cover
Filter by Year

Analysis
Majalah Ilmiah Biologi BIOSFERA: A Scientific Journal
Majalah Ilmiah Biologi Biosfera : A Scientific Journal merupakan peer reviewed jurnal yang diterbitkan oleh Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman. Media ini mewadahi hasil-hasil penelitian di bidang biologi tropika yang terbit tiga kali setahun (Januari, Mei, September).
Articles
265
Articles
Komposisi dan Struktur Vegetasi di Resort Salak 2 Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS)

Fauziah, Rachma, Priyanti, Priyanti, Aminudin, Iwan

Majalah Ilmiah Biologi BIOSFERA: A Scientific Journal Vol 35, No 3 (2018)
Publisher : Fakultas Biologi | Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

AbstrakResort Salak 2 Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) merupakan salah satu kawasan konservasi. Sebelum dijadikan kawasan Taman Nasional, Resort Salak 2 merupakan kawasan hutan lindung. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui komposisi dan struktur vegetasi Resort Salak 2 TNGHS. Penentuan titik pengambilan data dilakukan dengan systematic sampling with random start pada 800, 1000, 1200 dan 1400 m dpl. Analisis vegetasi menggunakan kombinasi antara metode jalur dan metode garis berpetak. Transek dibuat dua jalur dengan ukuran 20 m x 80 m. Vegetasi Resort Salak 2 memiliki 44 famili; 88 spesies; 1527 individu. Keanekaragaman spesies di Resort Salak 2 TNGHS sedang sebesar 2,3 pada tingkat semai dan tumbuhan bawah; 1,6 pada tingkat pancang; 1,82 pada tingkat tiang: 1,85 pada tingkat pohon. Kemerataan spesies yang tinggi sebesar 0,75 pada tingkat semai dan tumbuhan bawah; nilai kemerataan 0,69 dimiliki oleh tumbuhan pada tingkat pancang, tiang dan pohon. Pola pelapisan tajuk di hutan Resort Salak 2 dikelompokkan ke dalam empat stratum (A, B, C, dan D).

Struktur Komunitas Fitoplankton pada Kolong Pengendapan Limbah Tailing Bauksit di Senggarang, Tanjungpinang

Apriadi, Tri, Ashari, Irvan Hasan

Majalah Ilmiah Biologi BIOSFERA: A Scientific Journal Vol 35, No 3 (2018)
Publisher : Fakultas Biologi | Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Senggarang merupakan salah satu kelurahan di Kota Tanjungpinang yang memiliki kolam pengendapan limbah tailing bauksit. Fitoplankton merupakan salah satu organisme pionir pada ekosistem yang baru terbentuk. Berdasarkan hasil penelusuran, belum ditemukan penelitian mengenai komunitas fitoplankton pada kolam pengendapan limbah tailing bauksit. Pelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis, kelimpahan, serta indeks ekologi fitoplankton yang terdapat pada kolam pengendapan limbah tailing bauksit di Senggarang, Kota Tanjungpinang. Pengambilan sampel dilakukan pada empat stasiun: inlet, outlet, tengah, serta tepi perairan.Metode yang digunakan dalam pengambilan sampel fitoplankton adalah metode dinamis secara vertikal. Pencacahan fitoplankton menggunakan metode sensus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelimpahan fitoplankton berkisar 1.692-2.525 sel/L. Tiga dari empat stasiun didominasi oleh divisi Charophyta, serta satu stasiun lainnya didominasi oleh divisi Chrysophyta. Dominasi divisi Charophyta dipengaruhi oleh tingginya kelimpahan genus Mougeotia sp. Bagian tengah kolong memiliki indeks ekologi yang lebih baik dari pada tepi perairan. Keanekaragam yang rendah pada semua stasiun menujukan kondisi perairan yang labil dan komunitas fitoplankton masih rentan terhadap gangguan. Hal ini sesuai dengan kategori kolong pengendapan limbah tailing bauksit di senggarang tergolong muda (< 5 tahun).

Keanekaragaman Serangga pada Tanaman Semangka (Citrullus lanatus (Thunb.) Mansf.)

Darsono, Darsono, Khasanah, Meyla

Majalah Ilmiah Biologi BIOSFERA: A Scientific Journal Vol 35, No 3 (2018)
Publisher : Fakultas Biologi | Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

The aims of this reseach was to determine the diversity, abundance of insects on watermelon based on ecological function .The method used in this research was survey with a random sampling techniques on watermelon plants. Insect observations conducted in three phases, ie before flowering, during flowering and during fruiting. The results showed the insects were obtained consisting of five orders, ie Orthoptera, Coleoptera, Hemiptera, Hymenoptera and Diptera. The role of each order is fitofag / herbivores are dominated by the family of the order Orthoptera and Coleoptera. Most families from the order Orthoptera, Coleoptera, Hymenoptera and Diptera act as predators. Insects that act as pollinators dominated by the family of the order Hymenoptera and Diptera. The Order Hemiptera act as pests. Insect abundance in watermelon crop was highest in fruiting phases ie 1103 individuals (50.61%).  While the abundance in the phase prior to flowering and during flowering phase successively obtained the total of 132 individuals (10.62%) and 727 individuals (38.77%) respectivelly. Shannon-Wiener Diversity  index (H), Evenness index (E) of insects in the phase before flowering H = 1.642, E = 0.3691, in the current phase of flowering H = 2.231, E = 0, 5474, and the fruiting phase H = 2.613, E = 0.7575. Based on the ecosystem function the highest diversity was insect pest (H = 1,56, E 0,6799), following by insect pollinators (H = 1,44, E 0,8489),   and the lowest was predator (H = 1,235, E 0,8598), (In watermelon farming, insect community was dominated by pest, escpesially during fruiting phase. 

Penggandaan Kromosom Marigold (Tagetes erecta L.) dengan Perlakuan Kolkisin

Purnama Dewi, Ida Ayu Ratih, Pharmawati, Made

Majalah Ilmiah Biologi BIOSFERA: A Scientific Journal Vol 35, No 3 (2018)
Publisher : Fakultas Biologi | Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pemberian kolkisin terhadap jumlah kromosom marigold serta dapat mengetahui konsentrasi kolkisin yang efektif untuk menginduksi poliploidi pada kecambah marigold.  Kecambah diberi direndam dalam kolkisin dengan konsentrasi 0,1% dan 0,2% selama 6 jam Sebagai kontrol digunakan akuades. Parameter yang diamati adalah jumlah kromosom ujung akar marigold pada masing-masing perlakuan. Pengamatan kromosom dilakukan dengan metode squash ujung akar. Pemberian kolkisin  menyebabkan penggandaan jumlah kromosom kecambah marigold. Rata-rata jumlah kromosom kecambah marigold pada kontrol adalah 2n=2x=20,5, sementara  rata-rata jumlah kromosom yang diberi perlakuan kolkisin 0,1% dan 0,2 % berturut-turut yaitu 2n=4x=42 dan 2n=4x=43.

Analisis Kuantitatif Mikrobiologi Serbuk Minuman Fungsional Lintah Laut (Discodoris sp.) Pada Suhu yang Berbeda Selama Penyimpanan

Putri, Raja Marwita Sari

Majalah Ilmiah Biologi BIOSFERA: A Scientific Journal Vol 35, No 3 (2018)
Publisher : Fakultas Biologi | Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Pertumbuhan mikroba yang tidak diinginkan menunjukkan bahwa didalam produk pangan telah terjadi kontaminasi dari luar ataupun karena proses pengolahan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jumlah mikroba yang ada pada serbuk minuman fungsional lintah laut (Discodoris sp.) pada suhu yang berbeda (30 °C, 35 °C dan 45 °C) selama penyimpanan, adapun parameter pengamatan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi uji total mikroba/kapang, pH (derajat keasaman) dan uji kadar air (aw). Metode yang digunakan untuk menghitung jumlah mikroba adalah Perhitungan jumlah total mikroba dilakukan dengan Standard Plate Count (SPC). Analisis data dilakukan dengan mendiskripsikan hasil Total Plate Count pada sampel  serbuk minuman fungsional lintah laut. Analisis tersebut disajikan suatu Standards Plate Count (SPC) dalam bentuk grafik untuk mempermudah dalam pembacaan. Hasil penelitian menunjukan bahwa Jumlah TPC pada dua formula serbuk minumam fungsional lintah laut ini pada berbagai suhu penyimpanan masih dibawah standar yang ditetapkan oleh SNI

Sebaran Spasial Bakteri Koliform di Sungai Musi Bagian Hilir

Genisa, Marlina Ummas, Auliandari, Lia

Majalah Ilmiah Biologi BIOSFERA: A Scientific Journal Vol 35, No 3 (2018)
Publisher : Fakultas Biologi | Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Tujuan penelitian adalah memberikan gambaran sebaran bakteri koliform/E.coli secara spasial di Sungai Musi bagian hilir yang melewati Kota Palembang. Titik sampling dalam penelitian sebanyak 21 titik secara systemtic random sampling, dimulai dari Pulokerto hingga Pulo Kemaro. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebaran bakteri koliform/E. coli tertinggi adalah di sekitar titik sampling 13-18, diikuti dengan sebaran yang lebih rendah, yaitu sekitar titik sampling 4-12, dan yang terendah adalah pada titik sampling 1-3 di sekitar Pulokerto dan titik sampling 19-21 di sekitar Pulo Kemaro. Faktor yang dapat menyebabkan sebaran bakteri adalah penggunaan lahan dan karakter bakteri E. coliyang bersifat anaerob fakultatif dan halofilik. Penggunaan lahan berupa lahan terbangun untuk permukiman dan kawasan untuk kegiatan pemerintahan dan perekonomian memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap jumlah dan sebaran bakteri E. coli dibandingkan dengan lahan terbuka

Aktifitas Antibakteri Ekstrak Jamur Endofit Mangga Podang (Mangifera indica L.) Asal Kabupaten Kediri Jawa Timur

Rosalina, Reny, Ningrum, Riska Surya, Lukis, Prima Agusti

Majalah Ilmiah Biologi BIOSFERA: A Scientific Journal Vol 35, No 3 (2018)
Publisher : Fakultas Biologi | Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Jamur endofit merupakan salah satu mikroba endofit yang hidup di dalam jaringan tumbuhan dan diketahui dapat menghasilkan senyawa aktif yang mirip dengan tumbuhan inangnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktifitas antibakteri dari ekstrak media dan ekstrak jamur endofit yang berhasil diisolasi dari ranting mangga podang (Mangifera indica L.). Didapatkan empat jenis jamur endofit hasil isolasi yang kemudian dikultur menggunakan media padat Potato Dextrose Agar (PDA) kemudian dipindahkan ke media cair Potato Dextrose Broth (PDB). Setelah miselia tumbuh selama inkubasi, media dan biomassaa jamur dipisahkan dengan filtrasi vakum. Jamur yang telah dikeringkan dimaserasi menggunakan metanol, sedangkan media jamur diekstraksi menggunakan etil asetat. Ekstrak jamur dan ekstrak media kemudian diuji aktivitas terhadap bakteri Escherichia coli, Staphylococcus aureus, Salmonella thypi, dan Staphylococcus mutan menggunakan metode difusi cakram kertas. (Disk Diffusion Method). Kontrol negatif yang digunakan adalah aquades sedangkan sebagai pembanding adalah antibiotik ciprofloxacin dan kloramfenikol. Hasil penelitian menunjukan bahwa ekstrak jamur dan ekstrak media jamur memiliki aktifitas sebagai antibakteri dengan sensitifitas yang berbeda-beda. Ekstrak media jamur memiliki sensitifitas yang lebih tinggi terhadap beberapa macam bakteri dibandingkan dengan ekstrak yang diperoleh dari biomassa jamur.

Aktivitas Antioksidan Ekstrak Tubuh Buah Jamur Paha Ayam (Coprinus comatus) dengan Pelarut Berbeda

Susanto, Agus, Nuniek, Nuniek Ina, Ekowati, Nuraeni

Majalah Ilmiah Biologi BIOSFERA: A Scientific Journal Vol 35, No 2 (2018)
Publisher : Fakultas Biologi | Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Coprinus comatus or with local name is  drum stick chiken mushroom that includes edible and medicinal mushroom. This mushroom contains bioactive compounds that have several pharmacological effects, like as antibacterial, anticancer, immunomodulator, anti-inflammatory, prevent diabetes and antioxidant. bioactive compounds includes in fruit body C. comatus can be obtained by extraction used solvent. The objective of this study was to determine whether the C. comatus fungus was potential as an antioxidant producer and to know which solvent produced the best antioxidant activity from the extract of the fruit body of C. comatus. The method used in this research is experimental with two treatments ie n-hexane and ethanol 70% solvent. Fruit body of C. comatus is extracted by maceration method, then the viscous extract obtained by phytochemical test and antioxidant activity test using DPPH method (1,1-diphenyl-2-picrihidazil). The results obtained are then analyzed using t-test for independent samples. The results showed that the average yield of ethanol extract 70% higher than n-heksan  were each 61.33% ± 9,21 and 14.8% ± 0,87. The test of total phenol extract ethanol was 70% higher than n-hexane , each with an average of 325,19 ppm ± 50,01 and 110,08 ppm ± 34,67. The result of antioxidant activity test using DPPH method of ethanol extract 70% and n-heksan has IC50 value 2,48 mg/ml and 3,86 mg/ml. Phytochemical test results for flavonoid test showed positive result for both samples extract, terpenoid test showed positive result in both samples , the tannin test showed negative results  in both samples.

Ikan Kepe – kepe (Chaetodontidae) sebagai Bioindikator Kerusakan Perairan Ekosistem Terumbu Karang Pulau Tikus

Riansyah, Agus, Hartono, Dede, Kusuma, Aradea Bujana

Majalah Ilmiah Biologi BIOSFERA: A Scientific Journal Vol 35, No 2 (2018)
Publisher : Fakultas Biologi | Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Coral reef is one of ecosystem in the ocean that have important ecologycal functions. Coral reef could be habitat for coral fishes.The demage of coral reef could be impacted on ecologycal proceses in the ocean. Therefore, The monitoring of coral reef health should be done to know the healthinees of coral reef. Butterfly fish is fish that can be used as bioindicator of coral demage. The aims of this study were analyzed condition of precent cover of coral reef, and also to measured mortality index of coral reef, abundance index of butterfly fish, and corelation between butterfly fish and coral reef. Survey method was used in this research. Line Intercept Transect  used to measuring percent cover of coral reef along 50 m. The resuts showed that station 7 has the higest of precent cover of coral reef (67%), and station 3 has the lowest of of precent cover of coral reef (20.84%). Coral demage could be caused by illegal fishing. Totally, There were 136 of buterfly fish that found which are categoryzed into 9 specieses. The statistical result found that there are positif corelation between coral reef and butterfly fish. It is indicted that the increasing of percent cover of coral reef could be increasing the abundace of butterfly fish too. Precent cover of live coral reef could be impacted on abundance of buterfly fish due to associated with food and shelter. 

Distribusi dan Jenis Sampah Laut serta Hubungannya terhadap Ekosistem Terumbu Karang Pulau Pramuka, Panggang, Air, dan Kotok Besar di Kepulauan Seribu Jakarta

Assuyuti, Yayan Mardiansyah, Zikrillah, Reza Bayu, Tanzil, Muhammad Arif, Banata, Azkiya, Utami, Pangestuti

Majalah Ilmiah Biologi BIOSFERA: A Scientific Journal Vol 35, No 2 (2018)
Publisher : Fakultas Biologi | Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Ekosistem terumbu karang di kepulauan Seribu mengalami dampak dari kegiatan manusia seperti sampah laut. Penelitian ini dilakukan di pulau Pramuka, Panggang dan Air pada bulan Maret 2015 dan Kotok Besar pada bulan Juli 2016, kepulauan Seribu, Jakarta. Pengambilan data penutupan terumbu karang dan jumlah sampah dilakukan di dua kedalaman yaitu 3-5 m dan 10-13 m dengan 4 stasiun, kecuali Kotok Besar dengan 2 stasiun dan 1 kedalaman. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui distribusi dan jenis sampah laut, persentasi penutupan substrat terumbu karang, faktor kimia fisik perairan dan hubungan sampah terhadap penutupan substrat terumbu karang. Hasil penelitian menunjukkan jenis sampah laut yang paling banyak ditemukan adalah plastik di kedalaman 3m yang berada di pulau Pramuka dan Panggang. Regresi linear jumlah sampah dengan terumbu karang terdapat di kedalaman 3m di tiga pulau dan 10m di satu pulau. Persentasi penutupan substrat terumbu karang di dua kedalaman dan masing-masing pulau tidak berbeda nyata. Hal ini karena faktor kimia fisik perairan mendukung terhadap pertumbuhan terumbu karang.