cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 62 Documents
S, M, L, XL: SEBUAH PANDANGAN PERALIHAN MODERN URBANISME MENUJU POSTMODERN URBANISME Affrilyno, ,
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 2, No 1 (2015)
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (493.35 KB) | DOI: 10.26418/lantang.v2i1.13840

Abstract

Teori Bigness yang digulirkan Rem Koolhaas merupakan teori yang menurut Rem Koolhaas mampu menghasilkan logika sendiri. Sekalipun teori ini dianggap sebagai bentuk yang berbeda dalam wacana arsitektur, namun keberadaannya memiliki pertumbuhan tersendiri. Ihwal teori ini berakar pada tatanan program Manhattanism yang ditulis Rem Koolhaas pada bukunya, Delirious New York (1978). Pada buku selanjutnya, S, M, L, XL (1995), Rem Koolhaas secara lebih terperinci memberikan implementasi aktual dari Manhattanism melalui berbagai proyek yang terealisasi maupun tidak terealisasi beserta tulisan-tulisan yang melingkupinya. Melalui karya tekstualnya, Rem Koolhaas telah mengembangkan pendekatan yang spesifik terhadap urbanisme dan arsitektur. Terkait problematika dalam arsitektur dan urbanisme yang menggulirkan permasalahan terhadap penolakan kompleksitas, kurangnya kontrol, oposisi, kontradiksi, dan skala yang besar, Rem Koolhaas justru merangkul kondisi ini dan menyatakannya sebagai titik awal untuk proyek-proyek mereka. Dalam konteks urban secara spesifik, Rem Koolhaas menyatakan permasalahan urban tidak lagi dapat dikendalikan dengan cara klasik Modernisme. Permasalahan yang ada selanjutnya berfungsi sebagai sarana struktural untuk mengakomodasi permasalahan yang tidak dapat dikontrol. Isu-isu ini selanjutnya berperan sebagai instrumen baru dalam tatanan urbanisme dan arsitektur Theory of Bigness as Koolhaas refers to it generates its own logic. Although the concept suffers from neglect in architectural discourse, it has prospered on its own. The program for Manhattanism has been established in Delirious New York (1978). Furthermore, in the next book, S, M, L, XL (1995), Rem Koolhaas gives a record of the actual implementation of Manhattanism throughout the various (un)realized projects and texts. Through his books, Rem Koolhaas has developed a very specific approach towards urbanism and architecture. Related to the scope of the problems in architecture and urbanism like instead of denial of complexity, lack of control, opposition, contradiction, and bigness, Koolhaas embrace these conditions and declare them as the starting point for their projects. The urban context specifically, Koolhaas stated, no longer can be controlled in the classical manner of Modernism. These issues serve as the structural means to accommodate what cannot be controlled. They are the new instruments of urbanism and architecture.REFERENCESADIP. Rethinking Berlin | a city and its river. ADIP. Urban and Architectural Research. Diakses dari http://www.adip.tu-berlin.de/wp-content/uploads/2010/10/adipmagazine_01__preview.pdf. 22 Mei 2011.Antonio Negri. 2009. On Rem Koolhaas. Diakes dari http://www.haraldpeterstrom.com/content/5.pdfs/Antonio%20Negri%20%E2%80%93%20On%20Rem%20Koolhaas.pdf. 22 Mei 2011.Archdaily. Seattle Public Library”. Diakses dari http://www. archdaily.com/11651/seattle-central-library-oma-lmn/. 30 Mei 2011Henri Achten. Review: S, M, L, XL, O.M.A.,Rem Koolhaas,Bruce Mau,1995. Diakses dari http://lava.ds.arch. tue.nl/books/ koolhaas.html. 22 Mei 2011.John Rajchman. Thinking big - Dutch architect Rem Koolhaas - Interview". ArtForum. Diakses dari FindArticles.com,http://findarticles.com/p/articles/mi_m0268/is_n4_v33/ai_16547724/. 22 Mei 2011.Joshua Ramus. 2004. Seattle Public. In Rem Koolhaas/ OMA, Content, Taschen, hal. 138-149.Lara Schrijver. 2008. OMA as tribute to OMU:   exploring resonance in the work of Koolhaas and Ungers. The Journal of Architecture, Volume 13, No. 3. Diakses dari http://www.tandfonline.com/doi/abs/10.1080/13602360802214927#.VMmnwi42uu8. 22 Mei 2011.Mark Gilbert. 2003. On Beyond Koolhaas : Identity, Sameness and the Crisis of City Planning. Diakses dari http://www.uibk.ac.at/wuv/pdf/ehem/gilbert_city.pdf. 22 Mei 2011.Notablebiographies. Rem Koolhaas. Diakses dari http://www. notablebiographies.com/news/Ge-La/Koolhaas-Rem.html. 31 Mei 2011.O.M.A/Rem Koolhas. Seatle Public Library. Diakses dari www.oma.eu. 29 Mei 2011.Rem Koolhaas, Bigness, or the problem of Large,in Rem Koolhaas/OMA and Bruce Mau, S,M,L,XL, The Monacelli Press, New York, 1995, hal. 494-517.Rem Koolhaas. 1995. Exodus, or the Voluntary Prisoners of Architecture, in Rem Koolhaas/OMA and Bruce Mau, S,M,L,XL. The Monacelli Press, New York, hal. 2-21Rem Koolhaas. 1995. Field Trip: (A) A Memoir | The Berlin wall as architecture,in Rem Koolhaas/OMA and Bruce Mau, S,M,L,XL. The Monacelli Press, New York, hal. 212-233.Rem Koolhaas. 1995. Imagining Nothingness in Rem Koolhaas/OMA and Bruce Mau, S,M,L,XL. The Monacelli Press, New York, hal. 198-203Rem Koolhaas. 1995. Singapore Songlines : Thirty Years of  Tabula Rasa ,in Rem Koolhaas/OMA and Bruce Mau, S,M,L,XL. The Monacelli Press, New York, hal. 1008-1089.Rem Koolhaas. 1995. The Generic City in Rem Koolhaas/ OMA and Bruce Mau, S,M,L,XL. The Monacelli Press, New York, hal. 1238-1269.Rem Koolhaas. 1995. The Terrifying Beauty of the Twentieth Century in Rem Koolhaas/OMA and Bruce Mau, S,M,L,XL. The Monacelli Press, New York, hal. 204-211.Rem Koolhaas. 1995. What Ever Happened to Urbanism? ,in Rem Koolhaas/OMA and Bruce Mau, S,M,L,XL. The Monacelli Press, New York, hal. 958-971.Rem Koolhaas. 2004. Junkspace, in Rem Koolhaas/OMA/ Content, Taschen, hal. 166-171.Rosemarie Buchanan. Avant-garde architect reinvents Seattles new library. Diakses dari community. seattletimes.nwsource.com, http://community.seattletimes.nwsource.com/archive/?date=20040517&slug=rem17. 29 Mei 2011Seattle Public Library. Diakses dari http://www.spl.org/Documents/about/libraries_for_all_report.pdf. 28 Januari 2015.Silvana Taher. 2011. Architects Vs. The City or The Problem of Chaos. Diakses dari https://www.aaschool.ac.uk/downloads/awards/Sylvie_Taher_DennisSharpAwardPaper.pdf. 29 Mei 2011.Slate. Going Dutch. Diakses dari www.slate.com, http:// www.slate.com/id/2098574/slideshow/2099123/fs/0//entry/ 2099125/. 30 Mei 2011.William Dietrich. Seattles New Downtown Library. Diakses dari seattletimes. nwsource.com, http://seattletimes. nwsource.com/ pacificnw/2004/0425/cover.html. 29 Mei 2011
PENGARUH JARINGAN PERDAGANGAN GLOBAL PADA STRUKTUR WILAYAH DAN KONFIGURASI SPASIAL PUSAT PEMERINTAHAN KESULTANAN-KESULTANAN MELAYU DI KALIMANTAN BARAT Fery Andi, Uray
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 4, No 1 (2017)
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (813.532 KB) | DOI: 10.26418/lantang.v4i1.20395

Abstract

Lokasi pusat-pusat pemerintahan kesultanan Melayu di Kalimantan Barat berada di sepanjang tepian sungai. Sungai menjadi faktor yang sangat penting dalam kehidupan kesultanan, yaitu terkait dengan fungsinya sebagai sumber kehidupan dengan beragan jenis flora dan fauna, sebagai aksesibilitas dan jalur transportasi serta komunikasi. Keterbatasan wilayah tepian sungai menyebabkan perkembangan pusat kesultanan melebar sepanjang tepian sungai karena wilayah daratan masih berupa hutan dan kurang aman. Perkembangan aktivitas perdagangan global pada masa pemerintahan kesultanan yang semakin pesat menyebabkan jalur sungai semakin ramai dilalui oleh pedagang lokal, regional dan internasional. Keberadaan kongsi dagang Belanda (VOC) hingga menjadi pemerintahan Hindia Belanda turut mempengaruhi perkembangan pusat-pusat pemerintahan kesultanan Melayu di Kalimantan Barat.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh jaringan perdagangan global terhadap struktur wilayah Borneo Barat dan konfigurasi spasialpusat pemerintahankesultanan-kesultanan Melayu di Kalimantan Barat. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode sejarah yaitu dengan mengetahui perkembangan sistem jaringan perdagangan global dan korelasinya dengan sejarah pembentukan wilayah kesultanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem dan jaringan perdagangan mempengaruhi struktur wilayah Borneo Barat dengan sistem hulu-hilir dan konfigurasi spasial wilayah pusat pemerintahan kesultanan Melayu yang terbatas dan melebar sepanjang tepian sungai. Kata-kata kunci: jaringan perdagangan, struktur wilayah, konfigurasi spasial, kesultanan Melayu, Kalimantan Barat  THE INFLUENCE OF GLOBAL TRADING NETWORK ON THE MALAY SULTANATES CENTRAL OF GOVERNMENT STRUCTURE AND SPATIAL CONFIGURATION IN WEST KALIMANTANMalay sultanates central government in West Kalimantan were located along the banks of the river. The river became very important factor in the life of sultanates, which was related to its function as a source of life with a variety of floras and faunas, as well as accessibility, transportation lines and communication. Limitations of the riverbank area led to the development of the center of sultanates which extended along the river banks, because land area were still forested and less secure. The development of global trade activities during the reign of sultanates, which grew rapidly, led to increasingly crowded river path, traversed by local, regional and international traders. The existence of Dutch trade partnership (VOC) and later became the Dutch East Indies, also influenced the spatial development of administrative centers in West Kalimantan Malay sultanates. The purpose of this study was to determine the influence of global trading network on the spatial structure of Westeer Borneo Afdelling and on spatial configuration of the Malay sultanates region in West Kalimantan. The study was conducted using historical method, by mapping the development of a global trading network system and its correlation with the history of the region formation of the sultanates. The results showed that the trading systems and networks affected the structure of afdelling by upstream and downstream system, and the spatial configuration of the central region of Malay sultanates government became limited and spread along the riverbanks. Keywords: trading network, regional structure, spatial configuration, Malay sultanates, West Kalimantan REFERENCES_______. Tanpa Tahun. Sejarah Kerajaan Tanjungpura-Matan. Tanpa Penerbit. Andi, Uray Fery. (2016): Sejarah Perkembangan Arsitektur Istana Kesultanan Melayu di Kalimantan Barat, Disertasi Doktor Arsitektur, Institut Teknologi Bandung, Bandung Barnet, Jonathan. (1974): Urban design as public policy: Practical methods for improving cities, Architectural Record Books Collins, J. T. (2001). Contesting Straits-Malayness : The Fact of Borneo. Journal of Southeast Asian Studies,32(3), 385–395. Coedes, George. (2010). Asia Tenggara Masa Hindu-Buddha, Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional, Jakarta Damayanti, R., dan Handinoto. (2005). Kawasan “pusat kota” dalam perkembangan sejarah perkotaan di Jawa.Dimensi Teknik Arsitektur, 33 (1),34 – 42. De Graaf, H.J. & Pigeaud, T.H. (1989). Kerajaan Islam Pertama di Jawa: Tinjauan Sejarah Politik Abad XV dan XVI. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti dan KITLV. Dick, HW & Rimmer, PJ, 1998: Beyond the third world city: the new urban geography of South-east Asia’, Urban Studies, vol. 35, no. 12, Enthoven, J. J. . (2013)Sejarah dan Geografi Daerah Sungai Kapuas Kalimantan Barat, Terjemahan Bijdragen Tot De Geographie van Borneo’s Wester-Afdeeling 1905. (P. O. C. Yeri, Ed.) (1st ed.), Pontianak, Institut Dayakologi. Groat, L., & Wang, D. (2002). Architectural Research Method. Canada: John Wiley and Sons, Inc. Lindblad, J. T. (2012). Antara Dayak dan Belanda, Sejarah Ekonomi Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan 1880-1942 (1st ed.). Jakarta: KITLV-Jakarta. Leur, J. C. van. (1967). Indonesia Trade and Society: Essays in Asian Social and Economic History, The Hague, The Hague: W. Van Hoeve Publishers. Lombard, D. (2005). Nusa Jawa Silang Budaya, - Buku I, II, & III. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Lontaan, J.U. (1975). Sejarah, Hukum Adat, dan Adat Istiadat Kalimantan-Barat. Pontianak: Pilindo. Manguin, P. (2014). Sifat Amorf Politi-politi Pesisir Asia Tenggara Kepulauan. In P. Manguin (Ed.), Kedatuan Sriwijaya (Kedua, p. 315). Jakarta: Komunitas Bambu. Rahman, Ansar. (2000). Perspektif Berdirinya Kota Pontianak. Pontianak: Tanpa Penerbit.Groat, L., & Wang, D. (2002). Architectural Research Method. Canada: John Wiley and Sons, Inc. Lombard, D. (2005). Nusa Jawa Silang Budaya, - Buku I, II, & III. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Manguin, P. (2014). Sifat Amorf Politi-politi Pesisir Asia Tenggara Kepulauan. In P. Manguin (Ed.), Kedatuan Sriwijaya (Kedua, p. 315). Jakarta: Komunitas Bambu. Reid, A. (2011). Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga 1450-1680, Jilid 2: Jaringan Perdaganga Global (2nd ed.). Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia. Usman, S. (2011). Kota Pontianak Sedjak Tempo Doeloe: Album dan Dokumen Masa Lampau. Pontianak. Ricklefs, M. C. (2010). Sejarah Indoensia Modern 1200-2008, Jakarta, PT. Serambi Ilmu Semesta. Schutte, G.J, ed. (1994). State and Trade in Indonesian Archipelago, KITLV Press, Leiden Veth, P. (2012). Borneo Bagian Barat: Geografis, Statistik, Historis Jilid 1, Terjemahan Borneo’s Wester-Afdeeling Geographisch, Statistisch, Historisch 1854, terjemahan oleh P. O. C. Yeri., Pontianak, Institut Dayakologi
MENGENAL ARSITEKTUR LOKAL: KONSTRUKSI RUMAH KAYU DI TEPIAN SUNGAI KAPUAS, PONTIANAK Lestari, Lestari; Zain, Zairin; ., Rudiyono; ., Irwin
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 3, No 2 (2016)
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (323.619 KB) | DOI: 10.26418/lantang.v3i2.18321

Abstract

Keberadaan sungai Kapuas sebagai sumber kehidupan dan jalur transportasi air, memunculkan permukiman-permukiman di tepian sungai Kapuas.Rumah-rumah yang berada di pemukiman tepian sungai Kapuas umumnya didirikan langsung di tepian sungai Kapuas.Rumah tersebut sebagian besar berupa rumah kayu yang terhubung dengan gertak-gertak sebagai jalur penghubung antar rumah.Konstruksi rumah kayu ini menarik untuk diamati mengingat keadaan tepian sungai perlu diselesaikan oleh bangunan agar tetap bertahan.Tulisan ini memaparkan kontruksi rumah kayu pada salah satu kasus daerah tepian sungai kapuas. Daerah kasus yang diambil adalah Kelurahan Bansir Laut, Kecamatan Pontianak Tenggara, Kota Pontianak.Dalam tulisan ini dipaparkan konstruksi kayu berdasarkan bagian-bagian rumah mulai dari pondasi, rangka, dinding, sampai atap.Terdapat beberapa tipe konstruksi pada kasus yang diteliti.Pertimbangan umum terletak pada kemudahan konstruksi, tampilan atau fasad dan lokasi keberadaan rumah The existence of the Kapuas river as a source of life and water transportation, led to settlements growth on side the Kapuas river. The houses are located on side Kapuas river are generally directly constructed at the river. The houses  mostly made of wood which connected by wooden bridge as connecting lines between houses. Construction of wooden houseis interesting to be identifiedbecause the building must bedurable with the condition around the river. This paper describes the wooden houses construction in one case area of the Kapuas riverside. Case study is taken at Kelurahan Bansir Laut, South East Pontianak District. In this paper described the wooden construction : the foundation, frame, wall, and the roof. There are several types of construction in the cases studied. General considerations is the ease of construction, appearance or facade and location of the house.REFERENCESAbdurachman., Nurwati Hadjib. (2006). Pemanfaatan Kayu Hutan Rakyat Untuk Komponen Bangunan. PROSIDING Seminar Hasil Litbang Hasil Hutan 2006 : 130-148: BogorHidayat, Husnul. (2014). Konteks Ekologi Kota Tepian Sungai dalam Perspektif Lokalitas Bahan Bangunan. Membangun Karakter Kota Berbasis Lokalitas. Architecture Event 2014Hidayati, Zakiah. (2012). Sistem Struktur dan Konstruksi Bangunan Vernakula Rumah Suku Kutai Tenggarong, Kalimantan Timur . JURNAL EKSIS Vol.8 No.1, Mar 2012: 2001 – 2181Khaliesh, Hamdil., Indah Widiastuti., Bambang Setia Budi. (2012). Karakteristik Permukiman Tepian Sungai Kampung Beting di  Kota Pontianak. Prosseding Temu Ilmiah IPLBI 2012. BandungNingsih, Deffi Surya., Za’aziza Ridha Julia., Larissa Hilmi., Leo Darmi. (2016). Rayap Kayu (Isoptera) Pada Rumah-Rumah Adat Minangkabau Di Sumatera Barat diakses online padahttp://artikel.dikti.go.id/index.php/PKM-P/article/viewFile/23/23 pada tanggal 28 September 2016Puspantoro, Ign Benny, Ir. (2005). Konstruksi Bangunan Gedung : Sambungan Kayu Pintu Jendela. Penerbit Andi : YogyakartaZain, Zairin. (2012). Pengaruh Aspek Eksternal pada Rumah Melayu Tradisional di kota Sambas. Jurnal NALARSs Vol 11 No. 2 Juli 2012 .Universitas Muhammadiyah Jakarta. JakartaZain, Zairin., Indra Wahyu Fajar. (2014). Tahapan Konstruksi Rumah Tradisional Suku Melayu di Kota Sambas Kalimantan Barat. Jurnal Langkau Betang Vol 1 No. 1 2014 . Universitas Tanjungpura. Pontianak
TIPOLOGI PINTU RUMAH TRADISIONAL DUSUN PUCUNG, SITUS MANUSIA PURBA SANGIRAN Faisal, Gun; Roychansyah, Muhammad Sani
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (435.505 KB) | DOI: 10.26418/lantang.v1i2.18801

Abstract

Pintu merupakan elemen penting dalam suatu bangunan, terutama rumah tinggal. Pintu adalah jalur sirkulasi antara ruang dalam dan luar bangunan. Rumah di Dusun Pucung memiliki pintu yang terbilang unik, baik dari segi jumlah, bentuk dan ornamennya, yang mana penggunaannya memiliki maksud dan tujuan tersendiri bagi setiap pemiliknya. Tujuan dari penelitian ini untuk mengklasifikasikan pintu rumah tradisional yang berada di Dusun Pucung. Pendekatan penelitian dilakukan secara kuantititatif dan kualitatif, pengambilan data melalui survey lapangan, diiringi dengan studi literatur, studi kawasan, teoritikal, studi empiris terhadapt laporan penelitian terdahulu. Analisa data diawali dengan perumusan karakter umum pintu bangunan kawasan, penentuan pintu bangunan yang sesuai kriteria penelitian, penggambaran ulang (redrawing), pengelompokan dan kategorisasi tipikal elemen pintu bangunan. Penelitian ini pada akhirnya dapat mentipekan desain elemen pintu rumah tradisional yang berada di kawasan konservasi Situs Manusia Purba Sangiran, yang termasuk kedalam kawasan  World Heritage. Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan 6 (enam) tipe pintu rumah tradisional Dusun Pucung. Tipe pintu tersebut berdasarkan 2 kategori, yaitu berdasarkan jumlah; pintu satu, tiga, serta lima, dan berdasarkan materialnya, ada pintu yang terbuat dari bambu (gedhek), kayu, dan kayu-kaca. Door is an important element in a building, especially a residential house. It is a circulation path between the interior and exterior of building. In Pucung Village, it has relatively unique function and meaning with a variety of ornaments, shapes, and amounts. The purpose of this study is to classify the types of doors and their elements, in this case the doors of traditional house in Pucung Village. Data were collected through field surveys, which were supported by the literature, theoretical studies and the results of empirical study. Analysis and formulation of the general characters of doors were done, and the doors were determined in accordance with appropriate criteria of study and re-drawn, so the grouping and categorization of typical elements of the doors could be done. As a result, the design of traditional doors in the conservation area of Sangiran Early Man site, which is included in the World Heritage area, can eventually be typified. Based on the results of the study, six types of traditional doors in Pucung Village were obtained. The types of doors were based on two categories. Based on number, there were doors with one, three, and five in number, while based on material, there were doors made from bamboo (gedhek), wood, and wood and glassREFERENCESBalai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran. (2012). Brosur ‘Museum Purbakala: Situs Sangiran (Perjalanan Menakjubkan Kembali ke Zaman Purba), Kantor Pariwisata, Investasi, dan Promosi Pemkab Sragen. Sragen, Jawa TengahColquhoun, A.. (1967) Typology and Design Method, dalam Theorizing a New Agenda for Architecture. An Anthology of Architectural Theory 1965- 1995, Kate Nesbitt (ed.). Princeton Architectural Press. New YorkDurand, Jean Nicolas Louis. (2000). Pr`ecis of the Lectures on Architecture. The Getty Research Institute. Los AngelesFrancescatto, Guido. (1994) Type and the Possibility of an Architecture Scolarship, Ordering Space, Types in Architectural and Design, Karen A. Franck, Lynda H. Schneekloth (ed). Van Nostrand Reinhold. New YorkHidayat, Rusmulia Tjiptadi, dkk. (2004) Museum Situs Sangiran: Sejarah Evolusi Manusia Purba Beserta Situs dan Lingkungannya. Koperasi Museum Sangiran. Sangiran.Johnson. P A. (1994). The Theory of Architecture, Van Nostrand Reinhold Company. New YorkKartikasari, Indah. (2012). Topografi Dusun Pucung, Situs manusia Purba Sangiran. Laporan Penelitian KKA-S2 UGM 2012. YogyakartaMochsen, Sir Mohammad. (2005). Tipologi Geometri: Telaah Beberapa KaryaFrank L. Wright dan Frank O. Gehry, Rona Jurnal Arsitektur Volume 2, No. 1 April 2005 hal 69-83. FT Unhas. MakasarMoneo, Rafael. (1979) Oppositions Summer On Typology. A Journal for Ideas and Criticism in Architecture vol. 13 h. 23-45. The MIT Press. MassachusettsPfeifer, G.; P. Brauneck. (2008). Courtyard Houses–A Housing Typology. Birkhauser Verlag AG. GermanySukada, B. (1997). Memahami Arsitektur Tradisional dengan Pendekatan Tipologi.  PT. Alumni. Bandung
STUDI PENGELOLAAN INFRASTRUKTUR DASAR DI KECAMATAN TELOK BATANG KABUPATEN KAYONG UTARA. STUDI KASUS DESA SUNGAI PADUAN DAN DESA MAS BANGUN Azwansyah, Heri; Juniardi, Ferry
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (124.973 KB) | DOI: 10.26418/lantang.v1i1.18808

Abstract

Infrastruktur yang memadai dapat mendukung kegiatan ekonomi masyarakat. Studi ini bertujuan untuk mengetahui aksesibilitas infrastruktur dasar bagi masyarakat pedesaan di Desa  Sungai Paduan dan Desa Mas Bangun Kecamatan Telok Batang.  Studi ini membutuhkan data-data aksesibilitas dan kondisi infrastruktur dasar yang diperoleh dari instansi terkait, observasi lapangan dan interview.  Studi ini  menggunakan  metode Integrated Rural Accessibility Planning  (IRAP).  Tingkat aksesibilitas menggunakan beberapa indikator aksesibilitas tiap infastruktur. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa pada Desa Sungai Paduan prioritas pertama,  kedua dan ketiga berturut-turut sektor pertanian/perkebunan, sektor sumber air bersih, dan  sektor industri/perdagangan dengan nilai aksesibilitas sebesar 9,90, 9,00, dan 7,59. Pada Desa Mas Bangun, prioritas pertama, kedua dan ketiga untuk mendapat penanganan infrastruktur adalah sektor pertanian/perkebunan, sektor sumber air bersih, dan  sektor Kesehatan dengan nilai aksesibilitas sebesar 10,80, 9,00, dan 7,62. Untuk meningkatkan aksesibilitas inftasratruktur tersebut dapat dilakukan dengan perbaikan fasilitas dan penyedian sarana transportasi, sementara saat ini jalan desa yang ada masih baik. A decent infrastructure is able to support economic activities. This study aims to find out the basic infrastructure accessibility for rural communities in Sungai Paduan village and Mas Bangun village, Telok Batang district. This study requires the data of access and basic infrastructure conditions, obtained from the relevant agencies/departments, field observation, and inteview. This study use Integrated Rural Accessibility Planning (IRAP) method. A level of accessibility uses some indicators of accessibility in each of infrastructures. The study concluded that the priorities in Sungai Paduan village serially  are: agriculture/plantation as the first priority, followed by water resource sector and the industrial/trade sector, with accessibility values ranging from 9.90, 9.00, and 7.59. While in Mas Bangun village, as the first, second and the third priority to get infrastructure treatment are agriculture/plantation, water resources sector, and the health sector with the accessibility values ranging from 10.80, 9.00, and 7.62. To improve the accessibility of infrastructure can be done through facility repairing and the provision of means of transportation. Currently, the existing roads in both villages are in the good conditionREFERENCESAzwansyah, H. 2010. Perencanaan Infrastruktur di Desa Tanjung Satai dan Desa Satai Lestari Kecamatan Pulau Maya Karimata. Jurnal Teknik Sipil Universitas Tanjungpura vol 10 Nomor 2. Desember 2010. Fakultas Teknik Untan. Pontianak.BPS Kabupaten Kayong Utara. 2012. Kalimantan Barat Dalam Angka, BPS Kabupaten Kayong Utara. Sukadana.Parikesit, D., Pratama, D.A., Ekawati, N., 2003. Modul Pelatihan Perencanaan Infrastruktur Perdesaan, Kerjasama Universitas Gajah Mada dengan Kementrian Koordonator Bidang Ekonomi dan International Labour Organization. Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik UGM. Yogyakarta.Dennis, Ron. 1998. Rural Transport and Accessibility. Development Policies Departement, ILO office Geneva.Donnges, Chris. 1999. Rural Access and Employment, The Laos Experience. Development Policies Departement, ILO office Geneva.Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD). 2012. Mewujudkan Pembangunan Ekonomi Bagi Kesejahteraan Rakyat. KPPOD Brief Edisi September – Oktober 2012. KPPOD. Jakarta
PERFORMA PENCAHAYAAN DAN PENGHAWAAN SERTA PERSEPSI PENGGUNA BANGUNAN PASAR DI KOTA PONTIANAK Lestari, Lestari; Alhamdani, Muhammad Ridha; Khaliesh, Hamdil
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 4, No 2 (2017)
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (432.57 KB) | DOI: 10.26418/lantang.v4i2.23251

Abstract

Permasalahan yang ada pada pasar-pasar tradisional termasuk yang terjadi pada pasar Kemuning dan Dahlia Kota Pontianak dapat menggambarkan kualitas performansi bangunan. Pencahayaan, sirkulasi udara, dan temperatur dalam ruang pada bangunan merupakan aspek-aspek yang dapat mempengaruhi kenyamanan aktivitas pengguna. Tulisan ini memaparkan mengenai hasil penelitian khususnya mengenai tingkat pencahayaan, keadaan udara, dan temperatur dalam ruang pada dua pasar tradisional di Kota Pontianak tersebut. Performansi kedua pasar tersebut diukur untuk dibandingkan dengan standar untuk aktivitas yang sesuai. Selain itu dikumpulkan pula pendapat dari para pengguna tentang kepuasan terhadap aspek pencahayaan, keadaan udara, dan temperatur dalam ruang di kedua pasar tersebut. Data-data yang dikumpulkan melalui 2 cara yaitu observasi dan kuesioner. Observasi dilakukan dengan pengukuran pada bangunan. Kuesioner disebarkan kepada 195 responden khususnya penjual dan pembeli pasar untuk melihat tingkat kepuasan berdasarkan persepsi pengguna. Hasil analisis diperoleh bahwa tingkat performansi pencahayaan, keadaan udara, dan temperatur dalam ruang pada kedua bangunan pasar tersebut termasuk rendah, begitu pula kepuasan pengguna terhadap kedua aspek tersebutKata-kata Kunci: pasar tradisional, performasi bangunan, pencahayaan, penghawaan. THE PERFORMANCE OF LIGHTING, VENTILATION, AND USER PERCEPTION ON MARKET BUILDING IN PONTIANAK CITY Problems that exist on traditional markets including those that occur in the Kemuning and Dahlia market, Pontianak City can represent  the quality of building performance. Lighting, ventilating and air temperature in buildings are aspects that can affect the comfort of occupants. This paper describes the results of research especially regarding the level of lighting, ventilating and air temperature in two traditional markets at Pontianak City. The performance of both markets is compared to the standard for the appropriate activity. The user satisfaction is also identified. The data collected through 2 ways that are observation and questionnaire. Observations were made with measurements of buildings. Questionnaires were distributed among 195 respondents, especially sellers and market buyers to see the level of satisfaction based on user perceptions. The analysis indicates performance levels of both market buildings are low, as are user satisfaction with those aspects.Keywords: traditional market, building performance, lighting, ventilating, temperatureREFERENCESKaryono, Tri Harso. (2001). Penelitian Kenyamanan Termis di Jakarta sebagai Acuan Suhu Nyaman Manusia Indonesia. Dimensi Teknik  Arsitektur Vol. 29, No. 1. Jurusan Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan - Universitas Kristen Petra. SurabayaKeputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1405/Menkes/Sk/Xi/2002 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Kerja  Perkantoran dan IndustriKeputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor: 519/Menkes/SK/VI/2008 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pasar SehatKeputusan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 70/M-DAG/PER/12/2013 tentang Pedoman Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko ModernKeputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 23/MPP/KEP/1/1998 tentang Lembaga-Lembaga Usaha PerdaganganPeraturan  Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 29/PRT/M/2006 Tentang Pedoman Persyaratan Teknis Bangunan GedungStandar Nasional Indonesia (SNI) 03-6390-2000 tentang Konservasi Energi Sistem Tata Udara pada Bangunan GedungStandar Nasional Indonesia (SNI) 8152 – 2015 Tentang Pasar RakyatSukriswanto, Ucang. (2012). Analisis Kelayakan Revitalisasi Pasar Umum Gubug Kabupaten Grobogan. Tesis tidak diterbitkan, Program Studi magister Teknik Sipil, Universitas Diponegoro Semarang.Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 tahun 2014 tentang Perdagangan
KARAKTERISTIK RUANG PADA RUMAH TRADISIONAL TANEAN LANJHANG DI DESA BANDANG LAOK KECAMATAN KOKOP, KABUPATEN BANGKALAN MADURA Kurnia, Widya Aprilia; Nugroho, Agung Murti
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 2, No 1 (2015)
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (755.191 KB) | DOI: 10.26418/lantang.v2i1.13836

Abstract

Tanean Lanjhang merupakan bentuk rumah tradisional Madura yang memiliki komponen-komponen yang di antaranya adalah Langghar (Musholla), rumah utama yang diikuti rumah-rumah lainnya yang pada umumnya berderet dari Barat ke Timur, sesuai dengan urutan dalam keluarga, dapur, kandang, dan Tanean (pekarangan). Pada penelitian ini dibahas tentang karakteristik ruang pada rumah tradisional Tanean Lanjhang di Desa Bandang Laok, Kecamatan Kokop, Kabupaten Bangkalan, Madura yang terfokus pada beberapa kelompok Tanean Lanjhang di Dusun Baktalbak. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan menganalisis hasil identifikasi karakteristik ruang pada masing-masing kelompok Tanean. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola Tanean Lanjhang yang hanya terdapat 1 rumah utama saja disebabkan oleh keterbatasan lahan untuk mendirikan rumah hunian baru, sehingga keluarga baru/muda harus membuat rumah hunian lain dengan pola Tanean Lanjhang juga. Selain itu terdapat persamaan bentuk ruang dengan ukuran ruang yang bervariasi, sesuai dengan fungsi dan kegunaan. Sementara itu, perbedaan pembatas ruang dan komponen ruang menunjukkan tingkat perekonomian yang berbeda Tanean Lanjhang is a form of  Madurese  traditional house  which have components  of Langghar (mosque), the main house followed by other homes that are generally rows from West to East, according to the order in the family, kitchen, stables, and Tanean (yard). This study discussed about the characteristics of space in a traditional house Tanean Lanjhang in the village of Bandang Laok, Kokop District, Bangkalan Regency, Madura, which focused on several groups of Tanean Lanjhang in Baktalbak village. The method used in this research is descriptive qualitative by analyzing space characteristics on each Tanean group. The results showed that the pattern  of Tanean Lanjhang with one main house was caused by the limitation of land to build a new residential house, so the new family must build another residential house with Lanjhang Tanean pattern also. In addition, there is a similarity of form of space with room sizes in vary according to the functionality and usability. While the difference  of space  barrier  and  space  components  showed  the  different  levels of the economy.REFERENCESArimbawa, W., Santhyasa, I Komang Gede. 2010.  Perspektif Ruang Sebagai Entitas Budaya Lokal: Orientasi Simbolik Ruang Masyarakat Tradisional Desa Adat Penglipuran, Bangli-Bali. Local Wisdom Jurnal Ilmiah OnlineDepartemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1982. Sistem Kesatuan Hidup Setempat  Daerah Jawa Timur. Jakarta: Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan.Haryadi., Setiawan, B .1995, Arsitektur Lingkungan dan Perilaku. Dirjen Dikti, Depdikbud RI.Hermanto, H. 2008. Faktor-faktor yang Berpengaruh terhadap Perubahan Fungsi Ruang di Serambi Pasar Induk Wonosobo. Universitas Diponegoro. SemarangLefebvre, Henry. 1991. The Production of Space. Blackwell Publishing. United Kingdom.Maulidi, Chairul. 2010, Harmonisasi ruang, alam dan budaya tradisional madura: sebuah konsep adaptasi lingkungan perkotaan terhadap dampak perubahan iklim. Program Studi Rancang Kota Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan Institut Teknologi BandungRapoport, Amos, 1969, House Form and Culture. Englewood Cliffs,N.J. Prentice-Hall, Inc.Sarwono, Sarlito Wirawan. 1992. Psikologi Lingkungan. PT Gramedia, JakartaTulistyantoro, Lintu. 2005. Makna Ruang Pada Tanean Lanjang Di Madura, Dimensi Interior,  Vol. 3, No. 2: 137 – 152.  Wahid, J., Alamsyah, B. 2013. Teori Arsitektur; Suatu Kajian Perbedaan Pemahaman Teori Barat dan Timur. Graha Ilmu, YogyakartaWiryoprawiro, Zein, M. 1986. Arsitektur Tradisional Madura – Sumenep. Laboratorium Arsitektur Tradisional Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Institut Teknologi Sepuluh November, Surabaya
IDENTIFIKASI DAN EVALUASI AKSES PUBLIK DAN OPEN SPACE DI KAWASAN SENG HIE PONTIANAK Gultom, Bontor Jumaylinda Br.; Purnomo, Yudi; Gunawan, Ivan
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 3, No 1 (2016)
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1414.377 KB) | DOI: 10.26418/lantang.v3i1.16719

Abstract

Sungai merupakan milik publik, sungai tidak hanya bisa dimanfatkan untuk media transportasi, tapi juga merupakan kekayaan alam yang dapat dinikmati secara visual. Jika dapat dinikmati dengan leluasa, masyarakat juga dapat mengawasi pemanfaatan sungai. Sungai yang tidak dapat diawasi dapat mengakibatkan kerusakan dan pencemaran sungai. Kota Pontianak merupakan kota air (waterfront city) yang pengembangannya mengharuskan menghargai sungai sebagai pusat orientasi. Sebagai media yang membantu berjalannya aktifitas transportasi dan pelayanan kegiatan perdagangan, sungai Kapuas merupakan milik publik. Untuk itu sungai harus bisa diakses publik dan dapat dinikmati sebagai area pelayanan masyarakat. Masyarakat berhak mengakses ke arah sungai, menikmati pemandangan dan aktifitas sungai, sehingga dapat ikut menjaga fasilitas yang disediakan bagi kepentingan publik. Namun dewasa ini, aktifitas di tepian sungai Kapuas di wilayah Seng Hie terbatas hanya pada pengguna langsung dari kawasan waterfront tersebut, yaitu pengguna sampan dan yang sudah terbiasa melakukan aktifitas memancing. Kondisi tersebut menjadi latar belakang penelitian, yang bertujuan untuk menganalisis keberadaaan akses publik dan open space di kawasan waterfront Seng Hie, serta apakah akses publik dan open space yang tersedia sudah memudahkan masyarakat untuk berhubungan langsung dan menikmati area waterfront, sehingga sesuaian dengan kaidah waterfront. Penelitian dilakukan dalam 2 (dua) tahap, yaitu mengidentifikasi akses publik dan open space di kawasan waterfront Seng Hie dan evaluasi kesesuaian dengan kaidah waterfront. Kawasan waterfront Seng Hie, memiliki keunikan yang memberi karakter yang menjadi citra Kota Pontianak.Anmun, berikut adalah hasil temuan dalam penelitian ini. Akses publik dan open space belum mampu menarik perhatian pengunjung. Akses yang berhadapan dengan jalan kebanyakan ditutupi dengan adanya PKL yang kumuh dan membuat orang tidak tertarik untuk berkunjung. Akses yang tersedia beragam lebar dan kondisi fisiknya, ada yang permanen namun ada juga yang masih menggunakan kayu dengan konstruksi yang rusak dan sudah tua. Kawasan ini telah dilengkapi dengan adanya promenade namun belum bisa melayani aktifitas publik dan memberi kenyamanan pada pengunjung. Terdapat aktifitas unik yaitu penyeberangan sungai menggunakan sampan. Tapi, belum terdapat sarana untuk bersosialisasi dengan maksimal. Promenade belum memberikan rasa nyaman dan aman, karena belum tersedia pagar pembatas agar pengunjung tidak jatuh ke sungai River is a public property. The river is can not only be used for the transportion, but also as a natural resource that can be enjoyed visually. If it can be enjoyed freely, people can also controll the use of the river. A river that can not be monitored can make the river damage and create a pollution. Pontianak is a riverfront city which it development requires a river as the center of the development orientation. As the transport medium and service trade, the Kapuas river should be accessible to the public and can be enjoyed as a public area. The public have a right to access the river, enjoy the scenery and river activities, and uses the facilities provided. In fact, the activity on the banks of the Kapuas river in the Seng Hie area, strictly limited to the direct users of the waterfront area. Communities outside the region can not enjoy waterfront area freely.This study aimed to analyze the existence of public access and open space in the Seng Hie  area, whether it meets the requirements according to the rules of  designing waterfront region. Stages of analysis used in the study consists of two phases, which is identifies public access and open space in the Seng Hie region and evaluate the suitability of the first stage identification result to the rules of designing waterfront region.Seng Hie area has a unique character that gives the image of the city of Pontianak. This area has the potential to be developed. This area already has the appeal of the inherent function, namely trade. This makes this area very easily become a magnet to invite more people to visit.REFERENCESBreen, Ann dan Dick Rigby. (1994). Waterfront, Cities Reclaim Their Edge. Mc.Graw Hill. New YorkBreen, Ann dan Dick Rigby. (1996). The New Waterfront: A Worldwide Urban Success Story. Mc.Graw Hill. New YorkDepartment of City Planning, Waterfront Urban Design Technical Advisory Committee. (1997). The Port of San Francisco Waterfront Design & Access: An Element of the Waterfront Land Use Plan, Port of San Francisco. San Francisco.Garnham, Harry Launce. (1985) Maintaining the Spirit of Place: a Process for the preservation of Town Character. PDA Publisher Corp. MadisonGarnham. H. L. (1976). Maintaining the Spirit of Place: A Guidebook for Citizen/professional Participation in the Preservation and Enhancement of Small Texas Towns.  A & M University Printing. Texas.Jumaylinda. (2007). Kualitas Visual Fasad Bangunan Komersil Seng Hie. Thesis. UGM. YogyakartaMaryono, Agus; Parikesit, Danang. (2003). Transportasi Sungai Mulai Ditinggalkan. Kompas, 01 Mei 2003Wrenn, Douglas M, dkk. (1983). Urban Waterfront Development. Urban Land Institute. Michigan
PENGARUH PEMBARUAN FASAD BANGUNAN TERHADAP KARAKTER VISUAL KAWASAN, STUDI KASUS: JALAN TANJUNGPRA PONTIANAK Misavan, Derry Feriyan; Gultom, Bontor Jumaylinda
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 1, No 2 (2014)
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (495.403 KB) | DOI: 10.26418/lantang.v1i2.18796

Abstract

Jalan Tanjungpura merupakan kawasan yang sudah ada sejak lama di Kota Pontianak sebagai koridor  yang  bersisi deretan pertokoan. Sebagai kawasan yang bergerak dibidang ekonomi dan jasa perdagangan, pertokoan pada kawasan ini telah melakukan pembaruan fasad mereka sebagai pendukung untuk melancarkan usaha mereka. Namun pembaruan fasad yang dirasakan tidak terarah dan cenderung menyimpang dari citra fasad lama pada masa lalu. Maka dari itu dilakukan sebuah penelitian yang bertujuan untuk mencari karakter visual dari kawasan jalan Tanjungpura yang kemudian berguna untuk sebuah rekomendasi pengolahan fasad untuk tetap menjaga karakter visual kawasan. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif  yang dimulai dengan acuan terhadap teori tentang karakter visual untuk kemudian di analisis dari fakta lapangan dalam mencari karakter visual kawasan yang menjadi tujuan penelitian ini. Dari hasil penelitian  diperoleh temuan  karakter visual kawasan  Jalan Tanjungpura Pontianak adalah setiap elemen fasad memiliki pola, kesegarisan bangunan, ukuran dan bentuk yang seirama, selaras dan seimbang.  Selain itu,  ditemukan  juga  beberapa bagian bangunan yang menyimpang dari karakter  visual koridor  tersebut sehingga muncul sebuah rekomendasi pengolahan fasad yang ditujukan kepada pemerintah, pemilik bangunan, serta pihak terkait lainnya untuk mengembalikan karakter visual  pada pada beberapa bangunan sehingga dapat menjaga kualitas visual kawasan dengan baik Tanjungpura street is an area that since longtime ago exist in Pontianak  as a corridor of shopping stores . As the region engaged in the aspects of economy and trade services, this corridor used to updated their facades to support their business activities. However, this modification of facade perceived as an unfocused sight and tend to deviate from the old facade images of the past. Therefore this research conducted to find the visual character on the area of the Tanjungpura street that can be useful for façade’s recommendation to maintain the visual character of this corridor as the shopping stores. This research uses quantitative methods where the research begins with a reference to the theory of the visual character and after that the analysis is performed based on the facts of the survey datas to find the visual character of the area as the purpose of this research. Result of this research is found the visual character of the Tanjungpura street corridor derivated that each elements of the facade has a pattern, Buillding line, the size and shape with a rhythm, harmony and balance. Furthermore, there is also found some parts of the building that deviate from the visual character of it corridor that makes a recommendation of facade modification addressed to the city government, building owners  and other stakeholders to redecorations visual character of several bulidings  so that will maintain the quality of visual character of the areaREFERENCESBerry, Wendell. 1980. Good Neighbors, Building Next to History: Design Guidelines Handbook. State Historical of Colorado. ColoradoChing, Francis D.K. 1995. A Visual Dictionary of Architecture. Van Nostrand Reinhold Company. New YorkFirzal, Yohanes. 2002. Arahan Rancangan Menjaga Karakter Visual Kawasan. Tesis Arsitektur S2 Universitas Gadjah Mada. YogyakartaGultom, Bontor Jumaylinda Br. 2006. Kualitas Visual Fasad Bangunan Komersial Di Kawasan Waterfront. Tesis Arsitektur S2 Universitas Gadjah Mada. YogyakartaLynch, Kevin. 1972. What Time Is This Place. The MIT Press. Cambridge, MAPoerwadi. Metode Analisis Kuantitatif Rasionalistik Dalam Menentukan Karakteristik Ruang Untuk Arahan Rancangan Kawasan Urban. Jurnal Penelitian Arsitektur Institut Teknologi Sepuluh November. SurabayaPunter, John; Matthew Carmona. 1997. The Design Dimension Of Planning. E & FN Spon. London Sudarwani, Maria. 1972. Karakter Visual Koridor dalam Pembentukan Image Kota. Penelitian Arsitektur Universitas Diponegoro. Semarang
ANALISIS PRODUK WISATA SITUS BAWAH AIR SEBAGAI SALAH SATU WISATA MINAT KHUSUS DI TAMAN NASIONAL KARIMUNJAWA Ariadi, Adyanti Putri; Prayitno, Budi; Wihardyanto, Dimas
LANGKAU BETANG: JURNAL ARSITEKTUR Vol 5, No 1 (2018)
Publisher : Department of Architecture, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (297.419 KB) | DOI: 10.26418/lantang.v5i1.25445

Abstract

Kepulauan Karimunjawa merupakan salah satu Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) di Indonesia yang sedang dikembangkan. Keunggulan dari pariwisata di Karimunjawa adalah daya tarik wisata alamnya yang berupa wisata bahari, ekowisata, dan wisata petualangan. Potensi kekayaan bahari di Karimunjawa yang tidak kalah menarik salah satunya berupa peninggalan budaya bawah air. Tempat tenggelamnya kapal dan peninggalan bawah air yang berada di Karimunjawa membuat situs-situs ini berpotensi menjadi alternatif tujuan wisata bawah air khususnya daya tarik wisata minat khusus. Tujuan dari penelitian ini adalah menjelaskan profil produk wisata situs-situs bawah air di Karimunjawa. Secara administratif penelitian ini akan difokuskan berdasarkan batas geografis dari situs-situs bawah air yang berada di Perairan Pulau Karimunjawa (Situs Kapal Genteng dan Kapal Indonoor) dan Perairan Pulau Genting (Situs Seruni dan Situs Genting). Penelitian ini akan mengunakan metode deskriptif kualitatif. Pengamatan fisik akan dilakukan pada produk wisata (atraksi, aksesibilitas, akomodasi, fasilitas, service) serta lingkungan pada kawasan situs-situs peninggalan bawah air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa situs-situs bawah air di Perairan Karimunjawa yang dapat dikembangkan sebagai daya tarik wisata minat khusus adalah Situs Kapal Indonoor dan Situs  Kapal Genteng. Sedangkan untuk Situs Seruni dan Situs Genting masih harus dilakukan studi lebih lanjut karena dengan kondisi produk wisata saat ini kedua situs tersebut belum memungkinkan untuk dijadikan obyek wisata minat khusus.Kata-Kata Kunci: produk wisata, wisata minat khusus, situs bawah air, ANALYSIS OF TOURISM PRODUCTS OF UNDERWATER SITES AS ONE OF SPECIAL INTEREST TOURISM IN KARIMUNJAWA NATIONAL PARKKarimunjawa Islands are one of the National Tourism Strategic Areas in Indonesia and development of these areas are already underway. Sinking ships and underwater heritage in Karimunjawa make the sites in these areas a potential alternative to underwater tourist destinations, especially for special interest tourism. The purpose of this research is to explain the profile of tourism products underwater sites in Karimunjawa. The research focus was divided based on the geographical boundaries of the underwater sites in the waters of Karimunjawa Island (Genteng and Indonoor Shipwreck Sites) and the waters of Genting Island (Seruni and Genting Sites). This research used a qualitative descriptive method grounded in relevant theories. The physical observation was made on tourism products (attractions, accessibility, accommodation, facilities, and service) and the environment around the sites of underwater relics. Findings of the research suggest that underwater sites which are potential for development as special interest tourism objects are Genteng and Indonoor Shipwreck Sites. As for Seruni and Genting Sites, further research needs to be undertaken because considering the current condition of the tourism products; it does not seem feasible to make both of these sites special interest tourism objectsKeywords: tourism products, special interest tourism, underwater sites, Karimunjawa REFERENCESAdhityatama, S. (2012) Pemodelan Jalur Aktivitas Penyelaman Di Situs USAT Liberty, Tulamben, Bali : Studi Pengelolaan Sumberdaya Arkeologi. Skripsi Sarjana. Departemen Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.Anonim. (2006). Pedoman Pengelolaan Peninggalan Bawah Air. Direktorat Peninggalan Bawah Air. Jakarta.Dillenia, I, et.al. (2010). Sumberdaya Arkeologi Laut Untuk Pengembangan Ekowisata Bahari di Indonesia : Tinjauan Konsep dan Studi Kasus. Pertemuan Ilmiah Tahunan VI ISOI 2009. Jakarta.Helmi, S. (2009). Potensi Peninggalan Arkeologi Bawah Air di Perairan Pulau Sumatera. Buletin Arkeologi Amoghapasa Edisi 13 Thn. XV/Juni 2009. Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3). Batusangkar.Jaksic, S, et.al. (2013). Impacts of Artificial Reefs and Diving Tourism. Turizam Journal Vol. 7, Issue 4, 155-165. Department of Geography, Tourism, and Hotel Management, Faculty of Science, University of Novi Sad. Serbia.Laporan Penelitian Arkeologi. (2009). Melacak Budaya Bahari di Kepulauan Karimunjawa Tahap II. Balai Arkeologi Yogyakarta. Yogyakarta.Noviandra, G, P. (2014). Strategi Pelestarian Situs Kapal Tenggelam Indonor di Kepulauan Karimunjawa. Skripsi Sarjana. Departemen Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.Rahmat, K, D. (2015). Potensi Aktivitas Arkeologi Sebagai Daya Tarik Wisata Minat Khusus Untuk Meningkatkan Kualitas Pengalaman Wisatawan di Kawasan Prambanan. Tesis, MPAR, Universitas Gadjah Mada : Yogyakarta.Ramadhan, Ahmad Surya. (2011). Dokumentasi Pribadi. Yogyakarta.Tanudirjo, D, A. (2001). Wisata Arkeologi, antara Ilmu dan Hiburan. Jurnal Penelitian “Memediasi Masa Lalu : Spektrum Arkeologi dan Pariwisata”. Lephasi. Makassar.Yoeti, O, A. (1997). Perencanaan dan Pengembangan Pariwisata. Pradnya Paramita : Jakarta.Yussubrasta, D, et.al. (2012). Himpunan Data Cagar Budaya Bawah Air Indonesia. Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman. Jakarta.