Jurnal Arsir
ISSN : 25801155     EISSN : 26144034
Jurnal Arsitektur Arsir is published by Architecture Department, Faculty of Engineering, Muhammadiyah University of Palembang. It reviews any subjectt related to the field of architecture. Published a twice a year; in June and December; there are two version of publication; ISSN 2580-1155 (print) and ISSN 2614-4034 (online)
Articles
28
Articles
Pengukuran Durasi Waktu Berwudhu dan Volume Penggunaan Air Pada Masjid-Masjid di Kota Palembang

Mafra, Ramadisu, Ardabili, Ardabili, Ferdiansyah, Ferdiansyah, Handaka, Handaka, Irawan, Irawan

Arsir Vol 2, No 2 (2018): ARSIR
Publisher : Universitas muhammadiyah palembang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Kenyataan bahwa waktu antrean untuk berwudhu begitu lama sehingga membuat jema’ah menjadi masbuk seringkali dijumpai di beberapa Masjid, tidak terkecuali di kota Palembang, terutama pada Masjid yang berlokasi di jalan umum, dimana jema’ah yang hadir bukan penduduk setempat. Salah satu faktor penyebabnya adalah tidak sebanding antara Jemaah dan jumlah kran wudhu yang tersedia, hal ini disebabkan tidak tepatnya perhitungan jumlah kran, dikarenakan tidak diketahuinya durasi waktu berwudhu harian jema’ah. Faktor lainnya adalah kecepatan air pada kran yang terlalu kecil hingga mempengaruhi lamanya waktu berwudhu, atau kecepatan air yang terlalu besar akan menimbulkan pemborosan air. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan durasi waktu berwudhu dan volume penggunaan air pada masjid-masjid di Kota Palembang, dengan metode time motion study, berlokasi di 25 Masjid di Kota Palembang dengan 734 sampel, diambil menggunakan teknik purpose sample,  pengolahan data dengan metode timeline video player dan analisis tendensius sentral mean, untuk mendapatkan rata-rata durasi waktu berwudhu dan volume rata-rata air yang digunakan, kemudian disajikan dalam bentuk tabel dan narasi. Hasil penelitian diperoleh durasi waktu berwudhu rata-rata ± 64,2 detik, dengan volume penggunaan air sebesar ± 4,42 liter pada tiap kran dengan kecepatan air ± 0,070 liter per detik.

Karakteristik Pengunjung Taman Indah Maskarebet Di Kota Palembang

Mafra, Ramadisu

Arsir Vol 2, No 1 (2018): ARSIR
Publisher : Arsir

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1040.231 KB)

Abstract

Meskipun taman adalah ruang terbuka publik yang sejatinya bersifat demokratis tetapi pada kenyataannya taman memiliki segmentasi pengunjung dengan karakteristik tertentu. Mengetahui karakteristik pengunjung taman merupakan kunci dasar dalam menentukan ketersediaan amenitas sebuah taman. Terdapat hubungan timbal balik yang erat antara karakteristik pegunjung dan amenitas taman, karakteristik menentukan amenitas dalam perencanaan, dan amenitas menjadikan taman dikunjungi oleh karakteristik tertentu. Ketersediaan amenitas taman yang tidak bersesuaian dengan karakteristik pegunjung akan menyebabkan taman dianggap tidak menarik, kurang diminati bahkan sepi pengunjung. Penelitian bertujuan untuk mendeskripsikan karakteristik pengunjung taman di kota Palembang dengan indikator berupa; 1) sosio-demografi, 2) Pola Penggunaan Taman, dan 3) Aktivitas di taman, sehingga hasilnya menjadi informasi statistik penting bagi pengembangan atau perencanaan taman lainnya di kota Palembang. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif dengan metode penelitian survey, berlokasi di Taman Indah Maskarebet (TIM). Menggunakan teknik sampel insidental. Metode distribusi frekuensi dan tendensius sentral digunakan untuk pengolahan data, kemudian disajikan dalam bentuk tabel, gambar dan atau narasi untuk menginterpretasikan data tersebut. Hasil penelitian mengungkapkan karakteristik pengunjung TIM adalah; perempuan (54%), usia 17–25 tahun (53%), mahasiswa (31%), berkujung berdua (31%), bertujuan jalan-jalan (30%), menggunakan motor pribadi (65%), waktu kunjungan tertinggi pukul 17.00–18.00 WIB (53%), dengan frekuensi kunjugan 3–4 kali seminggu (38%), selama 31–45 menit (32%) dengan aktivitas duduk (26,10%) atau berbincang (11,19%). Karakteristik pengunjung TIM (60%) identik dengan karakteristik pengunjung taman-taman lainnya di Kota Palembang.

Kajian Sirkulasi Vertikal dan Horizontal bagi Atlet Pengguna Wheelchair di Gedung Olahraga Manahan, Surakarta

Riskiyanto, Resza, Harani, Arnis Rochma, Pertiwi, Andina Cahya

Arsir Vol 2, No 1 (2018): ARSIR
Publisher : Arsir

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1270.755 KB)

Abstract

Indonesia memperoleh 191 medali pada Sea Games 2017 dan mendapat predikat juara umum Asean Para Games 2017 yang diselenggarakan di Malaysia. Hal ini membuat pemerintah di berbagai daerah semakin berbenah dalam memberikan fasilitas yang layak bagi pelatihan atlet-atletnya. Pada tahun 2018, Kota Surakarta menjadi tempat dimana atlet-atlet Asian Para Games 2018 menjalankan pemusatan latihan nasional (pelatnas). Hal tersebut melatarbelakangi pemerintah Kota Surakarta dalam merencanakan pembangunan area fasilitas olahraga yang layak dan memenuhi standar, salah satunya Gedung Olahraga Manahan yang sering menjadi tempat diselenggarakannya kompetisi olahraga hingga tingkat internasional. Tahun ini GOR Manahan menjadi salah satu tempat pelatihan atlet Asian Para Games 2018 untuk olahraga bulutangkis dengan kata lain adalah wheelchair badminton. Gedung Olahraga Manahan memiliki akses sirkulasi pendukung untuk atlet pengguna wheelchair, namun belum sesuai dengan standar yang dikeluarkan oleh Permen PUPR RI Nomor 14/PRT/M/2017, International Standard Facilities BWF Statutes, FIBA Guide to Basketball Facilities dan  FIVB Official Volleyball Rules 2017-2020. Sehingga dibutuhkan kajian mengenai sirkulasi vertikal dan horizontal bagi atlet pengguna wheelchair di Gedung Olahraga Manahan. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan studi kasus pada objek-objek sirkulasi di Gedung Olahraga Manahan. Data diperoleh melalui survei literatur dan survei lapangan, kemudian dianalisis dalam bentuk narasi. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi desain sirkulasi yang sesuai standar bagi atlet pengguna wheelchair

Tengaran dan Indentitas Kota Palembang

Wazir, Zuber Angkasa

Arsir Vol 2, No 1 (2018): ARSIR
Publisher : Arsir

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (603.177 KB)

Abstract

Brand suatu kota merupakan strategi untuk menghasilkan identitas yang tidak dapat dilupakan dalam pikiran wisatawan sekaligus mengungkapkan nilai-nilai inti suatu kota. Menjelang pelaksanaan event Asian Games di Palembang, kota ini mengalami krisis identitas terkait brand apa yang akan dipromosikan dalam ajang ini. Pengetahuan tentang tengaran kota Palembang dapat digunakan sebagai sumber gagasan untuk membentuk suatu brand yang dapat mewakili kota ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tengaran Kota Palembang dan merumuskan slogan yang paling mewakili identitas Kota Palembang berdasarkan tengaran ini. Kami menggunakan peta mental, diskusi kelompok fokus, dan sejumlah tinjauan literatur untuk menghasilkan brand yang tepat bagi kota Palembang. Sampel mencakup 42 orang mahasiswa arsitektur di Universitas Muhammadiyah Palembang. Kami berhasil mengumpulkan dan mengevaluasi 15 tengaran di Kota Palembang. Tengaran yang dievaluasi mencakup Palembang Square Mall, Jembatan Ampera, Stadion Jakabaring, Pasar Cinde, Bandara, Benteng, Mesjid, Museum, Monumen, Rumah Sakit, Pulau Kemaro, dan tugu ikan belido. Kriteria yang digunakan dalam penelitian ini adalah dalam penelitian ini: familiaritas, kualitas, keunikan, simbol, visual, memorabilitas, kebanggaan, dan sosial. Kami menemukan bahwa Jembatan Ampera, Mesjid Agung, dan Pulau Kemaro adalah tengaran yang paling memenuhi kriteria tersebut. Berdasarkan ketiga tengaran, ditarik sebuah slogan, “crossing to the Kingdom of Diversity.” Slogan ini dikritik karena menghilangkan heterogenitas suatu kota. Dalam penelitian ini kami bukan saja menunjukkan brand yang tepat untuk Kota Palembang tetapi juga menunjukkan kalau keanekaragaman di suatu kota justru dapat ditampilkan dalam slogan sehingga heterogenitas tersebut tetap terjaga.

Evaluasi Fasilitas Penunjang untuk Penyandang Disabilitas di Kawasan Benteng Kuto Besak Palembang

Sary, Reny Kartika, kamil, Erfan M

Arsir Vol 2, No 1 (2018): ARSIR
Publisher : Arsir

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1686.599 KB)

Abstract

Benteng Kuto Besak adalah salahsatu ruang terbuka publik yang menjadi primadona destinasi wisata bagi warga kota Palembang. Bukan hanya orang yang secara fisik normal bahkan orang yang mempunyai masalah disabilitas pun harus mendapatkan manfaat juga dari  ruang terbuka publik ini. Penelitian ini secara umum untuk melakukan evaluasi terhadap fasilitas penunjang bagi kaum disabilitas yang berada di Benteng Kuto Besak, apakah elemen-elemen tersebut sudah memenuhi standar atau masih butuh perbaikan sehingga bisa maksimal dimanfaatkan oleh kaum disabilitas.Penelitian ini akan dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk menjelaskan elemen-elemen penunjang yang dibutuhkan oleh kaum disabilitas sehingga mereka bisa dengan leluasa menikmati atau berada pada ruang terbuka publik ini. Analisis akan dilakukan setelah melakukan survey keadaan eksisting (data visual) berupa Foto fasilitas penunjang bagi kaum disabilias, Foto Udara, Peta, dan hasil pengukuran pada objek penelitian. Selanjutnya akan dilakukan analisa terhadap elemen-elemen penunjang bagi kaum disabilitas, baik berupa bentuk, ukuran dan sandarisasi yang telah di syaratkan oleh Undang-undang nomor 8 tahun 2016 tentang penyandang disabilitas. Luaran penelitian ini adalah : (1) Kondisi eksisting fasilitas penunjang bagi kaum disabilitas di Benteng Kuto Besak; (2) Mengetahui apakah elemen-elemen fasilitas penunjang bagi kaum disabilitas yang ada di BKB sudah memenuhi persyaratan menurut  UU Nomor 8 tahun 2016 tentang Disabilitas dan Permen PU nomor 30 tahun 2006 tentang pedoman teknis fasilitas dan aksesibilitas pada bangunan gedung dan lingkungan; (3) Usulan agar elemen penunjang tersebut bisa memenuhi standar Permen PU No 30 tahun 2006.

Transformasi Tempat Ketiga (third place) dari Ruang Dalam (indoor) Menuju Ruang Luar (outdoor): Studi Kasus Kota Palembang

Jaya, Meldo Andi

Arsir Vol 2, No 1 (2018): ARSIR
Publisher : Arsir

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1319.022 KB)

Abstract

Perkembangan kota baik fisik maupun social berpengaruh kepada masyarakat dalam penggunaan ruang kota di kota Palembang. Kebutuhan ruang untuk kegiatan non formal semakin meningkaat.  Solusi ruang ketiga dalam menyelesaikan persoalan kebutuhan ruang adalah dengan tersediannya Tempat Ketiga (third place).   Pada masyarakat modern keberadaan Tempat Ketiga sangatlah penting, karena menyediakan ruang-ruang ntuk kegiatan informal, sosial, dan komunitas. Pada  awal perkembangannya Ruang Ketiga berupa ruang dalam bangunan. Namun saat ini telah mengalami transformasi yaitu dari ruang dalam (indoor) menuju ruang luar (outdoor). Jenis ruang luar yang menjadi Tempat Ketiga terdiri bermacam-macam jenis ruang, bisa ruang pribdi ataupun ruang publik. Kegiatan yang terjadi bisa sepanjang hari maupun termporer. Jenis kegiatan yang terjadi sangat beragam.

KAJIAN PERILAKU MAHASISWA TERHADAP PENATAAN FURNITURE RUANG KELAS

Angrini, Sisca N

Jurnal Arsir Vol 1, No 1 (2017): ARSIR
Publisher : Jurnal Arsir

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Dalam proses belajar mengajar perlu memperhatikan aspek-aspek yang dapat mempengaruhinya agar kegiatan tersebut dapat berjalan dengan baik. Beberapa faktor yang dapat di pelajari dalam memberikan suasana ruang kegiatan belajar mengajar agar berlangsung sesuai dengan harapan antara lain harus memperhatikan aksesibilitas, mobilitas, interaksi dan variasi kerja mahasiswa. Selain itu ada beberapa faktor pendukung kegiatan tersebut seperti luas ruang kelas, tinggi ruang, pencahayaan, penghawaan dan jarak pandang. Pada penataan furniture ruang kelas harus diatur sedemikian rupa agar faktor-faktor yang dapat menunjang lancarnya kegiatan belajar mengajar tersebut terintergrasi dengan baik dan fungsi ruang kelas menjadi maksimal. Perilaku mahasiswa dalam menentukan dimana posisi yang menurutnya nyaman dalam menerima pelajaran juga menjadi acuan agar mereka bisa berinteraksi dengan pengajar dan juga teman lebih leluasa dan berjalan lancar. Untuk mendapatkan tingkat kenyamanan yang merata di setiap bangku-bangku kelas yang telah di sediakan, perlu adanya sebuat setting interior ruang dalam yang memenuhi standar kenyaman tersebut

Tim Redaksi

Redaksi, Tim

Jurnal Arsir Vol 1, No 2 (2017): ARSIR
Publisher : Jurnal Arsir

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (96.81 KB)

Abstract

ANALISIS KEBUTUHAN RUANG TERBUKA HIJAU DI KOMPLEK PERUMAHAN KENCANA DAMAI PALEMBANG

Sary, Reny Kartika, Kamil, Erfan M

Jurnal Arsir Vol 1, No 2 (2017): ARSIR
Publisher : Jurnal Arsir

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1537.749 KB)

Abstract

Penyediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) menjadi hal yang utama, karena fungsi dan manfaatnya yang begitu besar bagi keberlangsungan hidup sebuah kota. Khususnya di kota Palembang, pada tahun 2015 luasan Ruang Terbuka Hijau belum mencapai 10% dari luas wilayah, sedangkan standar yang diatur pada undang-undang No 26 tahun 2007 Ruang Terbuka Hijau harus mencapai 30% dari luas wilayah perkotaan.Penelitian ini secara umum untuk menghitung kebutuhan luas Ruang Terbuka Hijau (RTH) berdasarkan luas komplek perumahan yang menjadi objek penelitian, dalam hal ini adalah Komplek Perumahan Kencana Damai Palembang. Sedangkan tujuan khusus penelitian ini adalah menghitung dan menginventarisasi keberadaan Ruang Terbuka Hijau di Komplek Perumahan Kencana Damai serta menentukan kekurangan atau kelebihan luas Ruang Terbuka Hijau pada Objek penelitian. Penelitian ini akan dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif kuantitatif yang bertujuan untuk menjelaskan dan menghitung besaran luas Ruang Terbuka Hijau pada Komplek Perumahan Kencana Damai Palembang ,data dijelaskan dengan angka-angka yang menggunakan perhitungan matematis, untuk menentukan luasan RTH pada Objek penelitian, serta diperkuat dengan hasil survey berupa gambaran tentang kondisi dan situasi yang akan dijadikan deskriptif untuk penelitian. Analisis akan dilakukan setelah melakukan survey eksisting (data visual) berupa Foto Udara, Peta, dan hasil pengukuran pada objek penelitian. Selanjutnya akan dilakukan perhitungan luas lahan objek penelitian. Dari data ini akan didapatkan besaran ideal Ruang Terbuka Hijau yang harus tersedia pada objek penelitian yaitu besaran Ruang Terbuka Hijau Eksisting terhadap besaran lokasi objek penelitian. Kemudian dari hasil perhitungan itu akan diketahui apakah luasan RTH pada objek penelitian sudah sesuai dengan standar yang diatur pada Undang-Undang No. 26 tahun 2007 atau belum. Apabila belum, berapa besar kekurangan RTH yang harus ditambahkan agar besaran RTH pada objek penelitian bisa mencapai 30%. Luaran penelitian ini adalah: (1) Luas Ruang Terbuka Hijau eksisting objek penelitian; (2) Mengetahui apakah luasan Ruang Terbuka Hijau pada objek penelitian sudah sesuai dengan standar yang diatur pada Undang-Undang No. 26 tahun 2007 atau belum; (3) Luasan RTH yang harus ditambahkan apabila luasan RTH pada objek penelitian belum mencukupi; (4) Usulan agar RTH pada objek penelitian bisa mencapai besaran yang ideal. The provision Green Open Space is necessity, because the function and benefits are so great for the survival of a city. In 2015 the extent of Green Open Space in Palembang has not reached 10% of the total area, while the standards set in the law No 26 of 2007 Green Open Space must reach 30% of urban area.The purpose of this research is the to calculate the need of Green Open Space based on the certain residential. The research object is Kencana Damai Residential Palembang which is one of the residential prototype for public facilities that already given to local goverment. While the specific purpose of this study is to calculate and inventory the existence of Green Open Space in Kencana Damai Residential Palembangas well as determine the shortage or excess of Green Open Space in the object of research. This research will be done by using quantitative descriptive method which aims to explain and calculate the scale of Green Open Space in Kencana Damai Residential Palembang , the data is explained by numbers using mathematical calculations, to determine the extent of green open space in research object, and reinforced with the results survey in the descriptive form about the condition and situation that will be used as data for research. The analysis will be done after conducting the existing survey (visual data) in the form of Aerial Photo, Map, and measurement of land on the research object. It will be calculated as a land area of research object. Data will be obtained as the ideal amount of Green Open Space that must be available on the object of research. This is of Green Open Space Existing will be compare to the amount of the location of the research object. By doing this the calculation results will be known whether the extent of green space on the object of research is in accordance with the standards set in Law no. 26 of 2007 or not. If not, how much of the green space must be added for the amount of green space on the object of research can achieved the 30% of ideal open greeb space. The output of this research are: (1) Green Open Space Area existing research object; (2) Knowing of Green Open Space in the research object is in accordance with the standards regulated in Law no. 26 of 2007 (3) The additional Green Open Space area must be required if the green open space on the research object is not sufficient; (4) Proposed that the Green Open Space on the research object can achieved the ideal quantity

ANALISIS FUNGSI UTAMA RUANG TERBUKA NON HIJAU PUBLIK DI PELATARAN BENTENG KUTO BESAK PALEMBANG

Sary, Reny Kartika

Jurnal Arsir Vol 1, No 1 (2017): ARSIR
Publisher : Jurnal Arsir

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1189.437 KB)

Abstract

Ruang Terbuka Non Hijau (RTNH) merupakan salahsatu elemen dari perencanaan kota. Salah satu Ruang Terbuka Non Hijau Publik di kota Palembang adalah Pelataran Benteng Kuto Besak. Pelataran Benteng Kuto Besak ini sudah beberapa kali mengalami perubahan, baik itu pada perubahan fungsi maupun perubahan bentuk. Pada tahun 1990-an. Pelataran ini merupakan pasar terbuka dan dermaga dagang tradisional yang berfungsi sebagai tempat berjualan bagi pedagang buah-buahan. Pada tahun 2000-an, pelataran ini dibuat agar terbentuk suatu Ruang Terbuka Publik yang berkualitas sebagai ruang rekreasi, wisata dan untuk beraktivitas warga yang bisa mencerminkan kepribadian masyarakat kota Pada saat ini fungsi Pelataran Benteng Kuto Besak sebagai Ruang Terbuka Non Hijau masih belum maksimal. Ruang Terbuka Non Hijau ini seharusnya bisa mengakomodasi beberapa fungsi yaitu; 1) Ekologis; 2) Ekonomis; 3) Arsitektural dan 4) Darurat. Ruang Terbuka Non Hijau (RTNH) harus direncanakan sedemikian rupa agar bisa memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat perkotaan. Penataan Ruang Terbuka Non Hijau ini perlu mendapatkan perhatian khusus agar penyediaannya bisa merata hampir disetiap sudut kota, baik itu diperumahan, di perkantoran maupun di area fasilitas umum yang bisa di datangi oleh warga kota tanpa batasan waktu. Hal ini berguna untuk menentukan fungsi dominan terhadap Ruang Terbuka Non Hijau yang akan dibuat. Berdasarkana Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No 12 Tahun 2009 tentang penyediaan dan manfaat Ruang Terbuka Non Hijau di Perkotaan, adapun fungsi Ruang Terbuka Non Hijau secara fisik adalah;1) sebagai wadah aktifitas budaya masyarakat dalam wilayah kota; 2) pengungkapan ekspersi budaya atau kultur lokal; 3) merupakan media komunikasi warga kota; 4) tempat olah raga dan rekreasi; 5) wadah dan objek pendidikan, penelitian dan pelatihan dalam mempelajari alam.