p=0,023 ; p&lt;0,05).Kesimpulan: Sekresi IL-10 di jaringan sekitar luka dengan infiltrasi levobupivakain lebih tinggi dibanding tanpa levobupivakainKata kunci : Sekresi IL-10, infiltrasi levobupivakain, nyeri pasca insisi.
Pengaruh Variasi Genetika Cyp2c19 Terhadap Efek Sedasi Midazolam Intravena Sismadi, Sukmiasi; Budiono, uripno
JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 1, No 2 (2009): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (200.102 KB)

Abstract

Background : The cytochrome P450 plays an important role in the metabolism of many drugs, chemicals and carcinogens. CYP2C19 is often a major concern because of the high difference in each individual and each population. Based on the capacity of CYP2C19 in the metabolism sustrat, a person can be classified as extensive metabolizers (EM), intermediate metabolizers (IM) and poor metabolizers (PM). Which has the effect of midazolam sedation, anxiolytic, and anterograde amnesia is metabolized through the CYP2C19 enzyme. These drugs are often used as a premedication drug or as a co- induction. In clinical practice that is common with the usual dose of midazolam, not all patients show the expected effect. Therefore, the study of genetic i nfluences on intravenous midazolam biotransformation.Objectives: Assess the effects of intravenous midazolam on the EM genotype, IM and PMMethods : The study 24 patients undergoing elective surgery in the installation department of the Central Surgical Dr Kariadi Semarang, inclusion and exclusion criteria, with ASA physical status I. Previously people with an explanation of the procedures that will be undertaken and expressed willingness in the sheet informed consent. Desain phase II clinical trials research using cross sectional study to assess the effects of midazolam on the bodys metabolic functions. Allele / CYP2C19 polymorphisms were identified by PCR- RFLP technique.Results : The results showed the general characteristics of patients with no laboratory abnormalities, had no complications or side effects of midazolam. Sedation score 5 minutes after administration of midazolam there were no significant differences between men and women (3.3 ± 0.59), and found no significant association between age with the sedation score (r = 0.250, P = 0.183). CYP2C19 genotype distribution was found respectively 6 (20%) of EM, 16 (53.3%) IM and eight (26.7%) PM. These three genotypes there were no significant differences by age, sex and sedation score.Conclusion: There is no significant relationship between the scores of sedation with genotypes EM, IM and PM of CYP2C19.Keywords : Intravenous Midazolam, metabolism, CYP2C19ABSTRAKLatar Belakang : Sitokrom P450 berperan penting dalam metabolisme obat, zat kimia dan karsinogen. CYP2C19 sering menjadi perhatian utama karena tingginya perbedaan ditiap individu maupun tiap populasi. Berdasarkan kapasitas CYP2C19 dalam metabolisme sustrat, seseorang dapat dikelompokkan sebagai extensive me tabolizers (EM), intermediate metabolizers (IM) dan poor metabolizers (PM). Midazolam yang mempunyai efek sedasi, ansiolitik dan anterograde amnesia dimetabolisme melalui enzim CYP2C19. Obat ini sering digunakan sebagai obat premedikasi ataupun sebagai koinduksi. Pada praktek klinis sering dijumpai dosis midazolam yang lazim, ternyata tidak semua pasien menunjukkan efek yang diharapkan. Diteliti seberapa besar pengaruh genetik terhadap biotransformasi midazolam intravena.Tujuan: Menilai efek midazolam intravena pada genotipe EM, IM dan PMMetode : Penelitian pada 24 pasien yang menjalani bedah elektif di Instalasi Bedah Sentral RS UP Dr Kariadi Semarang, yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, dengan status fisik ASA I. Sebelumnya penderita mendapatka n penjelasan tentang prosedur yang akan dijalani serta menyatakan kesediaannya dalam informed consent. Desain penelitian uji klinik fase II ini menggunakan cross sectional untuk menilai efek midazolam terhadap fungsi metabolisme tubuh. Alel/polimorfisme CY P2C19 diidentifikasi dengan tehnik PCR- RFLP.Hasil : Dari hasil penelitian menunjukkan karakteristik umum penderita tidak terdapat kelainan laboratorium, tidak mengalami komplikasi atau efek samping terhadap midazolam. Skor sedasi 5 menit setelah pemberian midazolam midazolam tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara laki -laki dan perempuan (3,3 ± 0,59), serta tidak ditemukan hubungan yang bermakna antar usia dengan nilai skor sedasi (r=0,250 ; P=0,183). Distribusi genotip CYP2C19 ditemukan masing-masing 6 (20%) EM, 16 (53,3%) IM dan 8 (26,7%) PM. Ketiga genotip tidak terdapat perbedaan yang bermakna dengan usia, jenis kelamin maupun skor sedasi.Simpulan: Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara nilai skor sedasi dengan genotip EM, IM dan PM dari CYP2C19.
Pengaruh Variasi Genetika Cyp2c19 Terhadap Efek Sedasi Midazolam Intravena Sismadi, Sukmiasi
Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 1, No 2 (2009): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Background : The cytochrome P450 plays an important role in the metabolism of many drugs, chemicals and carcinogens. CYP2C19 is often a major concern because of the high difference in each individual and each population. Based on the capacity of CYP2C19 in the metabolism sustrat, a person can be classified as extensive metabolizers (EM), intermediate metabolizers (IM) and poor metabolizers (PM). Which has the effect of midazolam sedation, anxiolytic, and anterograde amnesia is metabolized through the CYP2C19 enzyme. These drugs are often used as a premedication drug or as a co- induction. In clinical practice that is common with the usual dose of midazolam, not all patients show the expected effect. Therefore, the study of genetic i nfluences on intravenous midazolam biotransformation. Objectives: Assess the effects of intravenous midazolam on the EM genotype, IM and PM Methods : The study 24 patients undergoing elective surgery in the installation department of the Central Surgical Dr Kariadi Semarang, inclusion and exclusion criteria, with ASA physical status I. Previously people with an explanation of the procedures that will be undertaken and expressed willingness in the sheet informed consent. Desain phase II clinical trials research using cross sectional study to assess the effects of midazolam on the bodys metabolic functions. Allele / CYP2C19 polymorphisms were identified by PCR- RFLP technique. Results : The results showed the general characteristics of patients with no laboratory abnormalities, had no complications or side effects of midazolam. Sedation score 5 minutes after administration of midazolam there were no significant differences between men and women (3.3 ± 0.59), and found no significant association between age with the sedation score (r = 0.250, P = 0.183). CYP2C19 genotype distribution was found respectively 6 (20%) of EM, 16 (53.3%) IM and eight (26.7%) PM. These three genotypes there were no significant differences by age, sex and sedation score. Conclusion: There is no significant relationship between the scores of sedation with genotypes EM, IM and PM of CYP2C19. Keywords : Intravenous Midazolam, metabolism, CYP2C19 ABSTRAK Latar Belakang : Sitokrom P450 berperan penting dalam metabolisme obat, zat kimia dan karsinogen. CYP2C19 sering menjadi perhatian utama karena tingginya perbedaan ditiap individu maupun tiap populasi. Berdasarkan kapasitas CYP2C19 dalam metabolisme sustrat, seseorang dapat dikelompokkan sebagai extensive me tabolizers (EM), intermediate metabolizers (IM) dan poor metabolizers (PM). Midazolam yang mempunyai efek sedasi, ansiolitik dan anterograde amnesia dimetabolisme melalui enzim CYP2C19. Obat ini sering digunakan sebagai obat premedikasi ataupun sebagai koinduksi. Pada praktek klinis sering dijumpai dosis midazolam yang lazim, ternyata tidak semua pasien menunjukkan efek yang diharapkan. Diteliti seberapa besar pengaruh genetik terhadap biotransformasi midazolam intravena. Tujuan: Menilai efek midazolam intravena pada genotipe EM, IM dan PM Metode : Penelitian pada 24 pasien yang menjalani bedah elektif di Instalasi Bedah Sentral RS UP Dr Kariadi Semarang, yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, dengan status fisik ASA I. Sebelumnya penderita mendapatka n penjelasan tentang prosedur yang akan dijalani serta menyatakan kesediaannya dalam informed consent. Desain penelitian uji klinik fase II ini menggunakan cross sectional untuk menilai efek midazolam terhadap fungsi metabolisme tubuh. Alel/polimorfisme CY P2C19 diidentifikasi dengan tehnik PCR- RFLP. Hasil : Dari hasil penelitian menunjukkan karakteristik umum penderita tidak terdapat kelainan laboratorium, tidak mengalami komplikasi atau efek samping terhadap midazolam. Skor sedasi 5 menit setelah pemberian midazolam midazolam tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara laki -laki dan perempuan (3,3 ± 0,59), serta tidak ditemukan hubungan yang bermakna antar usia dengan nilai skor sedasi (r=0,250 ; P=0,183). Distribusi genotip CYP2C19 ditemukan masing-masing 6 (20%) EM, 16 (53,3%) IM dan 8 (26,7%) PM. Ketiga genotip tidak terdapat perbedaan yang bermakna dengan usia, jenis kelamin maupun skor sedasi. Simpulan: Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara nilai skor sedasi dengan genotip EM, IM dan PM dari CYP2C19.
Skor Histologi C-Erbb-2, Proliferasi Endotel Pembuluh Darah: Pada Infiltrasi Levobupivakain Terhadap Penyembuhan Luka Trisasi, Curniawati; ., Marwoto
Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 1, No 2 (2009): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Background : Postoperative acute pain stimulates clinical pathophysiologic symptoms, depress immune responses which leads to delayed wound healing process. Levobupivacaine is a long acting local anaesthetic, proven good for pain control. Angiogenesis plays an important role in wound healing. C -erbB-2 is a family of epidermal growth factor receptor that becomes ac tively mitogenic when binds to EFGR ligand, and stimulates cell proliferation. Levobupivacaine infiltration enhances c -erbB-2 expression, leads to endothelial blood vessel proliferation and improves wound healing. Objective : To prove the difference between histologic score of c-erbB-2, endothelial blood vessel proliferation of the wound healing process with and without levobupivacaine infiltration and to prove the correlation between c-erbB-2 and endothelial blood vessel proliferation. Methode : This study was an animal experimental study with randomized post test only control group design. Randomly 15 Wistar rats were divided into 3 groups. Groups I was the group for control without treatment. Group II, rats that got incisions without levobupivacain infiltration.Group III, rats that got incisions and levobupivacaine infiltration every 8 hours for 24 hours. C-erbB-2 at the site of the wound was analized using the histologic score from samples with immunohistochemistry staining and the amount of AgNOR expressed by mAgNOR and pAgNOR. The samples were taken from th tissue biopsy on 5 day. Data were analyzed using Kruskal Wallis test. The correlation between histologic score c-erbB-2 and the amount of AgNOR were analyzed using Spearmans correlation test. Results : This study showed that the tissue with levobupivacaine had higher c-erbB-2 histologic score (7,2±2,16 vs 9,9±1,29), and mAgNOR (5,94±0,15 vs 11,86±1,02), than tissue without levobupivacaine that significantly different (p=0,015 and p=0,02). There was a correltion between c-erbB-2 and mAgNOR (π=0,693). Conclusions : The expressions levels c-erbB-2 and mAgNOR in levobupivacaine infiltration group are higher than without levebupivacaine infiltration group. There is a correlation between the c-erbB-2 and mAgNOR. Keywords : Levobupivacaine, c-erbB-2, AgNOR, wound healing ABSTRAK Latar Belakang : Nyeri akut paska bedah memicu timbulnya gejala klinis patofisiologis, menekan respon imun, sehingga menyebabkan penurunan sistem imun yang akan menghambat penyembuhan luka. Levobupivakain, anestetik lokal durasi panjang efektif mengurangi nyeri akut. Proses angiogenesis merupakan pilar utama penyembuhan luka. C-erbB-2 adalah reseptor mitogenik yang ekspresinya pada endotel pembuluh darah bila berikatan dengan ligand yang sesuai menyebabkan sel berproliferasi. Infiltrasi levobupivakain akan meningkatkan ekspresi c-erbB-2 dan proliferasi sel endotel pembuluh darah sehingga mempercepat penyembuhan luka. Tujuan : Membuktikan adanya perbedaan skor histo logi c-erbB-2 dan proliferasi endotel pembuluh darah antara tikus yang diinfiltrasi levobupivakain dengan yang tidak pada proses penyembuhan luka tikus Wistar. Metode : Merupakan penelitian eksperimental pada hewan coba, randomized post test only control group design, menggunakan tikus Wistar. Sampel 15 ekor dibagi menjadi 3 kelompok; kelompok I kontrol, kelompok II insisis subkutis tanpa infiltrsi levobupivakain, kelompok III insisi subkutis dan infiltrasi levobupivakain setiap 8 jam selama 24 jam.Ekspresi c-erbB-2 dan nilai AgNOR yang dihitung sebagai mAgNOR dan pAgNOR pada sekitar luka insi si dinilai dengan skor histologi dengan menggunakan pengecatan secara imunohistokimia, yang diambil dari biopsi jaringan pada hari kelima. Data dianalisis dengan uji beda Kruskal-wallis. Hubungan antara c-erbB-2, mAgNOR dan pAgNOR dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil : Rerata skor histologi c-erbB-2 dan mAgNOR pada kelompok infiltrasi levobupivakain lebih tinggi dibandingkan kelompok tanpa infiltrasi levobupivakain, yaitu untuk c-erbB-2 7,2±2,16 vs 9,9±1,29 dan mAgNOR 5,94±0,15 vs 11,86±1,02, dan secara statistik berbeda bermakna (p=0,015 dan p=0,02). Hubungan antara c-erbB-2 dan mAgNOR secara statistik bermakna (r=0,693;p=0,004). Pada pAgNOR tidak didapat perbedaan yang bermakna antara kelompok tersebut. Simpulan: Ekspresi c-erbB-2 dan indeks proliferasi sel yang dinyatakan dengan mAgNOR pada kelompok dengan infiltrasi levobupivakain lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok tanpa infiltrasi levobupivakain. Terdapat hubungan antara c-erbB-2 dan mAgNOR pada proses penyembuhan luka.
Pengaruh Midazolam, Atrakurium Terhadap Fasikulasi Dan Kenaikan Kadar Kreatin Fosfokinase Akibat Suksinilkolin Nugroho, R. Cristianto; Lian Siregar, Abdul
Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 1, No 2 (2009): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Background : Succinylcholine is commonly used for intubating fascilitation in emergency and day-case anesthesia. Most occured side effects of succinylcholine is fasciculation, myalgia, and elevation of blood creatine phosphokinase level. Atracurium, like other depolarizing muscle relaxants, had been proved as a gold standard for pretreatment againts these side effects. Midazolam, that has been known as popular premedication drug, has not been studied most for these utilities yet. Objective : The aim of this study was to prove that pretreatment with midazolam 0,03 mg/Kg or atracurium 0,05 mg/Kg could reduce fasciculation, myalgia and elevation of CPK level following succinylcholine administration. Method : This study was designed as double blind randomly clinical trial on 54 patients underwent elective surgery, 16–40 years age. ASA I-II and fullfill the inclusion criterias. Before pretreatment drug had beengiven, a blood sample for preinduction creatine phosphokinase level measurement were taken. Patients was divided into three groups of pretreatment drugs, receiving midazolam 0,03 mg/Kg, atracuri um 0,05 mg/Kg and NaCl 0,9% (control group). Three minutes later, anesthesia was induced with thiopentone 4-5 mg/Kg and succinylcholine 1,5 mg/Kg. Fasciculations were scored followed by intubation. Twenty four hours after operation, myalgias were scored and a blood sample for post operation CPK level measurement were taken. Statisticsl analysis were performed by Anova-post hoc Bonferroni test, chi square – Wilcoxon Signed Ranks test and Spearman correlation test. Result : The characteristic features of the three groups are similar. Threre are significantly reduction of fasciculation incidence (p&lt;0,01), myalgia incidence (p&lt;0,01) and CPK level elevation in atracurium group (p&lt;0,05). In midazolam group, myalgia incidence is significantly reduced (p&lt;0,01) but CPK level is only slight reduced (p=0,086) and there is no reduction of fasciculation incidence (p=0,125). The only significant correlation proved is between myalgia and CPK level elevation (corr.coef = 0,334; p = 0,013). Conclusions : Atracurium is proved to be effective for pretreatment againts fasciculation, myalgia and elevation of CPK level. Midazolam is as effective as atracurium to reduce myalgia, less effective to reduce CPK level and not effective to reduce fasciculation. Keywords : pretreatment, fa sciculation, myalgia, CPK elevation, succinylcholine. ABSTRAK Latar Belakang : Pemakaian suksinilkolin sebagai fasilitas intubasi masih merupakan pilihan dalam anestesia, terutama untuk kasus emergensi dan rawat jalan. Efek samping yang sering timbul adalah fasikulasi, mialgia dan kenaikan kadar kreatin fosfokinase (CPK) darah. Atrakurium, seperti pelumpuh otot non depolarisasi lain, telah teruji sebagai baku emas pretreatment terhadap efek samping ini. Sedangkan Midazolam, yang populer sebagai obat premedikasi belum banyak diteliti sebagai pretreatment. Tujuan : Membuktikan bahwa pretreatment midazolam 0,03 mg/KgBB atau atrakurium 0,05 mg/KgBB dapat mengurangi fasikulasi, mialgia, dan kenaikan kadar kreatin fosfokinase darah akibat pemberian suksinilkol in. Metode : Penelitian ini dirancang untuk uji klinis acak tersamar ganda terhadap 54 penderita yang akan menjalani operasi elektif, usia 16 – 40 tahun, status fisik ASA I-II dan memenuhi kriteria inklusi. Sebelum mendapat obat pretreatment, dilakukan pengambilan darah untuk pemeriksaan kadar kreatin fosfokinase pra perlakuan. Penderita dibagi menjadi tiga kelompok sesuai pretreatment yang diberikan, yaitu midazolam 0,03 mg/KgBB iv, atrakurium 0,05 mg/KgBB iv dan kontrol mendapat NaCL 0,9%. Tiga menit kemudian semua penderita diinduksi dengan Tiopental 4-5 mg/KgBB iv dan suksinilkolin 1,5 mg/KgBB iv. Fasikulasi yang timbul dinilai, dilanjutkan dengan intubasi. Duapuluh empat jam pasca operasi dilakukan penilaian mialgia dan pengambilan darah untuk pemeriksaa n kadar kreatin fosfokinase pasca perlakuan. Uji statistik menggunakan uji Anova – Post hoc Bonferroni dan uji Kai kuadrat – Wilcoxon Signed Rank serta uji korelasi dari Spearman. Hasil : Data karakteristik penderita berbeda tidak bermakna pada ketiga kelompok. Pada kelompok atrakurium terjadi penurunan kejadian fasikulasi ( p&lt;0,01 ), mialgia ( p&lt;0,01 ) dan kenaikan kadar kreatin fosfokinase yang bermakna ( p&lt;0,05 ). Pada kelompok midazolam terjadi penurunan kejadian mialgia yang bermakna ( p&lt;0,01 ), sedikit kenaikan kadar kreatin fosfokinase ( p=0,086 ) dan tidak terjadi penurunan kejadian fasikulasi (p=0,125). Pada uji korelasi tehadap tiga variabel terikat hanya tampak korelasi bermakna antara mialgia dan kenaikan kadar kreatin fosfokinase (koef.kor = 0,034; p = 0,013). Kesimpulan : Atrakurium sebagai pretreatment terbukti efektif mengurangi fasikulasi, mialgia maupun kenaikan kadar kreatin fosfokinase darah. Midazolam sama efektifnya dengan atrakurium dalam hal mengurangi mialgia, namun kurang efektif untuk mengurangi kenaikan kadar kreatin fosfokinase dan tidak efektif untuk mencegah fasikulasi.
Pengaruh Pretreatment Magnesium Sulfat Dan Atrakurium Terhadap Perubahan Tekanan Intraokuler Akibat Suksinilkolin Suyuti, Imam; Panji, IGN; Softyan Harahap, Mohamad
Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 1, No 2 (2009): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Background : Succinylcholine is the only one muscle relaxant with rapid action and short duration, but it has some side effects, such as increasing of intraocular pressure. Precurarisation with non depolarizing muscle relaxants could prevent this but may increase the succinylcholine dose. Magnesium sulphate works competitively in the neuromuscular junctionon prejunctionaly site. Purpose : To proof that magnesium sulphate pretreatment to prevent has the same efficiency with atracurium in preventing the increased of intraocular pressure caused by succinylcholine administration. Methods : The study was clinical trial stage II, with double blind randomized controlled trial. The number of samples was 54 patients divided into 2 groups; Group I :threated with magnesium sulphate 40 m/kg intravenously in l0 minutes, 3 minutes before inductin. Group II : administrationNaCl20 in in l0 ml, subsequently atracurium 0,05 ml/kg in 3 ml, 3 minutes before induction, in l0minutes, 13 minutes before induction, subsequently NaCl 3 ml, 3 minutes before induction. Results : There was no increased in intraoccular pressurc 2 minutes after succinylcholine administration both groups. But there was a decreased in intraoccular pressure on both goups. There was, no Siqnificant change of intraoccular pressure in both groups after sucynilcholine administration Conclusion : There was no intraocular prcssure increase after succinylcholineadministration in patients treated by magnesium sulphate, and atracurium. There was no significant difference in the change of intraocular pressure after pretreatment with magnesium sulphate and also atracurium. Keywords : Succinylcholine atracurium, magnesium sulphate, intraocular pressure. ABSTRAK Latar belakang : Suksinilkolin satu-satunya pelumpuh otot dengan onset cepat dan durasi kerja sangat singkat, tetapi mempunyai efek samping diantaranya menaikkan tekanan intraokuler. Prekurarisasi dengan pelumpuh otot non depolarisasi menyebabkan peningkatan dosis suksini lkolin. Magnesium bekerja secara kompetitif pada neuromuscular junction menduduki prejunctional site. Tujuan : Membuktikan bahwa pretreatment magnesium sulfat sama baiknya dengan pretreatment atracurium untuk mencegah kenaikan tekanan intraokuler akibat pem berian suksinilkolin. Metode : Penelitian ini merupakan uji klinis tahap II, dirancang sebagai double blind randomized controlled trial. Sampel 54 pasien, dibagi dalam 2 kelompok; kelompok I : diberikan magnesium sulfat 40 mg/kg diencerkan sampai 20 ml, i.v dimasukkan dalam 10 menit, 13 menit sebelum induksi, dilanjutkan NaCl 3 ml3 menit sebelum induksi. Kelompok II (kontrol) : mendapatkan NaCl 20 ml dimasukkan dalam l0 menit, dilanjutkan atracurium 0.05 mg/kg diencerkan sampai 3 ml, 3 menit sebelum induksi. Tekanan intraokuler diukur sebelum perlakuan, 2 menit setelah pemberian suksinilkolin dan segera setelah intubasi. Hasil : Tidak terjadi peningkatan tekanan intraokuler 2 menit setelah pemberian suksinilkolin pada kelompok I maupun kelompok II, justru terjadi penurunan tekanan intaokuler pada kedua kelompok. Tidak terdapat perbedaan yang bermakna, pada perubahan tekanan intraokuler setelah pemberian suksinilkolin pada kelompok I maupun II. Simpulan : Tidak terjadi kenaikan tekanan intraokuler setelah pemberian suksinilkolin pada pasien yang mendapat pretreatment magnesium sulfat, maupun yang mendapat pretreatment atracurium. Tidak terdapat perbedaan yang bermaknapada perubahan tekanan intraokuler setelah pernberian magnesium sulfat maupun atracurium.

Page 1 of 20 | Total Record : 196


Filter by Year

2009 2019


Filter By Issues
All Issue Vol 11, No 1 (2019): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 10, No 3 (2018): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 10, No 2 (2018): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 10, No 1 (2018): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 9, No 3 (2017): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 9, No 2 (2017): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 9, No 1 (2017): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 8, No 3 (2016): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 8, No 2 (2016): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 8, No 1 (2016): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 7, No 3 (2015): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 7, No 2 (2015): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 7, No 1 (2015): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 6, No 3 (2014): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 6, No 2 (2014): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 6, No 1 (2014): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 5, No 3 (2013): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 5, No 2 (2013): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 5, No 1 (2013): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 4, No 3 (2012): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 4, No 2 (2012): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 4, No 1 (2012): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 3, No 3 (2011): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 3, No 2 (2011): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 3, No 1 (2011): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 2, No 3 (2010): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 2, No 2 (2010): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 2, No 1 (2010): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 1, No 3 (2009): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 1, No 2 (2009): Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 1, No 1 (2009): Jurnal Anestesiologi Indonesia More Issue