cover
Filter by Year
LIMNOTEK - Perairan Darat Tropis di Indonesia
LIMNOTEK Tropical Inland Waters in Indonesia (Limnotek) is a periodical publication from the Research Center for Limnology, Indonesian Institute of Sciences in collaboration with Indonesian Society of Limnology (MLI). Published semiannually, the journal has a goal to be a means of communication and dissemination of research results in tropical limnology. The articles in this journal examines the interaction between factors: physics, chemistry, biology, hydrology, and geology on inland waters ecosystems. Definition of inland waters here are all forms puddles on the surface of the earth to the landward of the line of the lowest tides either fresh or brackish water such as rivers, swamps, lakes, water, wetlands, reservoirs, puddles, ponds, and dams.
Articles
68
Articles
Perbandingan Metodologi Koreksi Bias Data Curah Hujan CHIRPS

Misnawati, Misnawati ( Departemen Geofisika dan Meteorologi, FMIPA, Institut Pertanian Bogor (IPB) ) , Boer, Rizaldi ( Departemen Geofisika dan Meteorologi, FMIPA, Institut Pertanian Bogor (IPB) ) , June, Tania ( Departemen Geofisika dan Meteorologi, FMIPA, Institut Pertanian Bogor (IPB) ) , Faqih, Akhmad ( Departemen Geofisika dan Meteorologi, FMIPA, Institut Pertanian Bogor (IPB) )

LIMNOTEK - Perairan Darat Tropis di Indonesia Vol 25, No 1 (2018)
Publisher : Research Center for Limnology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1449.148 KB)

Abstract

Penggunaan data global makin meningkat dalam mengatasi permasalahan ketersedian data curah hujan observasi. Salah satu data global yang sering digunakan yaitu data Climate Hazards Group InfraRed Precipitation with Station (CHIRPS). Namun demikian, data CHIRPS tidak bebas dari permasalahan bias, sehingga perlu divalidasi dan dikoreksi dengan menggunakan data observasi hasil pengamatan di lapangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi metode koreksi bias yang memberikan performa paling baik dalam memperbaiki inkonsistensi data curah hujan CHIRPS terhadap curah hujan observasi. Metode-metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode interpolasi error, metode Piani, metode Lenderink dan metode regresi power. Evaluasi performa masing-masing metode tersebut dilakukan berdasarkan nilai R2 dan MSE. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode koreksi bias intepolasi error memberikan hasil yang terbaik dengan nilai R2 dan MSE paling kecil. Pola curah hujan harian dan bulanan CHIRPS terkoreksi metode interpolasi error juga menunjukkan konsistensi yang paling baik terhadap curah hujan observasi.

Kelimpahan dan Sebaran Bakteri Heterotrofik di Danau Rawa Banjiran Sebangau, Kalimantan Tengah

Badjoeri, Muhammad ( Pusat Penelitian Limnologi LIPI )

LIMNOTEK - Perairan Darat Tropis di Indonesia Vol 25, No 1 (2018)
Publisher : Research Center for Limnology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (510.637 KB)

Abstract

Abstrak Danau-danau di Kalimantan Tengah umumnya berupa danau rawa banjiran (oxbow lakes, floodplain lakes dan wetlands).Danau-danau tersebut merupakan sumber daya perikanan  potensial. Ekologi mikroba di danau rawa banjiran masih sedikit dipahami. Bakteri heterotrofik berperan penting dalam proses perombakan dan reminerasisasi unsur hara di danau. Penelitian bertujuan mengetahui profil kelimpahan bakteri heterotrofik di danau rawa banjiran, Kalimantan Tengah. Hasil analisis menunjukkan kelimpahan bakteri di danau  rawa banjiran di musim hujan lebih tinggi dibanding musim kemarau. Kelimpahan bakteri tertinggi di  D. Sebangau (340 x 103 sel upk.ml-1, musim hujan dan 321 x 103 upk.ml-1, musim kemarau) karena wilayah Sebangau merupakan daerah padat penduduk dan aktivitas manusia. Pada kondisi banjir S. Sebangau membentuk danau paparan banjir yang cukup luas mengakibatkan vegetasi riparian disekitarnya  terendam sehingga membusuk dan merupakan sumber bahan organik autochtonous. Kelimpahan terendah di D. Jalan Pangen (69 x103 sel upk.ml-1 dimusim hujan dan 45 x 103 sel upk.ml-1 dimusim kemarau), hal ini karena pH air D. Jalan Pangen sangat rendah (pH 3,4)  diduga jenis bakteri asam atau yang telah beradaptasi yang hidup di perairan tersebut. Kelimpahan bakteri di D. Hurung (142-181 x 103 sel upk.ml-1), D. Batu (169-183 x 103 sel upk.ml-1), D. Tehang (153-162x103 sel upk.ml-1) dan D. Purun (197-201 x 103 upk.ml-1) relatif sama. Konsentrasi total nitrogen (TN) di D. Sebangau cukup tinggi (0,50 - 0,82 mg.l-1) sedangkan amonia, nitrit dan nitrat relatif rendah menunjukkan aktivitas perombakan nitrogen organik oleh bakteri dan masih didukung konsentrasi oksigen terlarut (DO 3,1-7,0 mg.l-1) untuk berlangsungnya proses amonifikasi dan nitrifikasi di danau. Kata Kunci: Danau rawa banjiran, kelimpahan, bakteri heterotrofik

Respon Pertumbuhan Benih Ikan Gabus (Channa striata) dalam Kondisi Pemeliharaan Bersalinitas

Prakoso, Vitas Atmadi ( Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar dan Penyuluhan Perikanan ) , Ath-thar, Muhamad Hunaina Fariduddin ( Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar dan Penyuluhan Perikanan ) , Radona, Deni ( Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar dan Penyuluhan Perikanan ) , Kusmini, Irin Iriana ( Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar dan Penyuluhan Perikanan )

LIMNOTEK - Perairan Darat Tropis di Indonesia Vol 25, No 1 (2018)
Publisher : Research Center for Limnology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (283.236 KB)

Abstract

Salah satu parameter lingkungan dalam budidaya ikan air tawar yang dapat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup adalah salinitas. Studi ini dilakukan untuk mengetahui respon pertumbuhan benih ikan gabus (Channa striata) dalam beberapa media dengan salinitas berbeda. Penelitian ini dilakukan di Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Air Tawar, Bogor. Benih ikan gabus (panjang total: 4,89 ± 0,09 cm; bobot tubuh: 0,88 ± 0,05 g) sebanyak 50 ekor dipelihara per akuarium (dimensi: 40×30×40 cm) dengan sistem aerasi. Perlakuan salinitas yang diberikan yaitu 0, 5, dan 10 ppt, dengan masing-masing perlakuan terdiri dari 3 ulangan. Ikan dipelihara selama 21 hari dengan diberi pakan komersial 3% biomassa per harinya. Pertumbuhan, laju pertumbuhan spesifik, rata-rata pertumbuhan harian, dan sintasan benih ikan gabus merupakan beberapa parameter yang diamati. Hasil uji pertumbuhan benih ikan gabus menunjukkan bahwa pertambahan panjang dan sintasan antar perlakuan salinitas tidak berbeda nyata (P>0,05). Sedangkan pertambahan bobot, laju pertumbuhan spesifik, dan rata-rata pertumbuhan harian pada 0 ppt (0,53 ± 0,03 g; 2,32 ± 0,10 %/hari; 0,025 ± 0,001 g/hari) secara signifikan lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan 5 ppt (0,45 ± 0,03 g; 1,86 ± 0,10 %/hari; 0,021 ± 0,002 g/hari) dan 10 ppt (0,44 ± 0,01 g; 1,94 ± 0,03 %/hari; 0,021 ± 0,001 g/hari) (P<0,05). Hasil penelitian mengindikasikan bahwa peningkatan salinitas menurunkan pertumbuhan bobot, laju pertumbuhan spesifik, dan rata-rata pertumbuhan harian benih ikan gabus.

Limnotek, Vol 25, No. 1, Juni 2018

Limnotek, Cover

LIMNOTEK - Perairan Darat Tropis di Indonesia Vol 25, No 1 (2018)
Publisher : Research Center for Limnology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (151.609 KB)

Abstract

Cover Limnotek

Penilaian Kualitas Perairan Ditinjau dari Keanekaragaman Infauna di Sungai Kumbe Papua

Dwirastina, Mirna ( BRPPUPP ) , Ditya, Yoga Candra

LIMNOTEK - Perairan Darat Tropis di Indonesia Vol 25, No 1 (2018)
Publisher : Research Center for Limnology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (654.173 KB)

Abstract

ABSTRAK  Kondisi Sungai Kumbe masih kategori alami, menjadi tempat mata pencaharian penduduk setempat. Kegiatan perikanan yang dilakukan secara tradisional.  Sungai-sungai ini memiliki pola kerusakan yang sama yaitu  penggundulan hutan, eksploitasi berlebihan terhadap spesies endemik dan introduksi spesies asing di sungai. Usaha pengendalian kerusakan sungai mengharuskan adanya pemantauan kualitas perairan. Pemantauan dengan biota lebih diperhatikan, mengingat biota lebih tegas dalam mengekspresikan kerusakan sungai serta biota lebih ramah lingkungan, lebih murah, cepat dan mudah diinterpretasikan. Salah satu biota yang dijadikan indikator adalah Infauna. Penelitian bertujuan memberikan informasi tentang hasil penilaian kualitas perairan berdasarkan komposisi dan struktur komunitas  Infauna di Sungai Kumbe Papua.  Penelitian dilakukan pada bulan Maret dan September 2014 di Sungai Kumbe pada 5 (Lima) stasiun pengamatan yaitu Baad, M. Inggun, Sakor, Yakau dan Wapeko. Metode sampling infauna menggunakan alat Ekman grab dan pemeriksaan kualitas air dilakukan secara insitu dan dilaboratorium penguji BRPPUPP. Analisa data kualitas air dihubungkan dengan komposisi dan kelimpahan infauna menggunakan analisis PCA (Principle Component Analysis).  Hasil penelitian tentang komposisi infauna ditemukan 2 famili dan 6 genus infauna, Kelimpahan Tertinggin daerah Wapeko (3466,6 idv/cm2) dan kelimpahan terendah daerah Yakau (400 idv/cm2). Nilai Indeks Keanekaragaman berkisar Sungai Kumbe 0-2 sehingga dikategorikan keanekaragaman rendah mendekati sedang.Kata kunci : Infauna, Keanekaragaman, Sungai Kumbe, Penilaian, Papua

Pola Pertumbuhan dan Faktor Kondisi Benih Ikan Tengadak (Barbonymus schwanenfeldii) Pada Wadah Pemeliharaan yang Berbeda

Kusmini, Irin Iriana ( BPPBAT, BOGOR ) , Radona, Deni, Putri, Fera Permata

LIMNOTEK - Perairan Darat Tropis di Indonesia Vol 25, No 1 (2018)
Publisher : Research Center for Limnology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (574.095 KB)

Abstract

Ikan tengadak (Barbonymus schwanenfeldii) merupakan alternatif ikan lokal yang memiliki potensi untuk dibudidayakan sebagai ikan konsumsi. Sebagai dasar pengetahuan tentang kiat sukses kegiatan budidaya yang dilakukan terhadap suatu komoditas maka perlu diketahui pola pertumbuhan dari komoditas tersebut. Penelitian ini diharapkan dapat mengetahui pola pertumbuhan benih ikan tengadak pada pemeliharaan multisistem melalui pengamatan hubungan panjang bobot, faktorkondisi, pertumbuhan harian serta efisiensi pakan terhadap pertumbuhan. Sampel ikan yang digunakan berasal dari benih ikan tengadak Anjongan Kalimantan Barat yang kemudian dipelihara selama 120 hari pada jaring apung, kolam beton dan kolam tanah. Untuk analisis data hubungan panjang-bobot sampel ikan diambil 90 ekor pada setiap sistem pemeliharaan, sedangkan untuk analisis data pertumbuhan, sampel ikan yang digunakan sebanyak 30 perulangan setiap perlakuan dan kemudian dianalisis menggunakan Microsoft Exel dan program SPSS 16. Hasil perhitungan hubungan panjang-bobot ikan diperoleh nilai koefisien regrsi b=3 untuk pemeliharaan pada jaring apung, b=3,14 pada kolam beton dan b=2,54 pada kolam tanah, dengan faktor kondisi 1,51:0,15 untuk jaring apung 1,01 :0,10 kolam beton dan 1,02:0,10 pada kolam tanah. Hubungan panjang-bobot ikan memiliki nilai determinan (R²) berkisar 0,81-0,89. Nilai bobot mutlak dan Sgr terbesar terdapat pada pemeliharaan di kolam tanah, namun tidak terdapat perbedaan yang nyata antara ketiga sistem pemeliharaan tersebut (p<0,05) dengan nilai homogenitas bobot (p<0,031) dan nilai homogenitas panjang (<0,028).Kata kunci : Barbonimus schwanenfeldii, Kalimantan, pertumbuhan, pola pertumbuhan, faktor kondisi.

ASPEK BIOLOGI KEPITING ENDEMIK DI DANAU MATANO

Sentosa, Agus Arifin ( Balai Riset Pemulihan Sumber Daya Ikan ) , Hedianto, Dimas Angga ( Balai Riset Pemulihan Sumber Daya Ikan ) , Satria, Hendra ( Balai Riset Pemulihan Sumber Daya Ikan )

LIMNOTEK - Perairan Darat Tropis di Indonesia Vol 24, No 2 (2017)
Publisher : Research Center for Limnology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (412.089 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui beberapa aspek biologi kepiting air tawar endemik di Danau Matano. Survei lapangan dilakukan pada bulan Mei, Oktober dan November 2015 di Danau Matano, Sulawesi Selatan. Contoh kepiting diperoleh dengan jaring insang, jala dan seser. Hasil menunjukkan bahwa Danau Matano memiliki tiga jenis kepiting air tawar endemik yaitu Parathelphusa pantherina, Syntripsa matannensis dan Nautilothelphusa zimmeri (famili Gecarcinucidae) yang didominasi oleh P. pantherina (68,45%) dengan nisbah kelamin seimbang. Sebaran kepiting endemik lebih banyak ditemukan di bagian selatan Danau Matano. Rerata ukuran lebar karapas kepiting endemik sekitar 4 cm dengan ukuran tubuh kepiting jantan relatif lebih besar dibandingkan jenis betinanya. Pola pertumbuhan bersifat hipoalometrik dengan faktor kondisi yang menunjukkan kondisi baik.

LAND USE CHANGE ASSESMENT AND ITS PROJECTION IN BATANGHARI RIVER BASIN, SUMATERA, INDONESIA

Utami, Nurya ( Bogor Agricultural University ) , Sapei, Asep ( Geomatic Engineering, Department of Civil and Environmental Engineering, IPB ) , ., Apip ( Pusat Penelitian Limnologi LIPI )

LIMNOTEK - Perairan Darat Tropis di Indonesia Vol 24, No 2 (2017)
Publisher : Research Center for Limnology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

The study followed about changes in land use in the region of  Batanghari river basin. Land cover maps derived from supervised classification of  satellite imagery  LANDSAT MS / ETM / OLI. The images in the study area were categorized into six classess, namely water body, settlement, agriculture, bush, openland and forest. The validation for classification result was using  Kappa Statitistic with average yield of 85% -95%. Based on the classification results, the biggest extent of land cover change is forest areas into agricultural areas. Changes in the area of certain types of land cover can be seen in the change detection matrix. Data extents of land use was used to calculate the land use demands from recent past to near future. Two scenarios were used to produce land use projection from 2016 to 2045. First projection, generating a dominant land use type of agriculture. Addition of the areas about 22%  from 2015, which is around  3.148.100 ha. While forest area decrease almost 50%. Second scenario is fast growth scenario, producing a forest areas about 450.275 ha. Whereas agriculture area reaches a maximum changes of 3.300.742 ha.

KEANEKARAGAMAN FITOPLANKTON DI PERAIRAN ESTUARI SEI TERUSAN, KOTA TANJUNGPINANG

Syafriani, Ria, Apriadi, Tri

LIMNOTEK - Perairan Darat Tropis di Indonesia Vol 24, No 2 (2017)
Publisher : Research Center for Limnology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (626.657 KB)

Abstract

Penelitian keanekaragaman fitoplankton dan beberapa parameter fisika dan kimia perairan perlu dilakukan untuk mengetahui kondisi suatu perairan. Penelitian keanekaragaman fitoplankton di perairan estuari Sei Terusan dilakukan pada bulan Desember 2016. Fitoplankton yang ditemukan di perairan Sei Terusan terdiri dari 3 kelas yaitu kelas Dinophyceae, Coscinodiscophyceae, dan Bacillariophyceae. Kelas Dinophyceae terdiri dari Ceratium sp., Protoperidinium sp.,dan Prorocentrum gracile. Kelas Coscinodiscophyceae terdiri dari Coscinodiscus sp., Skeletonema sp., dan Rhizosolenia sp. Kelas Bacillariophyceae terdiri dari Chaetoceros sp., Pleurosigma sp., Cylindrotheca closterium, dan Pseudo-nitzschia sp. Kelimpahan terbesar dari 4 stasiun pengamatan ditemukan pada kelas Dinophyceae yang mendominansi di semua stasiun pengamatan. Indeks keanekaragaman dari 4 stasiun pengamatan adalah 0,052 – 1,872, indeks keanekaragaman ini < 2,306 sehingga termasuk kategori keanekaragaman rendah dan kestabilan komunitas rendah. Indeks keseragaman fitoplankton di 3 stasiun dari 4 stasiun pengamatan cukup rendah berkisar 0,032 – 0,050 dengan indeks dominansi 0,975 – 0,986. Dengan rendahnya indeks keseragaman menyebabkan adanya dominansi spesies tertentu dan menunjukkan adanya tekanan ekologis perairan. Ceratium sp. dari kelas Dinophyceae mendominansi di semua stasiun pengamatan.Phytoplankton diversity research and some physical and chemical parameters of waters needs to be done to determine the condition of a body of water. Phytoplankton diversity research in waters of the Sei Terusan estuarine was conducted in December 2016. Phytoplankton were found in the waters of the Sei Terusan consists of three classes, namely Dinophyceae, Coscinodiscophyceae, and Bacillariophyceae. Dinophyceae class were consisted of Ceratium sp., Protoperidinium sp., and Prorocentrum gracile. Coscinodiscophyceae class consists of Coscinodiscus sp., Skeletonema sp., and Rhizosolenia sp. Bacillariophyceae class consists of Chaetoceros sp., Pleurosigma sp., Cylindrotheca Closterium, and Pseudo-Nitzschia sp. The higest phytoplankton abundance were found in Dinophyceae that dominated at all observation stations. Shannon Diversity indice of four observation stations was 0.052-1.872, this diversity indice < 2.306 thus categorized low diversity and community stability was low. Eveness indice of phytoplankton in three stations of four observation stations was low enough ranged from 0.032-0.050 with dominance index from 0.975- 0.986. The low Eveness indice due to dominance of certain species and indicate their ecological pressure waters. Ceratium sp. (Dinophyceae) was dominate at all observation stations. 

KAJIAN PARAMETER KIMIA DAN MIKROBIOLOGI DANAU ANEUK LAOT SEBAGAI SUMBER AIR BAKU MASYARAKAT KOTA SABANG PROVINSI NANGGRO ACEH DARUSSALAM

Widiyanto, Tri ( Pusat Penelitian Limnologi LIPI )

LIMNOTEK - Perairan Darat Tropis di Indonesia Vol 24, No 2 (2017)
Publisher : Research Center for Limnology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (312.524 KB)

Abstract

Danau Aneuk Laot secara administrasi berada di Pulau Weh Kabupaten Sabang, Provinsi Nanggro Aceh Darussalam. Sumber air danau Aneuk Laot saat ini digunakan untuk kegiatan perikanan, bahan baku air bersih Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), pariwisata, pertanian, area konservasi, dan juga sarana mandi dan cuci penduduk sekitar. Kajian ini bertujuan untuk melihat potensi pemanfaatan Danau Aneuk Laot sebagai sumber air baku, pertanian dan perikanan, di lihat dari parameter kimia dan mikrobiologis. Pengambilan sampel  air  dilakukan pada tanggal 2-10 Maret 2017, pada  5 titik pengambilan contoh air. Parameter kualitas air yang diamati meliputi: populasi bakteri E. coli, Coliform, bakteri heterotrofik dan parameter kimia air. Analisis bakteri E Coli dan Coliform menggunakan media Chromocult (Coliform Agar). Analisis bakteri heterotrofik  digunakan media Agar Tryptone Glucose Yeast, inkubasi pada suhu ruang selama 24 – 48 jam, dan kelimpahan bakteri dihitung menggunakan metoda total plate count (TPC), spread plate. Jumlah coloni E. Coli sebesar 0 sampai dengan 1.000 Coloni forming unit (CFU)/100 mL, Coliform sebanyak 1.800 – 29.600 CFU/100 mL. Populasi kelompok bakteri heterotrofik sekitar (6 – 169) x 106 CFU/mL. Kondisi parameter pH sekitar 8,41 – 9,19, kandungan oksigen terlarut sekitar 9,04 - 9,53 mg/L., material terlarut  sebesar 1 – 9 mg/L, kandungan total phospat sebesar 0,03 – 0,05 mg/L, kandungan total bahan organik sekitar 8,13 – 12,97 mg/L, kandungan senyawa nitrat sekitar 0,35 – 0,68 mg/L. Secara keseluruhan kondisi kualitas air danau Aneuk Laot bersifat mesotrofik dan masih berpotensial digunakan sebagai sumber air untuk perikanan, pariwisata dan pertanian. Sedangkan berdasarkan kandungan E coli dan Coliform layak digunakan sebagai sumber air baku golongan II, dengan pengolahan terlebih dahulu.