cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. banyumas,
Jawa tengah
INDONESIA
Majalah Ilmiah Biologi BIOSFERA: A Scientific Journal
ISSN : 08531629     EISSN : 08531629     DOI : -
Majalah Ilmiah Biologi Biosfera : A Scientific Journal merupakan peer reviewed jurnal yang diterbitkan oleh Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman. Media ini mewadahi hasil-hasil penelitian di bidang biologi tropika yang terbit tiga kali setahun (Januari, Mei, September).
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue " Vol 34, No 1 (2017)" : 7 Documents clear
Perkembangan Awal Protocorm Anggrek Phalaenopsis amabilis secara In Vitro setelah Penambahan Zat Pengatur Tumbuh α-Naphtaleneacetic Acid dan Thidiazuron Ningrum, Eka Fitriana Candra; Rosyidi, Ikhsanudin Nur; Puspasari, Rizka Riliant; Semiarti, Endang
Majalah Ilmiah Biologi BIOSFERA: A Scientific Journal Vol 34, No 1 (2017)
Publisher : Fakultas Biologi | Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.mib.2017.34.1.393

Abstract

Phalaenopsis amabilis (L.) Blume merupakan salah satu anggrek alam dengan nilai komersial yang tinggi. Keberadaannya di alam semakin sukar dijumpai akibat eksploitasi berlebihan dan kerusakan hutan. Selain itu budidaya anggrek ini cukup sulit dilakukan karena biji bersifat mikroskopis dan tidak memiliki endosperm, sehingga perlu dilakukan kultur  in vitro. Dalam budidaya secara in vitro diperlukan medium pendukung pertumbuhan anggrek secara optimal misalnya dengan penambahan Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) dari golongan auksin dan sitokinin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan ZPT tersebut terhadap perkembangan protokorm (pertumbuhan embrio anggrek) P. amabilis secara in vitro dari aspek morfologi dan anatomi. Penelitian dilakukan di Laboratorium Bioteknologi dan Laboratorium Struktur Perkembangan Tumbuhan. Digunakan protokorm anggrek P. amabilis berumur 2 bulan. Protokorm disubkultur pada medium NP dengan kombinasi ZPT NAA dan TDZ pada berbagai konsentrasi dan diinkubasi pada ruangan dengan kelembaban tinggi, suhu 250C.  Kemudian diamati protokorm anggrek selama 2 minggu yang mencakup persentase pertumbuhan, persentase protokorm yang membentuk tunas dan absorbing hair. Pembuatan preparat anatomi dilakukan dengan mengambil protokorm setiap minggunya, disimpan dalam larutan alkohol 70% dan dibuat preparat anatomi menggunakan metode Parafin dengan pewarnaan safranin. Hasil penelitian menunjukkan pada penambahan NAA dan TDZ pertumbuhan protokorm mencapai 100%. Persentase protokorm yang membentuk tunas berturut turut (0:0, 0.2:0, 0:0.5, 0.2:0.5, 0:1, dan 0.2:1) ppm adalah 24%, 22%, 32%, 40%, 40% dan 38% sedangkan untuk pengamatan protokorm yang membentuk absorbing hair sebesar 10%, 18%, 14%, 24%, 16%, dan 0%. Untuk diameter sel berukuran 39.2±0.47µm, 44.4±0.97µm, 39.08±0.5µm, 38.83±0.2µm,39.5±0.39µm dan 39.75±0.28µm. Sehingga dapat disimpulkan medium yang paling optimal dalam pertumbuhan anggrek P. amabilis secara in vitro adalah medium NP dengan kombinasi NAA dan TDZ (0.2 : 0.5) ppm.Kata kunci : Anatomi, Kultur In Vitro, Morfologi, Phalaenopsis amabilis
Bioprospektif Perairan Berdasarkan Produktivitas : Studi Kasus Estuari Sungai Serayu Cilacap, Indonesia Rahayu, Nur Laila; Lestari, W.; Ardli, Erwin Riyanto
Majalah Ilmiah Biologi BIOSFERA: A Scientific Journal Vol 34, No 1 (2017)
Publisher : Fakultas Biologi | Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.mib.2017.34.1.405

Abstract

The high changes of Serayu River land use is resulting the high of load particle sedimentation into the body of water. Turbidity will accumulate in the downstream or estuaries which would have an impact on biota, especially plankton as primary productivity and secondary productivity. This research is conducted with a survey method and purposive sampling technique. Estuary Serayu River is divided into 5 stations, starts from the nearest to the sea (1) with 26 ‰ salinity and the furthest stations from the sea (5) with 8 ‰ salinity. Samples of water and plankton are taken at the time of high tide and low tide every month, for 4 months (August, September, October, and November 2016). The obtained data is analyzed by PCA to study the environmental factors towards primary productivity and secondary productivity. Based on the research result environmental factors has relation waters estuary productivity of Serayu river on the highest and lowest tide those are lightness, level TSS and pH.
Efektivitas Bacillus thuringiensis dalam Pengendalian Larva Nyamuk Anopheles sp. Wibowo, Citra Inneke
Majalah Ilmiah Biologi BIOSFERA: A Scientific Journal Vol 34, No 1 (2017)
Publisher : Fakultas Biologi | Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.mib.2017.34.1.469

Abstract

Nyamuk Anopheles sp adalah vektor penyakit malaria. Pengendalian vektor penyakit malaria dapat dilakukan secara biologis yaitu dengan menggunakan Bacillus thuringiensis. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui efektivitas konsentrasi Bacillus thuringiensis dalam pengendalian larva nyamuk Anopheles sp.Penelitian ini dilakukan secara eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial (RAL Faktorial) yang terdiri atas dua faktor yaitu konsentrasi Bacillus thuringiensis dan stadia larva Anopheles dengan pengulangan tiga kali.Perlakuan yang dicobakan adalahkonsentrasi Bacillus thuringiensis (A) yang terdiri atas 5 taraf:A0: konsentrasi B.thuringiensis 0 CFU.mL-1, A1: konsentrasi B.thuringiensis 102 CFU.mL-1, A2: konsentrasi B.thuringiensis 104 CFU.mL-1, A3: konsentrasi B.thuringiensis 106CFU.mL-1, A4: konsentrasi B.thuringiensis 108CFU.mL-1. Perlakuan tahapan instar larva Anopheles sp. (B) adalah sebagai berikut:B1: stadia larva instar I, B2: stadia larva instar II, B3: stadia larva instar III, B4: stadia larva instar IVsehingga terdapat 60 satuan percobaan. Hasil penelitian  menunjukkan konsentrasi B. thuringiensis isolat CK dan IPB CC yang paling berpengaruh dalam pengendalian larva Anopheles sp adalah 108 CFU.mL-1 . Instar larva yang paling peka terhadap B. thuringiensis isolat IPB CC adalah instar I dan II sedangkan instar yang peka terhadap isolat CK adalah instar II, Perlakuan konsentrasi isolat B. thuringiensis dan tingkat instar larva yang paling baik dalam pengendalian larva Anopheles sp. adalah 108 CFU.mL-1, dan instar I dan II.
Efek Ekstrak Daun Kembang Bulan (Tithonia diversifolia) terhadap Kadar Glukosa Darah Tikus Wistar (Rattus norvegicus) yang Diinduksi Alloxan Sasmita, Fitri Wening; Susetyarini, Eko; Husamah, Husamah; Pantiwati, Yuni
Majalah Ilmiah Biologi BIOSFERA: A Scientific Journal Vol 34, No 1 (2017)
Publisher : Fakultas Biologi | Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.mib.2017.34.1.412

Abstract

Diabetes Mellitus merupakan penyakit metabolik yang ditandai kenaikan kadar gula darah atau hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin atau kerja insulin. Alloxan menginduksi diabetes dengan merusak sel pankreas dan mengawali terjadinya hiperglikemia. Salah satu tumbuhan yang memiliki potensi obat dalam penurunan glukosa darah adalah daun Tithonia diversifolia yang mengandung senyawa flavonoid dan seskuiterpen. Tujuan penelitian ini adalah (1) menganalisis efek ekstrak daun kembang bulan terhadap kadar glukosa darah tikus wistar; dan (2) menentukan pemberian ekstrak daun kembang bulan yang memiliki pengaruh efektif dalam penurunan kadar glukosa darah tikus wistar. Jenis penelitian ini adalah eksperimental yang sesungguhnya secara in vivo yang dilakukan di laboratorium. Rancangan yang digunakan adalah True Experimental-Post Test Only Control Group Design mengacu pada Sambrook & Russel. Sampel yang digunakan adalah tikus wistar sebanyak 25 ekor yang terbagi dalam 5 kelompok perlakuan dan 5 kali pengulangan yaitu P1 (kontrol negatif), P2 (kontrol positif), P3 (dosis 1,28 ml/200g BB), P4 (dosis2,57 ml/200g BB), dan P5 (dosis 5,14 ml/200g BB). Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah One-way ANOVA dilanjutkan uji Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada efek ekstrak daun kembang bulan terhadap kadar glukosa darah tikus wistar. Hal ini menunjukkan bahwa daun kembang bulan memiliki efek antidiabetes atau berperan sebagai antihiperglikemik pada pemberian dosis sebesar 5,14 ml/200g BB dengan rata-rata 136,8 mg/dl. 
Prevalensi Mikrofilaria pada Nyamuk Culex dan Manusia di Desa Dukuhturi, Kecamatan Bumiayu, Kabupaten Brebes Handayani, Khairina Dewi; Kusmintarsih, Endang Srimurni; Riwidiharso, Edy
Majalah Ilmiah Biologi BIOSFERA: A Scientific Journal Vol 34, No 1 (2017)
Publisher : Fakultas Biologi | Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.mib.2017.34.1.369

Abstract

Filariasis atau penyakit kaki gajah merupakan salah satu penyakit tular vektor yang disebabkan oleh cacing filaria yang hidup dalam kelenjar limfa dan saluran limfa manusia. Filariasis limfatik yang disebabkan Wuchereria bancrofti mendominasi hampir 90% infeksi di dunia. Di daerah perkotaan, filariasis bancrofti ditularkan oleh nyamuk Culex. Berdasarkan database kesehatan per Provinsi, jumlah penderita filariasis di Jawa Tegah dari tahun 2011 sampai 2014 tidak mengalami penurunan. Berdasarkan Profil kesehatan Kab/Kota 2014, di Kabupaten Brebes terdapat 23 kasus filariasis. Salah satu kasus filariasis tersebut ditemukan di Desa Dukuhturi, Kecamatan Bumiayu, Kabupaten Brebes. Survei mengenai filariasis belum pernah dilakukan di desa tersebut, oleh karena itu dilakukan survei terhadap darah tepi penduduk Desa Dukuhturi dan nyamuk Culex sp. sebagai vektornya. Nyamuk Culex sp. dapat berpotensi sebagai vektor filariasis jika ditemukan mikrofilaria di dalam tubuh nyamuk dan nyamuk pernah menghisap darah manusia, yang dapat diketahui dengan adanya kondisi parous (pernah bertelur) pada ovarium nyamuk. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui parity rate nyamuk Culex sp., prevalensi nyamuk Culex sp. yang terinfeksi mikrofilaria, prevalensi penduduk Desa Dukuhturi yang terinfeksi mikrofilaria, dan kepadatan mikrofilaria pada penduduk yang terinfeksi mikrofilaria.Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode survei dengan pengambilan sampel secara cluster random sampling. Pengambilan sampel darah tepi dilakukan berdasarkan ethical clearance dan informed concent. Data yang diperoleh ditabulasi kemudian dianalisis secara deskriptif berdasarkan parousitas nyamuk, keberadaan mikrofilaria pada darah tepi manusia dan nyamuk di Desa Dukuhturi, serta kepadatan mikrofilaria pada sampel darah tepi yang terinfeksi mikrofilaria.Hasil penelitian menunjukan bahwa tingkat parousitas nyamuk Culex sp. tinggi yaitu 94,45% tetapi prevalensi nyamuk Culex sp. dan penduduk Desa Dukuhturi yang terinfeksi mikrofilaria adalah 0%, sehingga kepadatan mikrofilaria adalah 0.
Gambaran Populasi Golongan Darah Subgroup A (A1, A2) di PMI Kulon Progo Prasetya, Hieronymus Rayi; Budianto, Bambang Heru; Hernayanti, Hernayanti
Majalah Ilmiah Biologi BIOSFERA: A Scientific Journal Vol 34, No 1 (2017)
Publisher : Fakultas Biologi | Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.mib.2017.34.1.375

Abstract

Subgroup A1 and A2 are the most important in the blood group A. Subgroup A1 has the A antigen more than A2 subgroup, the A2 subgroup can cause misidentification of blood group due to poor A antigen and genetic variation possessed. Misidentification of the blood group will increase the risk of transfusion reactions. This research aims to describe the A1 and A2 subgroup population in Kulon Progo district. This study was conducted with a cross sectional sampling technique. The sample in this study were taken from donors of blood group A in Kulon Progo Red Cross. Identification of A1 and A2 subgroup is done by using lectin (Dolichos biflorus extract). The result of the examination of 53 samples showed that 96,2% was A1 subgroup and 3,8% was A2 subgroup.Key words : Subgroup A1, Subgroup A2, Population, Kulon Progo
Interaksi Makroalgae dan Lingkungan Perairan Teluk Carita Pandeglang Kadi, Achmad
Majalah Ilmiah Biologi BIOSFERA: A Scientific Journal Vol 34, No 1 (2017)
Publisher : Fakultas Biologi | Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.mib.2017.34.1.391

Abstract

Makroalgae liar adalah flora perairan laut, tumbuh berada di paparan terumbu karang.  termasuk dalam Chlorophyceae. Phaeophyceae dan Rhodophyceae, tumbuh Penelitian menggunakan metode transek quadrat pada October Tahun 20016. Setiap stasiun transek ditarik garis tegak lurus pantai. Hasil penelitian makroalgae di determinasi; kekayaan jenis, densitas dan interaksi makroalgae dengan temperatur, turbiditas, pH, salinitas serta oksigen terlarut. Makroalgae yang peroleh ada 18 jenis  dengan nilai indeks keanekaragaman berada di Pantai Matahari Utara 0,219, Matahari Tengah 0,24 dan Matahari Selatan 0,213. Nilai indeks kemerataan tertinggi 0,240 berada di Matahari Tengah.Interaksi kekayaan dan kepadatan jenis berpengaruh dengan stasiun (Spearman rank   rs = 0,521*;  rs =  0,552*  ) berada Matahari Tengah dan Matahari Utara. Intaraksi tertinggi makroalagae dengan faktor suhu (spearman rank rs = 0,687** ) sangat berpengaruh terhadap  jenis Eucheuma spinosum.

Page 1 of 1 | Total Record : 7