cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Irigasi
ISSN : 19075545     EISSN : 26154277     DOI : -
Jurnal Irigasi merupakan publikasi ilmiah yang memuat hasil-hasil penelitian, pengembangan, kajian dan studi kasus terkait irigasi dan drainase. Ruang lingkup Jurnal Irigasi meliputi survei, investigasi, desain, akuisisi lahan, konstruksi, operasi, pemeliharaan di sistem irigasi yang ditinjau baik dari sisi teknis, ekonomi dan kelembagaan. Terbit pertama kali tahun 1986 dengan nama Jurnal Informasi Teknik dan pada tahun 2006 berganti nama menjadi Jurnal Irigasi. Jurnal Irigasi diterbitkan 2 (dua) kali dalam setahun yakni pada bulan Mei dan Oktober.
Articles 97 Documents
Pengembangan Model Jaringan Saraf Tiruan untuk Menduga Emisi Gas Rumah Kaca dari Lahan Sawah dengan berbagai Rejim Air Arif, Chusnul; Setiawan, Budi Indra; Widodo, Slamet; Rudiyanto, -; Hasanah, Nur Aini Iswati; Mizoguchi, Masaru
Jurnal Irigasi Vol 10, No 1 (2015): Jurnal Irigasi
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Irigasi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (662.168 KB) | DOI: 10.31028/ji.v10.i1.1-10

Abstract

Makalah ini menyajikan model Jaringan Syaraf Tiruan (JST) untuk memprediksi gas metan (CH4) dan Nitrous Oxide (N2O) yang diemisikan dari padi sawah dengan perlakukan berbagai pemberian air berdasarkan data parameter lingkungan biofisik di dalam tanah yang mudah diukur seperti kelembaban tanah, suhu tanah dan daya hantar listrik (DHL) tanah hanya dengan satu jenis sensor. Untuk melakukan validasi model, percobaan budidaya padi sawah di pot dilakukan di dua tempat berbeda, yaitu di rumah kaca, Meiji University, Kanagawa Jepang dari 4 Juni sampai 21 September 2012 dan di laboratorium Teknik Sumberdaya Air, Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan-IPB dari 2 Juli sampai 10 Oktober 2014. Di setiap lokasi, terdapat tiga percobaan pemberian air dengan mengadopsi metode budidaya System of Rice Intensification (SRI). Perlakuan tersebut diberi nama SRI Basah (disingkat SRI B1 dan SRI B2 untuk lokasi pertama dan kedua), SRI Sedang (SRI S1 dan SRI S2) dan SRI Kering (SRI K1 dan SRI K2). Perbedaan percobaan antar perlakuan adalah pengaturan tinggi muka disetiap umur tanaman. Dari model JST yang dikembangkan didapatkan hasil validasi dengan nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0.93 dan 0.70 untuk prediksi emisi gas CH4 dan N2O yang mengindikasikan bahwa model dapat diterima. Dari model tersebut, karakteristik emisi gas CH4 dan N2O terhadap perubahan parameter lingkungan biofisik dapat dijelaskan dengan baik. Untuk strategi mitigasi dari percobaan pemberian air yang dilakukan, pemberian air pada perlakuan SRI B1 dan B2 dengan menjaga jeluk muka air disekitar permukaan tanah merupakan strategi yang terbaik dengan indikator produksi tertinggi dan emisi gas rumah kaca (GRK) terendah.
Efisiensi Sistem Irigasi Pipa untuk Mengidentifikasi Tingkat Kelayakan Pemberian Air dalam Pengelolaan Air Irigasi Fajar, Afri; Purwanto, Muhammad Yanuar J.; Tarigan, Suria Darma
Jurnal Irigasi Vol 11, No 1 (2016): Jurnal Irigasi
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Irigasi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (894.921 KB) | DOI: 10.31028/ji.v11.i1.33-42

Abstract

Kehilangan air irigasi yang umum terjadi pada suatu areal pertanian selama pemberian air adalah aliran permukaan dan perkolasi  yang keluar dari daerah perakaran. Irigasi pipa yang memiliki efisiensi mencapai 98% karena dapat mengontrol pemakaian air sesuai kebutuhan dan tidak ada terjadi rembesan selama penyaluran air. Jarak inlet petak sawah juga harus diperhatikan selain faktor teknologi irigasi. Jarak inlet petak sawah berpengaruh terhadap penyebaran air dalam suatu petakan sawah karena terkait dengan efisiensi aplikasi (Ea) dan efisiensi distribusi air (Ed). Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu metode deskriptif yang mengumpulkan data primer dan data sekunder. Selanjutnya pembuatan petak percoban yang telah dipasang irigasi pipa. Hasil penelitian menunjukkan nilai Ed di atas 90% pada perlakuan pemberian air konvensional dan System of Rice Intensification (SRI). Hal ini menjelaskan distribusi air pada teknologi irigasi pipa merata keseluruh areal tanam. Nilai Ea pada petak percobaan berkisar antara 76% - 98%. Perlakuan pemberian air konvensional nilai Ea lebih rendah dibandingkan dengan SRI. Hal ini dikarenakan air pada sawah konvensional terjadi perkolasi sehingga air keluar dari zona perakaran serta terjadinya aliran permukaan menyebabkan penurunan efisiensi. Hasil simulasi jarak inlet petak sawah menunjukkan bahwa Ea yang baik (≥ 90%) didapat pada jarak 30 m dengan sistem pemberian air secara SRI akan lebih hemat 10,25%. Tingkat kelayakan pemberian air berdasarkan nilai Ea diperoleh dari tingkat pola pemberian air irigasi pada sawah konvensional fase vegetatif kritis pada jarak 170 m, sedang fase generatif pada jarak 75 m menjadi kritis dan pada jarak 178 m menjadi sangat kritis. Petak sawah SRI menunjukkan nilai kelayakan pemberian air fase vegetatif mendekati kritis pada jarak 170 m, sedangkan fase generatif telah kritis pada jarak 150 m.
Uji Kinerja Emiter Cincin Reskiana, -; Setiawan, Budi Indra; Saptomo, Satyanto K.; Mustatiningsih, Popi Redjekiningrum Dwi
Jurnal Irigasi Vol 9, No 1 (2014): Jurnal Irigasi
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Irigasi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (657.523 KB) | DOI: 10.31028/ji.v9.i1.63-74

Abstract

Kerbatasan air menyebabkan pemanfaatan lahan kering belum maksimal dalam mendukung produksi pertanian di Indonesia. Teknologi irigasi hemat air dengan biaya yang terjangkau petani perlu terus dikembangkan. Penelitian ini bertujuan menghasilkan emiter irigasi berbentuk cincin yang dapat diletakkan di bawah permukaan tanah. Dalam penelitian ini diuji bahan berpori dari beberapa jenis kain yang permeabilitasnya menyerupai permeabilitas tanah pertanian. Diperoleh 5 jenis kain, yaitu jenis Legacy mempunyai permeabilitas 1.54 cm/jam, Colosal 0.76 cm/jam, Parasut 0.06 cm/jam, Kyramat 5.28 cm/jam dan Veronica 8.16 cm/jam. Jenis kain ini digulung menutupi selang air berlobang (diameter 5 mm dan jarak antar lubang 10 cm) yang dibentuk seperti cincin (emiter cincin). Emiter cincin ini kemudian diuji mengairi pot-pot tanaman melon dalam rumah kaca. Hasilnya, emiter cincin yang dibalut kain jenis Legacy dan Colossal mempunyai produktivitas air yang lebih tinggi, masing-masing 0.64 kg/m3 dan 1.90 kg/m3 dengan debit rata-rata 0.52 liter/jam dan 1.08 liter/jam.
Pengaruh Perlakuan Pemberian Air Irigasi pada Budidaya SRI, PTT dan Konvensional terhadap Produktivitas Air Subari, Subari; Joubert, Marasi Deon; Sofiyuddin, Hanhan Ahmad; Triyono, Joko
Jurnal Irigasi Vol 7, No 1 (2012): Jurnal Irigasi
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Irigasi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (971.503 KB) | DOI: 10.31028/ji.v7.i1.28-42

Abstract

Terbatasnya ketersediaan air dan meningkatnya kebutuhan air dapat menyebabkan konflik alokasi air. Dengan demikian, upaya-upaya penghematan penggunaan air perlu dilakukan, khususnya untuk kebutuhan budidaya padi sawah yang memerlukan air dalam jumlah yang cukup banyak. Oleh karena itu, perlu dicarikan alternatif teknologi irigasi dalam budidaya padi yang dapat menghemat air. Penghematan air dalam prakteknya bisa dilakukan dengan mengubah pola pemberian air namun tidak mengurangi produksi, yaitu dengan mengurangi jumlah air untuk pengolahan tanah dan pada masa pertumbuhan. Penelitian dilakukan untuk mengetahui produktivitas air dengan pola pemberian air untuk budidaya padi sawah (yaitu pada metode SRI, PTT dan konvensional) dalam bentuk demplot penelitian. Makalah ini menyajikan hasil penelitian tersebut khususnya mengenai produktivitas air dengan mengubah pola pemberian air untuk budidaya padi sawah. Hasil penelitian menunjukkan kisaran pemberian air irigasi rata-rata di demplot penelitian pada olah lahan adalah 22-47 mm; PTT 24-47 mm dan konvensional 30-68 mm. Selama masa pertumbuhan, konsumsi air pada budidaya konvensional adalah yang tertinggi yaitu rerata 577 mm. Perlakuan budidaya lainnya menunjukkan hasil yang lebih rendah, yaitu rerata SRI 324 mm dan PTT 544 mm, dan produktivitas air SRI=1,9 Kg/m3, PTT=1,1Kg/m3 dan konvensional =1,0Kg/m3.
Halaman Pendahuluan Irigasi, Balai
Jurnal Irigasi Vol 12, No 1 (2017): Jurnal Irigasi
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Irigasi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (510.052 KB)

Abstract

Halaman Pendahuluan Irigasi, Jurnal
Jurnal Irigasi Vol 9, No 1 (2014): Jurnal Irigasi
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Irigasi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (473.418 KB)

Abstract

Desain Jaringan Irigasi Pipa pada Lahan Datar (Studi Kasus : Petak Tersier Pasir Salam 3 Kiri, Daerah Irigasi Panulisan – Cilacap) Rahmandani, Dadan; Triyono, Joko; Ridwan, Dadang
Jurnal Irigasi Vol 9, No 2 (2014): Jurnal Irigasi
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Irigasi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1004.326 KB) | DOI: 10.31028/ji.v9.i2.75-85

Abstract

Permasalahan utama penerapan irigasi pipa bertekanan pada lahan datar adalah tidak tersedia tinggi energi yang cukup, sehingga dikhawatirkan terjadi masalah pada saat operasi jaringan. Pada dasarnya aliran dalam pipa dapat diciptakan terbuka (tidak penuh), sehingga diharapkan kebutuhan tinggi energi dapat direduksi. Namun demikian, penerapan sistem irigasi pipa ini belum banyak dikaji sehingga belum dapat diterapkan pada skala lapangan. Penelitian ini bertujuan untuk membuat desain jaringan irigasi pipa lahan datar secara gravitasi dengan aliran tidak penuh. Penelitian ini dilakukan dengan cara mendesain irigasi pipa lahan datar pada petak tersier Pasir Salam 3 kiri, selanjutnya dilakukan analisis dan evaluasi terhadap persyaratan, sehingga didapat kelayakan penerapan secara teknis. Dari hasil penelitian diketahui bahwa diameter saluran pipa primer berkisar antara 8 inchi (200 mm) sampai 10 inchi (250 mm) dengan kecepatan aliran antara 0,35 m/s sampai dengan 0,50 m/s. Sedangkan diameter saluran pipa sekunder dan tersier antara 1 inchi (25 mm) sampai dengan 6 inchi (150 mm) dengan kecepatan aliran antara 0,25 m/s sampai dengan 0,46 m/s. Hasil ini menunjukan bahwa desain penerapan jaringan irigasi pipa pada lahan datar di petak tersier Pasir Salam 3 kiri (PS 3 ki) Daerah Irigasi Panulisan layak secara teknis berdasarkan hasil perhitungan hidrolis, sehingga air dapat mengalir secara gravitasi dengan kecepatan 0,25 – 0,5 m/s dan ketersediaan energi lebih besar 0,09 m dari kebutuhan.
Halaman Pendahuluan Irigasi, Jurnal
Jurnal Irigasi Vol 11, No 2 (2016): Jurnal Irigasi
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Irigasi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1287.017 KB)

Abstract

Penggunaan Material Komposit Sebagai Komponen Pintu Air Alternatif Prihantoko, Aditya; Joubert, Marasi Deon; Rahmandani, Dadan
Jurnal Irigasi Vol 10, No 1 (2015): Jurnal Irigasi
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Irigasi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (733.671 KB) | DOI: 10.31028/ji.v10.i1.49-56

Abstract

Operasi jaringan irigasi merupakan salah satu bagian penting dari sistem pengelolaan irigasi. Operasi pada suatu daerah irigasi (DI) menuntut kinerja sumber daya manusia (juru pengairan) dan infrastruktur bangunan pembagi, dalam hal ini pintu irigasi yang handal. Material pintu yang pada umumnya terdiri dari material baja dan kayu, yang rentan terhadap kerusakan dan pencurian. Sebagai material alternatif pintu irigasi, dapat dipertimbangkan penggunaan material komposit yang mempunyai keuntungan, yakni: biaya lebih murah dan material lebih ringan sehingga mudah dipasang. Untuk itu, perlu dilakukan penelitian tentang material pintu menggunakan material komposit, selain kayu atau besi. Metodologi yang digunakan dalam kajian ini adalah dengan melakukan pengujian beberapa alternatif tipe material komposit yang akan digunakan sebagai pintu air irigasi di laboratorium dan kemudian melakukan analisis terhadap pembebanan pintu air. Hasil pengujian laboratorium dan analisis beban untuk ukuran pintu 50 cm dan tinggi maksimum air 60 cm menunjukkan bahwa tipe 1, 2, dan 3 mampu menahan beban lebih dari 1000%, 440%, dan 320% dari beban yang bekerja. Hasil tersebut menunjukkan bahwa material komposit cukup kuat dan aman untuk digunakan sebagai material alternatif pintu air.
Halaman Pendahuluan Irigasi, Jurnal
Jurnal Irigasi Vol 8, No 1 (2013): Jurnal Irigasi
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Irigasi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (515.581 KB)

Abstract

Page 1 of 10 | Total Record : 97