cover
Contact Name
Maruatal Sitompul
Contact Email
m.sitompoel@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
redaksi.oldi@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Oseanologi dan Limnologi di Indonesia
ISSN : 01259830     EISSN : 2477328X     DOI : -
Core Subject : Science, Social,
Oseanologi dan Limnologi di Indonesia is a scientific journal that publishes original research articles and reviews about all aspects of oceanography and limnology. Manuscripts that can be submitted to Oseanologi dan Limnologi di Indonesia is the result of research in marine and inland waters in Indonesia. Submissions are judged on their originality and intellectual contribution to the fields of oceanography and limnology
Arjuna Subject : -
Articles 82 Documents
Skrining Kemampuan Absorpsi Merkuri pada Makroalga Cokelat Hormophysa triquetra dan Makroalga Merah Gracilaria salicornia dari Pulau Pari Cordova, Muhammad Reza; Muhtadi, Ahmad
Oseanologi dan Limnologi di Indonesia Vol 2, No 3 (2017)
Publisher : Oseanologi dan Limnologi di Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Makroalga atau rumput laut memiliki daya serap yang baik terhadap semua zat yang ada di lingkungan perairan, termasuk logam berat merkuri (Hg). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan merkuri dalam makroalga cokelat Hormophysa triquetra dan makroalga merah Gracilaria salicornia serta pada sedimen, sehingga dapat diketahui potensi kedua jenis makroalga tersebut sebagai bioakumulator merkuri. Sampel makroalga dan sedimen diambil dari kawasan utara, timur, selatan, dan barat Pulau Pari, Kepulauan Seribu pada bulan April 2016, dianalisis dengan Mercury Analyzer NIC MA-3000. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kandungan merkuri dalam makroalga merah lebih tinggi daripada makroalga cokelat. Kandungan merkuri dalam makroalga dari perairan Pulau Pari berada pada kisaran 21,50 ± 9,59 µg/kg (makroalga cokelat) dan 41,45 ± 14,00 µg/kg (makroalga merah).  Kompleksitas gugus fungsi membuat kandungan merkuri lebih tinggi dalam makroalga merah dibandingkan dalam makroalga cokelat. Kemampuan akumulasi merkuri membuat kedua spesies makroalga berpotensi untuk menjadi bioakumulator
Stratifikasi Massa Air di Teluk Lasolo, Sulawesi Tenggara Surinati, Dewi; Kusmanto, Edi
Oseanologi dan Limnologi di Indonesia Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Oseanologi dan Limnologi di Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Teluk Lasolo merupakan kawasan pelestarian alam yang harus didukung dengan data dan informasi oseanografi perairan. Telah dilakukan penelitian untuk mengetahui stratifikasi massa air di Teluk Lasolo pada tanggal 10–19 Juli 2011. Data suhu dan salinitas diperoleh menggunakan CTD SBE 911 Plus yang terpasang di Kapal Riset Baruna Jaya VIII dengan interval 24 data per detik. Data arus diperoleh menggunakan Vessel Mounted Acoustic Doppler Current Profiler (VMADCP) dengan interval dua detik. Hasilnya menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kecepatan dan arah arus dalam kolom air yang menyebabkan stratifikasi massa air. Arus yang mendorong massa air Laut Banda masuk ke Teluk Lasolo disebabkan oleh angin tenggara dengan kecepatan rata-rata 4,1 m/s. Pada  kedalaman 0–50 m dan 100–200 m dominasi arus terjadi ke arah barat laut, sedangkan pada kedalaman 50–100 m dan 200–350 m ke arah selatan. Massa air dengan salinitas 32,1–34,0 PSU dan suhu 26–28°C menempati lapisan permukaan (0–50 m). Massa air dengan salinitas 34,4–34,5 PSU yang teridentifikasi sebagai massa air North Pacific Intermediate Water (NPIW) menempati dua kedalaman, yaitu  50–100 m dan  200–350 m dengan kisaran suhu yang berbeda. Massa air dengan salinitas maksimum (34,5–34,6 PSU) yang teridentifikasi sebagai  massa air North Pacific Subtropical Water (NPSW) juga menempati dua kedalaman dengan kisaran suhu yang berbeda pula, yaitu pada kedalaman 100–200 m dan  350 m hingga mendekati dasar
Laju Dekomposisi Serasah Daun di Ekosistem Bakau Pulau Kelong, Kabupaten Bintan Dharmawan, I Wayan Eka; Zamani, Neviaty P.; Madduppa, Hawis H.
Oseanologi dan Limnologi di Indonesia Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/oldi.2016.v1i1.8

Abstract

Hutan bakau di bagian tenggara Pulau Kelong memiliki cadangan karbon yang banyak dalam tegakan dan sedimen yang mengindikasikan produktivitas primer kawasan yang tinggi. Dekomposisi serasah daun, sebagai bagian dari produktivitas kawasan, menghasilkan unsur hara esensial sederhana yang dimanfaatkan untuk menopang pertumbuhan bakau. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui laju dekomposisi serasah daun di setiap zona penelitian, yaitu zona darat (Landward, L), tengah (Middle zone, M), dan dekat laut (Seaward, S) yang dibedakan berdasarkan kelimpahan jenis tumbuhan dan parameter in situ. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret–Mei 2015 di kawasan bakau Pulau Kelong, Kabupaten Bintan. Proses dekomposisi diamati pada enam interval waktu, yaitu 2, 4, 7, 14, 28, dan 42 hari dengan menggunakan kantong jaring yang berisi 10 g daun basah yang diletakkan di permukaan substrat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa L merupakan zona dengan persentase dekomposisi tertinggi (56,34 ± 20,58%) dibandingkan dengan M dan S yang berturut-turut sebesar 51,59 ± 15,46% dan 51,09 ± 8,70%. Laju dekomposisi serasah paling tinggi di zona L yaitu 1,40 ± 0,82 g·m-2.hari-1 yang berbeda nyata dari zona M dan S, berturut-turut sebesar 0,83 ± 0,89 g·m-2.hari-1 dan 0,78 ± 0,70 g·m-2.hari-1.  Analisis koefisien laju dekomposisi (k) menunjukkan bahwa laju dekomposisi di dalam kawasan tergolong tinggi (k > 0,01). Laju dekomposisi memiliki korelasi dengan kelimpahan spesies bakau, nilai salinitas air, dan suhu tanah
Pola Arus Permukaan dan Kondisi Fisika Perairan di Sekitar Pulau Selayar pada Musim Peralihan 1 dan Musim Timur Bayhaqi, Ahmad; Iskandar, Mochamad Riza; Surinati, Dewi
Oseanologi dan Limnologi di Indonesia Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Oseanologi dan Limnologi di Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perairan Indonesia merupakan media penghubung antara massa air dua Samudera yakni Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Salah satu jalur masuk massa air Samudera Pasifik ke perairan Indonesia adalah Selat Makassar dan bergerak menuju Laut Flores/Banda. Keberadaan Pulau Selayar memegang peranan penting dalam membentuk resirkulasi massa air tersebut dan berpotensi mempengaruhi kondisi perairan di sekitar pulau. Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui pola arus,  kondisi fisika perairan seperti suhu dan temperatur pada kondisi musim yang berbeda. Metode yang digunakan ialah pengukuran langsung di lapang menggunakan Conductivity Temperature Depth (CTD), Recording Current Meter (RCM) Seaguard Aanderaa dan Current Drogue pada 29 titik pengamatan. Hasil kajian menunjukkan arus bergerak ke arah timur menuju pulau Selayar dengan kecepatan rerata 0,25 m/s saat bulan Mei dan 0,26 m/s saat bulan Agustus. Kondisi temperatur perairan pada bulan Agustus lebih rendah sebesar 2°C dan nilai salinitas lebih tinggi sebesar 0.5 psu dibandingkan bulan Mei. Perbedaan  kecepatan arus cenderung lebih dipengaruhi kondisi pasang surut lokal,sedangkan kondisi fisika perairan yang berbeda lebih dipengaruhi oleh faktor klimatik lokal seperti curah hujan, angin dan aliran debit sungai. 
Table of contents and Editorial board OLDI, Redaksi
Oseanologi dan Limnologi di Indonesia Vol 1, No 3 (2016)
Publisher : Oseanologi dan Limnologi di Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Table of contents and Editorial board OLDI, Redaksi
Oseanologi dan Limnologi di Indonesia Vol 3, No 1 (2018)
Publisher : Oseanologi dan Limnologi di Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fluks CO2 di Perairan Pesisir Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat Afdal, Afdal
Oseanologi dan Limnologi di Indonesia Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Oseanologi dan Limnologi di Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wilayah pesisir dan laut memainkan peranan penting dalam pengaturan iklim dengan menyerap CO2 dan bertukar karbon dengan berbagai kompartemen penyimpan karbon seperti atmosfer, daratan, dan biota. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertukaran CO2 antara permukaan air laut dan atmosfer di perairan pesisir Pulau Lombok beserta komponen penyerap dan pelepasnya, serta parameter yang berpengaruh terhadap proses tersebut. Penelitian dilakukan pada bulan April 2012 di perairan Teluk Sekotong (10 stasiun) dan Teluk Kodek (6 stasiun). Tekanan parsial (pCO2) dan fluks CO2 di permukaan laut dihitung dengan menggunakan model ABIOTIC dari ocean carbon cycle model intercomparison project phase-2 (OCMIP-2). Hasil analisis menunjukkan bahwa secara umum, perairan Teluk Kodek dan Teluk Sekotong bagian luar adalah penyerap CO2, sedangkan perairan Teluk Sekotong bagian dalam berperan sebagai pelepas CO2. Fluks CO2 di perairan Teluk Sekotong berkisar dari -0,61 hingga 0,52 mmol.m-2.hari-1, sedangkan di Teluk Kodek berkisar dari -0,80 hingga -1,84 mmol.m-2.hari-1 dengan rata-rata 0,05 ± 0,40 dan -1,29 ± 0,40 mmol.m-2.hari-1. Teluk Kodek berperan sebagai penyerap CO2 dari atmosfer karena dipengaruhi oleh massa air Selat Lombok yang mempunyai konsentrasi nutrien dan klorofil yang tinggi. Keberadaan ekosistem lamun dan terumbu karang yang mendukung pulau-pulau kecil yang ada di Teluk Kodek turut mengurangi peningkatan pCO2 kolom air dan memperkuat penyerapan CO2 di perairan tersebut. Teluk Sekotong bagian dalam berperan sebagai pelepas CO2 karena perairan Teluk Sekotong cenderung lebih tertutup, sehingga waktu tinggal massa air menjadi lebih lama yang mengakibatkan peningkatan pengayaan DIC dan pCO2.
KOMPOSISI TUMBUHAN AIR DAN VEGETASI RIPARIAN DI DANAU SENTANI PROVINSI PAPUA Paramitha, I Gusti Ayu Agung Pradnya; Kurniawan, Riky
Oseanologi dan Limnologi di Indonesia Vol 2, No 2 (2017)
Publisher : Oseanologi dan Limnologi di Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tumbuhan air dan riparian memegang peranan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem suatu perairan. Hilangnya komponen vegetasi dari suatu perairan dapat menyebabkan meningkatnya masukan sedimen dan mengubah mikrohabitat pada perairan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi tumbuhan air dan vegetasi riparian di Danau Sentani, Provinsi Papua. Penelitian ini dilakukan pada bulan September-Oktober 2014. Pengambilan sampel tumbuhan air dan vegetasi riparian dilakukan pada 5 stasiun: St.1 (Doyo Lama), St.2 (Donday), St.3 (Deyau), St.4 (Kalkotte), and St. 5 (Jaifuri). Data tumbuhan air diambil menggunakan square plot (1x1 m) sebanyak 15 plot sedangkan vegetasi riparian menggunakan metode survei dengan tali transek sepanjang 10 m. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 10 jenis tumbuhan air dari 8 suku dan 30 jenis tumbuhan riparian dari 18 suku. Jenis tumbuhan air yang paling sering ditemukan adalah Ceratophyllum demersum L. (135 individu). Stasiun 4 (Kalkotte) memiliki jumlah individu makrofita paling banyak (96 individu). Jenis vegetasi riparian yang paling mendominasi adalah Imperata cylindrica (L.) Beauv. (190 individu). Stasiun 5 (Jaifuri) memiliki jumlah jenis dan jumlah individu vegetasi riparian terbanyak (344 individu dari 20 jenis).Kata kunci: Komposisi, tumbuhan air, vegetasi riparian, Danau Sentani.
BIODEGRADASI ANAEROBIK MAKROALGA Ulva sp. UNTUK MENGHASILKAN BIOGAS DENGAN METODE BATCH Krisye, Krisye; Kawaroe, Mujizat; Hasanudin, Udin
Oseanologi dan Limnologi di Indonesia Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Oseanologi dan Limnologi di Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kandungan karbohidrat yang tinggi dan lignin yang rendah dari makroalga Ulva sp. merupakan keunggulannya sebagai substrat untuk memproduksi biogas. Biogas dapat dihasilkan melalui proses biodegradasi anaerobik menggunakan metode batch. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi biogas dan gas metana (CH4) yang dihasilkan Ulva sp. dalam sistem batch. Penelitian dilaksanakan dari bulan Desember 2013 sampai Juli 2014 di Laboratorium Pusat Penelitian Surfaktan dan Bioenergi Institut Pertanian Bogor, Laboratorium Pengujian Departemen Teknologi Industri Pertanian IPB dan Laboratorium Pengelolaan Limbah Agroindustri Universitas Lampung. Penelitian ini diawali dengan analisis proksimat, kemudian pembuatan starter dari kotoran sapi, dilanjutkan dengan aklimatisasi dan proses biodegradasi anaerobik yang menggunakan metode batch. Hasil dianalisis menggunakan program statistik SPSS 17. Hasil analisis proksimat menunjukkan bahwa Ulva sp. memiliki kadar air 16,7%, kadar abu 14,9%, lemak 2,9%, karbohidrat 60,3%, protein 5,3%, lignin 4,6%, Total Organic Carbon (TOC) 26,1%, dan Nitrogen 1,3% serta rasio C/N 20,5. Setelah proses aklimatisasi, biogas yang dihasilkan dari 8,8 L biomassa Ulva sp. sebesar 70,9 L dengan rentang pH 6,3–7,1 sedangkan pada proses biodegradasi anaerobik metode batch dari 4 kg Ulva sp. dihasilkan biogas sebesar 153,9 L dengan kandungan metana 51,1 L. Berdasarkan hasil penelitian ini diketahui bahwa setiap kg Ulva sp. berpotensi menghasilkan biogas sebesar 38,5 L dengan kandungan metana 12,8 L. Hubungan antara COD dan volume gas metana yang terakumulasi yaitu -0,971.
Kajian Metode Klasifikasi Citra Landsat-8 untuk Pemetaan Habitat Bentik di Kepulauan Padaido, Papua Hafizt, Muhammad; Iswari, Marindah Yulia; Prayudha, Bayu
Oseanologi dan Limnologi di Indonesia Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : Oseanologi dan Limnologi di Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia merupakan negara maritim yang memiliki luasan terumbu karang mencapai 39.583 km2. Terumbu karang tersebut perlu dikelola secara efektif dan efisien salah satunya dengan memanfaatkan teknologi penginderaan jauh yang mampu memetakan tutupan habitat bentik (terumbu karang, padang lamun, makroalga dan substrat terbuka). Teknologi tersebut saat ini telah didukung oleh ketersediaan citra satelit Landsat 8 yang telah merekam seluruh wilayah Indonesia secara temporal, termasuk perairan. Penelitian ini dilakukan di sebagian kepulauan Padaido. Karena memiliki tingkat kerusakan terumbu karang yang tinggi dan representatif digunakan pada citra Landsat 8. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah membandingkan dua metode klasifikasi yaitu berbasis piksel menggunakan maximum likelihood (ML) dan berbasis objek menggunakan example based feature extraction workflow yang diterapkan pada citra hasil koreksi kolom air (lyzenga). Kedua metode klasifikasi ini menghasilkan peta habitat bentik dengan 7 kelas tutupan. Hasil klasifikasi berbasis piksel menggunakan metode maximum likelihood (ML) merupakan teknik klasifikasi terbaik karena memiliki nilai overall accuracy 47,57%, sedangkan klasifikasi berbasis objek hanya 36,17%. Peta habitat bentik hasil klasifikasi ML  selanjutnya dapat menjadi sumber data tutupan habitat bentik di kepulauan Padaido dan kedepannya metode ini dapat dimanfaatkan untuk melengkapi data tutupan habitat bentik di seluruh Indonesia.