Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Journal of Meteorology Climatology and Geophysics (Journal of MKG) is a scientific journal as a means of communication to report the results of research in the field of meteorology, climatology, air quality, geophysics, environment, disaster, and related instrumentation. This scientific journal is published every four months of the year.
Articles
24
Articles
ANALISIS VERTICAL WIND SHEAR DAN BUOYANCY TERHADAP PERTUMBUHAN AWAN CUMULONIMBUS DI STASIUN METEOROLOGI JUANDA SURABAYA

Zakir, Achmad, Hakim, Oky Sukma

Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Vol 4 No 1 (2017): Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Vertical wind shear dan buoyancy adalah faktor ilmiah meteorologi yang terkait dengan pertumbuhan awan konvektif seperti awan cumulonimbus, jenis awan ini umumnya membahayakan khususnya bagi keselamatanpenerbangan. Vertical wind shear diidentifikasi pada lapisan atas dan lapisan bawah yang dikorelasikan dengan pertumbuhan awan Cumulonimbus kemudian disimulasikan dengan dengan menggunakan data hasil olahan citra radar. Untuk menggetahui keterkaitan antara vertical wind shear dan buoyancy terhadap pertumbuhan awan Cumulonimbus dilakukan penelitian pada tahun 2014 di stasiun meterorologi Juanda Surabaya.. Hasil penelitian ini menunjukan hubungan vertical wind shear dan buoyancy terhadap pertumbuhan awan Cumulonimbus adalah linear positif. Hasil kombinasi vertical wind shear dan buoyancy memberikan hubungan yang lebih baik terhadap pertumbuhan awan Cumulonimbus. Identifikasi secara spasial menunjukan vertical wind shear dan pertumbuhan awan Cumulonimbus terbentuk pada lokasi yang presisi, dengan kenaikan intensitas yang sebanding.

ANALISIS TRANSPORT UAP AIR DI KUPANG SAAT TERJADI SIKLON TROPIS NARELLE

Dewi, Aprilia Mustika, Kristianto, Aries

Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Vol 4 No 1 (2017): Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Indonesia yang terletak di daerah ekuator antara 70 lintang Utara dan 100 lintang Selatan jarang dilewati oleh siklon tropis namun Indonesia terkena dampak saat siklon tropis terjadi baik di Belahan Bumi Selatan (BBS) dan Belahan Bumi Utara (BBU). Perairan selatan Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan lintasan dari siklon tropis Narelle yang berdampak langsung terhadap intensitas curah hujan. Salah satu unsur dari pembentukan awan dan hujan yaitu dipengaruhi oleh pergerakan transpor uap air. Saat siklon tropis Narelle bergerak mendekati wilayah NTT tercatat curah hujan di Kupang mencapai 193 mm. Analisis yang dilakukan yaitu meliputi distribusi uap air dihitung pada lapisan 1000-300 mb, 1000-700 mb, 700-500 mb dan 500 -300 mb, analisis total colom water, analisis suhu puncak awan secara spasial dan temporal, analisis vertikal velocity, relative humidity dan divergensi dari model reanalisis ECMWF. Berdasarkan analisis data-data yang dilakukan kenaikan curah hujan di Kupang terjadi saat siklon tropis Narelle tumbuh pada kategori tekanan rendah di laut Timor , dan saat kecepatan angin rata-rata maksimumnya sebesar 23 knot memberi dampak terhadap kenaikan intensitas curah hujan karena pusaran siklonik dengan intensitas uap air yang tinggi dan bergerak ke barat mendekati Kupang.

KAJIAN POTENSI ENERGI ANGIN DI WILAYAH KALIMANTAN BARAT

Setiawati, Firsta Zukhrufiana, Hajar F, Auliyaa, Wandayantolis, Wandayantolis

Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Vol 4 No 1 (2017): Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Sebagai negara tropis, Indonesia memiliki banyak sumber energi alternatif, salah satunya adalah angin. Energi angin dipandang sebagai salah satu energi alternatif yang layak dikembangkan untuk mendudukung kebutuhan listrik Kalimantan Barat yang semakin meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi energi angin sebagai pembangkit listrik di wilayah Kalimantan Barat. Penelitian ini menggunakan metode pembagian distribusi frekuensi arah dan kecepatan angin yang kemudian dihitung potensi energi anginnya berdasarkan data observasi manual UPT BMKG wilayah Kalimantan Barat. Berdasarkan penelitian yang dilakukan dengan metode tersebut, dapat disimpulkan bahwa syarat untuk menghasilkan potensi energi angin dengan kecepatan angin ratarata harian >2.5 m/s tidak terpenuhi. Namun dengan kecepatan angin rata-rata harian yang dihasilkan, masih dapat menghasilkan daya listrik sebesar 290.6 - 2614813.9 Watt day/year dan dapat diaplikasikan untuk penguunaan beberapa peralatan rumah di kabupaten/kota, Mempawah, Kubu Raya dan Ketapang provinsi Kalimantan Barat.

DISTRIBUSI SPASIAL DAN TEMPORAL MESOSCALE CONVECTIVE COMPLEX (MCC) DI INDONESIA SELAMA PERIODE MJO MENGGUNAKAN CITRA SATELIT

Muhlis, Ahmad, Mulsandi, Adi

Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Vol 4 No 1 (2017): Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Salah satu jenis MCS yang terbesar adalah Mesoscale Convective Complex (MCC). Identifikasi MCC dilakukan dengan menggunakan citra satelit infra merah sesuai dengan kriteria dari Maddox (1980) serta Miller dan Fritsch (1991). Penelitian dilakukan selama satu periode MJO meliputi fase 1 sampai 8 pada 17 Januari hingga 16 Februari 2017. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui karakteristik MCC yang terjadi di wilayah Indonesia serta distribusi spasial dan temporal dari MCC selama periode MJO berlangsung. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa MCC muncul sepanjang fase MJO dengan kemunculan terbanyak pada fase kedua. Keberadaan MJO yang aktif turut mendukung terbentuknya awan bakal MCC, namun mengalami penurunan saat terjadi El-Nino. Kontribusi MCC terhadap hujan dilihat dengan membandingkan sebaran MCC dengan data GsMap. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa MCC mendukung terjadinya hujan lebat baik pada studi kasus di Lampung maupun selama periode MJO di wilayah Indonesia. Secara umum MCC terjadi pada malam hingga pagi hari dan mencapai fase punah pada siang hingga sore hari dengan pergerakan dominan kearah Barat Daya hingga Barat.

PENENTUAN KARAKTERISTIK RESONANSI BANGUNAN DI SEKOLAH TINGGI METEOROLOGI KLIMATOLOGI DAN

Ifantyana, Indri, Rudyanto, Ariska

Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Vol 4 No 1 (2017): Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Salah satu faktor yang dapat digunakan untuk memperkirakan bahaya gempa bumi terhadap suatu bangunan adalah mengetahui nilai resonansi bangunan. Nilai resonansi bangunan dapat ditentukan dengan cara melakukan pengukuran mikrotremor untuk mendapatkan nilai frekuensi natural bangunan dan tanah di bawahnya yang kemudian dapat dihitung nilai resonansinya. Pengukuran mikrotremor telah dilakukan pada 4 bangunan di Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (STMKG). Bangunan yang diteliti memiliki ketinggian yang bervariasi antara 2 hingga 3 lantai, yang terdiri dari bangunan B1, B2, B3, dan B4. Pengukuran dilakukan pada bagian struktur bangunan yang berbeda (struktur pojok dan tengah). Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui karakteristik resonansi antara bangunan dengan tanah di bawahnya. Peralatan yang digunakan adalah seperangkat seismometer Lennartz Mark 3D dengan durasi rekaman selama 1 jam. Metode HVSR (Horizontal to Vertical Spectral Ratio) digunakan untuk mengolah dan menganalisis data mikrotremor pada tanah dan selanjutnya dilakukan analisis spektrum untuk mendapatkan karakteristik nilai frekuensi natural tiap komponen pada masing-masing bangunan. Secara umum, nilai resonansi paling tinggi diperoleh pada bangunan B2. Resonansi rendah hingga sedang terdapat pada bangunan B1. Sedangkan bangunan B3 dan B4 memiliki karakteristik yang hampir sama dengan nilai resonansi rendah dan tinggi.

TELEMETRI NIRKABEL DATA SUHU, KELEMBAPAN, DAN TEKANAN UDARA SECARA REALTIME BERBASIS MIKROKONTROLER ATMEGA328P

Dwicahyo, Khafid, Hariyanto, Hariyanto, Prakoso, Bowo

Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Vol 4 No 1 (2017): Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Penelitian ini menggunakan sistem telemetri nirkabel untuk mengukur suhu, kelembapan, dan tekanan udara yang dilengkapi perekam data, hasil pengukuran tersebut bisa ditampilkan melalui LCD. Sistem telemetri nirkabel terbagi dua bagian yaitu unit pengirim dan unit penerima. Unit pengirim terdiri dari sensor SHT11, sensor BMP280, mikrokontroler ATmega328P, RTC, SD Card, dan modul transmiter RF. Unit penerima terdiri dari receiver RF serta modul pengolah dan penyimpan data. Hasil penelitian menunjukkan alat ukur dapat bekerja dengan baik hingga jarak 200 m dengan waktu penerimaan data tercepat 2 detik pada pengujian full outdoor tanpa halangan. Pada pengujian semi outdoor dengan halangan dinding, diperoleh jarak maksimal 100 m dengan waktu tercepat penerimaan data 2 detik. Nilai korelasi suhu sebesar R2= 0,973, kelembapan sebesar R2= 0,875, dan tekanan udara sebesar R2= 0,924, hasil ini menunjukkan hubungan korelasi yang kuat antara alat standar dengan alat rancangan dengan garis lurus yang linier.

RANCANG BANGUN ALAT PENGUKUR SUHU, KELEMBABAN DAN TEKANAN UDARA PORTABLE BERBASIS MIKROKONTROLER ATMEGA16

Putera, Augsto Pramana, Toruan, Kanton Lumban

Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Vol 3 No 2 (2016): Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Pengamatan parameter cuaca adalah aktifitas rutin bagi para observer, baik dengan alat-alat konvensional ataupun secara otomatis dengan bantuan alat digital. Masing-masing metode pengamatan mempunyai kelemahan dan kelebihannya tersendiri. Alat otomatis mempermudah pengamat dalam pengumpulan data, terutama saat melakukan pengamatan diluar taman alat dan berpindah lokasi. Alat portable memiliki kelebihan dalam ukuran dan efektifitas penggunaan tanpa mengurangi keandalan seperti alat-alat konvensional. Dalam penelitian ini dirancang dan dibuat sebuah alat portable pengukur suhu, kelembaban dan tekanan udara. Keluaran dari alat ini adalah pembacaan suhu, kelembaban dan tekanan udara secara realtime yang ditampilkan di LCD dengan pewaktuan dari RTC dan dapat dikirim ke komputer untuk keperluan penyimpanan data. Kata kunci: ATMega16, sensor, cuaca, portable

SIMULASI TINGGI GELOMBANG DI TELUK BONE MENGGUNAKAN MODEL GELOMBANG WAVEWATCH-III (Studi Kasus Tenggelamnya KM Marina Baru 2B Tanggal 19 Desember 2015)

Istihanah, Dini, Kristianto, Aries

Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Vol 3 No 3 (2016): Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Gelombang merupakan salah satu fenomena laut yang dapat dibangkitkan oleh angin dan berpengaruh besar terhadap aktivitas di laut. Pada tanggal 19 Desember 2015 telah terjadi peristiwa tenggelamnya KM Marina Baru 2B di Teluk Bone dan menimbulkan banyak korban jiwa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui informasi tinggi gelombang pada saat kejadian dengan melakukan simulasi menggunakan model Wavewatch-III (WW3) yang merupakan model gelombang generasi ketiga yang digunakan untuk memprediksi dan menganalisis gelombang yang disebabkan oleh angin. Input yang digunakan pada model WW3 adalah data angin dari Final Analysis (FNL) dengan resolusi 0,25° x 0,25° dan telah diverifikasi terhadap data angin permukaan hasil pengamatan di 4 stasiun meteorologi terdekat. Output model WW3 menunjukkan bahwa tinggi gelombang maksimum yang terjadi pada saat kejadian berkisar antara 1 – 1,9 m. Output WW3 diverifikasi menggunakan data satelit altimetri multimisi dan menghasilkan korelasi sebesar 0,47, RMSE 0,40 m dan MAE 0,33 m. Hasil verifikasi menunjukkan bahwa model WW3 dapat mensimulasikan tinggi gelombang dengan cukup baik sehingga dapat digunakan untuk analisis kejadian tersebut. Hasil analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa kondisi atmosfer pada saat kejadian kurang mendukung adanya fenomena cuaca signifikan. Kata Kunci : tinggi gelombang, angin, WW3, satelit altimetri

KAJIAN PENERAPAN ESTIMASI CURAH HUJAN PER JAM MEMANFAATKAN METODE CONVECTIVE STRATIFORM TECHNIQUE (CST) DAN MODIFIED CONVECTIVE STRATIFORM TECHNIQUE (mCST) DI PONTIANAK

Andani, Ashriah Jumi Putri, Endarwin, FNU

Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Vol 3 No 3 (2016): Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Estimasi curah hujan per jam dengan memanfaatkan data satelit merupakan salah satu solusi untuk mendapatkan informasi curah hujan yang akurat dan near real time. Convective Stratiform Technique (CST) merupakan metode estimasi curah hujan berdasarkan suhu puncak awan dengan pemisahan kelompok konvektif dan stratiform, sedangkan Modified Convective Stratiform Technique (mCST) merupakan modifikasi pada intensitas curah hujan dan luasan area lingkup piksel rata-rata terhadap CST. Penelitian dilakukan memanfaatkan data inframerah satelit MTSAT sepanjang tahun 2014. Hasil curah hujan estimasi per jam diverifikasi dengan data curah hujan Hellman di Stasiun Meteorologi Supadio Pontianak.. Evaluasi hasil estimasi curah hujan dilakukan dengan menggunakan indeks statistik dan tabel kontingensi. Secara umum, kedua metode estimasi curah hujan dapat diterapkan di wilayah Pontianak dengan korelasi yang sangat kuat dengan data pengamatan. Metode CST dan mCST cukup konsisten dalam memberikan kualitas hasil estimasi yang baik untuk curah hujan per jam pada setiap bulan sepanjang tahun. Dengan demikian, kedua metode tersebut cocok untuk memonitor curah hujan di Pontianak yang memiliki tipe hujan ekuatorial. Perbandingan kualitas dari kedua metode menunjukkan metode mCST menghasilkan estimasi curah hujan yang lebih baik. Kata kunci : estimasi curah hujan, satelit, CST, mCST

ANALISIS PENGARUH EL NIÑO 2004-2005 TERHADAP KONSENTRASI KLOROFIL-A DI PERAIRAN MALUKU

Hadiman, FNU, Ali, Munawar, Safril, Agus

Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Vol 3 No 3 (2016): Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

El-Nino merupakan fenomena yang tidak bisa dihindari, kejadian El-Nino dapat mengurangi curah hujan seperti di wilayah Maluku. Namun, kejadian El-Nino juga mempunyai dampak postif khususnya di wilayah perairan. Pada saat terjadi El-Nino maka konsentrasi klorofil-a di perairan akan meningkat. Hal ini disebabkan karena adanya proses upwelling yang mengangkat nutrisi dari dalam laut. Konsentrasi klorofil-a yang tinggi akan mendatangkan jenis ikan pelagis di perairan. Sehingga uji korelasi antara suhu permukaan laut (SST) pada saat El-Nino dengan klorofil-a untuk melihat keterkaitan antar kedua variabel yang diamati. Sehingga akan didapatkan hasil yang menunjukkan kondisi klorofil-a pada saat terjadi El-Nino di wilayah perairan Maluku. Kata kunci : El-Nino, klorofil-a, suhu permukaan laut (SST), upwelling