cover
Filter by Year
Oseanologi dan Limnologi di Indonesia
Oseanologi dan Limnologi di Indonesia is a scientific journal that publishes original research articles and reviews about all aspects of oceanography and limnology. Manuscripts that can be submitted to Oseanologi dan Limnologi di Indonesia is the result of research in marine and inland waters in Indonesia. Submissions are judged on their originality and intellectual contribution to the fields of oceanography and limnology
Articles
63
Articles
Diversity of Culturable Actinomycetes from Deepsea Floor of Makassar Strait, Indonesia

Hatmanti, Ariani, Lisdiyanti, Puspita, Widada, Jaka, Wahyuono, Subagus

Oseanologi dan Limnologi di Indonesia Vol 3, No 2 (2018)
Publisher : Oseanologi dan Limnologi di Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

With regard to collaboration research called Widya Nusantara Exploration (EWIN) in May-June 2013 and November 2014, a study on isolation of actinomycetes from sediments of Makassar Strait have been conducted. Actinomycetes is one of microbe which has an excellent track record in producing antimikrob and other active substances. But due to terrestrial actinomycetes has been widely explored, then recently researchers began focusing on wide variety of extreme environments, such as marine environment, to screening aktinomisetes in producing new secondary metabolites. A total of 36 strains of actinomycetes were isolated from 10 samples obtained from deepsea floor in Makassar Strait, Indonesia, Direct Dillution Method were best used to isolate the actinomycetes compare to Sodium Dodecyl Sulfida – Yeast Extract Method (SDS-YE Method) and Rehidration Centrifugation Method (RC Method). NBRC-802 media and Actinomycetes Isolation Agar(AIA)(Himedia)media were used as the isolation media. All the isolates were identified by morphological characteristic and by analysis of 16S rRNA gene sequence. Actinomycetes isolated from deepsea floor of Makassar Strait have been dominated by Micromonospora (58%), Verrucosispora (14%)Streptomyces (8%) and Luteipulveratus (5%), however genus Nocardiopsis, Micrococcus, Gordonia, Kytococcus, and Arthrobacter were not dominant (3%). Station 25 in 1.547 m depth was the most abundant of actinomycetes, 18 strains and dominated by the genus Micromonospora which is isolated using Direct Dillution Method and both NBRC 802 or AIA media.

Adaptasi Mangrove Terhadap Perubahan Lingkungan: Suatu Studi pada Gempa Nias, Sumatera Utara, Maret 2005.

Suyarso, Suyarso, Prayudha, Bayu, Iswari, Maridah Yulia

Oseanologi dan Limnologi di Indonesia Vol 3, No 2 (2018)
Publisher : Oseanologi dan Limnologi di Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Gempa berkekuatan 9,3 Mw (moment magnitude scale) di Kepulauan Andaman pada 26 Desember 2004 yang disertai dengan kejadian tsunami di wilayah Aceh menyebabkan kerugian yang luar biasa. Beberapa bulan kemudian, yakni pada tanggal 28 Maret 2005, gempa berkekuatan 8,7 Mw telah terjadi di Nias, ratusan hektar ekosistem terumbu karang terangkat menjadi daratan, banyak karang mati karena kekeringan dan runtuh karena getaran gempa. Demikian pula mangrove berpindah menjauhi garis pantai karena proses pengangkatan daratan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perkembangan ekosistem pesisir khususnya adaptasi mangrove sebagai akibat perubahan lingkungan fisik dan ekologinya. Metode yang dipergunakan dalam penelitian adalah menganalisis data citra landsat menggunakan teknik penginderaan jauh dan melakukan pengukuran profil pantai. Penelitian lapangan telah dilakukan pada Augustus 2005, Desember 2014 and Desember 2015. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberadaan mangrove yang telah berpindah menjauhi garis pantai, sebagian besar perlahan mati kekeringan sedangkan sebagian dapat bertahan dan berkembang menuju ke arah garis pantai.

Pertumbuhan Lobster Pasir Panulirus homarus dengan Pemberian Pakan Moist

Ridwanudin, Asep, Fahmi, Varian, Pratama, Idham Sumarto

Oseanologi dan Limnologi di Indonesia Vol 3, No 2 (2018)
Publisher : Oseanologi dan Limnologi di Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Pengembangan pakan buatan untuk mengganti ikan rucah dalam pakan lobster merupakan salah satu tantangan dalam kegiatan budidaya lobster. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan lobster pasir Panulirus homarus dengan cara mengurangi penggunaan ikan rucah dalam kegiatan budidaya dengan pemberian pakan moist melalui dua tahap penelitian. Pada penelitian tahap I, lobster pasir diberi perlakuan berupa pakan ikan rucah serta pakan moist dengan lima ulangan selama 9 minggu masa pemeliharaan (Januari s.d. Maret 2016). Adapun pada penelitian tahap II, lobster pasir diberi pakan moist dengan sumber protein berbeda yaitu tepung ikan (FM) serta tepung daging dan tulang (MBM) dengan tiga ulangan selama 16 minggu masa pemeliharaan (Mei s.d. Agustus 2016). Seluruh tahapan penelitian dilaksanakan di Laboratorium Budidaya, Balai Bio Industri Laut, LIPI. Hasil penelitian menunjukan bahwa laju pertumbuhan spesifik (SGR) lobster pasir dengan pemberian pakan moist lebih tinggi 0.07 % per hari jika dibandingkan dengan pemberian pakan ikan rucah. Selain itu, laju pertumbuhan spesifik (SGR) lobster pasir dengan pemberian pakan moist tepung daging dan tulang (MBM) juga lebih baik 0.10 % per hari jika dibandingkan dengan pakan moist tepung ikan (FM). Penggunaan pakan moist juga memberikan hasil yang lebih baik (P<0.05) dibandingkan dengan penggunaan ikan rucah jika ditinjau dari tingkat kelangsungan hidup lobster pasir selama masa pemeliharaan. Hal ini menunjukkan bahwa pakan moist memiliki potensi untuk digunakan sebagai pakan dalam kegiatan budidaya lobster pasir P. homarus

Pengaruh Hipoksia terhadap Konsumsi Oksigen pada Benih Ikan Nila (Oreochromis niloticus)

Prakoso, Vitas Atmadi, Chang, Young Jin

Oseanologi dan Limnologi di Indonesia Vol 3, No 2 (2018)
Publisher : Oseanologi dan Limnologi di Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Oksigen merupakan parameter yang vital dalam kegiatan budidaya. Penurunan kadar oksigen terlarut dalam media pemeliharaan harus sangat diperhatikan, karena kondisi oksigen terlarut yang sangat rendah (hipoksia) dapat berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan. Oleh karena itu, penelitian mengenai kondisi hipoksia ini sangat penting untuk dipelajari. Penelitian ini dilakukan untuk mengukur konsumsi oksigen pada ikan nila Oreochromis niloticus (Panjang total: 14,2 ± 1,4 cm, Bobot: 31,3 ± 2,0 g) saat kondisi normal (normoksia) dan hipoksia dengan menggunakan respirometer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi oksigen benih ikan nila pada kondisi hipoksia (35,67 ± 4,19 mg O2/kg/jam) lebih rendah dibandingkan saat kondisi normoksia (12,09 ± 3,20 mg O2/kg/jam) (P<0,01). Kondisi hipoksia yang terus menerus dapat berpengaruh negatif terhadap aktivitas ikan, yang pada akhirnya dapat menyebabkan kematian saat kadar oksigen terlarutnya sangat rendah. Sementara itu, hasil penentuan kadar oksigen kritis bagi ikan nila menunjukkan kisaran oksigen terlarut sebesar 1,9 ± 0,5 mg/L.

Condition of Coral Fish in Tapanuli Tengah Waters

Suharti, Sasanti Retno, Edrus, Isa Nagib

Oseanologi dan Limnologi di Indonesia Vol 3, No 2 (2018)
Publisher : Oseanologi dan Limnologi di Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Coral reefs is a center for biodiversity in the world with a complex architecture and has an aesthetics value. It also offers beneficial for human being in many aspects such as economics, social and culture. Research was conducted in July 2016 and aim to understand community structure and biomass of coral reef fishes in Tapanuli Tengah waters. Result from all stations in Tapanuli Tengah waters showed that 49 species from seven families of economically reef fish i.e.  Acanthuridae, Serranidae, Haemulidae, Lutjanidae, Lehtrinidae, Siganidae and Scaridae were found. Density average of those seven families was 163 individual/350 m2 or 4668 individual/ha with biomass average of 1.564 ton/ha. Moreover, biomass from other target fishes from nine families was accounted as 0.56 ton/ha. On the other hand, over all coralifore fish represented by Chaetodontidae was eight species from two genus, namely Chaetodon and Heniochus with four species. The density from family Chaetodotidae varies among station between 3-28 individual/350 m2

Spatial Distribution of Total Petroleum Hydrocarbon (TPH) in Sediment of Sumba Sea, Nusa Tenggara Timur

Yogaswara, Deny, Khozanah, Khozanah

Oseanologi dan Limnologi di Indonesia Vol 3, No 2 (2018)
Publisher : Oseanologi dan Limnologi di Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Sumba Sea is an Indo-Australian tectonic plate transition zone that has a huge biodiversities resources and also behalf of an international shipping lane zone from southern of Indonesia to Australia and New Zealand, and as the return. In addition, Sumba Sea is also a kind of outer boundary of Indonesia, that is necessary to do basic environmental monitoring as the authorities in the management of outer sea zone. Indonesia does not have representative environmental quality database including the pollution of Total Petroleum Hydrocarbons (TPH). This study purposes to determine the partial distribution and concentration of TPH in sediments in Sumba Sea, East Nusa Tenggara. The research was conducted in August 2016 using Research Vessel of Baruna Jaya VIII. Samples were collected using a box core, preserved in amber glass jar bottle and stored at 4°C for further analysis in the laboratory. In the laboratory, sediment samples were extracted using dichloromethane and n-hexane for three times extraction. Furthermore, samples were evaporated before added by tetrachloroethylene solvent. Samples were measured with Fourier Transform Infra Red (FTIR) at wavelength 2850-2950 cm-1. The results showed that the pollution of Total Petroleum Hydrocarbon (TPH) in the Sumba Sea was detected at all sampling station based on identified of hydrocarbon functional groups. The partial distribution of TPH is evenly distributed and covered all stations on low concentrations. The highest concentration of TPH was detected at station 10 as 4.348 ppm

Identifikasi Sistem Sosial-Ekologis (SES) Ekosistem Lamun di Kabupaten Bintan

Sjafrie, Nurul Dhewani Mirah

Oseanologi dan Limnologi di Indonesia Vol 3, No 2 (2018)
Publisher : Oseanologi dan Limnologi di Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Ekosistem lamun merupakan ekosistem yang produktif, dihuni oleh berbagai hewan dan tumbuhan baik yang bernilai ekonomis maupun nonekonomis Ekosistem lamun di pesisir timur Kabupaten Bintan telah dimanfaatkan sejak tahun 1970-an. Sejauh ini hubungan antara sumber daya ekosistem lamun dan pemanfaatan ekosistem lamun di Kabupaten Bintan belum teridentifikasi secara rinci. Kedua interaksi tersebut akan dipengaruhi oleh faktor-faktor lainnya yang membentuk suatu sistem sosial-ekologis (SES). Sistem sosial-ekologis merupakan interaksi antara unit ekologi dan sistem sosial yang dapat digunakan dalam pengelolaan. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mengidentifikasi komponen SES dan 2) memetakan pemanfaatan ekosistem lamun di Kabupaten Bintan. Lokasi penelitian terletak di Desa Teluk Bakau, Malang Rapat, Berakit dan Pengudang. Data yang digunakan adalah data kuesioner dari 64 reponden yang diambil pada bulan September-Desember 2014 yang selanjutnya digunakan sebagai dasar untuk melakukan focus group discussion (FGD). Komponen SES dianalisis secara deskriptif, sedangkan untuk mengetahui pola pemanfaatan ekosistem lamun, hasil FGD diberikan pembobotan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa SES ekosistem lamun membentuk hubungan antara sumber daya alam, pengguna sumber daya, penyedia infrastruktur publik serta infrastruktur publik. Sumber daya ekosistem lamun berupa ikan, rajungan, sotong serta kekerangan. Pemanfaat adalah nelayan tradisional, nelayan, pembuat kerupuk, pengumpul desa, pengumpul kabupaten, kaum ibu dan turis domestik. Hasil pembobotan memperlihatkan bahwa keempat desa memiliki pola interaksi sistem sosial ekologi yang hampir sama. Interaksi yang terjadi diperlihatkan oleh peran ekosistem lamun sebagai sumber pendapatan, hasil tangkapan, penanganan hasil tangkap serta pemasaran

Table of contents and Editorial board

OLDI, Redaksi

Oseanologi dan Limnologi di Indonesia Vol 3, No 2 (2018)
Publisher : Oseanologi dan Limnologi di Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Karakteristik Pantai dan Bahaya Abrasi di Pulau Putri, Nongsa, Batam

Hernawan, Undang, Geurhaneu, Nineu Yayu, Latuputty, Godwin

Oseanologi dan Limnologi di Indonesia Vol 3, No 2 (2018)
Publisher : Oseanologi dan Limnologi di Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Pulau Putri, Nongsa merupakan pulau terdepan wilayah NKRI yang berbatasan dengan Singapura dan keberadaannya sangat penting secara ekonomi maupun politik. Pengelolaan Pulau Putri perlu memperhatikan karakteristik wilayah yang menggambarkan karakter dan fisik pantai dan merupakan hasil interaksi antara pengaruh marin dan kondisi wilayah pantai, unsur geologi-geofisika dan antropogenik. Penelitian bertujuan untuk memetakan karakteristik pantai wilayah Pulau Putri sebagai upaya pengelolaan pulau kecil terdepan wilayah NKRI dan menggambarkan bahaya abrasi yang terjadi di wilayah pulau ini. Lokasi penelitian adalah Pulau Putri, Nongsa, Batam dan terletak pada 1o 10 – 1o15 LU dan 104o – 104o 10’ BT. Kegiatan survei lapangan dilaksanakan pada bulan Mei 2014. Metode pemetaan karakteristik pantai dilakukan melalui pengamatan geologi (litologi penyusun), morfologi pantai dan karakter garis pantai. Pengukuran batimetri dilakukan dengan echosounder. Pengamatan pasang surut dengan peilschaal dan pengamatan angin dengan weather station. Hasil penelitian menunjukkan tipe pasang surut termasuk tipe pasut campuran condong ke semi diurnal, arah arus dominan timur laut. Kondisi batimetri antara Pulau Putri dan Pulau Batam memiliki kedalaman sampai 20 m dengan kemiringan 2,50 dan ke arah selat Singapura memiliki kedalaman hingga 70 m dengan kemiringan >100. Karakteristik wilayah pantai pada daerah ini terbagi menjadi pantai berpasir, mangrove, berkarang, berbatu dan bertebing. Pada umumnya pantai berpasir, mangrove, berkarang, berbatu  memiliki morfologi datar dan terdiri atas pasir, mangrove, terumbu karang, kerikil dan bongkah. Pantai bertebing rendah terdiri atas konglomerat aneka bahan yang tidak terkonsolidasi dengan baik. Bahaya abrasi mengancam Pulau Putri terutama di bagian barat – utara pulau. Bahaya abrasi harus ditanggulangi dengan memperhatikan karakteristik pantai wilayah setempat

Table of contents and Editorial board

OLDI, Redaksi

Oseanologi dan Limnologi di Indonesia Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : Oseanologi dan Limnologi di Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract