cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota tangerang selatan,
Banten
INDONESIA
Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
ISSN : 23557206     EISSN : 25988190     DOI : -
Journal of Meteorology Climatology and Geophysics (Journal of MKG) is a scientific journal as a means of communication to report the results of research in the field of meteorology, climatology, air quality, geophysics, environment, disaster, and related instrumentation. This scientific journal is published every four months of the year.
Articles 24 Documents
ANALISIS KONDISI PRESIPITASI SAAT KEMUNCULAN MESOSCALE CONVECTIVE COMPLEX DI SELAT MAKASSAR (Studi Kasus Tanggal 27-28 Mei 2014) Septian P, Bony; Alfahmi, Furqon
Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Vol 3 No 1 (2016): Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu bentuk Mesoscale Convective System adalah Mesoscale Convective Complex (MCC) yang pertama kali diperkenalkan oleh Maddox. Beberapa penelitian MCC yang didominasi di wilayah subtropis menyebutkan MCC menghasilkan cuaca buruk dan hujan yang berkelanjutan. Untuk penelitian MCC di wilayah tropis khususnya di Indonesia masih sedikit, oleh karena itu penulis disini mencoba untuk mengkaji kondisi presipitasi saat terjadinya MCC di Selat Makassar pada tanggal 27 – 28 Mei 2014 lalu membandingkannya dengan hasil penelitian MCC di wilayah subtropis yang dilakukan oleh Durke, dkk. Pada penelitian ini digunakan data satelit MTSAT, dan data estimasi hujan TRMM. Berdasarkan penelitian, dapat disimpulkan bahwa MCC pada penelitian ini bersifat noncturnal yang muncul pada malam hari hingga dini hari di wilayah barat Palu, matang di Selat Makassar lalu punah pada pagi menjelang siang hari di pesisir timur Kalimantan Timur. Wilayah yang dilewati MCC di Selat Makassar ini terjadi kenaikan jumlah presipitasi dan volume prespitasi. Selain itu, walaupun MCC yang terjadi di Selat Makassar pada tanggal 27 – 28 Mei 2014 ini memiliki cakupan wilayah yang lebih kecil dibandingkan MCC di wilayah subtropis Amerika Selatan, namun memiliki nilai rata – rata presipitasi dan total volume presipitasi yang lebih besar dibandingkan MCC di wilayah subtropis Amerika selatan. Kata kunci : MCC, presipitasi, satelit, TRMM
STUDI KEJADIAN BENCANA BANJIR BERDASARKAN KARAKTERISTIK AWAN DAN HUJAN DI WILAYAH JAKARTA (Studi Kasus 17 Januari 2014) Nababan, Marlina; Tjasyono, Bayong
Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Vol 3 No 1 (2016): Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hujan lebat yang dihasilkan oleh awan-awan jenis Cumuliform akan menjadi bencana banjir apabila curah hujan dengan intensitas tinggi dan durasi lama meluap pada daerah aliran sungai (DAS). Bencana banjir yang terjadi diwilayah Jakarta pada tanggal 17 Januari 2014 bahkan telah menyebabkan 11 warga meninggal dunia serta banyak kerugian materi lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis factor meteorologi yaitu paras kondensasi dan ketebalan awan dari data radiosonde, intensitas hujan dari pias pluviogram serta melakukan kajian dengan isohyet diarea banjir sebelum, saat, dan sesudah kejadian banjir. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan analisis diagram aerodinamik, pluviograf, citra radar cuaca serta membuat peta isohyet. Cara analisis data menggunakan analisis deskriptif, komperatif, dan spasial. Hasil menunjukkan bahwa bencana banjir yang terjadi diwilayah Jakarta merupakan tipe awan – awan konvektif dengan tinggi dasar awan konvektif cukup rendah, yaitu kurang dari satu kilometer dan awan cukup tebal antara 7,6 km sampai 8,2 km, intesitas hujan per jam lebih dari 20 mm (hujan sangat lebat) terjadi setelah jam 12.00 waktu setempat yang disebabkan oleh konveksi darat, serta terkonsentrasi di wilayah Jakarta Utara dengan pergerakan awan dari Timur Laut bergerak menuju Barat Daya. Kata Kunci : Awan konvektif (Cumuliform), curah hujan, konveksi dan bencana banjir.
KONDISI ATMOSFER KETIKA SEBARAN ABU VULKANIK GUNUNG SINABUNG DI SEKITAR STASIUN METEOROLOGI KUALANAMU Simanungkalit, Cristine Widya; Subektyo, Wahyu
Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Vol 3 No 1 (2016): Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gunung Sinabung sebagai salah satu gunung berapi di Indonesia termasuk gunung berapi yang saat ini sedang aktif mengeluarkan material-material vulkaniknya. Kondisi masuknya zat lain ke dalam atmosfer atau berlebihannya jumlah zat atau bahan tertentu dalam atmosfer, seperti material vulkanik, tentu akan mengganggu kondisi atmosfer disekitarnya. Penelitian dilakukan dengan metode deskriptif analitik, menggunakan analisis sounding data sandi TEMP Stasiun Meteorologi Kualanamu dan menghasilkan nilai parameter udara atas, yaitu lapse rate, Lifting Condensation Level (LCL), Convective Condensation Level (CCL), Equilibrium Level (EL), tropopause, precipitable water, dan kelembaban udara relatif (RH) vertikal. Data yang diolah yaitu pada bulan Januari 2014 dengan periode banyak terjadi letusan dan bulan Januari 2015 dengan periode sedikit terjadi letusan Gunung Sinabung. Hasil pengolahan data menunjukkan bahwa nilai lapse rate udara lingkungan pada Bulan Januari 2014 dan 2015 secara umum labil bersyarat atau netral dan beberapa waktu pada lapisan 925 mb, 850 mb dan 700 mb memiliki kondisi stabil, ketinggian Lifting Condensation Level (LCL) tidak terlalu terpengaruh oleh sebaran abu vulkanik, ketinggian Convective Condensation Level (CCL) pada beberapa waktu lebih tinggi dibandingkan hari lain di Bulan Januari 2014 dengan ketinggian Equilibrium Level (EL) yang cukup rendah yang kemungkinan akibat perbedaan kandungan abu vulkanik Gunung Sinabung yang tersebar, ketinggian tropopause lebih rendah pada Bulan Januari 2014, serta kelembaban relatif (RH) vertikal dan precipitable water menurun pada Bulan Januari 2014 akibat sifat higroskopis dari abu vulkanik Gunung Sinabung. Kata kunci : Abu Vulkanik, lapse rate, LCL, CCL, EL, tropopause, precipitable water
STUDI AWAL PERANCANGAN DAN PEMBUATAN ALAT PENGUKUR SUHU KELEMBAPAN DAN TEKANAN UDARA BERBASIS MIKROKONTROLER ATMEGA3 Purba, Andry Boy Prima; Susanto, Agus Tri
Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Vol 3 No 1 (2016): Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Peralatan meteorologi, klimatologi dan geofisika yang saat ini digunakan di BMKG tergolong banyak menggunakan peralatan analog. Adapun peralatan digital yang digunakan kebanyakan produksi luar negeri. Khususnya peralatan pengukur meteorologi sangat dibutuhkan peralatan yang bekerja secara otomatis untuk membuat kegiatan pengamatan lebih efektif dan efisien. Pada penelitian ini penulis merancang dan membuat peralatan pengukur suhu, kelembaban dan tekanan udara berbasis mikrokontroler. Alat hasil rancangan pada penelitian ini telah dikalibrasi di laboratorium kalibrasi Balai Besar BMKG Wilayah II Ciputat dan telah dilakukan komparasi dengan alat standar di taman alat meteorologi STMKG. Data yang dihasilkan masih dalam rentang ketentuan WMO dan sudah tergolong layak operasi ataupun sebagai alat pembanding. Alat hasil rancangan juga telah dapat menyimpan data real time alat ke dalam microSD dalam format txt. Kata kunci : Tekanan, suhu, kelembaban, WMO, BMKG
PENGAMATAN ANOMALI ULF FASE PRA-SEISMIK UNTUK PREKURSOR GEMPA BUMI DI LAUT MALUKU PERIODE NOVEMBER-DESEMBER 2014 Kurniawati, Indah; Ahadi, Suaidi; Harjadi, Prih
Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Vol 3 No 1 (2016): Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gempa bumi besar di Laut Maluku pada 15 November 2014 Mw 7,1 dan 21 Desember 2014 Mw 6,3 telah dilakukan pengamatan prekursor dengan anomali ULF. Data MAGDAS dari stasiun Manado (MND) , Pare-Pare (PRP) dan Sicincin (SCN) diolah sejak 31 Oktober hingga 31 Desember 2014. Untuk menginvestigasi anomali ULF sebelum gempa bumi digunakan metode analisis polarisasi rasio komponen Z dan H (SZ/SH) dan polarisasi rasio komponen horizontal stasiun utama dan referensi(SH1/SH2). Indeks DST perlu dibandingkan dengan hasil polarisasi untuk memastikan anomali saat hari tenang berasal dari aktivitas litosfer. Berdasarkan hasil kedua metode di atas diperoleh adanya anomali sebelum gempa bumi terjadi dengan lead time 14 hari untuk gempa Mw 7,1 dan lead time 4 hari sebelum gempa Mw 6,3. Kata kunci : ULF, anomali, prekursor gempa bumi, metode polarisasi rasio
SIMULASI TINGGI GELOMBANG DI TELUK BONE MENGGUNAKAN MODEL GELOMBANG WAVEWATCH-III (Studi Kasus Tenggelamnya KM Marina Baru 2B Tanggal 19 Desember 2015) Istihanah, Dini; Kristianto, Aries
Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Vol 3 No 3 (2016): Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gelombang merupakan salah satu fenomena laut yang dapat dibangkitkan oleh angin dan berpengaruh besar terhadap aktivitas di laut. Pada tanggal 19 Desember 2015 telah terjadi peristiwa tenggelamnya KM Marina Baru 2B di Teluk Bone dan menimbulkan banyak korban jiwa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui informasi tinggi gelombang pada saat kejadian dengan melakukan simulasi menggunakan model Wavewatch-III (WW3) yang merupakan model gelombang generasi ketiga yang digunakan untuk memprediksi dan menganalisis gelombang yang disebabkan oleh angin. Input yang digunakan pada model WW3 adalah data angin dari Final Analysis (FNL) dengan resolusi 0,25° x 0,25° dan telah diverifikasi terhadap data angin permukaan hasil pengamatan di 4 stasiun meteorologi terdekat. Output model WW3 menunjukkan bahwa tinggi gelombang maksimum yang terjadi pada saat kejadian berkisar antara 1 – 1,9 m. Output WW3 diverifikasi menggunakan data satelit altimetri multimisi dan menghasilkan korelasi sebesar 0,47, RMSE 0,40 m dan MAE 0,33 m. Hasil verifikasi menunjukkan bahwa model WW3 dapat mensimulasikan tinggi gelombang dengan cukup baik sehingga dapat digunakan untuk analisis kejadian tersebut. Hasil analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa kondisi atmosfer pada saat kejadian kurang mendukung adanya fenomena cuaca signifikan. Kata Kunci : tinggi gelombang, angin, WW3, satelit altimetri
KAJIAN PENERAPAN ESTIMASI CURAH HUJAN PER JAM MEMANFAATKAN METODE CONVECTIVE STRATIFORM TECHNIQUE (CST) DAN MODIFIED CONVECTIVE STRATIFORM TECHNIQUE (mCST) DI PONTIANAK Andani, Ashriah Jumi Putri; Endarwin, FNU
Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Vol 3 No 3 (2016): Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Estimasi curah hujan per jam dengan memanfaatkan data satelit merupakan salah satu solusi untuk mendapatkan informasi curah hujan yang akurat dan near real time. Convective Stratiform Technique (CST) merupakan metode estimasi curah hujan berdasarkan suhu puncak awan dengan pemisahan kelompok konvektif dan stratiform, sedangkan Modified Convective Stratiform Technique (mCST) merupakan modifikasi pada intensitas curah hujan dan luasan area lingkup piksel rata-rata terhadap CST. Penelitian dilakukan memanfaatkan data inframerah satelit MTSAT sepanjang tahun 2014. Hasil curah hujan estimasi per jam diverifikasi dengan data curah hujan Hellman di Stasiun Meteorologi Supadio Pontianak.. Evaluasi hasil estimasi curah hujan dilakukan dengan menggunakan indeks statistik dan tabel kontingensi. Secara umum, kedua metode estimasi curah hujan dapat diterapkan di wilayah Pontianak dengan korelasi yang sangat kuat dengan data pengamatan. Metode CST dan mCST cukup konsisten dalam memberikan kualitas hasil estimasi yang baik untuk curah hujan per jam pada setiap bulan sepanjang tahun. Dengan demikian, kedua metode tersebut cocok untuk memonitor curah hujan di Pontianak yang memiliki tipe hujan ekuatorial. Perbandingan kualitas dari kedua metode menunjukkan metode mCST menghasilkan estimasi curah hujan yang lebih baik. Kata kunci : estimasi curah hujan, satelit, CST, mCST
ANALISIS PENGARUH EL NIÑO 2004-2005 TERHADAP KONSENTRASI KLOROFIL-A DI PERAIRAN MALUKU Hadiman, FNU; Ali, Munawar; Safril, Agus
Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Vol 3 No 3 (2016): Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

El-Nino merupakan fenomena yang tidak bisa dihindari, kejadian El-Nino dapat mengurangi curah hujan seperti di wilayah Maluku. Namun, kejadian El-Nino juga mempunyai dampak postif khususnya di wilayah perairan. Pada saat terjadi El-Nino maka konsentrasi klorofil-a di perairan akan meningkat. Hal ini disebabkan karena adanya proses upwelling yang mengangkat nutrisi dari dalam laut. Konsentrasi klorofil-a yang tinggi akan mendatangkan jenis ikan pelagis di perairan. Sehingga uji korelasi antara suhu permukaan laut (SST) pada saat El-Nino dengan klorofil-a untuk melihat keterkaitan antar kedua variabel yang diamati. Sehingga akan didapatkan hasil yang menunjukkan kondisi klorofil-a pada saat terjadi El-Nino di wilayah perairan Maluku. Kata kunci : El-Nino, klorofil-a, suhu permukaan laut (SST), upwelling
TIPE IKLIM OLDEMAN 2011-2100 BERDASARKAN SKENARIO RCP 4.5 DAN RCP 8.5 DI WILAYAH SUMATERA SELATAN Kusumo, Irlando; Septiadi, Deni
Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Vol 3 No 3 (2016): Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perubahan iklim merupakan bagian permasalahan yang paling serius bagi kehidupan masyarakat dunia. Salah satu sektor yang sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim adalah sektor pertanian. Seiring dengan berjalannya waktu sektor pertanian wilayah Sumatera Selatan pun ikut terancam sebagai dampak dari perubahan iklim. Salah satu cara yang digunakan untuk melihat gambaran iklim masa depan dapat dilakukan dengan cara melakukan proyeksi iklim berdasarkan skenario tertentu. Data yang digunakan pada penelitian ini adalah data curah hujan bulanan pada 14 titik pengamatan pos hujan serta data model Historical dan Projection dari skenario RCP 4.5 dan RCP 8.5 di wilayah Sumatera Selatan. Hasil proyeksi perubahan tipe iklim Oldeman berdasarkan skenario RCP 4.5 dan RCP 8.5 memberikan gambaran iklim Oldeman di wilayah Sumatera Selatan bertipe iklim basah terlihat semakin basah, sedangkan wilayah bertipe iklim kering terlihat semakin meluas. Memberikan gambaran iklim Oldeman hampir di seluruh wilayah Sumatera Selatan berubah ke tipe iklim yang semakin basah. Kata Kunci : Klasifikasi Oldeman, Perubahan Iklim, Skenario, Proyeksi
PERUBAHAN SINYAL EMISI ULF (ULTRA LOW FREQUENCY) PRA KEJADIAN GEMPABUMI DI WILAYAH BENGKULU TAHUN 2015 Daniarsyad, Gatut; Ahadi, Suaidi; Pudja, I Putu; Wulandari, Tri
Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Vol 3 No 3 (2016): Jurnal Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
Publisher : Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sekolah Tinggi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fenomena medan magnet bumi yang berkaitan dengan kejadian gempabumi menjadi pembahasan yang sedang gencar dilakukan sebagai prekursor jangka pendek. Pulau Sumatera yang berhadapan langsung dengan zona tumbukan lempeng Eurasia dan Indo-Australia masih menjadi obyek penelitian prekursor yang menarik untuk dibahas sebagai salah satu langkah dalam usaha mitigasi bencana. Perkembangan kota-kota di pesisir barat Bengkulu dan Lampung menjadi salah satu faktor dalam pelaksanaan penelitian prekursor ini. Penerapan metode polarisasi sinyal emisi ULF pada dua kasus gempabumi di wilayah Bengkulu berikut cukup menarik untuk diteliti hubungannya. Kasus yang diambil adalah gempabumi tanggal 2 April 2015 Mw=5,7 dan 15 Mei 2015 Mw=6,0 dengan jarak masing-masing 168 km dan 343 km terhadap stasiun magnet bumi Liwa (LWA). Data yang digunakan adalah data jaringan MAGDAS dengan stasiun pencatat LWA dan stasiun referensi GSI dengan metode yang digunakan adalah polarisasi power rasio SZ/SH pada frekuensi 0,012 Hz dan 0,022 Hz. Untuk memonitor gangguan magnet bumi global digunakan data indeks Dst. Selanjutnya dilakukan metode Diff pada polarisasi power rasio komponen H antara stasiun LWA dengan stasiun referensi GSI. Hasilnya diperoleh adanya peningkatan sinyal emisi ULF yang berasosiasi dengan kedua gempabumi tersebut dengan lead time anomali masing-masing 24 hari dan 23 hari sebelum kejadian gempa. Kata kunci: prekursor, onset time, magnet bumi, emisi ULF

Page 1 of 3 | Total Record : 24