cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Historis | FKIP UMMat
ISSN : 25497332     EISSN : 26141167     DOI : -
Jurnal Historis merupakan jurnal yang memuat naskah atau hasil penelitian di bidang kependidikan khususnya sejarah yang dikelola oleh Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP UM Mataram dengan ISSN 2549-7332 (Print) dan ISSN 2614-1167 (Online). Terbit pertama kali Juni 2017. Adapun ruang lingkup Jurnal Historis berupa hasil penelitian pendidikan & pengembangan kependidikan di bidang sejarah, sosial, sosiologi, budaya, adat istiadat, permainan rakyat, lembaga kemasyarakatan yang bergerak di bidang sejarah dan sosial dalam pengembangan pemuda, remaja, dan masyarakat secara berkelanjutan. Artikel yang masuk ke meja tim redaksi akan melalui proses seleksi mitra bestari/editor. Jurnal ini terbit secara berkala sebanyak 2 kali dalam setahun yaitu Juni dan Desember.
Articles 23 Documents
KEHIDUPAN SOSIAL BUDAYA MASYARAKAT ISLAM DI DESA RASABOU KECAMATAN SAPE KABUPATEN BIMA (1931-1997) Marhaeni Widyastuti, Dian
Historis | FKIP UMMat Vol 2, No 1 (2017): Juni
Publisher : Historis | FKIP UMMat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (592.113 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Kehidupan Sosial Budaya Masyarakat Islam, khususnya sejarah masuknya Islam, kondisi Kehidupan Sosial Budaya dan faktor-faktor penghambat dan pendukung pengembangan Islam di Sape Rasabou Kabupaten Bima. Penelitian ini mengunakan metode Historis yaitu melalui tahap Heuristik, Kritik, Interpretasi dan Histografi. Analisis data yang digunakan adalah Historis analisis, dan metode kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan, Kondisi kehidupan Sosial Budaya Masyarakat Islam berlangsung dalam kehidupan kegotongroyongan, meskipun terdapat perbedaan status Sosial, namun mulai terjadi pergeseran semenjak masuknya ajaran Islam bahwa manusia sama derajatnya kecuali yang membedakan adalah ketakwaannya. Kehidupan Budaya Masyarakat Islam di Sape Rasabou berkembang sebagaimana perkembangan agama Islam di wilayah tersebut. Kebudayaan islam terbentuk seiring dengan berkembangnya agama Islam. This study aims to find out the Social and Cultural Life of Islamic Communities, especially the history of the entry of Islam, the condition of Social and Cultural Life and the factors inhibiting and supporting the development of Islam in Sape Rasabou Kabupaten Bima. This research uses Historical method that is through Heuristic, Criticism, Interpretation and Histography. Data analysis used is Historical analysis, and qualitative method. The result of the research shows that the condition of the social life of the Muslim society takes place in the life of mutual cooperation, although there are differences in social status, but there is a shift since the entry of Islamic teachings that human beings are equal except the difference is their piety. The Cultural Life of the Islamic Society in Sape Rasabou developed as the development of Islam in the region. Islamic culture is formed along with the development of Islam.
PENERAPAN METODE INKUIRI MELALUI PENGAMATAN SITUS SEJARAH DI KOTA BIMA UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR DAN MENUMBUHKEMBANGKAN KECINTAAN PADA BANGUNAN BERSEJARAH Mubin, Ilmiawan
Historis | FKIP UMMat Vol 2, No 2 (2017): Desember
Publisher : Historis | FKIP UMMat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (739.3 KB)

Abstract

Penelitian  ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana proses pembelajaran sejarah  pada siswa kelas XI IPS 1 MAN 2 kota dengan menggunakan metode Inkuiri dapat menumbuhkan kecintaan pada bangunan bersejarah. Metode penelitiannya adalah Penelitian Tindakan Kelas, subyek penelitian adalah siswa kelas XI IPS 1 MAN 2 Kota Bima, sedangkan obyeknya hasil pengamatan kegiatan proses belajar mengajar melalui tahapan  Planning, Acting, Observing dan Reflecting. Masing-masing siklus terdiri dari dua kali pertemuan. Masih rendahnya hasil belajar siswa, dikarenakan oleh pembelajaran yang kurang melibatkan siswa. Setelah dilakukan tindakan dan berdasarkan nilai post test hasil belajar siswa mengalami peningkatan pada setiap siklusnya. siklus I persentase ketuntasan 77,14% dengan nilai rata-rata 75,02,  siklus II persentase ketuntasan 85,71% dengan nilai rata-rata 79 sedangkan Siklus III persentase ketuntasan 100% dengan nilai rata-rata 82,85. Nilai sikap dari data angket setiap siklus mengalami peningkatan dari siklus I pencapaian ketuntasan 77,14%  nilai rata-rata 80,54, siklus II pencapaian ketuntasan 88,57% nilai rata-rata 82,71 sedangkan pada siklus III pencapaian ketuntasan 100% nilai rata-rata 84,57. This study aims to find out how the process of learning history in students class XI IPS 1 MAN 2 cities using Inkuiri method can foster a love of historic buildings. The research method is Classroom Action Research, the research subjects are the students of class XI IPS 1 MAN 2 Kota Bima, while the object is the observation of teaching and learning activities through Planning, Acting, Observing and Reflecting. Each cycle consists of two meetings. Still low student learning outcomes, due to the less learning involving students. After the action and based on the value of post test student learning outcomes have increased in each cycle. cycle I 77.14% percentage of completeness with an average value of 75.02, cycle II percentage of 85,71% completeness with an average value of 79 while Cycle III percentage of 100% completeness with an average value of 82.85. Attitude value of the questionnaire data each cycle has increased from the cycle I achievement mastery 77.14% average value 80.54, cycle II achievement 88.57% average value of 82.71 while in cycle III achievement 100% average 84.57.
MAKNA SIMBOL ATAU MOTIF KAIN TENUN KHAS MASYARAKAT DAERAH BIMA DI KELURAHAN RABA DOMPU KOTA BIMA PROPINSI NUSA TENGGARA BARAT. Mubin, Ilmiawan
Historis | FKIP UMMat Vol 1, No 1 (2016): Desember
Publisher : Historis | FKIP UMMat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (842.678 KB)

Abstract

Indonesia sebagai negara kepulauan, yang terdiri dari ribuan pulau yang membentang mulai Sabang hingga Merauke. Sebagai negara yang beribu-ribu pulau tentu memiliki potensi dan kekayaan alam untuk dikembangkan. Kita tahu berbagai potensi dan kekayaan alam banyak dijumpai diseluruh daerah di tanah air. Salah satu potensi dan kekayaan Nusantara terdapat di propinsi Nusa Tenggara Barat, tepatnya di Kota Bima yang memiliki sejarah dan leluhur yang mempunyai nilai eksotis untuk dapat dikembangkan, salah satunya yaitu Tenun Khas Bima.Budaya masyarakat Bima pada umumnya menjunjung tinggi adat istiadat dan tradisi serta modernisme di aktivitas formal, misalnya dalam acara hari ulang tahun lahirnya Kota Bima, dan acara lain yang bernuansa kelokalan. Atas dasar realita tersebut, keberadaan tenun daerah Bima di dalam acara tersebut sangatlah berperan sebagai pakaian formal kedaerahan dalam upacara adat dan tradisi Kota Bima.Keahlian membuat kain tenun khas Bima serta bentuk-bentuk motif dan makna nilai simbol yang merupakan warisan turun temurun yang hanya dimiliki oleh masyarakat daerah Bima, umumnya sebagai anak bangsa Indonesia, maka wajib mempertahankan keberadaan budaya tersebut serta ditumbuh kembangkan.  Indonesia as an archipelago, consisting of thousands of islands stretching from Sabang to Merauke. As a country with thousands of islands of course has the potential and natural wealth to be developed. We know the various potentials and natural wealth are found throughout many regions in the country. One of the potentials and riches of the archipelago is found in the province of West Nusa Tenggara, precisely in the city of Bima which has a history and ancestors that have exotic value to be developed, one of which is Typical Woven Bima.Budaya community culture generally uphold the customs and traditions and modernism in formal activities, for example in the birthday event of the birth of Kota Bima, and other events that have nuances of localization. On the basis of the reality, the existence of weaving Bima area in the event is very role as a regional formal clothing in traditional ceremonies and traditions of Bima City. Expertise to make woven cloth Bima typical and forms of motifs and symbols of meaning that is a hereditary heritage that is owned only by the Bima local community, generally as a child of the nation of Indonesia, it is mandatory to maintain the existence of the culture and grown to develop.
TRADISI PERANG TEMBUNG SEBAGAI AKULTURASI BUDAYA PADA MASYARAKAT DESA SEREWE KECAMATAN PRAYA TENGAH KABUPATEN LOMBOK TENGAH Sasmanda, Sipa; Anwar, Anwar
Historis | FKIP UMMat Vol 2, No 1 (2017): Juni
Publisher : Historis | FKIP UMMat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (863.278 KB)

Abstract

Perang Tembung  merupakan suatu bentuk kegiatan saling melempar dengan Tembung antara peserta  atau  masyarakat  yang  ada di halaman  makam  serewe  (tempat  yang disucikan atau dikeramatkan oleh masyaraat islam yang ada di Desa Serewe) dengan peserta atau masyarakat yang ada di luar Makam Serewe.  Terdapat   perpaduan   budaya   yang   selanjutnya   disebut akulturasi budaya antara Islam dengan budaya local, sehingga dengan demikian peneliti  mencoba  melihatnya  ke  dalam  ranah  ilmiah  dalam  konteks  kajian silang budaya (cross culture comparation).  Metode penelitian meliputi observasi, wawancara dan dokumentasi subjek penelitian masyarakat desa serewe yang terlibat dalam prosesi pelaksanaan tradisi Perang Tembung. Hasil temuan   peneliti,   pada   prosesi   Perang   Tembung       terjadi pembauran dan penyatuan yang berbentuk akulturasi pada dimensi-dimensi tertentu keyakinan masyarakat Desa serewe.  Abstract: Tembung War is a form of throwing activities with Tembung between the participants or the community in the grave of serewe (the place that is sanctified or sacred by the Islamic community in Serewe Village) with the participants or the community outside Serewe Tomb. There is a cultural blend hereinafter called cultural acculturation between Islam and local culture, so that the researchers try to see it in the scientific realm in the context of cross cultural comparation. Research methods include observation, interviews and documentation of research subjects of serewe village communities who are involved in the procession of the implementation of the Tembung War tradition. The findings of researchers, on the procession of Tembung War occurred integration and unification in the form of acculturation on certain dimensions of community belief serewe Village.
KAJIAN HISTORY DESA PAKUAN KECAMATAN NARMADA KABUPATEN LOMBOK BARAT Afandi, Ahmad; Safrudin, Safrudin
Historis | FKIP UMMat Vol 2, No 1 (2017): Juni
Publisher : Historis | FKIP UMMat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (728.171 KB)

Abstract

Adapun sejarah yang dikaji dalam penelitian ini adalah sejarah dinamakannya desa serta makna nama tersebut yang berbeda dalam lintas sejarah. Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini dan mengidentifikasi bagaimana sejarah sejarah dinamakannya desa Pakuan. Subjek dalam penelitian ini adalah tokoh masyarakat, tokoh adat, serta oarang-orang yang dianggap mengetahui tentang informasi yang dibutuhkan. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data tentang sejarah desa Pakuan, makna pakuan sehingga diangkat menjadi nama desa. Dalam penelitian ini alat yang digunakan dalam mengumpulkan data adalah observasi, dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di desa Pakuan ceritanya adalah nama sebuah jabatan atau orang yang sangat dipercayai dan disegani oleh masyarakat jawa pada waktu itu. Dinamakannya Pakuan sebagai nama desa karena pada zaman dahulu di hutan Narmada yang dinamakan Pengkoak didatangi oleh sekelompok transmigasi dari desa Belumbung. Abstract: As the history studied in this study is the historical name of the village and the meaning of this different name in the history of the cross. The goal to be achieved in this research and historical history is called Pakuan village. Subjects in this study are community leaders, customary leaders, and people who know about the information needed. The data collected in this study is data about the history of the village pakuan, meaning pakuan be appointed to the name of the village. In this study the tools used in the data set are observations, and interviews. The results show in Pakuan village the story is the name of a position or a person who is very trusted and respected by the people of Java at that time. Pakuan named Pakuan as the name of the village because in ancient times in the forest called Narmada Pengkoak visited by a group of transmigations from the village of Notbung.
Nilai Religi Arsitektur Rumah Adat Sasak Dusun Sade Desa Rembitan Kecamatan Pujut Kabupaten Lombok Tengah Muaini, Muaini; Zainudin, Zainudin
Historis | FKIP UMMat Vol 2, No 2 (2017): Desember
Publisher : Historis | FKIP UMMat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (852.233 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna nilai-nilai religi arsitektur rumah adat sasak. Jenis penelitian menggunakan kualitatif deskriptif. Penelitian dilakukan di dusun Sade desa Rembitan Kecamatan Pujut Kabupaten Lombok Tengah. Tehnik pengumpulan data mengunakan observasi, wawancara, dokumentasi dan catatan lapangan. Analisis data mengunakan kulitatif deskriptif. Hasil penelitian yang memiliki nilai-nilai religi arsitektur rumah adat sasak menemukan sebanyak 8 (delapan) yaitu: 1) Rumah Adat (Bale gunung rate ), 2) Arah rumah, 3) Bagian belakang rumah, 4) Atap rumah, 5) Lantai rumah, 6) Tangga rumah, 7) Pintu rumah, 8) Ruang dalam bale (Ruangan dalam). Masyarakat menjaga keaslihan peningalan kebudayaan dari nenek moyang. This study aims to describe the meaning of religious values of traditional architecture of sasak house. This type of research uses descriptive qualitative. The research was conducted in Sade village of Rembitan village, Pujut Sub-district, Central Lombok Regency. Data collection techniques use observation, interview, documentation and field notes. Data analysis using descriptive skin. The result of research which have religious values of architecture of traditional house of sasak found as many as 8 (eight) that is: 1) Traditional house (Bale mount rate), 2) House direction, 3) Back of house, 4) Roof house, 5) , 6) Household staircase, 7) Door of house, 8) Space in bale (Room inside). Society keep the authenticity of cultural pengingalan from ancestors.
KEPERCAYAAN RELIGIUS-MAGIS MASYARAKAT PEDESAAN KECAMATAN JEROWARU LOMBOK TIMUR-NTB (Studi Terhadap Budaya Asli Masyarakat Yang Masih Eksis) SASMANDA, SIPA
Historis | FKIP UMMat Vol 1, No 1 (2016): Desember
Publisher : Historis | FKIP UMMat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (762.47 KB)

Abstract

Agama dan kepercayaan merupakan unsur dari kebudayaan maka dalam hal ini akan dikaji dengan menggunakan pendekatan budaya. Untuk lebih memahami kebudayaan Indonesia yang asli terutama dalam hal kepercayaan tentu kita harus melihat perjalanannnya dari perkambangan waktu yang ada atau perkembangan sejarahnya. Tulisan ini menkaji tentang kepercayaan religius-magis masyarakat pedesaan kecamatan Jerowaru Lombok Timur-NTB. Metode penelitian ini yaitu kualitatif. Penentuan subjek penelitian dilakukan secara purposif sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan cara pengamatan, wawancara, dan dokumnetasi.pemeriksanaan keabsahan data menggunakan metode triangulasi. Hasil menunjukkan bahwa kepercayaan religius-magis masyarakat pedesaan kecamatan Jerowaru Lombok Timur-NTB masih terikat oleh kepercayaan religuis-magis yang pernah menjadi kepercayaan nenek moyang mereka. Beberapa unsur kepercayaan religius-magis yang masih di lestarikan oleh masyarakat seperti bebubus, kekuatan supranatural dari ketobok dan kemalik, percaya pada mantra-mantra yang dapat mengakibatkan kekebalan tubuh, percaya pada pelet, senggeger serta sengasih-asih dan lain sebagainya. Religion and beliefs are an element of culture then in this case will be studied using a cultural approach. To better understand indigenous Indonesian culture, especially in the case of belief, we must see the journey from the existing time mining or historical development. This paper examines the religious-magical belief of the rural community of Jerowaru sub-district, East Lombok-NTB. The method of this research is qualitative. Determination of research subjects conducted by purposive sampling. Data collection is done by observation, interview, and dokumnetasi.per checking data validity using triangulation method. The results show that the religious-magical belief of the rural community of Jerowaru sub-district of East Lombok-NTB is still bound by the religious-magical beliefs that were once the beliefs of their ancestors. Some elements of religious-magical beliefs that are still preserved by society such as bebubus, supernatural powers of ketobok and kemalik, believe in spells that can lead to immunity, believe in pellets, senggeger and merciful-asih and so forth.
PERKAWINAN POLIGAMI DI DESA SERENANG KECAMATAN PUJUT KABUPATEN LOMBOK TENGAH Sri Wahyuni, Dian Eka Mayasari; Wahab, Wahab
Historis | FKIP UMMat Vol 2, No 1 (2017): Juni
Publisher : Historis | FKIP UMMat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (753.859 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor sebab dan akibat perkawinan poligami di Desa Serenang Kecamatan Pujut Kabupaten Lombok Tengah. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif. Metode pengumpulan data meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi. Metode analisis data yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian yaitu penyebab terjadinya perkawinan poligami oleh para suami di Desa Serenang Kecamatan Pujut yaitu antara lain : a) kebutuhan seksual, b) ingin mendapatkan keturunan (istri mandul), c) adanya suatu kebanggaan, d) faktor pendidikan, e) istri kurang merawat diri, dan akibat perkawinan poligami oleh para suami di Desa Serenang Kecamatan Pujut yaitu antara lain : a) psikologis, b) pendidikan anak, c) moral, d) hak-hak suami istri, dan e) akibat filsafat Abstract: The purpose of this research is to know the factors of cause and effect of polygamy marriage in Serenang Village, Pujut Sub-district, Central Lombok Regency. The approach used is qualitative approach. Methods of data collection include observation, interviews, and documentation. Data analysis method used is qualitative descriptive method. The result of the research is the cause of polygamy marriage by husbands in Serenang Village Pujut Sub-district, among others: a) sexual needs, b) want to get offspring (barren wife), c) existence of pride, d) education factor, e) wife less caring self, and the consequences of polygamy marriage by husbands in Serenang Village Pujut Sub-district, among others: a) psychological, b) childrens education, c) moral, d) marital rights, and e) due to philosophy
UPACARA ADAT KELAHIRAN SEBAGAI NILAI SOSIAL BUDAYA PADA MASYARAKAT SUKU SASAK DESA PENGADANGAN Suhupawati, Suhupawati; Eka Mayasari S. W, Dian
Historis | FKIP UMMat Vol 2, No 2 (2017): Desember
Publisher : Historis | FKIP UMMat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (573.331 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses ritual adat kelahiran pada masyarakat Desa Pengadangan sebagai nilai sosial budaya. pendekatan peneitian yang dipakai yaitu pendekatan etnografi. Teknik analisis data meliputi pengumpulan data, reduksi, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan: proses ritual adat kelahiran meliputi upacara beretes, molangmaliq, ngurisan, dan nyunatang. Dari beberapa proses ritual tersebut terdapat fungsi spiritual dan fungsi sosial. Upacara adat kelahiran sebagai upacara keagamaan, hiburan, sarana komunikasi, dan sarana dalam menjaga keharmonisan norma-norma adat. Terdapat juga nilai-nilai kearifan adat yakni nilai keagamaan, nilai gotong royong, nilai solidaritas, cinta tanah air, nilai kepemimpinan, dan nilai tanggung jawab.This study aims to determine the process of customary rituals of birth in the community of Village Reserve as a socio-cultural value. research approach used is ethnography approach. Data analysis techniques include data collection, reduction, data presentation, and conclusions. The results showed: the process of customary rituals of birth include the ceremony beretes, molangmaliq, ngurisan, and nyunatang. From some ritual processes there are spiritual functions and social functions. Birth ceremonies as a religious ceremony, entertainment, means of communication, and means in maintaining harmony of customary norms. There are also values of indigenous wisdom that are religious values, the value of mutual cooperation, the value of solidarity, love of the homeland, the value of leadership, and the value of responsibility.
KEPERCAYAAN ANIMISME-DINAMISME SERTA ADAPTASI KEBUDAYAAN HINDU-BUDHA DENGAN KEBUDAYAAN ASLI DI PULAU LOMBOK-NTB Afandi, Ahmad
Historis | FKIP UMMat Vol 1, No 1 (2016): Desember
Publisher : Historis | FKIP UMMat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (967.116 KB)

Abstract

Abstrak: Tulisan ini bertujuan untuk menjawab permasalah (1) bagaimana kepercayaan primitif masyarakat (kepercayaan asli), dan (2) akulturasi kebudayaan Hindu-Budha dengan kebudayaan asli di Pulau Lombok-NTB. Penelitian ini menggunakan metode historis dengan tujuan untuk mendeskripsikan dan mnganalisis peristiwa-peristiwa dimasa lampau. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik heuristik dan analisis data bersifat analisis data kualitatif. Hasil kajian ini dapat disimpulkan bahwa kepercayaan awal masyarakat Sasak di Pulau Lombok dipengaruhi oleh kepercayaan religius magis. Pada masyarakat Sasak dikenal juga kepercayaan animism, dinamisme dan totemisme. Kebudayaan masyarakat sebelumnya, setelah kedatangan pengaruh Hindu-Budha terutama setelah pengaruh kerajaan Hindu Bali menganeksasi secara defakto kerajaan Lombok di Mataram Cakra Negara, beberapa kebudayaan yang di bawa oleh orang-orang Bali mampu beradaptasi dengan budaya local, bahkan sampai saat ini budaya yang dikembangkannya tersebut menjadi salah satu budaya dari masyarakat Sasak, seperti dalam hal kesenian, bangunan, aksara dan lain sebagainya. This paper aims to answer the problems (1) how the primitive belief of the community (original belief), and (2) acculturation of Hindu-Buddhist culture with indigenous culture in Lombok Island-NTB. This study uses historical method with the aim to describe and analyze the events of the past. Data collection techniques using heuristic techniques and data analysis are qualitative data analysis. The results of this study can be concluded that the initial belief of the Sasak community on Lombok Island is influenced by magical religious beliefs. In Sasak society also known animist beliefs, dynamism and totemism. Previously, after the arrival of Hindu-Buddhist influences, especially after the influence of the Hindu Balinese empire defacto the Lombok kingdom in Mataram Cakra Negara, several cultures brought by the Balinese are able to adapt to the local culture, even today the culture it develops become one of the cultures of the Sasak community, as in terms of art, buildings, script and so forth.

Page 1 of 3 | Total Record : 23