NALAR: Jurnal Peradaban dan Pemikiran Islam
Nalar: Jurnal Peradaban dan Pemikiran Islam promotes multidisciplinary approaches to Islam and focuses on seven main topics; (1) the Qur’an and hadith, (2) Da’wah, (3) Psychology/Counseling, (4) Theology (Kalam), (5) Philosophy, (6) Mysticism (Tasawwuf), and (7) Islamic History. All submitted papers are subject to double-blind review process.
Articles
30
Articles
Statemen Sari Roti Pasca 212 dalam Perspektif Filsafat Bahasa Biasa John Langshaw Austin

Fadli, Syairil ( IAIN Palangka Raya )

NALAR Vol 2, No 2 (2018): Jurnal Nalar
Publisher : IAIN Palangka Raya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi statemen Sari Roti dalam perspektif filsafat bahasa biasa Austin. Penelitian ini menerapkan eklektik-hermeneutika. Ini dimulai dengan mengumpulkan dan memisahkan data. Semua data dievaluasi menggunakan cara deskriptif, interpretatif, reflektif, inklusif, dan sintesis. Austin membandingkan keragaman alat dan cara dalam bahasa, serta bagaimana bahasa digunakan, banyaknya jenis kata dan kalimat dengan apa yang dikatakan ahli logika tentang struktur bahasa tempat pembaca dapat menafsirkan teks kata sebagai jembatan untuk dapat dipahami. Statemen Sari Roti menggunakan salah satu jenis bahasa biasa, yakni bahasa sehari-hari. Berdasarkan sudut pandang filsafat bahasa Austin, pengaruh statemen Sari Roti ini berakibat unhappy. Statemen itu hanya muncul beberapa jam sebelum resmi dihapus oleh Sari Roti, tetapi menjadi sia-sia karena tidak memperhatikan situasi dan kondisi ketika informasi ditampilkan.Keywords: Statemen,Warganet,Bahasa Biasa

Karakteristik Pendidikan Islam Periode Nabi Muhammad Di Makkah dan Madinah

Setiawan, Agung Ibrahim ( Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung ) , Pratama, M. Al-Qautsar ( Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung )

NALAR Vol 2, No 2 (2018): Jurnal Nalar
Publisher : IAIN Palangka Raya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Perkembangan dan transformasi pendidikan Islam tidak terlepas dari peran Nabi Muhammad saw. sebagai pendiri pondasi yang kuat terhadap kehidupan sosial budaya masyarakat Kota Makkah dan Madinah. Corak pendidikan Islam pada periode Nabi Muhammad di Makkah dan Madinah menggambarkan bahwa beliau bukan saja berperan sebagai tokoh penyebar Islam saja namun juga sebagai kepala pemerintahan. Nabi Muhammad saw. mengajarkan pendidikan Islam pada masyarakat Makkah dan Madinah dengan metode yang berbeda. Hal ini tidaklah mengherankan karena tantangan yang di hadapi pada saat proses penerapan yang berbeda sehingga terciptalah corak yang khas antara keduanya. Selama kepemimpinan Nabi Muhammad saw. perkembangan pendidikan Islam berhasil mengubah pola pikir serta tindakan masyarakat Arab menjadi lebih beradab, beriman kepada Allah, berakhlak mulia, cerdas, berkarakter, dan lain sebagainya.Keywords:Karakteristik, Pendidikan Islam, Rasullulah

Dakwah Di Kalangan Masyarakat Transmigran: Studi Terhadap Kompetensi Dai Di Dusun Cilodang Kecamatan Pelepat Kabupaten Bungo Jambi

Hidayat, Ansori ( Sekolah Tinggi Agama Islam Yayasan Nurul Islam Muara Bungo, Jambi )

NALAR Vol 2, No 2 (2018): Jurnal Nalar
Publisher : IAIN Palangka Raya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan tentang dakwah pada masyarakat multietnis di Dusun Cilodang Kecamatan Pelepat Kabupaten Bungo Provinsi Jambi. Penelitian ini dipandang menarik karena meskipun kondisi masyarakat Dusun Cilodang yang heterogen, muballigh yang berdakwah mampu memberikan pemahaman dan menyampaikan ajaran Islam untuk diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Untuk lebih memfokuskan dan membatasi kajian ini, penelitian ini di kerucutkan pada wilayah kompetensi dainya saja dengan pertimbangan karena dai sebagai ujung tombak berjalannya suatu kegiatan dakwah. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan dengan menggunakan metode kualitatif. Sedangkan paradigma yang digunakan dalam penelitian ini adalah paradigma subjektif. Selain itu pendekatan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus. Berdasarkan analisis terhadap temuan di lapangan dapat disimpulkan bahwa dakwah pada masyarakat dengan tingkat keberagaman yang tinggi menuntut para dai untuk memiliki keahlian dalam melihat situasi dan kondisi para madu. Pada tataran ini keberhasilan berdakwah pada masyarakat multietnis tidak hanya ditentukan oleh kompetensi dai dalam memberikan ceramah dan tausiyah saja, namun kompetensi sosial budaya, manajerial dakwah, dan penguasaan media juga sangat diperlukan. Hal ini karena dakwah pada masyarakat multietnis yang terpenting adalah membumikan ajaran Islam dalam berbagai sendi kehidupan masyarakat baik dalam aspek akidah, syariah, maupun akhlak serta sosial budaya masyarakat.Keywords:KompetensiDai,Transmigran,DakwahMultikultural

Konsep Kafir dalam Alquran: Studi Atas Penafsiran Asghar Ali Engineer

Anam, Haikal Fadhil ( UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Indonesia )

NALAR Vol 2, No 2 (2018): Jurnal Nalar
Publisher : IAIN Palangka Raya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Konsep kafir pada umumnya hanyalah berbicara tentang penolakan keyakinan terhadap Allah Swt. dan Muhammad saw. Asghar Ali Engineer salah satu pemikir Islam kontemporer menawarkan konsep baru tentang kafir. Penafsiran Asghar terhadap alquran atas konsep kafirnya sangat menarik. Hal ini tidak lain karena kebaruannya. Dalam penafsirannya, Asghar sangat terpengaruh oleh teologi pembebasan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan hasil penafsiran Asghar atas konsep kafirnya. Penelitian ini adalah kajian kepustakaan, oleh karena itu metode yang penulis gunakan adalah studi pustaka atau library research. Sumber data untuk penelitian ini adalah buku-buku karya Asghar dan sumber-sumber lain yang relevan dengan fokus penelitian. Berdasakan hasil penelitian, konsep kafir dalam penafsiran Asghar sangat transformatif. Menurutnya, kafir adalah bukan saja mereka yang tidak beriman secara formal kepada Allah Swt. dan Muhammad saw. serta yang lainnya, tetapi juga secara tidak langsung menantang terhadap terciptanya masyarakat yang adil dan egaliter yang bebas dari segala bentuk eksploitasi dan penindasan, dalam artian mereka yang tidak mendukung terciptanya masyarakat yang adil dan egaliter, tidak membela kaum yang lemah dan tertindas.Keywords:Alquran,Tafsir,Teologi Pembebasan,Kafir,Asghar Ali Engineer

Sejarah Perkembangan Globalisasi dalam Dunia Islam

Sujati, Budi ( Post Graduate UIN Sunan Gunung Djati Bandung )

NALAR Vol 2, No 2 (2018): Jurnal Nalar
Publisher : IAIN Palangka Raya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Di era globalisasi ini, semua informasi yang berkaitan dengan isu-isu kontemporer sangat menarik untuk dikaji. Dalam diskursus itu memunculkan realita dari fakta yang ada mengenai perkembangan globalisasi dari zaman kuno hingga zaman modern menarik untuk dikaji dalam tulisan ini. Pendekatan yang digunakan dalam globalisasi adalah fenomenologi dengan melihat suatu peristiwa harus dilihat dari fenomena-fenomena yang terjadi saat ini secara global. Islam sebagai agama yang memiliki tatanan universal dan global, tentu memiliki peran dalam menyelesaikan masalah globalisasi. Yang jelas dari universalitasnya, Islam dapat memiliki peran penting untuk membentuk komunitas global. Dari sinilah, universalitas Islam mampu menghadapi masalah-masalah yang menghadangnya.Keywords: Globalisasi, Universal, Islam, Kontemporer

Penafsiran Kontekstualis Perihal Kepemimpinan Non-Muslim dalam Perspektif Alquran dan Hadis

Bilhaq, M. Agus Muhtadi ( UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta )

NALAR Vol 2, No 2 (2018): Jurnal Nalar
Publisher : IAIN Palangka Raya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Perbedaan dalam menafsirkan QS. Ali Imran: 28 dan QS. Al-Maidah: 51, berimplikasi pada sikap pro-kontra perihal kepemimpinan non-muslim, seperti terlihat pada pemilukada Jakarta tahun 2012 dan 2017. Menyikapi hal itu, terdapat dua kubu yang masing-masing mengambil sikap berbeda. Pertama, kelompok tekstualis, yang diwakili oleh Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) misalnya, secara tegas mengharamkan non-muslim sebagai auli? bagi umat muslim, dengan mengutip QS. Al-Maidah: 51. Kedua, kelompok yang lebih menekankan pada aspek esensial kriteria seorang pemimpin, semisal Nahdlatul Ulama (NU). Kaitannya dengan pengharaman oleh kubu tekstualis, terdapat sebuah riwayat yang dapat menegaskan sikap itu, bahwa Nabi Muhammad saw. pernah menolak tawaran pertolongan dari seorang kafir pada peristiwa perang Badar (lan asta?na bi musyrikin). Akan tetapi, dalam riwayat lain disebutkan bahwa Rasulullah pernah menjadikan seorang kafir sebagai pemimpin/penunjuk jalan (h?diyan) ketika hijrah. Riwayat lainnya juga menyebutkan bahwa Nabi Saw pernah menerima bantuan dari seorang kafir pada peristiwa Perang Hunain. Dalam hal ini, terkesan adanya kontradiksi antara teks alquran dan hadis yang dapat membingungkan pembaca dalam memahami teks tersebut. Oleh sebab itu, perlu dilakukan penelitian lebih mendalam, khususnya dalam konteks Indonesia, yang meskipun menjadi negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, tetapi juga menjadi rumah bagi masyarakat dengan latar belakang suku, budaya, serta kepercayaan yang bermacam-macam. Masing-masing berhak untuk memilih dan dipilih sebagai pemimpin. Dengan menggunakan metode penafsrian kontekstual yang ditawarkan oleh Abdullah Saeed untuk membaca QS. Ali Imran: 28 dan QS. Al-Maidah: 51 serta metode interpretasi hadis Yusuf al-Qaradhawi teks hadis terkait, penelitian ini bertujuan untuk menggali pemahaman komprehensif mengenai persoalan ini.Keywords:Penafsiran Kontekstualis, Pemimpin,Non-Muslim,Al-Maidah 51,Auli?,Hadis.

Micro Hijabers Celebrity: Membentuk Identitas dengan Update Self-Story via Instagram (Kasus Dian Pelangi)

Khomalia, Isti ( Program Studi Magister Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ) , Rahman, Khairul Arief ( Mahasiswa Program Pascasarjana Prodi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Gadjah Mada )

NALAR Vol 2, No 1 (2018): Jurnal Nalar
Publisher : IAIN Palangka Raya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (720.457 KB)

Abstract

Artikel ini akan membahas mengenai fenomena hijabers yang sering mewarnai media sosial seperti Instagram. Fenomena mengenai hijabers yang tampil sebagai representasi wanita muslimah ini menarik untuk dikaji dari sisi pembentukan citra diri. Namun seiring berjalannya waktu hijabers juga menjadi model endorse produk-produk mulai dari kosmetik, jilbab dan lain sebagainya. Karena nilai keekonomian ini pula, hijabers tersebut menjadi tampil semenarik mungkin dengan foto atau gambar yang menunjang citra diri. Otomatis batas dalam membangun citra diri, menjadi kabur dan seakan tidak bisa dibedakan antara diri secara identitas personal sebagai micro-celebrity dengan diri sebagai model endorse. Pada titik inilah peneliti tertarik apa dan bagaimana para hijabers membangun percampuran identitas personal dengan identitas diri sebagai market branding. Peneliti juga tertarik tentang bagaimana pembentukan identitas ini dipadukan dengan gambar dan teks yang seolah diceritakan layaknya sebuah diary. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif untuk menganalisis temuan. Penelitian ini akan dibedah menggunakan dua teori, yaitu teori identitas untuk melihat citra diri dan teori dramaturgi Erving Goffman untuk   membedah bagaimana Dian Pelangi menceritakan keseharian dirinya khususnya lewat instagram. Berdasarkan hasil analisis terhadap temuan penelitian, dapat disimpulkan bahwa self-story di Instagram memiliki peranan penting seseorang dalam membentuk para micro-celebrity. Dalam perspektif aspek-aspek dramaturgi pembentukan ceritanya terdapat perbedaan terutama dalam aspek misrepresentation. Pertama, para follower lebih banyak akan melihat Dian Pelangi sebagai orang yang sempurna dalam akun Instagramnya dan lebih banyak memujinya. Sementara follower tidak akan tahu masalah apa yang mungkin terjadi lewat akun Instagramnya. Kedua, dikarenakan identitas yang tumpang tindih antara identitas personal dengan branding, maka identitas yang tercipta lebih menyerupai hyper-identity.Kata Kunci: Micro-Celebrity, Identitas, Hijabers, Media Sosial, Self-Story.

Kenabian Siddharta Gautama dalam Al-Qur??an Menurut Penafsiran Al-Qasimi

Fauziah, Iva ( UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta )

NALAR Vol 2, No 1 (2018): Jurnal Nalar
Publisher : IAIN Palangka Raya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (442.277 KB)

Abstract

Penafsiran Al-Qasimi terhadap QS. Al-Tin ayat 1-3 menuai banyak kontroversi. Beberapa pendapat ulama kontemporer yang dikutipnya mengindikasikan adanya simbolisasi Agama Buddha dalam kata al-Tin. Pemikiran semacam ini menimbulkan banyak spekulasi terutama terkait dengan status Siddharta sebagai salah satu Nabi yang tidak disebutkan namanya dalam Al-Qur??an. Ulama tanah air seperti Quraisy Shihab dan HAMKA turut membicarakannya dalam tafsirnya. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan pandangan Al-Qasimi melalui penafsirannya terhadap ayat-ayat kenabian dalam kitab Maḥāsin al-Ta??wīl fī al-Qur??ān al-Karīm. Penafsiran-penafsiran yang ada secara tematis akan membangun sebuah konsep kenabian yang memiliki beberapa indikator sebagai standar akurasi seorang Nabi dalam Islam. Penelitian ini merupakan kajian kepustakaan, oleh karena itu metode penelitian yang digunakan adalah library research. Sumber data dalam penelitian ini adalah kitab Mahasin Al-Ta??wil dan literatur lainnya yang relevan dengan fokus penelitian. Berdasarkan analisis yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa merujuk pada kriteria kenabian, Al-Qasimi memandang bahwa Siddharta Gautama tidak memenuhi kriteria sebagai seorang Nabi. Selain itu implikasi penafsiran surah At-Tin ayat 1-3 oleh Al-Qasimi dalam tafsirnya dapat memberikan pandangan yang berbeda terhadap idealisme antar-umat beragama. Pada tataran ini Muhammad maupun Siddharta bahkan para Nabi di seluruh dunia menurut Al-Qasimi pada dasarnya mengajarkan nilai yang sama, yakni kebenaran universal yang diakui seluruh umat manusia. Kesadaran akan adanya kebenaran uviversal tersebut diharapkan akan mewujudkan tercapainya perdamaian dan kesatuan umat manusia tanpa ada diskriminasi apapun.Kata Kunci: Tafsir, Kenabian Siddharta Gautama, Buddha, Al-Qasimi.

Ijtihad Epistemologis Muslim Progresif Omid Safi dan Respon Atas Tantangan Global

Syafii, Muhammad ( Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga )

NALAR Vol 2, No 1 (2018): Jurnal Nalar
Publisher : IAIN Palangka Raya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (263.54 KB)

Abstract

Dialektika pemikiran dan ketegangan cara pandang terhadap Islam oleh para sarjana muslim selama ini telah melahirkan berbagai ideologi yang tidak hanya berpengaruh pada keberagamaan tetapi juga aspek sosiologis dan politik global. Di tengah klaim terhadap ideologi masing-masing yang selama ini berujung pada pengotak-kotakan kelompok sampai pada ketegangan dan konflik yang dihasilkannya, sebuah tren pemikiran islam baru lahir dengan label ??Muslim Progresif?. Tren pemikiran ini mencoba mengetengahkan alternatif Islam yang menembus gagasan-gagasan pemikiran sekuler hingga liberal, namun tetap berpegang tradisi dan melakukan kontekstualisasi untuk kebutuhan masyarakat kini, sekaligus mengkritisi secara fundamental arus modernitas dengan berpegang pada nilai-nilai Islam yang universal. Akhirnya, tiga agenda besar yang ingin diusung oleh pemikiran ini yaitu keadilan sosial tanpa syarat, kesetaran gender, dan melampaui pluralisme. Oleh karena itu, tulisan ini akan mencoba mengkaji dimensi epistemologis pemikiran ??Muslim Progresif? terkait respon mereka terhadap persoalan yang dihadapi umat Islam sekarang..Tulisan ini menggunkan metode deksriptif analitias yang berarti bahawa penulis mengumpulkan dan menganalisa beberapa sumber mengenai judl tulisan yang kemudian dianalisis oleh penulis. Pada dasarnya ada tiga agenda besar (misi) dari Muslim Progresif yang diusung Omid Safi dan para pemikir progresif lainnya. Ketiga agenda tersebut adalah, pertama mewujudkan keadilan sosial yang tidak membatasi strata sosial, ras, golongan, suku bangsa, agama dan sekat sosial apapun; kedua mewujudkan kesetaraan gender dalam setiap aspek kehidupan, baik dalam sisi ekonomi, sosial, budaya, agama, pendidikan, hukum, dsb; ketiga menerima pluralitas sebagai kenyataan yang harus dihormati dan dijalankan.Kata Kunci: Muslim, Progresif, Keadilan, Gender, Pluralisme.

Micro Hijabers Celebrity: Membentuk Identitas dengan Update Self-Story via Instagram (Kasus Dian Pelangi)

Khomalia, Isti ( Program Studi Magister Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ) , Rahman, Khairul Arief ( Mahasiswa Program Pascasarjana Prodi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Gadjah Mada )

NALAR Vol 2, No 1 (2018): Jurnal Nalar
Publisher : IAIN Palangka Raya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Artikel ini akan membahas mengenai fenomena hijabers yang sering mewarnai media sosial seperti Instagram. Fenomena mengenai hijabers yang tampil sebagai representasi wanita muslimah ini menarik untuk dikaji dari sisi pembentukan citra diri. Namun seiring berjalannya waktu hijabers juga menjadi model endorse produk-produk mulai dari kosmetik, jilbab dan lain sebagainya. Karena nilai keekonomian ini pula, hijabers tersebut menjadi tampil semenarik mungkin dengan foto atau gambar yang menunjang citra diri. Otomatis batas dalam membangun citra diri, menjadi kabur dan seakan tidak bisa dibedakan antara diri secara identitas personal sebagai micro-celebrity dengan diri sebagai model endorse. Pada titik inilah peneliti tertarik apa dan bagaimana para hijabers membangun percampuran identitas personal dengan identitas diri sebagai market branding. Peneliti juga tertarik tentang bagaimana pembentukan identitas ini dipadukan dengan gambar dan teks yang seolah diceritakan layaknya sebuah diary. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif untuk menganalisis temuan. Penelitian ini akan dibedah menggunakan dua teori, yaitu teori identitas untuk melihat citra diri dan teori dramaturgi Erving Goffman untuk membedah bagaimana Dian Pelangi menceritakan keseharian dirinya khususnya lewat instagram. Berdasarkan hasil analisis terhadap temuan penelitian, dapat disimpulkan bahwa self-story di Instagram memiliki peranan penting seseorang dalam membentuk para micro-celebrity. Dalam perspektif aspek-aspek dramaturgi pembentukan ceritanya terdapat perbedaan terutama dalam aspek misrepresentation. Pertama, para follower lebih banyak akan melihat Dian Pelangi sebagai orang yang sempurna dalam akun Instagramnya dan lebih banyak memujinya. Sementara follower tidak akan tahu masalah apa yang mungkin terjadi lewat akun Instagramnya. Kedua, dikarenakan identitas yang tumpang tindih antara identitas personal dengan branding, maka identitas yang tercipta lebih menyerupai hyper-identity.Kata Kunci: Micro-Celebrity, Identitas, Hijabers, Media Sosial,Self-Story.