LAUT KHATULISTIWA
ISSN : 26146142     EISSN : 26148005
Jurnal Laut Khatulistiwa ini merupakan media penyebarluasan informasi hasil pemikiran dari peneliti dan praktisi yang berminat pada masalah kelautan di Indonesia. Jurnal ini diterbitkan tiga kali dalam setahun oleh Jurusan Ilmu Kelautan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Tanjungpura yaitu pada bulan Februari, Juli, dan Oktober. Lingkup artikel dalam jurnal ini memfokuskan pada kajian ilmu kelautan termasuk penggunaan teknologi komputasi dan instrumentasi laut, pengembangan metode pengukuran, dan kajian lain yang berkaitan dengan ilmu kelautan.
Articles 21 Documents
KOMPOSISI DAN STRUKTUR KOMUNITAS FITOPLANKTON DI ESTUARI SUNGAI MEMPAWAH, KALIMANTAN BARAT

Yusuf, Muhammad, , S.Si., M.Si, Muliadi, S.Si., M.Si, Sukal Minsas

LAUT KHATULISTIWA Vol 2, No 1 (2019): February 2019
Publisher : Dept. Marine Science

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (479.64 KB)

Abstract

Estuari Sungai Mempawah merupakan wilayah Kalimantan Barat yang terletak di 00˚18’21.82” LU - 108˚57’46.65” BT. Estuari Sungai Mempawah berbatasan langsung dengan Laut Natuna. Estuari Sungai Mempawah dimanfaatkan oleh warga sekitar Sungai Mempawah sebagai lokasi transportasi, dermaga dan juga sebagai lokasi pembuangan limbah rumah tangga. Fitoplankton merupakan organisme yang berperan penting sebagai produsen dalam tingkatan rantai makanan, maka dari itu kelimpahan jumlah fitoplankton di suatu perairan dapat dijadikan sebagai indikator baik atau buruknya suatu perairan (Thurman, 1994). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi dan struktur komunitas fitoplankton, kualitas lingkungan perairan dan korelasi kepadatan fitoplankton dengan parameter fisika – kimia perairan estuari Sungai Mempawah. Penelitian ini telah dilakukan mulai Oktober 2017 dengan menggunakan metode survei dan koleksi langsung dilapangan. Hasil penelitian menunjukkan Komposisi fitoplankton di estuari Sungai Mempawah terdiri dari 8 divisi, 10 kelas, 33 ordo, 40 famili dan 57 genus. Kepadatan tertinggi dari fitoplankton adalah berasal dari kelas Bacillariophyceae pada stasiun 1 sebanyak 3391 Ind/L. Kisaran indeks keanekaragaman fitoplankton 2,687 – 2,958, indeks keseragaman fitoplankton 0,298 – 0,459 dan indeks dominansi 0,077 – 0,121. Kondisi perairan di estuari Sungai Mempawah masih dalam kondisi baik. Parameter salinitas berkorelasi positif dengan kepadatan fitoplankton di estuari Sungai mempawah (0,894), sedangkan nitrat berkorelasi negatif dengan kepadatan fitoplankton di estuari Sungai Mempawah (-0,900).

KEANEKARAGAMAN KEPITING BIOLA (Uca spp.) DI EKOSISTEM MANGROVE DESA PASIR KABUPATEN MEMPAWAH KALIMANTAN BARAT

actuti, Niqki, S,S.i, M.S.i, Apriansyah, Nurdiansyah, Sy Irwan

LAUT KHATULISTIWA Vol 2, No 1 (2019): February 2019
Publisher : Dept. Marine Science

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (532.259 KB)

Abstract

Ekosistem  mangrove merupakan sumber daya pesisir memiliki habitat untuk berbagai jenis biota salah satunya kepiting biola. Kepiting biola (Uca spp.) adalah salah satu biota khas mangrove berperan penting dalam menjaga keseimbangan rantai makanan dan siklus nitrogen dalam ekosistem mangrove. Tujuan dari penelitian ini untuk Mengetahui keanekaragaman jenis Uca spp. yang berada di Desa Pasir. Penelitian ini menggunakan metode purposive bedasarkan skema atau jalur MMP yang berada di Desa Pasir, di buat 4 plot pengamatan. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapatnya 3 spesies Uca yaitu spesies dari Uca forcipata, U. dussuimeiri dan U. rosea, dengan keanekaragaman dan keseragaman rendah serta dominansi tinggi. Dominansi tertinggi terdapat pada plot 4 yang didominansi oleh Uca forcipata, sedangkan 3 plot lainnya tergolong sedang. Faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya indeks keanekaragaman, keseragaman dan dominansi yaitu kondisi lingkungan meliputi pH tanah, kondisi substrat, pasang surut dan vegetasi mangrove serta pengaruh aktivitas manusia.

KONDISI MAKROZOOBENTOS PADA SUBSTRAT DASAR DI KAWASAN EKOWISATA DESA PASIR, KABUPATEN MEMPAWAH

Pamenang, Unggul

LAUT KHATULISTIWA Vol 2, No 1 (2019): February 2019
Publisher : Dept. Marine Science

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (343.249 KB)

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui keadaan makrozoobentos di kawasan ekowisata Desa Pasir, Kabupaten Mempawah. Variabel yang diteliti meliputi tekstur sedimen, kandungan bahan organik, kelimpahan makrozoobentos dan parameter perairan. Selanjutnya dianalisis menggunakan analisis deskriptif. Hasil penelitian  ditemukan 5 famili dari 3 kelas makrozoobentos, dengan kelimpahan berkisar 36,5 – 128,4 ind/m2. Kondisi perairan kawasan ekowisata Desa Pasir masih tergolong layak untuk kehidupan makrozoobentos, akan tetapi memiliki kandungan bahan organik yang tergolong tinggi. Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan makrozoobentos di lokasi penelitian berada di lingkungan yang sesuai untuk kehidupan makrozoobentos dengan persentasi fraksi lanau lebih dominan dibandingkan fraksi pasir dan lempung.

AKTIVITAS AMILOLITIK MIKROFUNGI ENDOFIT SERASAH DAUN DAN DAUN MANGROVE AVICENNIA DI DESA SUNGAI BAKAU KECIL KABUPATEN MEMPAWAH

retno, mayang sari, S.Si., Apt., M.Si, Warsidah, Sofiana, Mega Sari Juane

LAUT KHATULISTIWA Vol 2, No 1 (2019): February 2019
Publisher : Dept. Marine Science

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (299.272 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan jenis mikrofungi endofit yang berpotensi memiliki aktivitas amilolitik dari serasah dan daun mangrove Avicennia. Mikrofungi endofit diisolasi pada media Potato Dextrose Agar diperoleh 42 isolat yang didominasi oleh isolat genus Aspergillus dan Penicillium. Skrining aktivitas amilolitik menggunakan media Glukosa, Yeast extract, Pepton, Starch Agar dan diuji dengan larutan iodin yang akan terbentuk zona bening pada media jika positif memiliki aktivitas amilolitik. Tujuh belas dari 42 isolat ditemukan memiliki aktivitas amilolitik. Kemampuan amilolitik yang paling besar didapat pada beberapa isolat berdasarkan zona beningnya, yaitu Fusarium ventrichosum, Aspergillus parasiticus, dan Oidiodendron cerealis.

ANALISIS VEGETASI MANGROVE DI MUARA SUNGAI PENITI, KABUPATEN MEMPAWAH

KUNCORO, IWAN -, Aritonang, Anthoni Battahan, Aritonang, Anthoni Battahan, Helena, Shifa -, Helena, Shifa -

LAUT KHATULISTIWA Vol 2, No 1 (2019): February 2019
Publisher : Dept. Marine Science

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (341.65 KB)

Abstract

Mangrove adalah vegetasi yang tumbuh di daerah pasang surut air laut maupun daerah muara. Salah satu muara yang terdapat di Kalimantan Barat ialah muara sungai Peniti dengan kondisi mangrove yang masih tergolong alami dan belum pernah dilakukan penanaman. Penelitian tentang analisis vegetasi mangrove dilakukan di muara sungai Peniti, Desa Sungai Burung Kabupaten Mempawah Provinsi Kalimantan Barat. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui kondisi dan zonasi mangrove muara sungai Peniti. Lokasi penelitian ditentukan dengan metode purpossive sampling, adapun dalam pengukuran dan pengamatan vegetasi mangrove dengan menggunakan metode transek. Parameter yang diamati adalah komposisi jenis, kerapatan, kerapatan relatif, frekuensi, frekuensi relatif, dominansi dan indeks nilai penting mangrove. Hasil penelitian didapat 6 jenis mangrove yaitu A. marina, A. lanata, A. alba, E. agallocha, X. mekongensis, dan  N. Frutican. Nilai penting (INP) tertinggi untuk tingkat pohon ditemukan pada A. marina dengan nilai mencapai 210,12 %, sedangkan pada pancang dan semai yaitu A. lanata dengan nilai penting (INP) 200%.  Muara sungai Peniti tidak terbentuknya suatu zonasi mangrove.

Penapisan Aktivitas Lipase Dari Bakteri Sedimen Perairan Pulau Lemukutan

Adelita, Kristina, Idiawati, Nora, Sofiana, Mega Sari Juane

LAUT KHATULISTIWA Vol 2, No 1 (2019): February 2019
Publisher : Dept. Marine Science

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (371.957 KB)

Abstract

Enzim merupakan katalisator yang mengkatalis proses biokimia yang terjadi didalam maupun diluar. Enzim bekerja secara spesifik terhadap substrat tertentu, salah satunya adalah lipase. Lipase dapat menghidrolisis lipid atau lemak menjadi asam lemak dan gliserol. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas lipase pada bakteri sedimen laut dari Perairan Pulau Lemukutan. Isolasi bakteri dari bakteri sedimen laut diperoleh sebanyak 4 isolat. Penapisan aktivitas enzim ekstraseluler dilakukan untuk mengetahui potensi isolat bakteri sedimen laut dalam menghasilkan enzim lipase. Uji aktivitas lipase dengan metode agar yang diperkaya dengan tween 80. Hasil uji aktivitas ezim lipase menunjukan tidak adanya aktivitas enzim lipase pada semua isolat bakteri sedimen laut. 

Perikanan Tangkap Gillnet di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Pemangkat Kalimantan Barat

Safitri, Ikha, Adelita, Kristina

LAUT KHATULISTIWA Vol 1, No 1 (2018): February
Publisher : Dept. Marine Science

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (407.832 KB)

Abstract

Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Pemangkat berperan dalam pengembangan usaha perikanan tangkap di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Salah satu alat tangkap yang dioperasikan nelayan adalah gillnet yang bersifat selektif dan ramah lingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis alat tangkap gillnet yang dioperasikan nelayan di PPN Pemangkat, konstruksi dan spesifikasi alat tangkap, kapal dan alat bantu penangkapan, cara pengoperasian alat tangkap, daerah penangkapan ikan, dan komposisi ikan hasil tangkapan. Penelitian menggunakan metode deskriptif yang bersifat survei dan observasi lapangan. Pengambilan data juga dilakukan dengan wawancara menggunakan daftar pertanyaan yang sesuai dengan tujuan penelitian. Hasil penelitian menunjukkan jenis alat tangkap di PPN Pemangkat adalah drift gillnet dari bahan multifilament yang dioperasikan menggunakan kapal dengan kekuatan rata-rata 30GT. Nelayan berada di laut selama 10 – 12 hari dalam satu kali trip penangkapan. Daerah penangkapan ikan meliputi perairan Penekek, Pejantan, Tambelan, Natuna, Laut Natuna, Anambas, dan Kepulauan Riau. Ikan hasil tangkapan berupa Ikan Tongkol Komo, Tongkol Abu-abu, Tenggiri, Kembung, Layaran, Kuwe, dan Talang-talang.

Kelimpahan Kepiting Bakau (Scylla sp.) di Kawasan Rehabilitasi Mangrove Setapuk, Singkawang

Yulianti, Yuli, Sofiana, Mega Sari Juane

LAUT KHATULISTIWA Vol 1, No 1 (2018): February
Publisher : Dept. Marine Science

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (387.538 KB)

Abstract

Kawasan mangrove Setapuk merupakan kawasan rehabilitasi baru di Singkawang. Ekosistem mangrove berperan penting bagi ekologi laut dan pesisir. Salah satu perannya adalah sebagai habitat kepiting bakau (Scylla spp.). Kepiting bakau merupakan komoditi perikanan bernilai komersial tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelimpahan kepiting bakau (Scylla spp.) dan mengetahui parameter habitat kepiting bakau di kawasan rehabilitasi mangrove Setapuk, Singkawang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode  purposive sampling. Pengambilan sampel dilakukan pada 3 stasiun. Petak sampling kuadran berukuran 10x10 m dengan jarak per plot 20 m. Kelimpahan kepiting bakau di daerah kawasan rehabilitasi mangrove Setapuk adalah berkisar  0 – 12 ind/m2. Kelimpahan tertinggi pada stasiun 3 jenis Scylla olivacea 9 ind/300m2  dan terendah pada jenis Scylla olivacea 1 ind/300m2. Kepiting bakau yang ditemukan adalah jenis Scylla serrata dan Scilla olivacea. Parameter fisika dan kimia lingkungan habitat kepiting bakau (Scylla sp.)  di kawasan mangrove Setapuk adalah pH 7,2-7,6, temperatur 30-31°C, dan salinitas 2-2,2‰.

Shallow Water Depths Mapping Using ALOS – AVNIR Satellite Imagery at Pari Islands, Seribu Archipelago, Jakarta

Sanova, Aulia Seto Sandi, Saputro, Siddhi, Helmi, Muhammad

LAUT KHATULISTIWA Vol 1, No 1 (2018): February
Publisher : Dept. Marine Science

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (393.38 KB)

Abstract

Pari Island has wide shallow water area. Very shallow condition mapping method need more time.satelite remote sensing technology now can be to use mapping shallow water area faster and easier. Aims of this research are mapping the shallow water area and knowing ALOS-AVNIR satellite imagery abilities.This research was done at May – July 2009 and the field survey was done at Pari Island  June 8th – 22nd 2009. Materials that use acquired 30th April 2008 ALOS-AVNIR satellite imagery and water depth data. This research was using descriptive method. Jupp 1988 method was use to classify the imagery. Water depth data was captured by Echosounder and measure stick.Classification of shallow water depth resulted 5 classes of depth generally, Those depth classes are 0–0.5 m, 0.5–1m, 1-3 m, 3-5m, 5-10m, and >10m. Accuration test showed that ALOS-AVNIR satellite imaging acquired 30th April 2008 able to result a good information of shallow water depth.

Diversitas Mikroalga Epifit Berasosiasi pada Daun Lamun Thalassia hemprichii di Pulau Lemukutan Kabupaten Bengkayang Kalimantan Barat

Lina, Herlina, Idiawati, Nora, Safitri, Ikha

LAUT KHATULISTIWA Vol 1, No 2 (2018): June
Publisher : Dept. Marine Science

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (392.764 KB)

Abstract

Lamun memiliki fungsi sebagai daerah asuhan, pemijahan, tempat mencari makan dan juga sebagai habitat bagi biota laut (ikan, meiofauna, dan mikroalga epifit). Mikroalga epifit dapat berperan meningkatkan produktivitas primer dan bioindikator pencemaran. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui diversitas mikroalga epifit berasosiasi pada daun lamun Thalassia hemprichii di Pulau Lemukutan, Kalimantan Barat. Penelitian ini menggunakan metode purposive sampling terdiri dari tiga stasiun pengambilan sampel dimana setiap stasiun terdapat tiga titik dengan tiga kali ulangan. Hasil penelitian ditemukan 3 kelas, 25 ordo, 26 famili dan 28 genus mikroalga didominasi oleh kelas bacillariophyceae (66,05%), sedangkan kelas chlorophyceae (15,72%), dan cyanophyceae (18,22%). Genus yang paling banyak ditemukan adalah Isthmia, Navicula, Nithzchia, Synedra, Climacosphenia dan Merismopedia. Kelimpahan mikroalga epifit tertinggi terdapat pada stasiun III sebesar 4.260 ind cm-2. Kelimpahan pada ujung daun lebih tinggi dibandingkan pada bagian pangkal daun dengan kelimpahan tertinggi pada stasiun III yaitu 3.302 ind cm-2. Tingkat keanekaragaman (H’) mikroalga epifit pada daun lamun dikategorikan sedang, indeks keseragaman (E) dikategorikan seragam, tingkat dominansi (C) tergolong rendah dan indeks similaritas (IS) dikategorikan sangat mirip.

Page 1 of 3 | Total Record : 21