cover
Filter by Year
Jurnal Irigasi
ISSN : 19075545     EISSN : 26154277
Jurnal Irigasi merupakan publikasi ilmiah yang memuat hasil-hasil penelitian, pengembangan, kajian dan studi kasus terkait irigasi dan drainase. Ruang lingkup Jurnal Irigasi meliputi survei, investigasi, desain, akuisisi lahan, konstruksi, operasi, pemeliharaan di sistem irigasi yang ditinjau baik dari sisi teknis, ekonomi dan kelembagaan. Terbit pertama kali tahun 1986 dengan nama Jurnal Informasi Teknik dan pada tahun 2006 berganti nama menjadi Jurnal Irigasi. Jurnal Irigasi diterbitkan 2 (dua) kali dalam setahun yakni pada bulan Mei dan Oktober.
Articles
75
Articles
Kajian Rancangan Irigasi Pipa Sistem Gravitasi

Herwindo, Wildan, Rahmandani, Dadan

Jurnal Irigasi Vol 8, No 2 (2013): Jurnal Irigasi
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Irigasi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (872.187 KB)

Abstract

Irigasi pipa merupakan salah satu alternatif teknologi aplikasi irigasi yang secara teoritis mempunyai efisiensi lebih tinggi dibanding irigasi dengan saluran terbuka. Dalam penerapan di lapangan, efisiensi irigasi yang tinggi dapat dicapai apabila jaringan irigasi pipa dirancang dengan benar dan dioperasikan secara tepat. Hasil pengujian laboratorium menunjukkan untuk melarutkan sedimen dalam pipa kecepatan aliran disarankan minimal 0,5 m/detik. Hasil penerapan jaringan irigasi pipa skala hamparan petani secara gravitasi yang diterapkan di Desa Cikurubuk, Kecamatan Buahdua, Kabupaten Sumedang menunjukkan bahwa rancangan jaringan irigasi pipa di lapangan khususnya pada skala hamparan petani, perlu memperhatikan : (i) bangunan pengumpul yang terdiri dari 3 (tiga) bagian yaitu bangunan pengendap, bangunan pengambilan, dan bangunan pengaman (saringan dan pelimpah) (ii) debit pengambilan, kualitas air, dan sistem operasi jaringan, (iii) saluran pipa yang terdiri dari pipa primer, sekunder, dan tersier harus memperhitungkan penanaman pipa, sambungan pipa, dan bangunan penguat, (iv) komponen pelengkap pada sistem jaringan irigasi pipa bertujuan menjaga sistem jaringan agar tetap berfungsi dengan baik. Komponen pelengkap terdiri dari katup pengatur dan katup penguras, pelepas udara, pengukur tekanan, meteran air, dan bangunan pelepas tekan.

Evaluasi Ketepatan Pemberian Air Menggunakan Sistem Manajemen Operasi Irigasi (SMOI) di Daerah Irigasi Bondoyudo

Rahmandani, Dadan, Irianto, Eko Winar, Sofiyuddin, Hanhan Ahmad, Hidayah, Susi, Hadihardaja, Iwan, Soentoro, Edy Anto

Jurnal Irigasi Vol 12, No 2 (2017): Jurnal Irigasi
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Irigasi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1190.7 KB)

Abstract

Sistem Manajemen Operasi Irigasi (SMOI) adalah sistem informasi pelaporan operasi irigasi yang didesain untuk melakukan pengiriman data dan blangko operasi irigasi secara otomatis dengan memanfaatkan jaringan internet. SMOI dapat mempersingkat waktu pelaporan dan mempermudah evaluasi data historis dalam menunjang pengambilan keputusan di suatu Daerah Irigasi (DI). Namun demikian, teknologi ini belum teruji pada aplikasi skala lapangan terutama di DI lintas kabupaten. Penelitian bertujuan untuk menganalisis ketepatan perhitungan SMOI dan ketepatan pemberian air sebagai dampak dari aplikasi SMOI.Penelitian dilakukan pada pengaplikasian SMOI di DI Bondoyudo, Jawa Timur. Analisis ketepatan perhitungan dilakukan dengan memverifikasi dan memvalidasi hasil perhitungan SMOI dibandingkan hasil perhitungan blangko manual.Analisis ketepatan pemberian air dilakukan melalui simulasi neraca air berdasarkan data pada Musim Tanam (MT) I dan II tahun 2016/2017. Berdasarkan hasil penelitian, alur kerja perhitungan, pengambilan data, dan alur distribusi data antar blangko operasi irigasi pada SMOI sesuai dengan ketentuan dalam Permen PUPR 12/PRT/M/2015. Hasil simulasi menunjukkan bahwa SMOI dapat meningkatkan akurasi pemberian air terhadap prediksi kebutuhan air irigasi sebesar 40,7% pada MT I dan 21,8% pada MT II. Namun demikian apabila dibandingkan dengan kebutuhan air irigasi aktual, SMOI belum terlihat meningkatkan akurasi pemberian air. Hal ini disebabkan perhitungan kebutuhan air pada blangko manual dan SMOI belum mengakomodir variabilitas kondisi klimatologi aktual.

Kebutuhan Air Tanaman untuk Penjadwalan Irigasi pada Tanaman Jeruk Keprok 55 di Desa Selorejo Menggunakan Cropwat 8.0

Susanawati, Liliya Dewi, Suharto, Bambang

Jurnal Irigasi Vol 12, No 2 (2017): Jurnal Irigasi
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Irigasi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (878.114 KB)

Abstract

Jeruk Keprok 55 (Citrus reticulate) merupakan salah satu komoditas holtikultura yang mendapatkan prioritas untuk dikembangkan terutama di wilayah Kota Batu, Malang. Kendala utama yang dihadapi petani Jeruk Keprok 55 adalah masalah ketersediaan air. Kebutuhan air tanaman hanya mengandalkan suplai dari curah hujan yang tidak menentu, khususnya di daerah Selorejo. Oleh karena itu, pengelolaan irigasi yang tepat sangat dibutuhkan yang salah satunya dapat dilakukan dengan merencanakan secara mendetail kebutuhan air tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk merencanakan dan menghitung kebutuhan air tanaman dengan menggunakan software Cropwat 8.0 dan mengevaluasi hasil perhitungan dengan kondisi aktual di lapangan. Penelitian dilaksanakan pada Lahan Jeruk di Desa Selorejo, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif kuantitatif serta pengolahan data menggunakan software Cropwat 8.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai total Evapotranspirasi tanaman (ETc) selama masa pertumbuhan adalah 971,90 mm dengan evapotranspirasi aktual tanaman tertinggi dicapai pada bulan Oktober periode ketiga sebesar 34,80 mm dan terendah pada Februari periode ketiga sebesar 19,70 mm. Hasil perhitungan software Cropwat 8.0 dapat digunakan dalam penentuan awal tanam dan rencana jumlah kebutuhan irigasi. Namun demikian, pengoperasian harian perlu tetap dilakukan berdasarkan pengamatan kondisi tanaman dan hujan aktual untuk mempertahankan kadar air tanah berada pada rentang yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman.

Halaman Pendahuluan

Irigasi, Jurnal

Jurnal Irigasi Vol 12, No 2 (2017): Jurnal Irigasi
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Irigasi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1176.474 KB)

Abstract

Pengaruh Pupuk Kascing Terhadap Kemampuan Mengikat Air pada Tanah Lempung dan Lempung Berpasir

Tutkey, Monica Rina, Nurrochmad, Fatchan, Brotowiryatmo, Sri Harto

Jurnal Irigasi Vol 12, No 2 (2017): Jurnal Irigasi
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Irigasi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1020.855 KB)

Abstract

Sistem irigasi hemat air akan baik jika tanah mampu mengikat air secara maksimal. Kendalanya tidak semua tanah memiliki kemampuan mengikat air yang baik sehingga dibutuhkan cara untuk memaksimalkan kemampuan mengikat air. Pemberian pupuk organik dengan komposisi yang tepat dapat meningkatkan kemampuan mengikat air, karena bahan organik yang terkandung di dalamnya memiliki kemampuan agregasi yang dapat mengikat butiran-butiran kecil menjadi butiran yang lebih besar sehingga dapat menambah kemampuan mengikat air. Penelitian ini bertujuan mengetahui kemampuan mengikat air yang paling maksimal dari penambahan pupuk kascing sebesar 0%, 29%, 33%, 40%, 50%, 60%, 67% dan 71% pada jenis tanah lempung dan lempung berpasir. Setiap sampel pengujian diulang tiga kali. Metode Kurva pF digunakan untuk mengetahui kemampuan mengikat air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan mengikat air maksimum tanah lempung adalah 19,14% pada persentase pupuk kascing 40% atau meningkat 13,56% dari tanah aslinya. Pemberian pupuk kascing pada tanah lempung berpasir cenderung menurunkan kemampuan mengikat air. Kemampuan mengikat air maksimum  tanah lempung berpasir adalah 27,87% pada persentase pupuk kascing 0% (tanah asli). Penelitian ini dapat dilanjutkan dengan uji coba tanaman padi pada komposisi terbaik menggunakan metode hemat air.Vermicompost effect on water holding capacity of loam and sandy loam soil

Variabilitas Curah Hujan dan Suhu Udara serta Pengaruhnya Terhadap Neraca Air Irigasi di Daerah Aliran Sungai Ciliwung

Ariyani, Dwi

Jurnal Irigasi Vol 12, No 2 (2017): Jurnal Irigasi
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Irigasi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1365.191 KB)

Abstract

Perubahan iklim merupakan isu yang sedang dihadapi oleh masyarakat global, yang berpengaruh terhadap variabilitas suhu udara dan curah hujan. Peningkatan suhu udara dapat menyebabkan penurunan debit andalan atau ketersediaan air. Terkait dengan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui trend dari perubahan suhu udara dan curah hujan terhadap ketersediaan air di Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung selama 30 tahun (1985 s.d. 2015). Analisis kenaikan trend variabel iklim dilakukan dengan menggunakan metode Mann Kendall Trend Test, analisis neraca air menggunakan metode neraca surplus defisit, dan analisis ketersediaan air menggunakan metode Mock. Dari hasil analisis diketahui bahwa tidak ada perubahan variabilitas curah hujan. Suhu rata-rata naik sebesar 0,20C, suhu minimum naik sebesar 0,90C, dan suhu maksimum naik sebesar 0,80C selama 30 tahun terakhir. Ketersediaan air teridentifikasi menurun sebesar 2 m3/s atau sebesar 2.000 l/s selama 30 tahun terakhir. Analisis neraca air kemudian dilakukan berdasarkan nilai kebutuhan air irigasi di intake maksimum sebesar 8,46 l/s/ha dan luas areal irigasi yang diairi oleh Bendung Katulampa yang berkurang mulai tahun 1985 sampai 2015 dari 1.288 ha menjadi 333 ha.  Hasil tersebut menunjukkan bahwa tidak terjadi defisit neraca air untuk lahan pertanian di DAS Ciliwung. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan untuk pengelolaan sumber daya air di daerah hulu DAS Ciliwung.

Potensi Energi Mikrohidro di Daerah Irigasi (Studi Kasus di Wilayah Sungai Serayu Opak)

Pranoto, Bono, Aini, Sinta Nur, Soekarno, Hari, Zukhrufiyati, Afida, Al Rasyid, Harun, Lestari, Santi

Jurnal Irigasi Vol 12, No 2 (2017): Jurnal Irigasi
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Irigasi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1229.42 KB)

Abstract

Pengembangan energi terbarukan perlu ditingkatkan guna mengatasi permasalahan sumber energi fosil yang semakin menipis. Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) skala mikro atau mikrohidro berpotensi dikembangkan mengingatIndonesia memiliki gugusan pegunungan dengan mata air yang mengalir sebagai sumber air sungai. Selain di sungai, mikrohidro juga dapat diaplikasikan pada daerah irigasi. Ada 48.043 daerah irigasi di Indonesia yang dapat dimanfaatkan untuk menambah ketahanan energi Indonesia. Permasalahan yang ditemui adalah belum adanya informasi jumlah potensi energi mikrohidro yang dapat dibangkitkan pada daerah irigasi di Indonesia. Kajian ini bertujuan untukmengidentifikasi dan membuat Peta Potensi Energi Mikrohidro di Daerah Irigasi pada Wilayah Sungai Serayu Opak, serta untuk mengetahui potensi energi mikrohidro yang dapat dibangkitkan di wilayah tersebut. Metode yang digunakan adalah pengolahan data melalui analisis geospasial. Hasil menunjukkan bahwa peta potensi energi mikrohidro di saluran irigasi ini dapat digunakan sebagai peta indikasi awal lokasi-lokasi yang memiliki potensi untuk membangkitkan energi sepanjang saluran irigasi, potensi energi mikrohidro yang dapat dibangkitkan di Wilayah Sungai Serayu-Opak sebesar 26 MW.

Ketahanan Air Irigasi pada Wilayah Sungai di Indonesia

Hatmoko, Waluyo, Radhika, Radhika, Firmansyah, Rendy, Fathoni, Anthon

Jurnal Irigasi Vol 12, No 2 (2017): Jurnal Irigasi
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Irigasi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2794.881 KB)

Abstract

Ketahanan air merupakan kemampuan masyarakat untuk menjaga keberlanjutan dalam pemenuhan kebutuhan air untuk berbagai keperluan dan mengelola bencana terkait air.  Nilai indikator ketahanan air pada negara-negara di Asia telah dirumuskan dan dihitung oleh Asian Development Bank (ADB), namun ketahanan air pada tingkat wilayah sungai, termasuk juga ketahanan air irigasi masih belum dikaji. Irigasi di Indonesia merupakan pengguna air terbesar, dan oleh karena itu ketahanan air irigasi berperan penting dalam pengelolaan sumber daya air. Makalah ini merumuskan, menghitung dan memetakan ketahanan air untuk irigasi pada seluruh wilayah sungai di Indonesia. Metode yang digunakan untuk menghitung ketahanan air irigasi diadopsi dari ADB,  kemudian dikembangkan sesuai dengan kondisi ketersediaan data dan karakteristik wilayah sungai di Indonesia, dengan asumsi bahwa masing-masing wilayah sungai kondisinya homogen. Disimpulkan bahwa ketahanan air irigasi pada wilayah sungai di Indonesia pada umumnya berada dalam kondisi “sedang”. Kondisi “sangat buruk” hanya terjadi pada wilayah sungai Ciliwung-Cisadane dan Progo-Opak-Serang. Kondisi “buruk” meliputi wilayah sungai Bangka, Belitung, Cidanau-Ciujung-Cidurian, Ciliman-Cibungur, Bali-Penida, dan Lombok. Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan ketahanan air irigasi adalah dengan mengembangkan dan meningkatkan kinerja jaringan irigasi, meningkatkan keandalan pasok air dengan pembangunan waduk dan embung, serta mengurangi tekanan penggunaan air dengan penghematan air.

Halaman Pendahuluan

Irigasi, Balai

Jurnal Irigasi Vol 12, No 1 (2017): Jurnal Irigasi
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Irigasi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (510.052 KB)

Abstract

Analisis Konsumsi Air Sayuran Organik dalam Rumah Tanaman

Dewi, Vita Ayu Kusuma, Setiawan, Budi Indra, Waspodo, Roh Santoso Budi

Jurnal Irigasi Vol 12, No 1 (2017): Jurnal Irigasi
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Irigasi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (832.831 KB)

Abstract

Sayuran organik yang dibudidayakan di rumah tanaman memerlukan pengaturan pemberian air irigasi untuk mempertahankan kadar air tanah berdasarkan fase tumbuh tanaman. Salah satu kendala dalam pemberian irigasi adalah tidak adanya parameter yang digunakan untuk menentukan jadwal  dan jumlah  air irigasi yang diberikan. Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui apakah pelaksanaan irigasi  yang digunakan di lahan penelitian dapat memenuhi kebutuhan air tanaman serta jumlah konsumsi airnya berdasarkan pendekatan perubahan kadar air. Pada penelitian ini dilakukan pengamatan kelembaban tanah setiap hari dan menganalisis aliran air tanah berdasarkan parameter sifat  fisik dan hidrolika tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar air tanah berada diantara kapasitas lapang dan titik layu permanen namun  87% dari masa tanam  berada dibawah nilai readily avaiable water (RAW). Kondisi ini menunjukkan pemberian air irigasi pada lahan penelitian masih belum sepenuhnya optimal. Berdasarkan analisis perubahan kadar air tanah, konsumsi air selama masa tanam sayuran kailan  di lahan penelitian adalah 55 mm selama masa tanam dengan laju konsumsi air 1,1 mm/hari. Kebutuhan air di lahan penelitian untuk mencapai kondisi RAW adalah 130  mm.