cover
Contact Name
Ihsan Mz
Contact Email
Ihsan Mz
Phone
-
Journal Mail Official
ihsan.mz@iain-palangkaraya.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota palangkaraya,
Kalimantan tengah
INDONESIA
NALAR: Jurnal Peradaban dan Pemikiran Islam
ISSN : 25979930     EISSN : 25988999     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Nalar: Jurnal Peradaban dan Pemikiran Islam promotes multidisciplinary approaches to Islam and focuses on seven main topics; (1) the Qur’an and hadith, (2) Da’wah, (3) Psychology/Counseling, (4) Theology (Kalam), (5) Philosophy, (6) Mysticism (Tasawwuf), and (7) Islamic History. All submitted papers are subject to double-blind review process.
Arjuna Subject : -
Articles 36 Documents
Micro Hijabers Celebrity: Membentuk Identitas dengan Update Self-Story via Instagram (Kasus Dian Pelangi) Khomalia, Isti; Rahman, Khairul Arief
NALAR Vol 2, No 1 (2018): Jurnal Nalar
Publisher : IAIN Palangka Raya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (720.457 KB) | DOI: 10.23971/njppi.v2i1.869

Abstract

Artikel ini akan membahas mengenai fenomena hijabers yang sering mewarnai media sosial seperti Instagram. Fenomena mengenai hijabers yang tampil sebagai representasi wanita muslimah ini menarik untuk dikaji dari sisi pembentukan citra diri. Namun seiring berjalannya waktu hijabers juga menjadi model endorse produk-produk mulai dari kosmetik, jilbab dan lain sebagainya. Karena nilai keekonomian ini pula, hijabers tersebut menjadi tampil semenarik mungkin dengan foto atau gambar yang menunjang citra diri. Otomatis batas dalam membangun citra diri, menjadi kabur dan seakan tidak bisa dibedakan antara diri secara identitas personal sebagai micro-celebrity dengan diri sebagai model endorse. Pada titik inilah peneliti tertarik apa dan bagaimana para hijabers membangun percampuran identitas personal dengan identitas diri sebagai market branding. Peneliti juga tertarik tentang bagaimana pembentukan identitas ini dipadukan dengan gambar dan teks yang seolah diceritakan layaknya sebuah diary. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif untuk menganalisis temuan. Penelitian ini akan dibedah menggunakan dua teori, yaitu teori identitas untuk melihat citra diri dan teori dramaturgi Erving Goffman untuk   membedah bagaimana Dian Pelangi menceritakan keseharian dirinya khususnya lewat instagram. Berdasarkan hasil analisis terhadap temuan penelitian, dapat disimpulkan bahwa self-story di Instagram memiliki peranan penting seseorang dalam membentuk para micro-celebrity. Dalam perspektif aspek-aspek dramaturgi pembentukan ceritanya terdapat perbedaan terutama dalam aspek misrepresentation. Pertama, para follower lebih banyak akan melihat Dian Pelangi sebagai orang yang sempurna dalam akun Instagramnya dan lebih banyak memujinya. Sementara follower tidak akan tahu masalah apa yang mungkin terjadi lewat akun Instagramnya. Kedua, dikarenakan identitas yang tumpang tindih antara identitas personal dengan branding, maka identitas yang tercipta lebih menyerupai hyper-identity.Kata Kunci: Micro-Celebrity, Identitas, Hijabers, Media Sosial, Self-Story.
KONSEP PEMIMPIN IDEAL MENURUT AL-GHAZĀLĪ Afriansyah, Ade
NALAR Vol 1, No 2 (2017): Jurnal Nalar
Publisher : IAIN Palangka Raya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (873.267 KB) | DOI: 10.23971/njppi.v1i2.905

Abstract

Abū Ḥamid Muḥammad ibn Muḥammad ibn Muḥammad al-Ghazālī al-Ṭūsī al-Ṣāfi’i, dikenal sebagai al-Ghazālī seorang hujjah Islam (1058-1111 M) dengan konsep pemikiran pemimpin yang lebih mendalam, menekankan pada aspek substansial nilai ajaran agama daripada segi-segi formal-simbolik, menyatukan apa yang telah dipisahkan dari sosok pemimpin, pemimpin haruslah datang dari rakyat dengan pilihan rakyat. Tipe pemimpin ideal menurut al-Ghazālī adalah pemimpin yang memiliki intelektualitas, agama, dan akhlak, mampu memengaruhi lingkungan yang dipimpin, serta mampu mengobati kehancuran dan kerusakan dalam diri bangsa atau organisasi, serta membawa masyarakat yang adil dan makmur dengan menjunjung tinggi keilmuan, juga moral yang bersendikan agama.Keywords: pemimpin, kepemimpinan, al-Ghazali.
BANGSA MONGOL MENDIRIKAN KERAJAAN DINASTI ILKHAN BERBASIS ISLAM PASCA KEHANCURAN BAGHDAD TAHUN 1258-1347 M Suryanti, Suryanti
NALAR Vol 1, No 2 (2017): Jurnal Nalar
Publisher : IAIN Palangka Raya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (617.045 KB) | DOI: 10.23971/njppi.v1i2.910

Abstract

Penelitian ini membahas tentang bangsa Mongol mendirikan kerajaan Dinasti Ilkhan berbasis Islam pasca kehancuran Baghdad Tahun 1258-1347 M. pokok permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana latar belakang berdirinya Dinasti Ilkhan yang pada akhirnya menjadi salah satu kerajan Islam dan bagaimana sosok kepemimpinan dinasti Ilkhan serta hubunganya dengan masyarakat Muslim di Persia.Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam catatan perjalanan bangsa Mongol dibawah pimpinan Jengis Khan dan Huagu Khan mempunyai peran penting dalam menghancurkan kekuasaan Islam di Baghdad. Ekspansi bangsa Mongol ke Baghdad menyebabkan kehancuran Dinasti Abbasiyah sebagai pusat peradaban Islam. Akan tetapi pasca kehancuran Baghdad, bangsa Ini kembali membangun peradaban Islam dibawah pemerintahan Dinasti Ilkhan.Gazana Khan merupakan salah satu tokoh penting dalam pemerintahan Dinasti Ilkhan. Gazana Khan sebagai keturunan Jengis Khan telah melakukan transformasi bagi bangsa Mongol melalui Dinasti Ilkhan dimasa pemerintahan Dinasti Ilkhan mengakui Islam sebagai agama resmi pemerintahan dan membangun peradaban berdasarkan spirit Islam.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana latar belakng berdirinya kerajaan Dinasti Ilkhan dibawah kepemimpinan bangsa Mongol serta kepemimpinan dinasti Ilkhan dan hubunganya dengan Mayarakat Islam, sehingga bangsa Mongol yang awalnya membenci ummat Islam telah mendirikan kerajaan Islam dibawah pemerintahan dinasti Ilkhan.Kata kunci: Bangsa Mongol, Dinasti Ilkhan, Baghdad
AYAT AL-QUR’AN DALAM MANTRA BANJAR Alfianoor, Alfianoor
NALAR Vol 1, No 1 (2017): Jurnal Nalar
Publisher : IAIN Palangka Raya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (833.381 KB) | DOI: 10.23971/njppi.v1i1.900

Abstract

The stimulating thing in the oral literature of the Banjar people is their mantras that custom parts or fragments of verses of the Quran. The usage of fragments of the Quranic verses in the mantra cannot be separated from their belief in the miracles of the Quran that are believed to provide the infiltrating force in the recited mantras, so as to, the purpose of chanting mantras in various shades is expected to achieved. According to the author, it is a form of interaction of an Islamic society against the Quran. the Banjar people are very religious, nonetheless they incorporate a very sacred and revered part of the Quranic verses and are upheld by Muslims in their mantras, as if this were a paradox. this is a very interesting thing to be studied.The research done in Hulu Sungai Tengah district has managed to get some important notes that the mantras that use the verses of the Quran turned out to exist in various kinds of spells such as in the spell of witchcraft, the spell of power, the mantra for things occult spells, spells to treat illness and praise.Keywords: Qur’anic verse, Spell, Banjar.
Kenabian Siddharta Gautama dalam Al-Qur’an Menurut Penafsiran Al-Qasimi Fauziah, Iva
NALAR Vol 2, No 1 (2018): Jurnal Nalar
Publisher : IAIN Palangka Raya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (442.277 KB) | DOI: 10.23971/njppi.v2i1.914

Abstract

Penafsiran Al-Qasimi terhadap QS. Al-Tin ayat 1-3 menuai banyak kontroversi. Beberapa pendapat ulama kontemporer yang dikutipnya mengindikasikan adanya simbolisasi Agama Buddha dalam kata al-Tin. Pemikiran semacam ini menimbulkan banyak spekulasi terutama terkait dengan status Siddharta sebagai salah satu Nabi yang tidak disebutkan namanya dalam Al-Qur’an. Ulama tanah air seperti Quraisy Shihab dan HAMKA turut membicarakannya dalam tafsirnya. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan pandangan Al-Qasimi melalui penafsirannya terhadap ayat-ayat kenabian dalam kitab Maḥāsin al-Ta’wīl fī al-Qur’ān al-Karīm. Penafsiran-penafsiran yang ada secara tematis akan membangun sebuah konsep kenabian yang memiliki beberapa indikator sebagai standar akurasi seorang Nabi dalam Islam. Penelitian ini merupakan kajian kepustakaan, oleh karena itu metode penelitian yang digunakan adalah library research. Sumber data dalam penelitian ini adalah kitab Mahasin Al-Ta’wil dan literatur lainnya yang relevan dengan fokus penelitian. Berdasarkan analisis yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa merujuk pada kriteria kenabian, Al-Qasimi memandang bahwa Siddharta Gautama tidak memenuhi kriteria sebagai seorang Nabi. Selain itu implikasi penafsiran surah At-Tin ayat 1-3 oleh Al-Qasimi dalam tafsirnya dapat memberikan pandangan yang berbeda terhadap idealisme antar-umat beragama. Pada tataran ini Muhammad maupun Siddharta bahkan para Nabi di seluruh dunia menurut Al-Qasimi pada dasarnya mengajarkan nilai yang sama, yakni kebenaran universal yang diakui seluruh umat manusia. Kesadaran akan adanya kebenaran uviversal tersebut diharapkan akan mewujudkan tercapainya perdamaian dan kesatuan umat manusia tanpa ada diskriminasi apapun.Kata Kunci: Tafsir, Kenabian Siddharta Gautama, Buddha, Al-Qasimi.
PERSPEKTIF BIMBINGAN KONSELING DALAM PENDIDIKAN ISLAM Kartika MR, Galuh Nashrullah
NALAR Vol 1, No 2 (2017): Jurnal Nalar
Publisher : IAIN Palangka Raya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (550.411 KB) | DOI: 10.23971/njppi.v1i2.906

Abstract

Bimbingan adalah bantuan yang diberikan kepada individu (peserta didik) agar dengan potensi yang dimiliki mampu dikembangkan secara optimal dengan jalan memahami diri, memahami lingkungan, mengatasi hambatan guna menentukan rencana masa depan yang lebih baik, dengan kata lain bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh orang yang ahli kepada seseorang atau beberapa orang individu, baik anak-anak, remaja, atau orang dewasa, agar orang yang dibimbing dapat mengembangkan kemampuan dirinya sendiri dan mandiri dengan memanfaatkan kekuatan individu dan sarana yang ada dan dapat dikembangkan berdasarkan norma-norma yang berlaku, sehingga bimbingan juga diadakan dalam rangka membantu setiap individu untuk lebih mengenali berbagai informasi tentang dirinya sendiri. Konseling adalah hubungan pribadi yang dilakukan secara tatap muka antara dua orang di mana konselor melalui hubungan itu dengan kemampuan-kemampuan khusus yang dimilikinya, menyediakan situasi belajar. Dalam hal ini konseli dibantu untuk memahami diri sendiri, keadaannya sekarang, dan kemungkinan keadaannya masa depan yang dapat ia ciptakan dengan menggunakan potensi yang dimilikinya, demi untuk kesejahteraan pribadi maupun masyarakat. Lebih lanjut konselig dapat belajar bagaimana memecahkan masalah-masalah dan menemukan kebutuhan-kebutuhan yang akan datang.Kata Kunci: Bimbingan Konselung, Pendidikan Islam
Peran Konsep Diri Terhadap Kedisiplinan Siswa Mz, Ihsan
NALAR Vol 2, No 1 (2018): Jurnal Nalar
Publisher : IAIN Palangka Raya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (290.224 KB) | DOI: 10.23971/njppi.v2i1.915

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peran Konsep Diri terhadap Kedisiplinan Siswa di Madrasah “ABC” Yogyakarta, Tahun Akademik 2015/2016. Populasi dari penelitian ini terdiri dari 208 siswa dari Madrasah “ABC”. Data dikumpulkan dengan menggunakan skala Konsep Diri dan skala Kedisiplinan menggunakan Analisis Regresi Berganda dan Teknik Korelasi Parsial. Hasil menunjukkan peran signifikan positif antara Konsep Diri terhadap Kedisiplinan yang menunjukkan F = 70,770, p = 0,000 (p <0,05). Peran signifikan positif dari Konsep Diri terhadap Kedisiplinan ditemukan t = 8,346, p = 0,000 (p <0,05). Kontribusi Efektif Konsep Diri terhadap Kedisiplinan menunjukkan 51,9%, dan sekitar (48,1%) dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang tidak menjadi fokus dalam penelitian ini. Kesimpulan berdasarkan hasil analisis ditemukan peran signifikan positif Konsep Diri terhadap Kedisiplinan. Semakin tinggi skor Konsep Diri, semakin tinggi pula Kedisiplinan. Sebaliknya, semakin rendah Konsep Diri, maka rendah pula Kedisiplinan.Kata Kunci: Konsep Diri, Kedisiplinan
KOMUNIKASI ORANG TUA-ANAK DALAM AL-QURAN (Studi Terhadap QS. Ash-Shaffat ayat 100-102) Zainab, Siti
NALAR Vol 1, No 1 (2017): Jurnal Nalar
Publisher : IAIN Palangka Raya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (610.248 KB) | DOI: 10.23971/njppi.v1i1.901

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana komunikasi orangtua-anak dalam perspektif al-Quran khususnya pada Q. S., ash shaffat  ayat 100-102.Penelitian ini murni kepustakaan dengan  menggunakan pendekatan tafsir. Teknik yang digunakan adalah dengan seleksi sumber dan analisis isi. Data primer adalah al-Quran al-karim dan kitab-kitab tafsir, sedangkan data sekunder adalah buku-buku yang berkaitan dengan Ilmu Komunikasi . Data dianalisis dengan menggunakan tafsir tahlili .Hasil penelitian menunjukkan, Pertama: Kandungan Q. s., ash shaffat ayat 100-102 mengemukakan betapa pentingnya sebuah do’a dipanjatkan secara sungguh-sungguh oleh orangtua agar diberi anak yang shaleh; ketika dianegerahi seorang anak hendaklah dididik dengan baik agar tumbuh menjadi anak yang shaleh; ketika mendidik anak tentunya banyak terdapat cobaan, masalah dan hambatan, selain penanaman agama sejak dini kepada anak, cara lainnya dilakukan  dengan menjalin  komunikasi yang baik antara orangtua dan anak. Kedua: Komunikasi orangtua-anak  yang dibangun antara nabi Ibrahim a.s. dengan Nabi Ismail a.s.pada Q. s., ash-shaffat ayat 100-102 adalah : membangun kebersamaan dan kepercayaan; menjalin komunikasi yang baik melalui cara saling terbuka, melakukan dialog/diskusi dengan rasa saling menghargai dan menghormati; dapat berempati dan saling mendukung sehingga adanya kesamaan visi dalam melihat persoalan yang pada akhirnya  tercipta komunikasi yang efektif. Kesamaan visi tersebut bersumber dari pemahaman agama yang benar dan sama –sama berusaha melaksanakan dan mengikhlashkannya. Komunikasi yang terjalin baik antara orangtua dan anak karena keduanya (baik sebagai komunikator maupun komunikan) memiliki karakter yang kuat (iman yang kuat, ilmu yang tinggi serta perilaku yang baik). Selain itu dalam berkomunikasi dilakukan dengan pemilihan bahasa/ kata yang baik dan menerapkan teknik komunikasi yang tepat dan benar.Kata kunci: Komunikasi Orangtua-anak, Q.S., ash Shaffat ayat 100-102
Ijtihad Epistemologis Muslim Progresif Omid Safi dan Respon Atas Tantangan Global Syafii, Muhammad
NALAR Vol 2, No 1 (2018): Jurnal Nalar
Publisher : IAIN Palangka Raya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (263.54 KB) | DOI: 10.23971/njppi.v2i1.740

Abstract

Dialektika pemikiran dan ketegangan cara pandang terhadap Islam oleh para sarjana muslim selama ini telah melahirkan berbagai ideologi yang tidak hanya berpengaruh pada keberagamaan tetapi juga aspek sosiologis dan politik global. Di tengah klaim terhadap ideologi masing-masing yang selama ini berujung pada pengotak-kotakan kelompok sampai pada ketegangan dan konflik yang dihasilkannya, sebuah tren pemikiran islam baru lahir dengan label “Muslim Progresif”. Tren pemikiran ini mencoba mengetengahkan alternatif Islam yang menembus gagasan-gagasan pemikiran sekuler hingga liberal, namun tetap berpegang tradisi dan melakukan kontekstualisasi untuk kebutuhan masyarakat kini, sekaligus mengkritisi secara fundamental arus modernitas dengan berpegang pada nilai-nilai Islam yang universal. Akhirnya, tiga agenda besar yang ingin diusung oleh pemikiran ini yaitu keadilan sosial tanpa syarat, kesetaran gender, dan melampaui pluralisme. Oleh karena itu, tulisan ini akan mencoba mengkaji dimensi epistemologis pemikiran “Muslim Progresif” terkait respon mereka terhadap persoalan yang dihadapi umat Islam sekarang..Tulisan ini menggunkan metode deksriptif analitias yang berarti bahawa penulis mengumpulkan dan menganalisa beberapa sumber mengenai judl tulisan yang kemudian dianalisis oleh penulis. Pada dasarnya ada tiga agenda besar (misi) dari Muslim Progresif yang diusung Omid Safi dan para pemikir progresif lainnya. Ketiga agenda tersebut adalah, pertama mewujudkan keadilan sosial yang tidak membatasi strata sosial, ras, golongan, suku bangsa, agama dan sekat sosial apapun; kedua mewujudkan kesetaraan gender dalam setiap aspek kehidupan, baik dalam sisi ekonomi, sosial, budaya, agama, pendidikan, hukum, dsb; ketiga menerima pluralitas sebagai kenyataan yang harus dihormati dan dijalankan.Kata Kunci: Muslim, Progresif, Keadilan, Gender, Pluralisme.
KOMUNIKASI INTERPERSONAL TENAGA PENDIDIK TERHADAP KEBERHASILAN BELAJAR SISWA PADA MIS ASSALAM MARTAPURA DAN MIN SUNGAI SIPAI KABUPATEN BANJAR Ropiani, M.
NALAR Vol 1, No 2 (2017): Jurnal Nalar
Publisher : IAIN Palangka Raya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (504.827 KB) | DOI: 10.23971/njppi.v1i2.907

Abstract

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode pendekatan kuantitatif karena data yang digunakan secara umum berupa angka-angka yang dihitung melalui uji statistik. sedangkan spesifikasi adalah deskriptif analitik korelasional. Yakni penelitian ini melukiskan secara sistematis, faktual, dam cermat juga berusaha memberikan gambaran tentang apa saja yang ada hubungannya dengan penelitian kemudian, menganalisa untuk menemukan pemecahan masalah yang dihadapi. Dalam hasil pengamatan yang di lakukan pada dua Madrasah Ibtidaiyah di Kabupaten Banjar, yakni Madarasah Ibtidaiyah Assalam Martapura dan Madrasah Ibtidaiyah Negeri Sungai Sipai, dimana dari dua Madrasah Ibtidaiyah tersebut adalah Madrasah Ibtidaiyah Assalam Martapuran merupakan sekolah swasta di bawah naungan Kemenag yang juga binaan dari Madrasah Ibtidaiyah Negeri Sungai Sipai,  pada kedua sekolah tersebut sering di jumpai bahwa faktor yang mempengaruhi belajar ini meliputi metode mengajar, kurikulum relasi tenaga pendidik dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin, pelajaran, falisilitas dan waktu, standar pelajaran, keadaan gedung, metode belajar dan tugas rumah. Belajar mengajar merupakan perilaku inti dalam proses pendidikan dimana anak didik dan pendidik berinteraksi. Interaksi belajar mengajar ditunjang oleh beberapa faktor lain dalam pendidikan antara lain: tujuan pendidikan, pendidik, anak didik, alam dan fasilitas pendidikan, metode mengajar, materi pelajaran dan lingkungan.Kata Kunci: Komunikasi Interpersonal, Tenaga Pendidik

Page 1 of 4 | Total Record : 36