cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota jambi,
Jambi
INDONESIA
Jurnal Media Pertanian
ISSN : 25031279     EISSN : 25811606     DOI : -
urnal Media Pertanian dipublikasikan dalam Bahasa Indonesia dan diterbitkan dua kali dalam setahun. Jurnal ini mempublikasikan artikel hasil penelitian dan artikel review bidang ilmu Agronomi secara luas.
Arjuna Subject : -
Articles 40 Documents
PENGAMATAN BEBERAPA PENYAKIT yang MENYERANG TANAMAN KOPI (Coffea sp) di DESA MEKAR JAYA KECAMATAN BETARA KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT Defitri, Yuza
Jurnal Media Pertanian Vol 1, No 2 (2016): Jurnal Media Pertanian
Publisher : Jurnal Media Pertanian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (310.518 KB)

Abstract

AbstractThe research about the observation of diseases that attack Coffee plants (Coffea sp.) in Mekar Jaya village Betara subdistrict Tanjung Jabung Barat Regency,  and Agriculture Quarantine Laboratory Jambi had been done for six months. The aim of this research is to identification the disease that attack coffee plants. The research was conducted by observing the disease which in coffea plants area, and  identificaton pathogenic fungi in laboratory by moist chamber method using microscop and also fungi identifications book. The result of this research showed that there were three pathogenic fungies which attack Coffee plants namely: 1) Hemileia sp wich caused coffee leaft rust disease, 2) Cercospora coffeicola wich caused Brown eye-spot disease, and 3) Upasia salmanicolor wich caused  Upas fungi disease.  Keywords : Pathogenic fungi, Cooffee Plants Disease, Coffee Plants. AbstrakPenelitian tentang pengamatan beberapa penyakit yang menyerang tanaman Kopi (Coffea sp) di desa Mekar Jaya kecamatan Betara kabupaten Tanjung Jabung Barat dan di Laboratorium Karantina Pertanian Jambi telah dilakukan selama 6 bulan.  Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui penyakit yang menyerang tanaman kopi.  Penelitian dilakukan dengan mengamati gejala penyakit di lapangan dan mengidentifikasi jamur patogen di laboratorium secara moist chamber dengan menggunakan mikroskop dan buku identifikasi jamur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ditemukan tiga jamur patogen yang menyerang tanaman kopi yaitu: 1) . Hemileia sp penyebab penyakit Karat Daun 2) Cercospora coffeicola penyebab penyakit Bercak Daun, 3) Upasia salmanicolor penyebab penyakit Jamur upas. Kata Kunci : Jamur Patogen, Penyakit tanaman kopi, Tanaman kopi
SKARIFIKASI dan KNO3 MEMATAHKAN DORMANSI SERTA MENINGKATKAN VIABILITAS dan VIGOR BENIH AREN (Arenga pinnata Merr.) Hartawan, Rudi
Jurnal Media Pertanian Vol 1, No 1 (2016): Jurnal Media Pertanian
Publisher : Jurnal Media Pertanian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (330.201 KB)

Abstract

AbtractSugar palm seed naturally have quite a long dormancy, vary from 6-12 months. It couse by strong seed cover and impermeable so that inhibits water imbibitions. The experiment aim to determine the combine of position of scarification and the best KNO3 concentration to support the germination capacity and its speed of sugar palm seed germination. The parameters measurement were take place in Basic laboratory, Batanghari University began on 25 August 2013 up to April 10, 2014. Experiment used factorial complete randomize design. The first factor is the scarification position ie; without scarification (S0), scarification on plumule (S1) and scarification on the back (S2). The second factor is soaking in KNO3 ie; control (K0), 0.5% (K1), 1% (K2) and 1.5% (K3). The parameters observed were the electric conductivity, seed imbibitions, water content, germination capacity, lengh of sprout and dry weight. The experiment result shwed that the significantly interaction among electrical conductivity, imbibitions, water conten and dry weight. Its showed that S1K2 was the best combination. On the others parameters, giving a single effect, which showed plumul scarification was better than both on the back scarification and without scarification. KNO3 was good in 1.5% without scarification. KNO3 requirement would go down to 1% if the seed scarification was applied on plumule or seed back. Germination speed of sugar palm seed had directly proportioned with imbibitions, water content and root length, but its showed inversely proportional to the electrical conductivity. Keywords: Germination, Palma, CPMG AbstrakSecara alami benih aren memiliki masa dormansi yang cukup lama, bervariasi dari 6-12 bulan. Penyebabnya adalah kulit biji yang keras dan impermeabel sehingga menghambat terjadinya imbibisi air. Percobaan yang bertujuan untuk menentukan kombinasi posisi skarifikasi dan konsentrasi KNO3 terbaik untuk mendukung daya dan kecepatan berkecambah benih aren. Kegiatan perkecambahan benih serta pengukuran Parameter dilakukan di Laboratorium Dasar Universitas Batanghari mulai tanggal 25 Agustus 2013 sampai dengan 10 April 2014. Percobaan menggunakan rancangan acak lengkap dengan pola faktorial, faktor pertama adalah perlakuan posisi skarifikasi yaitu; tanpa skarifikasi (S0), skarifikasi pada plumula (S1) dan skarifikasi pada punggung (S2). Faktor kedua adalah perendaman dalam KNO3 yaitu, kontrol (K0), konsentrasi 0,5% (K1), konsentrasi 1% (K2), konsentrasi 1,5% (K3). Parameter yang diamati adalah daya hantar listrik, imbibisi benih, kadar air, daya kecambah, kecepatan berkecambah, panjang akar dan bobot kering kecambah. Hasil percobaan menunjukkan skarifikasi dan KNO3 memberikan interaksi yang nyata pada parameter daya hantar listrik, imbibisi, kadar air, daya kecambah dan bobot kering kecambah, dimana kombinasi S1K2 memberikan nilai terbaik. Pada parameter kecepatan berkecambah dan panjang akar, perlakuan memberikan pengaruh secara tunggal, dimana skarifikasi pada plumul relatif lebih baik daripada skarifikasi pada punggung dan tanpa skarifikasi, dan konsentrasi KNO3 yang baik adalah 1%. Dalam percobaan ini, daya kecambah tertinggi, didapat pada  KNO3 dengan konsentrasi 1,5% bila benih tanpa skarifikasi. Kebutuhan KNO3 akan menurun menjadi 1% bila benih diskarifikasi pada plumul atau punggung benih. Kecepatan berkecambah benih aren berbanding lurus dengan parameter imbibisi, kadar air benih dan panjang akar serta berbanding terbalik dengan daya hantar listrik. Kata kunci: Palma, perkecambahan, dan CPMG
PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN PINANG DAN KELAPA SISTEM TUMPANG SARI Nasamsir, Nasamsir; Irman, Irman
Jurnal Media Pertanian Vol 3, No 1 (2018): Jurnal Media Pertanian
Publisher : Jurnal Media Pertanian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (180.091 KB)

Abstract

Multiple cropping merupakan sistem budidaya tanaman yang dapat meningkatkan produktivitas lahan. Peningkatan ini dapat diukur dengan besaran Nisbah Kesetaraan Lahan (NKL) atau LER (land Equivalent Ratio). Penelitian ini bertujuan untuk mengamati pertumbuhan dan produksi tanaman tumpang sari Pinang dengan Kelapa Dalam, menentukan nilai nisbah kesetaraan lahan (NKL) serta menentukan model tanam tumpang sari Pinang dengan Kelapa Dalam yang baik. Penelitian ini dilakukan di kelurahan Sabak Ulu serta di desa Siao Dalam kecamatan Muara Sabak Timur kabupaten Tanjung Jabung Timur dengan kondisi lahan gambut. Penelitian ini menggunakan metode survey pada lahan-lahan petani yang ditanami Pinang monokultur dan Pinang tumpang sari dengan Kelapa Dalam. Parameter yang diamati meliputi jarak tanam (m), tinggi tanaman (m), lingkar batang (cm), umur mulai produksi (th), produktivitas buah Pinang dan Kelapa secara tumpang sari (ton per ha), produktivitas buah Pinang dan Kelapa tunggal (ton per ha), dan produktivitas lahan (NKL). Untuk menjawab hipotesis yang diajukan, data dianalisis secara deskriptif dalam bentuk tabulasi. Hasil penelitian menunjukkan produksi tanaman Pinang dan Kelapa Dalam sistem tunggal lebih besar dari sistem tumpang sari. Namun berdasarkan perhitungan nilai nisbah kesetaraan lahan (NKL) menunjukan nilai lebih dari 1, menggambarkan bahwa sistem tumpang sari lebih menguntungkan dibandingkan sistem tunggal. Kata kunci ; produksi tanaman, nisbah kesetaraan lahan, tumpang sari
TEKNOLOGI PRODUKSI DAN APLIKASI MIKROBA PELARUT HARA SEBAGAI PUPUK HAYATI Nursanti, Ida
Jurnal Media Pertanian Vol 2, No 1 (2017): Jurnal Media Pertanian
Publisher : Jurnal Media Pertanian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (265.791 KB)

Abstract

AbstractThe use of biological fertilizer can increase the amount of microorganisms and accelerates the process of mikrobologis, increase the availability of nutrient, nutrient absorption, pressed activate soil-borne disease, speed up the composting process, improve soil structure, and generate active substance that can increase the pertumbuhandan of development of the plant. Types of Microbes as biological fertilizer raw material among other bacteria and mushrooms or fungi. Solvent fospat bacteria is having bacteria consume simple carbon compounds, such as root exudate and the rest of the plant. Mycorrhiza fungi as the root of a plant helps to absorb the nutrient elements especially nutrient phosphate. Factors that determine the quality of biological fertilizer is the number of microorganisms. Storage at low temperature is generally more suited to survival of microorganisms, moisture, the death of the microorganism can be reduced. Microbes sensitive to direct sunlight. Production technology which has been successfully applied is engineering techniques and mikroenkapsulasi cell fermentation microbes. Biological fertilizer nutrient solvent products that have been produced; Biological fertilizer Enchancing Microbial Activities in The Soils, Sustainable, Bio-Tiens Golden Harvest, Plus Biological Fertilizer and Migra Bio-phosphate.Keywords: biodiversity, Fertilizer production technology. AbstrakPenggunaan pupuk hayati dapat meningkatkan jumlah mikroorganisme dan mempercepat proses mikrobologis, meningkatkan ketersediaan hara, mengaktifkan serapan hara, menekan soil-borne disease, mempercepat proses pengomposan, memperbaiki struktur tanah, dan menghasilkan substansi aktif yang dapat meningkatkan pertumbuhandan perkembangan tanaman. Jenis Mikroba sebagai bahan dasar pupuk hayati antara lain bakteri dan cendawan atau fungi. Bakteri pelarut fospat merupakan bakteri dekomposer yang mengkonsumsi senyawa karbon sederhana, seperti eksudat akar dan sisa tanaman. Mikoriza sebagai jamur akar membantu tanaman untuk menyerap unsur hara terutama unsur hara fosfat. Faktor yang menentukan mutu pupuk hayati adalah jumlah mikroorganisme. Penyimpanan pada suhu rendah umumnya lebih cocok untuk ketahanan hidup mikroorganisme, mempertahankan kelembaban, kematian mikroorganisme dapat dikurangi. Mikroba  peka terhadap sinar matahari langsung. Teknologi produksi yang telah berhasil diterapkan adalah rekayasa fermentasi dan teknik mikroenkapsulasi sel mikroba.  Produk pupuk hayati pelarut hara yang telah dihasilkan ; Pupuk Hayati Enchancing Microbial Activities in The Soils, Bio-Lestari, Tiens Golden Harvest, Migra Plus dan Pupuk Hayati Bio-fosfat.Kata kunci : Pupuk hayati, teknologi produksi.
KARAKTERISTIK FISIK dan PRODUKSI KELAPA DALAM (Cocos nucifera L) di BERBAGAI EKOLOGI LAHAN Hartawan, Rudi; Sarjono, Arif
Jurnal Media Pertanian Vol 1, No 2 (2016): Jurnal Media Pertanian
Publisher : Jurnal Media Pertanian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (451.386 KB)

Abstract

AbstractThe growing environment plays an important role in the plants phenotype. The suitability of the environment will bring up the genetic potential mainly on coconut production. The expected output of this research is to know the adaptation level of coconut crops different land ecology. The research was carried out in January to August 2016 at: 1) tidal lands in Lagan Ulu village of Geragai Sub-district of  Tanjung Jabung Timur with altitude 0-10 m above sea level, 2) in the lowland Ramin village Kumpeh Ulu Subdistrict Muaro Jambi regency with a height of 10-100 m above sea level, 3) Moderate land in Wanareja village of Rimbo Ulu Subdistrict Tebo regency with an altitude of 100-500 m above sea level and 4) Highland in Seberang village Sungai Penuh subdistrick Sungai Penuh City, with an altitude 500 m above sea level. Laboratory analysis conducted in July 2016 in  laboratorium dasar University Batanghari. Research conducted by survey methods in community gardens and arranged in environment randomized block design namely tidal areas, lowland, moderate land, and highland. Each altitude of land was three farmers. Porposifly as a block of design. The parameters are the palnt physical, reproduction age, agronomy, action estimation of production potential, soil acidity and daily temperatures. Data of research are analyzed by description method such as tabulated data form and anova test (α=5%) was used of inferential analysis. The result of this research showed that there was a significantly effect of land altitude on production potential and phisical characteristic of coconut trees. The coconut trees showed optimally growth and production in moderate land (100-500m above sea level). Keywords: coconut, cultivation, crop production. AbstrakLingkungan tumbuh berperan penting dalam produksi tanaman Kelapa Dalam. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui tingkat adaptasi tanaman Kelapa Dalam pada berbagai ekologi lahan. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari sampai Agustus 2016 di: 1) lahan pasang surut di Desa Lagan Ulu, Kecamatan Geragai, Kabupaten Tanjung Jabung Timur dengan ketinggian 0-10 m dpl, 2) dataran rendah di Desa Ramin, Kecamatan Kumpeh Ulu, Kabupaten Muaro Jambi dengan ketinggian 10-100 m dpl, 3) dataran sedang di Desa Wanareja, Kecamatan Rimbo Ulu, Kabupaten Tebo dengan ketinggian 100-500 m dpl dan 4) dataran tinggi di Desa Seberang, Kecamatan Sungai Penuh, Kota Sungai Penuh, dengan ketinggian >500 m dpl. Analisis laboratorium dilakukan pada bulan Juli 2016 di Laboratorium Dasar Universitas Batanghari. Penelitian dilakukan dengan metode survey di kebun-kebun masyarakat dan disusun dalam rancangan lingkungan acak kelompok dengan rancangan perlakuan ekologi lahan yaitu daerah pasang surut, dataran rendah, dateran sedang dan dataran tinggi. Tiap-tiap ekologi lahan diambil tiga petani sampel secara sengaja yang dijadikan blok dalam rancangan. Peubah yang diamati adalah fisik tanaman, umur berproduksi, tindakan agronomi, estimasi potensi produksi, kemasaman tanah dan suhu harian. Data hasil penelitian dianalisis dengan metode deskripsi dalam bentuk tabulasi dan inferensi dilakukan dengan uji anova taraf α 5%. Hasil penelitian menunjukkan Ekologi lahan berpengaruh nyata terhadap potensi produksi dan karakteristik fisik tanaman Kelapa Dalam. Tanaman Kelapa Dalam dapat tumbuh, berkembang dan berproduksi dengan baik di daerah dataran sedang dengan ketinggian 100-500 m dpl. Kata kunci: Kelapa Dalam, budidaya, produksi tanaman
KERAGAMAN JENIS SERANGGA HAMA KELAPA SAWIT SISTEM PENANAMAN SISIPAN DAN TUMBANG TOTAL DI DESA PANCA MULIA KECAMATAN SUNGAI BAHAR TENGAH KABUPATEN MUARO JAMBI Hayata, Hayata; Nengsih, Yulistiati; Harahap, Holil Aswan
Jurnal Media Pertanian Vol 3, No 1 (2018): Jurnal Media Pertanian
Publisher : Jurnal Media Pertanian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (244.225 KB)

Abstract

Upaya percepatan pengembangan perkebunan sawit rakyat salah satunya adalah peremajaan pada tanaman yang sudah tua, yang dilakukan melalui dua sistem  yaitu sistem penanaman sisipan dan sistem penanaman tumbang total. Pola pertanaman ini membentuk ekosistem yang berbeda dan akan mempengaruhi keberadaan serangga hama. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni sampai dengan bulan Agustus 2017  di areal penanaman sisipan dan tumbang total kelapa sawit masing-masing seluas 1 ha, di Desa Panca Mulya Kecamatan Sungai Bahar Tengah Kabupaten Muaro Jambi Provinsi Jambi. Metode penelitian menggunakan pendekatan observasi dengan pengamatan secara langsung di lapangan. Lokasi pengambilan sampel ditentukan menggunakan metode sampling acak terpilih. Jumlah dan keragaman jenis serangga yang tertangkap pada sistem penanaman tumbang total ditemukan 11 Spesies dengan jumlah 128 ekor, yang paling banyak kupu kupu coklat 56 ekor, dan yang paling sedikit laba laba 3 ekor. Pada Penanaman sisipan ditemukan 8 spesies dengan jumlah 24 ekor, yang paling banyak jangkrik 14 ekor, paling sedikit lipas 1 ekor. Serangga yang berada pada kebun sawit yang diremajakan melalui sistem  tumbang total lebih beragam dibandingkan dengan kebun sawit yang diremajakan melalui sistem sisipan.Kata kunci : Keragaman serangga, tumbang total, sisipan
PENGGUNAAN LARUTAN KIMIA DALAM PEMATAHAN DORMANSI BENIH KOPI LIBERIKA Nengsih, Yulistiati
Jurnal Media Pertanian Vol 2, No 2 (2017): Jurnal Media Pertanian
Publisher : Jurnal Media Pertanian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253.882 KB)

Abstract

In fact, coffee cultivation should be met one of the constraints as seeds dormancy due to the harsh skin condition of the seed so that water and needed in the germination process  can not get into the seed. To soften the hard skin of coffee beans can be done with an easy and effective way by soaking the seeds in the solution. This study aims to find out which solution is appropriate in breaking dormancy and increasing the viability and vigor of liberative coffee seed. The experiment was conducted by soaking the coffee seeds using KNO3 solution at 0,5% concentration and soaking in water treatment (H2O) for 24 hours. Soaking the coffee seeds in H2SO4 solution with 20% concentration for 30 minutes and soaking the coffee seeds in coconut water concentration 50% for 4 hours.Observed parameters: Potential Viability Parameters, Growth Rate Index, Sprout Height (cm), Dry Root Weight (mg), and Sprout Dry Weight (mg). To observe the observed treatment, all the final data from the observed results were analyzed variance, when different treatments were followed by the Duncan test. The results showed the use of chemical solutions KNO3 and H2SO4 able to show the viability of the seeds of good coffee liberika.Keywords: dormancy, germination process and growth rate indexDalam praktek pembudidayaan kopi dihadapkan pada kendala biji yang mengalami dormansi karena keadaan kulit biji yang keras sehingga air dan udara yang dibutuhkan dalam proses perkecambahan tidak dapat masuk ke dalam biji. Untuk melunakkan kulit biji kopi yang keras dapat dilakukan dengan cara  mudah dan effektif yaitu dengan melakukan perendaman benih dalam larutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui larutan mana yang tepat dalam mematahkan dormansi serta meningkatkan viabilitas dan vigor benih kopi liberika. Pelaksanaan penelitian dilakukan dengan cara merendam benih kopi menggunakan larutan KNO3 pada konsentrasi 0,5 % dan perlakuan perendaman dalam air biasa (H2O) selama 24 jam. Perendaman benih kopi dalam larutan H2SO4 dengan konsentrasi 20% selama 30 menit dan perendaman benih kopi dalam air kelapa konsentrasi 50% selama 4 jam. Peubah yang diamati :Parameter Viabilitas Potensial, Indeks Kecepatan Berkecambah, Tinggi Kecambah (cm), Berat Kering Akar (mg), dan Berat Kering Kecambah (mg). Untuk melihat perlakuan yang diamati, semua data akhir dari hasil pengamatan dianalisis ragam, bila terdapat perlakuan yang berbeda dilanjutkan dengan uji Duncan. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan larutan kimia KNO3 dan H2SO4 mampu menunjukkan viabilitas benih kopi liberika yang baik.Kata Kunci : dormansi, proses perkecambahan, dan daya kecambah
HUBUNGAN PERSENTASE SERANGAN HAMA PENGGEREK BUAH KOPI (Hypothenemus hampei Ferr.(Coleoptera: Scolytidae)) dengan DUGAAN KEHILANGAN HASIL di KECAMATAN BETARA TANJUNG JABUNG BARAT Hayata, Hayata
Jurnal Media Pertanian Vol 1, No 2 (2016): Jurnal Media Pertanian
Publisher : Jurnal Media Pertanian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (292.833 KB)

Abstract

AbstractHypothenemus hampei is one of the main causes of the decrease in production and quality of coffee. The fenomena of this damage can be indicted by dwarfing fruit color changing to a reddish yellow, and finally the fall resulted in a decrease in the quantity and quality of production. This production loss was affected by the attack level of coffe pest. Symptoms of coffe pest attack (PBKo) can be identicated by its attacting form where PBKo can destroy both the unripe and ripe coffe. This research aims to know the relationship attacks Percentage the production loss due to the pest attack. Hypothenemus hampei Ferr. (Coleoptera: Scolytidae) in Betara subdistrict of Tanjung Jabung Barat regency. This research has been conducted in July–August 2016. This research using survey method with linear regression analysis i.e. regression between the percentage of attacks and the percentage of production loss. The attack percentage of PBKo pests in the Parit Panglong Betara village range between 8.20 – 17.76%. The percentage highest production loss results on red skin color coffee 7.11% and low on coffee colored skin green beans 3.95%. The percentage of PBKo pest attack had not showed a very strong relationship with the level of production loss. Keywords: Hypothenemus hampei, coffee AbstrakHypothenemus hampei merupakan salah satu penyebab utama penurunan produksi dan mutu kopi. Kerusakan yang ditimbulkannya berupa buah menjadi tidak berkembang, berubah warna menjadi kuning kemerahan dan akhirnya gugur mengakibatkan penurunan jumlah dan mutu hasil. Kehilangan hasil dipengaruhi oleh tingkat serangan hama penggerek buah kopi. Gejala serangan hama penggerek buah kopi (PBKo) dapat diketahui dari bentuk  serangan dimana PBKo dapat menggerek buah kopi yang masih muda sampai dengan yang masak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan Persentase serangan dengan dugaan kehilangan hasil akibat serangan hama penggerek buah kopi Hypothenemus hampei Ferr.(Coleoptera:Scolytidae) di Kecamatan Betara Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli–Agustus 2016. Penelitian ini menggunakan metode survei dengan analisis regresi linier yaitu regresi antara persentase serangan dengan persentase kehilangan hasil. Persentase serangan hama PBKo di Desa Parit Panglong Betara berkisar antara 8,20 – 17,76 %. Persentase kehilangan hasil yang tertinggi didapatkan pada kopi yang warna kulit merah 7,11 % dan terendah pada kopi  yang berwarna kulit biji hijau 3,95 %.  Persentase serangan hama PBKo tidak memperlihatkan hubungan yang kuat dengan tingkat kehilangan hasil Kata kunci : Hypothenemus hampei, kopi
RESPON PERTUMBUHAN BIBIT KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.) TERHADAP APLIKASI PUPUK N-P-K (12-0,6-6) Nasamsir, Nasamsir
Jurnal Media Pertanian Vol 1, No 1 (2016): Jurnal Media Pertanian
Publisher : Jurnal Media Pertanian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (252.155 KB)

Abstract

AbstractThis research aims to know the oil palm seedling growth response in the main nursery toward N-P-K (12-0,6-6) fertilizer with the trademark Vedagro with different doses. The research was carried out in the Paal Merah Lama village, Southern Jambi sub district, started from 16 September until 16 Desember 2015. The research design used was Completely Randomized Design, with fertilizer dose of Vedagro as a treatment which consists of 6 levels, namely: d0 (control), d1 (5 g polybag-1), d2 (10 g polybag-1), d3 (15 g polybag-1), d4 (20 g polybag-1) and d5 (25 g polybag-1), using 4 replicates. The observed variables a plant height, totally plant leaf area, plant dry weight, and shoot-root ratio. The material used is oil palm seedlings aged 3 mounths. Data were analyzed using analysis of varians, then continued by Duncan test (DNMRT) at the 5% level. The results showed that giving real effect against the Vedagro fertilizer to plant height, totally plant leaf area, plant dry weight, and shoot-root ratio. 20 g dose of Vedagro fertilizer, showed the best effect on seeds height and dry weight, while the best effect on shoot-root ratio and  totally plant leaf area was in 15 g dose.Keywords; the growth of plants, fertilizer application AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon pertumbuhan bibit kelapa sawit di pembibitan utama terhadap pemberian pupuk N-P-K (12-0,6-6) (merek dagang Vedagro) dengan dosis yang berbeda. Penelitian dilaksanakan di kelurahan Paal Merah Lama kecamatan Jambi Selatan, mulai 16 September sampai 16 Desember 2015. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL), yaitu dosis pupuk Vedagro yang terdiri dari 6 level yaitu, d0 (kontrol), d1 (5 g polybag-1), d2 (10 g polybag-1), d3 (15 g polybag-1), d4 (20 g polybag-1) dan d5 (25 g polybag-1), dengan 4 ulangan. Peubah yang diamati adalah tinggi tanaman, luas daun total, berat kering tanaman dan nisbah tajuk akar. Bahan yang digunakan adalah bibit kelapa sawit berumur 3 bulan. Analisis data menggunakan analisis ragam dan dilanjutkan dengan uji Duncan (DNMRT) pada taraf α 5 %. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk Vedagro berpengaruh nyata terhadap tinggi bibit, luas daun total, berat kering tanaman dan nisbah tajuk akar. Pemberian pupuk Vedagro dengan dosis 20 g polybag-1 memperlihatkan pengaruh terbaik terhadap tinggi bibit dan berat kering bibit, sedangkan dosis 15 g polybag-1 menghasilkan pengaruh terbaik pada nisbah tajuk akar dan luas daun total. Kata kunci ; pertumbuhan tanaman, aplikasi pupuk
RESPON BIBIT KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq) ASAL MULTI EMBRIO TERHADAP FREKUENSI WAKTU PEMBERIAN PUPUK NPK (16:16:16) DI PEMBIBITAN UTAMA Hayata, Hayata; Defitri, Yuza; Renaldi, Wahyu
Jurnal Media Pertanian Vol 3, No 1 (2018): Jurnal Media Pertanian
Publisher : Jurnal Media Pertanian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (143.411 KB)

Abstract

Abstract            This research was conducted at Jl. Lintas Jambi - Muaro Bulian Kel. Pijoan Kec. Jaluko Kab. Muaro Jambi, which lasted for 3 months. This study aims to determine the response of oil palm seedlings (Elaeis guineensis Jacq) of multi embryo origin in the main breeding.             Oil palm seedlings used type Multi Embrio that has been 4.5 months. The medium used is black soil, fertilizer npk brand Lao Ying (16:16:16) and polybag size 5 kg. The design used in this study was Completely Randomized Design (RAL) with the treatment of npk laoying time with 4 treatment levels F1 5 days 2.5 g, F2 10 days 5.0 g, F3 15 days 7.5 g, F4 20 day 10 g. Each treatment was repeated 4 times, so there were 16 units of experimental unit, each plot consisting of 3 oil palm seedlings, bringing the total of 48 polybags. Each plot was taken 2 plants used as sample. The parameters observed were seed height (cm), stem diameter (mm), dry weight of crown (g), root dry weight (g), and quality index (IK).             Based on the research objectives, the results and discussion, it can be concluded that the NPK (16:16:16) with the frequency of different feeding time on oil palm seed planting medium gives no significant effect on plant height and stem diameter but significantly different to the weight dried canopy, root dry weight and seed quality index of multi-embryo palm oil. The F1 treatment also gives the highest index value of quality (IK) indicating that the seedlings are most ready to be transported. Abstrak            Penelitian ini dilaksanakan di Jl. Lintas Jambi – Muaro Bulian Kel. Pijoan Kec. Jaluko Kab. Muaro Jambi, yang berlangsung selama 3 bulan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon bibit kelapa sawit ( Elaeis guineensis Jacq ) asal multi embrio di pembibitan utama.             Bibit kelapa sawit yang digunakan jenis Multi Embrio yang telah berumur 4,5 bulan. Media yang digunakan adalah tanah hitam, pupuk npk merk Lao Ying (16:16:16) dan polybag ukuran 5 kg. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan frekuensi waktu pemberian npk lao ying dengan 4 taraf perlakuan F1 5 hari 2,5 g, F2 10 hari 5,0 g, F3 15 hari 7,5 g, F4 20 hari 10 g. Setiap perlakuan diulang 4 kali, sehingga terdapat 16 unit satuan percobaan, yang masing-masing petak terdiri dari 3 bibit kelapa sawit, sehingga jumlah 48 polybag. Setiap petak diambil 2 tanaman yang digunakan sebagai sampel. Parameter yang         diamati adalah tinggi bibit (cm), diameter batang (mm), berat kering tajuk (g), berat kering akar (g), dan indeks kualitas (IK).            Berdasarkan tujuan penelitian, hasil dan pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa pemberian NPK (16:16:16) dengan frekuensi waktu pemberian yang berbeda pada media tanam bibit kelapa sawit memberikan pengaruh yang tidak nyata terhadap tinggi tanaman dan diameter batang, tapi berbeda nyata terhadap berat kering tajuk, berat kering akar dan indeks kualitas bibit kelapa sawit asal multi embrio. Perlakuan F1 juga memberikan nilai indeks kualitas (IK) tertinggi yang mengindikasikan bibit tersebut paling siap dipindahkan kelapangan. 

Page 1 of 4 | Total Record : 40